From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>
Edisi 99 -- Di Luar Perkiraan
PENGANTAR
Bulan Desember; bulan yang sejuk, bulan yang sibuk pula. Ya, Natal
menjelang dan banyak persiapan yang kita lakukan untuk menyambutnya.
Meskipun Natal kita lalui tiap tahun, bukan berarti Natal tahun ini
akan kita lewati tanpa makna, bukan?
Memaknai Natal bukan dengan memasang pohon Natal di rumah kita,
berkirim bingkisan untuk kerabat dan rekan, atau memakai baju baru.
Jangan sampai kita mengaburkan esensi Natal dengan kemeriahan
perayaan dan pernak-perniknya, namun marilah kita menikmatinya
sebagai refleksi pribadi. Perayaan Natal jangan pula hanya terfokus
pada diri kita sendiri, namun justru harus kita lakukan untuk
menunjukkan solidaritas kita kepada sesama.
Harapan kami, keajaiban kelahiran Sang Juru Selamat menyegarkan hati
kita dan mengobarkan cinta kita yang kian besar kepada-Nya. Mari
senantiasa mensyukuri karunia yang Dia berikan bagi kita semua.
Selamat Natal 2008 dan selamat menyongsong Tahun Baru 2009. Tuhan
Yesus memberkati.
Redaksi Tamu KISAH,
Sri Setyawati
______________________________________________________________________
KESAKSIAN
DI LUAR PERKIRAAN
Aku dan istriku dianugerahi empat orang anak yang hebat. Mereka
adalah anak-anak kembar 4, yang terdiri dari 3 anak laki-laki dan 1
anak perempuan. Ketiga anak laki-laki kami ialah Jon, Paul, dan
Steven. Sheila adalah satu-satunya anak perempuan dari anak kembar
empat kami. Beberapa saat setelah dilahirkan, ketiga anak laki-laki
kami didiagnosis mengidap penyakit "Duchenne Muscular Dystrophy".
Penyakit ini menyerang otot-otot sehingga otot-otot tersebut melemah
sedikit demi sedikit. Prediksi yang paling optimistis menyatakan
bahwa mereka hanya bisa hidup sampai usia 17 tahun. Sebagian besar
waktu mereka akan dihabiskan di kursi roda.
Ketiga anak laki-laki kami lebih mujur ketimbang anak-anak yang
mengidap penyakit yang sama. Kami beruntung bisa bersama mereka
selama 22 tahun, 23 tahun, dan 24 tahun. Biasanya, anak-anak yang
mengidap penyakit ini tidak bisa melewati sekolah dasar. Ketiga anak
laki-laki kami bisa bersekolah di sekolah umum. Mereka selalu masuk
dalam daftar ranking siswa yang berprestasi. Bahkan, mereka sedang
kuliah di perguruan tinggi ketika mereka meninggal. Mereka baru
bergantung pada kursi roda pada usia 12 tahun. Mereka jarang
mengeluh meskipun harus memakai penyangga sampai ke dada mereka.
Selain itu, tangkai baja ditanam di sepanjang tulang belakang
mereka. Mereka bertiga saling menunjang. Tak ada sesuatu pun yang
tak dapat mereka pecahkan bersama. Mereka tak pernah mengasihani
diri mereka sendiri. Meskipun hidup mereka sangat singkat, mereka
menggunakannya sebaik mungkin. Mereka memperkaya hidup semua orang
yang berhubungan dengan mereka.
Mukjizat Natal yang kami alami pada 1990 melibatkan putra tertua
kami, Jon. Pada bulan November 1990, ia harus masuk rumah sakit
Strong Memorial di Rochester, New York, 117 mil jauhnya dari rumah
kami di Salamanca. Ia didiagnosis mengidap "pneumonia" dan harus
mendapat perawatan yang semestinya. Aku dan istriku, Ginger,
menengoknya hampir setiap hari dan keadaannya mulai membaik. Tetapi,
kondisinya memburuk pada hari yang kesepuluh. Rumah sakit menelepon
kami dan mengatakan bahwa ia telah dipindahkan ke bagian perawatan intensif.
