From: FeryGFRESH!
THE GOSPEL OF WALL-E
Yang sudah nonton film Wall-E kebanyakan pasti mikir kalo film ini bercerita
tentang 'go-green' atau or 'cinta lingkungan'. Well it's not.
It's about love.
Terlebih lagi, ini tentang kasih Tuhan.
Dan terlebih lagi, ini tentang kasih Tuhan dalam Kitab Kejadian dan Injil.
Ah, si Fery ini suka nyari-nyari en maksa. Boleh kok bilang kayak gitu. Tapi,
saya akan tetep bilang kalo Wall-E adalah film yang lebih 'kristiani' dibanding
The Passion Of The Christ! Acungan jempol buat sang sutradara, Andrew Stanton
(yang adalah anak Tuhan yang selalu menanamkan nilai-nilai alkitabiah dalam
film-filmnya).
"Irrational love defeats life's programming" (Andrew Stanton - Pixar)
Kita tau garis besar yang tercakup dalam Alkitab dari Kejadian sampe Wahyu:
Manusia jatuh dalam dosa dan membuat dunia 'dikuasai' iblis. Manusia hidup
dalam dosa dan dikendalikan iblis. Yesus mengasihi manusia. Yesus turun ke
dunia. Yesus mati berkorban untuk menyelamatkan dan memulihkan manusia. Yesus
bangkit. Yesus memulihkan segala sesuatu.
SPOILER ALERT! Dan ini adalah cerita yang tercakup dalam Wall-E. Manusia
menghancurkan bumi dan mengungsi masuk dalam Axiom, sebuah pesawat yang
'dikendalikan' robot. Manusia dikendalikan robot. Wall-E mengasihi Eve dan
manusia. Wall-E mati berkorban untuk menyelamatkan dan memulihkan manusia.
Wall-E hidup kembali. Wall-E memulihkan bumi.
KEJADIAN: KISAH WALL-E DAN HAWA
Wall-E, sebuah robot yang setelah 700 tahun tinggal sendiri di bumi yang sudah
hancur karena nuklir. Manusia pergi, tumbuhan tak dapat tumbuh, binatang tak
dapat bertahan hidup (kecuali kecoa, karena menurut para ilmuwan kecoa adalah
satu-satunya makhluk hidup yang bisa bertahan jika ada ledakan nuklir). Hanya
tinggal gedung-gedung, sampah unorganik, dan robot-robot yang bertugas
merapikan sampah-sampah. Robot-robot itu kemudian rusak satu-persatu setelah
ratusan tahun, sedangkan Wall-E punya kemampuan bertahan karena bias
memperbaiki dirinya sendiri. Tapi kemudian Wall-E jadi tinggal sendirian,
kesepian. Ia bekerja, bekerja, bekerja dan berharap mempunyai teman. Sampai
datanglah Eve (Extraterrestrial Vegetation Evaluator), sebuah robot cewek yang
membuat Wall-E jatuh cinta. Eve ternyata bertugas untuk mencari kemungkinan
kehidupan (tanaman) kembali di bumi.
Setting ini mengingatkan kita akan cerita Adam dan Hawa (Adam and Eve). Adam
ditugaskan Tuhan untuk mengelola bumi. Ia bekerja, menamai semua binatang, tapi
dia kesepian. Dan Tuhan menciptakan Hawa untuk menemaninya dan memberikan
keturunan untuk kelangsungan kehidupan dan menguasai bumi.
"Elohim memberkati mereka, lalu Elohim berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah
dan bertambah banyak (KJV: Be fruitful, and multiply); penuhilah bumi dan
taklukkanlah itu, berkuasalah atas (BIS: Kamu Kutugaskan mengurus) ikan-ikan di
laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."
(Kejadian 1:28).
KASIH AGAPE
Seperti disampaikan sebelumnya. It's about love. Unconditional love. Irrational
love. Atau bahasa kerennya kasih Agape. Kasih agape adalah kasih yang dimiliki
oleh Tuhan. Kasih yang tak bersyarat. Ketika Wall-E melihat Eve, ia jatuh
cinta. Ia mencintainya sekalipun ia tau kalo Eve tidak mencintainya bahkan
membalasnya dengan serangan dan tembakan. Wall-E melindunginya dari badai
nuklir, panas, hujan, petir, dan salju. sekalipun Eve tidak menyadarinya.
Wall-E rela berkorban demi cintanya, sekalipun ia tidak mendapatkan balasan
cintanya.
