From: rm_maryo "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat" (1Kor 15:1-11; Luk 7:36-50)
"Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.".Yesus berkata kepada perempuan itu: "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!"(Luk 7:36-39.50), demikian kutipan Warta Gembira hari ini Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: . `Kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang berdosa identik dengan kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang beriman' itulah kebenaran yang selayaknya diamini oleh siapapun yang mengaku diri sebagai orang beriman. Ibu Teresa dari Calcuta-India ketika memperoleh hadiah Nobel Perdamaian menjadi sorotan dan perhatian dunia, khususnya para wartawan. Ada seorang wartawan yang mewancarai Ibu Teresa, antara lain pertanyaan demikian: "Banyak orang melihat dan mengakui ibu sebagai santa yang masih hidup alias orang suci. Menurut ibu suci itu apa?" . Dengan rendah hati dan lemah lembut Ibu Teresa menjawab:"Orang suci itu bagaikan lobang kecil dimana orang melalui lobang tersebut dapat melihat siapa itu Tuhan, siapa sesama manusia dan apa itu harta benda". Kiranya melalui Ibu Teresa, apa yang ia katakan dan lakukan, kita dapat dan mengimani bahwa Tuhan itu Mahakasih dan Mahamurah, manusia adalah gambar atau citra Elohim, sedangkan harta benda adalah sarana untuk menolong kita agar mampu mengimani Tuhan Mahamurah dan Mahakasih serta menghayati setiap manusia sebagai gambar atau citra Elohim, untuk menjadikan kita semakin beriman, mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Perempuan sebagaimana diceriterakan dalam Warta Gembira hari ini adalah pendosa yang telah menerima kasih pengampunan Tuhan, maka ia mempersembahkan kepada Tuhan apa yang sangat berharga di mata dunia. Maka marilah kita mawas diri: apa atau siapa saja yang dinilai sangat berharga di dunia ini dan apakah yang sangat berharga tersebut dipersembahkan seutuhnya kepada Tuhan. Ada rumor: ketika ada seorang gadis atau perawan diperkosa oleh lelaki hidung belakang berarti lelaki tersebut telah merenggut apa yang sangat berharga dan terhormat bagi sang gadis atau perawan, sebaliknya jika seorang gadis atau perawan dengan mudah menyerahkan kegadisannya alias berhubungan seks maka dikatakan ia telah menjual kehormatannya. Maka rasanya apa yang sangat berharga dalam diri kita adalah `alat kelamin', vagina atau penis, maka hendaknya jangan dengan mudah mencari kenikmatan seksual dengan free-sex melainkan dengan dan dalam kasih dan iman, yang berarti sungguh mempersembah kan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui lain jenis, bukan hanya bagian kecil dari tubuh yaitu `alat kelamin', sebagai suami-isteri. Dengan demikian melalui dan dengan anggota tubuh yang lemah tersebut kita semakin beriman dan selamat. . "Karena kasih karunia Elohim aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Elohim yang menyertai aku" (1Kor 15:10), demikian kesaksian iman Paulus, Rasul Agung, kepada umat di Korintus, kepada kita semua orang beriman. Dalam, karena dan oleh kasih karunia Elohim Paulus bekerja keras mewartakan kabar baik, apa yang baik dan menyelamatkan, kepada semua orang, tanpa pandang bulu. Semakin menyadari dan menghayati kasih karunia Elohim yang melimpah ruah berarti semakin giat dan bekerja keras mewartakan kebaikan, itulah kebenaran iman yang harus kita hayati dan sebarluaskan. Rasanya jika masing-masing dari kita berani mawas diri dengan jujur dan terbuka, masing-masing dari kita telah menerima kasih karunia Elohim melimpah ruah, yang telah kita terima melalui orangtua kita masing-masing, kakak-adik dan saudara-saudari kita. Marilah kita imani dan hayati dengan baik dan benar kasih karunia Elohim tersebut, agar kita dimanapun dan kapanpun melalui cara hidup dan cara bertindak kita senantiasa mewartakan apa yang baik dan menyelamatkan; kita menjadi pewarta-pewarta kabar baik atau kabar gembira. Semoga kasih karunia Elohim yang telah dicurahkan kepada kita tidak menjadi sia-sia, tetapi membuat kita menjadi pekerja-pekerja keras dalam mewartakan apa yang baik dan menyelamatkan. "Tangan kanan TUHAN berkuasa meninggikan, tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan!" Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN" (Mzm 118:16-17) ====================================================== From: rm_maryo "Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka." (1Kor 15:12-20; Luk 8:1-3) "Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Elohim. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat,Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka."(Luk 8:1-3), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: . Dalam tradisi Jawa ada istilah `konco wingking' (teman di belakang), yang tidak lain dikenakan pada para isteri atau perempuan. Istilah ini muncul dari cara berjalan suami-isteri yang tidak berdampingan, melainkan isteri berjalan di belakang suami, mengikutinya. Dalam praksis, terutama dalam acara bersama (pesta atau perayaan) memang pada umumnya para perempuan bekerja giat `di belakang' alias mempersiapkan atau memasak kebutuhan-kebutuhan untuk pesta, maka rasanya peran mereka senada dengan apa yang diwartakan hari ini: "perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka". Peran tersembunyi ini hemat saya penting sekali, sebagaimana juga dikatakan dalam pepatah `the man behind the gun' (manusia yang berada di balik senjata). Peran mereka tidak lain adalah memberdayakan rombongan, sehingga rombongan dapat melaksanakan tugas perutusan atau pekerjaannya, dan rombongan ini pada umumnya terdiri dari kaum lelaki. Maka baiklah pada kesempatan ini saya mengajak anda sekalian untuk bersyukur dan berterima kasih kepada mereka, entah kaum perempuan atau laki-laki, yang dengan kekayaan mereka, kerja keras tanpa kenal lelah, bekerja di balik layer, melayani kebutuhan bersama. Mungkin peran ini di kota-kota saat ini dikerjakan oleh para pembantu di dalam rumah tangga atau keluarga atau pekerja dalam berbagai acara atau kepentingan. Yang terjadi dalam hidup sehari-hari kiranya adalah para pembantu, maka baiklah kita bersyukur dan berterima kasih kepada para pembatu rumah tangga kita, yang melayani rombongan/ seluruh anggota keluarga/ komunitas. Pada hari-hari ini kiranya anda yang memiliki pembantu akan merasa pentingnya peran mereka ketika mereka `cuti untuk mudik dalam rangka merayakan Idul Fitri'. Semoga peristiwa tahunan ketika para pembantu rumah tangga, yang kebanyakan perempuan, sedang cuti saat ini, mengingatkan dan menyadarkan kita untuk senantiasa berterima kasih dan bersyukur atas pelayanan dan peran mereka, dan selanjutnya memperlakukan pembantu rumah tangga sebaik mungkin. . "Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal"(1Kor 15:19-20), demikian kesaksian atau peringatan Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua. Kesaksian ini mengajak kita untuk tidak hanya berharap pada Tuhan selama hidup, tetapi juga dalam kematian. Mungkin belum `mati sepenuhnya' melainkan setengah atau seperempat mati alias berada di dalam penderitaan, sakit atau kesengsaraan, inilah yang kiranya layak menjadi permenungan kita. Artinya agar kita dapat berharap pada Tuhan dalam kematian, hendaknya dalam berbagai derita, sakit atau kesengsaraan di dunia ini, karena harus melayani dengan kerja keras tanpa kenal lelah, marilah kita tetap berharap kepada Tuhan. Ketika tidak ada orang yang memuji dan menghargai kerja keras pelayanan kita hendaknya tidak menjadi putus asa atau frustrasi, melainkan tetap bergairah dan bergembiralah. Dengan kata lain jangan hanya bekerja keras melayani ketika dipuji atau dihargai oleh sesama dan saudara-saudari kita saja, melainkan entah dipuji atau tidak dipuji, dihargai atau tidak dihargai kita tetap bekerja keras melayani demi kebahagiaan atau kesejahteraan bersama. Mereka yang dalam derita, sakit dan sengsara di dunia ini tetap bergairah dan bergembira, maka ketika dipanggil Tuhan tetap bergairah dan bergembira, sehingga ketika telah mati, terbaring tidur sebagai mayat, nampak senyum dan ceria, nampak lebih cantik atau tampan. Saat-saat terakhir hidupnya, menjelang dipanggil Tuhan, ceria dan gembira, maka pada saat dipanggil Tuhan tetap ceria dan gembira serta nampak ceria dan gembira terus sebagai jenazah, ia percaya bahwa "Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal" "Aku berseru kepada-Mu, karena Engkau menjawab aku, ya Elohim; sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, dengarkanlah perkataanku.Tunjukkanlah kasih setia-Mu yang ajaib, ya Engkau, yang menyelamatkan orang-orang yang berlindung pada tangan kanan-Mu terhadap pemberontak."