Ringkasan khotbah Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Sydney, Australia 
tanggal 30 November 2008
     Memperkokoh Kehidupan Pernikahan Kristen-5  Strengthening your Marriage    
 oleh: Pdt. Effendi Susanto, S.Th.
   
   
   
   
  Nats: 1 Petrus 3:7
   
   
   
   
  Petrus mengingatkan hubungan pernikahan yang tidak sehat bisa menjadi 
penghalang di dalam relasi dengan Tuhan. Ada hambatan, ada hal yang bisa 
mencegah sesuatu keindahan di dalam kehidupan keluarga kita. Strengthen your 
marriage, kuatkan kehidupan rumah tangga saudara. Begitu banyak buku-buku yang 
saya baca dimana ayat ini, 1 Petrus 3:7 merupakan ayat yang luar biasa dibahas. 
Ayat yang begitu pendek dan singkat tetapi memiliki makna yang luar biasa. 
Seluruh problema, seluruh halangan sudah dibicarakan di dalam ayat ini, “Hai 
suami-suami, hargailah istrimu sebagai kaum yang lebih lemah dan sebagai teman 
pewaris kasih karunia, supaya doamu jangan terhalang.”
   
  Dr. Leslie Parrott mengatakan secara umum ada 5 penghambat yang mungkin 
mendatangkan ketidak-indahan dan ketidak-harmonisan di dalam kehidupan rumah 
tangga.
  1.      Unfulfilled Expectation, pengharapan kita, idealisme kita, apa yang 
kita pikir bahwa pernikahan bisa mendatangkan kebaikan bagi kita, satu cara 
berpikir yang keliru luar biasa. Yang benar ialah bagaimana SAYA melakukan 
sesuatu supaya pernikahan itu menjadi indah dan bahagia.
  2.      Unexamined Self, diri yang tidak mau mengalami perbaikan dan 
sebaliknya kita selalu menuntut orang lain yang berubah. Kita terlalu gampang 
melihat kelemahan pasangan kita ketimbang kelemahan kita. Sehingga pada waktu 
pasangan kita mencoba memberikan kritik yang membangun supaya kita berubah, 
kita menganggap itu sebagai hal yang meng-offended hidup kita.
  3.      Unskilled Couples, pasangan yang tidak punya skill di dalam memasuki 
pernikahan.
  4.      Unhealthy Choices, keputusan-keputusan hidup yang keliru dan salah, 
yang menyebabkan pernikahan mengalami hambatan. Cara kita memilih pekerjaan, 
cara kita memilih tempat tinggal, cara kita mengatur prioritas hidup, 
keputusan-keputusan yang keliru di dalam rumah tangga, semuanya memberikan efek 
itu.
  5.      Unpredictable Factors, hal-hal yang tidak terduga terjadi, bisa 
berupa sakit, infidelity, ada hal-hal yang tidak bisa kita cegah di situ.
   
  Kalau kita kategorikan secara garis besar, maka apa problema yang terbesar di 
dalam hidup rumah tangga? Begitu kita menanyakan pertanyaan ini, kebanyakan 
orang akan memberi jawaban: persoalan komunikasi dan kurangnya understanding di 
dalam kehidupan rumah tangga. Miscommunication bukan saja kurang komunikasi 
tetapi meleset komunikasinya dan understanding-nya. Kita tidak memahami apa itu 
pernikahan dengan benar, kita tidak memahami pasangan kita dengan benar, itu 
yang menjadi penghalang dan penghambat di dalam pernikahan. Dalam kelas 
pranikah ada satu pertanyaan dilontarkan, bagaimana kalau hanya satu pihak saja 
yang berusaha sedangkan pasangan kita tidak mau berusaha? Saya mengatakan, 
dalam satu pernikahan tidak bisa tidak saudara berdua harus menjadi dua orang 
yang mendayung sama-sama. We are part of the problem but we are part of the 
solution as well. Pada waktu kita mengatakan ada hal-hal yang salah dan tidak 
baik dari pasangan kita, tetap kita harus melihat tidak ada
 yang terlepas dari diri dia yang tidak terkait dengan diri saya. Yang saya 
ingin tekankan di dalam 4 khotbah yang lalu pada waktu kita bicara mengenai 
blue print dan prinsip Tuhan bicara mengenai pernikahan, itu tidak boleh kita 
langgar. Kita dipanggil oleh Tuhan sebagai suami yang mencintai istri saya 
unconditionally, sama seperti saya mencintai diri saya sendiri. Dan kepada para 
istri Tuhan perintahkan untuk menghormati suami sama seperti engkau menghormati 
Tuhan. Tinggal bagaimana kasih dan bagaimana hormat itu dijalankan, itu bicara 
mengenai skill, itu bicara mengenai understanding, itu bicara mengenai 
komunikasi. Tetapi yang saya mau adalah kita sungguh-sungguh ingin menjalankan 
blue print itu terlebih dahulu. Kalau itu tidak ada, maka tidak ada orang yang 
bisa menyelamatkan hubungan kita selain kita sendiri. Kalau kita merasa tidak 
ada lagi harapan, kalau kita merasa itu tidak mungkin lagi diperbaiki, kalau 
kita menganggap pasangan kita susah sekali berubah, sulit
 untuk meperbaiki relasi itu. Semua prasangka negatif harus hilang sebelum kita 
berusaha memulai satu relasi yang baik. Yang ada ialah motivasi untuk 
memulainya. Bagaimana kita membangun motivasi itu? Bagaimana kita memiliki hati 
yang positif di dalam relasi kita? Tidak ada jawaban yang lain selain kita 
kembali kepada apa yang Tuhan mau di dalam hidup kita. Bagaimana Tuhan mau 
mengenai relasi di dalam pernikahan saudara, bagaimana Tuhan mau engkau sebagai 
suami, bagaimana Tuhan mau engkau sebagai istri. Maka masing-masing, semua 
kita, di dalam relasi sebagai suami istri harus put effort untuk menjadikan 
pernikahan dan rumah tanggamu menjadi baik dan indah di hadapan Tuhan.
   
