From: rm_maryo "Murid itu menerima Dia di dalam rumahnya." (Ibr 5:7-9; Yoh 19:25-27)
"Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya" (Yoh 19:25-27), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.. Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta `SP Maria Berdukacita' hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: . SP Maria adalah teladan umat beriman; sejak ia menerima panggilan untuk menjadi Bunda Penyelamat Dunia dengan berkata:"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu."(Luk 1:38), ia senantiasa bersatu dengan Penyelamat Dunia sampai di kayu salib, "dekat salib Yesus berdirilah ibuNya". Maka ada pepatah dalam bahasa Latin "per Mariam ad Iesum" (=melalui Maria menuju Yesu), yang kiranya layak menjadi permenungan kita, seperti dilakukan oleh murid terkasih, Yohanes, yang `menerima dia (SP Maria) di dalam rumahnya'. Jika kita cermati memang cukup banyak orang melalui atau dengan berdevosi kepada SP Maria menjadi semakin dekat dan mesra dengan Tuhan (cukup banyak umat di desa-desa atau pelosok-pelosok memanfaatkan waktu menjelang perayaan ekaristi dengan berdoa rosariyo, dalam doa-doa bersama di lingkungan untuk berbagai kepentiingan senantiasa ada doa rosariyo bersama, dst..). Ensiklik atau surat-surat pastoral dari Kepausan/Paus senantiasa diakhiri dengan ajakan untuk berdevosi kepada SP Maria. Maka marilah kita berdevosi dan meneladan SP Maria, teladan cintakasih keibuan. "Sambil mencontoh Bunda Tuhannya, Gereja dengan kekuatan Roh Kudus secara perawan mempertahankan keutuhan imannya, keteguhan harapannya, dan ketulusan cintakasihnya" (Vatikan II, LG no 64). Gereja adalah kita semua yang beriman atau percaya kepada Yesus Kristus, sebagai anggota Gereja kita dipanggil untuk mempertahankan keutuhan iman, keteguhan harapan dan ketulusan cintakasih. Rasanya yang baik menjadi permenungan atau refleksi kita saat ini adalah mempertahankan ketulusan cintakasih; cintakasih sebagai ajaran utama dan pertama dari Yesus Kristus. Cintakasih yang tulus dan utuh disimbolkan dengan cincin yang bulat dan tanpa batas atau ujung pangkal sebagaimana dianugerahkan kepada suami dan isteri ketika saling menerimakan sakramen perkawinan atau para suter ketika mengikrarkan kaul kekal dalam hidup membiara. Cintakasih tulus berarti tanpa syarat, saling mencintai dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh atau kekuatan baik dalam untung maupun malang, dalam suka maupun duka, seperti seorang ibu yang mengasihi anak-anaknya.. . "Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,dan sesudah Ia mencapai kesempurna an -Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya" (Ibr 5:7-9). "Belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya", itulah kiranya yang layak dan baik menjadi permenungan atau refleksi kita. Jika kita setia pada panggilan dan tugas perutusan kita masing-masing, kiranya kita tidak akan terlepas dari aneka derita. Hendaknya jika harus menderita karena kesetiaan pada panggilan dan tugas perutusan bersyukur dan berterima kasih karena dengan demikian kita memperoleh kesempatan untuk belajar menjadi taat. Taat rasanya erat kaitannya dengan keutamaan `tepat janji' yaitu "sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan yang bertanggungjawab terhadap apa yang telah disetujui, baik pada diri sendiri maupun bersama orang lain. Ini diwujudkan dalam perilaku yang selalu konsisten dengan apa yang telah dinyatakan, baik melalui kata-kata, perencanaan, niat maupun iktikad. Perilaku ini diwujudkan dalam hubungannya dengan diri sendiri, keluarga, dan masyarakat atau bangsa" (Prof Dr. Edi Sedyawati /edit : Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka -Jakarta 1997, hal 28). Orang yang taat dan tepat janji akan `menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepadaNya'. Marilah kita taat dan tepat janji atas apa yang pernah kita ikrarkan atau yang ditugaskan kepada kita dengan berpegang pada sabda ini: "Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus."(Fil 1:6) . "Pada-Mu, TUHAN, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat malu. Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah melepas kan aku! Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku! Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku, dan oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku. Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku" (Mzm 31:2-5) ==================================================== From: rm_maryo "Seorang nabi besar telah muncul di tengah kita," (1Kor 12:12-14.27-31a; Luk 7:11-17) "Kemudian Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: "Jangan menangis!" Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: "Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!" Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Elohim, sambil berkata: "Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita," dan "Elohim telah melawat umat-Nya." Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya" (Luk 7:11-17), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Kornelius, Paus, dan St.Siprianus, Uskup, martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: . Ketika ada anak dilahirkan kiranya tidak cukup banyak orang/kenalan yang mengunjungi atau menyapa/ memberi ucapan selamat, namun ketika ada saudara atau kenalan yang meninggal atau dipanggil Tuhan pada umumnya orang `tegerak oleh belas kasihan' untuk datang guna mengucapkan bela sungkawa. Semua kesibukan atau pekerjaan dapat atau boleh ditinggalkan untuk melayat, ikut berduka cita terhadap mereka yang sedih karena kematian saudaranya. Rasanya dalam diri kita masing-masing ada kekuatan yang mendalam untuk berbelas kasih terhadap mereka yang sedang menderita atau susah. Maka marilah kita meneladan Yesus yang tergerak oleh belas kasihan menghibur janda, yang sedang sedih karena kematian anaknya laki-laki. Kita dipanggil untuk menyalurkan belas kasih atau kebaikan hati terhadap saudara-saudari kita yang sedih karena kematian saudara-saudarinya, namun kiranya tidak hanya kematian phisik saja, tetapi juga kematian suara hati atau spiritual, sebagaimana dilakukan oleh Paus Kornelius dan didukung oleh Uskup Siprinus, yang kita kenangkan hari ini. Marilah kita perhatikan saudara-saudari kita yang suara hatinya mati, kabur atau gelap sehingga cara hidup dan cara bertindaknya amburadul alias jahat, berdosa. Kita sentuh dan sapa dengan rendah hati, lemah lembut dan dalam kasih saudara-saudari kita yang telah `mati' tersebut. Percayalah bahwa sentuhan atau sapaan yang demikian pasti memiliki kekuatan untuk mempertobatkan, memperbaharui hidup, menghidupkan dan menggairahkan saudara-saudari kita yang telah `mati', lemah lesu, tak bergariah, dst.. Biarlah, karena atau oleh cara hidup dan cara bertindak kita, banyak orang atau siapapun yang kena dampak hidup dan cara bertindak kita berani berkata :"Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita' dan `Elohim telah melawat umatNya". . "Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. Dan Elohim telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh"(1Kor 12:27-28), demikian sapaan dan peringatan Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua. Sapaan atau peringatan Paulus ini mengajak kita semua untuk membangun dan