From: Soni Santana
Wow... ternyata hari itu di mulai dari petang !!!
By : Soni Santana
http://merendaperjalanan.com/index.php?act=content&codeitem=200810310001
Ketika membaca pengantar saat teduh hari ini, ada sesuatu yang belum pernah
terlintas dalam pikiran , yang mulai di bukakan dan cukup membuat pemikiran
panjang selama bermotor ria. Kapankah satu hari itu di mulai ? Kita tahu bahwa
hitungan waktu menurut standar internasional adalah mulai dari pukul 00.00
sampai dengan 24.00 atau selama 24 jam. Yang artinya waktu itu dimulai dari jam
1 malam.
Kenyataan yang ada adalah jam 1 malam adalah waktu yang sangat sedikit sekali
orang gunakan untuk memulai aktivitasnya. Dari survey dan pengalaman terhadapa
beberapa orang, mereka mengungkapkan bahwa permulaan hari adalah waktu pagi
setelah mereka bangun dari tidur mereka, itulah dimulainya hari.
Dari dulupun, saya selalu berfikir hal seperti itu, bahkan dari kecil pun saya
sudah dididik melalui lagu "bangun pagi, ku terus mandi.." Sehingga mau tidak
mau, kebanyakan orang begitu berusaha agar waktu pagi dia bisa mempunyai
kekuatan yang maksimal, untuk mengisi waktu-waktu selanjutnya. Sehingga selepas
dari pekerjaannya, maka mereka akan melakukan aktivitas selanjutnya dengan
baterai yang sudah "low bat". Artinya aktivitas selanjutnya dari selesainya
waktu kita ke kantor adalah aktivitas sisa yang membawa banyak residu-residu
dari hal-hal di kantor atau di pekerjaan.
Hal ini berarti bahwa ketika waktu yang digunakan adalah aktivitas untuk
berkumpul bersama dengan keluarga, merupakan waktu yang sisa, yang hanya
secukupnya di gunakan untuk keluarga. Waktu yang digunakan untuk berkumpul
bersama keluarga adalah waktu yang telah di kotori oleh pikiran- pikiran yang
penat karena pekerjaan di kantor. Waktu yang digunakan untuk bermain bersama
anak-anak adalah waktu yang telah di penuhi dengan masalah-masalah yang baru di
dapat dalam pekerjaan yang bahkan sangat mungkin masalah itupun masih belum
dapat terselesaikan, sehingga tidak jarang keluarga atau anak menjadi sasaran
dari setumpuk masalah pekerjaan yang belum selesai.
Lalu, apa kata Tuhan tentang hari yang baru ??
Kejadian 1 : 5 "Dan Elohim menamai terang itu siang, dan gelap itu malam.
Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama."
Kejadian 1 : 8 " Lalu Elohim menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang dan
jadilah pagi, itulah hari kedua."
Kejadian 1 : 8 " Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ketiga."
dan selanjutnya....... dan selanjutnya.......
Wowwwwwwwwwwwww......... Ternyata Tuhan memulai hari itu dengan petang baru
di lanjukan dengan pagi... Loh terus apa hubungannya ? apa bedanya ? apa
ngaruh ? Pertanyaan yang dilontarkan oleh sang istri ketika saya bertanya hal
ini selesai dari perenungan yang dalam di atas motor. Dan langsung saya jawab
dengan pasti... " Yessss........ besar sekali perbedaannya ."
Ketika kita sadar bahwa waktu kita pulang kerja adalah hari yang baru kita
mulai, maka seletih apapun kita akan mempunyai satu spirit yang berbeda untuk
masuk ke hari yang baru. Ketika kita sampai di rumah dengan setumpuk masalah
yang tidak terselesaikan di kantor, dan kita menyadari bahwa hari telah
berganti dengan hari yang baru, maka akan ada kegairahan yang baru untuk
menikmati malam bersama keluarga, sekalipun masalah itu masih ada, namun
demikian ada keoptimisan bahwa masalah tersebut akan bisa terselesaikan di hari
yang baru ini. Bahkan ketika kita pulang dengan membawa bertumpuk-tumpuk berkas
kantor yang belum selesai, maka ada suatu semangat yang baru sesampainya di
rumah, untuk bercanda terlebih dahulu dengan anak-anak, dan selanjutnya bisa
menyelesaikan berkas-berkas tersebut dengan lebih bersemangat.
