Penyingkapan Nama Sang Pencipta
Eksposisi Keluaran 3:1-22
Oleh: Teguh Hindarto
Pekerjaan Moshe (Musa) Sebelum Menerima Panggilan Kenabian (ay. 1) 


“Penggembala ternak” (ro’e eth-tson). Kitab Kisah Para Rasul 7:22 memberikan 
tambahan latar belakang Moshe yang tidak ditulis dalam Kitab Keluaran bahwa 
Moshe adalah, “dan (Moshe) dididik dalam segala hikmat orang (Mitsrayim/Mesir), 
dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya.” Moshe bukan penggembala 
ternak biasa. Dia orang yang memiliki pengetahuan dan kewibawaan. 


PENGALAMAN PRIBADI MOSHE MELIHAT PENAMPAKKAN TENTANG TUHAN (ay 2)

Moshe melihat semak menyala terbakar api namun tidak terbakar (belabbath esh). 
Penampakan bukanlah pengalaman khayal, ilusi. Penampakkan adalah peristiwa riil 
yang bersifat simbolik untuk menegaskan kehadiran TUHAN dan malaikat bahkan 
roh-roh jahat sekalipun.

MOSHE MENERIMA PANGGILAN KENABIAN (ay 3-10)

Ketika Moshe memperhatikan semak yang menyala karena api, ada suara memanggil 
nama-NYA dan dia menjawab “inilah aku!” (hinneni). Jawaban yang sama ketika 
Avraham (Abraham) menerima ujian TUHAN (Kej. 22:1), menerima panggilan malaikat 
(Kej. 22:11), ketika malaikat memperlihatkan diri pada Ya’aqov (Yakub) (Kej. 
31:11), ketika TUHAN memanggil Shemu’el (Samuel) (1Sam. 3:4), ketika TUHAN 
memanggil Yesha’yahu (Yesaya) (Yes. 6:8).

Penegasan TUHAN kepada Moshe dalam panggilan dirinya, meliputi:
1. “AKU-lah TUHAN ayahmu” (Anokhi Elohe avikha)
2. “AKU sungguh-sungguh telah memperhatikan” (ra’o ra’ithi)
3. “AKU telah mendengar” (shama’ti)
4. “Untuk melepaskan mereka” (lehatstsilo)
5. “Untuk membawa mereka” (uleha’alotho),
6. “AKU akan mengutus, mengirim kamu” (we’eshlakhakha)

MOSHE RAGU DENGAN PANGGILAN TUHAN (ay 11)

“Siapakah saya?” (mi anokhi?) Moshe ragu-ragu terhadap dirinya sendiri. 
Sekalipun dia memiliki latar belakang kependidikan yang cukup namun toh dia 
tetap merasa kurang percaya diri untuk menghadapi Par’o (Firaun).

PENEGASAN SANG PENCIPTA (ay 12)

“AKU (AKAN) ADA besertamu” (ki-ehye ‘immakh). Kata EHYE adalah bentuk kata 
kerja orang pertama tunggal dari kata HAYA yang artinya “ada,” “berada,” 
“hadir.” Kata kerja EHYE muncul kembali dalam bentuk yang khas pada ayat 14. 
Lembaga Alkitab Indonesia justru menerjemahkan dengan bentuk kalimat retoris 
(tidak sesuai teks aslinya dalam bahasa Ibrani, karena tidak ada kata sandang 
HA) "Bukankah AKU akan menyertai engkau?”

PERTANYAAN MOSHE MENGENAI NAMA SANG PENCIPTA (ay 13)

“Ma-Shemo?” dalam tata bahasa Ibrani, untuk menanyakaan sesuatu atau seseorang, 
biasanya digunakan bentuk tanya “mi.” Namun, penggunaan kata “ma”, bukan hanya 
bermaksud menanyakan nama secara literal namun hakikat atau pribadi dibalik 
nama itu (J.D. Douglas, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid I, Yayasan Bina 
Kasih OMF, 1994, hal 39)

JAWABAN TUHAN:

PENEGASAN EKSISTENSINYA (ay 14)

“ehye asher ehye.” LAI menerjemahkan dengan “AKU ADALAH AKU.” Terjemahan yang 
tidak tepat. Jika “Aku adalah Aku” seharusnya berbunyi dalam naskah Ibrani sbb: 
“anokhi asher anoki.” Kata “EHYE” merupakan bentuk kata kerja imperfek 
[menyatakan sesuatu yang sedang berlangsung atau belum selesai] dari akar kata 
“HAYA.” 

