From: rudi mulia Pohon Keluarga
Sebelum Anda menikah sangatlah bijaksana mencari bimbingan dan konseling pranikah. Salah satu yang perlu anda pelajari adalah pohon keluarga pasangan Anda. Ada pepatah asing mengatakan “like father like son, like mother like daughter”. Pepatah kita menegaskan “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Filsafat Jawa yang terkenal adalah pertimbangkan “bibit – bebet - bobot” calon Anda. Yang perlu dikenali dengan detail tidak saja sifat dan bawaan mental, tetapi juga kesehatan fisik calon Anda. Meski hal ini belum membudaya dalam masyarakat kita, tetapi pengalaman di ruang konseling membuat kami sangat menganjurkan untuk setiap orang yang hendak menikah mempertimbangkan calon pasangan anda dengan serius. Dalam budaya Yahudi, seseorang harus mengenal calon pasangannya sedalam mungkin sebelum mereka menikah. Caranya, ia disuruh mengenali orangtua calon pasangannya. Bukan sering-sering wakuncar, melainkan calon mertua. Dalam konseling, saya sering hadapi orang yang mengeluh,”Pak suami saya sih baek, tapi dengan mertualah saya sering bertengkar.” Ini namanya bukan salah memilih jodoh, namun salah milih mertua. Karena itu, saat anak kita mulai berpacaran, sarankan dia untuk belajar mengenali orangtua dan saudara-saudara (calon) pacarnya. Kami berharap Anda yang sedang memikirkan untuk segera berpacaran dengan salah seorang sahabat Anda (atau sedang berpacaran) pertimbangkanlah bahwa pasangan Anda telah mewarisi sebagian besar kebiasaan dari orangtuanya. Kepribadiannya telah terbentuk dari sistem komunikasi keluarga asalnya. Apa saja yang kita warisi dari orangtua kita? Di antaranya, kita mewarisi bentuk fisik, terutama wajah orangtua kita. Mungkin wajah kita mirip dengan salah satu orangtua kita. Sebagian kita akan mewarisi penyakit (yang berpotensi menurun dari pola hidup sehari-hari) dari orangtua kita. Misalnya: kanker, diabetes, dsb. Kita mengadopsi sikap mental orangtua kita. Misalnya kecenderungan mudah stress saat ada masalah. Kita juga mendapat warisan spiritual dari orangtua kita. Anak yang dididik dalam keluarga cinta Tuhan, relatif anak-anaknya mewarisi hal tersebut. Di samping hal-hal di atas, kita juga mewarisi: aturan keluarga, peranan dan pola komunikasi keluarga a. Aturan dalam keluarga Dalam budaya Asia, misalnya, ada aturan untuk menjaga rahasia keluarga. Kalau ada masalah, semua anggota keluarga disuruh diam, karena masalah sama dengan aib. Contoh masalah yang dianggap aib keluarga: anak pengguna narkoba, angota keluarga terinfeksi virus HIV atau putri kita hamil di luar nikah. Kalau ada permasalahan dalam rumah tangga, anak dipaksa untuk tidak menceritakan kepada siapa pun. Ketika datang ke gereja keluarga ini terlihat harmonis. Budaya ini disebut melindungi muka. Akibatnya, banyak di antara kita tumbuh dengan pribadi yang sulit jujur dan terbuka. Kalau ditanya,” Apa kabar?” jawaban yang kita terima biasanya, ”Baik…” Tetapi di dalam hatinya sedang susah. Ada juga yang bingung menghadapi suaminya yang susah ngomong, apalagi untuk mengerti perasaannya. Mengapa? Karena kita tidak pernah dilatih. Kalau orangtua kita sering kita lihat bertengkar dan konflik, maka peristiwa-peristiwa itu terekam. Sama seperti film yang ditonton sepuluh kali dalam sehari. Ada peraturan dalam sebagin keluarga bahwa yang salah harus dihukum. Tiap kesalahan ada hukumannya. Selain itu selalu ada larangan: tidak boleh ini dan itu. Anak