Yup.... begitu banyak perbedaan ketika kita memulai hari yang baru itu pada
petang. Paradigma bahwa waktu untuk keluarga adalah nomor dua setelah waktu
untuk bekerja pun menjadi patah. Tetapi ternyata Elohim sendiri menempatkan
waktu untuk keluarga sebagai prioritas utama. Waktu untuk bekerja pun dapat
kita lalui dengan lebih bergairah, karena ternyata Elohim menyediakan waktu
istirahat yang panjang untuk kita memulai pekerjaan kita di pagi hari.
So ketika Anda pulang kerumah jangan lupa untuk tetap bersemangat karena Anda
telah memasuki hari yang baru
Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ini..........
========================== Mazmur 25:14 ==========================
Tuhan bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia,
dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.
==================================================================
From: Hero Jaya < [EMAIL PROTECTED] >
THE ROOM
Cerita di bawah ini tentang Brian Moore yang berusia 17 tahun, ditulis olehnya
sebagai tugas sekolah. Pokok bahasannya tentang sorga itu seperti apa. "Aku
membuat mereka terperangah, " kata Brian kepada ayahnya, Bruce. "Cerita itu >
bikin heboh. Tulisan itu seperti sebuah bom saja. Itulah yang terbaik yang
pernah aku tulis." Dan itu juga merupakan tulisannya yang terakhir. Orangtua
Brian telah melupakan esai yang ditulis Brian ini sampai seorang saudara
sepupu menemukannya ketika ia membersihkan kotak loker milik remaja itu di SMA
Teays Valley, Pickaway County, Ohio.
Brian baru saja meninggal beberapa jam yang lalu, namun orangtuanya mati-matian
mencari setiap barang peninggalan Brian: surat-surat dari teman-teman sekolah
dan gurunya, dan PR-nya.. Hanya dua bulan sebelumnya, ia telah menulis sebuah
esai tentang pertemuannya dengan Tuhan Yesus di suatu ruang arsip yang penuh
kartu-kartu yang isinya memerinci setiap saat dalam kehidupan remaja itu.
Tetapi baru setelah kematian Brian, Bruce dan Beth, mengetahui bahwa anaknya
telah menerangkan pandangannya tentang sorga.
Tulisan itu menimbulkan suatu dampak besar sehingga orang-orang ingin
membagikannya. "Anda merasa seperti ada di sana," kata pak Bruce Moore. Brian
meninggal pada tanggal 27 Mei, 1997, satu hari setelah Hari Pahlawan Amerika
Serikat. Ia sedang mengendarai mobilnya pulang ke rumah dari rumah seorang
teman ketika mobil itu keluar jalur Jalan Bulen Pierce di Pickaway County dan
menabrak suatu tiang. Ia keluar dari mobilnya yang ringsek tanpa cedera namun
ia menginjak kabel listrik bawah tanah dan kesetrum.
Keluarga Moore membingkai satu salinan esai yang ditulis Brian dan
menggantungkannya pada dinding di ruang keluarga mereka. "Aku pikir Tuhan telah
memakai Brian untuk menjelaskan suatu hal. Aku kira kita harus menemukan makna
dari tulisan itu dan memetik manfaat darinya," kata Nyonya Beth Moore tentang
esai itu. Nyonya Moore dan suaminya ingin membagikan penglihatan anak mereka
tentang kehidupan setelah kematian. "Aku bahagia karena Brian. Aku tahu dia
telah ada di sorga. Aku tahu aku akan bertemu lagi dengannya."
Inilah esai Brian yang berjudul "Ruangan"..
