From: rudi mulia 

Pohon Keluarga

Sebelum Anda menikah sangatlah bijaksana mencari bimbingan dan konseling 
pranikah. Salah satu yang perlu anda pelajari adalah pohon keluarga pasangan 
Anda. Ada pepatah asing mengatakan “like father like son, like mother like 
daughter”. Pepatah kita menegaskan “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. 
Filsafat Jawa yang terkenal adalah pertimbangkan “bibit – bebet - bobot” calon 
Anda. Yang perlu dikenali dengan detail tidak saja sifat dan bawaan mental, 
tetapi juga kesehatan fisik calon Anda. Meski hal ini belum membudaya dalam 
masyarakat kita, tetapi pengalaman di ruang konseling membuat kami sangat 
menganjurkan untuk setiap orang yang hendak menikah mempertimbangkan calon 
pasangan anda dengan serius.
Dalam budaya Yahudi, seseorang harus mengenal calon pasangannya sedalam mungkin 
sebelum mereka menikah. Caranya, ia disuruh mengenali orangtua calon 
pasangannya. Bukan sering-sering wakuncar, melainkan calon mertua. Dalam 
konseling, saya sering hadapi orang yang mengeluh,”Pak suami saya sih baek, 
tapi dengan mertualah saya sering bertengkar.” Ini namanya bukan salah memilih 
jodoh, namun salah milih mertua. Karena itu, saat anak kita mulai berpacaran, 
sarankan dia untuk belajar mengenali orangtua dan saudara-saudara (calon) 
pacarnya.
Kami berharap Anda yang sedang memikirkan untuk segera berpacaran dengan salah 
seorang sahabat Anda (atau sedang berpacaran) pertimbangkanlah bahwa pasangan 
Anda telah mewarisi sebagian besar kebiasaan dari orangtuanya. Kepribadiannya 
telah terbentuk dari sistem komunikasi keluarga asalnya. Apa saja yang kita 
warisi dari orangtua kita?
Di antaranya, kita mewarisi bentuk fisik, terutama wajah orangtua kita. Mungkin 
wajah kita mirip dengan salah satu orangtua kita. Sebagian kita akan mewarisi 
penyakit (yang berpotensi menurun dari pola hidup sehari-hari) dari orangtua 
kita. Misalnya: kanker, diabetes, dsb. Kita mengadopsi sikap mental orangtua 
kita. Misalnya kecenderungan mudah stress saat ada masalah. Kita juga mendapat 
warisan spiritual dari orangtua kita. Anak yang dididik dalam keluarga cinta 
Tuhan, relatif anak-anaknya mewarisi hal tersebut.

Di samping hal-hal di atas, kita juga mewarisi: aturan keluarga, peranan dan 
pola komunikasi keluarga

a.      Aturan dalam keluarga
Dalam budaya Asia, misalnya, ada aturan untuk menjaga rahasia keluarga. Kalau 
ada masalah, semua anggota keluarga disuruh diam, karena masalah sama dengan 
aib. Contoh masalah yang dianggap aib keluarga: anak pengguna narkoba, angota 
keluarga terinfeksi virus HIV atau putri kita hamil di luar nikah. Kalau ada 
permasalahan dalam rumah tangga, anak dipaksa untuk tidak menceritakan kepada 
siapa pun. Ketika datang ke gereja keluarga ini terlihat harmonis. Budaya ini 
disebut melindungi muka. 
Akibatnya, banyak di antara kita tumbuh dengan pribadi yang sulit jujur dan 
terbuka. Kalau ditanya,” Apa kabar?” jawaban yang kita terima biasanya, ”Baik…” 
Tetapi di dalam hatinya sedang susah. Ada juga yang bingung menghadapi suaminya 
yang susah ngomong, apalagi untuk mengerti perasaannya. Mengapa? Karena kita 
tidak pernah dilatih. 
Kalau orangtua kita sering kita lihat bertengkar dan konflik, maka 
peristiwa-peristiwa itu terekam. Sama seperti film yang ditonton sepuluh kali 
dalam sehari. Ada peraturan dalam sebagin keluarga bahwa yang salah harus 
dihukum. Tiap kesalahan ada hukumannya. Selain itu selalu ada larangan: tidak 
boleh ini dan itu. Anak yang dididik dalam keluarga demikian akan bertumbuh 
menjadi anak yang juga suka mengukur dan mengritik, apalagi kalau ia jarang.
Ada keluarga yang demokratis. Sebelum mengambil keputusan semua anggota 
keluarga, termasuk anak-anak, diajak membuat kesepakatan. Ada juga keluarga 
yang sebaliknya, otoriter. Orangtua yang sangat otoriter cenderung menghasilkan 
anak yang otoriter.

