From: Romo maryo HR SP Maria Dikandung tanpa dosa: Kej 3:9-15.20; Ef 1:3-6.11-12; Luk 1:26-38
"Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." “Karena kurnia serta peran keibuannya yang ilahi, yang menyatukannya dengan Puteranya Sang Penebus, pun pula karena segala rahmat serta tugas-tugasnya, Santa Perawan juga erat berhubungan dengan Gereja. Seperti telah diajarkan St.Ambrosius, Bunda Tuhan itu pola Gereja, yakni dalam hal iman, cintakasih dan persatuan sempurna dengan Kristus. Sebab dalam misteri Gereja, yang juga disebut bunda dan perawan, Santa Maria mempunyai tempat istimewa, serta secara ulung dan istimewa memberi teladan perawan maupun ibu. Sebab dalam iman dan ketaatan ia melahirkan Putera Bapa sendiri di dunia, dan itu tanpa mengenal pria, dalam naungan Roh Kudus, sebagai Hawa yang baru, bukan karena mempercayai ular yang kuno itu, melainkan karena percaya akan utusan Tuhan, dengan iman yang tak tercemar oleh kembimbangan. Ia telah melahirkan Putera, yang oleh Tuhan dijadikan yang sulung di antara banyak saudara (Rm 8:29), yakni Umat beriman. Maria bekerja sama dengan cinta kasih keibuannya untuk melahirkan dan mendidik mereka” (Konsili Vatican II, LG no 63) "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Luk 1:38) “Per Mariam ad Christum” = “Melalui Maria menuju Kristus, demikian ungkapan yang rasanya menggambarkan pengalaman banyak orang, yang dengan berdevosi kepada Bunda Maria semakin dekat dan bersahabat dengan Yesus Kristus, dengan Tuhan. Jika kita cermati pertumbuhan dan perkembangan tempat-tempat suci yang dipersembahkan kepada Bunda Maria berkembang begitu pesat: selain tempat-tempat ziarah yang cukup besar, di beberapa halaman gedung Gereja atau pastoran dan biara sering dibangun gua Maria. Doa-doa rosario menjadi pilihan doa yang senantiasa didoakan, entah sendiri atau bersama, sebelum perayaan Ekaristi, dalam doa bersama di lingkungan atau sendirian sambil berjalan-jalan, dst.. Maria adalah teladan hidup beriman, teladan kesucian karena sejak dalam kandungan ia dikarunia, Tuhan senantiasa menyertainya, dan selama hidupnya senantiasa bersatu dengan Penyelamat Dunia sampai Ia wafat di kayu salib.Kita semua dipanggil untuk meneladan Bunda Maria yang dengan rendah hati menyatakan: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.". Seorang hamba atau pembantu rumah tangga yang baik memang senantiasa bertindak menurut perkataan atau perintah tuan-tuannya. Maria, hamba Tuhan, senantiasa “mendengarkan firman Tuhan dan melakukannya." (Luk 8:21). Maka jika kita bercita-cita untuk menjadi suci, tak bernoda dan tak bercacat hati, jiwa, akal budi dan tubuh kita, marilah kita ‘mendengarkan firman Tuhan dan melakukannya’ kapanpun dan dimanapun: 1). “Mendengarkan” merupakan keutamaan yang dibutuhkan dan harus dihayati jika kita menghendaki tumbuh berkembang sebagai pribadi cerdas beriman. Agar kita dapat mendengarkan dengan baik kita harus rendah hati, menghayati diri sebagai seorang ‘hamba yang baik’. Marilah kita dengarkan sapaan dan sentuhan Tuhan, entah yang bergema dalam lubuk hati kita atau melalui orang lain yang berbuat baik kepada kita: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau”. Marilah kita sikapi dan hayati aneka sapaan, sentuhan, kritik dst.. dari saudara-saudari atau sesama kita sebagai kasih karunia Tuhan. Jika kita bersikap demikian, kami yakin kita dengan mudah mendengarkan (membaca, mereungkan dan memahami) firman Tuhan sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci, dan dengan demikian kita akan dirajai atau dikuasai oleh Tuhan, hidup dan bertindak sebagai ‘hamba-hamba Tuhan’. Ingatlah dan hayati bahwa firman/sabda Tuhan pertama-tama dan terutama untuk ‘dibacakan dan didengarkan’ bukan