Ringkasan khotbah Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Sydney, Australia 
tanggal 9 November 2008
     Memperkokoh Kehidupan Pernikahan Kristen-2  Perspektif dan Role di dalam 
Pernikahan     oleh: Pdt. Effendi Susanto, S.Th.
   
   
   
   
  Nats: Ef. 5:33
   
   
   
   
  Tuhan memberikan dua blueprint yang penting mengenai pernikahan kepada kita. 
Yang pertama sudah saya bahas minggu lalu, Kej.2 memperlihatkan sebelum manusia 
jatuh ke dalam dosa, Tuhan sudah memberikan satu definisi yang penting dan yang 
harus menjadi prinsip kita untuk mengerti apa itu pernikahan. Pernikahan 
berarti saatnya seorang pria dan seorang wanita pergi meninggalkan ayah ibunya 
dan bersatu menjadi satu daging. Kalimat ini diulang oleh Tuhan Yesus dan 
diulang oleh rasul Paulus di dalam PB. Dengan kata lain, sekalipun realitas 
dosa sudah masuk ke dalam hidup kita, realitas dosa yang bisa menarik kita dan 
mungkin makin lama menyeret kita makin jauh di dalam relasi kita, tetapi ikatan 
cinta yang Tuhan beri di dalam pernikahan harus jauh lebih kuat mengikat 
kehidupan kita, mengalahkan segala kekuatan lain yang menarik kita untuk 
terpisah.
   
  Minggu lalu saya sudah membahas dua kata yang penting: ‘meninggalkan’ dan 
‘bersatu’. Meninggalkan ayah dan ibu, berarti itu saatnya kita melihat hubungan 
ayah ibu dengan anak yang menikah bukan lagi hubungan orang tua dan anak, 
tetapi harus menjadi satu hubungan yang bersifat dewasa, satu adult 
relationship. Itu sebab kita harus mempersiapkan anak kita supaya someday 
mereka pergi meninggalkan rumah kita. Saya akan memberikan beberapa prinsip 
kepada anak-anak muda berkaitan dengan hal ini. Kenapa sebelum Tuhan memberikan 
Hawa kepada Adam, Tuhan menempatkan Adam di taman Eden, menyuruhnya untuk 
bekerja mengelola taman dan memberi nama kepada semua binatang di situ? Ini 
adalah satu prinsip penting menunjukkan pernikahan adalah untuk seorang yang 
sudah mature dan sudah bisa independent mengurus hidupnya. Memang kita hidup di 
jaman yang jauh berbeda dibanding 2000 tahun lalu di mana anak perempuan 
dinikahkan dalam usia yang sangat muda, tidak lama sesudah dia mengalami
 fase pubertas. Tetapi sekarang kita memasuki satu jaman di mana pada usia 
belasan kematangan secara seksualitas sudah terjadi, tetapi mereka memiliki 
jarak waktu yang cukup panjang, 10-12 tahun untuk mempersiapkan diri masuk ke 
dalam pernikahan. Maka sebagai orang tua kita menyadari gap yang panjang itu 
dan mempersiapkan anak menjalaninya dengan sehat dan benar. Dari awal kita 
harus mengajar mereka bahwa ada relasi lawan jenis yang lain yang berupa 
pertemanan dan persahabatan tanpa memasuki relasi pacaran. Itu sebab banyak 
anak remaja, terutama yang pria, kadang-kadang awkward dan tidak memiliki 
kesiapan hati membangun relasi yang sehat dengan lawan jenisnya. Begitu dia 
tertarik dengan seorang gadis, langsung sasarannya adalah ingin menjadikan dia 
sebagai pacar. Apabila anak laki-laki tidak mempunyai konsep relationship yang 
lebih luas dalam bentuk pertemanan dan persahabatan, akhirnya mereka menjadi 
awkward dengan lawan jenisnya. Maka para pemuda, buka horison baik-baik.
 Tidak selamanya hubungan lawan jenis itu harus menjadikan dia pacarmu. Coba 
belajar menjalani pertemanan dengan benar. Dengan demikian dia bisa menjalani 
masa itu dengan membangun relasi sebanyak-banyaknya dengan orang lain, belajar 
mengerti karakter dan temperamen yang berbeda dan pada akhirnya nanti bisa 
menemukan seseorang yang dewasa dan matang dan siap untuk menikah dengan dia.
   
