Ringkasan Khotbah Mimbar di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Sydney tgl
24 Agustus 2008
KUNCI RAHASIA HIDUP-3
oleh: Pdt. Effendi Susanto, S.Th.
(gembala sidang GRII Sydney yang meraih gelar Sarjana Theologi dari Seminari
Alkitab Asia Tenggara—SAAT Malang)
Nats: 2Kor. 6:3-10
Saya bersyukur dan ingin mengatakan kepada saudara yang rindu untuk mengasihi
dan melayani Tuhan, bagian firman Tuhan ini merupakan mutiara yang penting bagi
setiap kita apa artinya menjadi pelayan Tuhan. Tidak ada motivasi lain, kata
Paulus, aku ingin terus berusaha jangan sampai menjadi batu sandungan bagi
orang. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan supaya pelayanan Tuhan itu jangan
sampai ditertawakan orang. Menjadi pelayan Tuhan itu bukan hobby. Mau mengasihi
dan melayani Tuhan itu bukan sekadar sesuatu yang saudara ingin lakukan secara
casual lalu berhenti begitu saja.
Kunci yang paling penting dalam melayani bagi Paulus ialah kata ini: “dengan
penuh kesabaran” atau “hupomone” dalam bahasa Yunani atau “perseverance” dalam
bahasa Inggris. Spirit yang tabah, spirit yang tahan. Menjadi pelayan Tuhan
yang bukan sekadar usaha satu dua hari saja, tetapi sesuatu yang konsisten dan
menjadi hal yang dipertahankan terus-menerus. Itu yang kita lihat di dalam
sepanjang hidup Paulus. Api itu tidak pernah padam. Sekalipun kadang berkobar
dan kadang kecil, tetapi bara semangat itu tidak boleh padam di dalam hidup
seorang pelayan Tuhan. Itulah yang menjadi kunci rahasianya: tahan dan sabar.
Kadangkala kunci ini menjadi hal yang sulit sekali dipertahankan.
Dua puluh tahun terakhir ini terlalu banyak orang melihat pelayanan itu hanya
sekadar bagaimana metode terbaik diterapkan. Banyak pemimpin gereja pergi ke
tempat-tempat tertentu untuk melihat bagaimana pelayanan di situ bisa berhasil
dan mencoba mencontoh metode yang dipakai. Mereka pergi ke Korea belajar kepada
Rev. Yonggi Cho dan mempelajari kunci keberhasilannya yaitu “rumah doa.” Maka
bertaburanlah rumah-rumah doa dan villa doa di Puncak, bukan? Sekarang metode
itu mulai menghilang.
Lalu sepuluh tahun yang lalu orang ramai-ramai pergi belajar kepada Rev. Bill
Hybels yang punya gereja Willow Creek yang sangat berhasil. Kuncinya adalah
“Seekers Ministry,” satu pelayanan khotbah setiap minggu dengan singkat, dengan
bahasa yang mudah dicerna, dengan drama, dsb khusus untuk “seekers” yaitu
orang-orang yang belum percaya yang dibawa ke gereja. Sekarang orang-orang
pergi belajar ke Saddle Back Church dari Rick Warren, ramai-ramai memakai buku
“Purpose Driven Life.”
Semua usaha dan metode itu tidak salah, tetapi statistik yang diberikan oleh
George Barna memperlihatkan terlalu banyak hamba Tuhan, ratusan, dan ribuan
hamba Tuhan di Amerika yang ingin berhasil seperti itu dan waktu mereka gagal,
akhirnya mereka berhenti di tengah jalan dan tidak menjadi pendeta lagi.
Kenapa? Semua teknik dan metode itu telah mereka coba untuk terapkan di dalam
pelayanan mereka tetapi tidak jalan, akhirnya mereka kecewa dan meninggalkan
pelayanan.
