From: Romo maryo 

HR SP Maria Dikandung tanpa dosa: 
Kej 3:9-15.20; Ef 1:3-6.11-12; Luk 1:26-38

"Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."

“Karena kurnia serta peran keibuannya yang ilahi, yang menyatukannya dengan 
Puteranya Sang Penebus, pun pula karena segala rahmat serta tugas-tugasnya, 
Santa Perawan juga erat berhubungan dengan Gereja. Seperti telah diajarkan 
St.Ambrosius, Bunda Tuhan itu pola Gereja, yakni dalam hal iman, cintakasih dan 
persatuan sempurna dengan Kristus. Sebab dalam misteri Gereja, yang juga 
disebut bunda dan perawan, Santa Maria mempunyai tempat istimewa, serta secara 
ulung dan istimewa memberi teladan perawan maupun ibu.
Sebab dalam iman dan ketaatan ia melahirkan Putera Bapa sendiri di dunia, dan 
itu tanpa mengenal pria, dalam naungan Roh Kudus, sebagai Hawa yang baru, bukan
karena mempercayai ular yang kuno itu, melainkan karena percaya akan utusan 
Tuhan, dengan iman yang tak tercemar oleh kembimbangan. Ia telah melahirkan 
Putera, yang oleh Tuhan dijadikan yang sulung di antara banyak saudara (Rm 
8:29), yakni Umat beriman. Maria bekerja sama dengan cinta kasih keibuannya 
untuk melahirkan dan mendidik mereka” (Konsili Vatican II, LG no 63)  

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu 
itu." (Luk 1:38)  

“Per Mariam ad Christum” = “Melalui Maria menuju Kristus, demikian ungkapan 
yang rasanya menggambarkan pengalaman banyak orang, yang dengan berdevosi 
kepada Bunda Maria semakin dekat dan bersahabat dengan Yesus Kristus, dengan 
Tuhan. Jika kita cermati pertumbuhan dan perkembangan tempat-tempat suci yang 
dipersembahkan kepada Bunda Maria berkembang begitu pesat: selain tempat-tempat 
ziarah yang cukup besar, di beberapa halaman gedung Gereja atau pastoran dan 
biara sering dibangun gua Maria. Doa-doa rosario  menjadi pilihan doa yang 
senantiasa didoakan, entah sendiri atau bersama, sebelum perayaan Ekaristi, 
dalam doa bersama di lingkungan atau sendirian sambil berjalan-jalan, dst..  

Maria adalah teladan hidup beriman, teladan kesucian karena sejak dalam 
kandungan ia dikarunia, Tuhan senantiasa menyertainya, dan selama hidupnya 
senantiasa bersatu dengan Penyelamat Dunia sampai Ia wafat di kayu salib.Kita 
semua dipanggil untuk meneladan Bunda Maria yang dengan rendah hati menyatakan: 
"Sesungguhnya aku
ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.".
Seorang hamba atau pembantu rumah tangga yang baik memang senantiasa bertindak
menurut perkataan atau perintah tuan-tuannya. Maria, hamba Tuhan, senantiasa 
“mendengarkan firman Tuhan dan melakukannya."
(Luk 8:21). Maka jika kita bercita-cita untuk menjadi suci, tak bernoda dan tak
bercacat hati, jiwa, akal budi dan tubuh kita, marilah kita ‘mendengarkan 
firman Tuhan dan melakukannya’  kapanpun dan dimanapun:

1). “Mendengarkan” merupakan keutamaan yang dibutuhkan dan harus dihayati jika 
kita menghendaki tumbuh berkembang sebagai pribadi cerdas beriman. Agar kita 
dapat mendengarkan dengan baik kita harus rendah hati, menghayati diri sebagai 
seorang ‘hamba yang baik’. Marilah kita dengarkan sapaan dan sentuhan Tuhan, 
entah yang bergema dalam lubuk hati kita atau melalui orang lain yang berbuat 
baik kepada kita: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau”.  
Marilah kita sikapi dan hayati aneka sapaan, sentuhan, kritik dst.. dari 
saudara-saudari atau sesama kita sebagai kasih karunia Tuhan. Jika kita 
bersikap demikian, kami
yakin kita dengan mudah mendengarkan (membaca, mereungkan dan memahami) firman 
Tuhan sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci, dan dengan demikian kita akan
dirajai atau dikuasai oleh Tuhan, hidup dan bertindak sebagai ‘hamba-hamba
Tuhan’. Ingatlah dan hayati bahwa firman/sabda Tuhan pertama-tama dan terutama
untuk ‘dibacakan dan didengarkan’ bukan didiskusikan. Bacakan dengan baik
firman/sabda Tuhan, sehingga para pendengar juga dapat mendengarkan dengan
baik, jika membacakan untuk diri sendiri hendaknya jangan hanya bisik-bisik,
melainkan usahakan sampai telinga tubuh kita dapat mendengarkan dengan baik. 

