From: Arthur Teesen 

Really a guud story of Christmas!!

Pada tahun 1994, dua orang misionaris Amerika mendapat undangan dari Departemen 
Pendidikan Rusia untuk mengajar Moral dan Etika berdasarkan prinsip-prinsip 
Alkitab. Mereka mengajar di penjara-penjara, kantor-kantor, departemen 
kepolisian, pemadam kebakaran dan di panti asuhan.

Panti Asuhan yang mereka kunjungi cukup besar dengan sekitar seratus anak 
laki-laki dan perempuan yatim piatu penghuninya. Mereka adalah anak-anak yang 
dibuang, ditinggalkan dan sekarang dirawat dalam program pemerintah.

Inilah kisah para misionaris tersebut:

"Waktu itu menjelang Natal 1994, saatnya anak-anak yatim piatu kita - untuk 
pertama kalinya - mendengarkan kisah Natal. Kami bercerita tentang Maria dan 
Yusuf, bagaimana setibanya di Bethlehem, mereka tidak mendapatkan penginapan 
hingga mereka akhirnya menginap di sebuah kandang hewan. Di kandang hewan 
itulah akhirnya Bayi Yesus 
lahir dan dibaringkan bunda-Nya dalam sebuah palungan.

Sepanjang kisah itu, anak-anak maupun pengurus panti asuhan begitu tegang; 
mereka terpukau dan takjub mendengarkan Kisah Natal. Beberapa anak bahkan duduk 
di tepi depan kursi seakan agar bisa lebih menangkap setiap kata. Selesai 
bercerita, setiap anak kami beri tiga potong kertas karton untuk membuat 
palungan. Mereka juga mendapat sehelai kertas persegi, sobekan dari kertas 
napkin kuning yang kami bawa. Anak-anak amat senang menerimanya karena di kota 
itu belum ada kertas berwarna.

Sesuai petunjuk, anak-anak mulai menggunting kertasnya dengan hati-hati lalu 
kemudian menyusun guntingan-guntingan kertas kuning sebagai jerami dipalungan. 
Potongan-potongan kecil kain flannel, yang digunting dari gaun malam seorang 
ibu Amerika yang telah meninggalkan Rusia, dipakai sebagai selimut bayi. Bayi 
kecil mirip boneka pun digunting dari lembaran felt yang kami bawa dari Amerika.

Semua anak sibuk menyusun palungannya masing-masing. Saya berjalan di antara 
mereka untuk melihat kalau-kalau ada yang membutuhkan bantuan. 
Semuanya tampak lancar dan baik-baik saja, hingga saya tiba di meja si kecil 
Misha. Misha adalah seorang anak laki-laki berusia sekitar enam tahun. Ia telah 
selesai mengerjakan proyeknya.

Ketika saya mengamati palungan bocah kecil ini, saya merasa terkejut bercampur 
heran. Ada dua bayi dalam palungan Misha. Cepat-cepat saya memanggil seorang 
penerjemah untuk menanyakan hal ini kepada Misha. Dengan melipat kedua 
tangannya di meja, dan sambil memandangi karyanya itu, Misha mulai mengulang 
Kisah Natal dengan amat serius.

Bagi anak sekecil dia, yang baru sekali saja mendengarkan Kisah Natal, ia 
menceritakan semua rangkaian kejadian dengan amat cermat dan teliti, hingga ia 
tiba pada bagian di mana Maria membaringkan Bayinya dalam palungan. Mulailah 
Misha bergaya. Ia membuat sendiri penutup akhir Kisah Natalnya. Katanya:

'Dan ketika Maria membaringkan Bayinya dipalungan, Bayi Yesus melihat aku. Ia 
bertanya apakah aku punya tempat tinggal. Aku katakan kepada-Nya bahwa aku 
tidak punya mama dan juga tidak punya papa, jadi aku tidak punya tempat 
tinggal. Kemudian Bayi Yesus mengatakan bahwa aku boleh tinggal bersama Dia. 
Tetapi aku katakan bahwa aku tidak bisa. Bukankah aku tidak punya apa-apa yang 
bisa kuberikan sebagai hadiah kepada-Nya seperti yang dihadiahkan orang-orang 
dalam kisah itu?

