From: yunike andreas 

HE first

Ada seseorang yang tak punya makanan apapun untuk keluarganya. Ia masih punya 
bedil tua dan tiga butir peluru.
Jadi, ia putuskan untuk keluar dan menembak sesuatu untuk makan malam.
Saat menelusuri jalan, ia melihat seekor kelinci dan ia tembak kelinci itu tapi 
luput. Lalu ia melihat seekor bajing, dia tembak tapi juga luput lagi.
Ketika ia jalan lebih jauh lagi, dilihatnya seekor kalkun liar diatas pohon dan 
ia hanya punya sisa sebutir pelor, tapi terdengar olehnya suatu suara yang 
berkata begini "berdoalah dulu, bidik keatas dan tinggElohim tetap terfokus."

Namun, pada saat bersamaan, ia melihat seekor rusa yang adalah lebih menguntung 
kan. Senapannya ia turunkan dan dibidiknya rusa itu. Tapi lantas ia melihat ada 
ular berbisa diantara kakinya, siap-siap untuk mematuknya, jadi dia turunkan 
lebih kebawah lagi, mengarah untuk menembak ular itu. Tetap, suara itu masih 
berkata kepadanya, "Aku bilang 'berdoalah dulu, bidik keatas dan tinggElohim 
tetap terfokus.'" Jadi orang itu.
memutuskan untuk menuruti suara itu. Ia berdoa, lalu mengarahkan senapan itu 
tinggi keatas pohon, membidik dan menembak kalkun liar itu.
Peluru itu mental dari kalkun itu dan mematikan rusa. Pegangan senapan tua itu 
lepas, jatuh menimpa kepala si ular itu dan membunuhnya sekali. Dan, ketika 
senapan itu meletus, ia sendiri terpental kedalam kolam.
Saat ia berdiri untuk melihat sekelilingnya, ia dapatkan banyak ikan didalam 
semua kantungnya, seekor rusa, dan, seekor kalkun untuk bekal makanannya.
Ular (Iblis) mati konyol sebab orang itu mendengarkan suara Elohim.

Berdoalah sebelum kau lakukan apapun, bidik dan arahkan keatas pada tujuanmu, 
dan tinggElohim terpusat pada Elohim.
Sebar luaskan ini agar ada seseorang lain yang bakal terberkati.

Jangan kau dikecil hatikan oleh siapapun mengenai masa lampaumu. Masa lampau 
itu memang tepatnya begitu - "sudah lewat, sudah lampau."
Hidupilah setiap hari sehari demi sehari. Dan ingatlah bahwa hanya Elohim yang 
tahu masa depan kita dan bahwa Ia tidak akan membiarkanmu melewati daya tahanmu.

Janganlah memandang pada sesamamu untuk meminta berkat melainkan lihat dan 
bergantungkah pada Tuhan. Ia bisa membuka pintu2 bagimu yang cuma Ia saja yang 
bisa lakukan. Pintu2 yang bukan kau masuki dengan menyelinap, melainkan yang 
hanya Ia yang sudah persiapkan bagi dan demi kamu. Jadi, tunggulah, tenanglah, 
sabarlah: dahulukan Elohim dan lain-lainnya akan menyusul dengan sendirinya.

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Elohim dan kebenarannya, maka semuanya itu akan 
ditambahkan kepadamu (Matius 6:33).

GBU all.
from Reinaldo
===================================================
From: junedy lee 

Refleksi singkat menjelang hari reformasi

Berikut ini saya rasa dapat menjadi refleksi singkat bagi kita menjelang hari 
reformasi tahun ini. Ini juga adalah hasil dari pelajaran dan ceramah dari 
beberapa dosen luar negeri melalui ceramah mereka di internet (misalnya: DA 
Carson, dll).

