From: Davida BARU! KUMPULAN BAHAN NATAL DI NATAL.SABDA.ORG
Anda membutuhkan banyak bahan seputar Natal? Anda kesulitan mencari situs Natal berbahasa Indonesia? Kami mengajak Anda mengunjungi situs terbaru yang diluncurkan oleh Yayasan Lembaga SABDA, natal.sabda.org. Situs ini berisi kumpulan bahan-bahan Natal yang diharapkan mampu menjawab kebutuhan Anda akan bahan-bahan Natal bermutu dan sesuai dengan prinsip firman Tuhan. Bahan-bahan yang dapat Anda peroleh dalam situs ini adalah Renungan Natal, Artikel Natal, Cerita/Kesaksian, Diskusi PESTA, Drama Natal, Puisi Natal, Tips Natal, Bahan Mengajar, Blog, Resensi Buku, Review Situs, e-Cards, Gambar/Desain Natal, dan Lagu Natal. Anda tidak hanya dapat meraup banyak bahan Natal dalam situs natal.sabda.org. Jika Anda mendaftarkan diri sebagai pengguna, Anda juga dapat mengirimkan tulisan, menulis blog, dan mengucapkan selamat Natal kepada rekan-rekan Anda. Jadi, tunggu apa lagi? Segera kunjungi situs natal.sabda.org, untuk memberi makna lebih dalam Natal Anda, juga untuk membagi berkat melalui tulisan-tulisan yang Anda posting. ==> http://natal.sabda.org In Christ, Davida ===================================================== From: Hadi Kristadi *TUKANG ENGKOL SPBU YANG JADI CEO * "I OWE THIS TO YOU". Kalimat ini ingin sekali diutarakan Darwin Silalahi kepada Gess Laving. Gess adalah salah seorang petinggi British Petroleum (kini sudah berubah menjadi Beyond) Indonesia periode 1987-1990. Bagi Darwin, mantan atasannya itu berkontribusi besar dalam mengubah jalan hidup, termasuk meretas pencapaian karirnya saat ini. Darwin sekarang adalah Chief Executive Officer (CEO) PT Shell Indonesia. Ia pribumi pertama yang memuncaki jabatan perusahaan yang berkantor pusat di Belanda itu. Bergabung sejak April lalu, Juni ini ia diangkat menggantikan Bob Moran, CEO Shell Indonesia sebelumnya. Sebuah prestasi luar biasa. Utang budi Darwin di masa lalu tak ada hubungannya dengan materi, apalagi jabatan. Ia hanya merasa Gess telah menemukan potensi lain dalam dirinya. Ya, di BP 20 tahun silam itu, Darwin hanyalah seorang geophysicist. Ia masih staf biasa, sebelum akhirnya dikirim perusahaan melanjutkan studi S2 di University of Houston. Studi ini menjadi titik balik kehidupannya. Ia yang berlatar belakang fisika, lulus S1 dari Fisika UI tahun 1985, dan berkarir sebagai geofisika, malah diminta belajar manajemen. "Di situlah kehebatan Gess," kenangnya. Dan tak sebatas itu. Ia masih ingat benar motivasi Gess agar dirinya tidak takut keluar dari comfort zone-nya (bidang fisika) selama ini. Mulanya, Darwin menolak. Bukan karena tak tertarik dengan bidang yang akan dipelajari, tapi berkaitan dengan kemampuannya. Ia kurang percaya diri. Betapa tidak, atasannya langsung, Dave Taylor, yang pernah mengenyam pendidikan serupa berakhir kurang memuaskan. Di BP, saat itu, siapa pun tahu Dave adalah karyawan paling berbakat dan potensial. Gess hanya membesarkan hatinya. "Kalau kamu tidak berhasil dalam program ini, kamu juga ingat, Dave pernah gagal," kata Gess, seperti ditirukan Darwin. Momen itu tak akan terlupakan. Yang terus dipikirkannya, bagaimana seorang atasan bisa percaya dengan pemula seperti dirinya, sementara karyawannya yang paling berbakat pernah gagal. Sejak itu, ia mulai nyandu dengan ilmu manajemen. Nah, bicara soal gaya memimpin, inspirasi tak hanya datang dari Gess. Ia juga mengaku sangat terkesima dengan keberhasilan Robby Djohan. Menurutnya, ketika masih di Bank Niaga, bankir