(Mzm 17:6-7) ======================================================== From: rm_maryo "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Elohim" (1Kor 15:35-37,42-49; Luk 8:4-15) "Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan: "Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat." Setelah berkata demikian Yesus berseru: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!" Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu. Lalu Ia menjawab: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Elohim, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti." (Luk 8:4-10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Andreas Kim Taegon, imam, dan Paulus Chong Hasang dkk, martir Korea, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: . Para martir dari Korea yang kita kenangkan hari ini adalah seorang imam pribumi dan awam-awam. Andreas Kim Taegon meninggal dunia sebagai martir sebagai imam muda, baru setahun ditahbiskan sebagai imam, sedangkan Paulus Chong Hasang adalah seorang katekis. Mereka telah memperoleh karunia Elohim melalui atau dengan pelayanan para misionaris dari Prancis dan terpanggil untuk menjadi penabur-penabur kasih karunia Elohim atau Warta Gembira kepada saudara-saudarinya di Korea. Kerja keras pelayanan mereka karena rahmat Elohim menghasilkan buah yang sungguh menggembirakan: sampai kini banyak orang Korea terpanggil untuk mengikuti atau murid-murid Yesus. Kita semua dipanggil untuk menabur `benih-benih' kasih karunia atau warta gembira kepada sesama dan saudara-saudari kita di dalam hidup sehari-hari. Kami percaya bahwa dalam diri setiap manusia atau orang ada kerinduan atau dambaan untuk hidup bahagia dan sejahtera alias memiliki hati yang terbuka untuk diajak hidup berbahagia dan sejahtera, hatinya merupakan tanah subur yang siap sedia untuk ditaburi benih-benih hidup bahagia dan sejahtera. Maka marilah dalam berbagai cara hidup dan cara bertndak kita dimanapun dan kapanpun dengan rendah hati senantiasa menaburkan benih-benih hidup bahagia dan sejahtera, yaitu nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup, misalnya : `bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggungjawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang,rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap adil, sikap hormat, sikap tertib, sopan santun, sprotif, susila, tangguh, tegas, tekun, tetap janji, terbuka, ulet" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka- Jakarta 1997) . "Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah" (1Kor 15:43-44). Kutipan ini bagus untuk menjadi permenungan atau refleksi kita. "Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah', demikian peringatan Paulus. Menaburkan tubuh alamiah rasanya berarti bekerja keras melayani sesama dan saudara-saudari sesuai dengan tugas perutusan atau pekerjaan atau fungsi dan jabatan kita masing-masing. Dari kerja keras melayani akan tumbuh dan lahirlah keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan yang menggairahkan, mem-bangkitkan atau menghidupkan sebagaimana saya kutipkan di atas. Penghayatan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan diatas memang harus disertai dengan kerja keras, yang pada gilirannya nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan tersebut akan semakin diperdalam dan diteguhkan, itulah kiranya makna dari `yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah'. Salib dan kebangkitan tidak dapat dipisahkan, pada saat disalibkan/dipanggil Tuhan pada saat itu juga dibangkitkan; di dalam kerja keras melayani di situ pula kebahagiaan dinikmati. Marilah kepada anak-anak kita bina dan didik untuk kerja keras melayani, tentu saja butuh keteladanan atau kesaksian dari orangtua atau orang dewasa dalam kerja keras melayani. "Kepada Elohim, firman-Nya kupuji, kepada TUHAN, firman-Nya kupuji, kepada Elohim aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? Nazarku kepada-Mu, ya Elohim, akan kulaksanakan, dan korban syukur akan kubayar kepada-Mu.Sebab Engkau telah meluputkan aku dari pada maut, bahkan menjaga kakiku, sehingga tidak tersandung; maka aku boleh berjalan di hadapan Elohim dalam cahaya kehidupan "(Mzm 56:11-14)