Apa yang sudah dicapai setelah reformasi berlangsung ratusan tahun? Rasanya 
memang banyak hal yang perlu kita syukuri karena reformasi yang sudah begitu 
berdampak besar bagi kekristenan. Tetapi coba kita pikirkan bahwa sebelum 
reformasi Martin Luther, orang-orang Kristen tidak memiliki pengetahuan Alkitab 
yang baik karena tidak ada Alkitab yang mereka miliki. Zaman sekarang, setelah 
semua orang Kristen memiliki Alkitab dalam bahasa mereka masing-masing, bahkan 
ada yang memiliki dua buah atau lebih, tetap saja masih banyak yang buat 
Alkitab bukan? Mereka lebih tahu harga dolar yang tidak stabil, nama bintang 
film atau olah raga, dll daripada tokoh2 dan konsep Alkitab?

Jikalau pada zaman sebelum reformasi Luther, hanya ada satu Paus yang menafsir 
Alkitab seenak perut dan nafsunya, maka pada zaman sekarang bukankah semua 
orang rasanya jadi 'paus' dengan menafsir seenak jidat dan nafsu (budaya hasrat 
dan nafsu zaman sekarang, mualia dari film ML, Ku tunggu janda-mu, dll) mereka? 
(misalnya: masalah bahasa roh, karunia, dll termasuk masalah boleh pakai komik 
atau musik rock) Bukankah rasanya keadaan menjadi tidak lebih baik setelah 
reformasi berlangsung setelah ratusan tahun.

Dimana semangat "eklesia semper reformanda..." itu? Apakah terkubur bersama 
Luther di kuburannya?

Jikalau dibutuhkan seorang Luther untuk 'mengulingkan' seorang paus, berapa 
banyak Luthr yang dibutuhkan untuk 'mengulingkan' orang-orang yang menjadi 
paus-paus itu?

Kiranya refleksi singkat ini dapat menjadi perenungan kita di hari reformasi 
tahun ini.
=====================================================
From: Adi Kurniawan 

Sola Scriptura 

Grace and peace,

Di hari Reformasi ini, ijinkan saya mempersembahkan terjemahan berikut ini:
Artikel berikut ini diterjemahkan dengan sedikit pengeditan dari artikel Sola 
Scriptura, Buletin Pilgrim Covenant Church, tanggal 27 Januari 2002. Artikel 
ini ditulis oleh Pastor Lim Jyh Jang.

Beberapa waktu lalu seseorang dari sebuah gereja fundamental, yang menjunjung 
tinggi Alkitab, menulis kepada saya untuk meminta nasehat. Ia sedang berdebat 
dengan beberapa orang Katolik Roma mengenai doktrin sola scriptura, dan 
dipojokkan oleh mereka. Dalam kata-katanya sendiri ia "sedang berjuang dalam 
peperangan yang kalah." Mereka memakai Alkitab untuk menunjukkan kepadanya 
bahwa Alkitab tidak mengajarkan sola scriptura seperti yang ia klaim. Ia 
menunjukkan kepada saya suatu artikel bertahun 1995 yang nampaknya ditulis oleh 
seorang Katolik Roma yang dulunya Protestan. 

Artikel itu dimulai dengan kata-kata:
Doktrin Protestan sola scriptura-bahwa hanya Alkitablah otoritas seorang 
Kristen dalam persoalan iman dan moral-adalah salah satu doktrin sentral yang 
mendasari pemisahan diri para Reformator dari Gereja Katolik. Akan tetapi 
anehnya, sola scriptura belakangan ini telah menjadi salah satu doktrin sentral 
yang mendasari beberapa orang Protestan Injili untuk kembali ke Roma.
Ketika saya membaca artikel tersebut, dan artikel lain yang ditunjukkan kepada 
saya, menjadi jelas bahwa kecurigaan saya sekian lama ini-berkenaan dengan sola 
scriptura-sangat mungkin lebih benar daripada yang saya kira. Tidak, saya tidak 
ragu bahwa posisi Reformed akan sola scriptura itu Alkitabiah. Kecurigaan saya 
yaitu bahwa sebagian besar kaum Injili dan fundamental modern telah, 
kenyataannya, menyimpang dari doktrin sola scriptura yang diajarkan oleh para 
Reformator, seperti Calvin dan Luther. Saya menemukan bahwa sola scriptura yang 
menyimpang inilah yang dipertahankan secara mati-matian oleh beberapa orang 
Protestan, dan bahwa doktrin yang menyimpang ini jugalah yang diabaikan oleh 
orang-orang yang dulunya Protestan dan sekarang menjadi Katolik Roma.

