From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>

Edisi 99 -- Di Luar Perkiraan

PENGANTAR

   Bulan Desember; bulan yang sejuk, bulan yang sibuk pula. Ya, Natal
   menjelang dan banyak persiapan yang kita lakukan untuk menyambutnya.
   Meskipun Natal kita lalui tiap tahun, bukan berarti Natal tahun ini
   akan kita lewati tanpa makna, bukan?

   Memaknai Natal bukan dengan memasang pohon Natal di rumah kita,
   berkirim bingkisan untuk kerabat dan rekan, atau memakai baju baru.
   Jangan sampai kita mengaburkan esensi Natal dengan kemeriahan
   perayaan dan pernak-perniknya, namun marilah kita menikmatinya
   sebagai refleksi pribadi. Perayaan Natal jangan pula hanya terfokus
   pada diri kita sendiri, namun justru harus kita lakukan untuk
   menunjukkan solidaritas kita kepada sesama.

   Harapan kami, keajaiban kelahiran Sang Juru Selamat menyegarkan hati
   kita dan mengobarkan cinta kita yang kian besar kepada-Nya. Mari
   senantiasa mensyukuri karunia yang Dia berikan bagi kita semua.
   Selamat Natal 2008 dan selamat menyongsong Tahun Baru 2009. Tuhan
   Yesus memberkati.

   Redaksi Tamu KISAH,
   Sri Setyawati
______________________________________________________________________
KESAKSIAN

                            DI LUAR PERKIRAAN
   Aku dan istriku dianugerahi empat orang anak yang hebat. Mereka
   adalah anak-anak kembar 4, yang terdiri dari 3 anak laki-laki dan 1
   anak perempuan. Ketiga anak laki-laki kami ialah Jon, Paul, dan
   Steven. Sheila adalah satu-satunya anak perempuan dari anak kembar
   empat kami. Beberapa saat setelah dilahirkan, ketiga anak laki-laki
   kami didiagnosis mengidap penyakit "Duchenne Muscular Dystrophy".
   Penyakit ini menyerang otot-otot sehingga otot-otot tersebut melemah
   sedikit demi sedikit. Prediksi yang paling optimistis menyatakan
   bahwa mereka hanya bisa hidup sampai usia 17 tahun. Sebagian besar
   waktu mereka akan dihabiskan di kursi roda.

   Ketiga anak laki-laki kami lebih mujur ketimbang anak-anak yang
   mengidap penyakit yang sama. Kami beruntung bisa bersama mereka
   selama 22 tahun, 23 tahun, dan 24 tahun. Biasanya, anak-anak yang
   mengidap penyakit ini tidak bisa melewati sekolah dasar. Ketiga anak
   laki-laki kami bisa bersekolah di sekolah umum. Mereka selalu masuk
   dalam daftar ranking siswa yang berprestasi. Bahkan, mereka sedang
   kuliah di perguruan tinggi ketika mereka meninggal. Mereka baru
   bergantung pada kursi roda pada usia 12 tahun. Mereka jarang
   mengeluh meskipun harus memakai penyangga sampai ke dada mereka.
   Selain itu, tangkai baja ditanam di sepanjang tulang belakang
   mereka. Mereka bertiga saling menunjang. Tak ada sesuatu pun yang
   tak dapat mereka pecahkan bersama. Mereka tak pernah mengasihani
   diri mereka sendiri. Meskipun hidup mereka sangat singkat, mereka
   menggunakannya sebaik mungkin. Mereka memperkaya hidup semua orang
   yang berhubungan dengan mereka.

   Mukjizat Natal yang kami alami pada 1990 melibatkan putra tertua
   kami, Jon. Pada bulan November 1990, ia harus masuk rumah sakit
   Strong Memorial di Rochester, New York, 117 mil jauhnya dari rumah
   kami di Salamanca. Ia didiagnosis mengidap "pneumonia" dan harus
   mendapat perawatan yang semestinya. Aku dan istriku, Ginger,
   menengoknya hampir setiap hari dan keadaannya mulai membaik. Tetapi,
   kondisinya memburuk pada hari yang kesepuluh. Rumah sakit menelepon
   kami dan mengatakan bahwa ia telah dipindahkan ke bagian perawatan intensif.