G. Johanes Boterweck dan Helmer Ringren dalam Theological Dictionary of The Old 
Testament menjelaskan, bahwa kata “haya” digunakan dalam Perjanjian Lama dan 
diterjemahkan dengan opsi sbb: (1) “exist, be present” (ada, hadir) (2) "come 
into being” (menjadi) (3) auxilaries verb (kata kerja bantu) (Vol III, Grand 
Rapids Michigan, 1978, p.373). 

DR. Harun Hadiwiyono dalam bukunya Iman Kristen, menyatakan bahwa kata “ehye” 
bermakna “aku berada”. Namun, saya lebih cenderung menerjemahkannya menjadi 
“AKU (AKAN) ADA.” DR. Harun Hadiwiyono selanjutnya menegaskan implikasi sebutan 
“ehye” oleh Yang Maha Kuasa, yaitu bahwasanya TUHAN bagi Musa dan Israel 
bukanlah TUHAN yang tidak bergerak, bukan TUHAN yang mati melainkan TUHAN yang 
hidup dan penuh dinamika (Iman Kristen, BPK Gunung Mulia, 1988, hal 39). 

Saya sependapat dengan beliau, bahwa makna dan implikasi penggunaan kata kerja 
“EHYE” mengandung muatan teologis yang mendalam, bahwa Elohim (TUHAN) yang 
mengutus Moshe adalah Elohim yang senantiasa berkarya, menjadi dan tidak pernah 
berdiam diri. 

Implikasi teologis bagi kita yang hidup ribuan tahun setelah Moshe, bahwa kita 
bukan sedang menyembah “elohim” yang berwujud patung atau benda mati. Bukan 
pula memuja kekuatan-kekuatan alam yang dipertuhan seperti angin ribut, 
halilintar, dll. Banyak yang memahami ayat ini sebagai penolakan TUHAN untuk 
menjawab pertanyaan Moshe, sehingga DIA memberikan teka-teki dengan mengucapkan 
“ehye”, sebagaimana disitir oleh Stefan Leks, “Maka jelaslah ungkapan 
Alkitabiah ini menegaskan akan adanya TUHAN, tetapi sebenarnya tidak memberi 
jawaban siapakah nama TUHAN itu” (Menuju Tanah Terjanji, Nusa Indah Ende 
Flores, 1978, hal 30)

PENEGASAN NAMANYA (ay 15)

“YHWH, Elohe avothekhem, Elohe Avraham, Elohey Yitskhaq w’Elohe Ya’aqov.”  
Keluaran 3:14 menyingkapkan “sifat dan keberadaan” Sang Pencipta, melalui 
bentuk kata kerja imperfek orang pertama tunggal, “ehye”. Sementara Keluaran 
3:15 menyingkapkan bahwa nama Elohim (Sesembahan, Tuhan) dari Avraham, Yitskhaq 
(Ishak) dan Ya’aqov bernama Yahweh. Nama yang memiliki akar kata “HAYA” yang 
diucapkan pada ayat 14 dalam bentuk imperfek orang pertama tunggal “EHYE.” 

Nama ini bukan hasil penelitian Moshe atau penjelajahan Moshe dalam dunia 
esoteris sehingga berhasil mendapatkan nama Sang Pencipta, melainkan 
penyingkapan nama Sang Pencipta adalah INISIATIF Sang Pencipta sendiri, untuk 
memperkenalkan jati diri-NYA pada Musa dan Yisra’el (Israel). 

Berbeda dengan agama-agama yang menamakan berbagai gejala alam (angin, hujan, 
badai, panas, dll) menjadi nama tuhan mereka, maka Yudaisme dan Kekristenan 
(Mesianik) berangkat dari keyakinan bahwa Elohim telah memperkenalkan nama 
pribadi-NYA, karena DIA berkehendak untuk dikenal oleh umat-NYA. 