Tidak lama setelah itu, seorang saudari seiman dengan sangat baik mengirimkan 
saya sebuah buku tulisan Keith A. Mathison dengan judul "The Shape of Sola 
Scriptura" (Idaho: Canon Press, 2001). Buku ini pada dasarnya mengkonfirmasi 
kecurigaan saya dan juga memperkuat keyakinan saya sendiri berkenaan dengan 
sola scriptura. Dalam artikel ini, saya tidak bermaksud memberikan resensi 
terhadap buku ini, meskipun saya akan cukup banyak mengutipnya. Saya sangat 
merekomendasikan Anda untuk membaca buku ini jika Anda masih memiliki keraguan 
atau ingin mempelajari isu ini lebih dalam setelah membaca artikel yang singkat 
ini. 

Dalam artikel ini saya ingin mengulas secara singkat empat pandangan berkenaan 
dengan Alkitab, yang dipegang oleh gereja-gereja yang kelihatan hari ini. Empat 
macam pandangan ini diulas dengan cukup tuntas dalam buku Mathison. 

Tradisi I: Pandangan Reformed atau Sola Scriptura Klasik
Pandangan Reformed mengenai sola scriptura dapat dibilang memiliki dua aspek. 
Aspek yang pertama dan primer menegaskan bahwa hanya ada satu sumber wahyu 
ilahi yang tersedia bagi kita, yaitu Kitab Suci, dan bahwa hanya itulah 
otoritas ultimat bagi iman dan kehidupan kita. Doktrin ini secara singkat dan 
jelas diekspresikan dalam Westminster Confession of Faith (WCF) 1.6a:
Seluruh kehendak Elohim, mengenai segala sesuatu yang penting bagi 
kemuliaan-Nya, keselamatan, iman, dan hidup manusia, dituliskan dengan jelas 
dalam Alkitab, atau dapat disimpulkan dari Alkitab: kepadanya tak suatu apa pun 
pada waktu kapan pun dapat ditambahkan, apakah melalui wahyu baru Roh Kudus, 
atau tradisi manusia.
Inilah doktrin yang mendapat dukungan yang tidak dapat disangkal dari Alkitab. 
Menulis di bawah pengawasan ilahi yang tidak akan disangkal oleh seorang anak 
Tuhan yang sejati, Rasul Paulus menegaskan:
Segala tulisan yang diilhamkan Elohim memang bermanfaat untuk mengajar, untuk 
menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam 
kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Elohim diperlengkapi 
untuk setiap perbuatan baik (2 Timotius 3:16-17).
Alkitab, dengan kata lain, diilhamkan Elohim dan diberikan terutama untuk 
mengajar kita apa yang harus kita percayai mengenai Elohim dan tugas apa yang 
dituntut Elohim dari kita. Kita harus mengakui bahwa ayat ini sendiri tidak 
membuktikan bahwa Alkitab cukup dan merupakan otoritas satu-satunya bagi 
Gereja. Meskipun demikian, jika dilihat bersama dengan ayat-ayat lainnya, 
inilah kesimpulan yang kita capai. Ada banyak tempat di Perjanjian Baru yang 
mengajarkan kita untuk menguji dan membuktikan segala yang kita dengar atau 
baca (contohnya, Galatia 1:8-9; 2 Tesalonika 2:2; 1 Tesalonika 5:21; dan 1 
Yohanes 4:1). Dari ayat-ayat ini, kita harus menyimpulkan bahwa harus ada 
tempat penyimpanan wahyu ilahi yang berotoritas, yang tanpanya kita tidak 
mungkin memverifikasi apa pun hari ini. Dan Gereja tidak pernah mengenal tempat 
penyimpanan yang dapat dipercaya, asli, atau diterima secara universal selain 
66 kitab dalam Alkitab kanonikal. Dari Kanon ini, 39 kitab Perjanjian Lama 
menerima persetujuan implisit dari Tuhan Yesus sendiri, sementara 27 kitab 
Perjanjian Baru ditulis oleh Rasul-rasul atau orang-orang rasuli, dan dianggap 
berotoritas ketika karunia supranatural untuk membeda-bedakan roh belum 
ditarik. Karena alasan inilah Gereja harus menerima sebagai kebenaran apa pun 
yang dituliskan dalam Kanon, tidak peduli apa perkiraan kita akan sumber-sumber 
mereka: apakah itu wahyu langsung dari Elohim, tarikh raja-raja, catatan 
peperangan, daftar perjalanan, surat, atau tradisi lisan. Apa pun yang 
ditemukan dalam Alkitab ada di situ oleh karena inspirasi Elohim. Alkitab 
karena itu harus menjadi otoritas ultimat doktrin dan praksis kita. 