Ketika kami tiba, kami mendapatkan dia dengan alat bantu hidup,
tabung "tracheotomy" di tenggorokannya, dan ia hampir tak dapat
berbicara. Apa yang dapat kami lakukan hanyalah tidak memerlihatkan
air mata kami kepadanya. Malam itu, kami berdoa seperti yang belum
pernah kami lakukan sebelumnya. Beberapa hari kemudian, ia hanya
bisa menulis dan memberi tahu kami bahwa ia tidak ingin bergantung
pada sebuah mesin untuk memertahankan hidupnya. Sebelumnya, Jon
bergantung pada kursi roda listrik selama bertahun-tahun. Ia hendak
menulis di tanganku, "Ayah, tarik stekernya." Jon bukannya ingin
mati. Baginya, hidup pendek tetapi lebih normal tanpa mesin, lebih
baik daripada kemungkinan hidup lama dengan mesin yang dapat
memertahankan hidup. Permintaan Jon satu-satunya ialah kami
mengizinkannya pulang untuk Natal. Kalaupun ia harus mati, ia ingin
mati dalam keadaan yang menyenangkan dan dipenuhi cinta di
sekelilingnya. Ia ingin terlepas dari semua pipa dan kabel.
Dokternya mengatakan padanya bahwa ia tak mungkin pulang karena di
rumah tidak ada perawatan dan peralatan profesional yang diperlukan
untuknya. Selain itu, sangat riskan untuk membawanya sejauh 117 mil
dengan ambulans. "Saya rasa harus ada suatu mukjizat untuk melakukan
itu," kata dokter. Ketika aku melihat mata Jon yang memohon, mata
kedua perawatnya yang berdiri di ujung tempat tidurnya, dan mata
ibunya yang dipenuhi air mata, mereka sepertinya ingin berkata, "Tak
dapatkah kami mencobanya?"
Kami akan mencobanya. Secara tak terduga, mukjizat hari Natal kami
mulai memerlihatkan bentuk. Dengan bantuan dr. Moxley, yang telah
mengenal Jon selama bertahun-tahun, kami mulai mendapat bantuan yang
kami butuhkan. Ahli terapi pernapasan mengajar kami untuk memonitor
napas Jon. Para perawat menunjukkan kepada kami bagaimana caranya
membersihkan tenggorokan. Para anggota staf rumah sakit menjadi
"malaikat yang penuh belas kasih". Mereka melatih kami untuk
memberikan perawatan yang terbaik kepada Jon segera setelah ia di
rumah. Meskipun demikian, dokter yang merawatnya yakin bahwa Jon
akan meninggal dalam perjalanan ke rumah. Mereka tidak mau
bertanggung jawab terhadap tindakan kami untuk membawa Jon pulang.
Sehari sebelum Jon diizinkan pulang, ia mendesak kami untuk menghubungi
pengurus
makam dan pegawai yang memeriksa penyebab kematian di wilayah kami.
Aku menghubungi kepala pemadam kebakaran Salamanca, yakni Jack
McClune. Ia teman lama kami. Ia akan berusaha untuk mendapatkan
seorang pegawai. Keesokan harinya, ia menelepon dan mengatakan bahwa
ia mendapat 3 orang yang mau mengadakan perjalanan selama 6 atau 7
jam itu pada hari Natal. Mereka bersedia untuk menjemput dan
mengantar Jon pulang ke rumah. Pada pukul lima di suatu pagi yang
bersalju dan angin yang berhembus kencang di New York, mereka
menjemputku dengan ambulans kota yang sama sekali baru. Dalam
keadaan yang sulit, kami mengadakan perjalanan selama 3 jam ke rumah sakit.
Ketika kami tiba, para perawat telah mempersiapkan Jon. Mereka
menunggu kepulangan Jon. Ia masih dengan mesin penyangga hidup,
tetapi aku melihat senyum yang sudah lama tidak muncul di wajahnya.