  Apakah perlu ada sekolah khusus untuk para suami dan para istri?
  Waktu zaman Orde Baru pernah dikatakan sebagai negara demokrasi, Indonesia 
membuka kesempatan bagi siapa saja untuk menjadi presiden, asal dia sudah 
berpengalaman menjadi presiden. Sekarang saya ingin tanya, siapa di antara 
saudara yang hendak memasuki pernikahan harus berpengalaman menjadi suami? 
Tidak ada, bukan? Bukankah itu pengalaman the first time bagi kita? Menjadi 
ayahpun demikian, bukan? Kalau begitu, apakah perlu ada sekolah untuk para 
suami dan ayah? Memang ada orang mengatakan, sebelum saya punya anak saya sudah 
membaca buku “7 Cara Membesarkan Anak.” Sekarang anak saya sudah 7, tidak ada 
satupun cara dari buku itu yang terpakai. Sebelum menikah, saudara sudah 
membaca 7 buku mempersiapkan pernikahan, sesudah menikah baru tahu semua 
prinsip yang diajarkan buku itu tidak ada yang terpakai. Tidak ada yang punya 
pengalaman menjadi suami sebelum dia memasuki pernikahan. Tidak ada yang punya 
pengalaman menjadi istri. Yang ada di dalam buku-buku konseling yang
 saya baca para ahli hanya mengatakan ada kerinduan, ada motivasi, ada 
keinginan untuk melihat pernikahan itu dengan kacamata positif terlebih dahulu. 
Lalu pelan-pelan baru kita belajar bagaimana memiliki understanding, skill, 
pengetahuan yang lebih maju dan lebih bertumbuh bagaimana menjadi seorang suami 
yang baik dan bagaimana menjadi seorang istri yang baik, yang memerlukan proses 
pendidikan dan skill.
   
  Tidak ada yang lulus dari “sekolah pernikahan” walaupun sudah berpuluh tahun 
menikah, bukan? Tidak ada yang bisa mengatakan dia sudah lulus dan sudah 
selesai sehingga tidak perlu belajar lagi. Kita perlu terus berada dan terus 
mengalami proses yang tidak ada hentinya di dalam relasi dan interaksi kita . 
Itu sebab keep, kuatkan, mau sungguh-sungguh membuat pernikahanmu lebih indah 
dari tahun ke tahun. Dan kedua, ada keinginan untuk belajar bagaimana menjadi 
seorang suami dan seorang istri yang baik. Walaupun ada salah, ada kemungkinan 
meleset, kita tetap mau belajar untuk lebih baik. Itu sebab unskilled dan 
unexamined self itu bicara mengenai hal-hal yang bisa diperbaiki, terutama 
dalam hal miscommunication dan kurangnya understanding.
   
