From: Mauli Siahaan MENGALAMI PRIBADI YHWH Ayub 42:1-6 Sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus Tuhan dan Juruselamat, kita pasti memiliki iman kepada Elohim. Dan iman kita pasti benar entah darimana asalnya kita memiliki iman itu. Apakah itu karena pemberitaan orang lain atau karena kita membaca Alkitab secara pribadi. Tetapi timbul pertanyaan: "Mengapa iman yang benar itu sering kali runtuh ketika diperhadapkan kepada masalah dan persoalan?" Apa yang salah dari keyakinan seseorang kepada Kristus tetapi pada waktu tertentu harus beralih dari keyakinan itu kepada keyakinan yang lain sebagaimana yang dilakukan oleh orang Kristen hari-hari ini?" Sebenarnya tidak ada masalah dari iman yang mereka miliki karena mereka percaya kepada Elohim di dalam Yesus Kristus. Sebagaimana firman Tuhan berkata bahwa hanya melalui Yesus manusia bisa mengenal Elohim. Tetapi kalau hari ini ada orang yang beralih keyakinan dari Yesus kepada keyakinan yang lain hal itu terjadi karena keyakinannya kepada Yesus bukanlah keyakinan yang didasari oleh pengalamannya kepada Yesus yang ia imani.
Tidak ada yang salah dari keyakinan Ayub sebelum dia mengalami penderitaan. Elohim saja memuji hidupnya yang saleh dan orang yang beribadah kepada Elohim (Ayub 1:8) Tetapi ternyata tidaklah cukup hanya memiliki iman kepada Elohim namun harus juga mengalami apa yang diimani. Itulah sebabnya ketika Ayub melewati penderitaan yang Tuhan ijinkan terjadi dengan maksud agar dia mengalami pribadi Elohim yang dia percayai, dia berkata, "Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau" (ayat 5). Ternyata kehidupannya yang saleh dan beribadah serta memiliki iman yang sangat dipuji oleh Elohim dihasilkan dari apa kata orang yang belum teruji kemurniannya. Bukan berarti iman Ayub sebelum ia menderita bukanlah iman yang benar. Tetapi iman yang benar itu perlu diperhadapkan kepada kenyataan hidup yang di dalamnya Ayub bisa mengalami Elohim yang ia imani. Ternyata iman yang benar harus juga mengalami pribadi Elohim yang kita percayai. Dan acapkali untuk mengalami Elohim yang kita percayai itu kita dapatkan lewat pergumulan hidup seperti penderitaan layaknya Ayub. Namun hal itu hanya bisa apabila kita tidak berontak dan lari dari pergumulan yang ada seperti yang diajurkan oleh istri Ayub. Tetapi mau tunduk dan taat pada rencana Tuhan. "... Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal" (ayat 2). Kalau kita mengalami iman yang kita miliki, maka iman itu akan membawa kita kepada pribadi Elohim yang belum kita ketahui sebelumnya. Seperti Ayub di mana lewat penderitaan dia dapat melihat pribadi Elohim yang sesungguhnya dalam hidupnya. Kitapun akan bisa melihat pribadi Elohim dalam kehidupan kita apabila kita terbuka dengan rencana Tuhan dalam kehidupan kita dengan bersedia berjalan di jalan yang Tuhan tetapkan sekalipun jalan itu adalah jalan penderitaan. Ingatlah bahwa Tuhan ingin kita bukan saja mengenal Dia, tetapi juga mengalami pribadi-Nya. Mungkin kita merasa sudah banyak tahu tentang Tuhan dan pengetahuan kita itu benar karena kita dapatkan dari sumber yang benar seperti Alkitab. Tetapi pengetahuan yang benar itu tidaklah cukup kalau tidak ditunjang dengan pengenalan akan apa yang kita ketahui. Itulah sebabnya mari masuk lebih jauh dengan apa yang ada ketahui agar Anda bisa menyadari bahwa apa yang Anda ketahui itu masih jauh dari apa yang sebenarnya harus Anda miliki. Dan pribadi Elohim bukan saja untuk diketahui dan dikenal, tetapi juga mutlak dialami. Kalau tidak maka pengetahuan dan pengenalan kita akan memudar ketika kita diperhadapkan kepada persoalan yang seolah-olah apa yang kita ketahui tidak seperti apa yang kita hadapi. Namun apapun yang terjadi kita tetap akan percaya kalau kita sudah mengalami apa yang kita percayai. Oleh karena itu, jangan hanya memiliki iman yang benar, tetapi mari masuk di jalan Tuhan untuk mengalami pribadi Elohim yang Anda percayai. Banyak cara Tuhan untuk membuat Anda mengalami pribadi-Nya. Namun apapun cara itu jangan pernah berontak sekalipun itu jalan penderitaan. Karena hanya lewat itu Anda bisa mengalami pribadi-Nya. (*) www.maulisiahaan.blogspot.com www.geocities.com/diaspora_gerizim ============================================== From: Romo maryo “Anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak terang.” (Flp 3:17-4:1; Luk 16:1-18) “Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.”