From: Romo maryo “Yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya” (Yes 41:13-20; Mat 11:11-15)
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya. Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya. Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes dan -- jika kamu mau menerimanya -- ialah Elia yang akan datang itu. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar” (Mat 11:11-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Jika kita perhatikan atau cermati aneka macam jenis peralatan atau sarana-prasarana teknologi saat ini semakin lama semakin kecil bentuknya, demikian juga banyak alat-alat atau ‘onderdil-onderdil’ kecil yang penting dan utama dalam berbagai jenis produk teknologi yang terus tumbuh berkembang tiada henti. Sebagai contoh ‘HP” (Hand Phone), bentuknya semakin kecil dan semakin canggih serta lebih besar harga atau nilainya daripada pendahulunya. Dalam Warta Gembira hari ini kita baca bahwa Yohanes Pembaptis dikenal sebagai ‘yang besar’ yang dilahirkan oleh perempuan, namun ‘yang akan datang’ , yaitu Yesus, Penyelamat Dunia, yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya. Warta Gembira ini kiranya mengingatkan bahwa mereka yang akan datang kemudian harus lebih besar dari pendahulunya, anak-anak harus ‘lebih besar’ dari pada oirang tuanya, para peserta didik harus ‘lebih besar’ dari gurunya dst.. Dengan kata lain para pendahulu (orangtua, guru dst..) harus dengan rendah hati dan kerja keras mempersiapkan ‘para penerus’ (anak-anak, peserta didik, dst..) agar tumbuh berkembang lebih besar, lebih cerdas beriman. Kegagalan anak-anak atau peserta.didik untuk menjadi lebih besar merupakan kegagalan orangtua atau guru. Ingat pepatah Jawa “kacang mongso tinggalo lanjaran”!. Sebaliknya kami berharap kepada anak-anak, peserta didik atau generasi muda/penerus hendaknya mengembangkan dan memperdalam keutamaan ‘mendengarkan’ selama berada dalam proses pembelajaran, entah di sekolah, di rumah atau di dalam masyarakat pada umumnya. Dengan kata lain hendaknya dengan rendah hati belajar terus menerus, siap sedia dan terbuka untuk diperbaharui melalui berbagai kesempatan dan kemungkinan. · “Aku ini, TUHAN, Elohimmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu: "Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau.”(Yes 41:13). Kutipan ini kiranya layak menjadi permenungan atau pegangan hidup dan cara bertindak kita. “Janganlah takut,Akulah yang menolong engkau”. Penakut pada umumnya akan mengurung diri, menyendiri atau menutup diri serta berusaha menghindari perjumpaan dengan orang lain. Penakut berarti memiliki otak bawah sadar pasif. Sebaliknya orang yang tidak takut alias pemberani berarti memiliki otak bawah sadar poisitif, dan dengan demikian apa yang didambakan atau dicita-citakan akan menjadi kenyataan atau terwujud. Kepada kita semua kami ingatkan “marilah jangan takut, percayalah pada penolong-penolong yang ada di sekitar anda”. Marilah kita hayati motto “trial and error”, berani mencoba dan bersalah; dengan kata lain marilah kita kembangkan dan perdalam sikap mental ‘bereksplorasi’, belajar terus menerus tiada henti, sepanjang hidup/hayat. Bukalah hati, jiwa, akal budi dan tubuh anda terhadap aneka macam penolong atau pembantu di sekitar anda, belajarlah dari aneka kesuksesan atau kegagalan yang ada di sekitar anda. Untuk itu kita harus berpikiran positif, artinya senantiasa bersikap positif terhadap sapaan, sentuhan, tegoran, kritikan, pujian dst. dari orang lain atau siapapun; sadari dan hayati bahwa semuanya itu adalah perwujudan kasih mereka kepada kita yang lemah dan rapuh. Jangan hanya bersikap posisif terhadap apa yang mengenakkan anda atau hanya sesuai dengan selera pribadi anda, yang menyakitkan atau tidak sesuai dengan selera pribadi anda pun harus disikapi secara positif. Jika orang hidup dan bertindak hanya mengikuti atau sesuai dengan selera pribadi pasti tidak sehat dan sakit-sakitan. Sadari dan hayati bahwa orang mengritik dan menegor kita dengan keras merupakan perwujudan kasihnya kepada kita; jika mereka tidak mengasihi kita pasti mereka tidak menegor atau mengritik kita dengan keras, melainkan mendiamkan kita. Pertolongan Tuhan kepada kita menjadi nyata dalam dan melalui aneka perlakuan yang terarah pada kita, entah yang enak maupun tidak enak, yang sesuai atau tidak sesuai dengan selera pribadi kita. “TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan -Nya. Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu, untuk memberitahukan keperkasaan-Mu kepada anak-anak manusia, dan kemuliaan semarak kerajaan-Mu “ (Mzm 145:9-12) =========================================================== From: Romo maryo “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu,” (Yes 40:25-31; Mat 11:28-30) “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”(Mat 11:28-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Mengapa orang mempunyai ‘isteri atau suami kedua’ atau WIL atau PIL? , dan orang akan lebih mesra dengan WIL atau PIL-nya daripada dengan isteri atau suaminya sendiri? Apakah isteri kurang cantik atau suami kurang tampan? Yang terjadi kiranya entah isteri atau suami membuat ‘letih lesu dan berbeban berat’ karena rewel, cerewet, aneh-aneh serta menuntut tanggungjawab; sementara itu WIL atau PIL tidak menuntut tanggungjawab melainkan uang. Setia pada yang utama dan pertama memang sarat dengan tantangan dan hambatan serta dapat membuat orang menjadi atau merasa ‘letih lesu dan berbeban berat’, namun setia pada yang pertama dan utama adalah jalan keselamatan atau kebahagiaan sejati. Maka marilah kita pikul ‘kuk’ (panggilan, tugas pengutusan atau tanggungjawab) yang dipasang di ‘bahu’ kita dan belajar dari Yesus, Tuhan dan guru kita, yang telah melaksanakan dengan sempurna dengan menderita sampai wafat di kayu salib. Derita yang lahir dari kesetiaan atau ketaatan pada kehendak Tuhan, panggilan dan tugas pengutusan adalah jalan keselamatan atau kebahagiaan sejati. “Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat” (Prof Dr. Edy Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 24). Maka baiklah kita ingat, kenang kan dan refleksikan aneka janji yang pernah kita ikhrarkan: janji baptis, janji perkawinan, janji imamat, kaul, janji pegawai/ pelajar/ mahasiswa atau sumpah jabatan dst.. Untuk menghayati dan setia pada janji marilah kita hayati ajakan atau peringatan ini: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Elohim, tidak menganggap kesetaraan dengan Elohim itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Fil 2:5-8) · “Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Elohim kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” (Yes 40:28-31), demikian peringatan nabi Yesaya kepada bangsa terpilih, kepada kita semua orang beriman. Kepada siapapun yang merasa lelah dan tak bersemangat, marilah kita lihat, nikmati karya penciptaan Elohim, antara lain dalam aneka jenis tanaman dan bunga yang indah serta memikat, maupun binatang-binatang yang tak pernah atau jarang mengeluh, mengesah maupun menggerutu. Nikmatilah keindahan alam yang dihiasi oleh aneka jenis tanaman dan bunga, maka anda akan digairahkan kembali. Secara khusus saya ingatkan orang-orang muda atau rekan muda-mudi dan anak-anak: hendaklah jangan lesu dan tak bersemangat, entah dalam belajar, hidup maupun pergaulan. Tunjukkan kegairahan dan kegembiraan anda, sebagai orang muda yang masih memiliki masa depan begitu panjang. Hendaklah senantiasa dengan rendah hati, gembira, penuh harapan dalam belajar, dengan demikian anda akan dapat belajar dengan baik dan diperkaya oleh berbagai macam masukan yang anda dengar dimana pun dan kapanpun. Jadilah anda bagaikan ‘rajawali’ yang terbang, berlari ataupun berjalan tidak menjadi lesu/lelah. Untuk itu hendaknya menjaga kebugaran dan kesegaran diri anda, antara lain dengan makan dan minum sesuai dengan motto ‘empat sehat lima sempurna’, berolahraga secara teratur, istirahat secara teratur serta senantiasa berpikiran positif terhadap yang