From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>
Edisi 87 -- Belas Kasihan bagi Utusan Injil: John Wesley
PENGANTAR
Memberikan hati untuk melayani adalah tugas dan panggilan bagi orang
percaya. Satu hal yang terpenting dalam hal ini, Tuhan senantiasa
melihat motivasi kita di dalam melayani. Jangan sampai saat kita
melakukan pelayanan, pelayanan tersebut malah menjadi batu sandungan.
Seperti yang terjadi pada pengkhotbah yang dipakai Tuhan secara luar
biasa, John Wesley. Pada awalnya, dia mengalami krisis iman di
sela-sela melakukan tugas memberitakan keselamatan bagi banyak
orang. Dia mengkhawatirkan siapa yang mampu menobatkan dirinya.
Butuh waktu yang lama bagi John Wesley untuk meyakinkan imannya yang
pada waktu itu ia sebut sebagai "iman musiman".
Perubahan cara pandangnya mampu membawa pertobatan atas dirinya
sendiri, bahwa Yesuslah Sang Juru Selamat sejati. Pada
perkembangannya, John Wesley semakin dipakai secara luar biasa
ketika dia sedang berkhotbah tentang pertobatan dan hidup baru di
beberapa tempat. Kali ini, kami ajak Anda untuk menyimak kesaksian
John Wesley. Semoga kisah tokoh misi berikut semakin menjadi pemicu
dalam kita melakukan tugas panggilan untuk memberikan banyak jiwa bagi
Elohim.
Redaksi Tamu KISAH,
Kristina Dwi Lestari
______________________________________________________________________
KESAKSIAN
BELAS KASIHAN BAGI UTUSAN INJIL: JOHN WESLEY
Kapal itu terombang-ambing dan tergoncang dengan hebat menembus
gelombang yang tingginya enam meter di Laut Atlantik. Air menyembur
menyapu geladak kapal, membelah layar besar dari kapal layar abad
kedelapan belas itu dan mengalir ke dalam ruangan-ruangan di kamar itu.
Pendeta John Wesley gemetar ketakutan. Beberapa orang Inggris di
sekelilingnya berteriak. Tetapi ketika ia memandang pada kelompok
orang-orang Moravia, ia merasa heran karena mereka sedang
menyanyikan mazmur dengan tenang. "Orang-orang yang malas dan bodoh,"
pikirnya.
Pada saat samudra itu telah tenang, Wesley mendekati pemimpin
mereka. "Anda tidak takut akan badai?" tanyanya. "Tidak, Tuhan ada
di pihak kami. Kami tidak takut mati."
Hari berikutnya, Spangenberg, pendeta Moravia itu, memunyai sebuah
pertanyaan bagi pendeta Inggris itu. "Saudara Wesley, kenalkah
saudara dengan Yesus Kristus?" tanyanya. "Saya tahu bahwa Ia Juru
Selamat dunia ini," orang Inggris yang bermartabat itu menjawab
dengan ramah. "Tetapi dapatkah Saudara mengatakan kepada saya apakah
Ia telah menyelamatkan Saudara?" Wesley bingung. "Saya harap
demikian," ia menjawab dengan tenang.
John Wesley sedang dalam perjalanannya menuju Georgia untuk
menginjili orang-orang Indian. Tetapi sebelum ia mendapatkan damai
dalam iman orang-orang Moravia, ia meratap, "Aku datang ke Georgia
untuk memertobatkan orang-orang Indian, tetapi siapa yang akan
memertobatkan aku? Aku hanya memunyai iman "musiman" saja.
Walaupun Wesley adalah seorang sarjana lulusan Oxford dan sangat
saleh, "imannya yang musiman" itu tidak berhasil menggerakkan hati
penduduk koloni Inggris yang acuh tak acuh itu, lebih-lebih
orang-orang Indian yang masih menyembah berhala.
Setelah dua tahun, Ia kembali ke Inggris dan perjalanan misinya
merupakan suatu kegagalan. Ia kemudian mengetahui bahwa di seluruh
Inggris, orang-orang sedang membicarakan khotbah-khotbah rekan
sekelasnya dulu di Oxford, George Whitefield. Whitefield telah
mendapat pengalaman pertobatan yang dramatis dan telah berkhotbah
tentang kelahiran baru kepada banyak pendengar.
Pada waktu itu, Charles, saudara kandung John Wesley, sedang sakit.