(Luk 16:1-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · “Orang bodoh dapat menjadi pandai karena uang, sebaliknya orang pandai dapat menjadi bodoh juga karena uang”, demikian kiranya yang sering terjadi di dalam kehidupan bersama kita. Namun yang juga terjadi adalah orang pandai membodohi sesamanya demi uang atau demi keuntungan sendiri. Kepandaian atau kecerdikan macam itu dapat kita lihat atau cermati dalam diri para penipu atau penjahat yang dengan halus dan sabar mengelabui korban-korbannya. Maka benarlah yang disabdakan oleh Yesus bahwa “Anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang”. Karena pendidikan dan pembinaan memang kita semua mendambakan diri sebagai orang yang pandai, cerdik dan cerdas, namun hendaknya juga sekaligus beriman alias menjadi anak-anak terang, sehingga menjadi cerdas beriman. Sebagai orang yang cerdas beriman kiranya ketika diberi tugas menjadi bendahara atau pengelola/pengurus harta benda duniawi, ia akan mengurus dan mengelolanya dengan baik sebagaimana diharapkan. Kesuksesan atau keberhasilan mengurus atau mengelola harta benda dengan baik pada masa kini hemat saya merupakan salah satu bentuk penghayatan iman kemartiran yang mendesak dan up to date, mengingat masih maraknya korupsi hampir di semua bidang kehidupan bersama di masyarakat pada saat ini. Untuk itu hemat saya kita masing-masing harus mulai dari diri kita sendiri: berapa besar atau banyaknya harta benda atau uang yang diserahkan kepada kita, marilah kita urus atau kelola sebaiknya mungkin, sesuai dengan maksud pemberi (ad intentio dantis). Jika kita berhasil dengan baik mengurus atau mengelola yang menjadi milik kita atau kita kuasai maka kiranya kita memiliki modal kekuatan untuk mengrurus atau mengelola milik orang lain yang lebih besar. Harta benda/uang adalah ‘jalan ke neraka atau jalan ke sorga’, marilah kita jadikan ‘jalan ke sorga’. · “Saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih!”(Flp 4:1), demikian sapaan Paulus kepada umat di Filipi, kepada kita semua orang beriman. “Berdiri dengan teguh dalam Tuhan” adalah cirikhas orang cerdas beriman, ia tidak mudah tergoyahkan oleh berbagai rayuan atau godaan kenikmatan duniawi yang membuatnya ‘menjauh dari Tuhan maupun sesama atau saudara-saudarinya’. Kita semua adalah ciptaan Tuhan, dan hanya dapat hidup, tumbuh berkembang menjadi cerdas beriman jika kita setia berdiri dengan teguh dalam Tuhan. Memang untuk itu kita perlu membiasakan diri terus menerus berbuat baik kepada siapapun dan dimanapun; semakin banyak berbuat baik kepada sesama berarti akan semakin teguh berdiri dalam Tuhan, sebaliknya orang yang jarang berbuat baik kepada sesamanya pasti mudah jatuh atau berdosa terus menerus. Apa yang disebut baik senantiasa berlaku universal dan bersifat menyelamatkan, khususnya keselamatan jiwa. Yang ideal memang ‘mens sana in corpore sano’, pengertian/akal budi/jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat, maka marilah kita serentak merawat, menjaga dan memperkuat pengertian/akal budi/jiwa dan tubuh kita menjadi segar bugar, sehat wal’afiat sebagai tanda bahwa kita dengan rendah hati berusaha setia ‘berdiri dengan teguh dalam Tuhan’. Orang yang demikian senantiasa dinamis dan proaktif dalam berbuat baik bagi sesamanya dimanapun dan kapanpun. “Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN." ( Mzm 122:1) ===================================================== From: [EMAIL PROTECTED] Info thok Just Info judul film ini "The Messiah, Yesus Tidak Pernah Disalibkan " Sebuah film Yesus yang dituturkan dari cara pandang Islam baru saja diluncurkan di Iran. Hal ini menyebabkan berbagai reaksi dari komunitas Kristen, karena di film tersebut Yesus tidak mati disalibkan tetapi digantikan oleh Yudas Iskariot. Judul film ini "The Messiah" - ditulis, di produksi dan disutradarai oleh seorang pembuat film dari Iran bernama Nader Talebzadeh. Film ini di buat di Iran dan Yesus pun dimainkan oleh seorang aktor Iran. Film ini dibuat berdasarkan apa yang Alquran tuliskan tentang Yesus dan berdasarkan Injil Barnabas - sebuah kitab yang tidak termasuk dalam kanonisasi Alkitab. Kita tidak perlu khawatir akan film ini karena semuanya sudah jelas di tulis dalam Firman Tuhan, ambil segi positif dari film ini....dengan film ini maka kita harus lebih menajamkan Iman dan kepercayaan kita kepada Tuhan Yesus, baca dan dalami Firman Tuhan, agar kita tidak mudah goyah or di provokasi oleh film2x seperti ini yg dpt membuat kita meninggalkan Tuhan Yesus dan beralih ke yg lain. beri pengetahuan sejelas mungkin dan tanamkan dalam diri anak2x anda mengenai Kristus sejak dini agar di usia mereka yg masih muda mereka telah mengenal Tuhan kita Yesus Kristus dan tidak mudah di goyahkan oleh film2x seperti ini. Anak - anak muda yg masih mencari jati diri dengan menenggelamkan diri ke hal2x duniawi mereka akan sangat mudah disulut oleh film2x seperti ini krn pengetahuan mereka mengenai Jesus Christ masih minim. "The Messiah," penampilan Yesus dalam film ini mirip dengan fersi Yesus yang dibuat oleh dunia barat. Rambut pirang dan melakukan mukjizat. Hanya yang berbeda adalah bagaimana Yudas tiba-tiba secara ajaib berubah menyerupai Yesus dan menggantikan Yesus disalibkan. "Dia (Yesus-red) bukan Anak Elohim dan tidak pernah menjadi Anak Elohim. Dia hanya nabi dan Dia tidak pernah disalibkan, itu adalah orang lain yang disalbkan menggantikan Dia,"Talebzadeh menyatakan kepada CNN. Film fenomenal yang melibatkan hampir lebih dari 1000 orang ini merupakan sebuah film terbesar yang pernah dibuat di Iran. Film ini telah dirilis di Iran saat ini, dan segera akan dapat disaksikan di Internet melalui CNN.