yang dididik dalam keluarga demikian akan bertumbuh menjadi anak yang juga suka mengukur dan mengritik, apalagi kalau ia jarang. Ada keluarga yang demokratis. Sebelum mengambil keputusan semua anggota keluarga, termasuk anak-anak, diajak membuat kesepakatan. Ada juga keluarga yang sebaliknya, otoriter. Orangtua yang sangat otoriter cenderung menghasilkan anak yang otoriter. b. Peranan dalam keluarga Biasanya anak tertua berperan sebagai pengganti bapak, yaitu komandan, yang bertanggung jawab terhadap keluarga dan adik-adiknya. Ia secara tidak langsung menjadi asisten orangtua. Kondisi ini berdampak dalam kehidupannya. Dia selalu ingin jadi ketua, kalau di kantor ia ingin mengatur semua, sebagaimana ia mengatur adik-adiknya. Tanpa ia sadari di gereja pun ia berperilaku demikian. Selain itu ada juga sindrom anak bungsu. Biasanya anak bungsu itu berperan sebagai korban. Orangtua memberikan perhatian lebih terhadap anak bungsu. Hal ini membuat anak bungsu cenderung memposisikan diri sebagai korban. Namun hal ini bukan berarti hanya anak bungsu yang berperan demikian. Di tiap rumah tangga pasti selalu ada yang berperan sebagai korban agar mendapat perhatian. Ada yang dilatih berperan sebagai penyelamat. Ayah dan ibu saya sangat dermawan terhadap orang lain dan sering menolong dan memberi sumbangan. Salah satu saudara punya kebiasaan demikian, sangat suka menolong orang lain. c. Pola relasi dalam keluarga Pola relasi termasuk yang dipelajari anak dari kehidupan orangtuanya. Kalau relasi orangtua kita baik, hangat, romantis dan mesra, maka itu akan diwariskan ke anaknya. Tetapi kalau orangtua sering bertengkar dan marah, maka itulah yang diteladani anak kita. Ada juga ada juga keluarga (suami atau istri) yang mengungkapkan rasa sayang bukan dengan ucapan, namun melalui uang atau barang. Semua kebutuhan anak dicukupi dengan memberinya uang. Kalau calon pasangan kita berasal dari keluarga yang penuh kasih sayang, kita harus belajar memberikan tanda kasih bukan dalam bentuk uang, melainkan kata-kata mesra atau belaian sayang. Saya (Julianto) berasal dari keluarga yang jarang mengungkapkan kasih sayang dengan terbuka. Akibatnya, saya sangat sulit mesra dengan Wita. Kalau istri saya menggandeng tangan saya, saya merasa sangat tiak nyaman! Saya tidak pernah melihat orangtua saya melakukan itu. Maka, setelah menikah saya belajar mengungkapkan rasa sayang kepada istri dan anak-anak saya. Bagaimana caranya? Saya belajar mengucapkan kata-kata sayang kepada istri dan anak saya. Saya terinspirasi oleh buku Gary Chapman ”Lima Bahasa Kasih”. Saat anak saya tidur, saya belajar mengucapkan kalimat, ”Nak, papa sayang kamu…” Wah, ternyata bisa! Karena saya sudah melatih mengucapkannya saat mereka tidur, akhirnya saya dapat mengungkapkannya secara langsung. Kalau Anda ingin belajar mengucapkan ungkapan sayang kepada istri, Anda dapat mempertimbangkan cara saya ini. Silsilah Dalam Alkitab Alkitab kita penuh bagian-bagian yang mencatat soal silsilah. Ini membuktikan bahwa Tuhan bekerja melalui silsilah. Tuhan bekerja melalui sebuah keturunan. Misalnya silsilah Abraham dalam Matius pasal 1. Di sana kita memabca bagaimana Tuhan merencanakan keselamatan dunia ini melalui sebuah keluarga, yaitu keluarga Abraham. Dari Abraham sampai Yusuf (suami Maria) ada begitu banyak keluarga keturunan Abraham; ada yang sukses, misalnya raja-raja di Yehuda. Tetapi ada juga yang gagal dan rusak