Setelah itu, kami mengucapkan selamat berpisah dan berterima kasih
kepada semua dokter dan perawat. Kami mendapat instruksi-instruksi
terakhir. Kami berdoa dalam hati dan Jon dilepaskan dari penyangga
hidupnya. Ia bertumpu pada dirinya sendiri. Aku mengucapkan selamat
Natal kepada semua orang. Para petugas ambulans siap untuk membawa
Jon pulang ke rumah.
Kami tiba di rumah dengan selamat kira-kira 3 jam kemudian. Para
petugas ambulans menempatkan Jon di tempat tidurnya dan mereka
berangkat untuk berkumpul dengan keluarga masing-masing. Meskipun
terlambat, mereka masih bisa merayakan Natal. Keempat petugas
ambulans itu ialah Jack McClune, Steve Bias, Bill Kendt, dan Gene
Haugh. Mereka mengorbankan sebagian besar hari dan waktu mereka
secara sukarela. Seharusnya, mereka bisa melewatkan Natal bersama
keluarga mereka masing-masing. Tetapi, mereka justru mengantarkan
pulang seorang anak laki-laki yang sekarat untuk merayakan Natal.
Aku berterima kasih kepada mereka. Mereka mengatakan bahwa ucapan
terima kasih yang mereka butuhkan adalah senyum Jon ketika ia
diantar ke rumah dengan seluruh keluarga yang mengelilinginya.
Mereka semua sependapat bahwa Natal itu adalah Natal yang paling
menyenangkan yang pernah mereka alami. Mereka pasti akan tinggal
sampai tengah malam jika pertolongan itu diperlukan oleh Jon. Ketika
aku menanyakan ongkos ambulans kepada Jack, ia mengatakan bahwa
seseorang di kota telah mendengar tentang keadaan kami yang
menyedihkan dan orang itu sudah mengurusnya. Tidak ada ongkos yang
harus dibayar. Kami tak pernah tahu siapa yang membayar ongkos itu.
Ketika mereka pergi, aku dan Ginger berdiri di ujung tempat tidur
Jon. Kami menyampaikan doa terima kasih secara diam-diam. Jon
bernapas dengan teratur. Yang terindah, ada senyum di wajahnya yang
masih terus kulihat hingga hari ini. Malamnya, adik, kakak, kakek,
nenek, bibi, paman, dan sepupu Jon bergabung dengan kami untuk makan
malam Natal tradisional kami berupa ayam kalkun. Di atas kursi,
diapit oleh aku dan ibunya, duduklah mukjizat Natal kami.
Jon diprediksi akan meninggal pada hari Natal 1990. Ia hidup untuk
melihat Natal satu kali lagi. Selain itu, ia sudah didaftarkan ke
sekolah tinggi ketika ia meninggal pada Maret 1992. Jon adalah orang
yang tak pernah menyerah. Selama 22 tahun, ia telah memberi
kebahagiaan, semangat, dan cinta akan hidup kepada semua orang di
sekitarnya. Ini tak akan pernah kami lupakan. Dan, ia telah
membuktikannya bukan hanya pada satu Natal, melainkan pada dua Natal
secara berturut-turut. Ini menunjukkan bahwa mukjizat benar-benar ada.
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: The Magic of Christmas Miracles
Penulis: Jamie C. Miller, Laura Lewis, dan Jennifer Basye Sander
Penerjemah: Bambang Soemantri
Penerbit: PT. Bhuana Ilmu Populer, Jakarta 2002
Halaman: 153 -- 158
______________________________________________________________________
ANAK YHWH MENJADI MANUSIA UNTUK MEMAMPUKAN
UMAT MANUSIA MENJADI ANAK-ANAK YHWH C.S. Lewis
______________________________________________________________________
POKOK DOA
1. Puji syukur kepada Yesus Kristus yang memberi kesempatan bagi
kita untuk merayakan Natal kembali tahun ini.
2. Berdoalah bagi umat kristiani yang mungkin sedang mengalami hal
yang tidak menyenangkan di Natal kali ini, agar mereka tetap
dimampukan untuk merasakan anugerah Elohim dan kehangatan suasana Natal.