didiskusikan. Bacakan dengan baik firman/sabda Tuhan, sehingga para pendengar juga dapat mendengarkan dengan baik, jika membacakan untuk diri sendiri hendaknya jangan hanya bisik-bisik, melainkan usahakan sampai telinga tubuh kita dapat mendengarkan dengan baik. 2). “Melakukan” atau melaksanakan atau menghayati itulah keutamaan yang ada dalam diri para hamba. Bunda Maria menjadi teladan atau pola hidup menggereja “dalam hal iman, cintakasih dan persatuan sempurna dengan Kristus”. Bunda Maria juga “menjadi ibu semua yang hidup” (Kej 3:20). Keunggulan hidup beriman terletak dalam ‘penghayatan iman, cintakasih dan persatuan dengan Tuhan’, bukan dalam wacana atau omongan.. Dengan menghayati iman, cintakasih dan persatuan dengan Tuhan kita akan hidup, hidup bergembira, gairah, dimanis dan damai sejahtera. “Di dalam Dia Tuhan telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya”(Ef 1:4) Masing-masing dari kita atau kita semua adalah ‘yang terpilih’. Ingat dan sadari bahwa ada lebih dari 20 (duapuluh) juta sperma belomba untuk merebut satu sel telor dan hanya satu yang berhasil untuk bersatu dengan sel telor dan kemudian tumbuh berkembang menjadi manusia, yaitu masing-masing dari kita saat ini. Masing-masing dari kita adalah yang terpilih oleh Tuhan untuk berpartisipasi dalam karya penciptaanNya yang tiada henti. Pada awal ada kita senantiasa dalam keadaan ‘kudus dan tak bercacat’ alias suci, bersih dan murni. Memang seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan atau semakin tambah usia dan pengalaman pada umumnya semakin pudar juga kekudusan dan ketidak-cacatan tersebut, karena kelemahan dan kerapuhan kita. Maka baiklah di hari raya SP Maria dikandung tanpa dosa hari ini kita mawas diri: “sejauh mana kita masih dalam keadaan kudus dan tak bercacat seperti sedia kala”, dan jika telah pudar, marilah kita memperbaharui dan bertobat. Marilah kita kenangkan janji baptis yang pernah kita ucapkan atau ikhrarkan, yaitu “hanya mau mengabdi Tuhan Tuhan saja dan menolak semua godaan setan”. Janji baptis merupakan dasar dari janji-janji lainnya, yang mengikuti, misalnya janji perkawinan, janji imamat atau kaul hidup membiara. Jika kita handal dan kuat serta mendalam dalam penghayatan janji baptis, kiranya dengan mudah menghayati atau melaksanakan janji-janji berikutnya. Janji-janji berikutnya, setelah janji baptis, hemat saya merupakan niat dan usaha untuk lebih mendalam dan handal dalam penghayatan janji baptis. Maka marilah kita saling membantu dan mengingatkan dalam hal penghayatan janji baptis, dimana kita terpilih untuk bersatu dengan Kristus Jika adalah orang, kenalan atau saudara-saudari kita, entah sebagai suami atau isteri, imam, bruder atau suster, cara hidup atau cara bertindak tidak baik, hendaknya diingatkan atau ditegor perihal janji baptis atau diajak bersama-sama untuk setia menjadi murid Yesus Kristus, orang Kristen atau Katolik. Jangan ditegor misalnya “hendaklah menjadi suami atau isteri yang baik, imam, bruder atau suster yang baik”, melainkan “hendaknya menjadi orang Kristen atau Katolik yang baik”. Yang mendasar dan hakiki adalah baptisan kita masing-masing, sedangkan bentuk panggilan lain bersifat fungsional; kita semua adalah Umat Tuhan, sama-sama Umat Tuhan, maka hendaknya perbedaan panggilan dan tugas pengutusan semakin mengkokohkan dan memperteguh keanggotaan kita sebagai Umat Tuhan.” karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan -- kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Tuhan, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya -- supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya” (Ef 1:11-12) “Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus. TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa. Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Tuhan kita. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!” (Mzm 98:1-4) ================================================== From: Romo maryo Mg Adven II : Yes 40:1-5.9-11; 2Ptr 3:8-14; Mrk 1:1-8 "Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak” Jika ada pejabat tinggi, misalnya presiden atau kepala Negara, yang mau berkunjung atau lewat, pada umumnya terjadilah persiapan tempat atau jalan alias pembersihan’, dengan harapan pejabat yang bersangkutan selamat diperjalanan atau yang didatangi puas karena memperoleh pujian atas kesuksesan dalam penyambutan pejabat tinggi. Sebagai contoh ketika presiden dari tempat tinggal atau rumahnya hendak menuju ke kantor/istana presiden, maka di perempatan/pertigaan jalan polisi telah mempersiapkan jalan antara lain dengan menghentikan kendaraan-kendaraan lain, kemudian pengawal mendahului rombongan kendaraan/mobil dimana presiden berada di dalamnya. Persiapan memang merupakan usaha yang penting dan perlu untuk melakukan segala sesuatu, dengan persiapan yang baik kiranya apa yang kita harapkan atau dambakan mendekati kenyataan atau kita berharap apa yang akan kita lakukan berhasil dengan baik. Pada hari ini kepada kita ditampilkan tokoh Yohanes Pembaptis, sebagai bentara kedatangan Yesus, Penyelamat Dunia, yang dengan rendah hati berkata: “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.” (Mrk 1:7-8). Maka marilah dalam mempersiapkan kedatangan Penyelamat Dunia, Pesta Natal, yang akan datang kita mawas diri dengan cermin Yohanes Pembaptis. "Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” (Mrk 1:7) Kita semua dipanggil untuk menjadi bentara-bentara kedatangan Tuhan, Penyelamat Dunia, di tengah-tengah atau dalam kehidupan bersama dimanapun dan kapanpun. Sebagai bentara kita dapat berpedoman pada apa yang dikatakan oleh Yohanes Pembaptis :”Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Tuhan akan mengampuni dosamu."(Mrk 1:4). Tentu saja diri kita masing-masing juga telah bertobat atau sedang dalam proses pertobatan, maka marilah dengan rendah hati kita saling mengingatkan dan membantu dalam proses pertobatan. “Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yattu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya” (Prof Dr Edi Sedyawati/ edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka Jakarta 1997, hal 24). Siapapun yang merasa menjadi pemimpin atau atasan hendaknya menjadi teladan dalam hal keutamaan kerendahan hati ini, sebagaimana diusahakan oleh para gembala kita/para uskup, yang senantiasa menyatakan diri sebagai ‘hamba yang hina dina’.Maka untuk mengusahakan dan menghayati kerendahan hati kiranya kita juga dapat bercermin pada pada hamba/pembantu rumah tangga, yang pada umumnya bertugas ‘membersih kan apa yang kotor’, entah kamar/ruangan, pakaian, halaman dst.. Selain tugas membersihkan mereka juga mempersiapkan, misalnya makanan dan minuman atau aneka kebutuhan yang dilayani. Pembantu rumah tangga yang baik pada umumnya rendah hati, peka terhadap kebutuhan mereka yang harus dilayani, dan dengan demikian yang dilayani dapat melaksanakan tugas pengutusannya atau menghayati panggilannya dengan baik. Kita semua juga dipanggil untuk ‘membersihkan dan mempersiapkan’. Marilah kita bersihkan dan persiapkan hati, jiwa, akal budi dan tubuh kita untuk menyambut kedatangan atau kelahiran Penyelamat Dunia. “Men sana in corpore sano “ = Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat, demikian kata sebuah motto yang sangat terkenal. Marilah pertama-tama kita mengusahakan agar tubuh kita sehat wal’afiat, antara lain dengan : makan dan minum sesuai dengan motto ‘empat sehat lima sempurna’, hidup