moralnya, contohnya keluarga Yehuda dan Tamar. Meski demikian Tuhan terus memakai keturunan Abraham untuk melahirkan Juruselamat. Satu prinsip yang perlu dipegang adalah bahwa rencana Tuhan tidak dapat digagalkan oleh kegagalan manusia. Karena itu jangan kecil hati, seandainya saat ini keluarga kita (orangtua atau anak) gagal. Rencana Tuhan kekal bagi keturunan kita. Yang penting kita berusaha menantikan dan melaksanakan janji-janji Tuhan selama hidup kita, selebihnya Tuhanlah yang akan bekerja untuk generasi di bawah kita. Salah satu kunci keberhasilan Abraham dan keturunannya adalah hidup berdasarkan janji Tuhan. Elohim berjanji kepada Abraham bahwa keturunannya akan menjadi bangsa yang besar, menjadi berkat bagi seluruh dunia. Lalu janji itu diteruskan Abraham kepada generasi selanjutnya. Keluarga Yahudi memiliki rahasia dalam menjalani rumah tangga dan mendidik anak, yaitu terima janji, pegang janji dan hidupi janji. Masalah penggenapannya, biarkan Tuhan yang mewujudkannya. Sebenarnya kalau kita menghayati silsilah keluarga kita dengan baik, maka kita akan mendapat manfaat yang besar. Kita akan semakin mengerti, mengapa terjadi pengulangan, misalnya sifat-sifat, kepribadian, kebiasaan-kebiasaan tertentu dari satu generasi ke generasi lain. Ini sesuatu yang harus kita terima menjadi bagian dalam hidup kita. Kalau pengulangan itu berdampak negatif, kita bisa melakukan pembelajaran ulang untuk memperbaiki negerasi di bawah kita. Ayah kandung saya adalah almarhum Theodorus Simanjuntak dan Ibu kandung saya almarhumah Nurmala boru Simorangkir. Saya punya enam saudara laki-laki, kami semuanya pria. Sekarang saya punya keluarga sendiri. Tetapi saya dan istri saya berasal dari pohon yang berbeda. Maka waktu kami tinggal bersama, kami mengalami kesulitan yang luarbiasa. Kami sering bingung karena kami juga tidak tahu apa terjadi. Tetapi kondisi itu berubah setelah saya belajar pohon keluarga. Saya mendalami pohon keluarga mertua saya. Saya berkunjung dan memperhatikan pola komunikasi dalam keluarga asal Wita. Istri saya sangat akrab dengan orangtua dan saudara-saudaranya. Karena seringbertemu, saya dapat mempelajari pohon keluarga mertua saya. Sekarang saya mengerti mengapa istri saya punya kepribadian dan pola komunikasi tertentu. Ketika saya melihat kondisi mental, gaya ngomong, emosi, cara berkomunikasi istri saya, ternyata tidak jauh beda dari keluarga asalnya. Tiga generasi di atas saya umumnya penyembah berhala, pemabuk dan pemain kartu (judi). Kalau ada acara kumpul keluarga, Alkitab boleh tidak ada, namun kartu harus ada. Jadi kami sejak kecil sudah diajar main judi. Akibatnya kami bertujuh sudah tahu bermain judi dari sejak kecil. Karena bapak kami biasa membeli minuman keras dalam jumlah banyak, kami sudah mengenal minuman keras dari kecil. Demikian juga rokok. Kami mendapat kebiasaan-kebiasaan itu mulai dari rumah. Karena kita tidak bisa mengubah generasi di atas kita, kita bisa mengusahakan agar generasi di bawah kita menghasilkan pohon dan buah yang baik. Dalam keluarga saya tidak ada budaya membaca, sebaliknya dalam keluarga istri saya budaya membaca sudah ada sejak kecil. Saya merasa budaya keluarga istri saya lebih baik dari budaya keluarga saya. Karena itu saya menerapkan kebiasaan baik itu dalam keluarga saya. Anak-anak kami sekarang mempunyai kebiasaan membaca. Ini salah satu contoh bagaimana membangun suatu tradisi baru. Tetapi ada hal yang menarik. Ada