From: Romo maryo "Pergilah ke seluruh dunia dan beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (1Kor 9:16-19.22-23; Mrk 16:15-20)
“Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Elohim. Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.” (Mrk 16:15-20), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Fransiskus Xaverius hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Dalam sejarah Ordo Serikat Yesus, yang didirikan oleh Ignatius Loyola, pada masa awal derap langkah hidup bersama dan pelayanannya pernah memperoleh tegoran dari petinggi Gereja Katolik, Kepausan:, kurang lebih berbunyi demikian: “Mengapa para anggota Serikat Yesus sebagai religius atau biarawan tidak atau jarang berdoa bersama seperti para anggota lembaga hidup bakti yang lain?”. Menanggapi tegoran ini dengan cerdas Nadal, sekretaris Ignatius Loyola menyampaikan penjelasan kurang lebih sebagai berikut: “Kami ini adalah pengikut Santo Paulus yang terus berjalan dan berkeliling dunia untuk memberitakan Kabar Baik”. Dalam sejarah Gereja ada dua tokoh awal sebagai dasar atau pondasi yaitu Petrus, yang selanjutnya diteruskan oleh para Paus, yang bertahta di Roma dan Paulus yang berkeliling dunia, yang rasanya diteruskan oleh para anggota Lembaga Hidup Bakti atau biarawan-biarawati yang bersifat mondial. Fransiskus Xaverius yang kita kenangkan hari ini adalah contoh konkret pengikut atau penerus Paulus, yang berkeling dunia, ‘pergi ke seluruh dunia untuk membertakan Injil kepada segala makhluk’, maka ia juga diberi gelar sebagai salah satu Pelindung Misi. Maka baiklah dalam mengenangkan pesta St.Fransiskus Xaverius hari ini kita mengenangkan panggilan missioner kita masing-masing: sejauh mana dalam derap langkah atau kepergian ke manapun dan dimanapun senantiasa memberitakan apa yang baik dan membahagiakan atau sejauh mana apa yang kita lakukan dan katakan senantiasa adalah apa yang baik dan membahagiakan. Sebagaimana disabdakan oleh Yesus di atas jika kita sungguh beriman tidak perlu takut dan gentar menghadapi aneka macam ‘rayuan atau godaan setan’ yang menggejela dalam diri sesama dan saudara-saudari kita: dalam dan dengan iman kita akan mampu mengatasi aneka tantangan dan hambatan, sebagaimana telah dihayati oleh Fransiskus Xaverius dalam perjalanannya mengelilingi dunia sambil mewartakan Kabar Baik. · “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1Kor 9:16) , demikian kesaksian Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua orang beriman. Injil adalah Warta Gembira, maka memberitakan Injil berarti memberita kan warta gembira, apa yang menggembirakan dan menyelamatkan atau mensejahtera kan. Siapapun yang tidak memberitakan apa yang menggembirakan alias aneka macam bentuk kejahatan atau penyelewengan pasti akan celaka, tidak perlu dihukum ia sudah terhukum dengan sendirinya, antara lain semakin dijauhi oleh sesamanya atau saudara-saudarinya. Marilah kita saling berlomba dalam menggembirakan sesama atau saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun, tanpa pandang bulu, SARA, usia, pangkat atau kedudukan, dst.. Jika kita mampu menggembirakan orang lain hendaknya juga tidak menjadi sombong, melainkan tetap rendah hati, karena apa yang kita lakukan atau berikan kepada orang lain tidak lain adalah kasih karunia Elohim yang telah kita terima secara melimpah ruah. Memang agar kita dapat menggembirakan orang lain diri kita sendiri harus gembira, ceria dan selamat. Tidak ada alasan untuk tidak gembira karena kita telah menerima kasih karunia Elohim secara melimpah ruah melalui sesama atau saudara-saudari kita. Kegembiraan dan keceriaan diri kita pada dasarnya sudah bersifat missioner, karena siapapun yang melihat atau hidup bersama dengan orang gembira pasti akan tergerak atau termotivasi untuk ikut bergembira juga. Jika kita gembira dan ceria kiranya akan tahan terhadap aneka macam jenis serangan virus penyakit dan dengan demikian kita tetap sehat wal’afiat, damai sejahtera, gembira serta ceria. “Pujilah TUHAN, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa! Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!” (Mzm 117) ================================================== From: Romo maryo “Semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai “ (Yes 11:1-10; Luk 10:21-24) “Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu." Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: "Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya” (Luk 10:21-24), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.. Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Orang bijak dan pandai, yang pada umumnya kemudian menjadi pemimpin, sering berbicara sedikit dan umum serta tidak sampai mendetil. Karena tugas dan fungsinya ia juga jarang berurusan dengan yang kecil-kecil dan sederhana. Sebaliknya orang-orang kecil seperti pegawai, buruh atau pembantu rumah tangga berurusan dengan hal-hal kecil-kecil seperti menu makanan dan minuman dengan segala ramuannya, kebersihan lingkungan, rumah atau gedung sehingga peka akan aneka jenis kotoran atau sampah sekecil apapun, dst.. Jika kita cermati dan perhatikan kiranya apa yang kita butuhkan dalam hidup sehari-hari demi kesehatan, kebahagiaan dan kesejahteraan kita adalah hal-hal atau perkara-perkara kecil. Peralatan, sarana atau alat-alat yang canggih dan sangat berpengaruh di masa kini juga sangat kecil, misalnya serat optic yang melancarkan aneka macam ketubuhan dengan berkomunikasi. Maka marilah di masa Adven ini kita perhatikan apa-apa yang kecil dan sederhana, tentu saja pertama-tama dan terutama adalah sesama manusia, yaitu mereka yang miskin, lemah dan serba berkekurangan atau para pegawai dan buruh, pembantu rumah tangga dst.. Pada umumnya mereka ini adalah para pelaksana aneka kebijakan dan keputusan dari mereka yang bijak dan pandai, dengan kata lain tanpa mereka aneka kebijakan dan keputusan tinggal tetap dalam kata-kata dan tak pernah dilaksanakan. Yang lebih kita butuhkan adalah pelaksanaan atau penghayatan bukan kata-kata atau omongan atau rumusan. Kepada para pengusaha atau orang kaya kami berharap agar memperhatikan para pegawai, buruh atau pembantu rumah tangga secara memadai, sehingga mereka dapat hidup damai sejahtera. . · “Celakalah mereka yang menentukan ketetapan-ketetapan yang tidak adil, dan mereka yang mengeluarkan keputusan-keputusan kelaliman, untuk menghalang-halangi orang-orang lemah mendapat keadilan dan untuk merebut hak orang-orang sengsara di antara umat-Ku, supaya mereka dapat merampas milik janda-janda, dan dapat menjarah anak-anak yatim!” (Yes 10:1-1-2), demikian seruan Yesaya kepada kita semua. Seruan ini memang pertama-tama dan terutama terarah kepada mereka yang sering atau selalu ‘menentukan ketetapan-ketetapan’ untuk atau demi hidup bersama, entah di dalam keluarga, masyarakat/Negara, maupun tempat kerja dan kebersamaan hidup dalam bentuk apapun. Hendaknya ditentukan ketetapan-ketetapan atau kebijakan-kebijakan yang adil, yang memperhatikan mereka yang lemah, para janda maupun anak-anak yatim. Secara khusus saya mengingatkan dan mengajak para pengurus LSM yang bergerak dalam pelayanan atau perhatian terhadap mereka yang lemah, misalnya: orang miskin, korban-korban kekerasan atau bencana alam, panti-panti asuhan, dst.. Pada umumnya mencari dan mengusahakan sumbangan untuk membantu mereka alias atas nama yang lemah, miskin dan berkekurangan tidak terlalu sulit, dengan catatan apa yang diperoleh atau diterima sepenuhnya digunakan atau difungsikan bagi mereka, bukan bagi para pengurus LSM yang bersangkutan. Maaf dan maklum hal ini saya angat dan ingat kan karena dalam berbagai kasus gerakan demi yang miskin dan berkekurangan atau para korban bencana alam ada oknum-oknum tertentu yang merampas hak mereka yang miskin, lemah dan berkekurangan, alias menjadikan orang miskin, lemah dan berkekurangan untuk memperkaya diri dengan mencari sumbangan alias mengemis atau korupsi. Dana dan sumbangan terkumpul tidak langsung difungsikan bagi mereka yang berhak menerimanya, melainkan disimpan atau ditahan. Konon mereka terpaksa menyimpan dan menahannya karena takut tidak dapat bertindak adil dalam menyalurkannya, takut ada oknum-oknum yang langsung melayani mereka yang miskin dan berkekurangan melakukan korupsi. Tetapi sebenarnya yang ada ialah bahwa ‘para bijak dan pandai’ sendiri yang korupsi dan merampas hak orang miskin, lemah dan berkekurangan, maka kepada mereka ini kami ajak untuk bertobat dan memperbaharui diri. “Ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong; ia akan sayang kepada orang lemah dan orang miskin, ia akan menyelamatkan nyawa orang miskin” (Mzm 72:12-13) ===================================================== From: Romo maryo “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu” (Yes 26:1-6; Mat 7:21.24-27) “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”(Mat 7:21.24-27), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Ada sementara orang jika berdoa begitu panjang dan bertele-tele serta didoakan dengan suara lantang. Kiranya boleh dipertanyakan apakah orang yang bersangkutan sungguh berdoa atau menghafalkan kata-kata yang indah. Berdoa berarti berkomunikasi atau berwawancara dengan Tuhan, entah secara pribadi atau bersama. “Deus semper maior est” (=Tuhan senantiasa lebih besar), maka siapapun yang sungguh bertemu atau ‘bertatap muka’, tanpa berkata-kata apapun dan hanya ‘hadir di hadiratNya’ pasti akan dipengaruhi atau dikuasai karena Tuhan maha segalanya. Dipengaruhi atau dikuasai oleh Tuhan mau tidak mau harus mentaatiNya serta melaksanakan apa yang menjadi perintah atau kehendakNya. Keunggulan hidup beriman atau beragama terletak dalam penghayatan atau pelaksanaan bukan kata-kata atau omongan. “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu”, demikian sabda Yesus. Maha ketika ‘berada di hadirat Tuhan’, bertatap muka denganNya, pertama-tama dan terutama hendaknya ‘mendengarkan’ bukan ‘mendengar’ saja. ‘Mendengarkan’ butuh kerendahan hati, tanpa kerendahan hati kita tidak mampu mendengarkan dengan baik. Ingatlah dan hayatilah bahwa iman muncul dan tumbuh berkembang dalam dan melalui pendengaran. Bayi di dalam rahim ibu telah dapat mendengarkan, dan apa yang ia dengarkan akan membentuk kepribadiannya. Untuk menjadi terampil dalam mendengarkan kehendak dan perintah Tuhan kiranya kita dapat melatih diri dengan mendengarkan sesama dan saudara-saudari kita. Jika kita tidak dapat ‘mendengarkan’ apa yang dikatakan atau dilakukan oleh sesama kita, maka kita tidak akan mampu mendengarkan apa yang disabdakan atau diperintahkan oleh Tuhan. Marilah kita renungkan dan hayati sabda ini:"Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Elohim dan yang memeliharanya." (Luk 11:28), “Memelihara” berarti melaksanakan atau menghayatinya. · “Percayalah kepada TUHAN selama-lamanya, sebab YAHWEH Elohim adalah gunung batu yang kekal. Sebab Ia sudah menundukkan penduduk tempat tinggi; kota yang berbenteng telah direndahkan-Nya, direndahkan-Nya sampai ke tanah dan dicampakkan-Nya sampai ke debu” (Yes 26:4-5), demikian pesan atau nasihat Yesaya. “Percaya kepada Tuhan selama-lamanya”, sejak saat ini sampai mati, itulah panggilan dan tugas pengutusan kita semua orang beriman. Percaya kepada Tuhan berarti mempersembah kan diri seutuhnya kepada Tuhan alias beriman, sehingga memiliki cara hidup dan cara bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan serta hidup dan bertindak dengan rendah hati dimanapun dan kapanpun. Dengan semangat iman ia hidup bersama, hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tuhan senantiasa hidup dan berkarya dimana-mana atau dalam seluruh ciptaan-ciptaanNya tiada henti, terus menerus. Maka sebagai tanda bahwa kita sungguh beriman kiranya dapat mendengarkan dan menikmati karya Tuhan dalam ciptaan-ciptaanNya, terutama dalam diri manusia yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citraNya. Dengan kata lain kita dipanggil untuk saling mendengarkan, mempercayai atau mengimani. Jauhkan aneka kecurigaan atau keraguan terhadap sesama dan saudara-saudari kita. Para pemimpin atau atasan hendaknya menjadi teladan dalam hal saling mendengarkan dan mempercayai ini, antara lain mendengarkan dan mempercayai bawahan atau anggota-anggotanya. Berilah kebebasan kepada bawahan atau anggota untuk mengerjakan apa yang telah ditugaskan kepadanya dengan kreatif dan dinamis, dan pada waktunya kita mohon laporan atau evaluasi. Marilah kita usahakan dan perdalam keutamaan saling mendengarkan dan mempercayai dalam kehidupan bersama kita dimanapun dan kapanpun, tentu saja terutama dan pertama-tama di dalam keluarga, keluarga yang menjadi dasar hidup bersama. “Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia. Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada para bangsawan Bukakanlah aku pintu gerbang kebenaran, aku hendak masuk ke dalamnya, hendak mengucap syukur kepada TUHAN. Inilah pintu gerbang TUHAN, orang-orang benar akan masuk ke dalamnya.Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah menjawab aku dan telah menjadi keselamatanku” (Mzm 118:8-9.19-21)