  Saya selalu mengingatkan para pasangan di dalam kelas premarital, menikah itu 
bukan 1/2 + 1/2 = 1 tetapi 1+1=1. Di mana bedanya? Ada orang tua punya pikiran 
yang keliru, melihat anaknya kurang bertanggung jawab lalu memutuskan untuk 
mencarikan dia seorang istri untuk mengurus dia. Itu pikiran yang sangat salah. 
You tidak mungkin masuk ke dalam pernikahan untuk mengurusi orang lain jika 
mengurus diri sendiri saja belum mampu. Kita pikir seorang yang malas dan 
kurang tanggung jawab bisa berubah kalau mendapat istri yang rajin? Sering kita 
dengar kalimat seperti ini, ‘let marriage make him better’, ‘let marriage make 
her better.’ Itu salah. Yang benar adalah, how do you both can make your 
marriage better. Jangan terbalik konsepnya. Artinya if you can take care of 
yourself, you can prove yourself as a responsible person, bekerja dengan baik, 
itu artinya engkau siap untuk memasuki jenjang pernikahan. Pernikahan adalah 
satu fase di mana kalian berdua sebagai dua orang
 yang dewasa, bertanggung jawab, matang dan bisa mengurus diri sendiri sekarang 
saatnya belajar mengisi apa yang dibutuhkan pasangan satu sama lain. Itu 
artinya 1+1=1. Walaupun akhirnya saya menemukan satu hal yang unik sekali di 
mana banyak orang menemukan pasangannya karena tertarik dengan dia secara 
‘complimentary’ saling mengisi satu sama lain. Tetapi complimentary itu bukan 
karena saya tidak bisa masak, maka saya berusaha mencari istri yang pintar 
masak. Complimentary itu bisa terjadi di antara orang yang bisa jadi bertolak 
belakang sama sekali. Ada pria yang pendiam dan introvert tertarik dengan 
wanita yang talkative dan extrovert. Demikian sebaliknya. Tetapi saya ingatkan, 
kadang kala yang saudara rasa menjadi sumber daya tarik waktu pacaran, bisa 
jadi akhirnya menjadi sumber keributan di masa pernikahan. Ada wanita yang 
mengatakan dia tertarik dengan pria itu karena dia seorang yang ‘cool’ 
sedangkan dia sendiri orang yang emosinya meledak-ledak. Kalau
 menghadapi masalah, dia panik sedangkan pria itu bisa dengan tenang 
menyelesaikannya. Setelah 10 tahun menikah akhirnya itu yang menjadi sumber 
keributan di antara mereka. Suami yang tadinya ‘cool’ sekarang dianggap sebagai 
orang yang pasif, apatis, dan tidak mau tahu masalah keluarga, tidak mendukung 
istri yang setengah mati mengurus anak dan rumah tangga. Istri yang tadinya 
‘talkative’ sekarang dianggap cerewet dan tukang marah.
   
  Maka saya anjurkan jangan mencari pasangan karena engkau merasa ada 
kekuranganmu yang bisa dia isi. Sebaiknya bukan karena dia bisa memenuhimu, 
tetapi engkau sendiri sudah menjadi seorang yang utuh dan sekarang bersedia 
sacrifice membawa seseorang masuk ke dalam hidupmu untuk bersamamu saling take 
care satu sama lain. Kalau akhirnya dalam realitas pernikahan, hal yang tadinya 
membuatmu tertarik sekarang akhirnya menjadi sesuatu yang ‘annoying’ tidak 
menjadikan pernikahan itu kehilangan keindahannya. Ini blue print yang pertama, 
prinsip yang penting di dalam satu pernikahan yang tidak boleh saudara langgar. 
Kita keluar dari rumah, memasuki satu pernikahan yang bersifat adult 
relationship dengan lawan jenis. Itu merupakan relasi yang paling intim dan 
paling close. Tidak boleh ada relasi lain yang lebih intim daripada itu. Di 
situ saudara menyelesaikan permasalahan di antara suami istri sebagai dua orang 
dewasa dan bertanggung jawab.
   
  Blue print kedua yaitu bicara mengenai ‘role’ atau peran kita di dalam 
pernikahan. Pada waktu Tuhan menciptakan kita dengan gender laki-laki dan 
perempuan, maka perbedaan gender itu bukan saja berfungsi sebagai complimentary 
bagaimana terjadinya hubungan seksual yang membawa kepada reproduksi sebagai 
kesinambungan eksistensi manusia, tetapi fungsi gender itu lebih daripada itu. 
Analisa memberitahukan kepada kita bahwa gender wanita dengan sendirinya 
membentuk cara berpikir dan ‘wire’ yang ada di otak kita bersifat feminin. 
Perbedaan itu akan membawa kepada role yang berbeda antara pria dan wanita. 
Sebelum terjadi interaksi antara pria dan wanita, kita perlu mengerti perbedaan 
ini dan mengerti akan role masing-masing sehingga interaksi itu menjadi lebih 
baik. Karena itulah yang namanya natur. Saya lahir sebagai pria, maka saya 
punya natur pria di dalam diri saya yang memiliki keunikan dan signifikansi. 
Demikian sebaliknya dengan istri saya.
   