Di antara sadar dan mimpi, aku menemukan diriku di sebuah ruangan. Tidak ada
ciri yang mencolok di dalam ruangan ini kecuali dindingnya penuh dengan
kartu-kartu arsip yang kecil. Kartu-kartu arsip itu seperti yang ada di
perpustakaan yang isinya memuat judul buku menurut pengarangnya atau topik buku
menurut abjad. Tetapi arsip-arsip ini, yang membentang dari dasar lantai ke
atas sampai ke langit-langit dan nampaknya tidak ada habis-habisnya di
sekeliling dinding itu, memiliki judul yang berbeda-beda. Pada saat aku
mendekati dinding arsip ini, arsip yang pertama kali menarik perhatianku
berjudul "Cewek-cewek yang Aku Suka". Aku mulai membuka arsip itu dan membuka
kartu-kartu itu. Aku cepat-cepat menutupnya, karena terkejut melihat semua
nama-nama yang tertulis di dalam arsip itu. Dan tanpa diberitahu siapapun, aku
segera menyadari dengan pasti aku ada dimana. Ruangan tanpa kehidupan ini
dengan kartu-kartu arsip yang kecil-kecil merupakan sistem katalog bagi garis
besar kehidupanku. Di sini tertulis tindakan-tindakan setiap saat dalam
kehidupan ku, besar atau kecil, dengan rincian yang tidak dapat dibandingkan
dengan daya ingatku. Dengan perasaan kagum dan ingin tahu, digabungkan dengan
rasa ngeri, berkecamuk di dalam diriku ketika aku mulai membuka kartu-kartu
arsip itu secara acak, menyelidiki isi arsip ini. Beberapa arsip membawa
sukacita dan kenangan yang manis; yang lainnya membuat aku malu dan menyesal
sedemikian hebat sehingga aku melirik lewat bahu aku apakah ada orang lain
yang melihat arsip ini. Arsip berjudul "Teman-Teman" ada di sebelah arsip yang
bertanda "Teman-teman yang Aku Khianati". Judul arsip-arsip itu berkisar dari
hal-hal biasa yang membosankan sampai hal-hal yang aneh. "Buku-buku Yang Aku
Telah Baca". "Dusta-dusta yang Aku Katakan".
"Penghiburan yang Aku Berikan"..
"Lelucon yang Aku Tertawakan". Beberapa judul pada yang sangat tepat
menjelaskan kekonyolannya: "Makian Buat Saudara-saudaraku" . Arsip lain memuat
judul yang sama sekali tak membuat aku > tertawa: "Hal-hal yang Aku Perbuat
dalam Kemarahanku. ", "Gerutuanku terhadap Orangtuaku". Aku tak pernah berhenti
dikejutkan oleh isi arsip-arsip ini. Seringkali di sana ada lebih banyak lagi
kartu arsip tentang suatu hal daripada yang aku bayangkan. Kadang-kadang ada
yang lebih sedikit dari yang aku harapkan. Aku terpana melihat seluruh isi
kehidupanku yang telah aku jalani seperti yang direkam di dalam arsip ini.
Mungkinkah aku memiliki waktu untuk mengisi masing-masing arsip ini yang
berjumlah ribuan bahkan jutaan kartu? Namun setiap kartu arsip itu menegaskan
kenyataan itu. Setiap kartu itu tertulis dengan tulisan tanganku sendiri.
