Filosofi Krisis

Krisis keuangan Amerika bermula dari bangkrutnya suprime mortgage yang menjalar 
pada sektor investment banking. Setelah dua mortgage, Fannie Mae dan Freddie 
Mac tumbang. Kemudian giliran lembaga investasi AS, Lehman Brothers ikut 
bangkrut. Hal tersebut memberi dampak kepada seluruh dunia, dan membuka pintu 
bagi hancurnya berbagai korporasi raksasa dunia.

Kita akan belajar sedikit tentang filosofi Chinese terhadap kata "krisis" ini. 
Bahasa mandarin untuk Krisis adalah : ?? (wei ji) berasal dari kata ?? (wei 
xian, danger) dan ? ? (ji huì, chance). 
Untuk itu setiap ??, wei ji (krisis), selalu memiliki 2 dimensi : pertama ?? 
(you wei, ada bahaya), kedua ?? (you ji, ada kesempatan) . Jadi di setiap 
krisis walaupun memang memiliki bahaya, namun juga mengandung kesempatan yang 
menuju kepada harapan/ kesuksesan.

Misalnya akibat krisis finansial, membuat saham-saham perusahaan jatuh ke titik 
terendah, misalnya saham "perusahaan A" dari harga $ 20 turun ke nominal $1. 
Bagi sebagian orang yang mimliki saham "perusahaan A" merupakan kerugian besar, 
namun hal tersebut memberikan "chance" bagi orang yang memiliki uang dan yang 
dapat memborong saham-saham itu dengan harga yang sangat murah. Dalam jumlah 
tertentu ia dalam tempo cepat dapat menjadi orang yang paling berkuasa di 
perusahaan itu. Contohnya investor pasar modal sukses dan bertangan dingin, ia 
sering mendapat keberuntungan dari suatu krisis semacam ini adalah Warren 
Buffet, salah satu orang terkaya di dunia. (Tapi tampaknya krisis kali ini, 
Buffet sangat hati-hati tidak serta-merta membeli saham-saham dari perusahaan 
yang jatuh). 

Dalam kehidupan ini, kitapun sering menghadapi krisis, sudah menjadi hal yang 
lazim, orang yang sedang menghadapi krisis, ia akan ingat Tuhan. Ia menjadi 
rajin berdoa, cari Tuhan. Syukurlah Tuhan itu selalu ada dalam saat-saat 
krisis, Ia tidak pernah komplain, tetapi Ia siap sedia menolong setiap orang 
yang berseru kepadaNya. Allah senantiasa ada pada saat krisis, ketika anak 
bungsu menghadapi krisis kehabisan uang di perantauan, krisis itupun masih 
menyisakan kesempatan bagi si anak bungsu kembali pulang ke rumah ayahnya. 
Bapak yang penuh kasih ini menerima kembali anaknya dan mengabaikan 
kesalahan-kesalahannya (Lukas 15:11-32). 

Alkitab cukup banyak memberi contoh krisis yang dibarengi dengan kesempatan. 
Yusuf mengalami krisis, dibenci saudara-saudaranya, menjadi budak di negeri 
orang, dipenjara, namun itu semua merupakan jalan bagi kesempatan dia menjadi 
orang yang mempunyai kuasa di Mesir (Kejadian pasal 37-43). Kisah yang lainnya 
lagi, seorang ibu mengalami sakit pendarahan, suatu krisis yang panjang, selama 
12 tahun. Kemudian ia pergi kepada Tuhan Yesus, walau ia hanya mempunyai 
kesempatan menyentuh purca jubahNya saja, ia menjadi sembuh karena iman, dan 
Sang Mesias itu memberi pujian kepadanya "imanmu menyelamatkan engkau" (Matius 
9:20-22). Dalam suatu perumpamaan, Tuhan Yesus mengajar : ada seorang janda 
menghadapi krisis, ia sedang mempekarakan haknya di pengadilan, ia menghadapi 
hakim yang jahat, walau kelihatannya krisisnya mustahil diselesaikan, ia masih 
mempunyai kesempatan, ia memohon tak henti-hentinya kepada hakim itu, dan ia 
pun mempunyai kesempatan melewati krisisnya (Lukas 18:1-8). 

Supaya domba berbalik kepada sang gembala. Di negara-negara Timur Tengah, 
jikalau seekor anak domba sering meninggalkan kawanan domba, maka gembalanya 
mematahkan tulang kakinya lalu membebatnya. Oleh karena anak domba itu tidak 
dapat berjalan, maka gembalanya menggendong domba itu di atas bahunya sendiri 
sehingga sembuh. Dengan demikian domba itu dekat sekali dengan gembalanya 
sampai sembuh, dan di kemudian hari ia tidak mau meninggalkan gembala lagi. 
Sering kali Allah harus "menyakiti" (memberi krisis) umatnya yang suka 
menyimpang dariNya, hal tersebut supaya mereka mempunyai kesempatan kembali 
kepada Allah, Bapa kita. Tuhan Yesus sendiri, Gembala kita yang baik mengalami 
krisis, Ia harus menderita di kayu salib, tetapi di dalamnya membuahkan 
kesempatan dan karya bagiNya untuk penyelamatan manusia dari dosa.

Kiranya ini menjadi perenungan kita. Krisis tak pernah hadir sendirian, krisis 
selalu mempunyai dimensi yang lain, yang membuka jalan bagi kita untuk berusaha 
dan berjuang, dan disitu ada kesempatan bagi kita untuk membangun diri untuk 
meraih sukses. Penyelesaian krisis itu suatu pilihan, Anda mengasihani diri 
hanyut dalam krisis atau bangkit mencapai kesempatan untuk meninggalkan krisis 
itu.



Blessings in Christ,
Bagus Pramono
November 30, 2008





http://www.sarapanpagi.org/filosofi-krisis-vt2459.html#p13621


<<jesus_sheep.jpg>>

Kirim email ke