Ringkasan khotbah Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Sydney, Australia 
tanggal 16 November 2008
     Memperkokoh Kehidupan Pernikahan Kristen-3  Kasihilah Istrimu Seperti 
Dirimu Sendiri     oleh: Pdt. Effendi Susanto, S.Th.
   
   
   
   
  Nats: 1Ptr. 3:7
   
   
   
   
  “Demikian juga kamu hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan istrimu 
sebagai kaum yang lebih lemah. Hargailah mereka sebagai teman pewaris dari 
kasih karunia yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.”
   
  Ayat ini menjadi salah satu dari dua blue print yang sangat penting bagaimana 
Tuhan bicara mengenai pernikahan orang Kristen dan relasi suami istri. Blue 
print yang pertama yang sudah saya katakan dari Kej. 2:24 “Sebab itu seorang 
laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya 
sehingga keduanya menjadi satu daging.” Prinsip pernikahan Kristen adalah 
prinsip pernikahan di mana Allah memperlakukan kita sebagai manusia yang 
dewasa, manusia yang bertanggung jawab, yang diberi kepercayaan boleh masuk ke 
dalam satu relasi di mana relasi itu tidak boleh menjadi relasi yang egois 
karena di situlah saudara memberi diri kepada pasanganmu. Itu sebab Paulus di 
dalam surat Korintus mengingatkan kepada suami dan istri, “Hai istri, ingatlah 
baik-baik dirimu bukan lagi milikmu tetapi milik suamimu. Hai suami, ingatlah 
baik-baik, dirimu bukan lagi milikmu tetapi milik istrimu.” Maka pernikahan 
menjadi satu tindakan pergi meninggalkan orang tua. Ini
 bukan berarti kita tidak menghargai dan tidak peduli akan orang tua lagi, 
melainkan itulah saatnya di mana relasi anak dan orang tua sudah berubah 
menjadi relasi antar orang dewasa. “Meninggalkan” berarti dia membangun dan 
mempersiapkan satu keluarga yang baru. Pernikahan berarti bersatu dengan 
istrimu menjadi satu daging, tidak boleh ada setitik apa pun yang memisahkan 
suami dan istri. Maka komunikasi, keterbukaan dan relasi harus merupakan relasi 
yang jujur dan terbuka. Ini ditandai dengan keintiman di dalam relasi seksual 
sampai ke dalam seluruh aspek kehidupan, tidak boleh ada relasi yang lain yang 
lebih dekat daripada relasi suami dan istri. Kedua, mengerti role kita, 
panggilan Tuhan setelah Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan yang memang 
berbeda. Maka Tuhan memberikan role suami dan istri di dalam Ef. 5:33, ”...bagi 
kamu masing-masing berlaku prinsip ini: kasihilah istrimu seperti dirimu 
sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya.” Jika kita tidak
 mengerti role yang berbeda ini maka sering kali kita menemukan pernikahan 
mengalami berbagai hambatan di dalamnya. Dr. Eggerichs dalam buku “Love and 
Respect” mengatakan ini adalah dua inti dan dua kebutuhan yang paling penting 
bagi pria dan wanita. Tetapi ini justru bisa menciptakan lingkaran setan yang 
menimbulkan ketidakharmonisan di dalam keluarga. Istri yang merasa suami tidak 
mencintai, biasanya bereaksi menjadi kasar dan mengeluarkan kata-kata yang 
tajam. Ketika suami mendengar kalimat seperti itu, dia berpikir istri tidak 
menghormati, akhirnya dia bereaksi silent dan tidak mempedulikan istrinya. 
Reaksi itu kemudian diterima oleh istri sebagai reaksi suami tidak mencintai. 
Maka ini menjadi lingkaran yang tidak habis-habisnya.
   