keluarga yang baik berasal dari ”pohon” yang berantakan. Dan sebaliknya, ada pohon yang baik namun buahnya busuk. Misalnya sang bapaknya majelis, sang ibu penginjil, namun anaknya pecandu. Jangan heran! Di sini kita melihat anugerah Tuhan yang sedang bekerja, rencana Tuhan yang tidak terlihat secara kasat mata. Tetapi jika Anda belum menikah sebaiknya anda perhatikan dengan seksama pohon keluarga calon Anda. Pertimbangkan masak-masak sebelum menikah. Mewariskan Nilai dan Tradisi Secara Terencana Ayah saya (Witha) ialah contoh dalam keluarga kami yang mewariskan nilai-nilai keluarga secara sadar dan terencana. Ia mengatakan, ”Kalian boleh tidak menyimpan foto saya. Bahkan kalian boleh melupakan wajah saya kalau saya sudah meninggal. Tetapi kalian tidak boleh melupa nilai-nilai keluarga kita yang telah saya ajarkan kepada kalian. Wariskan itu kepada cucu-cucuku!” Saya mendengar hal itu dengan kagum. Bagi saya, papa sangat bijaksana. Maka, saya terinspirasi untuk mulai merencanakan nilai-nilai apa yang nanti saya wariskan anak-anakku kepada cucu-cucuku. Dan inilah yang disebut menanamkan nilai-nilai secara sadar dan terencana. Hal-hal berikut ini adalah nilai-nilai yang saya warisi dari ayah saya: 1. Ayah saya seorang yang jujur Ayah saya pegawai negeri dan bertugas sebagai dosen. Ayah saya tidak pernah mau menerima suap dari mahasiswanya. Kalau ada proyek di tingkat departemen, dia selalu mengembalikan sisa dana proyek atau menggunakannya untuk membeli barang-barang inventaris kantor, misalnya mobil. Kami sendiri tidak pernah punya mobil baru. Ayah membeli mobil seken dari tabungannya. Kami tujuh bersaudara. Tidak mudah bagi ayah saya membiayai rumah tangga. Ayah saya itu kreatif mencari uang. Waktu kami masih kecil dan ayah masih menjadi mahasiswa tugas belajar, dia mendapat uang dari menulisi ijazah mahasiswa. Ia juga menulis buku, sekitar lima puluh judul buku yang telah dihasilkannya. Bisa dibilang, kami hidup dari buku-buku yang ditulis ayah. 2. Ayah tidak pernah melakukan affair Ada banyak yang naksir ayah saya, baik saat ibu saya masih ada sampai ibu saya meninggal. Ia berprinsip tidak meninggalkan teladan buruk untuk ditiru anak-anaknya. Setelah tujuh tahun menduda, ayah saya menikah kembali dengan proses yang baik pula. 3. Ayah tekun bekerja dan merawat kesehatannya Ia berolah raga setiap pagi. Karena itu ia tetap sehat hingga saat ini, walau usianya sudah 73 tahun. Selain itu ia bekerja tanpa kenal lelah. Walau demikian kami memiliki ibu yang mengasuh dan merawat kami. Ibu kami bekerja di rumah sebagai full-time mother. Kami tidak memiliki pembantu. Saya anak tertua dari tujuh bersaudara, lima perempuan dan dua laki-laki. Kami punya tradisi, saat seorang anak berusia 10 tahun, kami harus bisa menyiapkan sarapan pagi. Saya dan adik-adik sudah biasa memasak sarapan untuk satu keluarga sejak usia 10 tahun. Selain itu ibu juga mengajar kami untuk mengurus dan merawat rumah. 4. Ayah saya seorang yang konsisten Ia memiliki panggilan dan tujuan hidup yang jelas, yaitu menjadi guru. Ia telah menjadi guru sejak di bangku SMA. Ia menjadi guru SMP di Gunungsitoli, Nias. Ia tetap jadi guru sampai saat ini - walau ia sudah emiritus. 5. Ayah tidak merokok Ia sama sekali tidak merokok, tidak berjudi atau minum minuman keras. Ia meningatkan kami, ”Saya sudah memberi teladan kepada kalian. Karena itu saya berharap anak-anak Ayah tidak ada yang merokok.” Hanya adik bungsu kami, karena ia pernah jadi pecandu, sempat jadi perokok. Ayah saya juga berpesan untuk mencari pasangan yang tidak merokok. Akhirnya semua menantunya dan anak-anaknya tidak ada yang merokok. 