From: Romo maryo Mg Biasa XXIX : Yes 45:1.4-6; 1Tes 1:1-5b: Mat 22:15-21 "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Elohim apa yang wajib kamu berikan kepada Elohim."
Beberapa tahun lalu ketika saya bertugas sebagai Ekonom Keuskupan Agung Semarang sering harus ‘berjaga di kantor sendirian’ karena Bapak Uskup dan staf yang lain bertugas ke luar kota. Pada suatu hari ada seorang pemuda, yang ternyata adalah wartawan sebuah majalah mingguan Islam, datang ke kantor keuskupan untuk sebuah wawancara. Isi wawancara kurang lebih demikian: Wartawan(W): “Romo saya ingin minta penjelasan perihal karya Gereja di wilayah Cilacap dan sekitarnya, karena ada yang mengganjal menurut pandangan kami” “Silahkan, dengan senang hati saya akan menjelaskan sejauh saya bias” , jawaban saya (S) W: “Kami melihat bahwa Gereja melalui pastor dan umat membangun sekolah, memperbaiki jalan, mengunjungi orang-orang miskin sambil memberi bantuan sembako, dst… Apakah ini bukan gerakan Kristenisasi?” S: “Maksud anda dengan Kristenisasi apa?” W: “Dengan berbuat seperti saya katakan tadi berarti ada rayuan atau ‘paksaan terselubung’ agar orang-orang menjadi Kristen, Katolik. Hal itu menurut kami melanggar hak asasi manusia” S : “Kami orang Kristen atau Katolik mengikuti dan menghayati ajaran Yesus Kristus. Apakah anda tahu apa ajaran Yesus Kristus yang utama dan pertama?” W : “Saya pernah membaca Injil, ada ajaran yang mengatakan ‘Jadikanlah semua bangsa muridKu’. S : “Benar bahwa Yesus mengajarkan itu, tetapi ajaran yang utama dan pertama adalah cintakasih. Apakah anda sudah pacaran atau punya pacar?” W : “Sudah punya pacar” S: “Apakah anda berani berkata kepada pacar anda bahwa ‘kita akan pacaran untuk tahun ini saja ya’? W:”Tidak Romo, karena ia akan menjadi isteri saya dan saya mencintainya” S : “Jadi pacaran tidak boleh dibatasi waktunya, karena saling mencintai. Nah ajaran Yesus adalah cintakasih. Sebagai murid Yesus kami harus mencintai semua orang tanpa batas SARA, dan cintakasih harus dihayati secara konkret sesuai dengan kebutuhan hidup sehari-hari. Apa yang dilakukan oleh pastor dan umat di Cilacap adalah menghayati ajaran cintakasih Yesus Kristus”. Kutipan wawancara di atas saya angkat untuk membantu kita semua dalam rangka merenungkan Warta Gembira dan ‘Hari Minggu Evangelisasi’ hari ini. "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Elohim apa yang wajib kamu berikan kepada Elohim."(Mat 22:21) Mayoritas waktu dan tenaga kita lebih terarah pada kesibukan atau seluk-beluk/hal-ikhwal duniawi daripada apa yang disebut ‘ilahi’ atau ‘liturgi’/rohani. Mereka yang memeluk cara hidup kontemplatif pun juga demikian adanya: waktu dan tenaga untuk mengurus atau berpartisipasi dalam seluk beluk duniawi lebih banyak daripada untuk berdoa. Dalam berbagai kegiatan liturgy, entah doa bersama di lingkungan, ibadat sabda, perayaan ekaristi atau doa pribadi, pada umumnya orang mengeluh atau menggerutu jika berlangsung lama. Maka benarlah apa yang dinyatakan oleh para gembala kita di dalam Konsili Vatikan II bahwa “Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Tiada sesuatu pun yang sungguh manusiawi, yang tak bergema di hati mereka” (GS no 1). Sabda Yesus “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Elohim apa yang wajib kamu berikan kepada Elohim” rasanya harus kita hayati antara lain dengan menghayati pernyataan para Gembala tersebut di atas, ajakan untuk berpartisipasi dalam kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang yang ada di sekitar kita, yang hidup bersama dan bekerja dengan kita. “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati”.