Setiap kartu itu ditanda-tangani dengan tanda tanganku sendiri. Ketika aku
menarik kartu arsip bertanda "Pertunjukan- pertunjukan TV yang Aku Tonton", aku
menyadari bahwa arsip ini semakin bertambah memuat isinya. Kartu-kartu arsip
tentang acara TV yang kutonton itu disusun dengan padat, dan setelah dua atau
tiga yard, aku tak dapat menemukan ujung arsip itu. Aku menutupnya, merasa
malu, bukan karena kualitas tontonan TV itu, tetapi karena betapa banyaknya
waktu yang telah aku habiskan di depan TV seperti yang ditunjukkan di dalam
arsip ini. Ketika aku sampai pada arsip yang bertanda "Pikiran-Pikiran yang
Ngeres", aku merasa merinding di sekujur tubuhku. Aku menarik arsip ini hanya
satu inci, tak mau melihat seberapa banyak isinya, dan menarik sebuah kartu
arsip. Aku terperangah melihat isinya yang lengkap dan persis. Aku merasa
mual mengetahui bahwa ada saat di hidupku yang pernah memikirkan hal-hal kotor
seperti yang dicatat di kartu itu. Aku merasa marah. > Satu pikiran menguasai
otakku: Tak ada seorangpun yang boleh melihat isi kartu-kartu arsip in! Tak ada
seorangpun yang boleh memasuki ruangan ini! Aku harus menghancurkan
arsip-arsip ini! Dengan mengamuk bagai orang gila aku mengacak-acak dan
melemparkan kartu-kartu arsip ini. Tak peduli berapa banyaknya kartu arsip
ini, aku harus mengosongkannya dan membakarnya. Namun pada saat aku mengambil
dan menaruhnya di suatu sisi dan menumpuknya di lantai, aku tak dapat
menghancurkan satu kartupun. Aku mulai menjadi putus asa dan menarik sebuah
kartu arsip, hanya mendapati bahwa kartu itu sekuat baja ketika aku mencoba
merobeknya. Merasa kalah dan tak berdaya, aku mengembalikan kartu arsip itu ke
tempatnya. Sambil menyandarkan kepalaku di dinding, aku mengeluarkan keluhan
panjang yang mengasihani diri sendiri. Dan kemudian aku melihatnya. Kartu itu
berjudul "Orang-orang yang Pernah Aku Bagikan Injil". Kotak arsip ini lebih
bercahaya dibandingkan kotak arsip di sekitarnya, lebih baru, dan hampir kosong
isinya. Aku tarik kotak arsip ini dan sangat pendek, tidak lebih dari tiga
inci panjangnya. Aku dapat menghitung jumlah kartu-kartu itu dengan jari di
satu tangan.. Dan kemudian mengalirlah air mataku. Aku mulai menangis.
Sesenggukan begitu dalam sehingga sampai terasa sakit. Rasa sakit itu menjalar
dari dalam perutku dan mengguncang seluruh tubuhku. Aku jatuh tersungkur,
berlutut, dan menangis. Aku menangis karena malu, dikuasai perasaan yang
memalukan karena perbuatanku. Jajaran kotak arsip ini membayang di antara air
mataku. Tak ada seorangpun yang boleh melihat ruangan ini, tak seorangpun
boleh.
Aku harus mengunci ruangan ini dan menyembunyikan kuncinya. Namun ketika aku
menghapus air mata ini, aku melihat Dia. Oh, jangan! Jangan Dia! Jangan di
sini. Oh, yang lain boleh asalkan jangan Yesus! Aku memandang tanpa daya ketika
Ia mulai membuka arsip-arsip itu dan membaca kartu-kartunya. Aku tak tahan
melihat bagaimana reaksi-Nya. Dan pada saat aku memberanikan diri memandang
wajah-Nya, aku melihat dukacita yang lebih dalam dari pada dukacitaku. Ia
nampaknya dengan intuisi yang kuat mendapati kotak-kotak arsip yang paling
buruk.
Mengapa Ia harus membaca setiap arsip ini? Akhirnya Ia berbalik dan memandangku
dari seberang di ruangan itu. Ia memandangku dengan rasa iba di mata-Nya. Namun
itu rasa iba, bukan rasa marah terhadapku. Aku menundukkan kepalaku, menutupi
wajahku dengan tanganku, dan mulai menangis lagi. Ia berjalan mendekat dan
merangkulku. Ia seharusnya dapat mengatakan banyak hal. Namun Ia tidak berkata
sepatah katapun. Ia hanya menangis bersamaku.
Kemudian Ia berdiri dan berjalan kembali ke arah dinding arsip-arsip.. Mulai
dari ujung yang satu di ruangan itu, Ia mengambil satu arsip dan, satu demi
satu, mulai menandatangani nama-Nya di atas tanda tanganku pada masing-masing
kartu arsip. "Jangan!" seruku bergegas ke arah-Nya. Apa yang dapat aku katakan
hanyalah "Jangan, jangan!" ketika aku merebut kartu itu dari tangan-Nya.
