From: Leonard Handjojo 

WHAT HAPPENS IN HEAVEN

This is one of the nicest e-mails I have seen and is so true:

I dreamt that I went to Heaven and an angel was showing me around. We walked 
side-by-side inside a large workroom filled with angels.My angel guide stopped 
in front of the first section and said, 'This is the Receiving Section.

Here, all petitions to God said in prayer are received.' 

I looked around in this area, and it was terribly busy with so many angels 
sorting out petitions written onvoluminous paper sheets and scraps from people 
all over the world.

Then we moved on down a long corridor until we reached the second section.

The angel then said to me, 'This is the Packaging and Delivery Section. 

Here, the graces and blessings thepeople asked for are processed and delivered 
to the living persons who asked for them. 
'I noticed again how busy it was there. There were many angels working hard at 
that station, since so many blessings had been requested and were being 
packaged 
for delivery to Earth.

Finally at the farthest end of the long corridor we stopped at the door of a 
very small station. To my great surprise, only one angel was seated there, idly 
doing nothing. 'This is the Acknowledgment Section,' my angel friend quietly 
admitted to me. He seemed embarrassed 'How is it that there is no work going on 
here?' I asked.

'So sad,' the angel sighed. 'After people receive the blessings that they asked 
for, 
very few send back acknowledgments..'

'How does one acknowledge God's blessings?' I asked.

'Simple,' the angel answered. Just say, 'Thank you, Lord.'

'What blessings should they acknowledge? ' I asked.

'If you have food in the refrigerator, clothes on your back, a roof overhead 
and a place to sleep you are richer than 75% of this world.If you have money in 
the bank, in your wallet, and spare change in a dish, you are among the top 8% 
of the world's wealthy.'

'And if you get this on your own computer, you are part of the 1% in the world 
who has that opportunity. '
'If you woke up this morning with more health than illness... you are more 
blessed than the many who will not even survive this day.'

'If you have never experienced the fear in battle, the loneliness of 
imprisonment, the agony of torture, orthe pangs of starvation...you are ahead 
of 700 million people in the world.'

'If you can attend a church without the fear of harassment, arrest, torture or 
death you are envied by, and more blessed than three billion people in the 
world.'

'If your parents are still alive and still married...you are very rare.'

'If you can hold your head up and smile, you are not the norm, you're unique to 
all those in doubt and despair.'

Ok, what now? How can I start?

If you can read this message, you just received a double blessing in that 
someone was 
thinking of you as very special and you are more blessed than over two billion 
people in the world who cannot read at all.

Have a good day, count your blessings, and if you want, pass this along to 
remind everyone else how blessed we all are..

ATTN:

Acknowledge Dept.: 'Thank you Lord, for giving me the ability to share this 
message and for 
giving me so many wonderful people to share it with.'

If you have read this far, and are thankful for all that you have been blessed 
with, how can you not send it on???? 

I thank God for everything, especially all my family and friends!! 
==================================================
From: ~Elly 

"Pasangan yang Mesti Dihindari" 
oleh Pdt. Dr. Paul Gunadi

Tuhan meminta kita untuk menikah dengan yang seiman. Namun untuk mendapatkan 
pasangan hidup yang sepadan diperlukan hikmat untuk menimbang dan memutuskan 
dengan tepat.

Emosi cinta adalah emosi yang kuat dan kerap mewarnai proses pertimbangan. Itu 
sebabnya ada pepatah yang berkata bahwa cinta itu buta, dalam pengertian oleh 
karena cinta akhirnya kita membutakan mata terhadap hal-hal yang buruk yang 
seharusnya diperhitungkan.

Berikut akan dipaparkan beberapa tipe pasangan yang mesti dihindari sampai 
mereka mengalami pemulihan.

I) Pasangan yang Suka Berbohong
Jika pada masa sebelum menikah ia telah kerap berbohong, besar kemungkinan ia 
akan melanjutkan kebiasaannya sampai pernikahan.

Ada orang yang berbohong karena takut; ada pula yang berbohong karena ingin 
memberi kesan yang lain tentang dirinya; namun ada pula yang berbohong karena 
ingin menutupi perbuatannya.

Apa pun alasannya kita mesti berhati-hati dengan orang yang dengan mudah 
berbohong. Setidaknya ada empat alasan mengapa kita mesti berhati-hati agar 
jangan sampai berpasangan dengan tipe pembohong.

1. Orang yang mudah berbohong cenderung mengambil jalan pintas yang mudah sebab 
kebohongan merupakan caranya untuk menghindar dari kesulitan.

2. Orang yang berbohong acap tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya; itu 
sebabnya berpasangan dengan tipe ini akan menyulitkan kita. Hidup menuntut 
tanggung jawab dan orang yang mengelak tanggung jawab adalah orang yang tidak 
dewasa. Besar kemungkinan ia menyalahkan orang lain agar dapat membebaskan 
dirinya dari tanggung jawab.