  Maka hidup pernikahan itu bukan saja menghargai pernikahan itu sendiri 
sebagai satu relasi yang Tuhan ikat secara permanen sampai kematian memisahkan 
kita, tetapi itu juga harus menjadi satu relasi yang harus kita kembangkan 
menjadi fulfill dan indah ketika kita berfungsi sebagai pria dan wanitia, suami 
dan istri yang seturut dengan apa yang Tuhan mau. Memang budaya memberikan 
kesempitan dan keleluasaan di dalam role pria dan wanita, tetapi sekali lagi 
kita harus menaruh pemahaman role itu di dalam kerangka firman Tuhan. Paulus 
berkata, “Bagimu sekarang berlaku hal ini: hai istri, hendaklah engkau 
menghormati suamimu sebagaimana kepada Tuhan dan suami, kasihilah istrimu 
seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.”
   
  Les Parrott mengatakan pernikahan itu seperti “Love Bank”. It depends on apa 
yang saudara berdua kerjakan di dalamnya. Kita tidak mungkin bisa masuk ke pada 
satu pernikahan yang sehat kalau bank cinta kita kalau saudara terus melakukan 
interaksi yang saling menyakitkan itu seperti saudara terus ‘withdrawal’ 
menarik dana dari bank itu . Tetapi kalau saudara memiliki interaksi yang 
menyenangkan dan baik, saudara seperti sedang memasukkan deposit ke bank 
saudara. Kalau saudara mau bank cinta itu penuh, dua belah pihak harus rajin 
menabung di dalamnya. Saudara mengeluh, “...Wah, susah pak. Saya yang terus 
menabung, dia yang terus ambil. Saya mau berbahagia, saya mau menyenangkan, 
saya terus menabung tetapi dia terus menciptakan interaksi yang menyakitkan 
sehingga tabungan cinta itu menjadi kosong.” Tergantung sekarang kalian berdua 
mau menaruh apa di bank cinta itu. Saudara terus menaruh hal yang menyakitkan, 
itu berarti saudara makin mengosongkan bunga cinta itu.
 Tetapi kalau saudara mau menaruh hal yang baik dan positif, saya percaya 
pernikahan itu masih bisa diselamatkan. Artinya, kalau sekarang bunga bank itu 
sudah negatif, masih ada harapan untuk dipenuhi.
   
  Sekarang saya akan bicara secara spesifik mengenai role wanita sebagai istri. 
“Hai istri, berlaku prinsip ini bagimu: respect and honor your husband as to 
the Lord.” Ini bukan soal budaya Barat atau Timur. Baik buku konseling Kristen 
ataupun non Kristen semuanya setuju bahwa salah satu core yang paling penting 
dan yang paling diinginkan para pria dari istrinya yaitu dihormati dan 
dihargai. Tiga dari empat pria lebih suka mendapat istri yang hormat dan respek 
meskipun kurang cinta dibanding mendapat istri yang cinta tetapi kurang hormat 
dan kurang respek kepada suaminya. Berarti ada hal yang penting mengapa suami 
merasa kebutuhannya kurang terpenuhi padahal istri merasa dia sudah cukup 
memperhatikan dan mengasihi suaminya. Alkitab 2000 tahun yang lalu sudah 
mengeluarkan prinsip ini dan tidak boleh dibalik: hai suami tunduklah kepada 
istrimu dan hai istri kasihilah suamimu. Alkitab jelas mengatakan kepada para 
istri: respek dan hormatlah kepada suamimu seperti kepada
 Tuhan. Tunduk, respek dan cinta menjadi satu lingkaran yang saling berkaitan 
satu sama lain, menghasilkan relasi yang sehat atau tidak sehat. Itu sebab Dr. 
Eggerichs di dalam bukunya “Love and Respect” mengatakan ini menjadi satu 
lingkaran yang sulit dipecahkan dan jikalau lingkaran itu rusak, perlu 
keberanian dari salah satu pihak untuk memulai. Biasanya, kalau suami merasa 
istri tidak hormat kepadanya, itu akan membuat dia bereaksi menjadi dingin dan 
kasar kepada istrinya. Kemudian istri merasa suami yang dingin dan kasar itu 
menunjukkan suami tidak cinta kepadanya akhirnya bertendensi untuk berlaku 
kasar kepada suaminya juga. Akhirnya jadi lingkaran setan. Suami, kasihilah 
istrimu. Bagaimana saya bisa sayang kepada dia yang begitu kasar dan 
marah-marah melulu? Istri, hormat dan respeklah kepada suamimu, jangan suka 
kasar memotong perkataannya. Bagaimana saya bisa hormat kepada dia? Orangnya 
dingin dan arrogant sekali. Jadi siapa yang harus lebih dulu memulai? Kalau
 dua-dua tidak mau memulai, tidak akan bisa dibereskan sampai kapanpun. Dua 
inti ini penting. Istri memiliki kebutuhan untuk dikasihi oleh suami dan suami 
membutuhkan hormat dan respek dari istrinya. Istri berlaku menjadi tidak hormat 
karena di belakang dia merasa dia ingin sekali suaminya mencintai dia 
setulusnya. Suami mungkin berlaku dingin dan tidak ada kehangatan kepadamu 
karena di baliknya dia sangat rindu sekali engkau menghargai sedikit apa yang 
menjadi pendapat dan penilaian dia. Cuma itu saja.
   