"The greatest commandment is to love one another, and to me, that's the
ultimate purpose of living. So that was the perfect goal for the loneliest
robot on earth, to learn the greatest commandment, to learn to love." (Andrew
Stanton kepada ChristianityToday.com)
Waktu ditanya gimana Wall-E dapat mewujudkan visi pribadinya, Andrew Stanton
sang sutradara menjawab, "Well, yang betul-betul menarik buatku adalah gagasan
tentang sebuah robot sebagai sesuatu yang paling manusiawi dibandingkan manusia
itu sendiri, karena punya banyak hal yang menarik untuk digali dalam menemukan
inti dari hidup daripada manusia beneran. Perintah teragung dari Kristus untuk
kita adalah untuk mengasihi. Sayangnya itu hal itu tidak selalu jadi prioritas
utama kita. Jadi, saya datang dengan sebuah gagasan yang dapat menunjukkan apa
yang ingin saya sampaikan - bahwa kasih yang irasional mengalahkan dunia. Ada
dua robot yang berusaha mengalahkan aturan yang telah diprogramkan pada mereka,
untuk mengalami apa yang namanya kasih." (wawancara Andrew dengan majalah World)
===================================================
From: junedy lee
Unconditional election
ABARAHAM (Ayat: Kej 12: 1-4)
Jikalau selama ini kita mengenal Gandhi sebagai tokoh yang sangat positif dan
agung, maka dalam sebuah film yang berjudul GANDHI, My Father, diceritakan sisi
lain dari Gandhi. Gandhi digambarkan sebagai seorang yang berhasil menjadi bapa
bangsa tetapi gagal menjadi bapa bagi anaknya sendiri. Anaknya menjadi
berandal, pindah ke Islam sampai akhirnya menjadi gelandangan.
Selama ini kita juga berpikir bahwa Abraham merupakan tokoh yang luar biasa. Ia
disebut sebagai bapa orang beriman dan sahabat Elohim. Dari Kej 12: 1-4 ketika
melihat Abraham begitu beriman karena ia langsung berangkat begitu Elohim
berfirman kepadanya. Ia harus meninggalkan kotanya (salah satu kota besar pada
masa itu), keluarga, rumah, comfort-zone, dll. Jikalau kita diperintah Elohim
seperti, apakah reaksi kita sama dengan Abraham?
Jikalau kita membaca dengan teliti, ternyata panggilan Abraham di ayat 4
terjadi di Haran. Ini merupakan panggilan kedua bagi Abraham karena panggilan
pertamanya terjadi di Ur-Kasdim (15:7; Neh 9:7 dan Kis 7:2). Kita melihat
ternyata Abraham juga mengalami pergumulan yang berat dengan Tuhan. Ketika
Elohim menjanjikan keturunan kepadanya, Alkitab memberitahu kita bahwa Sara
mandul. Kita berpikir bagaimana Elohim dapat menjanjikan sesuatu yang sangat
tidak mungkin secara manusiawi. Bahkan ketika Ishak yang dijanjikan lahir,
Abraham telah menunggu selama 25 tahun. Bagaimana kita membayangkan jikalau
kita harus menunggu 25 tahun untuk kelahiran seorang anak dalam keluarga kita?
Demikian juga ketika Elohim menjanjikan tanah kepadanya, ketika ia sampai di
Kanaan, tanah tersebut diduduki oleh orang Kanaan yang kuat. Dan sampai mati
pun ia tidak memiliki tanah tersebut bukan? Untuk menguburkan istirnya pun ia
membayarnya. Bahkan ketika ia sampai di sana, terjadi kelaparan sehingga ia
harus mengungsi ke Mesir. Bagaimana reaksi kita ketika janji dan perintah Tuhan
kelihatannya tidak masuk akal?
Maka kita melihat iman Abraham mengalami jatuh bangun ketika ia
bergumul dengan Tuhan dan janji-janji-Nya kepadanya. Kita melihat beberapa
"kejatuhan Abraham," yaitu: kebohongannya kepada Firaun (12:11-20) dan
Abimelekh (20:1-18) walaupun Elohim sudah berjanji akan menyertai dia,
memberkati orang yang memberkati dia dan mengutuk orang yang mengutuk dia
(12:1-3). Abraham juga menginginkan Eliezer saja yang menjadi ahli waris karena
tidak mungkin Sara yang mandul melahirkan sedangkan ia semakin bertambah tua
(15:2-3). Kemudian Elohim menguatkan janjinya kepadanya (15:4-5). Bahkan Elohim
membuat perjanjian (seperti surat segel dan materai pada zaman sekarang) dengan
Elohim sendiri berjalan di tengah-tengah binatang yang terbelah tersebut untuk
menjamin perjanjian-Nya dengan Abraham (15: 18-21).
