From: "rudi mulia" <[EMAIL PROTECTED]>

Berdoa Bersama Anak-Anak

Keluarga Kristen terbentuk dan berdiri di atas satu-satunya dasar, yaitu Yesus 
Kristus.
Sumber nilai keluarga Kristen adalah Firman Elohim. Firman itu harus ditanam di 
dalam rumah tangga. Nilai itu ibarat benih, dan benih itu adalah Firman.(Prof. 
Taliziduhu Ndraha)

Rumah nikah kita sudah dibangun oleh Tuhan (Maz 127-128). Salah satu cara kita 
membiarkan Tuhan memelihara rumah nikah ini adalah dengan menjadikan Tuhan 
sebagai pusat keluarga kita (Ulangan 6:4-9) dan menjadikan keluarga sebagai
pusat kehidupan kita sehari-hari.

Setiap kegiatan kita hendaknya berpusat pada keluarga. Semua suami (laki-laki) 
bekerja
untuk memenuhi kebutuhan keluarga (isteri dan anak-anak). Tetapi di balik usaha
kerasnya dia tidak melupakan peran (tugas)-nya sebagai ayah bagi anak-anaknya
dan suami bagi istrinya. Demikian juga para istri. Mungkin bos kita di kantor 
tidak mau kehilangan kita sebagai manajer pemasaran yang handal atau sekretaris 
yang cekatan. Apapun diberikan asal kita tidak keluar dari pekerjaan. Jangan 
lupa, itu dilakukannya demi
perusahaannya, bukan demi keluarga kita.

Memulai Persekutuan Keluarga

Ibadah keluarga adalah salah satu cara mendidik anak-anak mengenal firman 
Tuhan. Itu kita tahu, tapi tidak mudah melaksanakannya.
Tapi kalau kita menyadari dampaknya bagi keturunan kita kelak, kita akan terus
berusaha melakukannya. Orangtua saya (Wita) sudah memulai persekutuan dalam
keluarga kami ketika kami masih kecil. Sekarang itu menjadi modal saya untuk 
keluarga saya sendiri. Saya berharap, anak-anak saya meneruskannya untuk 
keturunan saya. 

Suatu hal penting yang tidak boleh dilupakan oleh orangtua dalam mendidik anak 
adalah membangun persekutuan keluarga - suasana rohani dalam keluarga. Tetapi, 
memulai sesuatu yang baru tidaklah mudah.
Diperlukan komitmen yang teguh antara ayah dan ibu. Saya ingin menceriterakan 
pengalaman dalam keluarga saya. Orangtua saya memulai ibadah keluarga saat saya
berusia 7, di tahun 1969. Saat itu saya punya lima adik, terkecil baru 7 bulan. 
Saya ingat, ibadah keluarga kami dimulai ketika ibu mengalami perubahan secara 
spiritual (dikenal dengan istilah lahir baru). Perilakunya berubah drastis. Ini 
mempengaruhi ayah saya, yang selama kami tinggal di Malang (dari 1963), tidak 
pernah ke gereja. Sejak itu kami makan malam bersama pukul 6, kemudian 
kebaktian. Kami beruntung, karena saat itu kami tidak punya TV, jadi TV tidak 
menjadi halangan.

Acara-nya sederhana saja. Mulai dengan menyanyi.
Waktu saya SMP, saya dan seorang adik saya main gitar, adik yang lain main
organ. Papa seringkali menyanyi dengan suara bas. Tiap malam kami bernyanyi
(itu saat-saat terindah yang saya ingat dalam hidup saya bersama orangtua
saya). Kalau tidak bisa main musik, kami tepuk tangan. Kalau anak-anak masih
kecil, pakai gerakan tubuh atau tangan.