kondang itu sukses mencetak eksekutif berkualitas. "Saya ingin Shell seperti Bank Niaga. Saya merasakan betul bagaimana hal itu pernah terjadi pada saya ketika masih bekerja di BP," katanya. Soal mencetak eksekutif ini, sebenarnya ia cuma bicara tentang obsesi. Pekerjaan utamanya di Shell tetap saja satu: bagaimana menjadikan perusahaan migas multinasional ini jadi yang terbaik di sektor hilir, alias mampu mengalahkan dominasi Pertamina dalam waktu dekat, memang tidak mungkin. Tapi, paling tidak menjadi yang terkuat nomor 2. Bagi Shell, Indonesia adalah pasar yang strategis. Deregulasi sektor hilir migas membuat pasar BBM dalam negeri makin seksi. Perubahan itu, memungkinkan swasta lain di luar Pertamina bisa berkompetisi secara sehat. "Ke depan kami juga sedang menjajaki kemungkinan ikut mendistribusikan BBM bersubsidi (premium)," katanya. Dan nyatanya, Indonesia memang pangsa yang gemuk. "Masih under pomp. Rasio jumlah pompa bensin tidak sebanding dengan kebutuhan penduduk Indonesia yang sangat padat," terang Darwin. Di Malaysia, ia menambahkan, kami menjadi nomor dua setelah Petronas. Untuk diketahui, di Malaysia yang penduduknya hanya 20 juta, Shell memiliki 900 SPBU. Di Indonesia jumlah SPBU itu baru 10 buah. Kesepuluh SPBU itu telah memasarkan produk BBM kelas atas, atau nonsubsidi, seperti RON (research octane number) 92 (sekelas Pertamax) dan RON 95 (sekelas Pertamax Plus). Untuk menggenjot volume, kata Darwin, Shell berencana ikut masuk di kelas Ron 88 (sekelas premium). Tapi, ya itu tadi, mereka masih bersikap wait and see hingga ada kejelasan baru soal aturan main di bisnis hilir. Inilah sisi kritis itu. Agar optimal, Shell tidak bisa tidak mesti mengusahakan country chairman diduduki orang lokal. Darwin lahir dan besar di Balige, Sumatra Utara. Ayahnya memiliki 2 istri. "Ibu dinikahi ketika masih berusia 18 tahun, sementara ayah 65 tahun," tuturnya. Ia memiliki 7 saudara kandung, dan tiga saudara tiri. Latar kehidupan keluarga besar ini terbilang biasa saja. Ekonomi keluarga ditopang dari kegiatan SPBU. Jangan membayangkan seperti di kota besar, di Balige, bisnis menjual BBM termasuk skala usaha kecil. "Saya pernah bekerja di sana sebagai tukang engkol (alat pemutar) mesin SPBU manual," katanya. Dan Balige ternyata terlalu sempit untuk aktualisasi diri. Menginjak kelas dua SMU, ia pun merantau ke Jakarta. "Saya tinggal dengan saudara," katanya. Di belantara Ibu Kota, kehidupan malah terasa lebih berat. "Saya biasa tidak punya uang jajan. Kalau haus, saya tinggal pergi ke penjual minuman, minta es batu," kenang alumni SMA 70 Jakarta ini. Di tengah himpitan ekonomi, nyatanya ia tetap mampu mencetak prestasi. Penggemar pelajaran matematika dan fisika ini lulus dengan amat memuaskan. Ia memperoleh nilai matematika 10. "Harusnya, angka sempurna itu milik Tuhan," tutur Darwin, tentang gunjingan para gurunya kala itu. Ia kemudian diterima di Universitas Indonesia. Di kampus pelat merah ini beban hidupnya tak sedikit pun berkurang. Malah semakin limbung ketika datang kabar dari kampung. "SPBU milik keluarga harus tutup. Biaya operasional sudah tidak sebanding dengan pendapatan," ujarnya. Selain biaya kuliah, bebannya kini bertambah: ia juga harus berkontribusi terhadap kelangsungan keluarga besarnya. Tapi, Darwin bukan tipe orang yang mudah putus asa. Untuk meringankan beban, ia bekerja paruh waktu sebagai guru bimbingan belajar dan privat. Hasilnya memang lumayan. Tapi, itu belum cukup untuk memperbaiki