Setelah sekitar sepuluh tahun berlalu dan ia bertambah tua, ia dan Sara semakin
melihat bahwa kemungkinan melahirkan dari Sara semakin tidak ada, sehingga ia
tidur dengan Hagar (16:1-3). Secara manusiawi hal yang dilakukan Abraham
merupakan hal yang "wajar" pada zaman tersebut, termasuk pada zaman ini, yaitu
jikalau seorang seorang suami memiliki istri yang tidak dapat melahirkan anak
baginya, ia berhak untuk menikah lagi. Setelah Hagar melahirkan, terjadilah
pertengkaran rumah tangga karena permasalah tersebut. Kemudian Elohim
menguatkan lagi perjanjian-Nya dengan Abraham dengan sunat, yaitu tanda
perjanjian yang sangat jelas ada di tubuhnya dan tubuh keturunannya serta semua
laki-laki yang bersamanya (17:1-8).
Setelah menunggu selama dua puluh empat tahun, dan Elohim menguatkan janji-Nya
kepada Abraham dengan sunat dan ganti nama (17: 5 dan 15-16), dan berjanji
bahwa anak perjanjian tersebut akan lahir, Abraham tertawa sinis (17:17) dan
mengajukan pada Tuhan bahwa Ismael saja yang diangkat jadi anak perjanjian
tersebut (17:18). Elohim masih bersabar dengan menguatkan lagi janji-Nya
kepadanya (17:19-21 dan 18: 10-15).
Sampai pasal 22, barulah kita melihat iman Abraham menang terhadap ujian
setelah melalui pergumulan yang panjang dan jatuh bangun tersebut. Jikalau kita
berpikir kritis, bagaimana Abraham dapat disebut sebagai bapa orang beriman
jikalau imannya tersebut begitu "lemah" dan jatuh bangun terus? Bagaimana ia
dapat disebut sebagai sahabat Elohim? (bagaimana jikalau kita memiliki sahabat
yang setiap kali kita berjanji dan berkata kepadanya ia meragukan janji kita).
Mengapa Elohim memilih Abraham dan bukan yang lain? Apakah tidak ada orang
sezaman yang lebih baik daripada Abraham sehingga Elohim haurs memilih dia
untuk menjadi sahabat-Nya? Bukankah ada Melkisedek? Bukankah catatan Alkitab
tentang kehidupan Melkisedek sangat positif? Bukankah Abraham sebenarnya tidak
lebih baik daripada orang sejamannya karena ia juga seorang penyembah berhala
(Yosua 24:2) sedangkan Melkisedek disebut sebagai iman Elohim yang maha tinggi
(14:18)?
Jawabannya tentu saja kerena anugrah Elohim yang tidak bersyarat. Ia memilih
orang-orang yang begitu lemah dan penuh kekurangan untuk dipakai-Nya. Seperti
Ravi Zacharias, yang ketika ia muda disebut oleh ayahnay sendiri sebagai yang
orang gagal dan tidak akan berguna sama sekali, dapat dipakai Elohim secara
luar biasa karena anugrah dan kuasa-Nya.
Abraham dan tokoh-tokoh Alkitab lainnya merupakan manusia biasa yangg penuh
kelemahan. Kita semua dipilih dan dikuatkan hanya karena anugrah Elohim. Di
dalam pergumulan iman kita untuk mengenal-Nya dan mengerti kehendak-Nya (dimana
cara dan waktu-Nya yang begitu berbeda dan sangat tidak masuk akal tersebut),
kita semakin bertumbuh. Justru dalam kelemahan kita kekuatan Elohim menjadi
nyata.
Soli deo gloria
==================================================
From: ev_yohanes_w
GEREJA SEBAGAI MEMPELAI ANAK DOMBA
(Yohanes 3: 23; Wahyu 21: 9, 27)
Oleh: Yohanes Waworundeng
Yohanes pembaptis adalah seseorang yang memperkenalkan konsep ini
dengan jelas, sebelum kedatangan Yesus yang pertama kali ke dalam dunia.
Sedangkan Rasul Yohanes adalah saksi hidup yang menyaksikan kebenaran ini
setelah Yesus terangkat ke surga. Peran kedua Yohanes ini, adalah menjadi
saksi. Yohanes Pembaptis menjadi saksi kunci dari jaman Perjanjian Lama serta
Rasul Yohanes adalah saksi penting dari jaman Perjanjian Baru. Konsep ini
sangat penting, sehinga Elohim perlu menegaskan melalui rasul Yohanes sebelum
menutup bukunya, bahkan dengan pengelihatan.
Apa relevansinya (hubungannya) dengan Gereja? Sebenarnya kita dapat
menyimpulkannya dengan satu kata: PERSIAPAN. Sejauh manakah Gereja sudah
mempersiapkan diri untuk bertemu dengan mempelai laki-laki yakni, Yesus
Krsitus. Lebih sempit lagi sejauh manakah kita sebagai pemimpin dan pelayan
Tuhan mempersiapkan umat Tuhan, untuk bertemu dengan Yesus Kristus? Ini
pertanyaan yang sangat relevan bagi Gereja di sepanjang jaman. Memang CARA
mempersiapkannya mungkin berbeda-beda tetapi apakah mengandung prinsip yang
sama? Apa yang menjadi prinsip persiapan? Salah satu faktor terpenting dari
sebuah persiapan adalah "MENGENAL". Pengenalan berhubungan dengan beberapa hal:
1. Kognitif (pengetahuan).
Seorang yang akan menikah sudah seharusnya tahu dengan siapa yang menikah.
