From: yunike andreas HE first
Ada seseorang yang tak punya makanan apapun untuk keluarganya. Ia masih punya bedil tua dan tiga butir peluru. Jadi, ia putuskan untuk keluar dan menembak sesuatu untuk makan malam. Saat menelusuri jalan, ia melihat seekor kelinci dan ia tembak kelinci itu tapi luput. Lalu ia melihat seekor bajing, dia tembak tapi juga luput lagi. Ketika ia jalan lebih jauh lagi, dilihatnya seekor kalkun liar diatas pohon dan ia hanya punya sisa sebutir pelor, tapi terdengar olehnya suatu suara yang berkata begini "berdoalah dulu, bidik keatas dan tinggElohim tetap terfokus." Namun, pada saat bersamaan, ia melihat seekor rusa yang adalah lebih menguntung kan. Senapannya ia turunkan dan dibidiknya rusa itu. Tapi lantas ia melihat ada ular berbisa diantara kakinya, siap-siap untuk mematuknya, jadi dia turunkan lebih kebawah lagi, mengarah untuk menembak ular itu. Tetap, suara itu masih berkata kepadanya, "Aku bilang 'berdoalah dulu, bidik keatas dan tinggElohim tetap terfokus.'" Jadi orang itu. memutuskan untuk menuruti suara itu. Ia berdoa, lalu mengarahkan senapan itu tinggi keatas pohon, membidik dan menembak kalkun liar itu. Peluru itu mental dari kalkun itu dan mematikan rusa. Pegangan senapan tua itu lepas, jatuh menimpa kepala si ular itu dan membunuhnya sekali. Dan, ketika senapan itu meletus, ia sendiri terpental kedalam kolam. Saat ia berdiri untuk melihat sekelilingnya, ia dapatkan banyak ikan didalam semua kantungnya, seekor rusa, dan, seekor kalkun untuk bekal makanannya. Ular (Iblis) mati konyol sebab orang itu mendengarkan suara Elohim. Berdoalah sebelum kau lakukan apapun, bidik dan arahkan keatas pada tujuanmu, dan tinggElohim terpusat pada Elohim. Sebar luaskan ini agar ada seseorang lain yang bakal terberkati. Jangan kau dikecil hatikan oleh siapapun mengenai masa lampaumu. Masa lampau itu memang tepatnya begitu - "sudah lewat, sudah lampau." Hidupilah setiap hari sehari demi sehari. Dan ingatlah bahwa hanya Elohim yang tahu masa depan kita dan bahwa Ia tidak akan membiarkanmu melewati daya tahanmu. Janganlah memandang pada sesamamu untuk meminta berkat melainkan lihat dan bergantungkah pada Tuhan. Ia bisa membuka pintu2 bagimu yang cuma Ia saja yang bisa lakukan. Pintu2 yang bukan kau masuki dengan menyelinap, melainkan yang hanya Ia yang sudah persiapkan bagi dan demi kamu. Jadi, tunggulah, tenanglah, sabarlah: dahulukan Elohim dan lain-lainnya akan menyusul dengan sendirinya. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Elohim dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Matius 6:33). GBU all. from Reinaldo =================================================== From: junedy lee Refleksi singkat menjelang hari reformasi Berikut ini saya rasa dapat menjadi refleksi singkat bagi kita menjelang hari reformasi tahun ini. Ini juga adalah hasil dari pelajaran dan ceramah dari beberapa dosen luar negeri melalui ceramah mereka di internet (misalnya: DA Carson, dll). Apa yang sudah dicapai setelah reformasi berlangsung ratusan tahun? Rasanya memang banyak hal yang perlu kita syukuri karena reformasi yang sudah begitu berdampak besar bagi kekristenan. Tetapi coba kita pikirkan bahwa sebelum reformasi Martin Luther, orang-orang Kristen tidak memiliki pengetahuan Alkitab yang baik karena tidak ada Alkitab yang mereka miliki. Zaman sekarang, setelah semua orang Kristen memiliki Alkitab dalam bahasa mereka masing-masing, bahkan ada yang memiliki dua buah atau lebih, tetap saja masih banyak yang buat Alkitab bukan? Mereka lebih tahu harga dolar yang tidak stabil, nama bintang film atau olah raga, dll daripada tokoh2 dan konsep Alkitab? Jikalau pada zaman