  Mana yang lebih gampang, mengasihi atau menghormati? Bagi sebagian orang, 
mengasihi lebih mudah daripada menghormati karena kita sudah dipatok dengan 
konsep ini, kita bisa mencintai secara unconditional tanpa pandang bulu, tetapi 
untuk menghormati seseorang, kita umumnya menaruh kualifikasi untuk seseorang 
itu bisa kita hormati. Love is given but respect must be earned. How can I 
respect my husband? He must earn it. Karena hormat itu mencakup aspek di mana 
dia perlu melakukan hal-hal tertentu, dia perlu memiliki sifat dan kualifikasi, 
baru dia berhak mendapatkan hormat dan respek dari aku. Itulah yang sehari-hari 
kita hadapi, betapa susahnya untuk memberikan penghormatan itu sebab kita sudah 
terjebak dengan konsep dia harus berusaha mendapatkannya. Maka kita menemukan 
betapa susahnya satu hidup pernikahan jika sebagai istri saudara mendapatkan 
gaji lebih tinggi daripada suamimu dan merasa diri lebih tinggi daripada dia, 
bagaimana bisa hormat? Mungkin istri mempunyai bakat
 dan talenta lebih banyak daripada suami, sehingga saudara rasa bagaimana bisa 
tunduk sama dia? Mengajar anak matematika, lebih pintar saya. Dia kalau 
mengajar, salah melulu.
   
  Yang kedua, mengapa wanita sulit menghormati suami? Karena takut makin 
memberi hormat, kepala kita bisa diinjak suami. Nanti saya dijadikan ‘keset’ 
rumah tangga. Itu kan realitas dosa, pak, kita baik sama orang, kita kasih hati 
dia mau jantung. Kepada suami juga begitu, kita tidak boleh terlalu hormat 
karena nanti dijadikan keset kaki dia. Ini konsep yang keliru. Respek tidak 
berarti istri jadi budak. Respek tidak berarti posisi kalian menjadi tidak 
equal.
   
  Yang ketiga, mengapa istri sulit untuk respek kepada suami? Di dalamnya ada 
unsur kecewa karena istri merasa sudah memberi kesempatan tetapi suami 
membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja. Sehingga akhirnya respek istri 
terhadap suami menjadi turun derajatnya. Itu sebab respek menjadi sulit 
diberikan pada waktu seorang istri merasa berapa batas dia harus mengampuni 
suaminya karena suami salah melulu. Hal-hal seperti ini terus diulang sehingga 
akhirnya istri jadi kehilangan respek. Jadi respek mengandung aspek lain yaitu 
kerelaan untuk menerima suami apa adanya walaupun itu tidak seturut dengan 
ekspektasi kita. Sulit luar biasa. Dua orang memasuki pernikahan kadang-kadang 
dengan high expectation. Kita pikir dengan menikah kita bisa memiliki hidup 
yang lebih baik tetapi akhirnya mungkin kita kecewa. Itu sebab kita akan bicara 
aspek yang lain lagi di dalam hubungan suami istri di mana pengampunan itu 
tidak boleh ada batasnya.
   