Aspek kedua dan sekunder dari sola scriptura, diberikan dalam WCF 1.6b dan WCF 
31.3, yaitu
Meskipun demikian, kita mengakui pencerahan Roh Elohim perlu untuk mengerti 
hal-hal yang diwahyukan dalam Firman; dan bahwa ada hal-hal mengenai ibadah, 
pemerintahan Gereja, yang lazim bagi manusia dan masyarakat, yang diatur oleh 
alam dan kebijaksanaan Kristen, menurut aturan-aturan umum Firman, yang harus 
selalu diperhatikan.
Menjadi bagian sinode dan konsili untuk secara berotoritas mengambil keputusan 
dalam kontroversi yang menyangkut iman, dan kasus-kasus hati nurani; untuk 
merumuskan peraturan dan arahan demi pengaturan yang lebih baik akan ibadah 
publik kepada Elohim, dan pemerintahan Gereja-Nya; untuk menerima pengaduan 
dalam kasus-kasus administrasi yang tidak beres, dan untuk memutuskan hal 
serupa: ketetapan-ketetapan yang mana, jika sesuai dengan Firman Elohim, harus 
diterima dengan hormat dan taat; bukan saja karena kesesuaiannya dengan Firman, 
tetapi juga karena kuasa yang olehnya itu semua dibuat, sebagai ketetapan 
Elohim, yang ditentukan dalam Firman-Nya.
Ini berarti sola scriptura tidak menyangkal bahwa pencerahan Roh Kudus perlu 
untuk mengerti Alkitab, juga tidak menyangkal bahwa ada otoritas selain 
Alkitab. Alkitab merupakan satu-satunya otoritas yang tidak bersalah, namun 
melalui penetapan Kristus dan karya pencerahan Roh Kudus, Gereja, dan juga 
Konsili serta Pengakuan Iman memiliki otoritas subordinat (meskipun tidak tanpa 
salah, lihat WCF 31.4). Gereja, menurut Paulus, adalah "tiang penopang dan 
dasar kebenaran" (1 Timotius 3:15). Ia bukanlah kebenaran itu sendiri. Kristus 
dan Firman Elohim adalah kebenaran (Yohanes 14:6; 17:17). Tapi gereja ialah di 
mana kebenaran diajarkan dan dijunjung. Dengan kata lain, sola scriptura 
Reformed menyangkal bahwa kita harus mengabaikan semua tradisi dan interpretasi 
yang telah dibuat dalam Gereja. Mathison mengatakannya dengan baik:
Kita bisa berkata bahwa otoritas final kita ialah Alkitab saja, tapi bukan 
Alkitab yang tersendiri. Hanya Alkitab sumber wahyu. Hanya Alkitab yang 
diinspirasikan dan dalam dirinya tanpa salah. Hanya Alkitab standar normatif 
yang tertinggi. Akan tetapi Alkitab tidak eksis dalam vakum. Alkitab diberikan 
kepada Gereja dalam konteks doktrinal dari Injil rasuli. Hanya Alkitab standar 
final, tetapi Alkitab merupakan standar final yang harus digunakan, 
diinterpretasi, dan dikhotbahkan oleh Gereja dalam konteks Kristennya. Jika 
Alkitab tidak diinterpretasikan dengan benar dalam konteksnya yang wajar, 
Alkitab berhenti berfungsi secara wajar sebagai standar (op. cit., 259).