  Di dalam miscommunication dan misunderstanding antara suami dan istri, begitu 
ditanya kepada istri maka kalimat yang sering mereka keluhkan umumnya seperti 
ini, ”...Saya sudah putus asa ngomong sama dia. Percuma ngomong sama suami 
saya, sebab kalau ngomongpun dia tidak mengerti, ngomongpun dia tidak berubah. 
Jadi tidak ada gunanya.” Yang keluar dari mulut suami adalah, ”...Saya berusaha 
mengerti istri tetapi tetap tidak bisa mengerti dia ngomong apa. Jadi lebih 
baik perang dingin saja. Gencatan senjata…” Baru saja suami bicara dua tiga 
kalimat, sudah dibalas oleh istri dua tiga paragraf. Begitu dibalas oleh suami, 
marahlah istrinya.
   
  Bagaimana membangun komunikasi dan understanding yang baik? Ada banyak aspek 
di dalamnya. Gary Chapman saudara tentu tahu bukunya yang terkenal “Five Love 
Languages” memberikan input dan masukan bagaimana suami dan istri berbicara 
dalam bahasa cinta yang dimengerti pasangannya. Satu lagi yaitu Gregory Popcak 
mengatakan miscommunication dan misunderstanding adalah faktor utama di dalam 
problema suami istri. Persoalannya sebab masing-masing menggunakan bahasa yang 
berbeda di dalam berkomunikasi. Suami cinta istri dan menyatakan cinta 
kepadanya tetapi bisa jadi tidak ditangkap dengan tepat karena bahasa cintanya 
yang saling berbeda. Itu sebab Chapman memberi skill bagaimana bisa mengenal 
bahasa cinta pasangan kita. Suami pikir dia menyatakan cintanya dengan setiap 
pagi membuat nasi goreng. Istri begitu keluar dari kamar, komentarnya 
sederhana, “Nasi goreng lagi…” Akhirnya suami kesal dengan reaksi istri. Atau, 
suatu sore waktu suami pulang, istri goyang-goyang di
 depan suaminya sambil bertanya, “Lihat sesuatu yang baru?” Itu pertanyaan yang 
sangat tricky dan menjebak sekali buat suami, bukan? Begitu salah tebak, dia 
langsung marah. “Benar, kan? You tidak pernah care sama saya…”
   
  Dua orang menikah dari dunia yang berbeda dan bahasa yang berbeda, bagaimana 
bisa menciptakan komunikasi yang benar dan tidak menimbulkan misunderstanding? 
Chapman mengatakan ada 5 bahasa cinta yang berbeda. Misalnya, word of 
affirmation. Ada orang yang merasa dicintai kalau dia menerima kalimat-kalimat 
yang encouraging. Itu sebab ada suami yang mendambakan kalimat-kalimat yang 
baik dari istrinya, “I love you,” “Engkau sangat berarti bagiku,” dsb. Tetapi 
kalau bahasa cintanya bukan itu, mungkin bahasa cintanya adalah act of service. 
Tidak perlu ngomong banyak, yang penting lakukan sesuatu. Bahayanya adalah 
kalau kita terlalu sering menggunakan bahasa cinta kita lalu mengabaikan bahasa 
cinta yang lain, mungkin akan terjadi ketegangan dan pertengkaran. Bahasa cinta 
suami adalah act of service lalu dia pikir dengan melakukan hal itu kepada 
istri, itu pernyataan suami mengasihi dia, padahal istri mungkin punya bahasa 
cinta yang berbeda. Popcak melihat orang
 menggunakan inderanya secara khas. Ada orang yang visual, ada orang yang 
auditory, ada orang yang kinesthetic. Umumnya pria lebih visual daripada 
wanita, tetapi ada pria yang tidak visual. Kalau saudara termasuk orang yang 
tidak visual sedangkan istri sangat visual, bisa terjadi konflik. Misalnya 
istri visual sangat memperhatikan penampilannya sedangkan suami tidak pernah 
memperhatikan penampilan dia. Ketimbang marah dan kecewa, sebaiknya istri 
memberitahu suami apa yang dia ingin suami perhatikan dari dia. Suami yang 
visual mempunyai istri yang tidak visual akan kecewa pulang ke rumah melihat 
rumahnya begitu berantakan, sebab saudara menjadikan rumah yang rapih sebagai 
bukti cinta. Pointnya cuma satu yaitu bukan karena tidak saling cinta tetapi 
karena kita memiliki bahasa yang berbeda yang membuat terjadinya 
miscommunication. Caranya adalah belajar mengerti dan melihat pasangan, belajar 
menambah skill kita. Ada banyak buku bicara bagaimana mengerti pikiran pria dan
 pikiran wanita. Istri ingin suami mengasihi dia seperti bagaimana dia 
mengasihi suaminya, sehingga kadang meleset.
   