lain. Jauhkan aneka cara hidup atau cara bertindak yang mudah merusak diri anda, misalnya: begadang tanpa perlu, minuman keras, narkoba atau aneka obat terlarang maupun free-sex, dst. “Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat,” (Mzm 103:1-4) ======================================================= From: Romo maryo “Hikmat Elohim dibenarkan oleh perbuatannya” (Yes 48:17-19; Mat 11:16-19) “Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Elohim dibenarkan oleh perbuatannya.” (Mat 11:16-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · “Kalau tinggal di rumah terus dikomentari tidak bekerja, sebaliknya ketika banyak meninggalkan rumah alias sering bepergian dikomentari tidak kerasan tinggal di rumah, dst..”, begitulah sering kita dengar kritik atau komentar, mungkin merupakan perhatian atau asal komentar alias yang bersangkutan memang memiliki kebiasaan menilai, mengritik atau mengomentari orang lain. Mereka tidak mau bertanya atau memahami apa yang dilakukan orang lain, namun hanya melihat sekilas apa yang terjadi atau dilakukan. “Hikmat Elohim dibenarkan oleh perbuatannya”, demikian sabda Yesus. Maka marilah kita menilai atau menyikapi sesama atau saudara-saudari kita setelah dengan cermat melihat apa yang dibuatnya alias setelah mereka mengakhiri kegiatannya bukan sebelumnya. Sebaliknya kita sendiri masing-masing hendaknya lebih mengutamakan perbuatan atau perilaku daripada omongan atau wacana. Renungkan dan hayati pemahaman ini :” Sesungguhnya pengertian budi pekerti yang paling hakiki adalah perilaku. Sebagai perilaku, budi pekerti meliputi pula sikap yang dicerminkan oleh perilaku” (Prof Dr. Edi Sedyawati/ edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 4). Bukanlah perilaku seseorang tidak mungkin dinilai dari/ melalui pengamatan sesaat atau sebentar saja? Maka hendaknya dalam menilai, memberi saran, menasihati atau mengritik orang lain, dengarkan dengan rendah hati dahulu pengalaman-pengalaman kerja atau usahanya: pujilah apa yang baik dan luruskan dengan rendah hati apa yang dinilai tidak baik. Evaluasi, refleksi atau mawas diri merupakan keutamaan yang harus menjadi kebiasaan penghayatan hidup dan cara bertindak kita, sebagaimana menjadi kebiasaan mengadakan ‘pemeriksaan batin’ setiap hari di akhir hari/kegiatan atau menjelang istirahat/tidur malam. · "Akulah TUHAN, Elohimmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh. Sekiranya engkau memperhati kan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti, maka keturunanmu akan seperti pasir dan anak cucumu seperti kersik banyaknya; nama mereka tidak akan dilenyapkan atau ditiadakan dari hadapan-Ku.”(Yes 48:17-19). Marilah kita lihat, kenangkan, renungkan dan hayati perintah-perintah Tuhan kepada kita, sesuai dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Semua perintah kiranya dapat dipadatkan menjadi perintah untuk ‘saling mengasihi’, maka baiklah kita mawas diri perihal perintah ‘saling mengasihi’. ”Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1Kor 13:4-7), demikian ajaran kasih dari Paulus. Dari ajaran kasih di atas ini kiranya yang mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan adalah ‘tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain’, mengingat dan memperhatikan begitu banyak orang menyimpan kesalahan sesamanya, yang berkembang menjadi marah atau bermusuhan. Marah berarti melecehkan atau merendahkan yang lain, melanggar hak azasi manusia/harkat martabat manusia. Pemarah hemat saya identik dengan orang sombong. Hendaknya jangan menyimpan kesalahan orang lain, tetapi simpan dan angkat kembali kebaikan-kebaikan yang lain. Marilah berpikir positif terhadap sesama dan saudara-saudari kita, yang berarti senantiasa melihat, mengakui dan mengimani kebaikan-kebaikan orang lain dan dengan demikian kita akan menikimati damai sejahtera lahir dan batin, jasmani dan rohani. “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musim nya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mzm 1:1-3)