sebelum reformasi Luther, hanya ada satu Paus yang menafsir Alkitab seenak perut dan nafsunya, maka pada zaman sekarang bukankah semua orang rasanya jadi 'paus' dengan menafsir seenak jidat dan nafsu (budaya hasrat dan nafsu zaman sekarang, mualia dari film ML, Ku tunggu janda-mu, dll) mereka? (misalnya: masalah bahasa roh, karunia, dll termasuk masalah boleh pakai komik atau musik rock) Bukankah rasanya keadaan menjadi tidak lebih baik setelah reformasi berlangsung setelah ratusan tahun. Dimana semangat "eklesia semper reformanda..." itu? Apakah terkubur bersama Luther di kuburannya? Jikalau dibutuhkan seorang Luther untuk 'mengulingkan' seorang paus, berapa banyak Luthr yang dibutuhkan untuk 'mengulingkan' orang-orang yang menjadi paus-paus itu? Kiranya refleksi singkat ini dapat menjadi perenungan kita di hari reformasi tahun ini. ===================================================== From: Adi Kurniawan Sola Scriptura Grace and peace, Di hari Reformasi ini, ijinkan saya mempersembahkan terjemahan berikut ini: Artikel berikut ini diterjemahkan dengan sedikit pengeditan dari artikel Sola Scriptura, Buletin Pilgrim Covenant Church, tanggal 27 Januari 2002. Artikel ini ditulis oleh Pastor Lim Jyh Jang. Beberapa waktu lalu seseorang dari sebuah gereja fundamental, yang menjunjung tinggi Alkitab, menulis kepada saya untuk meminta nasehat. Ia sedang berdebat dengan beberapa orang Katolik Roma mengenai doktrin sola scriptura, dan dipojokkan oleh mereka. Dalam kata-katanya sendiri ia "sedang berjuang dalam peperangan yang kalah." Mereka memakai Alkitab untuk menunjukkan kepadanya bahwa Alkitab tidak mengajarkan sola scriptura seperti yang ia klaim. Ia menunjukkan kepada saya suatu artikel bertahun 1995 yang nampaknya ditulis oleh seorang Katolik Roma yang dulunya Protestan. Artikel itu dimulai dengan kata-kata: Doktrin Protestan sola scriptura-bahwa hanya Alkitablah otoritas seorang Kristen dalam persoalan iman dan moral-adalah salah satu doktrin sentral yang mendasari pemisahan diri para Reformator dari Gereja Katolik. Akan tetapi anehnya, sola scriptura belakangan ini telah menjadi salah satu doktrin sentral yang mendasari beberapa orang Protestan Injili untuk kembali ke Roma. Ketika saya membaca artikel tersebut, dan artikel lain yang ditunjukkan kepada saya, menjadi jelas bahwa kecurigaan saya sekian lama ini-berkenaan dengan sola scriptura-sangat mungkin lebih benar daripada yang saya kira. Tidak, saya tidak ragu bahwa posisi Reformed akan sola scriptura itu Alkitabiah. Kecurigaan saya yaitu bahwa sebagian besar kaum Injili dan fundamental modern telah, kenyataannya, menyimpang dari doktrin sola scriptura yang diajarkan oleh para Reformator, seperti Calvin dan Luther. Saya menemukan bahwa sola scriptura yang menyimpang inilah yang dipertahankan secara mati-matian oleh beberapa orang Protestan, dan bahwa doktrin yang menyimpang ini jugalah yang diabaikan oleh orang-orang yang dulunya Protestan dan sekarang menjadi Katolik Roma. Tidak lama setelah itu, seorang saudari seiman dengan sangat baik mengirimkan saya sebuah buku tulisan Keith A. Mathison dengan judul "The Shape of Sola Scriptura" (Idaho: Canon Press, 2001). Buku ini pada dasarnya mengkonfirmasi kecurigaan saya dan juga memperkuat keyakinan saya sendiri berkenaan dengan sola scriptura. Dalam artikel ini, saya tidak bermaksud memberikan resensi terhadap buku ini, meskipun saya akan cukup banyak mengutipnya. Saya sangat merekomendasikan Anda untuk membaca buku ini jika Anda masih memiliki keraguan atau ingin mempelajari isu ini lebih dalam setelah membaca artikel yang singkat ini. Dalam artikel ini saya ingin mengulas secara