3. Doakanlah agar anak-anak Tuhan tetap bersabar dan beriman dalam
menantikan mukjizat Tuhan, senantiasa percaya bahwa Dia adalah
Elohim yang mendengar doa umat-Nya.
______________________________________________________________________
DARI REDAKSI
BARU! KUMPULAN BAHAN NATAL DI NATAL.SABDA.ORG
Berikut ini adalah berita gembira bagi Anda yang sedang membutuhkan
bahan-bahan seputar Natal berbahasa Indonesia! Yayasan Lembaga
SABDA telah meluncurkan situs "natal.sabda.org" yang berisi
kumpulan berbagai jenis bahan-bahan Natal yang berguna untuk Anda
simak. Bahan-bahan tersebut diantaranya adalah Renungan Natal,
Artikel Natal, Cerita/Kesaksian Natal, Diskusi Natal, Drama Natal,
Puisi Natal, Tips Natal, Bahan Mengajar Natal, Blog Natal, Resensi
Buku Natal, Review Situs Natal, e-Cards Natal, Gambar/Desain Natal dan Lagu
Natal..
Situs "natal.sabda.org" juga telah dirancang untuk menjadi situs
interaktif dimana pengunjung dapat mendaftarkan diri untuk
berpartisipasi aktif dengan mengirimkan tulisan, menulis blog, memberikan
komentar,
dan mengucapkan selamat Natal kepada rekan pengunjung lain.
Jadi, tunggu apa lagi? Segera kunjungi situs "natal.sabda.org".
Mari berbagi berkat pada perayaan hari kedatangan Kristus ke dunia
2000 tahun yang lalu ini dengan menjadi berkat bagi kemuliaan nama- Nya.
==> http://natal.sabda.org/
======================================================
From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>
Edisi 100 -- Rasa Haus Bangsa Rusia Akan Kristus
PENGANTAR
Sebagai anak-anak Elohim, kita dipanggil untuk menjadi berkat di mana
pun kita berada. Panggilan yang Tuhan berikan kepada kita pun tidak
sama satu dengan yang lain. Namun, apa pun panggilan pelayanan yang
Tuhan tawarkan, seharusnya kita tanggapi dengan baik. Saya percaya
Anda dan saya pasti memiliki kerinduan yang begitu besar untuk
menyenangkan hati Bapa, dan melibatkan diri dalam pelayanan
merupakan salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk mewujudkannya.
Melayani Tuhan tidak terbatas pada pelayanan di gereja, menjadi
pelayan Tuhan sepenuh waktu, pergi ke ladang misi di daerah-daerah
terpencil, dan sebagainya. Namun, segala aspek kehidupan bisa
menjadi ladang pelayanan kita. Yang terpenting kita melayani-Nya
dengan sepenuh hati dan ketulusan jiwa. Tidak menjadi masalah
sekalipun pelayanan kita dipandang remeh oleh orang lain. Paling
tidak kita bisa memberi "dampak" bagi orang-orang di sekitar kita.
Selain itu, kita tidak perlu menunggu menjadi orang besar yang
sukses untuk menjawab panggilan Tuhan.
Kini, panggilan pelayanan kembali dinyatakan kepada Anda. Apakah
hati Anda terketuk untuk menjawabnya? Tuhan rindu setiap
anak-anak-Nya berkata: "Ya, Bapa, ini aku utuslah aku." Akhirnya, kami
mengajak Anda
untuk terus maju dalam melayani Tuhan. Tuhan Yesus memberkati!
Redaksi Tamu KISAH,
Sri Setyawati
______________________________________________________________________
KESAKSIAN
RASA HAUS BANGSA RUSIA AKAN KRISTUS
Aku dilahirkan sebagai yatim piatu sejak tahun-tahun pertama
kelahiranku. Karena dibesarkan dalam suatu keluarga yang tak
mengenal agama, aku tidak pernah mendapat pendidikan agama sewaktu
kecil. Pada usia 14 tahun, aku telah menjadi seorang ateis yang
keras seperti orang-orang komunis saat ini. Inilah akibat dari masa
kecil yang pahit -- saat di mana aku sudah mengenal kemiskinan dalam
tahun-tahun yang sukar selama Perang Dunia I.
