PELAYANAN YANG MEMULIAKAN TUHAN
   
  oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
   
   
  Nats: Yohanes 13:31-35   
   
   
  Yohanes 13:31-16:33 seringkali diungkapkan di mimbar sebagai the Exclusive 
Teaching of Christ dan ditutup dengan the Exclusive Prayer of Christ (Yoh. 17). 
Khotbah kali ini akan membahas bagian awal pengajaran tersebut. Yohanes 13:31 
dimulai dengan “Sesudah Yudas pergi” sebagai turning point (titik balik). Titik 
putar semacam itu seharusnya diperhatikan karena terdapat perubahan essensial, 
khususnya dalam pembahasan Yohanes dan Paulus yang sangat menekankan aspek 
Theologis. Peristiwa dalam Yohanes 13:21-35 sangat unik karena tak terbahas 
oleh Matius, Markus dan Lukas. Padahal peristiwa tersebut bukan sekedar 
kronologis sejarah tetapi mengandung aspek Theologis yang sangat mendalam. 
   
  Ketika sedang mengadakan perjamuan, Tuhan Yesus dengan sangat ‘terharu’ 
menyatakan fakta yang segera terjadi (Yoh. 13:21). Sebenarnya, istilah 
‘terharu’ akan lebih tepat jika diganti dengan ‘disturbed’ (terganggu dalam 
roh). Artinya, ada sesuatu yang membebani hingga membuat-Nya sangat susah dan 
tak tenang. Maka Ia berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di 
antara kamu akan menyerahkan Aku” (Yoh. 13:21). Tuhan memiliki 12 murid 
terdekat (the closest ring) yang selalu bersamaNya dan mendengarkan ajaranNya 
yang mungkin belum dimengerti oleh jemaat pada umumnya. Tapi, justru satu di 
antaranya, yaitu Yudas Iskariot, bukan murid sejati melainkan pengkhianat 
karena tega menjual Gurunya pada orang Farisi seharga 30 keping perak. Padahal 
ia adalah orang kepercayaanNya hingga kas diserahkan padanya. Namun ia malah 
mempermainkan, memanipulasi dan menyalahgunakannya. 
   
  Lalu Yohanes 13:24 mencatat, “Kepada murid itu (Yoh.) Simon Petrus memberi 
isyarat dan berkata: “Tanyalah siapa yang dimaksudkanNya!” Yohanes adalah murid 
yang sangat dikasihi oleh Tuhan Yesus. Maka ia bertanya, “Tuhan, siapakah itu?” 
(Yoh. 13:25). Kemudian Yohanes 13:26-27 mencatat, “Jawab Yesus: “Dialah itu, 
yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya.” Sesudah 
berkata demikian Ia mengambil  roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada 
Yudas, anak Simon Iskariot. Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan 
Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah 
dengan segera.” Dengan demikian, Yudas adalah pengkhianat sejati dengan 
kesombongan hati dan ego yang membuatnya tak mau bertobat, tunduk dan mengaku 
dosa di hadapan Tuhan. Maka ia tidak berhak mendengarkan pengajaran Kristus 
tertinggi dalam Yohanes 13:31 dan seterusnya yang sulit diterima oleh akal 
manusia berdosa, kecuali ia bersedia
 kembali kepadaNya, berubah total dan mulai memandang segala sesuatu dalam 
sudut pandang Allah.  
   
  Yudas berbeda dengan Petrus. Yohanes 13:36-38 menceritakan bagaimana Petrus 
berusaha untuk setia kepada Tuhan, “Simon Petrus berkata kepada Yesus: “Tuhan, 
ke manakah Engkau pergi?”  Jawab Yesus: “Ke tempat Aku pergi, engkau tidak 
dapat mengikuti Aku.” Kata Petrus kepadaNya: “Tuhan, mengapa aku tidak dapat 
mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!” Jawab Yesus: 
“Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum 
ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Itulah peringatan-Nya 
pada Petrus. Dan ketika menjadi kenyataan, Petrus sungguh menyesal dan langsung 
bertobat.
   
