Hidup Adalah Kristus, Mati Membuat Hidup Lebih Hidup oleh: Ev. Ronald A. H.
Oroh, M.Div. Manusia hidup dalam kesementaraan ini seringkali
melupakan bahwa hidup ini adalah sementara. Berbagai bencana dan musibah yang
membawa kematian seharusnya mengingatkan kita, bahwa hidup ini hanya sementara
di dunia ini. Maka buat apa kita hidup? Apakah hidup ini hanya untuk
kesementaraan yang kemudian akan berlalu dengan sia-sia? Ataukah kita hidup
untuk kekekalan dengan memanfaatkan kesementaraan ini dan bersiap dalam
kesementaraan ini? C. S. Lewis pernah mengatakan, "Aim at heaven, and you will
get earth thrown in; aim at earth, and you will get neither."
20Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala
hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang,
Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun
oleh matiku. 21Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.
22Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi
buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. 23Aku didesak dari dua
pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus itu memang jauh
lebih baik; 24tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.
(Flp. 1:20-24)
Rasul Paulus dalam kesaksiannya pada jemaat di Filipi, menjelaskan bagaimana
seharusnya orang percaya memandang hidup dan mati. Bagi Paulus, hidup adalah
Kristus (21) dan bekerja memberi buah (22), tetapi hanya lebih perlu untuk
hidup di dunia (24). Sedangkan mati adalah keuntungan (21), karena berdiam
bersama-sama Kritus (23), dan itu lebih baik (23). Jadi, sebenarnya sudah
disimpulkan oleh Rasul Paulus dalam ay.20, Kristus dengan nyata dimuliakan
dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.
Hidup Adalah Kristus
Paulus ingin mengatakan bahwa Kristus adalah sumber, penopang dan pemelihara
serta menjadi tujuan dari hidup ini. Sangat jelas, karena kita dicipta dalam
gambar Kristus, dan mempunyai tujuan untuk menjadi serupa dengan gambaran
Kristus (Rm. 8:29). Dampak tinggal di dalam Kristus, maka pasti akan bekerja
memberi buah. Saya mendapatkan pengertian yang berbeda lagi tentang bekerja
memberi buah. Sekarang, saya ingin melihat dari 3 sisi yang berbeda:
Yang pertama, dalam hubungannya dengan Tuhan. Saya melihatnya seperti di
dalam perumpamaan tentang talenta. Kita bekerja memberi buah, jikalau kita
menjadi seperti hamba-hamba yang baik, yang mengerjakan dan memaksimalkan semua
pemberian Tuhan dan mempersembahkannya untuk kemuliaan Kristus.
Yang kedua, dalam hubungannya dengan sesama manusia. Kita bekerja memberi
buah, bukan hanya dalam pemberitaan Injil, tetapi juga bagaimana memuridkan.
Seorang Pendeta yang baik, seharusnya juga menghasilkan Pendeta-Pendeta yang
baik. Begitu juga dengan pekerjaan dan panggilan-panggilan yang lain. Selain
itu, kita berusaha untuk berbagian dalam hidup orang lain untuk persiapan
menuju kekekalan dengan melayani dan mengasihi.
Yang ketiga, dalam hubungannya dengan bumi ini. Bekerja memberi buah, artinya
kita bertanggung jawab dalam pekerjaan kita masing-masing. Kita mengusahakan
dan memelihara bumi ini (Kej. 2:15 - Konteksnya Taman Eden). Bukan hanya
sekadar bekerja dan mengeksploitasi bumi ini. Dua kata yang diterjemahkan dalam
bahasa Indonesia dengan mengusahakan dan memelihara, keduanya mempunyai nuansa
ibadah, pelayanan dan takut akan Tuhan. Jadi, keseluruhan hidup kita dalam
bekerja memberi buah sangat berhubungan sekali dengan Kristus sebagai Pencipta,
Pemelihara, Penyelamat dan Penyempurna kita.
Tetapi anehnya, Paulus mengatakan untuk tinggal di dunia ini hanya lebih
perlu. Mengapa? Apa gunanya hidup yang sementara ini? Adakah yang jauh lebih
baik dari hidup ini? Mengapa hampir semua orang tidak ingin mati dan ingin
hidup 1000 tahun lagi?
Hidup Lebih Hidup
Banyak orang sebenarnya tidak mengerti tentang kekekalan dan tidak ada
kepastian sama-sekali, sehingga kematian menjadi sesuatu yang menakutkan.
Dibandingkan dengan hidup yang kelihatan ini dan sepertinya kita bisa
mengontrol dan menikmatinya.
Padahal, hidup yang sementara ini adalah persiapan untuk hidup yang kekal,
yang akan sampai selama-lamanya. Itu sebabnya, Paulus mengatakan bahwa mati
jauh lebih baik, karena diam bersama-sama dengan Kristus di dalam kekekalan.
Mati adalah gerbang untuk masuk ke dalam kesempurnaan, serupa dengan Kristus,
diam dengan Kristus, menjadi raja sampai selama-lamanya, tidak berdosa lagi,
tidak ada sakit-penyakit, dan bahkan bisa menikmati Allah Tritunggal dalam
segala kelimpahan. Jadi, hidup sesudah mati pasti lebih menyenangkan dari hidup
yang sekarang ini. Seharusnya orang-orang yang sungguh percaya kepada Kristus,
sangat menanti-nantikan akan kematian dan hidup yang kekal. Mata kita
seharusnya memandang kepada kekekalan. Bersukacita dengan segala hal yang
dibukakan kepada kita dan mempersiapkannya dalam kesementaraan ini.
Apakah ini berarti bahwa kesementaraan ini menjadi tidak berharga dibandingkan
dengan hidup kekal? YA! Tetapi, bukan berarti hidup yang sementara ini tidak
perlu. Justru kita harus melihat hidup yang sementara ini sebagai kesempatan
yang akan berlalu. Kalau kita melihat dengan cara pandang bahwa ini hanya
sementara dan akan berlalu tetapi berdampak untuk kekekalan, maka kita akan
memanfaatkan dan mempergunakannya sebagai mungkin demi untuk Kristus dan untuk
mempersembahkan semuanya kepada Kristus.
Bagi orang Kristen, mati bukan lagi sesuatu yang menakutkan. Malahan kematian
membuat hidup menjadi lebih hidup. Mari kita menunggu dan menanti-nantikan
kematian, bukan untuk kematian itu sendiri. Tetapi bagi Kristus, yang sudah
mati dan bangkit, dan yang akan membangkitkan kita untuk hidup bagi Dia dalam
kekekalan. Sementara kita menunggu, mari kita bekerja memberi buah,
mempersiapkan diri kita dan orang-orang pilihan lainnya untuk hidup dalam
kekekalan. Karena hidup adalah Kristus dan mati membuat hidup menjadi lebih
hidup.
If you read history you will find that the Christians who did most for the
present world were precisely those who thought most of the next. It is since
Christians have largely ceased to think of the other world that they have
become so ineffective in this.
C. S. Lewis (1898-1963)
British Academic, Writer, Christian Apologist
Sumber:
http://roielministry.org/2007/03/hidup-adalah-kristus-mati-membuat-hidup.html
Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio
Profil Ev. Ronald A. H. Oroh:
Ev. Ronald Arthur Horald Oroh, S.Si., M.Div. lahir pada tanggal 8 Juni 1972
di Manado. Beliau menyelesaikan studi Master of Divinity (M.Div.) di Institut
Reformed, Jakarta.
""Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di
depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."
(1Sam. 16:7b)
---------------------------------
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
br>Cepat sebelum diambil orang lain!