   Ketika kami tiba, kami mendapatkan dia dengan alat bantu hidup,
   tabung "tracheotomy" di tenggorokannya, dan ia hampir tak dapat
   berbicara. Apa yang dapat kami lakukan hanyalah tidak memerlihatkan
   air mata kami kepadanya. Malam itu, kami berdoa seperti yang belum
   pernah kami lakukan sebelumnya. Beberapa hari kemudian, ia hanya
   bisa menulis dan memberi tahu kami bahwa ia tidak ingin bergantung
   pada sebuah mesin untuk memertahankan hidupnya. Sebelumnya, Jon
   bergantung pada kursi roda listrik selama bertahun-tahun. Ia hendak
   menulis di tanganku, "Ayah, tarik stekernya." Jon bukannya ingin
   mati. Baginya, hidup pendek tetapi lebih normal tanpa mesin, lebih
   baik daripada kemungkinan hidup lama dengan mesin yang dapat
   memertahankan hidup. Permintaan Jon satu-satunya ialah kami
   mengizinkannya pulang untuk Natal. Kalaupun ia harus mati, ia ingin
   mati dalam keadaan yang menyenangkan dan dipenuhi cinta di
   sekelilingnya. Ia ingin terlepas dari semua pipa dan kabel.

   Dokternya mengatakan padanya bahwa ia tak mungkin pulang karena di
   rumah tidak ada perawatan dan peralatan profesional yang diperlukan
   untuknya. Selain itu, sangat riskan untuk membawanya sejauh 117 mil
   dengan ambulans. "Saya rasa harus ada suatu mukjizat untuk melakukan
   itu," kata dokter. Ketika aku melihat mata Jon yang memohon, mata
   kedua perawatnya yang berdiri di ujung tempat tidurnya, dan mata
   ibunya yang dipenuhi air mata, mereka sepertinya ingin berkata, "Tak
   dapatkah kami mencobanya?"

   Kami akan mencobanya. Secara tak terduga, mukjizat hari Natal kami
   mulai memerlihatkan bentuk. Dengan bantuan dr. Moxley, yang telah
   mengenal Jon selama bertahun-tahun, kami mulai mendapat bantuan yang
   kami butuhkan. Ahli terapi pernapasan mengajar kami untuk memonitor
   napas Jon. Para perawat menunjukkan kepada kami bagaimana caranya
   membersihkan tenggorokan. Para anggota staf rumah sakit menjadi
   "malaikat yang penuh belas kasih". Mereka melatih kami untuk
   memberikan perawatan yang terbaik kepada Jon segera setelah ia di
   rumah. Meskipun demikian, dokter yang merawatnya yakin bahwa Jon
   akan meninggal dalam perjalanan ke rumah. Mereka tidak mau
   bertanggung jawab terhadap tindakan kami untuk membawa Jon pulang.
   Sehari sebelum Jon diizinkan pulang, ia mendesak kami untuk menghubungi 
pengurus 
   makam dan pegawai yang memeriksa penyebab kematian di wilayah kami.

   Aku menghubungi kepala pemadam kebakaran Salamanca, yakni Jack
   McClune. Ia teman lama kami. Ia akan berusaha untuk mendapatkan
   seorang pegawai. Keesokan harinya, ia menelepon dan mengatakan bahwa
   ia mendapat 3 orang yang mau mengadakan perjalanan selama 6 atau 7
   jam itu pada hari Natal. Mereka bersedia untuk menjemput dan
   mengantar Jon pulang ke rumah. Pada pukul lima di suatu pagi yang
   bersalju dan angin yang berhembus kencang di New York, mereka
   menjemputku dengan ambulans kota yang sama sekali baru. Dalam
   keadaan yang sulit, kami mengadakan perjalanan selama 3 jam ke rumah sakit.

   Ketika kami tiba, para perawat telah mempersiapkan Jon. Mereka
   menunggu kepulangan Jon. Ia masih dengan mesin penyangga hidup,
   tetapi aku melihat senyum yang sudah lama tidak muncul di wajahnya.
   Setelah itu, kami mengucapkan selamat berpisah dan berterima kasih
   kepada semua dokter dan perawat. Kami mendapat instruksi-instruksi
   terakhir. Kami berdoa dalam hati dan Jon dilepaskan dari penyangga
   hidupnya. Ia bertumpu pada dirinya sendiri. Aku mengucapkan selamat
   Natal kepada semua orang. Para petugas ambulans siap untuk membawa
   Jon pulang ke rumah.