Sesudah menyanyi, papa/mama atau salah seorang anak, membuka ibadah dengan doa 
syukur. Pendek saja, nanti ada yang menggerutu kalau kepanjangan. Setelah itu, 
boleh menyanyi atau langsung membaca Alkitab.
Jika anak-anak masih kecil, setelah membaca Alkitab kita membuat cerita 
aplikasi,
sehingga anak-anak mengerti nilai Kristiani yang terkandung dalam bacaan 
tersebut. Tetapi kalau anak-anak sudah cukup besar, tanyakan pada mereka ayat 
mana yang paling berkesan, mengapa. 

Apakah ada ayat yang menegur Saudara (ayah/ibu) atau anak-anak dalam bacaan 
itu? Apakah ada kelakuan yang perlu diubah? Apakah iman dan pengenalan kita 
kepada Elohim Tritunggal dikuatkan melalui bacaan tersebut? Cobalah diskusikan 
dengan singkat. Terakhir, doakanlah hal-hal yang sudah dibahas tadi; agar Tuhan 
menguatkan kita menjalani kehidupan baru hari ini (kalau ibadah pagi) atau 
besok (ibadah malam). Ibadah keluarga kami biasanya diakhiri dengan menyanyi 
bersama.

Papa saya menambahkan satu acara lagi dalam kebaktian keluarga kami, saat kami 
memasuki masa remaja. Yaitu: dia selalu menanyakan kegiatan apa yang akan kami 
lakukan besok sepanjang hari. Kami tujuh bersaudara. Jadi satu-satu ditanyakan, 
termasuk pukul berapa pulang, kalau pergi dengan siapa. Kepada kami ditanyakan 
juga apakah ada masalah dengan pelajaran, uang, teman, buku-buku, kendaraan 
(setelah kami bisa dapat SIM, papa berusaha memberikan mobil untuk 
sekolah/kuliah), dsb.

Sekarang saya mengerti bahwa melalui tanya-jawab itu papa sedang melatih kami 
untuk merencanakan kegiatan esok hari. Kebiasaan itu mendarah daging, karena 
dilakukan selama lebih dari limabelas tahun.
Kemudian saya meninggalkan rumah untuk menikah.Sekarang saya sudah berkeluarga 
dengan dua anak. Waktu anak-anak kami belum sekolah, kami kebaktian keluarga 
pagi hari. Setelah anak-anak sekolah, kami kebaktian sore hari (sehabis makan 
malam) - karena pagi hari saya sibuk menyiapkan anak-anak sekolah. Jadi, soal 
waktu, kita sediakan waktu yang paling memungkinkan bagi seluruh anggota 
keluarga.

Awalnya tidak perlu lama; apalagi kalau anak-anak masih kecil. Mereka perlu 
dilatih, didorong; tapi jangan dipaksa. Nanti mereka bisa tidak suka kebaktian. 
Saat ini kami membaca Alkitab berurutan dari Matius, sekarang sampai di Markus 
15, sehari satu perikop. Sebelumnya kami pernah membaca berurutan Pengkotbah 
dan Amsal, juga Mazmur.

Nah, yang penting lagi, orangtua memberi waktu membacakan atau menceritakan
kisah-kisah Alkitab kepada anak-anaknya. Ayah atau ibu yang pernah mengajar 
sekolah
minggu, tentu bisa menyiapkan cerita-cerita praktis yang berkaitan dengan 
perikop yang kita baca. Saya seringkali memikirkan cerita-cerita rakyat atau 
dongeng yang berkaitan dengan firman Tuhan atau yang saya akan ceritakan kepada 
anak-anak, saat saya di salon, sambil memasak atau menyetir mobil.

Sekarang ini, anak-anak saya sangat suka lagu-lagu himne. Bukan hanya suka, 
mereka pun menghafalkannya. Kalau kami ke luar kota atau melakukan perjalanan 
jauh, lagu-lagu itulah yang berkumandang sepanjang jalan.

Beberapa percakapan dalam ibadah

Beberapa waktu lalu saat persekutuan keluarga, anak sulung saya bertanya, 
“Mengapa Tuhan menentukan bangsa Israel sebagai bangsa pilihan-Nya?”