John dengan terburu-buru pergi ke tempat tidurnya, tetapi ia
mendapatkan bahwa Peter Bohler menghujani si sakit itu dengan
pertanyaan-pertanyaan mengenai imannya.
John kemudian menulis dalam majalah "Journal", bahwa ia cukup
mendengar percakapan mereka "yang meyakinkan aku akan kebutuhanku
akan iman". Ia merasa bahwa ia tidak perlu lagi berkhotbah. Namun
demikian, Bohler menasihatkan untuk menceritakan kebenaran itu
kepada orang lain sampai ia sendiri yakin.
Dua hari kemudian, John Wesley berkata kepada seorang narapidana
yang sudah dijatuhi hukuman bahwa ia dapat memeroleh pengampunan
dosa hanya dengan percaya kepada Kristus. "Saya mau," jawab
narapidana itu. "Sekarang saya bersedia sepenuhnya untuk mati,"
tambahnya dengan perasaan yang sungguh-sungguh. "Kristus telah
menghapus dosa-dosa saya." Narapidana itu memunyai kepastian yang
penuh, tetapi Wesley yang malang itu terus bergumul.
Pada tanggal 20 Mei tahun 1738, Charles Wesley menerima kepastian
penuh akan keselamatannya setelah membaca "Tafsiran Kitab Galatia" karangan
Luther.
Kira-kira jam lima pagi hari Rabu berikutnya, John membuka Kitab
Perjanjian Barunya pada II Petrus 1:4 dan membaca: "Dengan jalan
itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang
sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi."
Pada malam harinya, ia diundang menghadiri satu pertemuan
perkumpulan Kristen di jalan Aldersgate. "Aku pergi dengan perasaan
sangat segan," ia kemudian menulis dalam buku hariannya, "untuk
mendengarkan seseorang yang membacakan kata pengantar Luther tentang Kitab
Roma."
Saat itu merupakan malam kemenangan baginya. Beginilah ia
menjelaskan, "Kira-kira jam sembilan kurang seperempat; ketika ia
sedang menjelaskan perubahan yang dilakukan Elohim di dalam hati
melalui iman kepada Kristus, aku merasa hatiku dihangati secara
mengherankan .... Aku merasa sungguh-sungguh percaya kepada Kristus
yang memberikan keselamatan."
Ia hampir tidak dapat menunggu untuk menceritakannya kepada Charles.
Sambil berlari masuk ke kamarnya, ia berteriak, "Aku percaya." Mari
kita menyanyikan satu lagu pujian bersama-sama," Charles
mengusulkan. John menyetujui, dan keduanya menyanyikan sebuah lagu
pujian baru yang telah dikarang Charles beberapa hari sebelumnya --
sebuah lagu yang masih dinyanyikan oleh orang-orang Kristen pada
masa kini, "Kristus Sahabat Orang Berdosa" (Christ the Friend of Sinners).
Delapan belas hari kemudian, John Wesley mengkhotbahkan suatu
khotbah yang selalu diingat, "Oleh Anugerah Kita Diselamatkan
Melalui Iman", di Universitas Oxford. Ini merupakan tema dari suatu
pelayanan di mana ia merasa harus menyelamatkan Inggris dari
kemerosotan moral dengan memenangkan berpuluh-puluh ribu orang bagi
Kristus serta mendirikan gereja Metodis.
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: Bagaimana Tokoh-Tokoh Kristen Bertemu Dengan Kristus
Penulis: James C. Hefley
Penerbit: Yayasan Kalam Hidup, Bandung 2008
Halaman: 34 -- 36
______________________________________________________________________
"Akan tetapi Elohim menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena
Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." (Roma 5:8)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=Roma+5:8 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA
1. Apakah di sekitar Anda masih ada jiwa-jiwa yang belum mendengar
mengenai keselamatan sejati di dalam diri Kristus Yesus? Mari
satukan hati untuk mendoakan mereka agar kita boleh menjadi
kepanjangan tangan Elohim dalam menjangkau mereka.
2. Mari kita berdoa bagi para pengabar Injil, baik di Indonesia
maupun di tempat-tempat lain. Biarlah Roh Elohim senantiasa
menuntun mereka di dalam melaksanakan tugas pangggilannya.
3. Berdoa juga untuk daerah-daerah yang masih sulit menerima Kabar
Sukacita. Biarlah Elohim sendiri yang nantinya akan melembutkan
hati mereka untuk membuka diri mengundang Kristus masuk ke dalam hidupnya.