Nama-Nya jangan sampai ada di kartu-kartu arsip itu. Namun demikian tanpa
dapat kucegah, tertulis di semua kartu itu nama-Nya dengan tinta merah, begitu
jelas, dan begitu hidup.
Nama Yesus menutupi namaku. Kartu itu ditulisi dengan darah Yesus! Ia dengan
lembut mengambil kembali kartu-kartu arsip yang aku rebut tadi. Ia tersenyum
dengan sedih dan mulai menandatangani kartu-kartu itu. Aku kira aku tidak akan
pernah mengerti bagaimana Ia melakukannya dengan demikian cepat, namun
kemudian segera menyelesaikan kartu terakhir dan berjalan mendekatiku. Ia
menaruh tangan-Nya di pundakku dan berkata, "Sudah selesai!"
Aku bangkit berdiri, dan Ia menuntunku ke luar ruangan itu. Tidak ada kunci di
pintu ruangan itu. Masih ada kartu-kartu yang akan ditulis dalam sisa
kehidupanku. "Karena begitu besar kasih Bapa akan dunia ini, sehingga Ia >
telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya
kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16)
Jika anda ingin meneruskan pesan ini kepada sebanyak mungkin orang-orang
sehingga kasih Tuhan Yesus akan menjamah hidup mereka, forwardlah email ini!
Arsip "Orang-Orang yang Aku Bagikan Injil" milikku akan makin bertambah besar,
bagaimana dengan milik anda? JIKA ADA EMAIL YANG PERNAH AKU BACA YANG PERLU
BERKELILING DUNIA, INILAH SALAH SATUNYA! TERUSKANLAH KEPADA ORANG-ORANG YANG
ANDA KENAL! MARILAH KITA PENUHI ARSIP KITA DENGAN HAL-HAL KEKAL DAN TUHAN
MEMBERKATI ANDA! (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
mohon jangan dihilangkan/ didelete ketika anda memforwardnya)
=======================================================
From: Feitty Eucharisti
Bapa, kok berat sih...????
Jam 7 malam.
Sudah cukup lama aku berkutat dengan pekerjaanku.
Aku bersiap-siap untuk meninggalkan kantor.
Dengan enggan kuangkat tas berat itu ke pundakku.
Beban yang menekan di pundakku terasa begitu mengganggu, tapi aku memang harus
membawa tas ini.
Di perjalanan pulang, aku mengendarai sepeda motorku masih dengan
konsentrasi pada tas yang membebani pundakku.
Seorang anak kecil menyeberang dengan sepedanya tanpa melihat Ke kiri
Dan ke kanan. Huh, aku memaki dalam hati.
Kecil kecil sudah menyebalkan, gimana gedenya nanti.
Aku melanjutkan perjalanan masih dengan sejuta omelan dalam hati.
Ingin rasanya cepat sampai di rumah, supaya aku bisa Beristirahat.
Suara klakson yang berbunyi nyaring mengagetkan aku dari lamunanku.
Kulirik spion dan kulihat seorang anak muda dengan mobil mewahnya
membunyikan klakson dengan nada tak sabar.
Huh, kenapa sih dengan orang-orang ini?
Emangnya dia nggak lihat kalau jalanan emang lagi macet?
Emangnya dikira enak membawa tas seberat ini?
Ketika sampai di rumah, ternyata perasaan nyaman yang kuimpikan tak
dapat kutemui. Suasana hiruk pikuk Keluargaku terasa seperti
dentuman-dentuman keras di kepalaku. Lagi-lagi aku memaki dalam hati.
Aku capek. Aku ingin istirahat. Berat sekali yang harus aku angkat.
Kenapa sih nggak ada yang mau mengerti?
Malam hari. Akhirnya aku memperoleh ketenangan.
Aku bisa tidur dan beristirahat. Tapi tas besar dan berat ini Terasa
mengganggu sekali. Aku tak bisa tidur.
Tapi aku tak bisa melepaskannya. Aku kesal.