Pengertian sola scriptura ini merupakan konsensus gereja mula-mula sejak zaman 
Rasul-rasul sampai awal abad 14, ketika teori wahyu dua sumber (Tradisi II) 
dicetuskan oleh William dari Ockham (ca. 1280-1349) (ibid., 19-81). Ketika 
Reformasi mulai di abad 16, Gereja Katolik Roma masih belum memiliki pandangan 
dogmatik mengenai kedua tradisi. Sebagian memegang Tradisi I, yang lain 
memegang Tradisi II secara eksplisit atau implisit. Para Reformator berargumen 
menurut Tradisi I untuk menunjukkan seberapa jauh Gereja telah menyimpang dari 
Firman Elohim, akan tetapi mereka tidak memperkenalkan doktrin Alkitab yang 
baru. Ini merupakan pandangan yang ada selama itu (ibid., 83-121). Hanya 
sebagai reaksi terhadap ajaran para Reformator, Roma, pada Konsili Trente 
(1545-1563), menjadikan Tradisi II sebagai dogma (ibid., 128-129).

Tradisi II: Pandangan Roma atau Teori Dua Sumber
Pandangan Roma mengenai Alkitab dapat disimpulkan secara paling baik dalam 
pernyataan Konsili Trente, bahwa Gereja Katolik Roma 
Dengan jelas berpandangan bahwa semua kebenaran yang menyelamatkan dan disiplin 
moral terkandung dalam kitab-kitab yang tertulis dan tradisi-tradisi yang tidak 
tertulis, yang, diterima oleh Rasul-rasul dari mulut Kristus sendiri, atau dari 
Rasul-rasul sendiri, dan didikte oleh Roh Kudus, telah diterima oleh kita, 
disampaikan seolah-olah dari tangan ke tangan: (Sinode), kemudian, mengikuti 
contoh Bapa-bapa ortodoks, menerima dan meninggikan ... Perjanjian Lama dan ... 
Baru-melihat bahwa satu Elohimlah penulis keduanya-sebagaimana juga 
tradisi-tradisi tersebut, serta hal-hal yang menyangkut iman dan moral, sebagai 
yang telah didikte, baik oleh kata-kata langsung Kristus, atau oleh Roh Kudus, 
dan dipelihara dalam Gereja Katolik melalui suksesi yang berkelanjutan 
(penekanan dari saya; Philip Schaff, Pengakuan-pengakuan Iman Kekristenan, 
II.80).
Nampaknya, dalam debat-debat awalnya, ada rancangan awal yang mengusulkan bahwa 
wahyu dikandung "sebagian dalam kitab-kitab tertulis dan sebagian dalam tradisi 
yang tidak tertulis." Usulan ini ditolak karena berbagai alasan, namun 
sebagaimana ditunjukkan oleh Mathison dengan cukup meyakinkan, 
perancang-perancang pengakuan iman tersebut memang bermaksud mengajarkan teori 
dua sumber meskipun keambiguan kata-kata yang akhirnya dipilih (lihat op. cit., 
129-132).

Ada banyak masalah dan keberatan terhadap teori ini (lihat detilnya di ibid., 
211-216).