   Kami tiba di rumah dengan selamat kira-kira 3 jam kemudian. Para
   petugas ambulans menempatkan Jon di tempat tidurnya dan mereka
   berangkat untuk berkumpul dengan keluarga masing-masing. Meskipun
   terlambat, mereka masih bisa merayakan Natal. Keempat petugas
   ambulans itu ialah Jack McClune, Steve Bias, Bill Kendt, dan Gene
   Haugh. Mereka mengorbankan sebagian besar hari dan waktu mereka
   secara sukarela. Seharusnya, mereka bisa melewatkan Natal bersama
   keluarga mereka masing-masing. Tetapi, mereka justru mengantarkan
   pulang seorang anak laki-laki yang sekarat untuk merayakan Natal.
   Aku berterima kasih kepada mereka. Mereka mengatakan bahwa ucapan
   terima kasih yang mereka butuhkan adalah senyum Jon ketika ia
   diantar ke rumah dengan seluruh keluarga yang mengelilinginya.
   Mereka semua sependapat bahwa Natal itu adalah Natal yang paling
   menyenangkan yang pernah mereka alami. Mereka pasti akan tinggal
   sampai tengah malam jika pertolongan itu diperlukan oleh Jon. Ketika
   aku menanyakan ongkos ambulans kepada Jack, ia mengatakan bahwa
   seseorang di kota telah mendengar tentang keadaan kami yang
   menyedihkan dan orang itu sudah mengurusnya. Tidak ada ongkos yang
   harus dibayar. Kami tak pernah tahu siapa yang membayar ongkos itu.

   Ketika mereka pergi, aku dan Ginger berdiri di ujung tempat tidur
   Jon. Kami menyampaikan doa terima kasih secara diam-diam. Jon
   bernapas dengan teratur. Yang terindah, ada senyum di wajahnya yang
   masih terus kulihat hingga hari ini. Malamnya, adik, kakak, kakek,
   nenek, bibi, paman, dan sepupu Jon bergabung dengan kami untuk makan
   malam Natal tradisional kami berupa ayam kalkun. Di atas kursi,
   diapit oleh aku dan ibunya, duduklah mukjizat Natal kami.

   Jon diprediksi akan meninggal pada hari Natal 1990. Ia hidup untuk
   melihat Natal satu kali lagi. Selain itu, ia sudah didaftarkan ke
   sekolah tinggi ketika ia meninggal pada Maret 1992. Jon adalah orang
   yang tak pernah menyerah. Selama 22 tahun, ia telah memberi
   kebahagiaan, semangat, dan cinta akan hidup kepada semua orang di
   sekitarnya. Ini tak akan pernah kami lupakan. Dan, ia telah
   membuktikannya bukan hanya pada satu Natal, melainkan pada dua Natal
   secara berturut-turut. Ini menunjukkan bahwa mukjizat benar-benar ada.

   Diambil dan disunting seperlunya dari:
   Judul buku: The Magic of Christmas Miracles
   Penulis: Jamie C. Miller, Laura Lewis, dan Jennifer Basye Sander
   Penerjemah: Bambang Soemantri
   Penerbit: PT. Bhuana Ilmu Populer, Jakarta 2002
   Halaman: 153 -- 158
______________________________________________________________________

    ANAK YHWH MENJADI MANUSIA UNTUK MEMAMPUKAN
       UMAT MANUSIA MENJADI ANAK-ANAK YHWH C.S. Lewis
______________________________________________________________________
POKOK DOA

   1. Puji syukur kepada Yesus Kristus yang memberi kesempatan bagi
      kita untuk merayakan Natal kembali tahun ini.

   2. Berdoalah bagi umat kristiani yang mungkin sedang mengalami hal
      yang tidak menyenangkan di Natal kali ini, agar mereka tetap
      dimampukan untuk merasakan anugerah Elohim dan kehangatan suasana Natal.