  Yang kedua, love dan respect merupakan dua kebutuhan manusia yang menarik. 
Respek sering kali tidak bisa diberi secara sukarela. Orang baru memberi respek 
kalau orang merasa dia layak dihormati. Respect should be earned. Sedangkan 
kasih sering kali lebih bersifat gampang dan sukarela diberikan, tidak peduli 
akan kondisi orang yang diberi kasih. Tetapi orang tidak mungkin bisa 
menghargai semua orang. Kita baru menghargai dan respek kepada seseorang karena 
ada kualitas di dalam diri orang itu. Maka kadang-kadang bagi seorang wanita 
tidak gampang memberikan respek kepada pria. Dan selain itu kita menemukan 
bukan saja terjadi perbedaan di dalam sikap orang, tetapi saya justru menemukan 
dari kalimat Paulus ini menunjukkan kebutuhan suami berbeda dengan istri dalam 
hal respek dan kasih ini. Kenapa Paulus tidak mengatakan, hai istri, kasihilah 
suamimu seperti dirimu sendiri? Dan kepada suami, kasihilah istrimu seperti 
engkau mengasihi Tuhan? Ini bagian yang menarik sekali di
 mana Paulus mengatakan, hai istri, respek kepada suamimu seperti engkau respek 
kepada Tuhan dan suami, kasihi istrimu seperti dirimu sendiri. Kenapa Paulus 
mengatakan seperti ini? Kasih itu merupakan aspek yang sangat natural di dalam 
diri wanita atau istri. Dan bagi wanita untuk mengasihi suami seperti mengasihi 
diri sendiri itu gampang dilakukan karena umumnya wanita lebih memikirkan 
bagaimana mengasihi suami dan anak lebih dari diri sendiri. Tetapi untuk respek 
bukan seperti menghargai diri sendiri, melainkan respek seperti kepada Tuhan, 
dari situ kita menemukan aspek betapa susahnya hal itu dilakukan. Hormati 
suamimu seperti engkau menghormati Tuhan, artinya respek harus diberikan tanpa 
melihat kondisi suami. Dia mungkin kurang memiliki talenta seperti engkau, dia 
mungkin kurang fasih berbicara, kurang natural di dalam banyak hal, perlu 
belajar lebih dahulu sehingga istri sering menjadi tidak sabar. Tetapi engkau 
perlu belajar menghormati dia karena itu adalah bagian
 dari ibadahmu kepada Tuhan. Respek menjadi kebutuhan pria yang paling penting.
   
  Anak perempuan kalau jatuh, kita harus ambil dan peluk dia. Tetapi anak 
laki-laki kalau jatuh, saudara tinggal beri dia tepuk tangan, dia akan bangkit 
sendiri. Dia tidak perlu dipeluk-peluk seperti kepada anak perempuan. Dengan 
tepuk tangan, itu menunjukkan saudara respek kepada usaha dia dan membuat dia 
menjadi confident. Suami baru dipecat dari pekerjaan, istri tidak perlu peluk 
dan kasihan kepada dia. Beri respek dan support kepadanya karena itu yang 
paling dia perlukan. Wanita berbeda. Waktu dia menghadapi masalah, dia perlu 
tangan yang merangkulnya dan menyeka air matanya. Itu yang paling dia perlukan. 
Laki-laki hanya perlu apa pun yang terjadi, engkau tetap respek dan proud of 
him dan menghargainya. Itu yang akan membuat dia bounce back dan memiliki 
semangat serta martabat hidup kembali. Orang lain boleh bilang dia loser, orang 
lain boleh bilang dia tidak baik, tetapi istri tetap harus menunjukkan dia ada 
di pihaknya dan menghargai dia. Itu adalah sikap yang
 membangkitkan kemampuan di dalam diri seorang suami. Respek akan penilaian 
suami, respek kepada pengetahuannya, opininya. Percaya bahwa keputusan yang dia 
ambil adalah hal yang baik adanya. Kita berdiskusi dengan dia, sesudah itu kita 
memberi kepercayaan kepada suami untuk mengambil keputusan dan kita menghargai 
keputusan dia. Respek kepada kemampuannya. Just say ‘you can do it’ sehingga 
itu menambahkan perasaan harga diri kepada suami. Respek kepada suami di dalam 
komunikasi dan juga di hadapan publik. Jangan mengeluarkan kata-kata yang 
mempermalukan dan mencemooh kelemahan atau ketidak-mampuan suami di dalam 
aspek-aspek tertentu. Dia membutuhkan penghargaan dan respek as to the Lord, 
yang kadang-kadang itu sulit sekali dilakukan istri.
   
  Tetapi suami, kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri. Harus kita akui, 
suami jarang memikirkan istri dan anaknya. Suami sering beli makanan hanya 
untuk diri sendiri, tidak seperti istri selalu beli untuk suami dan anak. Ini 
menunjukkan natur pria umumnya memang seperti itu. Maka Alkitab mengatakan, 
suami kasihi istrimu seperti engkau mengasihi diri sendiri berarti firman Tuhan 
mengingatkan kita ada hal-hal tertentu dari diri laki-laki yang mungkin sedikit 
lebih egois dan memanjakan diri sendiri. Hobi kita, kesukaan kita, menunjukkan 
kita lebih fokus kepada diri sendiri. Itu bisa kelihatan dari kecil. Anak 
perempuan saya setiap kali mendapat makanan yang enak, selalu mendatangi saya 
dan mengatakan, “Papa mau coba?” Anak laki-laki umumnya tidak rela memberi. 
Waktu sudah menikah, umumnya perempuan secara natural akan selalu ingat suami 
dan anak lebih dulu. Berbeda dengan pria. Kadang-kadang pria lebih absorb 
kepada diri sendiri daripada memperhatikan orang lain.
   