2). “Melakukan” atau melaksanakan atau menghayati itulah keutamaan yang ada 
dalam diri para hamba.
Bunda Maria menjadi teladan atau pola hidup menggereja “dalam hal iman, 
cintakasih dan persatuan sempurna dengan Kristus”. 
Bunda Maria juga “menjadi ibu semua yang hidup” (Kej 3:20). Keunggulan hidup
beriman terletak dalam ‘penghayatan iman, cintakasih dan persatuan dengan
Tuhan’, bukan dalam wacana atau omongan.. Dengan menghayati iman, cintakasih
dan persatuan dengan Tuhan kita akan hidup, hidup bergembira, gairah, dimanis
dan damai sejahtera.  

“Di dalam Dia Tuhan telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita 
kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya”(Ef 1:4)       

Masing-masing dari kita atau kita semua adalah ‘yang terpilih’. Ingat dan 
sadari bahwa ada lebih dari 20 (duapuluh) juta sperma belomba untuk merebut 
satu sel telor dan hanya satu yang berhasil untuk bersatu dengan sel telor dan 
kemudian tumbuh berkembang menjadi manusia, yaitu masing-masing dari kita saat 
ini. Masing-masing dari kita adalah yang terpilih oleh Tuhan untuk 
berpartisipasi dalam karya penciptaanNya yang tiada henti.
Pada awal ada kita senantiasa dalam keadaan ‘kudus dan tak bercacat’ alias
suci, bersih dan murni. Memang seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan atau
semakin tambah usia dan pengalaman pada umumnya semakin pudar juga kekudusan 
dan ketidak-cacatan tersebut,  karena kelemahan dan kerapuhan kita. Maka 
baiklah di hari raya SP Maria dikandung tanpa dosa hari ini kita mawas diri: 
“sejauh mana kita masih dalam keadaan kudus dan tak bercacat seperti sedia 
kala”, dan jika telah pudar, marilah kita memperbaharui dan bertobat. 

Marilah kita kenangkan janji baptis yang pernah kita ucapkan atau ikhrarkan, 
yaitu “hanya mau mengabdi Tuhan Tuhan saja dan menolak semua godaan setan”. 
Janji baptis
merupakan dasar dari janji-janji lainnya, yang mengikuti, misalnya janji 
perkawinan, janji imamat atau kaul hidup membiara. Jika kita handal dan kuat 
serta mendalam dalam penghayatan janji baptis, kiranya dengan mudah menghayati 
atau melaksanakan janji-janji berikutnya. Janji-janji berikutnya, setelah janji 
baptis, hemat saya merupakan niat dan usaha untuk lebih mendalam dan handal 
dalam penghayatan janji baptis. Maka marilah kita saling membantu dan 
mengingatkan dalam hal penghayatan janji baptis, dimana kita terpilih untuk 
bersatu dengan Kristus  

Jika adalah orang, kenalan atau saudara-saudari kita, entah sebagai suami atau 
isteri, imam, bruder atau suster, cara hidup atau cara bertindak tidak baik, 
hendaknya diingatkan atau ditegor perihal janji baptis atau diajak bersama-sama 
untuk setia menjadi murid Yesus Kristus, orang Kristen atau Katolik. Jangan 
ditegor misalnya “hendaklah menjadi suami atau isteri yang baik, imam, bruder 
atau suster yang baik”, melainkan “hendaknya menjadi orang Kristen atau Katolik 
yang baik”. Yang mendasar dan hakiki adalah baptisan kita masing-masing, 
sedangkan bentuk panggilan lain bersifat fungsional;  kita semua adalah Umat 
Tuhan, sama-sama Umat Tuhan, maka hendaknya perbedaan panggilan dan tugas 
pengutusan semakin mengkokohkan dan memperteguh keanggotaan kita sebagai Umat 
Tuhan.” karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan -- kami 
yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu
sesuai dengan maksud Tuhan, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut
keputusan kehendak-Nya -- supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan
pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya” (Ef 1:11-12)

“Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan 
perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh 
tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus. TUHAN telah memperkenalkan 
keselamatan yang dari
pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa. Ia 
mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi 
telah melihat keselamatan yang dari pada Tuhan kita. Bersorak-soraklah bagi 
TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!” 
(Mzm 98:1-4)
==================================================
From: Romo maryo 

Mg Adven II : Yes 40:1-5.9-11; 2Ptr 3:8-14; Mrk 1:1-8
 "Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan 
membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak” 

Jika ada pejabat tinggi, misalnya presiden atau kepala Negara, yang mau 
berkunjung atau lewat, pada umumnya terjadilah persiapan tempat atau jalan 
alias pembersihan’, dengan harapan pejabat yang bersangkutan selamat 
diperjalanan atau yang didatangi puas karena memperoleh pujian atas kesuksesan 
dalam penyambutan pejabat tinggi. Sebagai contoh ketika presiden dari tempat 
tinggal atau rumahnya hendak menuju ke kantor/istana presiden, maka di 
perempatan/pertigaan jalan polisi telah mempersiapkan jalan antara lain dengan 
menghentikan kendaraan-kendaraan lain, kemudian pengawal mendahului rombongan 
kendaraan/mobil dimana presiden berada di dalamnya. Persiapan memang merupakan 
usaha yang penting dan perlu untuk melakukan segala sesuatu, dengan persiapan 
yang baik kiranya apa yang kita harapkan atau dambakan mendekati kenyataan atau 
kita berharap apa yang akan kita lakukan berhasil dengan baik. Pada hari ini 
kepada kita ditampilkan tokoh Yohanes Pembaptis, sebagai bentara kedatangan 
Yesus, Penyelamat Dunia, yang dengan rendah hati berkata: “Sesudah aku akan 
datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali 
kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan 
membaptis kamu dengan Roh Kudus.” (Mrk 1:7-8). 
Maka marilah dalam mempersiapkan kedatangan Penyelamat Dunia, Pesta Natal, yang 
akan datang kita mawas diri dengan cermin Yohanes Pembaptis. 

"Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun 
aku tidak layak.” (Mrk 1:7) 
 
Kita semua dipanggil untuk menjadi bentara-bentara kedatangan Tuhan, Penyelamat 
Dunia, di tengah-tengah atau dalam kehidupan bersama dimanapun dan kapanpun. 
Sebagai bentara kita dapat berpedoman pada apa yang dikatakan oleh Yohanes 
Pembaptis :”Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Tuhan akan mengampuni 
dosamu."(Mrk 1:4). Tentu saja diri kita masing-masing juga telah bertobat atau 
sedang dalam proses pertobatan, maka marilah dengan rendah hati kita saling 
mengingatkan dan membantu dalam proses pertobatan. “Rendah hati adalah sikap 
dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yattu dengan 
menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang 
lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya” (Prof Dr Edi 
Sedyawati/ edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka Jakarta 
1997, hal 24). 

Siapapun yang merasa menjadi pemimpin atau atasan hendaknya menjadi teladan 
dalam hal keutamaan kerendahan hati ini, sebagaimana diusahakan oleh para 
gembala kita/para uskup, yang senantiasa menyatakan diri sebagai ‘hamba yang 
hina dina’.Maka untuk mengusahakan dan menghayati kerendahan hati kiranya kita 
juga dapat bercermin pada pada hamba/pembantu rumah tangga, yang pada umumnya 
bertugas ‘membersih kan apa yang kotor’, entah kamar/ruangan, pakaian, halaman 
dst.. Selain tugas membersihkan mereka juga mempersiapkan, misalnya makanan dan 
minuman atau aneka kebutuhan yang dilayani. Pembantu rumah tangga yang baik 
pada umumnya rendah hati, peka terhadap kebutuhan mereka yang harus dilayani, 
dan dengan demikian yang dilayani dapat melaksanakan tugas pengutusannya atau 
menghayati panggilannya dengan baik. Kita semua juga dipanggil untuk 
‘membersihkan dan mempersiapkan’. 