  Yang keempat, mengapa istri sulit untuk respek kepada suami? Karena memang 
wanita itu diciptakan Tuhan memiliki keunggulan daripada pria di mana wanita 
bisa melakukan segala sesuatu dan di dalam segala hal punya bakat alamiah, 
termasuk dalam menjadi pemimpin, sedangkan laki-laki perlu proses belajar. 
Itulah susahnya, karena di dalam mengatur dan memimpin rumah tangga dan bahkan 
hampir di dalam segalanya wanita itu secara alamiah langsung bisa tanpa perlu 
diajar. Itu sebab itu kita bisa melihat sejak TK sampai SMP anak perempuan 
lebih pintar daripada anak laki-laki, lebih bisa memimpin dan mengatur secara 
alamiah. Maka kita sering melihat istri yang sangat pandai, mulai dari memasak, 
mengurus rumah, merawat anak, bahkan budget keuangan dan mengatur jadwal dan 
detail liburan begitu baik, sehingga di sinilah perlu kerelaan hati bagaimana 
menjadi pendamping. Suami yang akhirnya kalah cepat, akhirnya jadi kernet. Maka 
istri yang baik akan melatih suaminya sampai suatu kali
 menjadi suami yang cakap dan mahir. Itu artinya menjadi pendamping. Belajar 
membiarkan suami berkembang, trust kepada judgment-nya, encourage dia menjadi 
ayah dan suami yang mengatur rumah tangga dengan leadership yang baik. Itulah 
sikap yang penting dari seorang pendamping yang respek dan submit kepada suami.
   
  Dengar baik-baik firman Tuhan bilang, “Hai istri, tunduklah kepada suamimu,” 
bukan, “Hai suami, tundukkanlah istrimu.” Itu dua hal yang berbeda. Kalau itu 
dibalik, kita akan melihat ajang pertikaian yang tidak habis-habisnya, 
pergulatan di dunia persilatan yang tidak ada hentinya. “Enak saja saya harus 
tunduk kepada suami.” Memang benar, Alkitab tidak bilang hai suami, 
tundukkanlah istrimu tetapi hai istri, tundukkanlah dirimu. Jadi inisiatif itu 
datang dari istri. Memang itu adalah perintah Tuhan, sehingga kita sekarang 
melihat relasi istri yang tunduk bukan relasi karena suami lebih tinggi 
daripada dia tetapi karena istri sekarang melihat relasi tunduk itu seperti 
relasi dia kepada Tuhan. It is your own choice and your own freedom untuk 
melakukannya dengan sukarela. Jangan pikir saya memaksamu untuk melakukannya 
dan suami juga tidak boleh bilang, “Istri, ayo tunduk, taat perintah Tuhan.” 
Saya hanya mengingatkan sebagai seorang istri Kristen di hadapan
 Tuhan, it is now between you and God. Itu sebab sikap tunduk merupakan aspek 
spiritual. Itu bukan soal power karena tunduk, hormat dan respek bukan soal 
tarik-tarikan kekuasaan. Tunduk itu merupakan suatu pelayanan spiritual. Mari 
kita meletakkan kembali satu prinsip penting menjadi seorang wanita dan sebagai 
seorang istri di hadapan suami. Istri menjadi penolong, dan menjadi penolong 
berarti pernikahan itu tidak berjalan sepihak tetapi suami dan istri menjadi 
satu team. Di situ berarti istri menjadi satu team yang mendukung suamimu. 
Menjadi satu team berarti pernikahan adalah satu tempat di mana kita saling 
salib-salib. Istri bukan kepala tetapi juga bukan leher yang bisa atur suami 
semau dia. It is a spiritual service. Menjadi pendamping berarti your main 
ministry to God as a wife is a ministry to your husband and to your children. 
Jadi melihat role sebagai istri itu sebagai pelayan Tuhan. Itulah arti kalimat, 
‘tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan.’ Jangan
 lagi lihat bagaimana suami dan berhakkah dia menerima respekmu, tetapi 
sekarang taruh perspektif pelayanan ini. Sekarang waktunya untuk menaruh relasi 
yang indah dan yang bahagia sebagai seorang istri yang tunduk dan hormat kepada 
suami.(kz)
   
   
   
   
  Sumber:
  
http://www.griisydney.org/ringkasan-khotbah/2008/2008/11/09/perspektif-dan-role-di-dalam-pernikahan/
   
   
   
   
Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio

""Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di 
depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." 
(1Sam. 16:7b)

       
---------------------------------
  Mencari semua teman di Yahoo! Messenger? 
Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang!

Kirim email ke