   3. Doakanlah agar anak-anak Tuhan tetap bersabar dan beriman dalam
      menantikan mukjizat Tuhan, senantiasa percaya bahwa Dia adalah
      Elohim yang mendengar doa umat-Nya.
______________________________________________________________________
DARI REDAKSI

         BARU! KUMPULAN BAHAN NATAL DI NATAL.SABDA.ORG
  Berikut ini adalah berita gembira bagi Anda yang sedang membutuhkan 
  bahan-bahan seputar Natal berbahasa Indonesia! Yayasan Lembaga 
  SABDA telah meluncurkan situs "natal.sabda.org" yang berisi 
  kumpulan berbagai jenis bahan-bahan Natal yang berguna untuk Anda 
  simak. Bahan-bahan tersebut diantaranya adalah Renungan Natal, 
  Artikel Natal, Cerita/Kesaksian Natal, Diskusi Natal, Drama Natal, 
  Puisi Natal, Tips Natal, Bahan Mengajar Natal, Blog Natal, Resensi 
  Buku Natal, Review Situs Natal, e-Cards Natal, Gambar/Desain Natal dan Lagu 
Natal..

  Situs "natal.sabda.org" juga telah dirancang untuk menjadi situs 
  interaktif dimana pengunjung dapat mendaftarkan diri untuk 
  berpartisipasi aktif dengan mengirimkan tulisan, menulis blog, memberikan 
komentar, 
   dan mengucapkan selamat Natal kepada rekan pengunjung lain.

  Jadi, tunggu apa lagi? Segera kunjungi situs "natal.sabda.org". 
  Mari berbagi berkat pada perayaan hari kedatangan Kristus ke dunia 
  2000 tahun yang lalu ini dengan menjadi berkat bagi kemuliaan nama- Nya.
  ==> http://natal.sabda.org/

======================================================
From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>

Edisi 100 -- Rasa Haus Bangsa Rusia Akan Kristus

PENGANTAR

   Sebagai anak-anak Elohim, kita dipanggil untuk menjadi berkat di mana
   pun kita berada. Panggilan yang Tuhan berikan kepada kita pun tidak
   sama satu dengan yang lain. Namun, apa pun panggilan pelayanan yang
   Tuhan tawarkan, seharusnya kita tanggapi dengan baik. Saya percaya
   Anda dan saya pasti memiliki kerinduan yang begitu besar untuk
   menyenangkan hati Bapa, dan melibatkan diri dalam pelayanan
   merupakan salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk mewujudkannya.

   Melayani Tuhan tidak terbatas pada pelayanan di gereja, menjadi
   pelayan Tuhan sepenuh waktu, pergi ke ladang misi di daerah-daerah
   terpencil, dan sebagainya. Namun, segala aspek kehidupan bisa
   menjadi ladang pelayanan kita. Yang terpenting kita melayani-Nya
   dengan sepenuh hati dan ketulusan jiwa. Tidak menjadi masalah
   sekalipun pelayanan kita dipandang remeh oleh orang lain. Paling
   tidak kita bisa memberi "dampak" bagi orang-orang di sekitar kita.
   Selain itu, kita tidak perlu menunggu menjadi orang besar yang
   sukses untuk menjawab panggilan Tuhan.

   Kini, panggilan pelayanan kembali dinyatakan kepada Anda. Apakah
   hati Anda terketuk untuk menjawabnya? Tuhan rindu setiap
   anak-anak-Nya berkata: "Ya, Bapa, ini aku utuslah aku." Akhirnya, kami 
mengajak Anda 
  untuk terus maju dalam melayani Tuhan. Tuhan Yesus memberkati!

   Redaksi Tamu KISAH,
   Sri Setyawati
______________________________________________________________________
KESAKSIAN

                   RASA HAUS BANGSA RUSIA AKAN KRISTUS
   Aku dilahirkan sebagai yatim piatu sejak tahun-tahun pertama
   kelahiranku. Karena dibesarkan dalam suatu keluarga yang tak
   mengenal agama, aku tidak pernah mendapat pendidikan agama sewaktu
   kecil. Pada usia 14 tahun, aku telah menjadi seorang ateis yang
   keras seperti orang-orang komunis saat ini. Inilah akibat dari masa
   kecil yang pahit -- saat di mana aku sudah mengenal kemiskinan dalam
   tahun-tahun yang sukar selama Perang Dunia I.