(Yak 2:17), demikian kata Yakobus. Hidup beriman memiliki dua sisi/muka, yaitu : berdoa dan bertindak, ‘ora et labora’, maka marilah kita perdalam hidup doa dan cara bertindak kita, sehingga ‘dalam terang iman Kristiani kita hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara’. Kita dipanggil untuk menjadi cerdas spiritual yang memiliki cirikhas sebagai berikut: 1. mampu untuk fleksibel (adaptasi aktif dan spontan) -hidup dari Roh/kehendak Tuhan 2. memiliki kesadaran diri yang tinggi – mengahayati diri sebagai pendosa yang dicintai dan diutus oleh Tuhan 3. mampu menghadapi dan menggunakan penderitaan - salib –> kebodohan bagi orang Yunani, batu sandungan bagi orang Yahudi, keselamatan bagi yang percaya 4. mampu menghadapi dan mengatasi rasa sakit- mengikuti Yesus -> menelusuri jalan salib 5. hidup dijiwai oleh visi dan nilai-nilai - menghayati konstitusi, pedoman, asas-dasar, anggaran dasar 6. enggan untuk menyakiti orang lain – menghayati dan menyebarluaskan kasih pengampunan 7. melihat hubungan dari yang beragam (holistik) – menghayati persaudaraan sejati 8. bertanya ‘mengapa’ dan ‘apa jika’ untuk mencari jawaban mendasar- bersemangat magis, ongoing formation 9. kemampuan/kemudahan untuk ‘melawan perjanjian’- reformator, bertobat terus menerus (lihat: Danah Zohar dan Ian Marshall: SQ, Mizan – Bandung Juni 2001) “Kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapan mu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Elohim dan Bapa kita” (1Tes 1:3) Apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat di Tesalonika di atas ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita semua. Kita dipanggil untuk meneladan Paulus yang ‘selalu mengingat pekerjaan iman’ sesama dan saudara-saudari kita, buah-buah penyerahan diri seutuhnya kepada Tuhan dalam hidup sehari-hari dari sesama dan saudara-saudari kita, antara lain: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23). Buah dari keutamaan-keutamaan ini ada dalam diri semua orang yang berkehendak baik, tanpa pandang bulu, SARA, jabatan, kedudukan, fungsi, usia, dst.. , maka marilah kita ingat, lihat dan akui atau imani, sehingga kebersamaan hidup kita sebagai orang-orang beriman sungguh dikasihi oleh Tuhan maupun sesama dan saudara-saudari kita. Iman adalah salah satu dari tiga keutamaan utama yang tak dapat dipisahkan, yaitu iman, harapan dan cinta. Orang yang sungguh beriman pada umumnya dinamis dan bergairah dalam mengasihi, tak kenal lelah dan putus asa dalam hidup saling mengasihi meskipun harus menghadapi aneka macam tantangan dan hambatan. Memang rasanya cinta kita pertama-tama dan terutama harus diberikan kepada mereka yang sedang berada di dalam kecemasan atau derita, sebagaimana diarahkan oleh para Gembala dalam Konsili Vatikan II. Marilah kita datangi dan ‘sembuhkan’ saudara-saudari kita yang sedang cemas dan menderita, kita ringankan beban penderitaan mereka dengan pengorbanan diri kita. Mencintai antara lain berarti ‘memberi dari kekurangan bukan kelebihan’; sedangkan ‘memberi dari kelebihan berarti membuang sampah, melecehkan orang lain’. “Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa. Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala Elohim.Sebab segala Elohim bangsa-bangsa adalah hampa, tetapi TUHANlah yang menjadikan langit” (Mzm 96:3-5) ================================================== From: Romo maryo “Hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." (Ef 2:1-10; Luk 12:13-21) “Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: "Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?" Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!Tetapi firman Elohim kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Elohim.”(Luk 121:13-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Orang yang bersikap mental materialistis pada umumnya memang khawatir atau cemas akan hari esok atau masa depan . Sikap mental ini pada umumnya terjadi pada diri orang-orang kaya yang serakah dan ketika mereka meninggal dunia anak-anaknya dapat berebut warisan, bahkan dapat terjadi permusuhan karena pembagian warisan dirasa tidak adil. Mereka juga dapat berkata sebagaimana diwartakan dalam Injil hari ini: “Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah”. Mereka sungguh menggantungkan diri pada harta kekayaannya, dan ketika harta kekayaannya berkurang atau bahkan ‘hilang’ maka mereka menjadi gila alias sinthing, bahkan ada yang bunuh diri. “Hai orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang kausediakan, untuk siapakah itu nanti?”