3. Orang yang berbohong pada akhirnya kehilangan hati nurani dan sekali nurani 
hilang, apa pun akan dihalalkannya. Banyak orang yang berbohong melakukannya 
karena ingin berbuat dosa. Dengan berbohong, ia akan dapat menutupi dosa 
sehingga bisa terus melakukannya tanpa terhalangi.

4. Orang yang berbohong tidak dapat dipercaya lagi dan tanpa kepercayaan, 
pernikahan ambruk. Kita akan selalu bertanya-tanya akan apa yang sebenarnya ia 
lakukan atau tidak lakukan; apa pun yang dikatakan atau dilakukannya membuat 
kita meragukan ketulusannya.

Firman Tuhan :
"Mulut orang benar mengeluarkan hikmat tetapi lidah bercabang akan dikerat. 
Bibir orang benar tahu akan hal yang menyenangkan, tetapi mulut orang fasik 
hanya tahu tipu muslihat." (Amsal 10:31-32)

II) Pasangan yang Pemarah dan Suka Memukul
Kebanyakan kasus pemukulan pasangan sesungguhnya berawal pada masa
berpacaran namun kebanyakan kita mendiamkannya.

Sayangnya sekali terjadi pemukulan, maka lebih besar kemungkinan terjadinya 
pengulangan. Ada beberapa alasan yang umum dikemukakan yang membuat perilaku 
ini terus berlanjut.

1. Biasanya kita berdalih bahwa semua orang berdosa dan tidak ada yang 
sempurna, jadi, tidak beralasan bagi kita untuk memutuskan hubungan dengan 
orang tipe pemarah dan pemukul.

2. Kebanyakan pemukul menyesali perbuatannya dan meminta maaf.
Melihat ketulusannya menyesali tindak kasarnya, hati kita pun luluh dan 
menerimanya kembali. Kita berkata, bukankah Tuhan pun meminta kita untuk 
memaafkan orang yang telah bersalah kepada kita.

3. Pada umumnya kita berharap dan terus berharap bahwa dengan berjalannya waktu 
maka ia akan sadar dan tidak melakukannya lagi.

Sayangnya harapan ini tidak terbukti; lebih banyak pemukul yang melanjutkan 
kebiasaan buruknya sampai setelah menikah. Sekali pola pemukulan terpancang, 
sukar sekali baginya untuk mencabutnya, apalagi mengingat bahwa kebanyakan 
pemukul mempunyai daya tampung stres yang tipis.

4. Pada akhirnya pemukulan menjadi alat untuk menguasai kita, dan bukan saja 
untuk membungkamkan kita. Hidup dengan pemukul begitu mencekam dan membuat kita 
ketakutan terus menerus. Anak-anak pun harus hidup dalam ketegangan akibat 
kekerasan yang dilihat dan dialaminya di rumah.

Firman Tuhan
"Orang bijak berhati-hati dan menjauhi kejahatan tetapi orang bebal 
melampiaskan nafsunya dan merasa aman. Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, 
tetapi orang yang bijaksana, bersabar." (Amsal 14:16- 17)

Kesimpulan :
Pernikahan dengan seorang pembohong dan pemukul adalah pernikahan yang berisiko 
tinggi dan berdaya merusak. Hindarilah, doronglah dia untuk menerima 
pertolongan dan pantaulah pemulihannya lewat rentang waktu yang panjang. Jangan 
cepat jatuh kasihan sebab pernikahan bukanlah sebuah rumah sakit untuk merawat 
orang yang bermasalah.
Sudah semestinyalah kita membereskan masalah sebelum menikah agar tidak 
menimpakannya pada pasangan.

III) Pasangan yang Beremosi Labil
Beremosi labil lebih dari sekadar ciri kepribadian sanguin dan melankolik; 
sesungguh nya kebanyakan kasus emosi labil merupakan buah dari akar kepahitan 
dan penderitaan di masa lalu.

Sesungguhnya kita semua lahir membawa sebuah tabung emosi yang kosong; di dalam 
keluarga yang sehat tabung ini akan terisi kasih sayang dan pengarahan dari 
orangtua.

Sekali tabung ini terisi penuh, maka pengalaman seburuk apa pun tidak akan 
dapat dengan mudah memecahkan isi yang padat dan penuh itu.

Jika kita tidak menerima isian yang positif melainkan negatif, tidak bisa 
tidak, tabung emosi kita akan terisi kepahitan dan derita.
Sekali tabung terisi padat dengan kepahitan dan derita, akan sukar sekali bagi 
pengalaman positif untuk datang masuk dan menggantikan kepahitan.

Itu sebabnya pada akhirnya orang ini akan terus bereaksi dengan pahit dan 
negatif. Semua ditafsir dari kacamata buruk dan sebagai akibatnya, emosinya 
menjadi labil dan negatif.

Menikah dengan orang tipe ini sudah tentu akan sukar dan berikut akan 
dipaparkan kesukarannya.

1. Emosinya mudah terpancing: kadang naik dalam kemarahan, kadang anjlok dalam 
kesedihan. Pada akhirnya kita menjadi frustrasi karena tidak tahu apa lagi yang 
harus dilakukan. Kita diam salah, bersuara pun salah.

