From: Romo maryo Mg Biasa XXX : Kel 22:20-26; 1Tes 1:5c-10; Mat 22:34-40 "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?"
Entah ada berapa ribu tatanan atau aturan hidup bersama yang telah diundangkan atau diberlakukan di Indonesia ini: UU, Keppres, Inpres, PP (entah tingkat nasional atau daerah berupa Perda-Perda), peraturan kepegawaian, dst.. Dalam hidup beragama juga diberlakukan berbagai aturan dan tatanan untuk menuntun dan mendampingi umat beragama dalam menghayati imannya didalam hidup sehari-hari. Selain peraturan yang mengikat juga ada pedoman atau petunjuk yang lebih konkret, sebagai usaha pemahaman dan penterjemahan aturan dan tatanan yang ada dan diharapkan membantu mereka yang terkait lebih mudah melaksanakan aturan dan tatanan hidup. Semakin banyak aturan, tatanan, pedoman dan petunjuk rasanya menunjukkan bahwa warga atau umat kurang beriman atau menghayati diri sebagai ciptaan terluhur dan termulia di bumi ini, yang diciptakan dalam dan oleh kasih Elohim dengan kerjasama laki-laki dan perempuan yang saling mengasihi menjadi suami-isteri. Aneka tatanan atau aturan hidup yang ada hemat saya sebagai tuntunan untuk hidup saling mengasihi, maka hendaknya melihat, memahami dan menyikapi serta melaksanakan tatanan dan aturan yang ada dalam dan oleh cintakasih, sebagai hukum yang pertama dan utama. "Kasihilah Tuhan, Elohimmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:37-39). “Mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi”, itulah hukum yang utama dan pertama, yang menjiwai aneka tatanan dan aturan hidup. Yang dimaksud dengan ‘segenap’ adalah utuh dan tidak berkurang sedikitpun, maka jika tidak utuh berarti cacat alias sakit: sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi, rasanya orang tidak dapat mengasihi sebagaimana dicita-citakan atau diharapkan, dan ada kemungkinan perwujudan cintakasih secara konkret seperti ciuman, kata-kata mesra, hubungan seks antar suami-isteri dst. merupakan permainan sandiwara atau pura-pura cinta saja. Maka baiklah kita mawas diri sejauh mana sakit hati, sakit jiwa atau sakit akal budi (maaf: sakit tubuh dapat kelihatan, sedangkan yang sakit hati, jiwa atau akal budi sering tidak atau kurang kelihatan). Pada hemat saya orang sakit hati, sakit jiwa atau sakit akal budi, yang memang dapat berdampak atau berakitat pada sakit tubuh/phisik, karena yang bersangkutan tidak tahu atau tidak berani menghayati kasih yang telah diterima secara melimpah ruah alias tidak tahu terima kasih. Masing-masing dari kita diciptakan oleh Elohim bekerja sama dengan orangtua/bapak-ibu kita dalam dalam oleh cintakasih dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh/tenaga, serta dapat tumbuh dan berkembang seperti saat ini hanya dan karena cintakasih yang sama. Segala bentuk perhatian, sapaan, sentuhan dst..dari orang lain kepada kita adalah perwujudan cintakasih mereka kepada kita, orang yang lemah dan rapuh ini. Maka untuk menghayati perintah ‘mengasihi Elohim dan sesama” , sebagai perintah yang utama dan pertama kiranya tidak suli, karena kita tinggal meneruskan cintakasih yang melimpah ruah dalam diri kita, tentu saja asal kita tidak pelit. Mengasihi Elohim memang harus menjadi nyata dalam mengasihi sesama, atau tanda bahwa orang mengasihi Elohim adalah mengasihi sesamanya dalam keadaan atau kondisi apapun, dimanapun dan kapanpun. Maka marilah kita mengasihi sesama kita antara lain dengan menghayati keutamaan-keutamaan atau makna cintakasih ini: “sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran, menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1Kor 13:4-7) “Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu.Dan kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus, sehingga kamu telah menjadi teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya” (1Tes 1:5c-7). Dengan penuh cintakasih sebagaimana diajarkan oleh Yesus, Paulus telah bekerja keras mewartakan Kabar Baik/Kabar Gembira, dan mereka yang telah menerima pewartaannya juga telah menjadi ‘penurut Paulus dan penurut Tuhan’ karena karya Roh Kudus dalam diri mereka. Keteladanan dalam mempersembahkan atau menyerahkan diri seutuhnya demi kebahagiaan atau keselamatan orang lain, itulah yang dihayati oleh Paulus serta diharapkan dari para pendengarnya: teladan hidup mempersembahkan atau menyerahkan diri bagi keselamatan atau kebahagiaan orang lain alias menjadi ‘man or woman for/with others’. Apa yang ada pada kita, kita miliki dan kuasa saat ini adalah anugerah Elohim yang kita terima melalui mereka yang telah mengasihi dan berbuat baik kepada kita, maka selayaknya juga kita fungsikan dan hayati bagi keselamatan dan kebahagiaan orang lain. Siapa orang lain itu? Orang lain yang dimaksudkan antara lain ‘orang asing, janda dan anak yatim piatu’, sebagaimana diwartakan di dalam Kitab Keluaran hari ini. Namun hemat saya sebelum mengasihi ‘orang asing, janda dan anak yatim piatu’, hemat saya pertama-tama kita harus mengasihi mereka yang dekat dan hidup atau bekerja bersama dengan kita setiap hari, entah di dalam keluarga maupun tempat kerja. Kebersamaan hidup dan kerja kita hendaknya menjadi teladan dalam hidup dan bekerja saling mengasihi. Jika kita mampu dan terampil mengasihi mereka yang dekat dengan kita (suami/isteri, anak/, orangtua, kakak/adik, pembantu, rekan kerja dst..), maka panggilan untuk mengasihi orang lain akan lebih mudah, sebaliknya jika kita tidak mampu dan tidak terampil mengasihi mereka yang dekat dengan kita, maka mengasihi orang lain berarti pelarian dari tanggungjawab. Jika kita mampu dan terampil mengasihi mereka yang dekat dengan kita maka mengasihi yang lain berarti melayani, sebaliknya jika tak mampu mengasih yang dekat dengan kita maka mengasihi yang lain berarti menindas, menjadikan yang lain sebagai pemuas nafsu egonya, dan dengan demikian cintakasihnya pura-pura, permainan sandiwara belaka. “Orang asing, janda dan yatim piatu” memang sering kurang memperoleh perhatian, namun sering menjadi bahan gunjingan atau ngrumpi atau bahkan menjadikan mereka untuk mencari keuntungan sendiri dengan menindas mereka. ‘Orang asing, janda dan yatim piatu’ dijadikan obyek proposal proyek untuk mencari ‘sumbangan atau bantuan’, dan ketika ada sumbangan atau bantuan tidak langsung diteruskan kepada mereka melainkan dinikmati atau dimakan sendiri, untuk memperkaya diri sendiri. Kegiatan yang demikian itu sering terjadi di Indonesia sebagaimana terjadi dalam kasus bencana alam seperti banjir bandang, tsunami, gempa bumi dll. Sumbangan yang berasal dari pribadi atau organisiasi yang baik dan murah hati tidak diteruskan kepada para korban bencana alam melainkan diselewengkan untuk kepentingan pribadi atau golongannya sendiri. Kepada mereka ini kami ajak merenungkan kutipan ini: “Jika engkau memang menindas mereka ini, tentulah Aku akan mendengarkan seruan mereka, jika mereka berseru-seru kepada-Ku dengan nyaring. Maka murka-Ku akan bangkit dan Aku akan membunuh kamu dengan pedang, sehingga isteri-isterimu menjadi janda dan anak-anakmu menjadi yatim. Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih hutang terhadap dia: janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya. Jika engkau sampai mengambil jubah temanmu sebagai gadai, maka haruslah engkau mengembalikannya kepadanya sebelum matahari terbenam” (Kel 22:23-26) "Aku mengasihi Engkau, ya TUHAN, kekuatanku!Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Elohimku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku! Terpujilah TUHAN, seruku; maka aku pun selamat dari pada musuhku” (Mzm 18:2-4) ================================================ From: [EMAIL PROTECTED] A CHARITY NITE FOR JACQLIEN CELOSSE - OCT. 29 [WED] We Love You Jaclien - from Julita's blog site Kehadiran Jacqlien Celosse dalam blantikan musik rohani Indonesia sungguh membawa kesegaran baru, karena warna rock yang diusungnya. Belum lagi suaranya yang serak-serak berat, membuat banyak hati yang berpaling padanya dan menjadi fansnya. Bener loh, bahkan mama saya sendiri yang jelas-jelas sudah bukan anak muda lagi, sangat ngefans dengan Jacqlien. Belakangan ini pasti banyak yang mendengar kalau Jacqlien sedang sakit. Kabarnya memang simpang siur. Saya sempat mendengar Jacqlien menjalani pengobatan di Surabaya, kemudian ada yang bilang sudah baikan. Eh..nggak berapa lama ada yang bilang lagi sakitnya semakin parah. Saya mencoba melihat di webnya, ternyata nggak bisa diakses. Sampai akhirnya saya mendapat kabar resmi, bahwa akhirnya Jacqlien dibawa ke RS di Guang Zhou, China. Dan kabar terakhir, penyakit yang didiagnosa adalah AUTO IMMUNE dimana tubuh memproduksi kelebihan vitamin, yang dampaknya sudah menyerang sampai ke paru-paru. Penyakit yang sudah mendera tubuhnya selama beberapa waktu ini, tentunya menelan biaya yang tidak sedikit. Kehidupan Jacqlien memang mengharu biru. Tapi dapat kita lihat kasih Bapa yang begitu besar atasnya dan menyelamatkannya. Berikut cuplikan testimony perjumpaan pertamanya dengan Yesus, yang saya kutip dari friendster sitenya.... Saya, Jacqlien Celosse lahir dalam keluarga yang kurang harmonis, dimana sejak kecil selalu melihat orang tua yang selalu bertengkar dan keluar masuk pengadilan untuk bercerai. Dan pada usia 12 tahun, saya mengalami sakit di bagian kepala yang tidak bisa disembuhkan dan harus minum obat seumur hidup untuk dapat bertahan hidup. Dalam keadaan seperti ini membuat saya putus asa dan akhirnya terlibat dengan narkoba, minuman keras dan beberapa kali mencoba untuk bunuh diri dengan minum obat racun serangga, bahkan pernah yang paling terakhir saya mencoba mencampur minuman keras, spirtus, dan narkoba dan meminumnya sekaligus tetapi karena kebaikan Tuhan saya hanya pingsan dan ketika bangun sudah berada di selokan. Dalam keadaan putus asa saya bertemu sesesorang di sebuah stasiun TV, di mana penata rias yang merias bersaksi tentang Tuhan Yesus dan dia berkata Tuhan mengasihi aku, pada saat itu saya merasa sebuah damai sejahtera yang luar biasa menguasai diriku. Dan kemudian penata rias itu memperkenalkan saya dengan seorang hamba Tuhan dan pada saat itu juga saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan Tuhan Yesus juga menyembuhkan penyakit saya, dan memulihkan keluarga saya. Dan kini saya telah berkeluarga dan memiliki seorang suami seorang hamba Tuhan Pdt. David Novendus dan juga dikarunia 2 orang anak yaitu Karen Serouna & Keith David. Bersama-sama dengan suami, saya menggembalakan sebuah sidang jemaat yaitu The Rock Church. Jacqlien Celosse ---------------------------------------------------------- Saya sangat percaya sekali, ketika Tuhan menyelamatkannya, Tuhan juga punya rencana besar atas kehidupannya. Kalau Tuhan ijinkan saat ini penyakit menyerang tubuhnya, pasti karena Tuhan ingin menyatakan kemuliaanNya lebih lagi. Kita juga masih membutuhkan Jacqlien sebagai partner membawa berita kasih Yesus atas bangsa ini. ================================================ From: eni ariyanti Tetanik dan Dunia Saat berusia 