Tetapi aku begitu ingin tinggal bersama-Nya, jadi aku berpikir-pikir, "Apa ya, 
yang aku punya yang bisa dijadikan hadiah untuk-Nya." Aku pikir, barangkali 
kalau aku membantu membuat-Nya merasa hangat, itu bisa jadi hadiah yang bagus.

Jadi aku bertanya kepada Yesus, "Kalau aku menghangatkan-Mu, apakah itu bisa 
dianggap sebagai hadiah?" 
Dan Yesus menjawab, "Kalau kamu menjaga dan menghangatkan Aku, itu akan menjadi 
hadiah terindah yang pernah diberikan siapapun pada-Ku." 

Demikianlah, aku menyusup masuk dalam palungan itu. Yesus memandangku 
dan berkata bahwa aku boleh kok tinggal bersama-Nya untuk selamanya.'

Saat si kecil Misha selesai bercerita, kedua matanya telah penuh air mata yang 
kemudian meleleh membasahi pipinya yang mungil. Wajahnya ia tutupi dengan kedua 
tangannya, kepalanya ia jatuhkan ke atas meja. Seluruh tubuh dan pundaknya 
berguncang hebat saat ia menangis dan menangis.

Yatim piatu yang kecil ini telah menemukan seseorang yang tak akan pernah 
melupakan serta meninggalkannya, yaitu seseorang yang akan tinggal bersamanya 
dan menemaninya - untuk selamanya."

taken from yesaya.indocell.net
==================================================
From: "Donny Adi Wiguna" <[email protected]>

Natal: Pemberian Di Akhir Tahun 2008

1 Tes 2:8 Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja 
rela membagi Injil Elohim dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan 
kamu, karena kamu telah kami kasihi.

Ketika Injil diberitakan untuk pertama kalinya di kota Tesalonika, belum ada 
berita Natal. Belum ada perayaan Natal, atau menghias pohon cemara, atau 
berbagi kue-kue dan kado-kado. Namun di sana ada kasih, seperti dalam berita 
Natal. Di sana juga ada hidup yang dibagi, dalam kasih sayang yang besar. 
Betapa mudahnya kita menemukan kesejajaran antara berita Natal dengan kehidupan 
yang dibagikan di antara orang-orang Tesalonika.

Perhatikanlah: kota Tesalonika adalah kota yang besar. Ini adalah kota 
pelabuhan besar, ibukota Makedonia yang terkenal, bagian dari kerajaan Yunani 
kuno. Bayangkan, betapa banyaknya para pedagang dan tuan tanah yang sibuk di 
sana, masing-masing membawa pegawai dan budak-budaknya sendiri. Semuanya riuh 
rendah beraktivitas, lengkap dengan segala benturan kepentingan di dalamnya: 
urusan dengan penjajah Romawi, 
persaingan dagang, manipulasi politik, dan juga kemerosotan moral yang membawa 
korupsi hebat, manipulatif, dan saling bunuh yang keji. Gejolak di kekaisaran 
Romawi menghilangkan kesatuan dari para penguasa dan pemimpin tentara, dan 
korban yang paling tidak berdaya adalah kaum marginal yang jadi pesuruh, budak, 
juga para perempuan dan anak-anak.

Jangan membayangkan kondisi kota besar saat itu seperti di jaman sekarang. 
Kalau sekarang, orang cenderung bersikap pluralis, sekuler - benar-benar 
memisahkan urusan bisnis dengan kepercayaan. Tetapi pada waktu itu kepercayaan 
adalah bagian dari bisnis. Di samping itu, manusia terbagi atas kelas-kelas 
yang berbeda dan terpisah secara mutlak. Hanya kondisi khusus saja yang mampu 
menerobos batas-batas sosial dan religius yang sudah terpelihara berabad-abad 
lamanya.

Jadi, ketika di abad pertama Rasul Paulus memberitakan Injil, tantangannya luar 
biasa. Orang menghadapi resiko besar untuk menganut sebuah kepercayaan yang 
baru; dia bisa kehilangan banyak hal karena orang mengucilkannya sebagai sumber 
keanehan, yang berarti banyak masalah. Banyak penerima berita Injil adalah 
kalangan menengah dan bawah, yang harus menghadapi penindasan lebih besar serta 
kesulitan yang 
tak terbayangkan. Tapi, betapapun juga, toh mereka menerima Berita Injil itu.