singkat empat pandangan berkenaan dengan Alkitab, yang dipegang oleh gereja-gereja yang kelihatan hari ini. Empat macam pandangan ini diulas dengan cukup tuntas dalam buku Mathison. Tradisi I: Pandangan Reformed atau Sola Scriptura Klasik Pandangan Reformed mengenai sola scriptura dapat dibilang memiliki dua aspek. Aspek yang pertama dan primer menegaskan bahwa hanya ada satu sumber wahyu ilahi yang tersedia bagi kita, yaitu Kitab Suci, dan bahwa hanya itulah otoritas ultimat bagi iman dan kehidupan kita. Doktrin ini secara singkat dan jelas diekspresikan dalam Westminster Confession of Faith (WCF) 1.6a: Seluruh kehendak Elohim, mengenai segala sesuatu yang penting bagi kemuliaan-Nya, keselamatan, iman, dan hidup manusia, dituliskan dengan jelas dalam Alkitab, atau dapat disimpulkan dari Alkitab: kepadanya tak suatu apa pun pada waktu kapan pun dapat ditambahkan, apakah melalui wahyu baru Roh Kudus, atau tradisi manusia. Inilah doktrin yang mendapat dukungan yang tidak dapat disangkal dari Alkitab. Menulis di bawah pengawasan ilahi yang tidak akan disangkal oleh seorang anak Tuhan yang sejati, Rasul Paulus menegaskan: Segala tulisan yang diilhamkan Elohim memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Elohim diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik (2 Timotius 3:16-17). Alkitab, dengan kata lain, diilhamkan Elohim dan diberikan terutama untuk mengajar kita apa yang harus kita percayai mengenai Elohim dan tugas apa yang dituntut Elohim dari kita. Kita harus mengakui bahwa ayat ini sendiri tidak membuktikan bahwa Alkitab cukup dan merupakan otoritas satu-satunya bagi Gereja. Meskipun demikian, jika dilihat bersama dengan ayat-ayat lainnya, inilah kesimpulan yang kita capai. Ada banyak tempat di Perjanjian Baru yang mengajarkan kita untuk menguji dan membuktikan segala yang kita dengar atau baca (contohnya, Galatia 1:8-9; 2 Tesalonika 2:2; 1 Tesalonika 5:21; dan 1 Yohanes 4:1). Dari ayat-ayat ini, kita harus menyimpulkan bahwa harus ada tempat penyimpanan wahyu ilahi yang berotoritas, yang tanpanya kita tidak mungkin memverifikasi apa pun hari ini. Dan Gereja tidak pernah mengenal tempat penyimpanan yang dapat dipercaya, asli, atau diterima secara universal selain 66 kitab dalam Alkitab kanonikal. Dari Kanon ini, 39 kitab Perjanjian Lama menerima persetujuan implisit dari Tuhan Yesus sendiri, sementara 27 kitab Perjanjian Baru ditulis oleh Rasul-rasul atau orang-orang rasuli, dan dianggap berotoritas ketika karunia supranatural untuk membeda-bedakan roh belum ditarik. Karena alasan inilah Gereja harus menerima sebagai kebenaran apa pun yang dituliskan dalam Kanon, tidak peduli apa perkiraan kita akan sumber-sumber mereka: apakah itu wahyu langsung dari Elohim, tarikh raja-raja, catatan peperangan, daftar perjalanan, surat, atau tradisi lisan. Apa pun yang ditemukan dalam Alkitab ada di situ oleh karena inspirasi Elohim. Alkitab karena itu harus menjadi otoritas ultimat doktrin dan praksis kita. Aspek kedua dan sekunder dari sola scriptura, diberikan dalam WCF 1.6b dan WCF 31.3, yaitu Meskipun demikian, kita mengakui pencerahan Roh Elohim perlu untuk mengerti hal-hal yang diwahyukan dalam Firman; dan bahwa ada hal-hal mengenai ibadah, pemerintahan Gereja, yang lazim bagi manusia dan masyarakat, yang diatur oleh alam dan kebijaksanaan Kristen, menurut aturan-aturan umum Firman, yang harus selalu diperhatikan. Menjadi bagian sinode dan konsili untuk secara berotoritas mengambil keputusan dalam kontroversi yang menyangkut iman, dan kasus-kasus hati nurani; untuk merumuskan peraturan dan arahan demi pengaturan yang lebih baik akan ibadah publik kepada Elohim, dan