18 tahun, John Harper mendapatkan visi yang kuat tentang Salib Kristus. Sejak itulah ia menyerahkan dirinya untuk menjadi Pekabar Injil. Ia mulai berkhotbah didesanya. Sudut-sudut jalan adalah mimbar baginya untuk memberitakan Kabar Baik dari Surga. Kerinduannya untuk memenangkan jiwa bagi Kristus sangat luar biasa dan mengalahkan segalanya. Dia sering memohon kepada Elohim dengan mukanya sampai ke tanah: ’Beri aku jiwa-jiwa atau aku mati’. Dia memohon sambil menangis dengan hati yang hancur. Ketika berusia 32 tahun dia hampir tenggelam karena kapal yang ditumpanginya bocor. Setelah pengalaman itu ia bersaksi: ’Ketakutan akan kematian tidak pernah menguasai aku walaupun hanya 1 menit. Aku percaya bahwa kematian yang tiba-tiba akan menjadi kemuliaan yang tiba-tiba juga’. Pada tahun 1911, ia diundang berkhotbah selama 3 bulan di Moody Memorial Church – Chicago. Sambutan yang didapat sangat luar biasa bahkan ia diminta untuk berkhotbah lagi di tahun mendatang. Jadual khotbahnya di mulai bulan April 1912. Sebenarnya ia akan naik kapal Lusitania namun karena ada perubahan jadual maka ia naik Titanic. Ketika ia memberitahu Jemaat di gerejanya tentang rencana perjalanan ke Chicago, seorang pendeta meminta dia untuk membatalkan perjalanan ini. Pendeta itu mengatakan bahwa ketika ia berdoa, ia mendapatkan kesan bahwa suatu bencana akan terjadi. Namun Harper tetap memutuskan untuk berangkat karena ia yakin bahwa perjalanannya kali ini mempunyai tujuan ilahi. Malam sebelum kapal Titanic tenggelam, ia memberitakan injil kepada seorang penumpang di anjungan kapal dan membaptisnya di sana. Setelah menabrak gunung es, Titanic mulai tenggelam. Ketika para penumpang mulai menaiki perahu penyelamat, John Harper tidak berhenti-henti berteriak : ‘Wanita, anak- anak dan mereka yang belum percaya Yesus silahkan naik terlebih dahulu’. Ia bahkan juga memberikan jaket pelampungnya kepada orang lain Pada jam 2.20 pagi, 15 April 1912, Titanic lenyap dari permukaan air laut. Harper dan banyak penumpang masih terapung-apung di lautan yang airnya sedingin es. Seorang laki-laki yang bergantung pada sekeping papan melihat Harper berjuang keras supaya tidak tenggelam. Dalam situasi seperti itu Harper masih menyempatkan diri untuk bertanya kepada dia : ’Apakah kamu sudah selamat?’ Ketika laki-laki itu mengatakan ’Belum’, Harper mengutip Kisah Rasul 16:31 ’Percayalah pada Yesus, maka kamu akan selamat’. Laki-laki itu tidak memberikan respon, lalu mereka terpisah ketika ombak datang. Beberapa saat kemudian, ketika gelombang mempertemukan mereka lagi, Harper kembali mengutip ayat yang sama dan mendesaknya untuk percaya kepada Yesus. Karena kelelahan yang luar biasa, Harper tenggelam dan tidak pernah muncul di permukaan lagi. Akhirnya pria itu percaya kepada Yesus dan nyawanya diselamatkan oleh regu penolong. Pria itu bersaksi bahwa dirinyalah buah penginjilan terakhir dari John Harper. John Harper tidak pernah kehilangan fokus untuk memenangkan jiwa bagi Kristus. Berbagai situasi tidak pernah memadamkan api penginjilan dalam hatinya. Bahkan di detik-detik terakhir hidupnya, ia tetap peduli terhadap jiwa yang belum diselamatkan. Dia adalah Pemimpin yang telah habis-habisan untuk Penginjilan karena dia tahu secara pasti bahwa waktu terbatas, Titanic segera tenggelam dan para korban Titanic hanya mempunyai waktu yang terbatas. Dunia kita sekarang ini adalah Titanic kita. Segera akan tenggelam. Umat manusia yang ada di dalamnya akan tenggelam bersamanya. Waktunya terbatas. Kini saatnya menjadi John Harper di dalam Titanic kita. Apa yang akan Anda lakukan?Your life is now. Your life situation is mindstuff. Your life is real.