Pertama, dan terutama, tidak mungkin bagi manusia yang telah jatuh untuk 
mengetahui apa yang diajarkan oleh Rasul-rasul dan bahkan Tuhan selain dari apa 
yang dapat kita pelajari dari Alkitab. Rasul-rasul dan orang-orang rasuli 
mungkin telah merujuk atau mempergunakan tradisi-tradisi lisan dalam beberapa 
kasus, dan melalui tulisan-tulisan kanonikal mereka mereka menyatakan hal-hal 
tersebut sebagai kebenaran (contohnya 2 Timotius 3:8; Yudas 9); namun mereka 
hanya dapat melakukannya di bawah karya khusus Roh Kudus dalam inspirasi (2 
Petrus 1:20-21).

Kedua, tidak ada janji oleh Tuhan untuk berintervensi dalam pemeliharaan 
tradisi lisan, tidak seperti janji-Nya untuk memelihara Gereja-Nya atau Firman 
Kudus-Nya.

Ketiga, jika tradisi sejajar dengan Alkitab sebagai sumber wahyu, maka tidak 
ada cara untuk mengetahui apakah sesuatu yang diajarkan secara lisan itu benar 
atau salah. Jadi, bagaimana kita tahu kita tidak beribadah kepada Elohim dengan 
sia-sia dan mengajarkan perintah manusia (Matius 15:9)?

Keempat, Roma tidak pernah menghasilkan bukti apapun bahwa ada tradisi lisan 
yang disampaikan dari zaman Rasul-rasul. Dan bahkan jika tradisi-tradisi baru 
dapat dibuat dari zaman ke zaman, tidak ada jalan bagi orang Kristen untuk 
mengecek keaslian dan otoritas tradisi tersebut.

Kelima, menjadikan tradisi sejajar dengan Alkitab sering mengharuskan 
perendahan otoritas Alkitab. Satu contoh yang jelas yaitu doktrin Roma bahwa 
Maria adalah perantara bersama Kristus. Namun ini berkontradiksi dengan 
Alkitab, yang mengajar kita bahwa "Karena Elohim itu esa dan esa pula Dia yang 
menjadi pengantara antara Elohim dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus" (1 
Timotius 2:5). Mempercayai Roma berarti menyangkal Alkitab. Contoh mengejutkan 
yang lain mengenai bagaimana tradisi Roma bertabrakan dengan Alkitab bisa 
ditemukan dalam Pengakuan Konsili Trente mengenai Dosa Asal, yang 
mendogmatisasi bahwa baptisan mencuci Dosa Asal: 
Nafsu ini, yang kadang-kadang disebut rasul sebagai dosa, dinyatakan oleh 
Sinode kudus bahwa Gereja Katolik tidak pernah mengertinya disebut sebagai 
dosa, dalam arti sungguh-sungguh dan secara wajar merupakan dosa dalam mereka 
yang lahir kembali, namun karena ia berasal dari dosa, dan berkecenderungan 
kepada dosa. Dan jika siapapun berpandangan lain, biarlah ia terkutuk 
(Pengakuan-pengakuan, II.88).
Pernyataan ini secara efektif menyatakan bahwa Rasul Paulus tidak mengerti 
nafsu sebagaimana dimengerti Gereja, dan kemudian melanjutkan dengan mengutuk 
siapa saja yang berusaha mengajar sebagaimana Paulus mengajar!

Dengan begitu banyak argumen-argumen kuat terhadap teori ini, masuk akal untuk 
menganggap bahwa teori ini tidak stabil dan akan ditolak oleh orang-orang yang 
mau memikirkannya atau berusaha mempertahankannya secara rasional atau secara 
alkitabiah. Inilah kenyataannya, sebagaimana diamati Mathison: 
Kebanyakan teolog Katolik Roma modern telah mengakui problem-problem Tradisi II 
dan menolak konsep tradisi dua sumber. Sebagai gantinya, banyak yang telah 
mengadopsi konsep tradisi di mana pemegang otoritas Gereja ialah sumber wahyu 
yang sebenarnya. Tidak dapat dihindarkan bahwa problem-problem yang terkandung 
dalam Tradisi II akan mengakibatkan Tradisi III (ibid., 216).
Tradisi III: Pandangan Roma yang Baru

Kita tidak akan berbicara banyak mengenai Tradisi III karena pandangan ini 
paling sedikit relevansinya bagi kita, meskipun hal ini menunjukkan bahwa 
apologet-apologet Roma yang mendukung Tradisi II sebenarnya sedikit ketinggalan!

