From: rm_maryo "Malaikat Elohim turun naik kepada Anak Manusia" (Dan 7:9-10.13-14; Yoh 1:47-51)
"Kata Filipus kepadanya: "Mari dan lihatlah!" Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" Kata Natanael kepada-Nya: "Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya: "Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara." Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Elohim, Engkau Raja orang Israel!" Yesus menjawab, kata-Nya: "Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu." Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Elohim turun naik kepada Anak Manusia." (Yoh 1:47-51), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta Para Malaikat Agung: Mikael, Gabriel dan Rafael, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: . Ada orang berjalan sendirian di tengah malam ketakutan, padahal daerah yang ia lalui aman alias tidak ada penjahat; ada orang tinggal sendirian jaga rumah takut, padahal semua pintu terkunci kuat dan tidak ada penjahat yang akan menggangunya, dst.. Orang-orang yang demikian ini hemat saya kurang atau tidak beriman, tidak percaya bahwa Elohim senantiasa mendampingi atau menyertai hidupnya melalui malaikat-malaikatNya. "Sejak masa anak-anak sampai pada kematiannya malaikat-malaikat mengelilingi kehidupan manusia dengan perlindungan dan doa permohonan. Seorang malaikat mendampingi setiap orang beriman sebagai pelindung dan gembala, supaya menghantarnya kepada kehidupan" (Kamus Gereja Katolik, no 336). Malaikat pelindung adalah kepanjangan para malaikat agung yang kita rayakan hari ini: Mikael adalah komandan para malaikat dalam menghadapi aneka kejahatan, Gabriel adalah komandan para malaikat pewarta gembira, sedangkan Rafael adalah komandan para malaikat yang mendampingi umat beriman di dalam perjalanan. Malaikat pelindung yang mendampingi kita berfungsi ke tiga tugas tersebut, maka hendaknya jangan pernah takut dan cemas jika anda sendirian atau harus menghadapi godaan setan. Warta Gembira hari ini juga mengajak dan memanggil kita untuk senantiasa berani melihat dan menghayati kehadiran malaikat yang turun-naik kepada setiap manusia. Maka hendaknya dalam keadaan dan situasi apapun, termasuk sedang sendirian, jangan takut dan gentar, tentu saja asal percaya pada pendampingan malaikat yang sangat setia siang dan malam menyertai kita. Rasa takut kiranya merupakan salah satu bentuk pikiran negative seperti cemas, iri hati dan khawatir. "Pikiran iri hati, takut, cemas, dan khawatir merusak dan menghancurkan syaraf dan kelenjar dan dengan demikian mendatangkan segala macam penyakit fisik maupun mental" (Dr.Joseph Murphy Drs, PhD, DD, LLD: Rahasia Kekuatan Pikiran bawah sadar, Spektrum 1997, hal 103). . "Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah" (Dan 7:13-14). Di tengah malam gelap gulita memperoleh penglihatan atau penampakan yang indah dan luar biasa, itulah kiranya yang digambarkan dalam kutipan di atas ini. Hal ini mengingatkan kita semua perihal makna dan tujuan `bertapa', matiraga, atau `nyepi' yang dilakukan oleh sementara orang, untuk semakin mendekatkan diri pada Yang Ilahi. Di dalam tradisi Gereja Katolik kita kenal apa yang disebut `retret', yang berarti mengundurkan diri dari dunia ramai untuk merenung dan mawas diri. Bertapa atau nyepi serta berdoa dalam retret pada umumnya dilakukan sendirian, dan orang sering berusaha mencari tempat sepi dan gelap. Dalam kesendirian ini diharapkan orang menjadi lebih peka akan suara dari Yang Ilahi melalui RohNya atau malaikat-malaikatNya. Dan ketika ia memperoleh penampakan dari Yang Ilahi, berupa hiburan rohani, maka iman, harapan dan cintakasihnya diperkuat dan diperdalam, dan dengan demikian ia hidup segar bugar, sehat wal'afiat baik secara fisik maupun mental atau spiritual/rohani. Ia tidak takut dan gentar, cemas atau khawatir menghadapi aneka tantangan, hambatan maupun ancaman dalam kehidupan. Maka baiklah dengan ini kami berharap pada kita semua: marilah kita sempatkan waktu khusus untuk `bertapa', matiraga, `nyepi' atau retret secara periodik. Retret atau olah kebatinan merupakan salah satu kebutuhan hidup kita. Yang tidak kalah penting adalah pemeriksaan batin setiap hari.. "Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku, di hadapan para Elohim aku akan bermazmur bagi-Mu. Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu. Pada hari aku berseru, Engkau pun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku." (Mzm 138:1-3) ================================================== From: rm_maryo "Ia berpaling dan menegor mereka" (Ayb 3:1-3.11-1`7.20-23; Luk 9:51-56) "Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya.Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: "Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?" Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka.Lalu mereka pergi ke desa yang lain"(Luk 9:51-56), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Hieronimus, imam dan pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: . "Pergi ke Yerusalem" bagi Yesus berarti menuju ke penyempurnaan tugas perutusanNya dengan mempersem-bahkan Diri wafat di kayu salib. Perjalanan menuju ke penyempurnaan tugas perutusan pasti akan menghadapi aneka tantangan dan hambatan, sebagaimana terjadi penolakan orang-orang Samaria terhadap Yesus. Pada umumnya kita ketika menghadapi tantangan, kesulitan dan hambatan tergerak untuk marah-marah atau berusaha untuk membinasakan orang-orang yang menjadi penyebab adanya tantangan dan hambatan, sebagaimana dikatakan oleh Yakobus dan Yohanes: "Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka". Kata-kata para rasul ini rasanya senada dengan orang Jawa yang sedang memarahi atau membenci: "Mugo-mugo disamber `bledeg' wong kurang ajar iku" (=Semoga disambar petir orang jahat tersebut). Yesus berpaling dan menegor mereka. Maka marilah kita mengenangkan atau mawas diri perihal panggilan imamat kita, entah imamat umum kaum beriman maupun imamat jabatan. Seorang imam adalah seorang `penyalur', yang menyalurkan rahmat atau berkat Tuhan bagi sesamanya dan doa-doa, dambaan, harapan sesama manusia kepada Tuhan. Penyalur yang baik bagaikan `leher' dalam anggota tubuh kita, yang berfungsi terus menerus tiada henti, antara lain menjadi `penyalur/jalan' makanan, minuman dan udara segar demi kebutuhan dan kesehatan seluruh tubuh . "Leher" tidak pernah korupsi, mengeluh, menggerutu, tidak pernah menyakiti yang lain sebagai `jalan/penyalur'. Anggota tubuh lain yang kelihatan beristirahat, leher tetap terus bekerja atau berfungsi. Ia sungguh mempersembahkan diri demi kebahagiaan dan kesejahateraan yang lain. Sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk menjadi `penyalur' rahmat dan berkat Tuhan bagi sesama dan saudara-saudari kita, tanpa pandang bulu, SARA, usia, jabatan, kedudukan dst.. . "Mengapa terang diberikan kepada yang bersusah-susah, dan hidup kepada yang pedih hati; yang menantikan maut, yang tak kunjung tiba, yang mengejarnya lebih dari pada menggali harta terpendam; yang bersukaria dan bersorak-sorai dan senang, bila mereka menemukan kubur; kepada orang laki-laki yang jalannya tersembunyi, yang dikepung Elohim" (Ayb 3:20-23), demikian keluh kesah atau pertanyaan Ayub yang sedang menerima anugerah penderitaan. Penderitaan sebagai buah atau konsekwensi dari kesetiaan pada panggilan dan tugas perutusan adalah rahmat atau anugerah Elohim, yang harus disyukuri. "Jer basuki mowo beyo" (=Untuk hidup mulia, bahagia sejahtera harus kerja keras dan berjuang), demikian kata pepatah Jawa. Maka dengan ini saya mengingatkan kita semua, entah pelajar/siswa/mahasiswa atau pekerja/ pegawai. Hendaknya menghayati panggilan atau tugas pekerjaan dengan sikap mental belajar, yang ditandai dengan kegairahan dalam menghadapi aneka tantangan dan hambatan atau penderitaan. "Terang diberikan kepada yang bersusah-payah, yang pedih hati, yang menantikan maut, yang tak kunjung tiba", demikian yang menjadi pertanyaan Ayub, yang mungkin juga menjadi pertanyaan kita semua. "Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia."(Yoh 16:21), itulah jawaban atas pertanyaan tersebut. Nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup yang menyelamatkan dan membahagiakan `lahir' dari penderitaan karena setia pada panggilan dan tugas perutusan, itulah kebenaran yang harus kita imani dan hayati. Sebagai contoh: sabar `lahir' ketika kita harus antri cukup lama, rendah hati `lahir' ketika kita dilecehkan, dihina dan kurang diperhatikan, tekun `lahir' ketika kita harus bekerja keras untuk menyelesaikan pekerjaan berat pada waktunya, dst.. Jangan mengeluh, menggeurutu, cemas, takut atau khawatir ketika harus menderita karena setia pada panggilan dan tugas perutusan. Marilah kita bersikao mental belajar terus menerus. "Ya YHWH, Elohim yang menyelamatkan aku, siang hari aku berseru-seru, pada waktu malam aku menghadap Engkau. Biarlah doaku datang ke hadapan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepada teriakku; sebab jiwaku kenyang dengan malapetaka, dan hidupku sudah dekat dunia orang mati. Aku telah dianggap termasuk orang-orang yang turun ke liang kubur; aku seperti orang yang tidak berkekuatan.Aku harus tinggal di antara orang-orang mati, seperti orang-orang yang mati dibunuh, terbaring dalam kubur, yang tidak Kauingat lagi, sebab mereka terputus dari kuasa-Mu" (Mzm 88:2-6) ================================================= From: rm_maryo "Aku akan mengikut Engkau ke mana saja Engkau pergi." (Ayb. 9:1-12.14-16; Luk 9:57-62) "Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: "Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." Lalu Ia berkata kepada seorang lain: "Ikutlah Aku!" Tetapi orang itu berkata: "Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Elohim di mana-mana." Dan seorang lain lagi berkata: "Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku." Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Elohim."(Luk 9:57-62), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Teresia dari Kanak-kanak Yesus, perawan dan pujangga Gereja,hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: . Anak kecil pada umumnya lebih suci, taat, penurut, terbuka dan menyerahkan diri kepada yang lain daripada orangtua atau orang dewasa. Ingat dan renungkan kutipan ini: "Ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua"(Yoh 8:7-9). Semakin tua, tambah usia dan pengalaman pada umumnya juga tambah dosa-dosanya, mudah menghindari aneka tugas dan pekerjaan dengan berbagai alasan, yang nampak logis, sebagaimana dikisahkan dalam Warta Gembira hari ini: `layat' atau urusan keluarga, alasan-alasan, yang mudah diajukan oleh orang-orang malas atau pembohong. Maka pada pesta St.Teresia dari Kanak-kanak Yesus hari ini, marilah meneladan ketaatannya. "Yesus, tentu Engkau senang mempunyai mainan. Biarlah saya menjadi mainanMu! Anggap saja saya ini bolaMu. Bila akan Kauangkat, betapa senang hatiku. Jika hendak Kausepak kian kemari, silahkan! Dan kalau hendak Kautinggalkan di pojok kamar lantaran bosan, boleh saja. Saya akan menunggu dengan sabar dan setia. Tetapi kalau hendak Kautusuk bolaMu..O, Yesus, itu sakit sekali, namun terjadilah kehendakMu" (CLC : Ensiklopedi Orang Kudus, Jakarta 1985/cetakan kelima, hal 292), demikian doa Teresia yang menggambarkan iman dan hidupnya. Teresia kiranya juga berusaha untuk meneladan Bunda Maria, teladan umat beriman, yang taat dan setia terhadap panggilan Tuhan. Ketaatan dan kesucian rasanya bagaikan mata uang bermuka dua, saling melengkapi dan memperdalam: orang yang taat akan semakin suci, sebaliknya orang suci pada umumnya senantiasa taat. Mengenangkan St.Teresia dari Kanak-kanak Yesus kiranya juga .berarti ajakan atau panggilan untuk senantiasa memperhatikan dan melayani atau mengabdi anak-anak, entah anak kita sendiri atau anak orang lain, sebaik mungkin. . "Sungguh, aku tahu, bahwa demikianlah halnya, masakan manusia benar di hadapan Elohim? Jikalau ia ingin beperkara dengan Elohim satu dari seribu kali ia tidak dapat membantah-Nya.Elohim itu bijak dan kuat, siapakah dapat berkeras melawan Dia, dan tetap selamat" (Ayb: 9:2-4) Manusia adalah ciptaan Elohim, hidup manusia serta segala sesuatu yang menyertainya, misalnya kecantikan, ketampanan, kecerdasan, kepandaian, kekayaan, keterampilan dst..adalah anugerah Elohim yang diterima melalui orang atau pribadi-pribadi yang baik hati. Karena semuanya adalah ciptaan dan anugerah Elohim, maka sikap hidup manusia yang benar adalah bersyukur serta bersembah-sujud kepadaNya, antara lain dengan mentaati dan melaksanakan semua sabda dan perintahNya, tidak melawan atau membantahNya, jika menghendaki hidup bahagia, selamat dan damai sejahtera. Ketaatan kepada perintah dan kehendak Elohim antara lain dapat diwujudkan dengan mentaati dan melaksanakan aneka tatanan dan aturan yang terkait dengan panggilan, tugas pekerjaan maupun kesibukan dan sepak terjang kita. Maka marilah kita baca, pahami dan kita hayati atau laksanakan aneka aturan dan tatanan yang terkait dengan panggilan, tugas perutusan, pekerjaan dan kesibukan kita masing-masing. Berkeras melawan aturan atau tatanan tersebut kiranya akan celaka dan sengsara hidupnya, sebagaimana dialami oleh para koruptor. Para koruptor nampak hidup bahagia dan sejahtera secara ekonomi, namun sebenarnya dirinya merasa tidak aman dan tenteram, senantiasa was-was, cemas dan khawatir. Orang yang mentaati dan melaksanakan perintah dan kehendak Elohim akan menjadi orang yang bijak dan kuat secara mental, spiritual, dan dengan demikian tahan atau kebal terhadap aneka macam serangan virus penyakit. "Maka bangsa-bangsa menjadi takut akan nama YHWH, dan semua raja bumi akan kemuliaan-Mu, bila YHWH sudah membangun Sion, sudah menampakkan diri dalam kemuliaan-Nya, sudah berpaling mendengarkan doa orang-orang yang bulus, dan tidak memandang hina doa mereka. Biarlah hal ini dituliskan bagi angkatan yang kemudian, dan bangsa yang diciptakan nanti akan memuji-muji YHWH" (Mzm 102:16-19) Jakarta, 1 Oktober 2008 "SELAMAT IDUL FITRI 1429 H"