Aku telah membaca buku-buku ateis, dan aku bukan hanya tidak percaya
akan adanya Tuhan dan Kristus, bahkan aku membenci pikiran-pikiran
semacam itu dan menganggapnya berbahaya bagi pikiran manusia. Jadi,
aku tumbuh dalam kepahitan terhadap agama.
Namun kelak aku mengerti, oleh anugerah Elohim, aku telah dipilih-Nya
untuk alasan-alasan yang tak dapat kumengerti.
Walaupun aku seorang ateis, namun ada sesuatu yang tak masuk akal
yang selalu menarikku masuk dalam gereja. Sulit bagiku untuk
melewati sebuah gereja tanpa memasukinya. Namun, aku tidak pernah
mengerti apa yang sedang berlangsung di dalam gereja. Aku
mendengarkan semua khotbah, tapi semuanya tidak menarik hatiku.
Aku punya gambaran bahwa Tuhan adalah seorang Tuan yang harus
kutaati. Aku membenci gambaran yang salah tentang Tuhan yang ada
dalam pikiranku ini. Namun, aku amat ingin mengetahui bahwa ada hati
yang penuh kasih yang berada di sebuah tempat di alam semesta ini,
entah di mana. Aku hanya memeroleh sedikit kasih sayang kala aku
masih kanak-kanak dan remaja. Karenanya, aku merindukan detakan kasih sayang
itu.
Aku meyakinkan diriku bahwa Tuhan tidak ada, tetapi aku sedih karena
Tuhan yang penuh cinta kasih seperti yang kubutuhkan tidak ada.
Pernah, dalam keadaan konflik spiritual seperti itu, aku masuk ke
dalam sebuah gereja Katolik. Kulihat orang-orang sedang berdoa dan
mengucapkan sesuatu. Aku berpikir, aku akan berlutut dekat mereka
supaya dapat mendengar apa yang sedang mereka ucapkan dan mengulangi
doa itu untuk melihat apa yang akan terjadi.
Mereka mengucapkan doa kepada perawan suci itu. "Salam Maria, penuh
rahmat." Aku mengulangi perkataan demi perkataan setelah mereka,
berulang kali. Kupandangi patung Bunda Maria itu, namun tak terjadi
sesuatu apa pun. Aku amat sedih sekali.
Suatu hari, meski aku seorang ateis, aku berdoa kepada Tuhan. Doaku
seperti ini: "Tuhan, aku tahu pasti bahwa Kau tidak ada. Tapi bila
Engkau toh ada, yang merupakan sesuatu yang kutentang, maka bukanlah
kewajibanku untuk memercayai-Mu, melainkan Engkaulah yang harus
memperkenalkan diri-Mu kepadaku!"
Aku seorang ateis, tapi ateisme tidak memberi kedamaian dalam hatiku.
Selama pergolakan batin ini, seorang tukang kayu tua di sebuah desa
di atas pegunungan Rumania berdoa seperti ini: "Tuhanku, aku telah
melayani-Mu di dunia ini. Maka aku ingin mendapat ganjaranku di bumi
ini, seperti kelak di surga! Dan upahku itu ialah agar aku tidak
mati sebelum membawa seorang Yahudi kepada Kristus, karena Yesus
adalah orang Yahudi. Tapi aku ini seorang yang miskin, sudah tua,
dan berpenyakitan. Aku tidak dapat pergi mencari orang Yahudi. Di
desaku ini tak ada orang Yahudi. Kirimlah oleh-Mu seorang Yahudi ke desaku
ini dan
aku akan berusaha semampuku untuk membawanya kepada Kristus."
Sesuatu yang tak tertahankan mendorongku untuk pergi ke desa itu.
Aku tak memunyai alasan apa pun untuk pergi ke sana. Rumania
memunyai 12.000 desa seperti itu, tapi aku justru pergi ke desa yang
satu itu. Karena aku seorang Yahudi, tukang kayu tua itu menyambutku
seperti seorang pemuda menyambut gadis yang sangat dicintainya. Ia
melihat dalam diriku, jawaban atas doanya. Lalu ia memberiku sebuah
Kitab Suci untuk dibaca. Sebelumnya, aku telah acapkali membaca
Kitab Suci karena tertarik dari segi kebudayaan. Namun, Kitab Suci
yang ia berikan kepadaku hari itu, lain daripada biasanya.