  Beberapa hal yang perlu suami belajar mengenai istrinya. Kalau wanita mau 
membeli barang, dia tidak akan bilang dia mau barang itu. Saudara yang harus 
sensitif dan memahami bahwa dia menginginkan barang itu. Misalnya, waktu suami 
istri jalan melewati toko kue, lalu istri melihat cheese cake lalu bertanya, 
“Kelihatannya enak, papa mau, tidak?” Pria yang tidak sensitif begitu ditanya 
hanya menoleh dan menjawab, “Tidak mau.” Istri akan mengomel, “Kue cheese aja 
tidak mau beli, pelitnya minta ampun!” Baru kita sadar, ternyata dia mau kue 
itu. “Oh, mama mau ya? Ayo kita balik, beli kue itu.” Sudah terlambat.
   
  Bagaimana kita sebagai pria punya fokus dan feeling yang berbeda. Kita kalau 
lapar, tinggal beli apa yang kita mau. Very simple. Itu yang kita lakukan 
kepada istri kita. Apa susahnya sih? Mau beli ya beli saja. Tinggal yang perlu 
dipikir: mahal atau tidak, harga terjangkau atau tidak, perlu atau tidak. Itu 
pikiran pria. Cara seperti itu kita pakai untuk wanita, tidak akan ketemu 
karena cara mereka berbeda. Yang perlu belajar memahami wanita memang seperti 
itu. Saudara tidak pernah pikir, kenapa dia tanya suami dulu mau atau tidak, 
karena itu tandanya dia memang caring meskipun dia sendiri mau kue itu. Begitu 
kita dituduh pelit, langsung kita ambil dompet lalu bilang, “Ayo, mau beli satu 
lusin juga boleh…” Istri bilang, “No, I lose my appetite. Saya tidak mau makan 
apa-apa lagi. Nanti malam saya juga tidak mau makan dan tidak mau masak.” 
Perdebatan selesai.
   
  Alkitab mengajar kita satu prinsip menarik, hai suami, hargailah istrimu. 
Karena wanita berpikir dia selalu memikirkan suami dan anak lebih dulu, baru 
kemudian pikir diri sendiri, maka tidak ada hal lain yang istri minta dari 
suaminya selain dia belajar sensitif dan menghargainya. Istri sudah bekerja 
setengah mati dan susah payah merawat keluarga, dia hanya minta sedikit 
penghargaan dari suaminya. Sebagai kaum yang lebih lemah dia membutuhkan 
proteksi dan penghargaan dari suaminya. Kalau saudara bisa menghargai istri, 
percayalah kepada saya, saudara akan safe banyak hal dalam hidupmu. Sebagai 
suami kita sering bingung akan cara berpikir istri, tetapi memang sudah begitu 
naturnya. Menjadi suami, saudara harus siap-siap menjadi tukang ramal yang bisa 
menebak apa yang ada di belakang pikiran istrimu. Kenapa istri tidak pernah 
bilang, “Beliin saya dong…”? Karena tidak ada di dalam kamus wanita yang 
meminta seperti itu. Pemberian itu adalah tanda cinta, bukan? Mana ada
 cinta perlu minta-minta? Apakah ada istri, yang begitu suaminya pulang lalu 
minta, “Pa, peluk saya dong.” Yang wanita mau adalah seberapa besar 
sensitifitas suaminya menyatakan cinta kepada dia, menghargai dia. Memang tidak 
gampang dan kadang salah tebak, tetapi lama-lama kita akan bisa menangkap apa 
yang dia inginkan dan apa yang ada di dalam pikirannya.
   