"Bapa, kenapa sih berat sekali? Sungguh-sungguh sangat Mengganggu.. . "
Aku mengeluh sambil meneteskan air mata.
"Mengapa engkau tidak meletakkan tas itu anakKu?"
"Tapi aku tak bisa Bapa"
"Kenapa?"
"Lihatlah, semua tas ini berlabelkan tanggung jawab.
Semua harus aku bawa setiap saat, aku tak bisa Meletakkannya.
Tas hitam yang paling besar ini, lihat tulisan di Depannya, PEKERJAAN.
Semua tanggung jawab pekerjaanku ada di dalamnya.
Lalu yang coklat ini, KELUARGA. Aku juga tak bisa Meletakkannya.
Semuanya adalah bebanku.
Dan yang biru ini, PELAYANAN. Engkau tentu tak ingin aku meletakkannya bukan?"
Aku berusaha menjelaskan.
Bapaku yang baik hanya tersenyum, lalu mendekatiku.
"Kemarilah,! Aku ingin melihatnya."
Ia melihat tas hitam besar yang kuletakkan di pundakku.
"AnakKu, engkau dapat meletakkan tas ini.
Ini memang tanggung jawab pekerjaanmu. Dan engkau memang harus
menanggungnya. Namun saat engkau Melangkah keluar dari kantor, engkau
dapat meletakkan tas ini di samping meja kerjamu. Tenanglah, tidak
akan ada yang mengambilnya.
Lagi pula semua isinya adalah tanggung jawabmu bukan?
Percayalah, tak akan ada yang tertarik untuk mengambil tas ini,
sehingga keesokan hari, saat engkau kembali ke kantor, pasti tas ini
akan tetap ada di sana , dimana engkau meletakkannya. Dan engkau dapat
Mengambilnya kembali dan melanjutkan tanggung jawabmu".
Ia tersenyum menunggu jawabanku.
"Benar Bapa, tapi aku tak dapat meletakkannya. Ia melekat terus di pundakku".
Ia menatapku dengan penuh kasih, lalu perlahan Mengambil tas itu dari pundakku.
"Kemarilah anakKu. Di saat engkau tak dapat Meletakkannya, Aku dapat
membantumu untuk meletakkannya. Dan esok, Aku pun dapat Membantumu
untuk mengenakannya kembali."
Ia meletakkan tas hitam itu di dekat tempat tidurku.
Rasanya pundakku lega sekali.
Tas paling berat yang selalu menekanku telah diambil.
Aku menggerak-gerakkan pundakku sambil tersenyum.
"Engkau benar Bapa, rasanya enak sekali. Ringan.
Besok aku akan lebih siap untuk melanjutkan Pekerjaanku.
Esok, pasti tas itu tidak akan terasa terlalu berat lagi".
Aku menatap wajah Bapaku yang penuh kasih.
Sungguh indah senyum dan sinar mataNya.
Ia menatap tas coklat di pundakku.
"Lalu itu? Engkau tidak ingin meletakkannya juga?"
"Bapa, aku tidak bisa. Ini adalah tanggung! jawab KELUARGA.
Kemanapun aku pergi aku harus membawanya."
"AnakKu, Aku sungguh bahagia karena engkau Memperhatikan setiap
tanggung jawab yang kuberikan padamu mengenai keluargamu. Tapi engkau
pun tak boleh lupa, bahwa keluargamupun adalah milikKu. Dan aku
Memelihara setiap kepunyaanKu.
Engkau memang harus membawa tas itu bersamamu, tapi sesekali
letakkanlah, agar engkau dapat bermain dengan bebas dengan
keponakanmu, bercanda dengan kakakmu, atau sekedar berbincang dan
bercerita dengan orang tuamu.
Rasanya belakangan ini Aku jarang melihatmu Melakukannya" .
Aku tertunduk malu.
Ia benar. Aku membawa tas ini kemana-mana, dan Kulaksanakan setiap
tanggung jawab untuk keluargaku, tapi sepertinya ternyata tas ini
menjadi jauh lebih berharga dari pada kehadiran keluargaku sendiri.