  Kali ini akan dibahas pengajaran Kristus di mana essensi keberadaan Allah 
Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus diungkapkan. Selain itu, juga termasuk 
ajaran tentang prinsip hidup Kristen, keselamatan kekal dan panggilan 
pelayanan. Yohanes 13:31 dan seterusnya berbicara tentang bagaimana Tuhan 
mengarahkan Diri pada keselamatan kekal. Kemudian da­lam Yohanes 14 Ia 
mulai membicarakan tentang Sorga dan ayat yang paling sering dibahas adalah 
Yohanes 14:6, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang 
datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Selain itu, juga dibahas 
bagaimana Roh Kudus datang dan berkarya dalam kehidupan manusia. Selanjutnya, 
Yohanes 15 membahas Union with Christ (dipersatukan dengan Kristus) dan 
hubungan antara Allah, Kristus dan manusia. Selain itu, juga tentang bagaimana 
Ia memanggil umat-Nya untuk melayani serta menjadi sahabat dan kawan 
sekerja-Nya. Dan bagian terakhir membicarakan tentang bagaimana anak Tuhan 
menghadapi
 kesulitan, penderitaan serta tantangan sehingga kelak berhasil mencapai titik 
kemenangan. Lalu Yohanes 16 menjelaskan tugas dan peranan Roh Kudus. Setelah 
itu, Tuhan Yesus memberikan ajaran yang sangat solid pada perjamuan malam 
terakhir. Kemudian Ia berdoa bagi para murid-Nya sebelum disalibkan.
   
  Tuhan Yesus tidak memperkenankan Yudas ikut dalam ring orang yang layak untuk 
mendengarkan ajaranNya dan didoakan. Dalam Yohanes 17 terdapat 2 statement yang 
menyatakan bahwa Ia tidak berdoa syafaat bagi semua orang melainkan hanya para 
murid dan umat pilihanNya yaitu orang percaya atau Kristen sejati. Inilah 
eksklusif.
   
  Sesudah Yudas pergi, dalam 2 kalimat pertama Tuhan Yesus terdapat 1 kata yang 
berulangkali dicantumkan yaitu ‘dipermuliakan’ dan ‘mempermuliakan’ (glorify). 
Maka Yohanes 13:31-32 menjadi centre point (inti) iman Kristen, “Sekarang Anak 
Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah 
dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam 
diriNya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera.” Mendengar pernyataan ini, 
para murid langsung berpikir bahwa segera tiba saatnya bagi Tuhan Yesus untuk 
menjadi raja di Yerusalem dengan kekuasaan besar. Tapi, pemikiran seperti ini 
dipatahkan oleh Kristus, “Hai, anak-anakKu, hanya seketika saja lagi Aku ada 
bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada 
orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian 
pula Aku mengatakannya sekarang juga kepada kamu” (Yoh. 13:33). Akibatnya, 
terjadilah confusion (kebingungan) dalam
 pemikiran para murid yang berbeda total dengan pandangan Kristus. 
   
  Sebenarnya, Yohanes 13:31-32 berpusat hanya pada salib. Dengan kata lain, 
Kristus dipermuliakan dengan cara yang terhina. Inilah konsep the Paradox of 
the Cross. Padahal menurut dunia, salib adalah penghukuman yang paling kejam 
dan menakutkan. Sedangkan orang yang disalibkan akan memiliki citra terendah. 
Justru, penyaliban Kristus merupakan cara yang paling terbuka dan jelas untuk 
mempermuliakan Allah. Dengan membuat banyak mukjizat, Ia malah tak 
dipermuliakan. Itu disebabkan oleh sikap manusia berdosa yang tak pernah puas 
serta selalu menuntut dan memanipulasi Kristus demi kepentingan sendiri. Mereka 
tak pernah memandang mukjizat sebagai keagungan Kristus, Anak Allah yang 
berinkarnasi. Sebaliknya malah berpikir bahwa Tuhan Yesus sedang mengumpulkan 
pengikut. Padahal Ia tak pernah bermaksud seperti itu. 
   
