The Opium of Positive Thinking     oleh: Ev. Ronald A. H. Oroh, M.Div.          
    Beberapa bulan yang lalu, sempat beberapa kali ada kesempatan di hari 
Rabu-Kamis untuk nonton Audisi American Idol. Ribuan orang di beberapa kota di 
Amerika datang dengan mimpi-mimpi untuk menjadi seorang idol. Dan, kalau 
menjadi American Idol menjanjikan kesuksesan yang luar biasa. Kenyataannya 
lebih banyak yang bermimpi dan sangat kecewa dengan mimpinya yang tidak akan 
pernah menjadi kenyataan. Banyak peserta audisi yang sudah berlatih dan 
mempersiapkan diri dengan sangat baik (menurut mereka) dan merasa pasti bisa 
untuk menjadi seorang American Idol. Minimal dapat tiket ke Hollywood. Sudah 
memproyeksikan dirinya, percaya dengan banyak hal yang akan terjadi dengan 
pikirannya yang positif. Tapi, sesungguhnya kalau dilihat dengan akal sehat, 
sangat jauh dari klaimnya yang merasa akan berhasil. Mengapa banyak orang 
menipu dirinya sendiri?
   
  Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada 
setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih 
tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir 
begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang 
dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.
Rm. 12:3
   
  Beberapa alasan dari kesulitan dan kegagalan manusia adalah karena manusia 
terlalu percaya dengan positive thinkingnya. Banyak orang yang memimpikan 
terlalu jauh dibandingkan dengan yang seharusnya dilakukan di dalam beberapa 
hal. Sedangkan di dalam beberapa hal yang lain di mana seharusnya memikirkan 
lebih tinggi, ternyata tidak pernah sampai ke situ. Maka Rasul Paulus 
mengatakan perlu ukuran iman yang sudah dianugerahkan Allah kepada kita 
masing-masing. Nah, di sini masalahnya. Ukuran iman ternyata digantikan oleh 
positive thinking. Banyak orang tidak ingin melihat ukuran iman itu, tetapi 
lebih ingin melihat apa yang diinginkan untuk melepaskan dirinya secepat 
mungkin dari segala kesulitannya dan secepatnya bisa menikmati segala 
kenikmatan yang kelihatannya mungkin untuk dijangkau dengan iman.
   
  Jadi, sebenarnya banyak orang yang merasa sedang memikirkan ukuran imannya, 
sebenarnya melupakan kata-kata sebelum ‘menurut ukuran iman’, yaitu kata 
‘menguasai diri.’ Dalam bahasa Yunaninya, Rasul Paulus menggunakan dua kata 
phronein dan sophronein, yang artinya berpikir dan melatih dalam mengontrol 
pikiran/diri. Di zaman sekarang ini, banyak orang yang mengatakan bahwa ia 
beriman bahwa segala sesuatu yang dipikirkan akan terjadi, hanya menunjukkan 
bahwa ia tidak bisa mengontrol dirinya akan segala keinginan yang diharapkan 
segera terjadi. Jauh sekali berbeda dengan apa yang dimaksudkan oleh Rasul 
Paulus. Positive Thinking sudah membius dan mengikat banyak orang, bagaikan 
candu, ditengah kesulitan dan pergumulan seolah-olah jalan keluarnya hanyalah 
dengan berpikir positif yang cenderung menipu dan memanipulasi.
   
  Seharusnya kita berlatih untuk menerima keadaan dan belajar melihat bahwa 
keadaan sekarang, selama masih ada waktu dan kesempatan serta anugerah dari 
Tuhan, maka keadaan itu bukan akhir dari segalanya. Jadi belajar menerima 
keadaan. Yang harus terjadi dan yang harus ditanggung, haruslah ditanggung. 
Ketika kita harus kehilangan mimpi-mimpi, barang-barang dan bahkan orang-orang 
yang kita kasihi, kita harus menerima kenyataan itu. Pemikiran kita yang 
positif tidak akan mengembalikan semuanya. 
   
  Seharusnya juga kita melihat masa depan bukan hanya berdasarkan keinginan 
kita, tetapi menghubungkannya dengan seluruh rencana Allah dan membuka mata 
melihat sejarah yang sedang berlangsung. Kalau mata kita betul-betul terbuka, 
maka seharusnya kita makin pesimis dan bukan optimis dengan dunia ini. Karena 
dosa lebih merajalela, orang yang betul-betul bersaksi semakin sedikit. Bahkan 
banyak orang Kristen yang hanya hidup untuk dirinya ambisinya, keluarganya, 
gerejanya dan tidak ingin melihat keseluruhan Kerajaan Allah. Harusnya keadaan 
ini tidak bisa membuat kita positive thinking. Kecuali kalau kita lari dari 
kenyataan atau ingin lari dari kenyataan. Tetapi, semuanya belum berakhir, ada 
rencana Tuhan yang indah bagi umat pillihan-Nya. Dan seharusnya di dalam 
kepesimisan yang paling dalam kita tetap bisa melihat anugerah dan pemeliharaan 
Allah yang terus bekerja. Itu sebabnya dunia ini tidak segera berubah menjadi 
neraka sesudah manusia jatuh dalam dosa dan makin bertambah
 jahat.
   
  Maka, bagi saya seharusnya kita belajar untuk mengerjakan apa yang sudah 
dibukakan oleh Tuhan saat ini, sambil memikirkan apa dampaknya sampai kepada 
kekekalan. Dan kemudian melakukan lagi apa yang telah kita pikirkan sampai pada 
kekekalan. Pelajaran ini tidak akan membuat kita tertipu dengan fenomena dan 
keinginan kita yang begitu mencintai diri sendiri dan hanya menginginkan diri 
kita sendiri yang bahagia. Tuhan justru akan membuat kita semakin jelas dengan 
segala hal yang terus dibukakan-Nya kepada kita, karena Dia sudah mempersiapkan 
semuanya.
   
  Semoga Allah kita terus menganugerahkan iman kepada kita untuk melihat segala 
sesuatu di dalam rencana-Nya dan kita hidup terus-menerus di dalam pekerjaan 
baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya. 
  I don’t know about tomorrow,
I just live from day to day.
I don't borrow from it's sunshine,
For it's skies may turn to gray.
I don't worry o'er the future,
For I know what Jesus said,
And today I'll walk beside Him,
For He knows what is ahead.

I don't know about tomorrow,
It may bring me poverty;
But the One Who feeds the sparrow,
Is the One Who stands by me.
And the path that be my portion,
May be through the flame or flood,
But His presence goes before me,
And I'm covered with His blood.

Many things about tomorrow,
I don't seem to understand;
But I know Who holds tomorrow,
And I know Who holds my hand.

Words and Music by Ira Stanphill
   
   
   
  Sumber:
  http://roielministry.org/2007/03/opium-of-positive-thinking.html
   
   
   
  Profil Ev. Ronald A. H. Oroh:
  Ev. Ronald Arthur Horald Oroh, S.Si., M.Div. lahir pada tanggal 8 Juni 1972 
di Manado. Beliau menyelesaikan studi Master of Divinity (M.Div.) di Institut 
Reformed, Jakarta.
   
   
      
   
Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.

""Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di 
depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." 
(1Sam. 16:7b)

       
---------------------------------
  Buat sendiri desain eksklusif Messenger Pingbox Anda sekarang! 
 Membuat tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah

Kirim email ke