b.     Peranan dalam keluarga 
Biasanya anak tertua berperan sebagai pengganti bapak, yaitu komandan, yang 
bertanggung jawab terhadap keluarga dan adik-adiknya. Ia secara tidak langsung 
menjadi asisten orangtua. Kondisi ini berdampak dalam kehidupannya. Dia selalu 
ingin jadi ketua, kalau di kantor ia ingin mengatur semua, sebagaimana ia 
mengatur adik-adiknya. Tanpa ia sadari di gereja pun ia berperilaku demikian.
Selain itu ada juga sindrom anak bungsu. Biasanya anak bungsu itu berperan 
sebagai korban. Orangtua memberikan perhatian lebih terhadap anak bungsu. Hal 
ini membuat anak bungsu cenderung memposisikan diri sebagai korban. Namun hal 
ini bukan berarti hanya anak bungsu yang berperan demikian. Di tiap rumah 
tangga pasti selalu ada yang berperan sebagai korban agar mendapat perhatian.
Ada yang dilatih berperan sebagai penyelamat. Ayah dan ibu saya sangat dermawan 
terhadap orang lain dan sering menolong dan memberi sumbangan. Salah satu 
saudara punya kebiasaan demikian, sangat suka menolong orang lain.

c.      Pola relasi dalam keluarga
Pola relasi termasuk yang dipelajari anak dari kehidupan orangtuanya. Kalau 
relasi orangtua kita baik, hangat, romantis dan mesra, maka itu akan diwariskan 
ke anaknya. Tetapi kalau orangtua sering bertengkar dan marah, maka itulah yang 
diteladani anak kita.
Ada juga ada juga keluarga (suami atau istri) yang mengungkapkan rasa sayang 
bukan dengan ucapan, namun melalui uang atau barang. Semua kebutuhan anak 
dicukupi dengan memberinya uang. Kalau calon pasangan kita berasal dari 
keluarga yang penuh kasih sayang, kita harus belajar memberikan tanda kasih 
bukan dalam bentuk uang, melainkan kata-kata mesra atau belaian sayang.
Saya (Julianto) berasal dari keluarga yang jarang mengungkapkan kasih sayang 
dengan terbuka. Akibatnya, saya sangat sulit mesra dengan Wita. Kalau istri 
saya menggandeng tangan saya, saya merasa sangat tiak nyaman! Saya tidak pernah 
melihat orangtua saya melakukan itu. Maka, setelah menikah saya belajar 
mengungkapkan rasa sayang kepada istri dan anak-anak saya.
Bagaimana caranya? Saya belajar mengucapkan kata-kata sayang kepada istri dan 
anak saya. Saya terinspirasi oleh buku Gary Chapman ”Lima Bahasa Kasih”. Saat 
anak saya tidur, saya belajar mengucapkan kalimat, ”Nak, papa sayang kamu…” 
Wah, ternyata bisa! Karena saya sudah melatih mengucapkannya saat mereka tidur, 
akhirnya saya dapat mengungkapkannya secara langsung. Kalau Anda ingin belajar 
mengucapkan ungkapan sayang kepada istri, Anda dapat mempertimbangkan cara saya 
ini. 