  Yang kedua, bagaimana memiliki understanding supaya komunikasi bisa berjalan 
lebih baik? Saudara dan saya harus mengerti bahwa secara naturnya wanita memang 
memiliki struktur otak dan pikiran yang berbeda dengan pria terutama di dalam 
mengungkapkan permasalahan. Pria menyelesaikan masalah itu satu demi satu. 
Wanita punya otak itu seperti windows yang kena virus, terbuka semua. Mau coba 
mengajak istri menikmati satu dinner yang romantis, baru saja duduk, istri 
langsung berkata, “Dua anak kita ditaruh di rumah sama baby sitter safe atau 
tidak yah? Kompor tadi sudah dimatikan atau belum yah?” Suami bilang, “Jangan 
pikir begitu, ayo kita makan saja.” Istri sudah tidak bisa lagi menikmati 
makanannya. Waktu suami mau peluk dan cium istrinya, istri bilang, “Malu ah, 
dilihat orang.” Buat laki-laki begitu sudah berdua dengan istri, bom jatuhpun 
tidak masalah. Karena otak pria cuma pikir satu hal dalam satu waktu, maka 
sulit memahami pikiran wanita yang begitu kompleks.
 Buat istri, seks dan intimasi dengan suami ada di list paling bawah sedangkan 
suami sebaliknya, pulang kantor yang paling prioritas buat dia adalah intimasi 
dengan istri, mandi belakangan. Sudah berusaha untuk strengthen our marriage, 
akhirnya dirusak dengan kecemasan soal kompor bocor, anak sudah makan atau 
tidak, tahu-tahu bisa teringat dosamu 10 tahun yang lalu, akhirnya suasana jadi 
rusak. Wanita tidak punya daya untuk menutup apa yang muncul dari otaknya. 
Sebentar dia pikir ini, sebentar dia pikir itu. Itu sebab wanita selalu merasa 
ada salah dari pria di dalam memahami danmengerti dirinya. Maka sering terjadi 
pertengkaran ketika wanita merasa pria tidak mengerti apa yang dia katakan atau 
tidak mau berubah. Kalau sudah begitu, kita akan mengalami kesulitan bagaimana 
meng-improve satu komunikasi. Kita perlu belajar apa yang salah, apa yang kita 
perlu mengerti dari cara wanita berkomunikasi. Pria di dalam komunikasi selalu 
bersifat solution oriented, sedangkan wanita
 selalu bersifat feeling and intimacy connected. Jadi pria baru bicara kalau 
dia mau menyelesaikan satu masalah. Wanita berbicara untuk supaya get 
connected. Istri bilang, “Pa, anak kita kok nakal sekali di sekolah…” Suami 
bilang, “Oh, nanti kita beresin dengan gurunya. Kalau perlu anak kita pindah 
sekolah saja.” Istri jadi jengkel dan bilang, “Kamu tidak pernah dengar apa 
yang saya omong.” Suami rasa di-offended karena dia merasa mendengar semua yang 
dibicarakan istrinya.
   
  Kita sering menjadi frustrasi karena kita pikir istri mengerti apa yang kita 
maksud dan celakanya dia pikir dia mengerti apa yang kita maksud, ternyata 
tidak ketemu. Bukan persoalan dengar atau tidak dengar melainkan salah mengerti.
   
  Petrus mengatakan, hargai istrimu, dia adalah kaum yang lebih lemah dan dia 
adalah temanmu. Itu adalah hal yang diperlukan oleh istrimu, suami yang 
melindungi dan menjadi menjadi teman baginya. Yang wanita butuhkan dari 
suaminya adalah telinga yang mendengar dan bahu yang sedia untuk disandari, 
bukan mulut yang memeri solusi. Mendengar buat wanita adalah jangan coba-coba 
fixed. Dan yang perlu kita dengan bukan hanya kata-kata dia tetapi feelingnya. 
Waktu dia melontarkan, “Kok si kecil begini…” Yang dia lontarkan itu cuma 
problem, tetapi yang menjadi feelingnya adalah dia sedang kuatir. Kuatir itu 
bisa disebabkan oleh banyak aspek. Misalnya, mungkin dia guilty karena kurang 
memberi perhatian kepada anak itu. Atau dia guilty karena merasa terlalu 
memanjakan anak itu. Dia takut dan gelisah apakah sikapnya benar atau tidak. 
Jadi yang perlu diselesaikan adalah perasaan guiltynya, bukan pindah 
sekolahnya. Jadi sebagai suami waktu mendengar perkataan istrinya, dia harus
 belajar menangkap kekuatirannya. Lalu setelah menangkap kekuatiran istrinya, 
ada dua hal yang mungkin bisa suami lakukan. Pertama, you tidak perlu bilang 
apa-apa, karena yang dia perlukan adalah listening. Atau yang kedua, you beri 
dia assurance, bukan solusi. Bagaimana menenangkan kekuatirannya, bagaimana you 
selalu ada ketika masalah itu muncul. Sehingga sebagai suami, engkau membantu 
dia seperti itu. Hari ini kita bisa mengenai komunikasi dan understanding, kita 
masing-masing bagaimana belajar dan terus belajar makin indah dan makin 
bertumbuh di dalamnya.(kz)
   
   
   
   
  Sumber:
  
http://www.griisydney.org/ringkasan-khotbah/2008/2008/11/30/strengthening-your-marriage/
   
   
   
  Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio


""Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di 
depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." 
(1Sam. 16:7b)

       
---------------------------------
 Firefox 3: Lebih Cepat, Lebih Aman, Dapat Disesuaikan dan Gratis.

Kirim email ke