  Yohanes 13:31-32 mengingatkan pada Yohanes 3 mengenai percakapan Kristus 
dengan Nikodemus, “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, 
demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan supaya setiap orang yang percaya 
kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:14). Ketika disalibkan, kalimat 
pertama yang diucapkan oleh Tuhan Yesus terkesan sangat agung, “Ya Bapa, 
ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mere ka perbuat” (Luk. 
23:34). Ungkapan tersebut ditujukan bagi mereka yang telah meludahi, 
menyalibkan dan membunuh-Nya. Ini menunjukkan betapa pentingnya menggumulkan 
keselamatan orang lain serta betapa serius dan relanya Tuhan mengampuni mereka 
yang telah menyengsarakanNya. Perkataan manusia akan lebih agung ketika ia 
berada dalam situasi sulit. Kalau kalimat tersebut diucapkan dalam situasi 
biasa maka kuasanya tidaklah besar. Padahal Lukas 23:35 mencatat, 
“Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: “Orang lain Ia selamatkan, biarlah
 sekarang Ia menyelamatkan diriNya sendiri.”  Ungkapan tersebut terlalu 
merendahkan dan menggambarkan betapa egoisnya manusia. Let Christ be glorified. 
Biarlah Kristus dipermuliakan. Semua orang ketika membaca Injil terutama 
penyaliban Kristus, harus mengakui bahwa Yesus memang terlalu agung dan mulia. 
Tak ada satu kalimat pun mampu mematahkan tindakan Kristus tersebut karena 
telah melampaui cara berpikir manusia. 
   
  Kristus dipermuliakan ketika disalibkan di mana Ia menyelesaikan seluruh 
tugas penebusan yang dibebankan Allah kepadaNya dan itulah saat bagiNya untuk 
kembali ke Kerajaan Bapa. Itulah titik final seluruh penggenapan pekerjaan 
Bapa. Pdt. Stephen Tong pernah mengungkapkan bahwa jikalau Kristus pernah 
melakukan secuil dosa pun di sepanjang hidup-Nya maka tertutuplah 
kesempatan-Nya untuk kembali ke Sorga. Seluruh nilai penyaliban tak lagi 
berarti dan hidup-Nya akan berakhir dengan kematian karena upah dosa adalah 
maut. Ketika Ia mampu menyelesaikan semua tugas-Nya hingga titik terakhir, 
itulah puncak glorification. Sebenarnya, Tuhan mencanangkan peristiwa ini untuk 
Adam pertama namun ia telah gagal dalam ujiannya. Maka diperlukan Adam kedua 
yaitu Kristus yang akhirnya berhasil dalam segala macam ujian yang 
diperuntukkan bagi-Nya dan mengakhirinya dengan mengatakan, “Sudah selesai” 
(Yoh. 19:30). Kalimat pendek tersebut merupakan penggenapan totalitas seluruh 
karyaNya dalam
 kemurnian pelayanan-Nya.
   
  Ketika Kristus telah mencapai kemuliaan, itulah titik balik kenosis yang 
disebutkan dalam Filipi 2. Kenosis adalah pengosongan diri. Kristus yang adalah 
Allah semesta alam harus mengosongkan diri lalu turun ke dunia membawa beban 
besar yaitu menggenapkan pekerjaan Bapa. Pencipta dan Pemilik alam semesta 
harus menjadi bayi yang tak mampu melakukan apa pun karena terbatas ruang dan 
waktu. Selain itu, Ia juga harus menjadi hamba yang diperlakukan dengan sangat 
hina hingga kematianNya. Namun Filipi 2:9-11 mengatakan, “Itulah sebabnya Allah 
sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama, 
supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada 
di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus 
Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah Bapa!” Kesimpulannya, salib adalah 
the final point to glorification (titik akhir untuk menuju kemuliaan terbesar). 
Dengan kata lain, jalan kemuliaan harus melalui
 penderitaan, kesulitan, dan kesusahan. Glorification by the suffering servant. 
Amin. 
   
   
   
  (Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
   
   
   
   
  Sumber: 
  Ringkasan khotbah Pdt. Sutjipto Subeno di Gereja Reformed Injili Indonesia 
(GRII) Andhika, Surabaya tanggal 25 November 2001.
   
   
   
  Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio


""Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di 
depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." 
(1Sam. 16:7b)

       
---------------------------------
  Mencari semua teman di Yahoo! Messenger? 
Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang!

Kirim email ke