Sekali lagi Bapa mengambil tas dari pundakku.
"Mari anakKu, letakkanlah. Di saat engkau perlu, letakkanlah.
Karena engkau dapat yakin, walaupun engkau Meletakkannya dan
meluangkan waktu dengan keluargamu, Akulah yang akan tetap menjagamu
dan keluargamu".
Dan pundakku menjadi jauh lebih lega.
Kini hanya tinggal satu tas biru yang masih memberati pundakku.
"Bapa, tas yang satu ini sungguh-sungguh tak dapat kuletakkan.
Setiap saat setiap waktu aku harus membawanya.
Karena setiap detik kehidupanku adalah pelayananku untukMu.
Engkau tentu tak ingin aku meletakkannya bukan?"
"Hmm... benar juga".
Aku terkejut mendengar jawabanNya. Sepertinya agak tidak sesuai harapanku.
Ia telah membantuku meletakkan kedua tasku sebelumnya, dan sepertinya
aku sungguh-sungguh berharap agar tas ini juga dapat kulepaskan.
"Mari coba kulihat tas itu"; Ia melihat dan meraba tas biru yang masih melekat
di pundakku.
"Anakku, sepertinya ada yang salah dengan tasmu ini. Kemarilah, coba lepaskan".
Ia mengambil tas biruku.
"Anakku, engkau benar. Aku ingin agar engkau selalu melayaniKu dalam setiap
detik kehidupanmu. Dan percayalah, itu sungguh-sungguh menyenangkan hatiKu.
Tapi sepertinya tasmu ini bahannya terlalu berat, sehingga menekan pundakmu
terlalu berat."
Kemudian Ia memberikan aku satu tas biru yang lain.
"Ini, pakailah tas ini sebagai gantinya. Ini merupakan tas dengan bahan KASIH.
Jika engkau meletakkan semua pelayananmu di dalamnya, niscaya engkau
tidak akan terbebani dengan tasmu ini".
Aku menerima tas baruku dari tanganNya, lalu memindahkan semua isi tas
lamaku ke dalam tas berbahan KASIH itu. Aku mencoba mengangkatnya.
Ternyata Bapaku benar.
Tas itu kini terasa ringan dan sungguh nyaman di pundakku.
Aku memandangNya penuh kasih.
"Terima kasih Bapa. Aku sungguh mengasihiMu. Terima kasih untuk pelajaranMu
hari ini".
* * * * *
Pagi ini aku memulai hari dengan senyuman.
Istirahatku sudah cukup. Dan aku siap untuk menghadapi tantangan hari ini.
Di perjalanan, aku masih tetap bertemu orang-orang yang menyebalkan,
namun tidak lagi memaki dalam hati, melainkan aku berdoa untuk mereka.
Mungkin mereka juga masih selalu membawa tas mereka kemana-mana atau
mereka juga mengenakan tas dengan bahan yang salah. Banyak sekali.
Aku melihat ada yang membawa dua tas besar, tiga bahkan empat.
Tulisannya pun bermacam-macam, ada PEKERJAAN, KELUARGA, PELAYANAN,
KULIAH, SEKOLAH, BISNIS, dan masih banyak lagi.!
Memang tanggung jawab adalah sesuatu yang harus kita pikul dan harus
kita selesaikan. Tapi kita pun harus tetap belajar untuk menempatkan
di saat mana kita harus mengangkat dan di saat mana kita harus
meletakkan. Dan aku terus belajar ...
* * * * *
Seseorang yang bijaksana pernah bertanya padaku:
"Mana yang lebih berat, mengangkat sebuah gelas dengan satu tangan
selama 1 jam penuh, atau mengangkat gelas tersebut selama 10 menit
lalu meletakkannya sejenak dan mengangkatnya kembali selama 10 menit
dan demikian seterusnya sampai 1 jam?"
* * * * *
"Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan
memberi kelegaan kepadamu". Matius 11:28
"Sebab itu, janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok
mempunyai kesusahannya sendiri.
Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari". Matius 6:34