  Mengapa firman Tuhan menyuruh suami mengasihi istri seperti diri sendiri? 
Dengan pencerahan dari Roh Kudus Paulus menulis kalimat ini. Mengapa suami 
harus mengasihi istri seperti diri sendiri? Karena pria lebih terhisab kepada 
dirinya sendiri. Saudara perhatikan bagaimana dosa membuat cara Adam berelasi 
kepada Hawa berbeda dengan sebelum dia jatuh ke dalam dosa. Sebelum jatuh ke 
dalam dosa, ketika Tuhan memberikan Hawa kepadanya, ada 2 hal yang terjadi. 
Pertama, Adam katakan, “Dia adalah tulang dari tulangku dan daging dari 
dagingku.” She is part of my life. Dia adalah bagian dari hidupku. Dan kedua, 
Alkitab mencatat keduanya telanjang tetapi tidak merasa malu. Artinya, tidak 
ada bagian dari hidupku yang tidak saya share kepada dia. Ini terjadi sebelum 
Adam jatuh di dalam dosa. Sesudah jatuh ke dalam dosa, Adam mempersalahkan 
Tuhan kenapa memberikan Hawa untuknya. She is not part of me. Dia orang asing, 
dia bukan bagian dari aku. Maka terjadi separasi dan
 keterpisahan. Maka kenapa Alkitab menyuruh suami mengasihi istri seperti 
kepada diri sendiri? Karena itulah saatnya you memperhatikan dan mengasihi dia 
sebagai part of your life dan kasih itu memiliki standar seperti engkau 
mengasihi dirimu sendiri. Kedua, suami mengasihi istri seperti diri sendiri, 
karena kasih itu merupakan kebutuhan yang paling utama bagi wanita. Maka pria 
dan wanita mempunyai insecurity yang berbeda. Pria menjadi insecure kalau dia 
tidak dihormati. Wanita insecure kalau dia merasa tidak dicintai. Kenapa kita 
diminta mengasihi istri? Sebab ini merupakan kesalahan yang sering terjadi pada 
pria: mengerti mengenai cinta itu bersifat “close deal.” Istri sering mengeluh 
kepada suami, kenapa dia berbeda dengan waktu pacaran dulu. Bedanya di mana? 
Dulu waktu masih pacaran begitu romantis, begitu penuh pengorbanan dan waktu 
kejar saya seperti orang gila. Tetapi kenapa sesudah menikah kok tidak lagi 
romantis, kadang-kadang tidak mau berkorban? Karena pria
 punya konsep “berburu” dan “memancing.” Jadi pria berpikir mendapatkan seorang 
istri seperti berburu. Waktu berburu dia akan kejar dengan luar biasa, apa saja 
dilakukan, berdiri di tengah hujan memegang bungapun mau. Begitu dapat, itu 
kebanggaan luar biasa. Sesudah mendapat, selesai. Dulu waktu pacaran selalu 
buka pintu mobil, sekarang turunin pram saja tidak dibantu. Akhirnya ini 
menjadi sumber pertengkaran antar suami istri. Istri diperlakukan seperti itu 
menjadi insecure dan bertanya-tanya apakah suami masih mencintai dia. Kasih 
istri itu tidak pernah berupa “close deal.” Itu sebab mengapa sebagai seorang 
suami kita dipanggil untuk mengasihi dia. Bukan berarti kita mengasihi istri 
seperti pada waktu pacaran dulu. Yang dia perlukan adalah satu perasaan secure, 
dilindungi dan diberi keyakinan bahwa engkau mencintai dan terus mengasihi dia.
   
  Ada suami mengatakan, bukan dia tidak mengasihi istri, tetapi kadang dia 
bingung karena istri salah menangkap makna. Buat apa saya susah-susah kerja 
kalau saya tidak sayang dia? Buat apa saya persiapkan semua untuk anak istri, 
itu kan tanda saya cinta dia? Saya setia sama dia, saya tidak lihat-lihat 
perempuan lain. Masa sudah mau tidur, masih dia tanya, “Do you still love me?” 
Maka saya bilang ke dia, “Coba cek saja bank account.” Dia malah marah saya 
bilang begitu. Suami, saya ingatkan saudara. Wanita tidak memiliki alasan 
logis. Suami tidak bisa bilang, “Kan you TAHU saya mencintaimu…” Dia akan 
bilang, “Saya tidak RASA you cinta saya.” Sampai kapanpun konsep wanita tidak 
pernah close deal mengenai cinta. Dia akan terus minta diyakinkan bahwa engkau 
terus cinta kepada dia. Maka Tuhan mengerti akan kebutuhan ini dan menyuruh 
para suami untuk mengasihi istri sama seperti engkau care terhadap dirimu. 
Buatlah dia merasa secure, merasa aman, merasa
 terlindungi danberi dia komitmen bahwa engkau sungguh mengasihi dia.
   