Apa yang disebut Natal? Bagi orang Tesalonika saat itu, barangkali tak ada 
sedikit pun bayangan tentang hari Natal seperti yang kita alami. Tetapi mereka 
memahami tentang pemberian karena kasih sayang yang besar. 
Para pemberita Injil bukan sekedar membagikan berita, melainkan membagi 
kehidupan mereka sendiri. Kiasan Paulus: seperti seorang ibu yang mengasuh dan 
merawati anaknya. Kasih sayang yang ditunjukkan lebih besar daripada 
penindasan, lebih berkuasa daripada kesulitan - sedemikian rupa sehingga 
penindasan dan kesulitan tidak sanggup merebut sukacitanya.

Apakah Natal memberi sukacita kepada kita juga? Hari ini, kita tidak menghadapi 
penindasan atau kesulitan seperti jemaat di Tesalonika. Kita tidak menghadapi 
budaya yang membagi-bagi kelas oleh dinding sosial dan religius - walaupun 
memang masih ada seperti itu - yang tidak dapat ditembus. Kita tidak lagi 
menghadapi perbudakan, meskipun memang masih ada penjajahan. Tetapi, adakah 
sukacita kita dihari Natal lebih besar daripada beban dan pergumulan hidup yang 
harus kita hadapi?

Di penghujung tahun 2008 ini, nampaknya lebih banyak orang yang berbicara 
tentang kesulitan dan masalah yang harus dihadapi. Kita bicara tentang PHK, 
tentang kemunduran ekonomi secara global, tentang hancurnya usaha yang sudah 
ratusan tahun. Kita bicara tentang kegagalan sistem finansial, tak ada lagi 
keamanan, hancurnya harapan.

Harapan siapa yang hancur? Keamanan seperti apa yang hilang? 
Perhatikanlah: semua yang hilang adalah segala hal yang dibuat oleh manusia. 
Sistem finansial yang dibangun bertahun-tahun, dirancang oleh pikiran-pikiran 
cerdas yang diakui dan ternama - itulah yang gagal. Keamanan yang dibuat orang, 
yang didasarkan pada pertumbuhan ekonomi yang (seharusnya) berkesinambungan - 
itulah yang tidak ada lagi. Siapa yang tidak kaget ketiga Bernard Madoff, yang 
sebelumnya menjadi Ketua 
Nasdaq - bursa saham elektronik terbesar dunia - ternyata melakukan penipuan 
menurut skema Ponzi yang penuh janji, dan sekarang gagal total dan menimbulkan 
kerugian hingga US$ 50 Miliar?

Kehadiran Yesus Kristus memberi harapan yang pasti, keamanan yang tidak pernah 
berakhir. Kehadiran Kristus memastikan suatu keadaan yang tidak tergantung pada 
pertumbuhan ekonomi, kemajuan teknologi, atau peningkatan produktivitas 
manusia. Janji yang diberikan Kristus tidak tergantung pada kesanggupan manusia 
melakukan sesuatu, melainkan pada janji Elohim yang tidak gagal, selalu tepat, 
benar, dan pasti. Oleh karena Kristus, kita mempunyai suatu kepastian akan 
hidup yang kekal, dalam keadaan yang sempurna. Jika direnungkan, inilah 
sebenarnya keselamatan: suatu kepastian - suatu misteri yang diselidiki orang 
dari berbagai bangsa, di segala jaman, abad, dan tempat - tentang masa depan.

Masa depan orang-orang yang berada dalam Kristus adalah suatu hal yang pasti. 
Tidak peduli bagaimana pun keadaannya sekarang, miskin atau kaya, pengangguran 
atau pengusaha, gagal atau berhasil, semua yang tetap ada dalam Kristus tetap 
mempunyai kepastian tentang hidupnya kelak. Tidak ada yang dapat mengubahnya, 
tidak ada yang bisa memisahkan manusia dari kasih Kristus, tidak ada yang bisa 
menghentikan kuasa Elohim.