   Aku telah membaca buku-buku ateis, dan aku bukan hanya tidak percaya
   akan adanya Tuhan dan Kristus, bahkan aku membenci pikiran-pikiran
   semacam itu dan menganggapnya berbahaya bagi pikiran manusia. Jadi,
   aku tumbuh dalam kepahitan terhadap agama.

   Namun kelak aku mengerti, oleh anugerah Elohim, aku telah dipilih-Nya
   untuk alasan-alasan yang tak dapat kumengerti.

   Walaupun aku seorang ateis, namun ada sesuatu yang tak masuk akal
   yang selalu menarikku masuk dalam gereja. Sulit bagiku untuk
   melewati sebuah gereja tanpa memasukinya. Namun, aku tidak pernah
   mengerti apa yang sedang berlangsung di dalam gereja. Aku
   mendengarkan semua khotbah, tapi semuanya tidak menarik hatiku.

   Aku punya gambaran bahwa Tuhan adalah seorang Tuan yang harus
   kutaati. Aku membenci gambaran yang salah tentang Tuhan yang ada
   dalam pikiranku ini. Namun, aku amat ingin mengetahui bahwa ada hati
   yang penuh kasih yang berada di sebuah tempat di alam semesta ini,
   entah di mana. Aku hanya memeroleh sedikit kasih sayang kala aku
   masih kanak-kanak dan remaja. Karenanya, aku merindukan detakan kasih sayang 
itu.

   Aku meyakinkan diriku bahwa Tuhan tidak ada, tetapi aku sedih karena
   Tuhan yang penuh cinta kasih seperti yang kubutuhkan tidak ada.
   Pernah, dalam keadaan konflik spiritual seperti itu, aku masuk ke
   dalam sebuah gereja Katolik. Kulihat orang-orang sedang berdoa dan
   mengucapkan sesuatu. Aku berpikir, aku akan berlutut dekat mereka
   supaya dapat mendengar apa yang sedang mereka ucapkan dan mengulangi
   doa itu untuk melihat apa yang akan terjadi.

   Mereka mengucapkan doa kepada perawan suci itu. "Salam Maria, penuh
   rahmat." Aku mengulangi perkataan demi perkataan setelah mereka,
   berulang kali. Kupandangi patung Bunda Maria itu, namun tak terjadi
   sesuatu apa pun. Aku amat sedih sekali.

   Suatu hari, meski aku seorang ateis, aku berdoa kepada Tuhan. Doaku
   seperti ini: "Tuhan, aku tahu pasti bahwa Kau tidak ada. Tapi bila
   Engkau toh ada, yang merupakan sesuatu yang kutentang, maka bukanlah
   kewajibanku untuk memercayai-Mu, melainkan Engkaulah yang harus
   memperkenalkan diri-Mu kepadaku!"

   Aku seorang ateis, tapi ateisme tidak memberi kedamaian dalam hatiku.

   Selama pergolakan batin ini, seorang tukang kayu tua di sebuah desa
   di atas pegunungan Rumania berdoa seperti ini: "Tuhanku, aku telah
   melayani-Mu di dunia ini. Maka aku ingin mendapat ganjaranku di bumi
   ini, seperti kelak di surga! Dan upahku itu ialah agar aku tidak
   mati sebelum membawa seorang Yahudi kepada Kristus, karena Yesus
   adalah orang Yahudi. Tapi aku ini seorang yang miskin, sudah tua,
   dan berpenyakitan. Aku tidak dapat pergi mencari orang Yahudi. Di
   desaku ini tak ada orang Yahudi. Kirimlah oleh-Mu seorang Yahudi ke desaku 
ini dan 
    aku akan berusaha semampuku untuk membawanya kepada Kristus."

   Sesuatu yang tak tertahankan mendorongku untuk pergi ke desa itu.
   Aku tak memunyai alasan apa pun untuk pergi ke sana. Rumania
   memunyai 12.000 desa seperti itu, tapi aku justru pergi ke desa yang
   satu itu. Karena aku seorang Yahudi, tukang kayu tua itu menyambutku
   seperti seorang pemuda menyambut gadis yang sangat dicintainya. Ia
   melihat dalam diriku, jawaban atas doanya. Lalu ia memberiku sebuah
   Kitab Suci untuk dibaca. Sebelumnya, aku telah acapkali membaca
   Kitab Suci karena tertarik dari segi kebudayaan. Namun, Kitab Suci
   yang ia berikan kepadaku hari itu, lain daripada biasanya.