Apa yang diajarkan Tradisi III pada dasarnya yaitu bahwa apapun yang diajarkan 
gereja Roma sekarang ini merupakan tradisi secara definisi.

Walter Burghardt, seorang teolog Katolik Roma, menjelaskan bagaimana posisi ini 
bekerja berkenaan dengan doktrin Asumsi Maria: 
Argumen yang valid bagi tradisi dogmatik, bagi ajaran Gereja di masa lampau 
dapat dibangun dari ajarannya pada masa sekarang. Dan itulah sebenarnya 
pendekatan yang diambil teologi terhadap definisi asumsi sebelum 1 November 
1950. Hal ini dimulai dengan sebuah fakta: konsensus sekarang, dalam pengajaran 
Gereja dan dalam Gereja mengajarkan, bahwa Asumsi Korporeal diwahyukan Elohim. 
Jika itu benar, jika itu merupakan ajaran magisterium sekarang, jika itu adalah 
tradisi Gereja, maka itu selalu merupakan bagian tradisi Gereja, bagian ajaran 
Gereja, bagian tradisi (dikutip oleh Heiko Oberman, The Dawn of the Reformation 
[T&T Clark, 1986], 295).

Penilaian Mathison begitu tajam: 
Tanpa dibilang lagi pandangan tentang tradisi ini merupakan deklarasi akan 
otonomi gereja Roma, dan ketika digabungkan dengan doktrin ketidakbersalahan 
Paus, hasilnya yaitu suatu Gereja yang baginya Alkitab dan tradisi pada 
dasarnya tidak relevan. Jika apapun yang diajarkan Gereja sekarang secara 
definisi merupakan iman rasuli yang murni, dukungan dalam Alkitab atau 
bapa-bapa gereja sesungguhnya tidak perlu lagi. Dengan Tradisi III Roma telah, 
sebagai akibatnya, membebaskan dirinya bukan saja dari Alkitab melainkan juga 
dari beban keputusan-keputusan otoritasnya di masa lalu (op. cit., 135).
===========================================
From: yunike andreas 

Strives
Segala jenis pergumulan yang sering dialami oleh kebanyakan orang percaya akan 
lenyap begitu saja ketika orang yang bersangkutan memutuskan untuk 
menyelaraskan seluruh area kehidupannya dengan prinisp kebenaran yang sudah ia 
ketahui. Dengan menghidupi prinsip kebenaran, ia bagai hidup dalam dunia yang 
berbeda dibanding dengan orang lain (Roma 8).

All kinds of strives that many believers suffer will disappear the moment they 
put every area of their lives in line with the truth, because the truth alone 
has the access to a whole new dimension of life in the Spirit (Romans 8). 

Frustration
Perenungan, pengevaluasian diri, dan perencanaan untuk menata ulang hidup kita 
agar sesuai dengan prinsip firman dapat menjaga diri kita dari segala bentuk 
stres.

Meditation, self-evaluation, and planning to re-define our life according to 
the Word will keep us from all kinds of frustration.

Stres atau tekanan hidup selalu disebabkan karena tidak adanya keteraturan 
ilahi dalam salah satu area kehidupan orang percaya (1 Samuel 16:14-23).

Frustration happens due to the absence of divine order in one or more areas of 
a believer's life (1 Samuel 16:14-23).

Ministry
Suatu aktivitas pelayanan yang dikerjakan dengan sikap hati yang salah justru 
akan mengubah sifat dasar pelayanan tersebut menjadi suatu momok yang dapat 
menelan sang pelayan Tuhan itu sendiri.

A ministry that is carried out with a wrong motivation will automatically alter 
the nature of the ministry that eventually will destroy the minister himself. 

Kirim email ke