Kira-kira minggu lalu saya membaca satu berita yang sangat menyedihkan di
Adelaide Post, mengenai seorang pastor muda yang mengarang lagu “The Healer”
yang sangat terkenal. Dia mengatakan lagu itu terinspirasi dari pengalaman
pribadinya, waktu dokter mendiagnose ada kanker di tubuhnya, dia merenung
dengan sedih di depan piano dan tiba-tiba mengalir kata-kata penghiburan
sehingga terciptalah lagu “The Healer” itu. Lagu itu menjadi berkat, gerejanya
di Adelaide menjadi bertumbuh dengan luar biasa dan dia menjadi pembicara yang
laris diundang ke mana-mana karena dia dianggap sebagai seorang hamba Tuhan
yang survive dari kanker 2 tahun yang lalu. Tetapi akhirnya setelah di-counter
oleh orang tuanya, dengan malu dia harus mengaku di hadapan umum bahwa semua
itu hanyalah cerita bohong belaka. Akhirnya karena itu dia resign dan pelayanan
dia menjadi berantakan. Bagi orang luar mungkin ini menjadi bahan cemoohan
bahwa orang Kristen itu penuh kebohongan padahal mungkin
semua itu didasari dari keinginan supaya pelayanan Tuhan menjadi lebih
berhasil dan lebih banyak orang percaya, tetapi dia melupakan esensi-esensi
yang penting yang harus menjadi dasar suatu pelayanan yang benar.
Mari kita belajar sama-sama sebagai pelayan Tuhan dari pernyataan Paulus,
“kami menjadi pelayan Allah, kami tidak ingin membuat pelayanan Tuhan itu
dicela oleh karena kami menjadi batu sandungan orang.” Maka ini menjadi
keputusan hidup dia, suatu sikap pelayanan apa yang akan ambil, dan saya harap
semua kita mau menjadikan prinsip hidup pelayanan Paulus ini.
Paulus mengatakan, hal yang paling utama ialah ‘dengan penuh kesabaran dan
ketabahan’ sesuatu dikerjakan. Dengan sabar, dengan konsisten, dengan tenang
dan pelan sampai menghasilkan buah. Tuhan sudah memberikan kita bijaksana alam
yang darinya kita belajar. Tuhan tidak mempertumbuhkan banyak hal dengan cepat,
bukan? Tuhan menumbuhkan pohon juga melewati suatu proses. Anak kita didik dan
besarkan juga tidak langsung jadi seperti yang kita harapkan. Berapa banyak
kita ingin anak kita bisa mahir bermain piano seperti anak-anak lain? Tetapi
kita tidak tahu bahwa untuk itu perlu berapa banyak waktu untuk berlatih dengan
konsisten. Tidak bisa langsung jadi sebegitu cepatnya. Maka jangan sampai
karena motivasi yang tidak benar, keinginan diri yang tidak benar, keinginan
untuk populer dsb, akhirnya kita gegabah di dalam mengerjakan pelayanan Tuhan
sehingga kita mungkin bisa menjadi batu sandungan dan mempermalukan Tuhan.
Belajar sabar, belajar tabah, belajar konsisten di
dalam mengerjakan sesuatu dengan spirit yang tidak pernah berubah dari tahun
ke tahun, terus ingin mengerjakan yang terbaik. Jangan sampai karena keinginan
yang salah dan motivasi yang keliru, kita melayani dengan etika yang salah dan
moral yang tidak benar. Ini merupakan prinsip yang penting kita pegang.
Ada tiga hal yang Paulus minta kita jaga baik-baik. Minggu lalu sudah saya
bahas, yaitu: jaga pikiran kita baik-baik di dalam kemurnian pikiran, increase
your knowledge dan sabar di dalam pikiran. Jauhkan pikiran negatif dan hal-hal
yang pahit di masa lampau yang bisa mengganjal pikiran kita. Yang kedua,
increase your knowledge, terus bertambah, terus bertumbuh, terus ingin menjadi
seorang pelayan Tuhan yang mempertumbuhkan banyak pengetahuan. Kita menggali
diri, terus menambah di dalam pelajaran, pengetahuan, cara, metode, dsb supaya
kita menjadi seorang pelayan yang baik. Yang ketiga, sabar di dalam pikiran,
tidak terlalu cepat memberikan penilaian dan judgment yang keliru kepada orang
lain.
Hari ini jaga tiga aspek di dalam hati saudara, kata Paulus, di dalam
kemurahan hati, di dalam Roh Kudus dan di dalam kasih yang tidak munafik. Tiga
hal di sini bicara mengenai hati. Karunia Tuhan, anugerah Tuhan kiranya
memelihara hati kita dengan tabah dan dengan sabar terus memperkembangkan tiga
hal ini, yaitu di dalam kemurahan hati, di dalam kesucian dan di dalam kasih
yang tidak munafik.