______________________________________________________________________
Edisi 88 -- Salibmu yang Menyelamatkanku
PENGANTAR
Pada saat seseorang memutuskan untuk menerima Yesus sebagai Tuhan
dan Juru Selamat pribadi, berarti pada saat itu pula ia harus siap
untuk memikul salib Kristus. Namun, semua itu tidaklah sebanding
dengan apa yang telah Ia lakukan bagi kita di kayu salib dan
kehidupan kekal yang akan kita terima kelak bersama-Nya. Perlu
diingat pula bahwa Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa jika kita
telah menjadi anak-Nya, maka segala sesuatu akan berjalan dengan
baik tanpa ada suatu rintangan apapun. Ia berjanji bahwa Ia akan
selalu ada bersama kita, menjaga, melindungi, dan menopang kita saat
kita lemah dan menggendong kita ketika kita sudah tidak sanggup lagi
untuk memikul beban yang menghimpit kehidupan kita. Satu hal yang
perlu kita ingat adalah pertolongan-Nya tidak pernah terlambat. Ia
tahu kapan waktu yang tepat untuk menyatakan kuasanya bagi setiap
orang yang mau percaya kepada-Nya.
Malalui kesaksian berikut, kita diingatkan kembali bahwa Tuhan
sangat merindukan mereka yang terhilang. Ia rindu agar setiap orang
dapat menerima keselamatan yang telah Ia sediakan bagi mereka yang
mau percaya kepada-Nya. Sekarang terserah kepada Anda. Apakah Anda
akan menyia-nyiakan apa yang telah Ia berikan untuk Anda? Atau Anda
akan membagikan Berita Keselamatan tersebut kepada orang-orang di sekitar
Anda?
Selamat membaca, Tuhan Yesus memberkati.
Redaksi Tamu KISAH,
Novita Yuniarti
______________________________________________________________________
KESAKSIAN
SALIBMU YANG MENYELAMATKANKU
Aku berasal dari keluarga non-Kristen, ayah dan ibuku pensiunan PNS.
Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, kami punya usaha kecil.
Keluargaku sangat disiplin dan taat menjalankan agama mereka, jadi
kami dididik dalam kerohanian, apalagi ayahku seorang pemimipin
agama di tempatnya. Waktu aku duduk di bangku sekolah dasar, setiap
sore aku memerdalam ajaran agamaku. SMP sampai dengan SMA, aku sudah
lepas dari keluarga karena aku bersekolah di Manado. Aku tinggal
berdekatan dengan anak-anak Kristen dan aku cukup akrab dengan
mereka. Saat duduk di kelas dua SMP, aku mengikuti suatu kegiatan
olahraga di sekolah. Setelah selesai berolahraga, kami merasa lapar
dan membeli kue "biapong" dan memakannya sampai habis. Keesokan
harinya, aku diberitahu temanku bahwa kue yang aku makan kemarin itu
bahan isinya adalah daging babi. Spontan, aku mengucapkan kalimat
tertentu karena aku merasa sangat berdosa sekali pada Tuhan. Sejak
saat itu, aku selalu berhati-hati bila makan bersama dengan
teman-teman Kristen. Orang tuaku pun melarang bergaul dengan mereka.
Menurut orang tuaku, orang Kristen itu najis karena yang dimakan
adalah barang-barang najis.
Pada tahun 1999, aku kuliah di Fakultas Hukum Universitas Manado.
Aku memiliki teman yang akrab bernama E, anak dari T. Kebetulan, dia
adalah orang Kristen. Saking akrabnya, pada hari Minggu, aku mau
mengikuti ajakannya pergi ke gereja. Seiring berjalannya waktu, aku
pun mengikuti ibadah Natal. Orang tuaku tidak tahu kalau aku
melanggar larangannya. Pada tanggal 28 Desember 2003, aku memutuskan
untuk tidak memakai identitas agamaku lagi karena aku mulai aktif di
gereja. Aku menikah dengan seorang Kristen, namun dia tidak terlalu
aktif bergereja dan tidak fanatik dengan masalah agama, orang tuaku
tidak merestui hubungan kami. Aku semakin rajin ke gereja meskipun
posisiku belum meyakini akan keberadaan Tuhan Yesus. Suatu hari,
ketika memasuki pintu gereja, aku berdoa karena aku masih ragu-ragu
atas keberadaan Tuhan Yesus. Demikian isi doaku: "Tuhan Yesus, jika
Engkau benar-benar Tuhan, mohon beri keajaiban-Mu supaya aku tidak
meragukan keberadaan-Mu." Kemudian aku masuk gereja dan pada saat
sampai di pintu, aku merasakan ada air es yang mengguyur tubuhku,
dan spontan aku merasakan kesegaran yang luar biasa. Saat itu hatiku
tenang. Bahkan, rasa takut dan cemas terhadap keluarga tidak ada lagi.