pemerintahan Gereja-Nya; untuk menerima pengaduan dalam kasus-kasus administrasi yang tidak beres, dan untuk memutuskan hal serupa: ketetapan-ketetapan yang mana, jika sesuai dengan Firman Elohim, harus diterima dengan hormat dan taat; bukan saja karena kesesuaiannya dengan Firman, tetapi juga karena kuasa yang olehnya itu semua dibuat, sebagai ketetapan Elohim, yang ditentukan dalam Firman-Nya. Ini berarti sola scriptura tidak menyangkal bahwa pencerahan Roh Kudus perlu untuk mengerti Alkitab, juga tidak menyangkal bahwa ada otoritas selain Alkitab. Alkitab merupakan satu-satunya otoritas yang tidak bersalah, namun melalui penetapan Kristus dan karya pencerahan Roh Kudus, Gereja, dan juga Konsili serta Pengakuan Iman memiliki otoritas subordinat (meskipun tidak tanpa salah, lihat WCF 31.4). Gereja, menurut Paulus, adalah "tiang penopang dan dasar kebenaran" (1 Timotius 3:15). Ia bukanlah kebenaran itu sendiri. Kristus dan Firman Elohim adalah kebenaran (Yohanes 14:6; 17:17). Tapi gereja ialah di mana kebenaran diajarkan dan dijunjung. Dengan kata lain, sola scriptura Reformed menyangkal bahwa kita harus mengabaikan semua tradisi dan interpretasi yang telah dibuat dalam Gereja. Mathison mengatakannya dengan baik: Kita bisa berkata bahwa otoritas final kita ialah Alkitab saja, tapi bukan Alkitab yang tersendiri. Hanya Alkitab sumber wahyu. Hanya Alkitab yang diinspirasikan dan dalam dirinya tanpa salah. Hanya Alkitab standar normatif yang tertinggi. Akan tetapi Alkitab tidak eksis dalam vakum. Alkitab diberikan kepada Gereja dalam konteks doktrinal dari Injil rasuli. Hanya Alkitab standar final, tetapi Alkitab merupakan standar final yang harus digunakan, diinterpretasi, dan dikhotbahkan oleh Gereja dalam konteks Kristennya. Jika Alkitab tidak diinterpretasikan dengan benar dalam konteksnya yang wajar, Alkitab berhenti berfungsi secara wajar sebagai standar (op. cit., 259). Pengertian sola scriptura ini merupakan konsensus gereja mula-mula sejak zaman Rasul-rasul sampai awal abad 14, ketika teori wahyu dua sumber (Tradisi II) dicetuskan oleh William dari Ockham (ca. 1280-1349) (ibid., 19-81). Ketika Reformasi mulai di abad 16, Gereja Katolik Roma masih belum memiliki pandangan dogmatik mengenai kedua tradisi. Sebagian memegang Tradisi I, yang lain memegang Tradisi II secara eksplisit atau implisit. Para Reformator berargumen menurut Tradisi I untuk menunjukkan seberapa jauh Gereja telah menyimpang dari Firman Elohim, akan tetapi mereka tidak memperkenalkan doktrin Alkitab yang baru. Ini merupakan pandangan yang ada selama itu (ibid., 83-121). Hanya sebagai reaksi terhadap ajaran para Reformator, Roma, pada Konsili Trente (1545-1563), menjadikan Tradisi II sebagai dogma (ibid., 128-129). Tradisi II: Pandangan Roma atau Teori Dua Sumber Pandangan Roma mengenai Alkitab dapat disimpulkan secara paling baik dalam pernyataan Konsili Trente, bahwa Gereja Katolik Roma Dengan jelas berpandangan bahwa semua kebenaran yang menyelamatkan dan disiplin moral terkandung dalam kitab-kitab yang tertulis dan tradisi-tradisi yang tidak tertulis, yang, diterima oleh Rasul-rasul dari mulut Kristus sendiri, atau dari Rasul-rasul sendiri, dan didikte oleh Roh Kudus, telah diterima oleh kita, disampaikan seolah-olah dari tangan ke tangan: (Sinode), kemudian, mengikuti contoh Bapa-bapa ortodoks, menerima dan meninggikan ... Perjanjian Lama dan ... Baru-melihat bahwa satu Elohimlah penulis keduanya-sebagaimana juga tradisi-tradisi tersebut, serta hal-hal yang menyangkut iman dan moral, sebagai yang telah didikte, baik oleh kata-kata langsung Kristus, atau oleh Roh Kudus, dan dipelihara dalam Gereja Katolik melalui