Apa artinya kemurahan hati? Saya melihatnya lebih di dalam pengertian suatu
kualitas hati seseorang di dalam kelegaan. Peribahasa China mengatakan di dalam
hati seorang pemimpin yang baik, kapal bisa berlayar dengan lapang. Hati yang
lebar dan lapang, hidup kualitas yang selalu lebih memperhatikan dan lebih
mementingkan orang lain daripada diri sendiri. Kata kemurahan itu juga dipakai
untuk Allah, berbicara mengenai generosity hati Allah yang begitu murah hati
memberikan anugerah-Nya.
Saudara masih ingat perumpamaan Tuhan Yesus mengenai seorang pemilik kebun
anggur yang memberi upah kepada pekerja-pekerjanya (Mat. 20:1-16). Kepada
pekerja yang bekerja jam 9, 12, 3 dan 5 sore, dia memberi upah satu dinar, satu
upah yang layak untuk kebutuhan keluarga dalam sehari. Pekerja yang mulai
bekerja sejak pagi-pagi benar kemudian bersungut-sungut ketika pemilik kebun
itu memberi upah yang sama kepada mereka. Perhatikan kalimat dari pemilik
anggur ini, “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku?
Iri hatikah engkau karena aku murah hati?”
Kemurahan itu tidak ditahan-tahan. Tidak ada paksaan. Kata itu yang dipakai
Paulus, hati kita yang pertama-tama memiliki kemurahan sebagai seorang yang
tidak mempertahankan kepentingan diri sendiri tetapi lebih melihat bagaimana
kebutuhan dan kepentingan orang lain. Menjadi pelayan Tuhan adalah seorang yang
harus melawan sifat egoisme dalam dirinya. Seorang pelayan Tuhan yang egois,
yang lebih mementingkan diri sendiri dan reputasi diri, yang hanya ingin
mencari kepentingan diri, itu bertentangan dengan spirit pelayanan. SIkap tidak
egois tidak berarti kita menjadi orang yang tidak punya citra diri. Seorang
anak sejak kecil belajar dua hal, pertama dia belajar bilang ‘NO’ sebelum
bilang ‘YES,’ dan kedua bilang ‘MINE’ sebelum belajar sharing. Kita jangan
memaksa anak kita yang baru berumur 1-2 tahun untuk belajar share kepada anak
lain karena di situ dia sedang belajar memperkembangkan satu self identity.
Setelah hal itu established, dia akan lebih mudah
belajar apa arti sharing dengan anak lain. Maka serving, melayani orang, lebih
memperhatikan orang lain bukan berarti kita akhirnya tidak menghargai identitas
diri ataupun menghina diri. Justru maksudnya, kita mengerti identitas diri kita
yang berharga di hadapan Tuhan apa adanya. Tetapi kalau identitas diri
diidentikkan dengan pelayanan-KU, dengan harta-KU, dengan segala kesuksesan dan
keberhasilan yang ‘si AKU’ capai, maka ketika semua itu runtuh kita akan merasa
hidup kita gagal total. Kemurahan hati memiliki pengertian kita sadar kita
begitu bernilai di hadapan Tuhan dan hal ini tidak perlu kita pertahankan. Kita
menjadi orang Kristen yang belajar tidak egois. Itu sebab sebagai pelayan Allah
kita belajar lebih memberi, lebih memperhatikan dan lebih mengasihi orang lain.
Itu paradoks yang Tuhan Yesus katakan, barangsiapa yang terus mempertahankan
hidup, dia akan kehilangannya. Tetapi barangsiapa memberi dirinya, dia
akanmenerimanya kembali. Itu paradoks sekali. Mau
menjadi pelayan Tuhan yang baik? Buka hati saudara selebar-lebarnya, belajar
menjadi orang Kristen yang memberi, rela untuk memberi sesuatu demi kepentingan
orang lain tanpa pamrih. Itu yan g Allah lakukan pada waktu Dia memberi.
Dalam Matius 13:45-46 Tuhan Yesus memberi prinsip apa artinya hidup di dalam
Kerajaan Allah dan bagaimana kita hidup mengasihi Allah di dalam perumpamaan
seseorang yang menemukan mutiara yang berharga. Demikianlah sebenarnya hidup
kita bagi kerajaan Allah. Pada waktu kita terus mempertahankan semua menjadi
milik kepunyaan kita, kita membuat hati kita sendiri menjadi sempit. Kemurahan
hati akan terlihat pada waktu seseorang tidak mempertahankan hak milik dan
pegang semua erat-erat, akhirnya lupa bahwa seluruh hidup kita sebenarnya kita
miliki kembali pada waktu kita jadikan itu sebagai milik pelayanan untuk Tuhan
dan untuk orang lain. Semua yang kita punya adalah miliki Tuhan, yang Tuhan
kasih untuk kita pakai dan nikmati dan Tuhan minta kita dengan setia
mengelolanya.
