Renungan Natal :


Janji Allah yang Telah Menetas


Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk 
kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: 
Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. (Yesaya 9:5 ) 

"Natal" dalam bahasa Mandarin adalah 圣诞节 - "shèng dàn jié" (harfiah : festival 
of sacred birth, perayaan kelahiran suci). Kalau diambil dari persamaan bunyi, 
ada kata 生蛋 - "shēng dàn" berarti "telur menetas". Telur senantiasa bermakna 
kehidupan. Kita juga melakukan "tradisi" peringatan Paskah dengan telur, yang 
diartikan sebagai lambang cikal bakal kehidupan. Kelahiran Kristus adalah wujud 
janji Allah yang dikumandangkan sejak Adam-Hawa jatuh ke dalam dosa (Kejadian 
3:15) dan disampaikan berulang-ulang dalam Perjanjian Lama, yang paling jelas 
pada Yesaya 7:14 yang menulis seorang perawan akan melahirkan seorang 
Bayi-perjanjian. Kedatangan Kristus yang lahir dengan cara alami dan manusiawi 
ini memberikan anugerah kehidupan yang kekal bagi siapa saja yang percaya 
kepadaNya.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan 
Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak 
binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16) 

Apa yang kita peringati dalam Natal adalah adalah pengucapan syukur terhadap 
segala belas-kasihan dan anugerah kehidupan dari Allah kita. Robert Oppenheimer 
(1904–1967) seorang ilmuwan, ia bukan seorang Kristen, tapi ia pernah 
mengatakan : "cara menyampaikan gagasan adalah membungkusnya dengan seseorang". 
Allah telah menyatakan pesannya kepada semua umat di dunia melalui inkarnasi 
dalam Yesus Kristus, bahwa didalam Dia ada keselamatan. Bahwa Allah yang 
Mahatinggi telah menjelma menjadi manusia.

Natal dan Paskah senantiasa diperingati secara istimewa oleh umat Kristiani, 
betapapun ada saja kritik bahwa perayaannya menyerap tradisi-tradisi kafir. 
Namun, kita tahu dan sangat sadar betul bahwa kita bukan memperingati sesuatu 
hal yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Alkitab, sebaliknya kita 
memperingati kedatangan Allah kita yang rela lahir sebagai manusia, mati dan 
bangkit untuk misi keselamatan (2 Timotius 2:8). Suasana, semangat dan damai 
Natal justru banyak membawa orang datang kepada Kristus. Dan menjadi momen yang 
baik bagi keluarga-keluarga dan para sahabat-sahabat untuk berkumpul menikmati 
kebersamaan. Manusia hidup sangat memerlukan hubungan/ interaksi dengan 
sesamanya. Tanpa persekutuan antar sesama, hidup tidak akan berarti. 

Allah telah menganugerahkan kehidupan yang kekal, melalui kelahiran Sang Putra 
(Yesaya 9:5). Istilah yang unik dari bahasa Mandarin tentang Natal yang merujuk 
kepada "telur yang menetas" menyatakan suatu lambang kehidupan yang asalnya 
memang dari Allah saja. 

Amin.


圣诞快乐




Blessings in Christ,
Bagus Pramono
December 21, 2008

http://www.sarapanpagi.org/renungan-natal-janji-allah-yang-telah-menetas-vt2535.html


<<570205_FULL.jpg>>

Kirim email ke