kualitas hidupnya. "Saya cuma makan tempe dan kuah sop. Kalau Pak Kumis lagi baik, saya suka diberi suwiran daging, untuk perbaikan gizi," katanya terbahak. Pak Kumis yang diceritakan ini adalah seorang pemilik warung makan di depan UI Salemba. Roda hidupnya mulai berputar ketika ia lulus kuliah pada 1985. Ia mulai diterima bekerja di British Petroleum Indonesia. Karir profesionalnya mulai menanjak ketika dikirim belajar ke Amerika. Selama studi, ia dititipkan di BP Exploration Houston. Tiga tahun berselang (1994) ia kembali ke Indonesia. Kepulangannya menandai akhir kemesraannya dengan BP. Keluar dari BP, Darwin bergabung dengan Dharmala Group. Di perusahaan ini ia beberapa kali menjabat sebagai senior executive, hingga mencapai posisi puncak sebagai Direktur Corporate Planning and Development. Pada 1997 ia dibajak Bakrie and Brothers. Di konglomerasi milik keluarga Aburizal Bakrie ini ia ditunjuk sebagai Group Chief Operating Officer (COO). "Ini fase yang paling mendebarkan. Ketika itu usia saya baru 36 tahun, terlalu muda dan minim pengalaman," katanya. Di Grup Bakrie ia tak lama. Pada 1998 Darwin mengambil keputusan paling dramatis: berkarir di birokrasi. Ia menjadi Direktur Jenderal Kementerian BUMN-RI yang bertanggung jawab melakukan restrukturisasi dan privatisasi 14 BUMN yang bergerak di sektor komunikasi, transportasi, dan utilitas publik. Pada 2000, ia kembali ke swasta. Ia diangkat menjadi CEO Booz Allen Hamilton Indonesia. Pada April 2007, Darwin bergabung dengan Shell. Tepat 2 bulan kemudian, tukang engkol sebuah SPBU di Balige itu, akhirnya menahkodai Shell Indonesia. Ini menjadi puncak sekaligus akhir dari karirnya di ranah profesional. "Pensiun dari sini, saya hanya ingin mengajar," katanya. (dari: Gara-Gara Nyandu Ilmu Manajemen) - Oleh: Nurul Kolbi dan Dian S. Pitaloka, email kiriman dari Bapak Indro Purwoko. Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com ------------------------------------------------------------------------------------------ Selalu ada Inspirational Stories di http://pentas-kesaksian.blogspot.com ===================================================== From: Hadi Kristadi David and the Public Phone Kisah yang menarik dimana tetap mempertahankan prinsip menjadi orang baik dan harapan. David kuliah di fakultas perdagangan Arlington USA. Kehidupan kampusnya, terutama mengandalkan kiriman dana bulanan secukupnya dari orang tuanya. Entah bagaimana, sudah 2 bulan ini rumah tidak mengirimi uang ke David lagi. Di kantong David hanya tersisa 1 keping dollar saja. David dengan perut keroncongan berjalan ke bilik telepon umum, memasukkan seluruh dananya, yaitu satu keping uang logam itu, ke dalam telepon. "Halo, apa kabar?" telpon telah tersambung, ibu David yang berada ribuan km jauhnya berbicara. David dengan nada agak terisak berkata: "Mama, saya tidak punya uang lagi, sekarang lagi bingung karena kelaparan." Ibu David berkata: "Anakku tersayang, mama tahu." "Sudah tahu, kenapa masih tidak mengirim uang?" David baru saja hendak melontarkan dengan penuh kekesalan pertanyaan tersebut kepada sang ibu, mendadak merasakan perkataan ibunya mengandung sebuah kesedihan yang mendalam. Firasat David mengatakan ada yang tidak beres, ia cepat-cepat bertanya, "Mama, apa yang telah terjadi di rumah?" Ibu David berkata, "Anakku, papamu terkena penyakit berat, sudah lima bulan ini, tidak saja telah meludeskan seluruh tabungan, bahkan karena sakit telah kehilangan tempat kerjanya, sumber