Sekitar 15 tahun yang lalu ada satu kisah nyata terjadi di Palm Beach,
Florida, seorang nenek tua ditemukan meninggal di rumahnya dengan keadaan yang
mengenaskan. Dia meninggal karena malnutrisi. Tubuhnya begitu kurus, tidak
lebih daripada 30 kg. Tetangga mengatakan nenek tua ini sering datang meminta
sisa-sisa makanan dan kadang mengorek tempat sampah orang untuk mendapatkan
makanan. Yang mengejutkan ternyata juga ditemukan dua kunci dari safety box di
bank, di dalamnya ada beberapa surat obligasi dan saham dari AT&T dan ada uang
$200.000 dan sejumlah mata uang asing yang sejumlah $600.000, sehingga total
kekayaannya hampir 1 million dollar. Tragisnya, sepanjang hidup dia
menjalaninya sebagai orang miskin dan melarat.
Yang kedua, the spirit of holiness ditaruh sebelum kasih yang tidak munafik.
Paulus menaruh hal ini sebagai satu kriteria penting bagi seorang pelayan
Tuhan. Kenapa? Kita akan mengerti lebih dalam waktu kita mengaitkannya dengan
nasehat Paulus kepada jemaat Galatia dalam Galatia 6:1, “..kalau seorang
kedapatan melakukan suatu pelanggaran, pimpin orang itu ke jalan yang benar
sambil menjaga dirimu sendiri supaya jangan kena pencobaan.” Prinsipnya
sederhana dan saya selalu pegang baik-baik. Waktu seseorang konseling, kita
bersimpati dan ikut merasakan kesulitan yang dia alami, tetapi jangan sampai
kita masuk lebih dalam daripada yang sepatutnya. Kindness, terbuka, menjadi
orang yang memperhatikan orang lain. Tetapi Paulus tambahkan, tetaplah memiliki
the spirit of holliness, jaga diri baik-baik jangan sampai kita memperhatikan
kebutuhan dan kepentingan orang lain tetapi kita sendiri bisa jatuh. Seorang
hamba Tuhan harus hati-hati dan baik-baik, di dalam memberikan
pelayanan, memperhatikan kesulitan jemaat, dsb kita jangan sampai jatuh. Hidup
untuk orang lain, tetapi jaga spirit of holiness.
Selanjutnya Paulus bicara mengenai action di ayat 7 “...terus-menerus
preaching the word of God, preaching the power of God dan melakukan itu semua
dengan 2 metode yaitu dengan menyerang dan membela. Dalam 2 Korintus 10:3-8, 15
Paulus menghadapi kritikan tetapi dia menyatakan bagaimana hidup pelayanannya.
Pak Tong selalu mengingatkan “kalau mampu melahirkan sendiri, tidak usah
pungut anak orang lain,” maksudnya di dalam pelayanan kita harus betul-betul
percaya kuasa Injil yang bisa merubah hati orang dan tidak usah takut dan tidak
usah ambil domba orang. Paulus memberi prinsip ini: saya membangun, bukan
meruntuhkan. Kedua, saya tidak datang ke tempat orang lain dan ambil domba
orang. Ini prinsip pelayanan dia. Dengan setia memberitakan firman Allah,
dengan setia menyatakan kuasa Allah dan melayani dengan membela dan
mempertahankan. Maksudnya bukan hanya membela diri tetapi lebih merupakan sifat
pelayanan dia yang berada di front depan, menghadapi orang yang tidak percaya,
orang yang terbuka menentang untuk mengenal Tuhan. Paulus menyerang dan
meruntuhkan segala keangkuhan pikiran mereka yang tidak mau mengenal Tuhan. Itu
bentuk pelayanan Paulus. Maka dia membangun pelayanan dan bukan meruntuhkan
ataupun mengganggu wilayah pelayanan orang lain. Saya percaya ini
merupakan prinsip yang penting dan sampai hari ini saya mengingatkan kepada
saudara semua yang melayani bersama-sama dengan saya, menjadi anggota gereja di
tempat ini. Saudara tahu saya punya prinsip tidak akan pernah mengajak saudara
pelayanan kalau saudara baru pertama kali datang ke gereja ini. Yang kedua,
saya tidak akan pernah minta saudara pindah ke gereja ini. Selama 15 tahun
pelayanan sampai hari ini saya terus pegang prinsip ini. Kalau saudara datang