Silsilah Dalam Alkitab
Alkitab kita penuh bagian-bagian yang mencatat soal silsilah. Ini membuktikan 
bahwa Tuhan bekerja melalui silsilah. Tuhan bekerja melalui sebuah keturunan. 
Misalnya silsilah Abraham dalam Matius pasal 1. Di sana kita memabca bagaimana 
Tuhan merencanakan keselamatan dunia ini melalui sebuah keluarga, yaitu 
keluarga Abraham.
Dari Abraham sampai Yusuf (suami Maria) ada begitu banyak keluarga keturunan 
Abraham; ada yang sukses, misalnya raja-raja di Yehuda. Tetapi ada juga yang 
gagal dan rusak moralnya, contohnya keluarga Yehuda dan Tamar. Meski demikian 
Tuhan terus memakai keturunan Abraham untuk melahirkan Juruselamat. Satu 
prinsip yang perlu dipegang adalah bahwa rencana Tuhan tidak dapat digagalkan 
oleh kegagalan manusia.
Karena itu jangan kecil hati, seandainya saat ini keluarga kita (orangtua atau 
anak) gagal. Rencana Tuhan kekal bagi keturunan kita. Yang penting kita 
berusaha menantikan dan melaksanakan janji-janji Tuhan selama hidup kita, 
selebihnya Tuhanlah yang akan bekerja untuk generasi di bawah kita.
Salah satu kunci keberhasilan Abraham dan keturunannya adalah hidup berdasarkan 
janji Tuhan. Elohim berjanji kepada Abraham bahwa keturunannya akan menjadi 
bangsa yang besar, menjadi berkat bagi seluruh dunia. Lalu janji itu diteruskan 
Abraham kepada generasi selanjutnya. Keluarga Yahudi memiliki rahasia dalam 
menjalani rumah tangga dan mendidik anak, yaitu terima janji, pegang janji dan 
hidupi janji. Masalah penggenapannya, biarkan Tuhan yang mewujudkannya.
Sebenarnya kalau kita menghayati silsilah keluarga kita dengan baik, maka kita 
akan mendapat manfaat yang besar. Kita akan semakin mengerti, mengapa terjadi 
pengulangan, misalnya sifat-sifat, kepribadian, kebiasaan-kebiasaan tertentu 
dari satu generasi ke generasi lain. Ini sesuatu yang harus kita terima menjadi 
bagian dalam hidup kita. Kalau pengulangan itu berdampak negatif, kita bisa 
melakukan pembelajaran ulang untuk memperbaiki negerasi di bawah kita.
Ayah kandung saya adalah almarhum Theodorus Simanjuntak dan Ibu kandung saya 
almarhumah Nurmala boru Simorangkir. Saya punya enam saudara laki-laki, kami 
semuanya pria. Sekarang saya punya keluarga sendiri. Tetapi saya dan istri saya 
berasal dari pohon yang berbeda. Maka waktu kami tinggal bersama, kami 
mengalami kesulitan yang luarbiasa. Kami sering bingung karena kami juga tidak 
tahu apa terjadi.
Tetapi kondisi itu berubah setelah saya belajar pohon keluarga. Saya mendalami 
pohon keluarga mertua saya. Saya berkunjung dan memperhatikan pola komunikasi 
dalam keluarga asal Wita. Istri saya sangat akrab dengan orangtua dan 
saudara-saudaranya. Karena seringbertemu, saya dapat mempelajari pohon keluarga 
mertua saya. Sekarang saya mengerti mengapa istri saya punya kepribadian dan 
pola komunikasi tertentu. Ketika saya melihat kondisi mental, gaya ngomong, 
emosi, cara berkomunikasi istri saya, ternyata tidak jauh beda dari keluarga 
asalnya.
Tiga generasi di atas saya umumnya penyembah berhala, pemabuk dan pemain kartu 
(judi). Kalau ada acara kumpul keluarga, Alkitab boleh tidak ada, namun kartu 
harus ada. Jadi kami sejak kecil sudah diajar main judi. Akibatnya kami 
bertujuh sudah tahu bermain judi dari sejak kecil. Karena bapak kami biasa 
membeli minuman keras dalam jumlah banyak, kami sudah mengenal minuman keras 
dari kecil. Demikian juga rokok. Kami mendapat kebiasaan-kebiasaan itu mulai 
dari rumah.
Karena kita tidak bisa mengubah generasi di atas kita, kita bisa mengusahakan 
agar generasi di bawah kita menghasilkan pohon dan buah yang baik. Dalam 
keluarga saya tidak ada budaya membaca, sebaliknya dalam keluarga istri saya 
budaya membaca sudah ada sejak kecil. Saya merasa budaya keluarga istri saya 
lebih baik dari budaya keluarga saya. Karena itu saya menerapkan kebiasaan baik 
itu dalam keluarga saya. Anak-anak kami sekarang mempunyai kebiasaan membaca. 
Ini salah satu contoh bagaimana membangun suatu tradisi baru.
Tetapi ada hal yang menarik. Ada keluarga yang baik berasal dari ”pohon” yang 
berantakan. Dan sebaliknya, ada pohon yang baik namun buahnya busuk. Misalnya 
sang bapaknya majelis, sang ibu penginjil, namun anaknya pecandu. Jangan heran! 
Di sini kita melihat anugerah Tuhan yang sedang bekerja, rencana Tuhan yang 
tidak terlihat secara kasat mata. Tetapi jika Anda belum menikah sebaiknya anda 
perhatikan dengan seksama pohon keluarga calon Anda. Pertimbangkan masak-masak 
sebelum menikah.