Seperti yang ia tuturkan kepadaku, ia bersama istrinya telah berdoa
berjam-jam untuk pertobatanku dan istriku. Kitab Suci yang
diberikannya kepadaku bukan hanya ditulis dengan huruf-huruf saja,
melainkan penuh kobaran nyala cinta yang terbakar oleh doa-doanya.
Aku hampir tidak dapat membacanya, aku hanya bisa menangis di atas
Kitab Suci itu, membandingkan kehidupanku yang buruk dengan
kehidupan Yesus; kenajisanku dengan kebenaran-Nya; kebencianku
dengan kasih-Nya. Dan, Ia menerimaku menjadi salah satu milik-Nya.
Tak lama kemudian, istriku pun turut bertobat. Ia mengajak banyak
orang kepada Kristus, dan mereka yang diajaknya itu, juga mengajak
yang lain lagi kepada Kristus. Dengan demikian, sebuah jemaat
Lutheran berdiri di negara Rumania.
Kemudian datanglah masa pendudukan Nazi. Kami sangat menderita. Di
Rumania, kaum Nazi bertindak bagai diktator dari zaman pertengahan,
yang senantiasa menyiksa orang Protestan dan Yahudi.
Sebelum aku dinobatkan secara resmi sebagai pendeta, dan sebelum aku
disiapkan melayani, aku merupakan pemimpin gereja ini, karena aku
yang mendirikannya. Aku bertanggung jawab atasnya. Aku dan istriku
sering ditangkap, dipukuli, dan digiring ke hadapan para hakim Nazi.
Siksaan Nazi itu kejam sekali, tapi masih dianggap sebagai
"pendahuluan" dari siksaan kaum komunis. Kami terpaksa memberi nama
putra kami dengan nama Mihai -- nama yang tidak berbau Yahudi, agar
ia terhindar dari bahaya maut.
Tapi, zaman Nazi itu merupakan suatu keuntungan yang besar pula.
Kami diajar bahwa siksaan badan itu dapat dipikul dan bahwa roh
manusia, dengan pertolongan Tuhan, dapat menahan siksaan yang
menakutkan. Kami juga belajar cara-cara kerja rahasia Kristen, yang
sangat berguna sekali sebagai persiapan menempuh jalan yang lebih
berat -- yang akan dialami dalam waktu dekat.
Pelayananku kepada Orang-Orang Rusia
Karena menyesal telah menjadi seorang ateis, maka sejak dari hari
pertobatanku, aku telah bertekad untuk memberi kesaksian pada
orang-orang Rusia. Sejak kecil, orang Rusia telah diajar dan dididik
tentang ateisme. Pada akhirnya, kerinduanku untuk menjangkau mereka
terpenuhi dan aku tidak perlu pergi ke Rusia untuk menjangkau mereka.
Hal itu terjadi pada masa pendudukan Nazi, ribuan tahanan Rusia
dibawa ke Rumania sehingga aku dapat berkhotbah pada mereka.
Pekerjaanku di tengah-tengah mereka adalah pekerjaan yang sangat
mengharukan. Aku tak dapat melupakan pertemuan pertamaku dengan
seorang tahanan Rusia, seorang insinyur. Aku bertanya apakah ia
percaya pada Tuhan. Andai kata ia menjawab "tidak", maka jawabannya
itu tidak akan mengherankan aku. Adalah hak bagi setiap orang untuk
percaya atau tidak percaya. Tapi, ketika aku bertanya apakah ia
percaya pada Tuhan, ia memandang padaku dengan bingung dan berkata,
"Aku tak mendapat perintah untuk percaya. Jika aku diperintahkan, aku akan
percaya."