Kami sedang mempelajari Kitab Keluaran. Kemarin tiba di Keluaran 15 yang berisi 
puji-pujian umat Israel karena Tuhan sudah melepaskan mereka dari bangsa Mesir. 
Pada bagian akhir ada cerita tentang bagaimana Tuhan mengabulkan sungut-sungut 
bangsa ini. Tuhan memberikan air yang baik untuk mereka di Mara. 

Saya memperhatikan wajah Josephus, mencari tahu apa yang ingin dia sampaikan 
lewat kalimat itu. Saya bilang, ”Kita tidak tahu alasan Tuhan memilih. Ini 
adalah kedaulatan Tuhan. Dia bisa pilih siapa saja. Sekarang ini, pemilihan 
Tuhan meluas. Tuhan juga memilih kamu, Moze, papa dan mama menjadi umat-Nya. 
Tahukah kamu mengapa Tuhan memilih kita, dan orang lain tidak?”

Hal ini sudah berkali-kali mereka tanyakan dalam berbagai kesempatan. Saya 
mengingatkan dia kembali percakapan kami bulan-bulan lalu. ”Memang tidak 
gampang menjadi orang pilihan Elohim. Karena kita tidak bisa sembarangan hidup. 
Itu sebabnya umat Israel berkali-kali diajar dan dihajar Tuhan agar mereka 
tetap konsisten sebagai umat pilihan.”
Jo menarik nafas panjang. 
”Mengapa?” tanya saya, ”apakah itu sulit?”
Dia mengangguk. ”Kalau kamu disuruh pilih: menjadi umat Elohim atau tidak, apa 
pilihanmu?” 
Jo terdiam, lalu menjawab, ”Aku mau jadi umat pilihan.”
”Walaupun ada konsekuensinya?” Jo mengangguk lagi.

Melalui percakapan tadi malam saya mengerti isi hati anak saya. Tetapi saya 
tahu, itu tidak akan mudah. Tugas kami sebagai orangtua-lah untuk terus-menerus 
menanamkan
nilai-nilai dan pola hidup Kristiani dalam hati anak-anak kami. Josephus dan
Moze memerlukan bantuan kami untuk mengingatkan mereka berulang kali apabila
kami sedang duduk di dalam rumah, apabila kami sedang dalam perjalanan, apabila
kami berbaring dan apabila kami bangun. 

Berbicara Positif

Ini adalah hal yang kami lihat perlu dibangun dalam keluarga kami. Anak-anak 
sudah lebih besar. Sebagaimana anak pada umumnya, mereka juga sering berbantah 
atau memperebutkan sesuatu. Kadang-kadang keluar kalimat yang meremehkan yang 
lain,
mempersalahkan, bahkan dengan kalimat yang kurang baik. 

Di awal tahun 2008 ini pembacaan Alkitab kami tiba di surat-surat Paulus. 
Sekolah Moze menjadikan Efesus 5:8 sebagai tema tahunan.
Waktu tiba di perikop tersebut, Moze menceriterakan pemahamannya. Apa saja yang
boleh dan tidak boleh dilakukan anak-anak terang.

Filipi 4 ayat 8 kami baca beberapa hari kemudian: Jadi akhirnya, 
saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua 
yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut 
kebajikan dan patut dipuji,
pikirkanlah semuanya itu.

Ayat ini mengingatkan kami untuk memelihara lidah dan pikiran. Saya mengusulkan 
agar kami membuat ”resolusi tahun baru” dengan berusaha berbicara positif 
setiap saat. 

”Mama ingat kalimat yang mama baca di buku Little House on The Prairie saat mama
masih seusia kalian,” kata saya. Suatu kali Pak Ingals mengingatkan Laura,
”Kalau kita tidak bisa berbicara hal yang baik tentang seseorang, lebih baik
kita tidak usah bicara.” 