Mewariskan Nilai dan Tradisi Secara Terencana
Ayah saya (Witha) ialah contoh dalam keluarga kami yang mewariskan nilai-nilai 
keluarga secara sadar dan terencana. Ia mengatakan, ”Kalian boleh tidak 
menyimpan foto saya. Bahkan kalian boleh melupakan wajah saya kalau saya sudah 
meninggal. Tetapi kalian tidak boleh melupa nilai-nilai keluarga kita yang 
telah saya ajarkan kepada kalian. Wariskan itu kepada cucu-cucuku!” Saya 
mendengar hal itu dengan kagum. Bagi saya, papa sangat bijaksana. Maka, saya 
terinspirasi untuk mulai merencanakan nilai-nilai apa yang nanti saya wariskan 
anak-anakku kepada cucu-cucuku. Dan inilah yang disebut menanamkan nilai-nilai 
secara sadar dan terencana.

Hal-hal berikut ini adalah nilai-nilai yang saya warisi dari ayah saya:
1.      Ayah saya seorang yang jujur
Ayah saya pegawai negeri dan bertugas sebagai dosen. Ayah saya tidak pernah mau 
menerima suap dari mahasiswanya. Kalau ada proyek di tingkat departemen, dia 
selalu mengembalikan sisa dana proyek atau menggunakannya untuk membeli 
barang-barang inventaris kantor, misalnya mobil. Kami sendiri tidak pernah 
punya mobil baru. Ayah membeli mobil seken dari tabungannya.
Kami tujuh bersaudara. Tidak mudah bagi ayah saya membiayai rumah tangga. Ayah 
saya itu kreatif mencari uang. Waktu kami masih kecil dan ayah masih menjadi 
mahasiswa tugas belajar, dia mendapat uang dari menulisi ijazah mahasiswa. Ia 
juga menulis buku, sekitar lima puluh judul buku yang telah dihasilkannya. Bisa 
dibilang, kami hidup dari buku-buku yang ditulis ayah.