6. Ayah dapat mengatasi konflik di dalam hidupnya Ayah seorang perfeksionis, sehingga ia sering menghadapi konflik. Ia ingin apa yang direncanakannya terwujud. Tetapi ketika saya ketemu para mantan mahasiswa Ayah, mereka ada yang berkata, ”Ayah kamu itu luar biasa lho.” Saya bangga sekali sebagai anak. Saya juga ingin suatu saat cucu-cucu saya mendengar kalau Oppung (maksud saya, Julianto)-nya itu konsisten dalam bidang konseling. 7. Ayah memiliki otoritas Kami diajarkan untuk hormat terhadap Ayah. Sekarang banyak anak yang sulit menghormati orangtuanya, namun saya bersyukur kami dapat menghormati Ayah. 8. Ayah pemimpin spiritual keluarga Sejak petobatan ibu saya tahun 1969, dari kehidupan yang percaya dengan kuasa gelap, kami mengadakan persekutuan di rumah. Kalau pagi dimulai dari jam 6 sampai 6.30 dan malam dimulai dari 20.30 sampai 21.00, setiap hari. Karena itu kami sudah berulang kali membaca Alkitab, dari Kejadian – Wahyu. Kalau ada di antara kami yang bertengkar, atau punya masalah, diselesaikan dalam acara ibadah tersebut. Dengan bertanya, ”Apa rencana kalian besok?” kami menyampaikan rencana-rencana kami kepada ayah dan ibu. Ini membangun saling pengertian di antara kami. 9. Ayah seorang pendidik Ayah saya tidak punya banyak uang. Karena itu ia menekankan pentingnya pendidikan kepada anak-anaknya. Sebagai seorang penulis, ia selalu memperlihatkan betapa pentingnya buku. Waktu kami kecil ayah sering membawa kami ke toko-toko buku. Ia membiarkan kami melihat buku apa saja kecuali komik. Kami tidak dijinkam membaca komik. Komik, menurut Ayah, bisa membuat kecanduan. Peran Ayah sebagai pendidik juga terlihat di masyarakat. Ia berperan dalam membangun lembaga-lembaga pendidikan, baik pemerintah maupun swasta. Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) dibangun oleh Ayah. Juga salah satu Universitas non-kristen di Bekasi. Saya heran, koq Ayah membangun universitas itu? Alasan Ayah ialah bahwa Tuhan menciptakan pendidikan bagi semua orang, bukan hanya bagi orang Kristen. Setelah universitas itu mandiri, Ayah keluar dari situ. Ayah sangat cinta dengan dunia pendidikan. 10. Tidak ada anak yang berutang kepada orang tua. Itu prinsip ayah saya. ”Kalau kau mau membalas budi bapak, balaslah itu kepada cucu-cucu bapak,” demikian kaya ayah saya. Ini dibuktikannya dengan cara memelihara kehidupan dan pendidikan cucu-cucu kakek saya (para sepupu saya) karena ayah saya tidak sempat membalas budi orangtuanya. Dengan demikian kita didorong untuk mengasihi anak kita melalui kasih yang kita terima dari orang tua kita. Walaupun kami bertujuh sudah sekolah, bekerja dan berkeluarga dengan baik, ayah saya tidak mau disebut berhasil sebagai orangtua. ”Kalau kalian bertujuh mampu menerjemahkan nilai dan tradisi keluarga kepada semua cucu papa, barulah bapa bisa disebut berhasil,” katanya selalu. Motto: Orang Bijak Peduli Konseling! Bergabunglah dengan kami komunitas peduli konseling. Kunjungi website kami http://pedulikonseling.or.id/ =================================================== From: marjohan: Shalom Khaverim! "Siapakah Manusia?" Kutipan komentar dari marjohan: "KEMATIAN Ketika memberikan kata2 penghiburan/sambutan dalam suatu peristiwa kemalangan, /meninggal, kita