From: Romo maryo 

“Kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan”
(Tit 2:1-8.11-14; Luk 17:7-10)  

"Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau 
menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang 
dari ladang: Mari segera makan!
Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku.
Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan
sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada
hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?
Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang
ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak
berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”(Luk 17:7-10), 
demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Martinus dari Tours, 
Uskup, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Martinus adalah seorang perwira militer yang suka berperang, namun 
perjumpaan dengan pengemis yang miskin telah merubah atau mempertobatkannya 
untuk melepaskan senjata yang mematikan dan menggantikannya dengan dirinya 
dalam memerangi aneka ketidak-adilan dan paksaan. Sebagaimana ia tidak takut 
berperang yang mengandung ancaman kematian, demikian juga ia tidak takut, 
dengan setia dan taat pada kehendak Tuhan, memperjuangkan keadilan serta 
memberantas aneka bentuk pemaksaaan.  “Kami adalah hamba yang tidak berguna; 
kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan”, demikian pesan Yesus yang 
kiranya dihayati oleh Martius ketika ia menjadi uskup. Hari Minggu, 19 Oktober 
2008 yang lalu saya diundang untuk mempersembahkan Perayaan Ekaristi bersama 
Bapak Oey, yang menjadi tahanan KPK di Polda-Jakarta. Ia memperoleh tuduhan 
dalam kasus BI, ia adalah salah satu pakar hokum BI. Dalam omongan kami bersama 
Bapak Oey bercerita bahwa ia ‘hanya
melakukan apa yang harus dilakukan’, yaitu memberikan sejumlah uang kepada
anggota DPR atas perintah atasan, Aulia Pohan, selaku Deputy Gubernur BI. Semua
Bapak Oey ditahan sebagai saksi yang diharapkan menjernihkan 
kesaksian-kesaksian perihal kasus BI, namun belakangan katanya ia menjadi 
‘tersangka’ karena melaksanakan perintah atasan, yang nota bene jahat. Dari 
sisi hukum pelaksana rasanya tidak salah, namun semuanya telah menjadi 
permainan poltik, maka pelaksana pun dapat dijadikan tersangka. Maka becermin 
dari Warta Gembira hari ini saya mengajak dan mengingatkan kita semua: marilah 
menjadi hamba-hamba yang hanya melakukan apa yang harus dilakukan, tentu saja 
kiranya pertama-tama dan terutama sebagai hamba Tuhan, yang berarti menjadi 
pelaksana kehendak Tuhan. Namun sekiranya  terpaksa menjadi pelaksana dari 
perintah atasan, yang salah dan jahat, yang telah menjadi hal umum saat ini, 
baiklah tetap setia menjadi hamba, antara lain tidak korupsi atau berkreasi 
melakukan kejahatan sendiri. Taat dan setia pada atasan merupakan salah satu 
bentuk keutamaan tersendiri. 

·   “Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan 
keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah 
di dalam dunia sekarang ini” (Tit 2:12), demikian peringatan Paulus kepada 
Titus, kepada kita semua. Dan “beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang 
sehat”(Tit 2:1). Hidup bijaksana adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini 
dengan ajaran yang sehat memang merupakan tuntutan yang harus kita hayati dan 
sebarluaskan. Peringatan atau ajakan ini kiranya dapat kita hayati dengan 
menghayati dan menyebarkan luaskan keluhuran harkat martabat manusia, sebagai 
ciptaan terluhur di dunia, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau
citra Elohim, sebagaimana telah dihayati dan disebarluaskan oleh St. Martinus 
dari Tours. Hidup dan bekerja atau bertugaa apapun hemat saya merupakan ibadah 
kepada Elohim, maka saudara-saudari dalam hidup dan tugas bersama, tempat hidup 
dan kerja/tugas, sarana-prasarana untuk hidup dan bekerja/tugas juga menjadi 
rekan  tempat dan sarana-prasarana beribadah. Rasanya ketika orang sedang 
beribadah bersikap hormat, pasrah dan hening; sikap yang sama dibutuhkan dalam 
pergaulan dengan sesama maupun bekerja atau bertugas bersama. Demikian pula 
orang merawat dan mengurus dengan baik aneka sarana-prasarana ibadah, maka juga 
diharapkan merawat dan mengurus aneka macam sarana-prasarana kerja atau tugas. 
Itulah kiranya salah satu bentuk menghayati dan menyembarluaskan harkat 
martabat manusia di dalam dunia sekarang ini. Merawat dan mengurus segala 
sesuatu dengan baik, sesuai dengan kehendak Tuhan, merupakan tuntutan yang 
mendesak dan up to date masa kini, mengingat dan memperhatikan kelemahan banyak 
orang dalam perawatan dan pengurusan atau pengelolaan.  

“Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan 
berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan 
kepadamu apa yang diinginkan hatimu”  (Mzm 37:3-4) 
===================================================
From: Romo maryo 

“Imanmu telah menyelamatkan engkau” (Tit 3:1-7; Luk 17:11-19)

“Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan 
Galilea.
Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka 
tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!" Lalu 
Ia memandang mereka dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada 
imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.
Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil 
memuliakan Elohim dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan 
mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. 
Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi 
tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang 
kembali untuk memuliakan Elohim selain dari pada orang asing ini?" Lalu Ia 
berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan 
engkau.”(Luk 17:11-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Yosafat, Uskup dan 
Martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Iman adalah anugerah Elohim kepada kita semua, dan kiranya siapapun yang 
mengakui diri sebagai orang beriman menghayati imannya sungguh-sungguh alias 
mempersembahkan diri seutuhnya kepada Elohim pasti akan hidup sehat wal’afiat, 
segar bugar, tahan terhadap aneka macam bentuk serangan virus penyakit. 
Sebaliknya orang yang tidak atau kurang beriman pasti mudah sakit, entah sakit 
hati, sakit jiwa, sakit akal budi maupun sakit tubuh.
St.Yosafat yang kita kenangkan hari ini adalah seorang uskup yang berani 
menyembuh kan atau mengutuhkan iman dari mereka yang sakit ,yaitu memisahkan 
diri dari kebersamaan/kesatuan hidup dengan rekan seiman. Ia dibunuh karena 
gerakan perdamaian atau persatuan hidup beriman. Memang orang yang kurang 
beriman pada umumnya mudah memisahkan diri dari rekan-rekannya serta hanya 
mengikuti keinginan atau kemauan sendiri alias cari enak sendiri. Itulah awal 
lahirnya aneka macam bentuk penyakit. Orang yang sungguh beriman juga hidup 
penuh dengan syukur dan terima kasih atas segala macam bentuk anugerah Elohim 
yang telah diterima dan dinikmati melalui atau dalam kebersamaan hidup dengan 
sesamanya. Rasanya kita semua memang tidak 100% sehat, melainkan masing-masing 
dari kita juga memiliki penyakit, namun pada umumnya lebih besar/kuat 
kesehatannya daripada penyakitnya. Maka baiklah meskipun ada penyakit dalam 
diri kita, marilah kita tetap hidup penuh syukur dan terima kasih. Syukur dan 
terima kasih kita wujudkan dengan bersembah sujud kepada atau ‘tersungkur pada 
kaki’ Tuhan melalui dan dalam diri sesama kita. Dengan kata lain kita saling
bersyukur, berterima kasih dan bersembah sujud di dalam hidup sehari-hari, 
dalam aneka kesibukan dan pelayanan kita, dan dengan demikian kita semua akan 
sehat wal’afiat, segar bugar, hidup dalam damai sejahtera. 