menyebarluaskan persahabatan atau persaudaraan sejati. Masing-masing dari kita memperoleh anugerah Elohim: bakat, kemampuan, keterampilan, kecerdasan, dst.., yang mungkin atau tentu saja berbeda satu sama lain. Anugerah Elohim ini hendaknya kita fungsikan atau hayati seoptimal mungkin demi kebahagiaan atau kesejahteraan bersama: kita dapat saling mengadakan mujizat, menyembuhkan, melayani, memimpin dan berkata-kata dalam bahasa roh. Rasanya yang baik kita renungkan atau refleksikan adalah `bahasa roh', yaitu: "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" (Gal 5:22-23) . Semoga cara hidup atau cara bertindak kita dalam rangka memfungsikan atau menghayati anugerah-anugerah Elohim dijiwai oleh dan membuahkan keutamaan-keutamaan sebagai `bahasa roh ` tersebut di atas, sehingga terjadilah persaudaraan atau persahabatan sejati dalam kebersamaan hidup kita dimanapun.dan kapanpun. Masa ini kita berada di tengah-tengah masa dimana saudara-saudari, umat Islam sedang menjalani ibadah puasa, maka baiklah kita menyatukan diri dengan mereka dalam usaha mendekatkan diri kepada Elohim dan sesama manusia. Kita tingkatkan dan perdalam hidup keimanan, ibadah dan agama kita. "Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa TUHANlah Elohim; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya. Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun" (Mzm 100:2-5) ================================================= From: djony_t Kumpulan Ringkasan Buku - "DOA" Dengan pengalaman ini, saya sadar bahwa. Jika saya tidak menyelesaikan hal2 BERSAMA DIA, saya SUDAH DITENTUKAN untuk gagal, frustasi & kelelahan! Saya telah belajar & sedang belajar bahwa tidak ada kemengan/sukacita Sejati dalam kehidupan Kristiani tanpa adanya RASA KETERGANTUNGAN TOTAL kepada Elohim. Dan rasa ketergantungan itulah yang membuat DOA BERNYAWA & MENJADI BENAR2 HIDUP!! Aneh bukan?? Itulah ajaran Surga (kebenaran Alkitab), yang selalu mengajarkan hal2 yang kebalikan dari ajaran dunia ini. Coba pikirkan hal berikut ini: ketika Yesus berada di bumi ini sebagai manusia, Dia hidup sebagai manusia biasanya yang bergantung pada BAPANYA 100% & Dia memberi teladan bagaimana seharusnya kita hidup. Yesus sadar bahwa Elohim SUMBER KEHIDUPAN tsb, Kis 17:25. Dan Jika Yesus Kristus, dengan segala kekuasaan & kesempurnaanNya menjadikan doa sebagai prioritas dalam hidupNya. Lalu dimanakah seharusnya kita menempatkan doa dalam kehidupan pribadi kita??? Yesus mengajarkan kita untuk memusatkan perhatian dalam doa akan ketergantungan kita kepada Elohim mengenai persediaan kebutuhan mater kita setiap hari: `Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya' Mat 6:11. Ketika Yesus menyuruh kita mendoakan hal itu, Dia secara khusus memiliki pemikiran bahwa berbagai kebutuhan hidup fisik diwakili oleh makanan (bread/roti). Satu2nya alasan mengapa kita tidak mati kelaparan adalah bahwa Elohim itu baik & Dia menyediakan makanan yang kita butuhkan. Di Matius 4:4, ketiak Yesus digoda iblis di padang gurun, Dia mengutip Ulangan 8:3 dengan mengatakan, `Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari segala yang diucapkan Tuhan.' Yang dimaksud oleh ayat itu ialah. Hal2 rohani jauh lebih penting daripada hal2 material. Roti sendiri tidak akan bernilai bagi kita, KECUALI JIKA NILAINYA DIBERIKAN OLEH SANG PENCIPTA. Seandainya Elohim menarik kembali FirmanNya, roti akan menjadi kerikil & tidak bermanfaat bagi kita. Jadi, Firman Elohim lah yang menopang kita. Ibrani 1:3 menyatakan bahwa Kristus `menopang segala yang ada dengan FirmanNya. Dan Paulus juga berkata bahwa DI DALAM KRISTUS `SEGALA SESUATU MENYATU DIDALAM DIA', Kolose 