teratur, istirahat cukup, teratur berolahraga, dst.. Pengamatan dan pengalaman saya ketika tubuh sehat maka dengan mudah mengusahakan kesehatan hati, jiwa dan akal budi alias cerdas beriman. “Berilah dirimu dibaptis”, demikian seruan Yohanes Pembaptis. “Dibaptis” berarti dibersihkan, disucikan atau disisihkan seutuhnya bagi Tuhan, sehingga orang yang bersangkutan menjadi suci/bersih, senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Kepada orang suci/ bersih akan datang banyak orang kepadanya, sebagaimana dialami oleh Yohanes Pembaptis, untuk mengaku dosa alias bertobat. Sebagai bentara cara hidup dan cara bertindak kita diharapkan memikat banyak orang untuk mendekat serta bertobat. “Sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran. Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia “ (2Ptr 3:13-14) Kita semua “harus berusaha supaya kedapatan tak bercacat dan tak bercela di hadapan Nya, dalam perdamaian dengan Dia”. Secara konkret tugas pengutusan ini kiranya sungguh berat dan sarat dengan tantangan dan hambatan, maka baiklah kita saling membantu dan mengingatkan. Rasanya mereka yang ‘kedapatan tak bercacat dan tak bercela di hadapanNya’ adalah bayi-bayi atau anak-anak balita, yang senantiasa dalam keadaan membuka diri, ceria, dinamis, siap sedia untuk diperlakukan apapun oleh orang lain. Memang, lebih-lebih atau terutama bayi-bayi harus didekati dan diperlakukan dalam dan dengan kasih, tanpa kasih mereka akan menolak dan membenontak antara dengan menangis. Maka mungkin baik dalam hal mawas diri apakah kita dalam keadaan tak bercacat dan tak bercela antara lain dengan menyapa atau membelai, menyentuh seorang bayi; jika mereka kita sapa atau belai memberontak atau menangis berarti kita dalam keadaan cacat dan tercela. Untuk mengusahakan tak bercacat dan tak bercela di hadapanNya hendaknya kita berpegang atau berpedoman pada apa yang dikatakan oleh Yesaya ini :”Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran; maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, TUHAN sendiri telah mengatakannya.”(Yes 40:4-5) ‘Lembah, gunung, berbukit-bukit, tanah yang tidak rata dan berlekuk-lekuk’ memang mengganggu perjalanan atau memperlambat dan menghalangi perjalanan. Kita semua sedang berada dalam perjalanan menuju ke pemenuhan hidup terpanggil atau pelaksanaan tugas pengutusan kita masing-masing, menuju hidup bahagia abadi di sorga setelah dipanggil Tuhan, meninggal dunia. Marilah dengan rendah hati dan bantuan rahmat Tuhan kita bersihkan segala sesuatu yang menghambat penghayatan panggilan atau pelaksanaan tugas pengutusan kita masing-masing, yaitu dosa-dosa, misalnya:” percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagai nya” (Gal 5:19-21) agar kita dapat hidup bersih serta menghasilkan buah-buah atau keutamaan-keutamaan “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23) . Sikap hidup dan cara bertindak yang dijiwai oleh keutamaan-keutamaan inilah sebagai cirikhas bentara-bentara kedatangan atau kelahiran Penyelamat Dunia. “Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Tuhan, TUHAN. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya. Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita. Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit.Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan.” (Mzm 85:9ab-14) ===================================================== From: Romo maryo “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma” (Yes 30: 19-21.23-26; Mat 9:35-10:1.6-8) “Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan. melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.”