Marilah kita bersihkan dan persiapkan hati, jiwa, akal budi dan tubuh kita 
untuk menyambut kedatangan atau kelahiran Penyelamat Dunia. “Men sana in 
corpore sano “ = Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat, demikian kata 
sebuah motto yang sangat terkenal. Marilah pertama-tama kita mengusahakan agar 
tubuh kita sehat wal’afiat, antara lain dengan : makan dan minum sesuai dengan 
motto ‘empat sehat lima sempurna’, hidup teratur, istirahat cukup, teratur 
berolahraga, dst.. Pengamatan dan pengalaman saya ketika tubuh sehat maka 
dengan mudah mengusahakan kesehatan hati, jiwa dan akal budi alias cerdas 
beriman. “Berilah dirimu dibaptis”, demikian seruan Yohanes Pembaptis. 
“Dibaptis” berarti dibersihkan, disucikan atau disisihkan seutuhnya bagi Tuhan, 
sehingga orang yang bersangkutan menjadi suci/bersih, senantiasa hidup dan 
bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Kepada orang suci/ bersih akan datang 
banyak orang kepadanya, sebagaimana dialami oleh Yohanes Pembaptis, untuk 
mengaku dosa alias bertobat. Sebagai bentara cara hidup dan cara bertindak kita 
diharapkan memikat banyak orang untuk mendekat serta bertobat. 

“Sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, 
di mana terdapat kebenaran. Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil 
menantikan 
semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak 
bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia “ (2Ptr 3:13-14)      

Kita semua “harus berusaha supaya kedapatan tak bercacat dan tak bercela di 
hadapan Nya, dalam perdamaian dengan Dia”. Secara konkret tugas pengutusan ini 
kiranya sungguh berat dan sarat dengan tantangan dan hambatan, maka baiklah 
kita saling membantu dan mengingatkan. Rasanya mereka yang ‘kedapatan tak 
bercacat dan tak bercela di hadapanNya’  adalah bayi-bayi atau anak-anak 
balita, yang senantiasa dalam keadaan membuka diri, ceria, dinamis, siap sedia 
untuk diperlakukan apapun oleh orang lain. Memang, lebih-lebih atau terutama 
bayi-bayi harus didekati dan diperlakukan dalam dan dengan kasih, tanpa kasih 
mereka akan menolak dan membenontak antara dengan menangis. Maka mungkin baik 
dalam hal mawas diri apakah kita dalam keadaan tak bercacat dan tak bercela 
antara lain dengan menyapa atau membelai, menyentuh seorang bayi; jika mereka 
kita sapa atau belai memberontak atau menangis berarti kita dalam keadaan cacat 
dan tercela.  

Untuk mengusahakan tak bercacat dan tak bercela di hadapanNya hendaknya kita 
berpegang atau berpedoman pada apa yang dikatakan oleh Yesaya ini :”Setiap 
lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang 
berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk 
menjadi dataran; maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia 
akan melihatnya bersama-sama; sungguh, TUHAN sendiri telah mengatakannya.”(Yes 
40:4-5) ‘Lembah, gunung, berbukit-bukit, tanah yang tidak rata dan 
berlekuk-lekuk’ memang mengganggu perjalanan atau memperlambat dan menghalangi 
perjalanan. Kita semua sedang berada dalam perjalanan menuju ke pemenuhan hidup 
terpanggil atau pelaksanaan tugas pengutusan kita masing-masing, menuju hidup 
bahagia abadi di sorga setelah dipanggil Tuhan, meninggal dunia.  

Marilah dengan rendah hati dan bantuan rahmat Tuhan kita bersihkan segala 
sesuatu yang menghambat penghayatan panggilan atau pelaksanaan tugas pengutusan 
kita masing-masing, yaitu dosa-dosa, misalnya:” percabulan, kecemaran, hawa 
nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, 
kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, 
pesta pora dan sebagai nya” (Gal 5:19-21)  agar kita dapat hidup bersih serta 
menghasilkan buah-buah atau keutamaan-keutamaan “kasih, sukacita, damai 
sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, 
penguasaan diri” (Gal 5:22-23) . Sikap hidup dan cara bertindak yang dijiwai 
oleh keutamaan-keutamaan inilah sebagai cirikhas bentara-bentara kedatangan 
atau kelahiran Penyelamat Dunia.

“Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Tuhan, TUHAN. Bukankah Ia
hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang
dikasihi-Nya. Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang
yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita. Kasih dan 
kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman.
Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit.Bahkan
TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya. Keadilan 
akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan.” 
(Mzm 85:9ab-14)  
=====================================================
From: Romo maryo 

“Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma”
(Yes 30: 19-21.23-26; Mat 9:35-10:1.6-8) 

“Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam 
rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan 
segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus 
oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti 
domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian 
memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang 
empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."Yesus 
memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa
kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala 
penyakit dan segala kelemahan. melainkan pergilah kepada domba-domba yang 
hilang dari umat Israel.Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat.
Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; 
usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu 
berikanlah pula dengan cuma-cuma.”(Mat 9:35-10:1.6-8) 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:

·   Hidup kita adalah anugerah Tuhan, yang kita terima secara cuma-cuma melalui 
orangtua atau bapak-ibu kita masing-masing, maka hemat saya segala sesuatu yang 
menyertai hidup kita, yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini 
tidak lain adalah juga anugerah Tuhan yang kita terima secara cuma-cuma melalui 
orang-orang yang telah berbuat baik dan mengasihi kita. “Kamu telah 
memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma”, 
demikian sabda Yesus. Mungkin tidak ada atau jarang yang memberikan dengan 
cuma-cuma apa yang telah kita terima, maka baiklah sabda ini kita hayati secara 
lain, yaitu jika kita belajar atau bekerja hendaknya sungguh-sungguh, dengan 
segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan/tubuh. 
Dengan kata lain marilah di masa Adven ini kita tingkatkan dan perdalam 
‘lakutapa atau matiraga’ secara positif, yaitu dengan setia dan taat pada 
panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Kepada para pelajar atau 
mahasiswa yang sedang belajar kami harapkan sungguh belajar sehingga terampil 
dalam belajar dan dengan demikian akan berhasil atau sukses dalam belajar, dan 
kemudian siap sedia untuk menjadi “pekerja-pekerja yang handal”., sedangkan 
kepada para pekerja, entah pekerjaan, tugas atau jabatan apapun, kami harapkan 
untuk sungguh bekerja sehingga terampil dalam bekerja. Percayalah dan imanilah 
jika kita terampil dalam belajar maupun bekerja, maka kita juga akan semakin 
menerima lebih banyak aneka macam anugerah Tuhan dalam berbagai bentuk. 
Hendaknya, entah selama belajar atau bekerja, senantiasa menghayati semangat 
persaudaraan sejati, solidaritas dan keberpihakan kepada mereka yang miskin dan 
berkekurangan, yang bodoh atau kurang beruntung, dst.. 
·   “TUHAN akan memberi hujan bagi benih yang baru kamu taburkan di ladangmu, 
dan dari hasil tanah itu kamu akan makan roti yang lezat dan berlimpah-limpah. 
Pada waktu itu ternakmu akan makan rumput di padang rumput yang luas; sapi-sapi 
dan keledai-keledai yang mengerjakan tanah akan memakan makanan campuran yang 
sedap, yang sudah ditampi dan diayak. Dari setiap gunung yang tinggi dan dari 
setiap bukit yang menjulang akan memancar sungai-sungai pada hari pembunuhan 
yang besar, apabila menara-menara runtuh”(Yes 30:23-25), demikian hiburan yang 
penuh harapan dari Yesaya. Apa yang diimpikan Yesaya tersebut kiranya juga akan 
menjadi nyata dalam diri kita, jika kita sungguh belajar atau bekerja sesuai 
dengan tugas dan pengutusan kita masing-masing, sesuai dengan aneka tatanan dan 
aturan hidup yang terkait dengannya. Maka baiklah di hari-hari awal masa Adven 
ini kita mawas diri aneka tatanan dan aturan yang terkait dengan panggilan dan 
tugas pengutusan kita masing-masing. “Jer basuki mowo beyo” (= Untuk hidup 
bahagia, damai sejahtera harus berjuang dan berkorban), demikian kata pepatah 
Jawa. Rasanya untuk setia dan taat terhadap aneka tatanan dan aturan yang 
terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing, kita harus 
berani berjuang dan berkorban. Apa yang diterima atau diperoleh dengan dan 
dalam perjuangan dan pengorbanan sejati sungguh merupakan kebahagiaan dan 
kenikmatan sejati yang tak tergoyahkan dan tahan lama atau bahkan sampai mati. 
Maka jauhkan aneka bentuk budaya atau cara hidup dan cara bertindak ‘instant’. 
Ingat dan renungkan juga pepatah ini :”Berrakit-rakit ke hulu, berrenang-renang 
ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”, jangan dibalik 
atau terjadi ‘bersenang-senang dahulu bersakit-sakit kemudian”.  

“Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka; Ia 
menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama semuanya.Besarlah 
Tuhan kita dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaan-Nya tak terhingga. TUHAN 
menegakkan kembali orang-orang yang tertindas, tetapi merendahkan orang-orang 
fasik sampai ke bumi.” (Mzm 147:3-6) 

Kirim email ke