   Seperti yang ia tuturkan kepadaku, ia bersama istrinya telah berdoa
   berjam-jam untuk pertobatanku dan istriku. Kitab Suci yang
   diberikannya kepadaku bukan hanya ditulis dengan huruf-huruf saja,
   melainkan penuh kobaran nyala cinta yang terbakar oleh doa-doanya.

   Aku hampir tidak dapat membacanya, aku hanya bisa menangis di atas
   Kitab Suci itu, membandingkan kehidupanku yang buruk dengan
   kehidupan Yesus; kenajisanku dengan kebenaran-Nya; kebencianku
   dengan kasih-Nya. Dan, Ia menerimaku menjadi salah satu milik-Nya.

   Tak lama kemudian, istriku pun turut bertobat. Ia mengajak banyak
   orang kepada Kristus, dan mereka yang diajaknya itu, juga mengajak
   yang lain lagi kepada Kristus. Dengan demikian, sebuah jemaat
   Lutheran berdiri di negara Rumania.

   Kemudian datanglah masa pendudukan Nazi. Kami sangat menderita. Di
   Rumania, kaum Nazi bertindak bagai diktator dari zaman pertengahan,
   yang senantiasa menyiksa orang Protestan dan Yahudi.

   Sebelum aku dinobatkan secara resmi sebagai pendeta, dan sebelum aku
   disiapkan melayani, aku merupakan pemimpin gereja ini, karena aku
   yang mendirikannya. Aku bertanggung jawab atasnya. Aku dan istriku
   sering ditangkap, dipukuli, dan digiring ke hadapan para hakim Nazi.

   Siksaan Nazi itu kejam sekali, tapi masih dianggap sebagai
   "pendahuluan" dari siksaan kaum komunis. Kami terpaksa memberi nama
   putra kami dengan nama Mihai -- nama yang tidak berbau Yahudi, agar
   ia terhindar dari bahaya maut.

   Tapi, zaman Nazi itu merupakan suatu keuntungan yang besar pula.
   Kami diajar bahwa siksaan badan itu dapat dipikul dan bahwa roh
   manusia, dengan pertolongan Tuhan, dapat menahan siksaan yang
   menakutkan. Kami juga belajar cara-cara kerja rahasia Kristen, yang
   sangat berguna sekali sebagai persiapan menempuh jalan yang lebih
   berat -- yang akan dialami dalam waktu dekat.

   Pelayananku kepada Orang-Orang Rusia

   Karena menyesal telah menjadi seorang ateis, maka sejak dari hari
   pertobatanku, aku telah bertekad untuk memberi kesaksian pada
   orang-orang Rusia. Sejak kecil, orang Rusia telah diajar dan dididik
   tentang ateisme. Pada akhirnya, kerinduanku untuk menjangkau mereka
   terpenuhi dan aku tidak perlu pergi ke Rusia untuk menjangkau mereka.

   Hal itu terjadi pada masa pendudukan Nazi, ribuan tahanan Rusia
   dibawa ke Rumania sehingga aku dapat berkhotbah pada mereka.

   Pekerjaanku di tengah-tengah mereka adalah pekerjaan yang sangat
   mengharukan. Aku tak dapat melupakan pertemuan pertamaku dengan
   seorang tahanan Rusia, seorang insinyur. Aku bertanya apakah ia
   percaya pada Tuhan. Andai kata ia menjawab "tidak", maka jawabannya
   itu tidak akan mengherankan aku. Adalah hak bagi setiap orang untuk
   percaya atau tidak percaya. Tapi, ketika aku bertanya apakah ia
   percaya pada Tuhan, ia memandang padaku dengan bingung dan berkata,
   "Aku tak mendapat perintah untuk percaya. Jika aku diperintahkan, aku akan 
percaya."