Kalimat itu sungguh berbicara dalam hati saya ketika itu. Maka saya kembali 
mengingatkan hal itu dalam suatu acara ibadah keluarga kami. Anak-anak 
senyum-senyum. Walaupun tidak menjawab dengan tegas, nampaknya mereka tidak 
keberatan atas usul ”resolusi tahun baru” yang saya sampaikan. Maka sejak itu, 
tiap kali ada yang bicara kurang baik mengenai seseorang atau bicara dengan 
cara yang buruk, salah seorang dari kami akan mengingatkan. 

Tadi pagi anak-anak seperti malas ke sekolah. Mereka sudah mandi, makan dan 
bersiap. Kami baru selesai berdoa pagi, tapi mereka tidak beranjak juga. Ini 
adalah hari Senin. Bagi kebanyakan orang mungkin Senin adalah hari yang ”kurang 
memberi semangat” karena baru saja libur sehari sebelumnya. 
Jadi, saya berucap, ”Lho, kok kelihatannnya pada malas sekolah, nih?”
”Naaahhh, Mama berbicara negatif, ya,” kata Moze. Semua tertawa. 
”Sorry,” jawab saya, ”mama telanjur. Maksud mama, ayo semangat dong!”

Lama kelamaan, kami menjadikan kesepakatan ini sebagai gurauan yang harus 
dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Kami berharap kami berhasil. (*)
==========================================================
From: "Nathan Minta" <[EMAIL PROTECTED]>

TIGA ORANG MISIONARIS
Oleh: John Adisubrata

Beberapa puluh tahun yang lalu tiga orang misionaris dari Eropah telah memasuki 
pedalaman pulau Kalimantan. Mereka ditangkap oleh salah satu suku terasing yang 
menolak mentah-mentah Injil Tuhan Yesus Kristus yang mereka beritakan. Bertiga 
mereka digiring untuk menemui rajanya. Seketika itu juga sesuai undang-undang 
yang berlaku di sana mereka diadili dan dijatuhi hukuman mati.

Tetapi oleh karena sepanjang hari itu Sang Raja merasa mujur dan terus-menerus 
mengalami hal-hal yang menyenangkan hatinya, ia ingin bermurah hati dengan 
memberikan kesempatan kepada ketiga misionaris tersebut untuk menerima amnesti. 
Tetapi ... amnesti yang bersyarat.

Pengampunan itu hanya akan dikaruniakan, jika mereka bertiga bisa memenangkan 
sebuah pertandingan aneh yang ditentukan oleh Sang Raja khusus untuk mereka. 
Raja itu menyuruh mereka pergi memasuki hutan belantara di pedalaman 
kerajaannya untuk menemukan sejenis pohon dan memetik buahnya yang paling ranum 
untuk dibawa kembali menghadap kepadanya. Setiap orang diperintahkan untuk 
membawa sepuluh buah yang sejenis

“Untuk apa buah-buah tersebut?” tanya misionaris yang ketiga ingin tahu.

“Nanti akan kujelaskan jika waktunya telah tiba. Bawalah mereka kepadaku 
terlebih dahulu. Dan ingatlah, jangan ada seorangpun di antara kalian yang 
mencoba untuk melarikan diri, karena hutan itu selalu berada di bawah 
pengawasanku!” sabda Sang Raja sebelum mengizinkan mereka untuk mengundurkan 
diri dari hadapannya. Bersama-sama mereka bergegas pergi memasuki hutan untuk 
secepatnya melaksanakan tugas yang diperintahkan olehnya.

Tidak memakan waktu terlampau lama muncullah kembali dua orang dari ketiga 
misionaris tersebut. Yang seorang membawa sepuluh mangga, sedangkan yang lain 
membawa sepuluh jambu air. Tetapi anehnya, misionaris yang ketiga tidak kunjung 
tiba, meskipun sudah ditunggu sekian lamanya. Entah ia sedang berada di mana?

Karena tidak ingin membuang waktu lagi, Sang Raja memerintahkan mereka untuk 
segera memulai pertandingan tersebut. Sebuah pertandingan yang ternyata mudah 
dan sederhana sekali. Mereka diharuskan untuk berdiri tegak dan tidak 
diperkenankan bergerak, selama … dilempari dengan kesepuluh buah hasil petikan 
tangan-tangan mereka sendiri. Apabila mereka bisa menahan rasa sakit tanpa 
mengeluarkan suara apa-apa, mereka akan dinyatakan menang dan dibebaskan dari 
hukuman mati! Itulah syarat yang harus mereka lakukan!