. Hidup mengandalkan atau menggantungkan diri pada harta benda atau kekayaan duniwai adalah orang ‘bodoh’. Maka marilah kita tidak menjadi serakah dalam hal harta benda duniawi, melainkan hidup sederhana, sebagaimana sering kita doakan dalam doa Bapa Kami “Berilah kami hari ini rezeki secukupnya”, hari ini, bukan untuk bulan ini apalagi tahun ini atau masa depan, karena kita tidak tahu apakah besok pagi masih hidup, sewaktu-waktu dapat dipanggil Tuhan. Kepada mereka yang kaya akan harta benda atau uang kami berharap untuk solider dan berbagi dengan mereka yang miskin dan berkekurangan; para pengusaha hendaknya memberi kesejahteraan yang memadai kepada para buruh atau pegawainya. Marilah menjadi kaya di hadapan Elohim, artinya kaya akan keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan. Hendaknya diwariskan kepada anak-anak bukan harta benda atau uang melainkan keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan. · “Karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Elohim, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Ef 2:8-9), demikian peringatan Paulus kepada umat di Efesus, kepada kita semua. Sekiranya kita sehat wal’afiat dan kaya akan harta benda atau uang, hendaknya hidup penuh syukur dan terima kasih, karena semuanya itu adalah ‘bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Elohim’, yang kita terima melalui banyak orang yang telah berbuat baik dan membantu kita, misalnya: orangtua, pendidik/guru, rekan, pegawai, buruh., dst.. Hendaknya menjadi rendah hati dan juga rela berbagi. Secara khusus perkenankan saya mengingatkan para pengusaha/pemilik usaha atau perusahaan, yang rasanya kaya dalam hal uang atau harta benda: ingatlah dan sadarilah bahwa kekayaan berasal tidak pernah terlepas dari kerja keras para buruh atau pegawai, untuk sekolah adalah para guru!. Maka kami sangat mengharapkan sebagai pengusaha atau pemilik usaha untuk mensejahterakan semua pembantu dan pegawai/guru. Jika anda pelit untuk mensejahterakan meraka maka akan berdampak pada ketidak-seriusan kerja mereka maupun korupsi para pegawai/buruh/guru. Sebaliknya jika buruh, pegawai, guru, pembantu dst.. sejahtera, maka mereka akan bekerja keras, giat, rajin, disiplin, dst.. dan pada gilirannya usaha semakin maju, tumbuh berkembang dan handal. Pengusaha yang pelit terhadap para pembantu, buruh atau pegawainya berarti menciptakan lingkungan hidup/kerja yang subur untuk korupsi dan usahanya tak akan bertahan lama, akan segera gulung tikar atau mati. “Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa TUHANlah Elohim; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya. Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun” (Mzm 100:2-5) ================================================== From: "L Hutabalian" <[EMAIL PROTECTED]> Diatas spring bed tua. Di atas spring bed tua itu aku berbaring. Spring bed tua yang aku beli dari salah satu tetanggaku yang pindah kota. Saat aku beli, spring bed ini belumlah seburuk ini, tapi usia yang sudah beberapa tahun telah menjadikannya renta. Sudah empat tahun ia membiarkan dirinya sebagai tempat pembaringan kami; kami tiduri, kami duduki bahkan diinjak-injak oleh anak-anakku. Pula sudah 2 tahun ia membiarkan dirinya dipakai oleh pemilik dia sebelumnya. Rasanya cukup wajar ia cepat renta karena harganya pun murah. Mana ada sih yang harga murah dengan kwalitas yang bagus? Namun meski harga murah dan rendah kwalitas, spring bed ini tentu sudah menjadi saksi bisu tentang banyak hal yang aku lakoni bersama isteriku dan dua buah hatiku. Di spring bed ini aku bercanda ria dengan anak-anakku yang masih kecil, berbagi cerita dan cinta dengan isteriku dan juga menumpahkan air mata dalam doa-doaku. Di spring bed tua ini pulalah, pada bulan Juni 2001 aku mendapat visi Tuhan. Visi yang mengubah pendirianku di kemudian hari. Dulu aku tidak terpikir untuk menjadi seorang