Mengenai pronunsiasi nama YHWH, Jewish Encylopedia mengatakan, “Rabbinical 
Literatur – The Name Yahweh is considered the name proper” (Vol IX, P. 162). 
The Encylopedia Judaica mengatakan, “The true pronounciation of the name YHWH 
was never lost. Several early Greek writers of the Christian Church testify 
that the name was pronounced Yahweh” (Vol VII, 1972, p.680). Demikian pula 
dengan Unger’s Bible Dictionary menjelaskan sbb: “Yahweh, the Hebrew 
Tetragrammaton (YHWH) traditionally pronounced Jehovah is known to be correctly 
vocalized Yahweh” (Merril F. Unger, 1957, p. 1177]

Ze-shemi le‘olam. Frasa “ze-shemi le‘olam” [inilah nama-KU Yang Kekal], 
menunjuk kepada nama “Yahweh”. Ada yang berpendapat, bahwa “Yahweh” adalah kata 
kerja imperfek orang ketiga tunggal. Ini pendapat yang keliru. Sekalipun akar 
kata “Yahweh” adalah “haya,” sehingga “Yahweh” bermakna “DIA Ada”. Namun, 
bentuk kata kerja orang ketiga tunggal dari “haya” adalah “yihye.” Adapun 
“Yahweh” adalah nama dari Sesembahan [Elohim] Avraham, Yitskhaq dan Ya’aqov. 
Makna nama Yahweh sendiri adalah “yang senantiasa ada, hadir, berbuat, 
berkarya, bertindak bagi umat-NYA.” 

PENEGASAN KEBERPIHAKANNYA (ay 18)

“Elohe ha’ivriyyim.” TUHAN yang menyatakan diri-NYA pada Moshe, 
mengidentifikasikan diri-NYA sebagai TUHAN atas leluhur Moshe, bangsa Ibrani. 
Keberpihakan ini menimbulkan kecemburuan bagi bangsa-bangsa lain. Penegasan ini 
bukan bermakna bahwa YAHWEH adalah “sejenis tuhan-tuhan lokal” atau “tuhan 
kebangsaan” sebagaimana dianut bangsa-bangsa. Sejatinya, TUHAN itu tidak 
memiliki warna kebangsaan, sebagaimana rasul Paulus berkata, “atau adakah 
(TUHAN) hanya (TUHAN) orang Yahudi saja? Bukankah DIA juga adalah (TUHAN) 
bangsa-bangsa lain? Ya, benar. IA juga adalah (TUHAN) bangsa-bangsa lain! (Rm. 
3:29). Penegasan ini hanya hendak menunjukkan bahwa YAHWEH adalah TUHAN yang 
disembah leluhur Moshe dan menjadi pelindung mereka, sekalipun DIA adalah TUHAN 
yang berkuasa atas langit dan bumi.

TINDAKAN TUHAN TERHADAP MITSRAYIM (ay 16-22)

1. “AKU akan mengeluarkan kamu” (a’ale ethkhem)
2. “tetapi AKU akan mengirim tangan-KU dan memukul Mitsrayim” (weshalakhti 
eth-yadi wehikkethi)
3. “dan AKU akan membuat orang Mitsrayim bermurah hati” (wenathatti eth-khen)

PERSOALAN-PERSOALAN DISEPUTAR NAMA YAHWEH (KAJIAN AKTUAL)

Kajian atas Keluaran 3:1-22 tentunya menimbulkan sejumlah pertanyaan penting 
dalam pikiran kita. Beberapa pertanyaan penting tersebut adalah:

Pertanyaan-pertanyaan di atas secara singkat telah saya jelaskan dalam beberapa 
makalah seminar di Bandung ("Redefinisi & Rekonsepsi Penggunaan Nama Allah dan 
Urgensi Penggunaan Nama Yahweh Dalam Komunitas Kristiani", Disampaikan pada 
Forum Panel Diskusi Di Auditorium Duta Wacana-Yogyakarta, Tgl 20 Oktober 2003) 
dan di Jakarta ("Demitologisasi Pemahaman Diseputar Nama Yahweh & Allah", 
Disampaikan pada Forum Panel Diskusi Di Auditorium Duta Wacana-Yogyakarta Tgl 
20 Oktober 2003) dan saya kompilasikan dalam judul buku MENGENAI NAMA TUHAN: 
Kompendium Kajian-Kajian Kritis Mengenai Nama Yahweh.

1.    Mengapa orang Kristen pada umumnya tidak mengenal nama Yahweh?
2.    Mengapa terjemahan Kitab Suci pada umumnya tidak mencantumkan nama Yahweh?
3.    Apakah pencantuman nama Allah dalam terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia 
memiliki validitas Teologis dan Filologis?
4.    Asal-usul pencantuman nama Allah dalam terjemahan Lembaga Alkitab 
Indonesia
5.    Mitos-mitos akademis diseputar nama Yahweh.