  Apa indikasi dari seorang istri MERASA cinta suami sudah berkurang? 
Kadang-kadang waktu suami habisin semua makanan, dia tidak akan bilang “Dasar 
tamcia…” tetapi dia akan bertanya, “You sayang sama saya atau tidak sih?” Kita 
pria berpikir, masa makanan dibanding sama istri, tentu saja tidak. Dia akan 
terus bicara soal relationship denganmu. Kalau dia rasa mulai insecure, maka 
dia akan secara emosional dan tanpa sebab jengkel kepadamu, tanpa you tahu 
alasannya. You menjadi kaget dan mau mendekap dia untuk menunjukkan sayangmu, 
tetapi dia malah mendorong dan menjauh. Suami jadi frustrasi dan tidak mengerti 
apa yang istri mau. Kenapa istri bereaksi seperti itu? Insecurity in love 
merupakan hal yang terus ada di dalam diri wanita. Maka suami yang pikir 
kebutuhan finansial sudah dia penuhi, maka semua akan beres karena itu tanda 
cintanya kepada istri. Tetapi istri tidak puas dengan hal itu. Dia membutuhkan 
ekspresi yang lebih, pernyataan dan sikap care dari suami
 yang membuat dia feel secure akan cintamu.
   
  Istri bisa merasa sudah kehilangan cinta dari suaminya karena beberapa hal:
  1.            Dipicu oleh konflik dan pertengkaran yang tidak habis-habisnya. 
  2.            Dipicu oleh sikap suami yang menarik diri dan silent. 
  3.            Kebanyakan istri menjadi insecure karena bank cinta istri sudah 
terkuras habis karena dia lebih sering mengambil dari bank cinta itu untuk 
membesarkan anak dan keluarga. Sehingga banyak aspek praktis yang perlu kita 
belajar sama-sama. Jangan biarkan bank cinta dia sampai habis. Caranya ambil 
sedikit beban dia untuk membantu membesarkan anak. Ambil separuh. Dari situ dia 
bisa melihat dan merasakan bahwa kita benar-benar mengasihi dan mencintai dia. 
   
  Kasihilah istrimu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. Seumur hidup ini 
merupakan kebutuhan wanita yang paling penting daripada hal yang lainnya. 
Seorang suami tidak boleh “close deal” di dalam cintanya. Wanita meskipun sudah 
menikah tetap akan bangga kalau suami masih tetap “mengejar” dia. Maka saya 
selalu mengingatkan para pemuda, wanita walaupun engkau suka setengah mati 
kepada satu pria, jangan coba mengejarnya. Kalau dia tidak mau kepadamu, maka 
cintamu akan dihina habis-habisan. Lebih baik pria yang mengejar wanita. Waktu 
mengejar, jangan cepat putus asa kalau dia menolak. Mungkin artinya, kejarlah 
saya lebih keras. Maka waktu suami mau memeluk, istri menolak, jangan berhenti 
dan bilang “Fine!” karena istri akan semakin marah. Peluk dia, katakan engkau 
mencintai dia. Ingat, sampai kapanpun suami tidak boleh melupakan hal-hal 
penting di dalam memori pernikahan. Jangan pernah lupa hari pernikahanmu, 
jangan pernah lupa kapan hari kelahirannya. Dan bukan
 saja jangan lupa, juga harus paling sedikit ada kue untuk dirayakan. Semua itu 
akan menjadi bukti akan cintamu dan memberi dia rasa aman. Ingatkan dia, sampai 
kapanpun menjadi suamimu, saya adalah pria yang paling berbahagia di atas muka 
bumi ini. Hari ini pulang, coba keluarkan kalimat seperti itu kepada istrimu, 
then you will see a miracle happen. Memang mungkin reaksinya pertama, ”..ada 
apa ini? Pasti ada udang di balik batu.” Jangan di-offence dulu reaksi dia yang 
negatif karena mungkin sudah terlalu lama saudara melakukan “close deal” 
kepadanya. Maka saya memberikan rahasia ini kepadamu: wanita tidak akan pernah 
berhenti untuk diyakinkan bahwa dia sungguh-sungguh dicintai oleh suami, karena 
ini memang kebutuhannya yang paling utama. Suami, cintailah istrimu seperti 
engkau mencintai dirimu sendiri.(kz)
   
   
   
   
   
  Sumber:
  
http://www.griisydney.org/ringkasan-khotbah/2008/2008/11/16/kasihilah-istrimu-seperti-dirimu-sendiri/
   
   
   
   
  Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio


""Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di 
depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." 
(1Sam. 16:7b)

       
---------------------------------
 Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi! 
 Yahoo! memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba!

Kirim email ke