sering mendengar orang berkata : “hal itu sudah ke hendak Tuhan” atau “itu sudah takdir dari Tuhan” atau “dia sudah dipanggil oleh Tuhan” atau “dia sudah kembali ke rumah Bapa” atau “kembali ke sisi-NYA” atau “Dia (si mati) sudah berada disisi Tuhan atau kata2 lain yang nadanya sejenis. Ada juga yg mengatakan bahwa orangtua, kakek-nenek moyang kita yang sudah meninggal, sudah menjadi sempurna (setelah mati) dan malahan dapat mendoakan/memberkati kita yang masih hidup. Betulkah demikian ? Apa kata Alkitab tentang hal orang yang telah mati ? - Apakah YAHWEH menciptakan /merancang manusia untuk mengalami kematian ?- Apakah orang mati karena dipanggil atau kehendak YAHWEH ?- Apakah orang yg mati bisa mendoakan/memberkati orang yg hidup atau sebaliknya ?- Apakah orang yg mati naik ke Surga dan berada disisi-NYA ?LATAR BELAKANG SINGKAT :YAHWEH itu MAHA SEMPURNA, karena itu semua ciptaannya juga adalah sempurna. Ketika menciptakan Adam & Hawa, IA merancang mereka dengan sempurna. Sebagai mahluk sempurna, Adam dan Hawa dirancang YAHWEH untuk hidup kekal selama lamanya dan demikian juga dengan kita umat manusia keturunan mereka.Ketika selesai mencipta, Alkitab berkata : maka YAHWEH melihat segala yang dijadikan-NYA itu, sungguh amat baik. Bayangkanlah kalau Sang Maha Perancang berkata sungguh amat baik atas suatu hasil karya, pastilah karya itu memang sangat sempurna !! Kejadian 1:31 Maka YAHWEH melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik….. IA menempatkan Adam dan Hawa di FIRDAUS EDEN atau Taman Kesenangan (FIRDAUS = Taman ; EDEN = Kesenangan). IA memberkati mereka dalam suatu perkawinan kudus dan memerintahkannya untuk berkembang biak, memenuhi seluruh penjuru bumi, menjadi umat-NYA yang setia, taat dan dan menugaskan mereka untuk mengolah / menjadikan seluruh Bumi menjadi Firdaus, suatu Taman tempat tinggal yang tidak kekurangan apapun dan tanpa penderitaan apalagi kematian (Kej.1:1, 26, 27, 28, 31 ; Kej.2:15).Jadi itulah RENCANA YAHWEH, yaitu merencanakan Adam & Hawa dan seluruh keturunannya untuk hidup kekal se-lama2nya di Firdaus Eden dan memelihara bumi tsb dengan segala isinya, yakni tumbuh2an dan hewan2 namun dengan satu syarat : mereka harus terus TAAT kepada YAHWEH. Kepada Adam dan Hawa, YAHWEH berkata : …. semua pohon dalam Taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan ttg yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati (Kej.2:16,17). Jadi kalau buah terlarang itu tidak dimakan, Adam & Hawa tidak akan mati dan akan tetap hidup sampai sekarang, sampai se-lama2nya. Karena mereka hidup kekal, maka akan kekal pula kehidupan kita seluruh umat manusia anak2 keturunan mereka, sehingga kita dapat mengenal seluruh kakek nenek moyang kita dan juga semua anak cicit buyut keturunan kita masing2 kelak. Sayang mereka tidak taat kepada YAHWEH. Mereka lebih percaya kepada Beelzebul, Setan si Iblis, yang datang menipu mereka dengan menjelma sebagai seekor Ular, shg mereka memakan buah yang dilarang YAHWEH untuk mereka makan (Kej.3:1-6 ; Mat. 12:24).Pada saat mereka mengambil dan memakan buah terlarang itu, mereka telah berdosa dan menjadi tidak kudus sehingga TIDAK SEMPURNA lagi. Mereka menjadi sakit2an, tua, tidak berbahagia, dan akhirnya mati. Hal yg sama juga berlaku bagi keturunan2nya, karena kita keturunan mereka mewarisi dosa dan ketidak sempurnaan tsb dari mereka (Im.19:2; Rm.3:23; 5:12). Demikian juga seluruh hewan atau pun bumi. Tidak