hamba Tuhan. Walaupun banyak dari keluargaku menjadi hamba Tuhan bahkan menjadi perintis beberapa sidang, tapi aku tidak mau menjadi hamba Tuhan. Mendiang kakekku dari ibu adalah seorang perintis beberapa sidang di daerah kecamatan Bandar Khalipah, Gr. Ev. Ambersius Sitanggang namanya. Sebagai murid jajaran pertama dari pendiri Gereja Pentakosta Indonesia yaitu mendiang Bpk. Pdt.Ev.R.Siburian, dia menjadi murid dan penginjil yang gigih dan berkuasa. Aku kagum kepadanya dan aku ingin seperti dia yang memberi rasa kepada banyak orang. Tapi aku tidak ingin menjadi hamba Tuhan. Cukuplah sebagai jemaat biasa. Paman-pamanku adik ibuku dan ayahku juga menjadi hamba Tuhan dan disusul oleh abangku juga menjadi hamba Tuhan dan sekarang sudah menjadi pendeta. Ketika mendiang ayahku ikut merintis salah satu pelayanan kurang lebih 20 tahun yang lalu, yang kemudian menjadi suatu sidang, ia belum menjadi hamba Tuhan. Mulai dari ibadah perdana pada pos pelayanan ini sampai menjadi sidang diadakan di rumah kami. Ada kurang lebih 2.5 tahun ibadah raya minggu dan ibadah malam diadakan di rumah kami hingga akhirnya kami memiliki lahan dan membangun gedung gereja. Baik pada ibadah raya maupun pada ibadah-ibadah malam kami duduk dilantai beralaskan tikar, bersempit-sempit hingga ke teras rumah. RSS tipe 18 yang walaupun sudah direnovasi tidak terlalu luas. Sehingga dua set kursi di ruang tamu harus kami keluarkan ke teras setiap ada ibadah. Memang melelahkan, tapi puji Tuhan kami tidak mengeluh melakukannya. Hati kami justeru bersyukur dan semangat melihat semangat jemaat Tuhan yang luar biasa. Kami juga bersyukur kepada Tuhan, kalau kami berkesempatan mengalami sedikit penderitaan dan penghinaan oleh karena pekerjaan Tuhan. Rumah yang merangkap gereja itu berada ditengah-tengah perumahan yang sempit dan berderet. Pujian dan doa yang kami adakan ternyata menjadi sumber kebisingan bagi tetangga kami yang umumnya non kristen. Sering mereka tidak nyaman dengan keadaan ini dan kemudian bereaksi. Kadang-kadang mereka melempari atap rumah kami dan juga meneriakkan penghinaan dengan kata-kata kotor. Kami di hina dan dikucilkan. Ah, itu belum seberapa dibandingkan dengan kehinaan dan penderitaan Yesus. Semua pengalaman manis dan pahit yang kami alami dan garis keturunan hamba-hamba Tuhan tidak mengubah pendirianku. Aku tidak mau menjadi hamba Tuhan. Saat aku berniat dan mewujudkan untuk mendalami alkitab lewat sekolah alkitab pun tidak didasari keinginan untuk menjadi hamba Tuhan tapi karena ingin belajar dan mengetahui lebih dalam firman Tuhan. Juga karena termotivasi oleh sepupuku yang dalam setiap perbincangannya sering dikaitkan dengan firman Tuhan. Tapi, di suatu pagi pada bulan Juni 2001 ketika aku berbaring dan tidur, di spring bed tua itu akan mendapat visi Tuhan. Ketika itu aku sedang menganggur, kalaupun ada kerja, cuma kerja serabutan alias mocok-mocok. Pagi itu aku tidur di spring bed tua itu karena tidak ada pekerjaan. Dalam tidurku aku bermimpi ada sepasang merpati putih masuk ke rumahku. Aku heran, dari mana datangnya merpati ini. Lalu ketika aku menangkap sepasang burung merpati ini, mereka dengan sangat jinak, tidak meronta sedikit pun. Lalu aku buatkan mereka “rumah-rumah” dibelakang rumahku. Mereka kelihatan senang tinggal di “rumah-rumah” yang aku buat ini. Ketika aku bangun, aku bertanya dalam hati “Adakah arti dari semua ini? Bukankah merpati putih itu sebagai lambang dari Roh Kudus? Tapi mengapa dua?”. Malamnya semua pertanyaanku dijawab oleh Tuhan. Sepasang hamba Tuhan yaitu Bpk. Pendeta (waktu itu masih Guru) gembala sidang tempat aku beribadah beserta dengan ibu datang ke rumahku. Mereka meminta aku untuk menjadi bagian dari hamba-hamba Tuhan dan menjadi Sintua. Sempat aku tolak dengan halus, aku bilang aku mau membantu pelayanan di gereja ini semampu aku bisa bantu tapi janganlah menjadi hamba Tuhan. Tapi oleh karena hikmat bapak pendeta ini dan juga karena teringat dengan mimpi saya pagi tadi, akhirnya aku bersedia menjadi sintua.