1:17. Kenyataannya. TIDAK ADA YANG LEBIH MENDASAR UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN DASAR KITA SELAIN FIRMAN TUHAN. Mungkin anda saat ini sedang melewati beberapa pergumulan berat, sesuatu yang menguras perhatian anda & sangat tidak mengenakan, kemudian anda bertanya2 bagaimana Elohim akan menolong anda?... Akan tetapi, jika anda tidak sedang bergumul/menghadapi pencobaan sekaran, izinkan saya menanyakan hal ini kepada anda: `Apa yang sekarang ini paling anda perlukan dalam hidup anda melebihi segala2nya yang lain?? Sebutkan. Sudahkah anda meminta kepada Elohim akan hal ini? Apakah anda benar2 sudah meminta kepadaNya? Dan jika anda sedang menjalani masa cobaan yang sangat sulit, apakah anda sudah meminta kepada Elohim untuk menyediakan tepat seperti apa yang anda perlukan untuk melewatinya? Apakah anda sudah berdoa kepadaNya untuk membebaskan anda? Mintalah kepadaNya untuk melakukan apa yang dikerjakanNya bagi begitu benyak orang dalam Alkitab. Elohim masih memberikan PEMBEBASAN, PELEPASAN. & KELEGAAN HATI & BATIN LUAR DALAM!! Dia sama, kemarin, sekarang & selama2nya. Tahukah anda strategi musuh no 1 yang menghalangi persekutuan kita dengan Elohim?... KESIBUKAN. Iblis selalu berusaha mencegah kita mengembangkan hubungan dengan Elohim yang selalu menghasilkan sukacita & kepuasan batin. Herannya Yesus yang selalu super sibuk selalu berhasil meluangkan waktunya di pagi2 buta untuk berdoa & bersekutu dengan BapaNya. Kita selalu memiliki konsep pemikiran yang salah yang mengatakan jika Yesus bisa demikian, karena dia itu Tuhan. Itu tidak benar!! Sebab jika Yesus itu Tuhan, maka dia TIDAK PERLU DI'TEST' iblis di padang pasir, Matius 4:4. Pada kenyataannya, bagi kita, untuk bisa bertahan hidup saja tampak seperti kisah sukses yang terbesar yang berani kita hadapi. Kita selalu merasa tidak memiliki kekuatan untuk berdoa seperti Yesus. Kita selalu tampak begitu lemah & miskin. Namun justru hali seperti inilah yang PALING MEMBUAT KITA LAYAK UNTUK BERDOA: KELEMAHAN, KEMISKINAN, KETERGANTUNGAN & KETIDAK BERDAYAAN KITA. `Doa telah dianugerahkan kepada mereka yang tidak bedaya', tulis Ole Hallesby dalam bukunya yang berjudul `Prayer'. `Doa & ketidakberdayaan tidak bisa tidak bisa dipisahkan. Hanya mereka yang tidak berdaya yang bisa benar2 bedoa'. Dan, Hallesby menambahkan hal ini : `Ketidakberdayaan anda adalah doa terbaik anda.' Prinsip ini harus menjadi pelajaran nomor 1 mengenai cara berdoa - hanya membiarkan ketidakberdayaan anda menjadi pembimbing anda. Berikut ini panduan cara berdoa `George Muller' yang dijamin kepastiannya DIJAWAB Tuhan. 1. BERGANTUNG SEPENUHNYA kepada kemurahan & pertolongan Yesus Kristus sebagai PENGANTARA, adalah DASAR SATU2nya bagi permohonan berkat (Yohanes 14:13, 14 & 15:16) 2. MENINGGALKAN SEMUA DOSA YANG DIKETAHUI. Jika kita membiarkan dosa mengeram dalam hati kita, Tuhan tidak akan mendengar doa2 kita karena hal ini berarti kita menyetujui dosa itu, Mazmur 66:18 3. MENARUH IMAN PADA JANJI2 TUHAN dalam FirmanNya yang telah diteguhkan dengan sumpahNya. Tidak percaya kepadaNya berarti menganggap DIA menjadi pendusta & bersumpah palsu (Ibrani 11:6; 6:13-20) 4. MEMINTA MENURUT KEHENDAKNYA. Alasan2 (motif2) kita meminta hendaknya saleh, benar dalam pandangan Tuhan: janganlah karunia2 yang kita minta kepada Tuhan itu kita gunakan untuk memuaskan hawa nafsu kita sendiri (1 Yohanes 5:14; Yakobus 4:3) 5. MEMINTA dengan TEKUN dalam DOA yang TIDAK PUTUS2NYA. Kita harus terus BERSABAR & MENANTIKAN saat YHWH sambil melakukan bagian kita, seperti seorang petani dengan sabar menantikan hasil tanahnya (Yakobus 5:7; Lukas 18:1-8) Love, tressye kusumo