Catatan Editor:
- Artikel telah diedit dan disesuaikan dengan standar transliterasi Kemah 
Abraham
- Dalam artikel aslinya, penulis menuliskan nama-nama orang dan kota sesuai 
nama Ibraninya dan editor telah menambahkan keterangan persesuaian nama-nama 
tersebut dengan nama-nama yang digunakan oleh Lembaga Alkitab Indonesia
- Kutipan ayat-ayat Alkitab sebagian besar adalah hasil terjemahan sendiri 
penulis dari naskah Ibrani (dari pengamatan editor, naskah Ibrani yang menjadi 
acuan penulis adalah naskah Ibrani Biblia Hebraica Stuttgartensia atau BHS 
edisi 4 termasuk juga kutipan teks-teks Ibraninya)
- Editor: Yosi Rorimpandei

=====================================================

From: Secapramana 

 
Renungan dari sebuah Perjalanan (Perdebatan tentang Maria)
by: Yohanes Gani

Suatu hari saya naik bis dari Surabaya menuju ke Malang. Saat itu saya
sangat mengantuk, sebab baru selesai memberi rekoleksi pada murid-murid
sebuah SMA swasta di Prigen.
Pada malam terakhir rekoleksi, anak-anak tidak mau tidur pada jamnya.
Mereka ingin begadang sambil mengobrol berbagai macam topik.
Saya pikir ini adalah kesempatan untuk memasukkan ajaran Gereja secara lebih
mendalam, sebab menjawab berbagai macam pertanyaan kongkrit tentang masalah
remaja. Maka dengan makan kacang dan kue-kue yang mereka bawa, kami ngobrol
sampai nyaris pagi.
Ketika naik bis, saya berharap bisa langsung tidur. Kebetulan ada tempat
kosong, maka langsung saya duduk dengan harapan tidak akan ada orang yang
duduk di sebelah saya. Apalagi orang yang ingin mengajak ngobrol.
Saya ingin segera memejamkan mata. Tapi, beberapa saat sebelum bis
berangkat, seorang bapak duduk di sebelah saya.
Bapak ini berpakaian sangat rapi. Baju putih lengan panjang, dipadu dengan
celana coklat kehitaman. Sebuah tas yang cukup bagus ada dalam genggamannya.
Usia bapak ini kira-kira 50 tahun. Saya menduga dia seorang eksekutif atau
pegawai yang telah punya kedudukan lumayan. Pendek kata penampilannya jauh
sangat rapi dan perlente, sangat berbeda dengan saya yang hanya memakai blue
jeans, kaos oblong, dan bersandal jepit.
Setelah melirik sejenak padanya, saya bersiap memejamkan mata, sebab pria di
sebelah saya tampaknya juga tidak ingin diganggu. Dia mulai membaca koran
yang dibawanya.

"Koran kok isinya hanya tentang kekerasan," katanya seperti mengeluh.

"Apakah sudah tidak ada kasih di dunia ini?", tanyanya pada saya.
Sebagai basa basi saya hanya tersenyum. Saya malas untuk menjawab, sebab
mata sudah tidak bisa diajak kompromi.

"Apakah mahasiswa itu tidak bosan mengadakan demonstrasi?", tanyanya lagi.
Sekali lagi saya hanya tersenyum.

"Adik ini kuliah atau sudah kerja?" Mau tidak mau saya harus menjawab 
pertanyaan ini.
"Saya masih kuliah, pak", jawab saya singkat.

"Dimana?", tanyanya mendesak.
"Malang", jawab saya singkat lagi.
Saya berharap orang itu tidak bertanya-tanya lagi. Orang itu 
mengangguk-anggukkan kepalanya.

Ternyata dia tidak berhenti bicara. Dia bicara lagi yang isinya
nasihat-nasihat agar saya tidak ikut-ikutan demonstrasi dan melakukan
kejahatan. Saya terpaksa mendengarkan dan sebentar-sebentar menganggukkan
kepala menyetujui semua pendapatnya, dengan harapan dia merasa puas.

Tampaknya dia pun senang melihat saya setuju dengan pendapatnya.
Sesaat bapak itu diam, tiba-tiba dia bertanya lagi, "Maaf dik, kalau boleh tahu 
adik ini beragama apa?"

"Katolik"

"Oh...... Katolik", serunya dengan menatapku lebih seksama.

"Kalau saya seorang gembala jemaat Kristen." Dia lalu mengulurkan tangannya. 
Saya pun menjabat uluran tangannya.