sebagaimana rencana YAHWEH semula, semuanya menjadi terkutuk karena sudah kehilangan kemuliaan-NYA. Itulah sebabnya tanah sudah tidak sesubur aslinya lagi, banyak semak belukar, tandus / gersang, gurun. Bumi sering dilanda mala petaka / bencana. Sebagaimana manusia, hewan pun menjadi sangat kesakitan / menderita ketika mencari makan dan melahirkan. (Kej.3:16-19). Pada mulanya semua hewan hanya memakan tumbuh2an tetapi kemudian hewan saling memangsa. Manusia pada mulanya adalah penguasa atas hewan2 tetapi kini hewan terkadang juga memangsa manusia (Kej.1:28; 1 Raj.13:24). Jadi semestinya Adam & Hawa dan kita umat manusia keturunannya dapat hidup kekal di bumi ini se-lama2nya, sejahtera tanpa kekurangan/penderitaan apapun, tapi dengan syarat Adam & Hawa HARUS TETAP TAAT kepada Hukum2 YAHWEH. IA memperingatkan Adam bahwa ketidaktaatan akan mengakibatkan kematian ! (Kej.2:17; 3:3)Kejadian 2:17 “tetapi pohon pengetahuan ttg yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati”. Kejadian 3:3 “… Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati."artinya, kalau buah tsb tidak dimakan berarti mereka tidak akan mati ! JADI, ORANG MATI BUKANLAH KARENA KEHENDAK/ DIPANGGIL ATAU TAKDIR DARI YAHWEH TETAPI ADALAH AKIBAT/ KONSEKWENSI/ UPAH DARI DOSA !ARGUMENTASI : 1. Walaupun Adam akhirnya ternyata tidak taat, YAHWEH tetap masih mengijinkan dia dan keturunannya yg mula2 berumur sampai hampir 1000 thn (Kej.5: 5,8,11,14). Namun karena dosa dan kedurhakaan manusia ber-tambah2, YAHWEH “membatasi” umur rata-rata manusia sampai 120 thn saja (Kej.6:3) namun dlm kasus2 tertentu, khusus bagi orang2 yg IA kasihi, batasan itu tidak berlaku. Misalnya, Abraham dpt mencapai usia 175 thn (Kej.25:7), Ayub sampai “tua dan lanjut umur.” Banyak akhli yg mengatakan bahwa Ayub hidup sampe 350 Thn (Ayb.42:16,17), Umur Ishak 180 tahun (Kej.35:28), Yakub hidup sampe 147 thn ( Kej.47:28). 2. Merekalah contoh orang yg boleh kita sebut dapat BONUS karena mereka diberi usia lanjut melebihi usia rata-rata (menurut standar YAHWEH), yakni 120 thn (Kej.6:3). YAHWEH juga dulu memperingatkan orang Israel agar bertobat supaya tidak mati sebelum waktunya, yakni sebelum berumur120 thn, umur rata2 setelah peristiwa air bah (Kej.6:3). 3. Setelah Adam & Hawa jatuh dalam dosa, mereka sudah tidak sempurna lagi dan hukumannya adalah kesengsaraan dan akhirnya kematian. Kematian adalah puncak dari ketidak sempurnaan dimata YAHWEH (Kejadian 3:16-19) 4. Ketidaksempurnaan, kesengsaraan dan akhirnya kematian itu diteruskan/diturunkan/diwariskan oleh Adam & Hawa kepada kita semua keturunannya, umat manusia sehingga seluruh manusia menjadi tidak sempurna, kehilangan kemuliaan YAHWEH dan akhirnya harus mengalami kematian. Bahkan anak bayi atau yang masih dalam kandunganpun seringkali harus mengalami akibat dosa2 warisan itu (Mz.51:7; 58:4; Rm.3:23 ; 5:12; 6:23). 5. YAHWEH tidak pernah menginginkan kematian orang fasik tetapi adalah pertobatan mereka agar mereka HIDUP. Bayangkanlah, sedangkan orang yang Fasik saja tidak diinginkan YAHWE kematiannya apalagi orang yang dosanya belum terbilang fasik (2 Sam.14:14; Yeh.18:23; 31:11). 6. Ketika Lazarus, anak Yairus atau anak tunggal seorang janda meninggal, Yesus sangat sedih bahkan sampai menangis (Mrk.5:22-43; Luk.7:12-15; 8:41-55; Yoh.11:35-38). Dengan kuasa BAPA yg dikaruniakan kepada-Nya, Ia ..." Baca dan tanggapi komentar di: http://www.kemahabraham.com/44.html