2. Kita menjauh sedikit disangka ingin meninggalkannya dan sebagai akibatnya, 
ia akan makin mencengkeram dan membatasi ruang gerak kita.

3. Kita mengembangkan hobi atau pergaulan dituduh tidak lagi memberinya 
perhatian atau tidak lagi mencintainya.

4. Sudah tentu semua ini akan berdampak pada anak sehingga anak pun tertekan. 
Belum lagi bila terjadi pertengkaran di antara kita sebab kita tidak selalu 
kuat menahan diri. Akhirnya rumah sarat ketegangan dan ketidakpastian-sesuatu 
yang buruk bagi pertumbuhan anak.

Firman Tuhan
"Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya 
melebihi orang yang merebut kota . Lebih baik sekerat roti yang kering disertai 
ketenteraman daripada makanan daging serumah disertai dengan perbantahan." 
(Amsal 16:32; 17:1).

Orang yang beremosi labil adalah orang yang tidak dapat menguasai dirinya; 
hidup dengannya tidak pernah sepi perbantahan. Pada akhirnya relasi nikah retak 
sebab kita tidak nyaman berdekatan dengannya.

IV) Pasangan yang Hanya Mementingkan Diri Sendiri.
Pernikahan adalah tempat di mana diri harus ditanggalkan. Orang yang 
mementingkan dirinya adalah orang yang tidak memahami kasih dan tidak dapat 
mengasihi.

Berapa besarnya kasih ditentukan oleh berapa besarnya kepedulian kita pada 
perasaan orang yang dikasihi dan berapa relanya kita menyesuaikan diri 
dengannnya.

Jadi, orang yang hanya mementingkan dirinya sesungguhnya belumlah mengenal 
kasih dan belum dapat mengasihi dengan benar. Berikut akan dipaparkan masalah 
yang rawan timbul.

1. Orang yang mementingkan dirinya hanya dapat melihat segalanya dari sudut 
pandangnya. Ia kaku dalam bersikap dan menuntut kita untuk memahami dan 
melaksanakan kehendaknya.

2. Orang yang mementingkan dirinya sukar menjalin keintiman sebab keintiman 
dibangun di atas penyerahan dan pengorbanan diri: ia tidak berserah dan ia 
tidak berkorban. Pada akhirnya kitalah yang dituntut untuk terus berserah dan 
berkorban baginya.

3. Orang yang mementingkan dirinya biasanya membawa segudang masalah lainnya 
sebab sifat ini merupakan masalah yang berasal dari keluarga asalnya.

Misalnya bila ia adalah anak favorit sehingga selalu didahulukan, itu sebabnya 
ia menuntut kita untuk juga mendahulukan keinginannya.
Ini berarti tingkat kedewasaannya rendah dan sudah tentu ini berdampak besar 
dalam membina rumah tangga.

Atau ia tidak dihargai sehingga bertumbuh besar dengan keinginan untuk 
dihargai. Itu sebabnya ia berlomba mendapatkan keberhasilan dan hal ini 
membuatnya berbangga hati. Alhasil dalam kebanggaan yang keluar dari kehausan 
ini terbentuk keegoisan yang tidak pernah dapat terpuaskan.

4. Pada akhirnya hidup dengan tipe ini sama dengan menghamba. Kita tidak dapat 
menjadi diri sendiri dan tidak dapat melakukan apa yang ingin kita lakukan. 
Hidup berputar di sekelilingnya saja dan kita harus mengikutinya. Singkat kata, 
keberadaan kita hanyalah untuk mendukung dan menolongnya mengembangkan dirinya 
belaka.

Firman Tuhan :
"Kecongkakan mendahului kehancuran dan tinggi hati mendahului kejatuhan." 
(Amsal 16:18)

Orang yang mementingkan dirinya sesungguhnya adalah orang yang congkak; ia 
menganggap diri dan kepentingannya berada di atas orang lain.
=========================================
From: "David H" <[EMAIL PROTECTED]>

Peace on Earth or Earth in pieces..

Saudara-saudara yg kekasih dalam Tuhan Yesus Kristus,

Mari kita turut berpartisipasi dalam menjaga kelestarian bumi yang kita diami 
ini demi kelangsungan hidup kita dan anak cucu dan generasi mendatang, dengan 
menerapkan dan mensosialisasikan hal-hal berikut ini :

Replace : mengganti produk-produk yang kita gunakan dengan yang ramah 
lingkungan 
Reduce: mengurangi frekwensi penggantian produk-produk yang digunakan, termasuk 
menggunakan produk yang hemat energi,
Reuse : menggunakan produk-produk hasil daur ulang
Recycle : memisahkan limbah organik dan non organik agar memudahkan proses daur 
ulang ( recycle ) 

Kiranya himbauan ini dapat anda terapkan dalam kehidupan sehari-hari dan juga 
dapat diteruskan kepada siapa saja, agar "aware" (sadar) akan partisipasinya 
masing-masing.

Pilihan ada pada kita sendiri :
Peace on Earth or Earth in pieces..

Salam hangat,
David Handoko 

Kirim email ke