2.      Ayah tidak pernah melakukan affair
Ada banyak yang naksir ayah saya, baik saat ibu saya masih ada sampai ibu saya 
meninggal. Ia berprinsip tidak meninggalkan teladan buruk untuk ditiru 
anak-anaknya. Setelah tujuh tahun menduda, ayah saya menikah kembali dengan 
proses yang baik pula. 
3.      Ayah tekun bekerja dan merawat kesehatannya
Ia berolah raga setiap pagi. Karena itu ia tetap sehat hingga saat ini, walau 
usianya sudah 73 tahun. Selain itu ia bekerja tanpa kenal lelah. Walau demikian 
kami memiliki ibu yang mengasuh dan merawat kami. Ibu kami bekerja di rumah 
sebagai full-time mother. Kami tidak memiliki pembantu. Saya anak tertua dari 
tujuh bersaudara, lima perempuan dan dua laki-laki. Kami punya tradisi, saat 
seorang anak berusia 10 tahun, kami harus bisa menyiapkan sarapan pagi. Saya 
dan adik-adik sudah biasa memasak sarapan untuk satu keluarga sejak usia 10 
tahun. Selain itu ibu juga mengajar kami untuk mengurus dan merawat rumah.

4.      Ayah saya seorang yang konsisten
Ia memiliki panggilan dan tujuan hidup yang jelas, yaitu menjadi guru. Ia telah 
menjadi guru sejak di bangku SMA. Ia menjadi guru SMP di Gunungsitoli, Nias. Ia 
tetap jadi guru sampai saat ini - walau ia sudah emiritus. 

5.      Ayah tidak merokok
Ia sama sekali tidak merokok, tidak berjudi atau minum minuman keras. Ia 
meningatkan kami, ”Saya sudah memberi teladan kepada kalian. Karena itu saya 
berharap anak-anak Ayah tidak ada yang merokok.” Hanya adik bungsu kami, karena 
ia pernah jadi pecandu, sempat jadi perokok. Ayah saya juga berpesan untuk 
mencari pasangan yang tidak merokok. Akhirnya semua menantunya dan anak-anaknya 
tidak ada yang merokok. 

6.      Ayah dapat mengatasi konflik di dalam hidupnya
Ayah seorang perfeksionis, sehingga ia sering menghadapi konflik. Ia ingin apa 
yang direncanakannya terwujud. Tetapi ketika saya ketemu para mantan mahasiswa 
Ayah, mereka ada yang berkata, ”Ayah kamu itu luar biasa lho.” Saya bangga 
sekali sebagai anak. Saya juga ingin suatu saat cucu-cucu saya mendengar kalau 
Oppung (maksud saya, Julianto)-nya itu konsisten dalam bidang konseling.

7.      Ayah memiliki otoritas
Kami diajarkan untuk hormat terhadap Ayah. Sekarang banyak anak yang sulit 
menghormati orangtuanya, namun saya bersyukur kami dapat menghormati Ayah.

8.      Ayah pemimpin spiritual keluarga
Sejak petobatan ibu saya tahun 1969, dari kehidupan yang percaya dengan kuasa 
gelap, kami mengadakan persekutuan di rumah. Kalau pagi dimulai dari jam 6 
sampai 6.30 dan malam dimulai dari 20.30 sampai 21.00, setiap hari. Karena itu 
kami sudah berulang kali membaca Alkitab, dari Kejadian – Wahyu. Kalau ada di 
antara kami yang bertengkar, atau punya masalah, diselesaikan dalam acara 
ibadah tersebut. Dengan bertanya, ”Apa rencana kalian besok?” kami menyampaikan 
rencana-rencana kami kepada ayah dan ibu. Ini membangun saling pengertian di 
antara kami.