   Air mata mengalir di pipiku. Aku merasakan hatiku terkoyak. Di sini,
   berdiri di hadapanku, seorang yang pikirannya telah mati, seorang
   manusia yang telah kehilangan anugerah tertinggi yang diberikan oleh
   Tuhan kepada umat manusia -- kepribadiannya. Ia telah menjadi alat
   yang telah dicuci otak di tangan orang komunis, siap percaya atau
   tidak percaya berdasarkan suatu perintah. Ia tidak dapat lagi berpikir 
sendiri.

   Seperti inilah tipikal seorang Rusia setelah mengalami tahun-tahun
   di bawah komunisme! Setelah terkejut melihat apa yang telah
   dilakukan oleh komunisme terhadap umat manusia, aku berjanji kepada
   Elohim untuk mengabdikan hidupku bagi orang-orang ini untuk mengembalikan 
   kepribadiannya dan memberinya iman kepada Tuhan dan Kristus.

   Aku tidak perlu pergi ke Rusia untuk menjangkau orang Rusia. Mulai
   tanggal 23 Agustus 1944, satu juta pasukan Rusia masuk Rumania, dan
   segera setelah ini, komunis berkuasa di negara kami. Mulailah mimpi
   buruk yang mengakibatkan penderitaan di bawah kekuasaan Nazi.

   Pada saat itu di Rumania, yang sekarang berpenduduk sekitar 24 juta
   jiwa, Partai Komunis hanya memiliki sepuluh ribu anggota. Namun,
   Vishinsky, Sekretaris Luar Negeri Uni Soviet, masuk dalam kantor
   raja kami tercinta, Raja Michael I, memukul meja dan berkata, "Anda
   harus menunjuk orang komunis dalam pemerintahan."

   Tentara dan polisi kami dilucuti, dan akhirnya komunis berkuasa
   dengan cara kekerasan, mereka dibenci hampir semua orang. Hal itu
   terjadi bukannya tanpa adanya kerjasama para Amerika dan Inggris saat itu.

   Manusia bertanggung jawab di hadapan Elohim bukan hanya karena
   dosa-dosa pribadi mereka, namun juga karena dosa-dosa bangsa mereka.
   Tragedi yang terjadi dalam semua bangsa-bangsa tawanan merupakan
   tanggung jawab hati umat Kristen Amerika dan Inggris. Orang Amerika
   harus tahu bahwa mereka telah membantu Rusia tanpa disadari
   menerapkan rezim pembunuhan dan teror atas kami. Sebagai bagian dari
   Tubuh Kristus, orang Amerika harus memerbaiki hal ini dengan
   membantu orang-orang tertawan supaya datang kepada terang Kristus.

   Diambil dan disunting seperlunya dari:
   Judul buku: Berkorban Demi Kristus
   Judul asli buku: Tortured for Christ
   Penulis: Richard Wurmbrand
   Penerbit: Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya 2002
   Halaman: 9 -- 13
______________________________________________________________________
"Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita
untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti 
jejak-Nya." (1 Petrus 2:21)< http://sabdaweb.sabda.org/?p=1Petrus+2:21 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA

   1. Bersyukur kepada Tuhan Yesus yang memanggil kita untuk
      melayani-Nya. Doakan supaya umat pilihan Tuhan tergerak untuk
      memenuhi panggilan itu ke mana pun Tuhan mengutus.

   2. Dukunglah dalam doa agar umat Kristen tidak puas dengan hanya
      menjadi jemaat, namun justru hati mereka senantiasa rindu untuk melayani 
Tuhan.

   3. Berdoalah agar orang-orang yang belum pernah mendengar tentang
      Injil maupun yang sudah pernah tapi tidak meresponi, dilembutkan
      hatinya untuk menerima jamahan Tuhan dan bertobat.

   4. Doakanlah agar Tuhan semakin menambahkan orang-orang yang rindu
      melayani di ladang misi sehingga melalui mereka, banyak jiwa dimenangkan.
______________________________________________________________________
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) 2008 YLSA
YLSA -- http://www.ylsa.org/
http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
Redaksi Tamu: Sri Setyawati
Kontak: kisah(at)sabda.org
Berlangganan: subscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org
Berhenti: unsubscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org
Arsip KISAH: http://www.sabda.org/publikasi/Kisah/
Situs KEKAL: http://kekal.sabda.org/

Kirim email ke