·   “Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang 
yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik. 
Janganlah mereka
memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan
bersikap lemah lembut terhadap semua orang” (Tit 3:1-2), demikian nasihat 
Paulus kepada Titus, gembala umat Elohim. Nasihat ini kiranya berguna bagi 
siapapun yang berpartisipasi dalam berbagai bentuk penggembalaan umat 
Elohim/orang beriman: para pendeta/pastor/kyai/imam, guru/ pendidik/orangtua, 
pengurus hidup bersama, dst.. Rasanya yang baik kita hayati dan sebarluaskan 
adalah ajakan untuk ‘jangan memfitnah dan jangan bertengkar’. Fitnah yang 
tumbuh berkembang menjadi pertengkaran masih marak dalam kehidupan bersama kita 
masa kini, entah dalam keluarga, hidup beragama dan bermasyarakat, yang dapat 
berakhir dengan perpisahan atau kematian orang tertentu. Kita dipanggil untuk 
ramah dan lemah lembut terhadap semua orang, yang perlu dijiwai oleh kerendahan 
hati. Ramah dan lemah lembut berarti senantiasa membuka diri terhadap aneka 
macam kesemapatan dan kemungkinan serta saran, pendapat, usul dan nasihat dari 
orang lain. Orang yang ramah dan lemah lembut pada umumnya juga senang 
becakap-cakap dengan siapapun tanpa kesulitan.
Dalam bercakap-cakap dengan sesama itulah masing-masing dari kita juga akan
semakin diteguhkan, diperkuat dan diperdalam iman kita; kita saling menyerahkan
diri, saling mengasihi, bergotong-royong dalam kehidupan bersama dimanapun dan
kapanpun. Kepada mereka yang suka menimbulkan bertengkar atau terlibat dalam
pertengkaran kami ajak untuk bertobat, tinggalkan sikap mental suka memfitmah
dan bertengkar.  

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang 
yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan 
jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku 
berjalan dalam
lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan
tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di
hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh 
melimpah.Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan
aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.” (Mzm 23)
====================================================
From: S. Sujud 

DISELAMATKAN UNTUK MELAYANI

Sudah 22 kali John Sala dipenjara; mulai dari kasus pencurian sampai 
pembunuhan. Namun, perjumpaannya dengan seorang pendeta penjara mengubah 
segalanya. John bertobat, menerima Kristus, dan bertumbuh. Selama di bui, ia 
mengikuti kursus Alkitab tertulis. Ketika masa tahanan selesai, ia keluar 
sambil sesumbar, “Saya tak akan kembali lagi ke sini!” Namun, dugaannya keliru. 
Tuhan memanggilnya kembali ke penjara, tetapi kali ini lewat pelayanan penjara 
Little Lambs. Ia kembali bukan sebagai tahanan, melainkan sebagai hamba 
Tuhan—yang memperkenalkan kasih Elohim kepada ribuan narapidana. 

Orang yang telah Tuhan selamatkan, tidak lagi hidup untuk diri sendiri, tetapi 
untuk Tuhan. Itulah prinsip pelayanan Paulus. Dalam jemaat Korintus, pelayanan 
Paulus disaingi oleh para guru palsu yang memikat jemaat dengan memamerkan 
segala karunia dan kebolehan diri mereka (ayat 12). Kelihatannya mereka 
melayani Tuhan, padahal mereka melayani diri sendiri. Paulus tidak mau 
ikut-ikutan. Ia tak mau membuktikan dirinya lebih hebat dengan tampil memikat. 
Pelayanannya dikendalikan oleh kasih Kristus, bukan ambisi pribadi. Paulus 
tidak mau mencuri kemuliaan Elohim. Ia memandang dirinya sudah mati bagi ambisi 
pribadi. Ia hidup hanya untuk melayani Yesus yang telah menyelamatkan dirinya. 

Banyak orang kristiani masih hidup untuk diri sendiri. Tak pernah berpikir 
untuk melayani Tuhan. Kalaupun ikut dalam pelayanan gerejawi, yang ditonjolkan 
adalah diri sendiri. Kita mesti belajar mati bagi diri sendiri. Kita 
diselamatkan bukan untuk enak-enakan, tetapi untuk melayani Tuhan. 
ORANG YANG DIPERHAMBA DIRI SENDIRI TAK MUNGKIN BISA MENJADI HAMBA TUHAN.
Sumber: Renungan Harian Penulis: Juswantori Ichwan
09 November 2008

Mohon maaf, nama saya Sembah Sujud, karena saya memang suka menyembah dan 
bersujud. Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Elohim akan mengampuni 
dosamu" Markus 1:4  

Kirim email ke