berbakti di sini dengan setia dan hati saudara sudah merasa ini adalah
gerejamu, saya akan terbuka jika saudara mau berbagian melayani. Tetapi saya
selalu akan memberi pertanyaan ini, apakah sebelumnya saudara ada pegang
pelayanan di satu gereja dan ada pegang satu jabatan dan masih belum
menyelesaikannya? Maka saya akan mengatakan, walaupun hati saudara di sini,
selesaikan dulu pelayanan di sana, baru kemudian melayani di sini. Hal-hal
seperti itu selalu menjadi prinsip yang harus kita pegang supaya kita tidak
bersalah kepada pihak lain. Kita tidak boleh takut, terus melayani dengan
memberitakan Injil, orang diberkati dan bertumbuh. Kalau bisa ajak orang belum
percaya ke gereja. Bagaimana gereja Tuhan bisa berkembang dan bertumbuh? Setiap
anak Tuhan dengan setia seumur hidup preaching the word of God, menyatakan
kuasa Allah dan membawa orang belum percaya, runtuhkan pikiran mereka supaya
bisa percaya dan mengenal Tuhan. Tidak usah takut kalau kita melayani dengan
tulus dan jujur memberitakan Injil orang tidak tertarik dan tidak percaya
Tuhan. Saya harap ini semua menjadi prinsip yang terus-menerus tertanam di
dalam diri saya dan saudara. Pada waktu kita memutuskan untuk menjadi pelayan
Tuhan kita perlus atu hati yang tabah dan tahan.
Mari kita lihat Kolose 4:14 dalam bagian ini Paulus memberikan pujian dan
apresiasi kepada rekan-rekan kerjanya Tikhikus, Onesimus, Aristarkus, Epafras,
dan kepada Lukas tetapi kepada Demas tidak ada satu kalimat Paulus nyatakan
tentang dia. Paulus tidak memuji kehebatan mereka, tetapi Paulus menekankan
satu kata yaitu “setia”, mereka setia bersama-sama dia melayani, mereka ikut di
dalam penjara, bergumul di dalam doa, dsb. Ini adalah kriteria yang sangat
penting bagi Paulus. Nanti di dalam surat 2 Timotius 4:10 saudara akan
menemukan bahwa beberapa tahun kemudian Demas ternyata meninggalkan pelayanan
“karena dia lebih mengasihi dunia ini.” Di Kolose, Paulus sudah meraba hal ini
dari diri Demas. Paulus tidak sanggup menulis apa pun mengenai dia dan memang
terbukti tiga tahun kemudian dia meninggalkan Paulus dan tidak melayani lagi.
Konsistensi merupakan kunci yang penting. Kesuksesan dan ketidaksusesan
merupakan proses di dalam satu pelayanan. Dihormati atau tidak dihormati
merupakan bagian di dalam satu pelayanan. Tetapi semua itu akan saudara dan
saya lewati pada waktu kita menjadi seorang Kristen yang memiliki ‘hupomone’
perseverance. Sampai pada titik terakhir, Yesus pun bicara mengenai pelayan
yang punya bakat 5 talenta, yang punya bakat 2 talenta dan yang punya bakat 1
talenta, tidak ada masalah bagi Dia. Yang terutama bagi Tuhan, Dia memuji
“hamba yang setia.” Saudara dan saya berbeda bakat dan talenta, saudara dan
saya berbeda opportunity, saudara, dan saya berbeda status, dan kita
masing-masing memiliki karunia dari Tuhan yang berbeda. Kita tidak perlu malu,
tidak perlu kecewa, tidak perlu iri, dan tidak mempersalahkan Tuhan di dalam
keunikan yang berbeda yang Tuhan beri kepada kita. Tetapi yang Tuhan jelas
minta dan tuntut kepada kita hal yang sama, bagaimana kita jadikan semua
yang sudah Tuhan berikan itu menjadi berkat di dalam hidup kita.(kz)
Sumber:
http://www.griisydney.org/ringkasan-khotbah/2008/2008/08/24/kunci-rahasia-hidup-3/
"Faith does not depend on miracles, or any extraordinary sign, but is the
peculiar gift of the spirit, and is produced by means of the word … There is to
which the flesh is more inclined than to listen to vain revelation."
(Dr. John Calvin)
---------------------------------
Nama baru untuk Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!