Air mata mengalir di pipiku. Aku merasakan hatiku terkoyak. Di sini,
berdiri di hadapanku, seorang yang pikirannya telah mati, seorang
manusia yang telah kehilangan anugerah tertinggi yang diberikan oleh
Tuhan kepada umat manusia -- kepribadiannya. Ia telah menjadi alat
yang telah dicuci otak di tangan orang komunis, siap percaya atau
tidak percaya berdasarkan suatu perintah. Ia tidak dapat lagi berpikir
sendiri.
Seperti inilah tipikal seorang Rusia setelah mengalami tahun-tahun
di bawah komunisme! Setelah terkejut melihat apa yang telah
dilakukan oleh komunisme terhadap umat manusia, aku berjanji kepada
Elohim untuk mengabdikan hidupku bagi orang-orang ini untuk mengembalikan
kepribadiannya dan memberinya iman kepada Tuhan dan Kristus.
Aku tidak perlu pergi ke Rusia untuk menjangkau orang Rusia. Mulai
tanggal 23 Agustus 1944, satu juta pasukan Rusia masuk Rumania, dan
segera setelah ini, komunis berkuasa di negara kami. Mulailah mimpi
buruk yang mengakibatkan penderitaan di bawah kekuasaan Nazi.
Pada saat itu di Rumania, yang sekarang berpenduduk sekitar 24 juta
jiwa, Partai Komunis hanya memiliki sepuluh ribu anggota. Namun,
Vishinsky, Sekretaris Luar Negeri Uni Soviet, masuk dalam kantor
raja kami tercinta, Raja Michael I, memukul meja dan berkata, "Anda
harus menunjuk orang komunis dalam pemerintahan."
Tentara dan polisi kami dilucuti, dan akhirnya komunis berkuasa
dengan cara kekerasan, mereka dibenci hampir semua orang. Hal itu
terjadi bukannya tanpa adanya kerjasama para Amerika dan Inggris saat itu.
Manusia bertanggung jawab di hadapan Elohim bukan hanya karena
dosa-dosa pribadi mereka, namun juga karena dosa-dosa bangsa mereka.
Tragedi yang terjadi dalam semua bangsa-bangsa tawanan merupakan
tanggung jawab hati umat Kristen Amerika dan Inggris. Orang Amerika
harus tahu bahwa mereka telah membantu Rusia tanpa disadari
menerapkan rezim pembunuhan dan teror atas kami. Sebagai bagian dari
Tubuh Kristus, orang Amerika harus memerbaiki hal ini dengan
membantu orang-orang tertawan supaya datang kepada terang Kristus.
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: Berkorban Demi Kristus
Judul asli buku: Tortured for Christ
Penulis: Richard Wurmbrand
Penerbit: Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya 2002
Halaman: 9 -- 13
______________________________________________________________________
"Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita
untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti
jejak-Nya." (1 Petrus 2:21)< http://sabdaweb.sabda.org/?p=1Petrus+2:21 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA
1. Bersyukur kepada Tuhan Yesus yang memanggil kita untuk
melayani-Nya. Doakan supaya umat pilihan Tuhan tergerak untuk
memenuhi panggilan itu ke mana pun Tuhan mengutus.
2. Dukunglah dalam doa agar umat Kristen tidak puas dengan hanya
menjadi jemaat, namun justru hati mereka senantiasa rindu untuk melayani
Tuhan.
3. Berdoalah agar orang-orang yang belum pernah mendengar tentang
Injil maupun yang sudah pernah tapi tidak meresponi, dilembutkan
hatinya untuk menerima jamahan Tuhan dan bertobat.
4. Doakanlah agar Tuhan semakin menambahkan orang-orang yang rindu
melayani di ladang misi sehingga melalui mereka, banyak jiwa dimenangkan.
______________________________________________________________________
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) 2008 YLSA
YLSA -- http://www.ylsa.org/
http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
Redaksi Tamu: Sri Setyawati
Kontak: kisah(at)sabda.org
Berlangganan: subscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org
Berhenti: unsubscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org
Arsip KISAH: http://www.sabda.org/publikasi/Kisah/
Situs KEKAL: http://kekal.sabda.org/