penghasilan satu-satunya di rumah telah terputus. Oleh karena itu, sudah 2 bulan ini tidak mengirimimu uang lagi, Mama sebenarnya tidak ingin mengatakannya kepadamu, tetapi kamu sudah dewasa, sudah saatnya mencari nafkah sendiri." Ibu David berbicara sampai disitu, tiba-tiba menangis tersedu sedan. Di ujung telepon lainnya, air mata David juga "tes", "tes" tak hentinya menetes, dan ia berpikir Kelihatannya saya harus drop out dan pulang kampung." David berkata kepada ibunya, "Mama, jangan bersedih, saya sekarang juga akan mencari pekerjaan, pasti akan menghidupi kalian." Kenyataan yang pahit telah membuat David terpukul hingga pusing tujuh keliling. Masih 1 bulan lagi, semester kali ini akan selesai, jikalau memiliki uang, barang 8 atau 10 dollar saja, maka David mampu bertahan hingga liburan tiba, kemudian menggunakan 2 bulan masa liburan untuk bekerja menghasilkan uang. Akan tetapi sekarang 1 sen pun tak punya, mau tak mau harus drop out. Pada detik ketika David mengatakan "Sampai jumpa" kepada ibunya dan meletakkan gagang telpon itu, sungguh luar biasa menyakitkan, karena prestasi kuliahnya sangat bagus, selain itu ia juga menyukai kehidupan di kampus fakultas perdagangan Arlington tersebut. Sesudah meletakkan gagang telpon, pesawat telpon umum tersebut mengeluarkan bunyi gaduh, David dengan terkejut dan terbelalak menyaksikan banyak keping dollar menggerojok keluar dari alat itu. David berjingkrak kegirangan, segera menjulurkan tangannya menerima uang-uang tersebut. Sekarang, terhadap uang-uang itu, bagaimana menyikapinya? Hati David masih merasa sangsi, diambil untuk diri sendiri, 100% boleh, pertama: karena tidak ada yang tahu, ke dua: dirinya sendiri betul-betul sedang membutuhkan. Namun setelah bolak-balik dipertimbangkan, David merasa tidak patut memilikinya. Setelah melalui sebuah pertarungan konflik batin yang hebat, David memasukkan salah satu keping dolar itu ke dalam telepon dan menghubungi bagian pelayanan umum perusahaan telepon. Mendengar penuturan David, nona petugas pelayanan umum berkata, "Uang itu milik perusahaan telepon, maka itu harus segera dikembalikan (ke dalam mesin telepon)." Setelah menutup telepon, David hendak memasukkan kembali keping logam uang itu, tetapi sekali demi sekali uang dimasukkan, pesawat otomat itu terus menerus memuntahkannya kembali. Sekali lagi David menelepon, dan petugas pelayanan umum yang berkata, "Saya juga tak tahu harus bagaimana, sebaiknya saya sekarang minta petunjuk atasan." Nada bicara David yang sendirian dan tiada yang menolong memancarkan getaran kesepian dan kuyu, nona petugas pelayanan umum sangat dapat merasakannya, menilik perkataan dari ujung telepon dia merasakan seorang asing yang bermoral baik sedang perlu dibantu. Tak lama kemudian, nona petugas pelayanan umum menelepon ulang pesawat otomat yang sedang bermasalah itu. Dia berkata kepada David, "Saya telah memperoleh ijin dari atasan yang berkata uang tersebut untuk anda, karena perusahaan kami saat ini tidak mempunyai cukup tenaga, tak ingin demi beberapa dollar khusus mengirim petugas ke sana." "Hore!", David meloncat saking gembiranya. Sekarang, uang logam itu secara sah menjadi miliknya. David membungkukkan badannya dan dengan seksama nenghitungnya, total berjumlah 9 dollar 50 sen. Uang sejumlah ini cukup buat David bertahan hingga bekerja memperoleh upah pertamanya pada saat liburan nanti. Dalam perjalanan ke kampus, David tersenyum terus sepanjang jalan. Ia memutuskan membeli