Karena kuasa-Nya besar, maka orang-orang yang berada dalam Kristus juga sanggup 
memberikan kasih sayang seperti yang diberikan Kristus. Mereka bukan hanya 
membagikan berita Injil, melainkan juga memberi hidup kepada orang-orang yang 
mereka layani. Bukankah Kristus juga memberi hidup-Nya, dengan mengosongkan 
diri dan menjadi sama dengan manusia, bahkan sampai mati di kayu salib? Natal 
adalah peristiwa pemberian, suatu perwujudan kasih sayang. Inilah yang 
dilakukan rasul Paulus bagi jemaat Tesalonika. Inilah yang dilakukan para hamba 
Tuhan di berbagai penjuru dunia, tahun demi tahun, abad demi abad. Natal 
menjadi proses yang berulang, terjadi 
dan terjadi lagi: pemberian tanpa pamrih yang terus menerus menjadikan dunia 
tempat yang lebih baik.

Sayangnya, orang masa kini lebih banyak memaknai Natal sebagai peristiwa untuk 
menerima: mendapat order lebih banyak, penjualan lebih besar, atau menerima 
bonus dan kado yang menyenangkan. Ketika dunia masuk dalam kondisi krisis, 
tiba-tiba saja banyak orang menjadi bingung kehilangan makna Natal. Tidak ada 
lagi order, penjualan justru menurun, dan tidak ada pembagian bonus atau kado 
apapun. Apa artinya Natal? Kemurungan terjadi, dan tidak sedikit orang yang 
tidak mau merayakan natal lagi.

Dapatkanlah makna Natal yang sesungguhnya! Bersukacitalah, karena ada harapan 
yang pasti dan keamanan yang tidak pernah berhenti. Bagi anak-anak TUHAN, mari 
kita sungguh-sungguh merenungkan arti perwujudan Yesus Kristus ke dalam dunia, 
sebagai teladan untuk bagi orang yang mengikuti-Nya. Bukan hanya pemberitaan 
Injil, bukan sekedar pembacaan Firman atau kotbah atau renungan, melainkan juga 
hidup yang diberikan bagi sesama.

Ketika anak-anak TUHAN melakukan hal ini, kepastian akan masa depan 
mendatangkan harapan bagi masa kini. Karena tahu pasti akan hidup kekal kelak, 
orang percaya tidak ragu untuk memberi bagi dunia di masa sekarang. 
Pemberiannya adalah kasih sayang yang besar, yang sanggup mempengaruhi orang, 
memimpin orang-orang disekitarnya. Hasilnya adalah suatu komitmen untuk 
membangun, komitmen untuk berusaha serta memberi yang terbaik. Kehidupan 
anak-anak Tuhan mendatangkan kualitas bagi dunia di sekitarnya, suatu kehidupan 
yang memberi sesuai harapan, atau bahkan melebihinya. Maka dunia kembali 
menemukan bahwa anak-anak Tuhan dapat diandalkan, untuk bersama-sama membangun, 
membawa kesejahteraan dan kemakmuran.

Natal adalah proses terus menerus yang kini menjadi bagian kita juga. 
Siapkah kita meneladani Kristus yang mengasihi dan memberi? Kasih, 
kepemimpinan, komitmen, kualitas, dan keandalan. Siapkah kita membawa 
usaha-usaha yang positif, bisnis yang positif, sebagai perwujudan Natal?

Selamat hari Natal 2008 dan Tahun Baru 2009!

Salam kasih,
Donny
================================================
From: Arthur Teesen 

Penerima Penghargaan "Indonesian Gospel Music Award 2008"

. Song of the Year - Sentuh Hatiku, ciptaan Jason Irwanto
. Album of the Year - Sentuh Hatiku produksi Impact Record
. Male Vocalist of the Year - Edward Chen 
. Female Vocalist of the Year - Maria Shandy
. Duo or Group of the Year - Fina Wowor & Rebirth
. Song Writer of the Year - Yudi Hastono
. Journalist Choice Song of the Year - Sentuh Hatiku
. New Artists of the Year - Fina Wowor & Rebirth 
. Instrumental Album of the Year - Aboda Band 
. Indie Album of the Year - The Apostles
. Special Award of the Year - Alm. Ronny Pattinasarany Sebagai 
pemerhati & pendukung perkembangan musik gospel di Indonesia. Pada 
penyelenggaraan IGMA 2006, bersedia membacakan nominasi & memberikan 
award walaupun dalam kondisi kanker stadium 4.

Liputan IGMA 2008 bisa di akses juga di www.liputan6.com bagian Sosial & 
Budaya. Atau langsung klik http://www.liputan6.com/sosbud/?id=170088.

Kirim email ke