Misionaris yang pertama mulai dilempari dengan mangga-mangga ranum yang sudah 
dibawa olehnya sendiri. Lemparan demi lemparan menggebuki bagian-bagian 
tubuhnya. Sebenarnya oleh karena hantaman buah-buah yang besar dan keras 
tersebut, ia sudah ingin berteriak. Namun ia bertekad untuk menahan rasa 
sakitnya, mengingat hukuman fatal yang harus dilalui, jika ia gagal memenangkan 
pertandingan itu.

Tetapi pada saat ia menerima lemparan yang terakhir, buah mangga yang besar dan 
paling ranum tersebut menghantam keningnya lalu pecah, sehingga getah tercampur 
air sarinya mengalir turun masuk dan menggenangi kedua bola matanya, 
menimbulkan rasa nyeri yang tak tertahankan lagi. Secara refleks … ia berteriak 
nyaring kesakitan! Konsekuesinya, … misionaris yang pertama dinyatakan gagal! 
Pada saat itu juga ia dihukum mati!

Tibalah giliran misionaris yang kedua, yang sudah membawa kembali sepuluh jambu 
air. Sang Raja memerintahkan, agar ia segera dilempari dengan buah-buah 
tersebut.

“Oh, ini mah sip banget! Jambu-jambu air yang kecil dan enteng macam beginian 
engga bakalan nyakitin aku. Untung aku milih jenis buah yang ini.” Pikirnya 
sambil menenangkan diri mengingat nasib rekannya. Ternyata lemparan-lemparan 
keras jambu-jambu air yang menimpa tubuhnya benar-benar tidak menimbulkan rasa 
sakit sama sekali. Bahkan ia memandang orang yang melempari dirinya dengan 
wajah tersenyum-simpul penuh kepastian, bahwa ia akan memenangkan pertandingan 
itu!

Tetapi pada saat jambu yang terakhir dilemparkan, ... tiba-tiba terdengarlah 
ledakan suaranya, tertawa terpingkal-pingkal tanpa bisa dikendalikan lagi! 
Konsekuesinya, … misionaris itu pun dinyatakan gagal, oleh karena ia telah 
melanggar peraturan yang ditetapkan oleh Sang Raja! Seperti yang sudah terjadi 
pada misionaris yang sebelumnya, ia juga langsung dijatuhi hukuman mati.

Tentu saja, sesuai perkiraan semua orang, … kedua misionaris tersebut akhirnya 
masuk sorga.

Ketika mereka bertemu muka di sana, bertanyalah misionaris yang pertama: “Eh, 
‘ngapain lu ‘ngikutin gue? Jambu-jambu air khan engga bakalan nyakitin tubuh 
‘lu.”

Misionaris yang kedua menjawab: “Engga sih, ... gue kalah bukan gara-gara 
‘njerit kesakitan, tapi gara-gara ketawa terpingkel-pingkel, karena ‘ga bisa 
tahan!”

Penuh keheranan misionaris yang pertama bertanya lagi: “Emangnya elu tergelitik 
oleh timpukan jambu-jambu air ‘lu sendiri?”

Mengenang kembali peristiwa yang baru terjadi itu, tanpa bisa menahan rasa 
gelinya lagi, misionaris yang kedua tertawa terbahak-bahak sambil menjawab: 
“Engga, bukan sebab itu, tapi karena gue jadi geli banget ‘ngeliatin teman kita 
tuh, yang tahu-tahu muncul dari dalam ‘utan, jalan sempoyongan sambil 
‘ngangkatin sepuluh buah duren, … gede-gede banget! Mana dia ... bangga lagi!”

John Adisubrata
Diolah kembali: Oktober 2008

Kirim email ke