9.      Ayah seorang pendidik
Ayah saya tidak punya banyak uang. Karena itu ia menekankan pentingnya 
pendidikan kepada anak-anaknya. Sebagai seorang penulis, ia selalu 
memperlihatkan betapa pentingnya buku. Waktu kami kecil ayah sering membawa 
kami ke toko-toko buku. Ia membiarkan kami melihat buku apa saja kecuali komik. 
Kami tidak dijinkam membaca komik. Komik, menurut Ayah, bisa membuat kecanduan.
Peran Ayah sebagai pendidik juga terlihat di masyarakat. Ia berperan dalam 
membangun lembaga-lembaga pendidikan, baik pemerintah maupun swasta. Institut 
Ilmu Pemerintahan (IIP) dibangun oleh Ayah. Juga salah satu Universitas 
non-kristen di Bekasi. Saya heran, koq Ayah membangun universitas itu? Alasan 
Ayah ialah bahwa Tuhan menciptakan pendidikan bagi semua orang, bukan hanya 
bagi orang Kristen. Setelah universitas itu mandiri, Ayah keluar dari situ. 
Ayah sangat cinta dengan dunia pendidikan.

10. Tidak ada anak yang berutang kepada orang tua. 
Itu prinsip ayah saya. ”Kalau kau mau membalas budi bapak, balaslah itu kepada 
cucu-cucu bapak,” demikian kaya ayah saya. Ini dibuktikannya dengan cara 
memelihara kehidupan dan pendidikan cucu-cucu kakek saya (para sepupu saya) 
karena ayah saya tidak sempat membalas budi orangtuanya. Dengan demikian kita 
didorong untuk mengasihi anak kita melalui kasih yang kita terima dari orang 
tua kita.
Walaupun kami bertujuh sudah sekolah, bekerja dan berkeluarga dengan baik, ayah 
saya tidak mau disebut berhasil sebagai orangtua. ”Kalau kalian bertujuh mampu 
menerjemahkan nilai dan tradisi keluarga kepada semua cucu papa, barulah bapa 
bisa disebut berhasil,” katanya selalu. 

Motto: Orang Bijak Peduli Konseling!

Bergabunglah dengan kami komunitas peduli konseling.
Kunjungi website kami http://pedulikonseling.or.id/
===================================================
From: marjohan: 

Shalom Khaverim!

 "Siapakah Manusia?"

Kutipan komentar dari marjohan:

"KEMATIAN
Ketika memberikan kata2 penghiburan/sambutan dalam suatu peristiwa kemalangan, 
/meninggal, kita sering mendengar orang berkata : “hal itu sudah ke hendak 
Tuhan” atau  “itu sudah takdir dari Tuhan” atau “dia sudah dipanggil oleh 
Tuhan” atau “dia sudah kembali ke rumah Bapa” atau “kembali ke sisi-NYA” atau 
“Dia (si mati) sudah berada disisi Tuhan atau  kata2 lain yang nadanya sejenis. 
 Ada juga yg mengatakan bahwa orangtua, kakek-nenek moyang kita yang sudah 
meninggal, sudah menjadi sempurna (setelah mati) dan malahan dapat 
mendoakan/memberkati kita yang masih hidup.  Betulkah demikian ?   Apa kata 
Alkitab tentang  hal orang yang telah mati  ? -             Apakah YAHWEH 
menciptakan /merancang manusia untuk mengalami kematian ?-             Apakah 
orang mati karena dipanggil atau kehendak YAHWEH ?-            
 Apakah orang yg mati bisa mendoakan/memberkati orang yg hidup atau sebaliknya 
?-      Apakah orang yg mati naik ke Surga dan berada disisi-NYA ?LATAR 
BELAKANG SINGKAT :YAHWEH itu MAHA SEMPURNA, karena itu semua ciptaannya juga 
adalah sempurna. Ketika menciptakan Adam & Hawa, IA merancang mereka dengan 
sempurna.  Sebagai mahluk sempurna, Adam dan Hawa  dirancang YAHWEH untuk hidup 
kekal selama lamanya dan demikian juga dengan kita umat manusia keturunan 
mereka.Ketika selesai mencipta, Alkitab berkata : maka YAHWEH melihat segala 
yang dijadikan-NYA itu, sungguh amat baik.  Bayangkanlah kalau Sang Maha 
Perancang berkata sungguh amat baik atas suatu hasil karya, pastilah karya itu 
memang sangat sempurna !! Kejadian 1:31 Maka YAHWEH melihat segala yang 
dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik…..
IA menempatkan Adam dan Hawa di FIRDAUS  EDEN atau Taman Kesenangan (FIRDAUS = 
Taman ; EDEN = Kesenangan).  IA memberkati mereka dalam suatu perkawinan kudus 
dan memerintahkannya untuk berkembang biak, memenuhi seluruh penjuru bumi, 
menjadi umat-NYA yang setia, taat dan dan menugaskan  mereka untuk mengolah / 
menjadikan seluruh Bumi menjadi Firdaus, suatu Taman tempat tinggal yang tidak 
kekurangan apapun dan tanpa penderitaan apalagi kematian (Kej.1:1, 26, 27, 28, 
31 ; Kej.2:15).Jadi itulah RENCANA YAHWEH, yaitu merencanakan Adam & Hawa dan 
seluruh keturunannya untuk hidup kekal se-lama2nya di Firdaus Eden dan 
memelihara bumi tsb dengan segala isinya, yakni tumbuh2an dan hewan2 namun 
dengan satu syarat : mereka harus terus TAAT kepada YAHWEH.   