(Mat 9:35-10:1.6-8) Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Hidup kita adalah anugerah Tuhan, yang kita terima secara cuma-cuma melalui orangtua atau bapak-ibu kita masing-masing, maka hemat saya segala sesuatu yang menyertai hidup kita, yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini tidak lain adalah juga anugerah Tuhan yang kita terima secara cuma-cuma melalui orang-orang yang telah berbuat baik dan mengasihi kita. “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma”, demikian sabda Yesus. Mungkin tidak ada atau jarang yang memberikan dengan cuma-cuma apa yang telah kita terima, maka baiklah sabda ini kita hayati secara lain, yaitu jika kita belajar atau bekerja hendaknya sungguh-sungguh, dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan/tubuh. Dengan kata lain marilah di masa Adven ini kita tingkatkan dan perdalam ‘lakutapa atau matiraga’ secara positif, yaitu dengan setia dan taat pada panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Kepada para pelajar atau mahasiswa yang sedang belajar kami harapkan sungguh belajar sehingga terampil dalam belajar dan dengan demikian akan berhasil atau sukses dalam belajar, dan kemudian siap sedia untuk menjadi “pekerja-pekerja yang handal”., sedangkan kepada para pekerja, entah pekerjaan, tugas atau jabatan apapun, kami harapkan untuk sungguh bekerja sehingga terampil dalam bekerja. Percayalah dan imanilah jika kita terampil dalam belajar maupun bekerja, maka kita juga akan semakin menerima lebih banyak aneka macam anugerah Tuhan dalam berbagai bentuk. Hendaknya, entah selama belajar atau bekerja, senantiasa menghayati semangat persaudaraan sejati, solidaritas dan keberpihakan kepada mereka yang miskin dan berkekurangan, yang bodoh atau kurang beruntung, dst.. · “TUHAN akan memberi hujan bagi benih yang baru kamu taburkan di ladangmu, dan dari hasil tanah itu kamu akan makan roti yang lezat dan berlimpah-limpah. Pada waktu itu ternakmu akan makan rumput di padang rumput yang luas; sapi-sapi dan keledai-keledai yang mengerjakan tanah akan memakan makanan campuran yang sedap, yang sudah ditampi dan diayak. Dari setiap gunung yang tinggi dan dari setiap bukit yang menjulang akan memancar sungai-sungai pada hari pembunuhan yang besar, apabila menara-menara runtuh”(Yes 30:23-25), demikian hiburan yang penuh harapan dari Yesaya. Apa yang diimpikan Yesaya tersebut kiranya juga akan menjadi nyata dalam diri kita, jika kita sungguh belajar atau bekerja sesuai dengan tugas dan pengutusan kita masing-masing, sesuai dengan aneka tatanan dan aturan hidup yang terkait dengannya. Maka baiklah di hari-hari awal masa Adven ini kita mawas diri aneka tatanan dan aturan yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. “Jer basuki mowo beyo” (= Untuk hidup bahagia, damai sejahtera harus berjuang dan berkorban), demikian kata pepatah Jawa. Rasanya untuk setia dan taat terhadap aneka tatanan dan aturan yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing, kita harus berani berjuang dan berkorban. Apa yang diterima atau diperoleh dengan dan dalam perjuangan dan pengorbanan sejati sungguh merupakan kebahagiaan dan kenikmatan sejati yang tak tergoyahkan dan tahan lama atau bahkan sampai mati. Maka jauhkan aneka bentuk budaya atau cara hidup dan cara bertindak ‘instant’. Ingat dan renungkan juga pepatah ini :”Berrakit-rakit ke hulu, berrenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”, jangan dibalik atau terjadi ‘bersenang-senang dahulu bersakit-sakit kemudian”. “Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka; Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama semuanya.Besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaan-Nya tak terhingga. TUHAN menegakkan kembali orang-orang yang tertindas, tetapi merendahkan orang-orang fasik sampai ke bumi.” (Mzm 147:3-6)