suksesi yang berkelanjutan (penekanan dari saya; Philip Schaff, Pengakuan-pengakuan Iman Kekristenan, II.80). Nampaknya, dalam debat-debat awalnya, ada rancangan awal yang mengusulkan bahwa wahyu dikandung "sebagian dalam kitab-kitab tertulis dan sebagian dalam tradisi yang tidak tertulis." Usulan ini ditolak karena berbagai alasan, namun sebagaimana ditunjukkan oleh Mathison dengan cukup meyakinkan, perancang-perancang pengakuan iman tersebut memang bermaksud mengajarkan teori dua sumber meskipun keambiguan kata-kata yang akhirnya dipilih (lihat op. cit., 129-132). Ada banyak masalah dan keberatan terhadap teori ini (lihat detilnya di ibid., 211-216). Pertama, dan terutama, tidak mungkin bagi manusia yang telah jatuh untuk mengetahui apa yang diajarkan oleh Rasul-rasul dan bahkan Tuhan selain dari apa yang dapat kita pelajari dari Alkitab. Rasul-rasul dan orang-orang rasuli mungkin telah merujuk atau mempergunakan tradisi-tradisi lisan dalam beberapa kasus, dan melalui tulisan-tulisan kanonikal mereka mereka menyatakan hal-hal tersebut sebagai kebenaran (contohnya 2 Timotius 3:8; Yudas 9); namun mereka hanya dapat melakukannya di bawah karya khusus Roh Kudus dalam inspirasi (2 Petrus 1:20-21). Kedua, tidak ada janji oleh Tuhan untuk berintervensi dalam pemeliharaan tradisi lisan, tidak seperti janji-Nya untuk memelihara Gereja-Nya atau Firman Kudus-Nya. Ketiga, jika tradisi sejajar dengan Alkitab sebagai sumber wahyu, maka tidak ada cara untuk mengetahui apakah sesuatu yang diajarkan secara lisan itu benar atau salah. Jadi, bagaimana kita tahu kita tidak beribadah kepada Elohim dengan sia-sia dan mengajarkan perintah manusia (Matius 15:9)? Keempat, Roma tidak pernah menghasilkan bukti apapun bahwa ada tradisi lisan yang disampaikan dari zaman Rasul-rasul. Dan bahkan jika tradisi-tradisi baru dapat dibuat dari zaman ke zaman, tidak ada jalan bagi orang Kristen untuk mengecek keaslian dan otoritas tradisi tersebut. Kelima, menjadikan tradisi sejajar dengan Alkitab sering mengharuskan perendahan otoritas Alkitab. Satu contoh yang jelas yaitu doktrin Roma bahwa Maria adalah perantara bersama Kristus. Namun ini berkontradiksi dengan Alkitab, yang mengajar kita bahwa "Karena Elohim itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Elohim dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus" (1 Timotius 2:5). Mempercayai Roma berarti menyangkal Alkitab. Contoh mengejutkan yang lain mengenai bagaimana tradisi Roma bertabrakan dengan Alkitab bisa ditemukan dalam Pengakuan Konsili Trente mengenai Dosa Asal, yang mendogmatisasi bahwa baptisan mencuci Dosa Asal: Nafsu ini, yang kadang-kadang disebut rasul sebagai dosa, dinyatakan oleh Sinode kudus bahwa Gereja Katolik tidak pernah mengertinya disebut sebagai dosa, dalam arti sungguh-sungguh dan secara wajar merupakan dosa dalam mereka yang lahir kembali, namun karena ia berasal dari dosa, dan berkecenderungan kepada dosa. Dan jika siapapun berpandangan lain, biarlah ia terkutuk (Pengakuan-pengakuan, II.88). Pernyataan ini secara efektif menyatakan bahwa Rasul Paulus tidak mengerti nafsu sebagaimana dimengerti Gereja, dan kemudian melanjutkan dengan mengutuk siapa saja yang berusaha mengajar sebagaimana Paulus mengajar! Dengan begitu banyak argumen-argumen kuat terhadap teori ini, masuk akal untuk menganggap bahwa teori ini tidak stabil dan akan ditolak oleh orang-orang yang mau memikirkannya atau berusaha mempertahankannya secara rasional atau secara alkitabiah. Inilah kenyataannya, sebagaimana diamati Mathison: Kebanyakan teolog Katolik Roma modern telah mengakui problem-problem Tradisi II dan menolak konsep tradisi dua sumber. Sebagai