makanan dengan menggunakan uang itu lantas mencari pekerjaan. Dalam sekejap liburan telah tiba, David telah memperoleh pekerjaan sebagai pengelola gudang supermarket. Pada hari tersebut, David menjumpai boss perusahaan super market, menceritakan kepadanya tentang kejadian di telepon umum dan keinginannya untuk mencari pekerjaan. Si boss supermarket memberitahu David boleh datang bekerja setiap saat, tidak hanya pada liburan saja, sewaktu kuliah dan tidak terlalu sibuk juga boleh bergabung, karena boss supermarket merasa David adalah orang yang tulus dan jujur, terutama adalah orang yang seksama, membenahi gudang mutlak bisa dipercaya. David bekerja dengan sangat giat, boss sangat mengapresiasinya dan juga merasa kasihan. Si boss memberinya upah dobel. Sesudah menerima gaji, David mengirimkan keseluruhan gajinya kepada sang ibu, karena pada saat itu David sudah mendapatkan info bahwa ia berhasil memperoleh bea siswa untuk satu semester berikutnya. Sesudah 1 bulan, uang dikirim balik ke David. Sang ibu menulis di dalam suratnya: "Penyakit ayahmu sudah agak sembuh, saya juga telah mendapatkan pekerjaan, bisa mempertahankan hidup. Kamu harus belajar dengan baik, jangan sampai kelaparan." Sesudah membaca surat itu, David menangis lagi. David tahu, meski orang tuanya menahan lapar, juga tidak bakal meminta uang kepada David yang sedang perlu dibantu. Setiap kali memikirkan hal ini, David berlinang bersimbah air mata, sulit menenangkan gejolak hatinya. Setahun kemudian, David dengan lancar menyelesaikan kuliahnya. Setelah lulus, David membuka sebuah perusahaan, tahun pertama, David sudah mengantongi laba US $ 100.000. Ia senantiasa tak bisa melupakan kejadian di telepon umum. Ia menulis surat kepada perusahaan telepon tersebut: "Hal yang tak bisa saya lupakan untuk selamanya ialah, perusahaan anda secara tak terduga telah membantu dana US $ 9,50 kepada saya. Perbuatan amal ini, telah membuat saya batal menjadi pemuda drop out dan menuju kondisi miskin, bersamaan itu juga telah memberi saya energi tak terhingga, mendorong saya setiap saat tidak melupakan untuk berjuang. Kini saya mempunyai uang, saya ingin menyumbang balik sebanyak US $ 10.000 kepada perusahaan anda, sebagai rasa terima kasih saya." Boss perusahaan telpon bernama Bill membalasnya dengan surat yang dipenuhi antusiasme: "Selamat atas kesuksesan kuliah anda dan usaha yang telah berkembang. Kami kira, uang tersebut adalah uang yang paling patut kami keluarkan. Ini bukannya merujuk pada $9,50 yang dikembalikan dengan $10.000, melainkan uang itu telah membuat seseorang memahami sebuah petuah tentang prinsip tertinggi kehidupan." So, di saat-saat paling sulit, Pertama : Jangan melupakan harapan sudah ada di depan mata. Kedua: Jangan lupa menjaga moralitas. Setelah 20 tahun telah berlalu, bagaimana dengan David? Di kota Chicago, Amerika, terdapat sebuah gedung mewah, yang tampak luarnya menyerupai sebuah bilik telepon umum, itu adalah gedung perusahaan ADDC. Pendiri perusahaan ADDC, Presiden Direktur nya ialah David, selain itu juga David adalah salah satu penyumbang terbesar untuk badan amal. (Sumber: Email dari Ibu Shirley K. - dari Milis KompaGunsa80 - diposting oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon keterangan ini jangan dihilangkan apabila anda memforwardnya atau mempostingnya di web/blog anda - terima kasih) ==================================================== Selalu ada Inspirational Stories di http://pentas-kesaksian.blogspot.com