Kepada Adam dan Hawa, YAHWEH berkata : …. semua pohon dalam Taman ini boleh kau 
makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan ttg yang baik dan yang 
jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, 
pastilah engkau mati  (Kej.2:16,17).  Jadi kalau buah terlarang itu tidak 
dimakan, Adam &  Hawa tidak akan mati dan akan tetap hidup sampai sekarang, 
sampai se-lama2nya. Karena mereka hidup kekal, maka akan kekal pula kehidupan 
kita seluruh umat manusia anak2 keturunan mereka, sehingga kita dapat mengenal 
seluruh kakek nenek moyang kita dan juga semua anak cicit buyut keturunan kita 
masing2 kelak.  Sayang mereka tidak taat kepada YAHWEH. Mereka lebih percaya 
kepada Beelzebul, Setan si Iblis, yang datang menipu mereka dengan menjelma 
sebagai seekor Ular, shg mereka memakan buah yang dilarang YAHWEH untuk mereka 
makan (Kej.3:1-6 ; Mat. 12:24).Pada saat mereka mengambil dan memakan buah 
terlarang itu, mereka telah berdosa dan menjadi tidak kudus sehingga TIDAK 
SEMPURNA lagi.  Mereka menjadi sakit2an, tua, tidak berbahagia, dan akhirnya 
mati.  Hal yg sama juga berlaku bagi keturunan2nya, karena kita keturunan 
mereka mewarisi dosa dan ketidak sempurnaan tsb dari mereka (Im.19:2; Rm.3:23; 
5:12).  Demikian juga seluruh hewan atau pun bumi.  Tidak sebagaimana rencana 
YAHWEH semula, semuanya menjadi terkutuk karena sudah kehilangan kemuliaan-NYA. 
 Itulah sebabnya tanah sudah tidak sesubur aslinya lagi, banyak semak belukar, 
tandus / gersang, gurun.  Bumi sering dilanda mala petaka / bencana.  
Sebagaimana manusia, hewan pun menjadi sangat kesakitan / menderita ketika 
mencari makan dan melahirkan. (Kej.3:16-19).  Pada mulanya semua hewan hanya 
memakan tumbuh2an tetapi kemudian hewan saling memangsa.  Manusia pada mulanya 
adalah penguasa atas hewan2 tetapi kini hewan terkadang juga memangsa manusia 
(Kej.1:28; 1 Raj.13:24). Jadi semestinya Adam & Hawa dan kita umat manusia 
keturunannya dapat hidup kekal di bumi ini se-lama2nya, sejahtera tanpa 
kekurangan/penderitaan apapun, tapi dengan syarat Adam & Hawa HARUS TETAP TAAT 
kepada Hukum2 YAHWEH.  IA memperingatkan Adam bahwa ketidaktaatan akan 
mengakibatkan kematian ! (Kej.2:17; 3:3)Kejadian 2:17 “tetapi pohon pengetahuan 
ttg yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari 
engkau memakannya, pastilah engkau mati”. Kejadian 3:3 “… Jangan kamu makan 
ataupun raba buah itu, nanti kamu mati."artinya, kalau buah tsb tidak dimakan 
berarti mereka tidak akan mati ! 