gantinya, banyak yang telah mengadopsi konsep tradisi di mana pemegang otoritas Gereja ialah sumber wahyu yang sebenarnya. Tidak dapat dihindarkan bahwa problem-problem yang terkandung dalam Tradisi II akan mengakibatkan Tradisi III (ibid., 216). Tradisi III: Pandangan Roma yang Baru Kita tidak akan berbicara banyak mengenai Tradisi III karena pandangan ini paling sedikit relevansinya bagi kita, meskipun hal ini menunjukkan bahwa apologet-apologet Roma yang mendukung Tradisi II sebenarnya sedikit ketinggalan! Apa yang diajarkan Tradisi III pada dasarnya yaitu bahwa apapun yang diajarkan gereja Roma sekarang ini merupakan tradisi secara definisi. Walter Burghardt, seorang teolog Katolik Roma, menjelaskan bagaimana posisi ini bekerja berkenaan dengan doktrin Asumsi Maria: Argumen yang valid bagi tradisi dogmatik, bagi ajaran Gereja di masa lampau dapat dibangun dari ajarannya pada masa sekarang. Dan itulah sebenarnya pendekatan yang diambil teologi terhadap definisi asumsi sebelum 1 November 1950. Hal ini dimulai dengan sebuah fakta: konsensus sekarang, dalam pengajaran Gereja dan dalam Gereja mengajarkan, bahwa Asumsi Korporeal diwahyukan Elohim. Jika itu benar, jika itu merupakan ajaran magisterium sekarang, jika itu adalah tradisi Gereja, maka itu selalu merupakan bagian tradisi Gereja, bagian ajaran Gereja, bagian tradisi (dikutip oleh Heiko Oberman, The Dawn of the Reformation [T&T Clark, 1986], 295). Penilaian Mathison begitu tajam: Tanpa dibilang lagi pandangan tentang tradisi ini merupakan deklarasi akan otonomi gereja Roma, dan ketika digabungkan dengan doktrin ketidakbersalahan Paus, hasilnya yaitu suatu Gereja yang baginya Alkitab dan tradisi pada dasarnya tidak relevan. Jika apapun yang diajarkan Gereja sekarang secara definisi merupakan iman rasuli yang murni, dukungan dalam Alkitab atau bapa-bapa gereja sesungguhnya tidak perlu lagi. Dengan Tradisi III Roma telah, sebagai akibatnya, membebaskan dirinya bukan saja dari Alkitab melainkan juga dari beban keputusan-keputusan otoritasnya di masa lalu (op. cit., 135). =========================================== From: yunike andreas Strives Segala jenis pergumulan yang sering dialami oleh kebanyakan orang percaya akan lenyap begitu saja ketika orang yang bersangkutan memutuskan untuk menyelaraskan seluruh area kehidupannya dengan prinisp kebenaran yang sudah ia ketahui. Dengan menghidupi prinsip kebenaran, ia bagai hidup dalam dunia yang berbeda dibanding dengan orang lain (Roma 8). All kinds of strives that many believers suffer will disappear the moment they put every area of their lives in line with the truth, because the truth alone has the access to a whole new dimension of life in the Spirit (Romans 8). Frustration Perenungan, pengevaluasian diri, dan perencanaan untuk menata ulang hidup kita agar sesuai dengan prinsip firman dapat menjaga diri kita dari segala bentuk stres. Meditation, self-evaluation, and planning to re-define our life according to the Word will keep us from all kinds of frustration. Stres atau tekanan hidup selalu disebabkan karena tidak adanya keteraturan ilahi dalam salah satu area kehidupan orang percaya (1 Samuel 16:14-23). Frustration happens due to the absence of divine order in one or more areas of a believer's life (1 Samuel 16:14-23). Ministry Suatu aktivitas pelayanan yang dikerjakan dengan sikap hati yang salah justru akan mengubah sifat dasar pelayanan tersebut menjadi suatu momok yang dapat menelan sang pelayan Tuhan itu sendiri. A ministry that is carried out with a wrong motivation will automatically alter the nature of the ministry that eventually will destroy the minister himself.