Suatu hari aku bermimpi, dan dalam mimpi itu, aku diajak oleh
keluarga untuk menunaikan ibadah agama lamaku. Saat melakukan ritual
tertentu, ada suara yang mengatakan: "Pulanglah, jangan teruskan
perjalananmu anak-Ku." Suara itu terdengar tiga kali dan ternyata
bersumber dari dari salib besar yang bersinar terang, "Anak-Ku,
datanglah pada-Ku dan serahkanlah dirimu pada-Ku." Spontan aku
terbangun dan sejak itulah aku menjadi seorang yang pendiam dan
sempat aku merasakan kebimbangan. Akhirnya, aku mencoba untuk
melakukan ibadah lamaku lagi. Aku pun merasakan kelumpuhan dan
dibawa ke rumah sakit untuk dirawat, namun aku tak kunjung sembuh.
Berbagai usaha sudah dilakukan, tetapi sia-sia. Suatu saat, aku
didoakan oleh teman yang beragama Kristen, dan mukjizat terjadi. Aku
bisa berdiri dengan baik. Melihat keajaiban itu, aku memutuskan
untuk menjadi pengikut Kristus.
Waktu terus berlalu, dan ketika mengetahui aku percaya kepada
Kristus, keluargaku marah besar. Mereka mencariku dengan menyewa
orang lain. Akhirnya, mereka mengetahui keberadaanku dan aku disiksa
serta dianiaya. Aku dibawa ke rumah tante agar tidak bisa pergi ke
gereja. Sejak itu, aku putus kuliah, padahal aku hampir selesai.
Saat ada kesempatan, aku pun melarikan diri ke tempat suamiku dan
bersembunyi di sana. Pada bulan November 2004, aku bersama suami
menghadiri ibadah KKR. Pengkhotbahnya adalah Pdt. E dari J. Aku
merasa imanku dikuatkan karena pengkhotbah menggunakan Injil dan
kitab lain sebagai bahan perbandingan. Saat ini, aku bersama suami
mendalami Alkitab dan imanku pun semakin diteguhkan.
Demikian kesaksianku, kiranya menjadi berkat tersendiri bagi setiap
pembaca. Tuhan Yesus memberkati.
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buletin: Midrash Talmiddim, Edisi Kedua 2005
Judul kesaksian: Salib-Mu yang Menyelamatkanku
Penulis: SS
Penerbit: Yayasan Kaki Dian Emas, Bekasi 2005
Halaman: 13 -- 15
______________________________________________________________________
"Kata Yesus kepadanya: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak
ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."
(Yohanes 14:6)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=Yohanes+14:6 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA
1. Doakan S beserta keluarga agar tetap kuat di dalam Tuhan serta
tetap berpengharapan dan mengandalkan Tuhan dalam setiap kehidupan mereka.
2. Saat ini, masih banyak orang yang belum menerima Kristus sebagai
Tuhan dan Juru Selamat pribadi mereka. Mari minta kepada Tuhan
yang Empunya tuaian agar Ia memberi beban kepada setiap orang
percaya untuk menjangkau mereka yang masih terhilang.
3. Mari satukan hati berdoa bersama untuk pelayanan Pdt. E dan
hamba-hamba Tuhan yang juga sedang melayani seperti beliau.
Kiranya Tuhan selalu memampukan setiap hamba Tuhan yang bekerja
di ladang-Nya, memberi kekuatan, dan melindungi pelayanan yang
mereka lakukan. Doakan juga untuk keluarga setiap hamba Tuhan
agar Tuhan senantiasa memberkati dan mencukupkan setiap keperluan mereka.
______________________________________________________________________
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) 2008 YLSA
YLSA -- http://www.ylsa.org/
http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
Redaksi Tamu: Novita Yuniarti
Kontak: < kisah(at)sabda.org >
Berlangganan: < subscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org >
Berhenti: < unsubscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org >
Arsip KISAH: http://www.sabda.org/publikasi/Kisah/
Situs KEKAL: http://kekal.sabda.org/