JADI, ORANG MATI BUKANLAH KARENA KEHENDAK/ DIPANGGIL ATAU TAKDIR DARI YAHWEH 
TETAPI ADALAH AKIBAT/ KONSEKWENSI/ UPAH DARI DOSA !ARGUMENTASI :
1.      Walaupun Adam akhirnya ternyata tidak taat, YAHWEH tetap masih 
mengijinkan dia dan keturunannya yg mula2 berumur sampai hampir 1000 thn 
(Kej.5: 5,8,11,14).  Namun karena dosa dan kedurhakaan manusia ber-tambah2, 
YAHWEH “membatasi” umur rata-rata manusia sampai 120 thn saja (Kej.6:3) namun 
dlm kasus2 tertentu, khusus bagi orang2 yg IA kasihi, batasan itu tidak 
berlaku.  Misalnya, Abraham dpt mencapai usia 175 thn (Kej.25:7), Ayub sampai 
“tua dan lanjut umur.”  Banyak akhli yg mengatakan bahwa Ayub hidup sampe 350 
Thn (Ayb.42:16,17), Umur Ishak 180 tahun (Kej.35:28), Yakub hidup sampe 147 thn 
( Kej.47:28).  
2.      Merekalah contoh orang yg boleh kita sebut dapat BONUS karena mereka 
diberi usia lanjut melebihi usia rata-rata (menurut standar YAHWEH), yakni 120 
thn (Kej.6:3). YAHWEH juga dulu memperingatkan orang Israel agar bertobat 
supaya tidak mati sebelum waktunya, yakni sebelum berumur120 thn, umur rata2 
setelah peristiwa air bah (Kej.6:3). 
3.      Setelah Adam & Hawa jatuh dalam dosa, mereka sudah tidak sempurna lagi 
dan  hukumannya adalah kesengsaraan dan akhirnya kematian.  Kematian adalah 
puncak dari ketidak sempurnaan dimata YAHWEH (Kejadian 3:16-19)  
4.      Ketidaksempurnaan, kesengsaraan dan akhirnya kematian itu 
diteruskan/diturunkan/diwariskan oleh Adam & Hawa kepada kita semua 
keturunannya, umat manusia sehingga seluruh manusia menjadi tidak sempurna, 
kehilangan kemuliaan YAHWEH dan akhirnya harus mengalami kematian.  Bahkan anak 
bayi atau yang masih dalam kandunganpun seringkali harus mengalami akibat dosa2 
warisan itu (Mz.51:7; 58:4; Rm.3:23 ; 5:12; 6:23).
5.      YAHWEH tidak pernah menginginkan kematian orang fasik tetapi adalah 
pertobatan mereka agar mereka HIDUP.  Bayangkanlah, sedangkan orang yang Fasik 
saja tidak diinginkan YAHWE kematiannya apalagi orang yang dosanya belum 
terbilang fasik (2 Sam.14:14; Yeh.18:23; 31:11). 
6.      Ketika Lazarus, anak Yairus atau anak tunggal seorang janda meninggal, 
Yesus sangat sedih bahkan sampai menangis (Mrk.5:22-43; Luk.7:12-15; 8:41-55; 
Yoh.11:35-38).  Dengan kuasa BAPA yg dikaruniakan kepada-Nya, Ia ..."

Baca dan tanggapi komentar di:
http://www.kemahabraham.com/44.html

Kirim email ke