"Dik, maaf ya", katanya setelah berhenti sejenak.

"Mengapa orang Katolik memuja Maria?"

"Entahlah, pak", jawab saya seenaknya saja.

"Apa adik tidak pernah berdoa pada Maria?"

"Sering"

"Mengapa berdoa saja harus berbelit-belit. Melalui birokrasi yang panjang"

"Maksud bapak?" tanya saya bodoh.

"Kan seharusnya orang berdoa langsung saja pada Yesus, mengapa harus
melalui Maria baru ke Yesus?", tanyanya mempertegas.

Sebetulnya saya enggan berdiskusi soal iman seperti ini, sebab biasanya
diskusi seperti ini tidak menemukan kata akhir. Semua akan bertahan pada
pendapatnya dan hanya mencari pembenaran bagi apa yang diyakininya.
Bagi saya iman itu tidak perlu didiskusikan. Iman itu dijalani,
diaktualisasikan dalam hidup. Selain itu, percuma saya berbicara tentang
Maria, kalau orang yang saya ajak bicara sudah tidak percaya bahkan menolak
peran Maria.

"Ya memang orang Katolik bodoh", jawab saya seenaknya. Saya berharap bapak
ini puas dan tidak tanya-tanya lagi. Tapi dugaan saya salah.
Bapak ini seperti mendapat angin. Dia semakin bersemangat untuk menjelekkan
Maria. Dia mencoba meyakinkan saya bahwa ajaran Katolik salah. Lama-lama
saya jengkel juga mendengar bapak ini dengan seenaknya menjelekkan Maria.

"Pak", kata saya tenang. "Apakah di gereja bapak ada kebiasaan misalnya ada
jemaat yang sakit, lalu dia meminta tolong agar pendeta mendoakannya?"

"Ada", jawabnya cepat, "Jika ada jemaat saya yang sakit, maka saya dengan
beberapa jemaat mengunjunginya. Lalu kami berdoa mohon kesembuhan baginya."

"Misalnya, pak", tanya saya mencoba mencari ketegasan, "Jika saya adalah
salah satu jemaat bapak, bolehkah saya mengatakan, Pak Pendeta, tolong
doakan saya, sebab saya sedang dalam kesulitan."

"Ya... ya.... bisa saja", jawabnya dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Pak", kata saya perlahan tapi tegas, "Jemaat bapak jauh lebih tolol daripada 
umat Katolik!"

Bapak di samping saya itu tampak terkejut dan marah.

"Seandainya Yesus duduk di depan sana," kata saya cepat dengan menunjuk pada
sopir, "Lalu bapak datang dengan membawa permohonan dari jemaat bapak dan
Maria juga datang dengan membawa permohonan saya.
Permohonan siapakah kira-kira yang akan dikabulkan oleh Yesus?
Apakah permohonan bapak? Apakah bapak lebih hebat dari ibuNya?"

Bapak di sebelah saya itu semakin tampak jengkel dengan perkataan saya.
Tapi sebelum dia bicara langsung saya cecar dengan pertanyaan-pertanyaan
yang tidak membutuhkan jawaban.
"Siapakah yang memaksa Yesus untuk membuat mukjizat di Kana? Maria, pak!
Siapakah yang setia pada Yesus sampai di bawah kaki salib? Maria, pak!"
kata saya dengan nada yang semakin meninggi, "Tapi siapakah yang menyalibkan
Yesus? Para imam-imam kepala, kaum Farisi dan ahli-ahli kitab, pak!
Saya rasa kalau kejadian itu terjadi saat ini, mungkin bapak adalah salah satu 
yang ikut mengadili dan menfitnah Yesus agar Dia disalibkan!" 

Saya lihat wajah bapak itu memerah, entah marah atau malu saya tidak tahu. Tapi
setelah itu dia diam tidak bertanya-tanya lagi. Apalagi menjelekkan Maria.
Saya bisa tidur dengan tenang sampai Malang.
Untung bapak itu tidak tahu bahwa saya juga seorang imam.
Maka berdoalah melalui Maria, sebab dia adalah ibu yang baik yang akan membawa 
permohonan-permohonan kita pada Yesus, putranya. 

Mampir dulu ke  http://JengVerina.tripod.com
KITA MENUNJUKKAN PENGHARGAAN PADA ORANG LAIN BUKAN KARENA SIAPA MEREKA, TETAPI 
KARENA SIAPAKAH DIRI KITA SENDIRI 

Kirim email ke