Meskipun pada jaman lalu, kebanyakan tidak punya pilihan untuk menikah dengan
siapa (karena di jodohkan), tetapi setidaknya sudah tahu mau menikah dengan
siapa.). Orang yang normal kalau di tawarin menikah, pasti akan bertanya dengan
siapa? Minimal tahu lah dengan siapa. Begitu halnya dengan Gereja, di manakah
pentingnya pengenalan yang sifatnya pengetahuan. Dalam hal ini tentu
berhubungan dengan tahu pribadi yang kita imani. Siapakah Yesus? Gereja yang
memperkenalkan Yesus dengan salah maka Gereja tersebut tidak sedang
mempersiapkan umat Elohim menjadi mempelai wanita. (Mungkin Gereja yang udah
putus asa). Jemaat tidak banyak, sedikit yang beri perpuluhan da persembahan,
akhirnya orientasi pengenalannya tidak lagi di fokuskan kepada siapakah Yesus
sebenarnya. Seolah-olah ada "Other Jesuses" atau "Yesus yang lain". Hanya Yesus
yang Alkitab katakan, itulah yang perlu kita kenal. Yesus yang lain, kenal dari
pengalaman saja, Yesus berdasarkan teori pribadi, Yesus yang seharusnya ini dan
itu yang tidak berdasar pada pengetahuan Alkitab harus di tolak. Hanya dari
Alkitab, kita tahu Yesus yang sesungguhnya.
2. Pengenalan dalam kehendak.
Dua orang yang sedang di jalin asmara, pada akhirnya di persatukan dalam
kehendak yang sama, yakni di persatukan dalam Pernikahan. Sebelum di
persatukan, keduanya akan belajar untuk saling melepaskan kepentingan diri
sendiri, untuk lebih memikirkan kepentingan pasangannya. Kehendak aku menjadi
kehendak kita. Rencanamu menjadi rencana kita. Ini adalah pengenalan yang
sifatnya sudah lebih dewasa. (Coba yang sudah suami istri, tanyakan prinsip ini
masih berlaku gak)? Adakah Tuhan tidak mengerti kehendak dan kebutuhan kita?
Adakah Tuhan tidak mengenal kita seutuhnya? Saya yakin kita semua bependapat:
Tuhan kenal. Bukankah seharusnya pertanyaan menjadi: sudahkah saya mengerti
kehendak Tuhan? Sudahkah saya semakin mengenal Dia dan rencana2-Nya? Adakah
rencana Tuhan sudah menjadi rencanaku? Gereja harus di persiapkan un tuk selalu
berjalan di dalam kehendak Elohim. Gereja adalah tubuh Kristus, kepalanya
adalah Kristus. Tubuh tidak akan bergerak semaunya tanpa arahan dari otak yang
berada di kepala. Demikianlah Gereja yang mencintai Tuhan Yesus adalah Gereja
yang selalu mengutamakan kehendak Elohim di bandingkan hal yang lainnya.
3. Tindakan untuk saling memberi dan mencintai dengan utuh.
Tidak benar bila seorang berkata kepada pasangannya "aku mengasihimu, namun
tidak pernah menunjukkan dengan nyata dan positif tindakan kasihnya. Tidak ada
hubungan yang akan berhasil apabila tidak ada kesadaran untuk sama-sama mengisi
hubungan tersebut. Seseorang yang mengenal pasangannya, dia pasti tahu harus
berbuat apa jika pasangannya sedang sedih, seseorang juga seharusnya tahu harus
berbuat apa jika pasangannya membutuhkan sesuatu. Pertanyaan yang seharusnya:
Apa yang sekiranya bisa ku lakukan untukmu? Tidak ada pengorabanan yang lebih
benar dari sebuah tindakan yang tepat, di saat yang tepat kepada orang yang
tepat. Kristus sudah menyatakan kasihnya dengan nyata? Apa bukti kasih kita
kepadanya? Apakah Gereja sudah melakukan apa yang menyenangkan hati Elohim.
Apakah sudah tahu apa yang menyenangkan A llah tapi masih berdiam diri?
Gereja adalah mempelai wanita Anak domba Elohim. Oleh karena itu, Gereja harus
di kuduskan, di khususkan, di pisahkan dari segala yang tidak berkenan kepada
Elohim. Gereja juga perlu di bawa untuk mengerjakan apa yang benar. Gereja jauh
dari kesesatan itu baik, tapi Gereja juga selalu mengajarkan dan mengerjakan
apa yang benar dengan aktif.
Maranata.