From: Hadi Kristadi RUU PRT *Rantai Kebaikan: Kisah Menyentuh di Pentas Kesaksian ( http://pentas-kesaksian.blogspot.com)
*Pada suatu hari seorang pria melihat seorang wanita lanjut usia sedang berdiri kebingungan di pinggir jalan. Meskipun hari agak gelap, pria itu dapat melihat bahwa sang nyonya sedang membutuhkan pertolongan. Maka pria itu menghentikan mobilnya di depan mobil Benz wanita itu dan keluar menghampirinya. Mobil Pontiac-nya masih menyala ketika pria itu mendekati sang nyonya. Meskipun pria itu tersenyum, wanita itu masih ketakutan. Tak ada seorangpun berhenti menolongnya selama beberapa jam ini. Apakah pria ini akan melukainya? Pria itu kelihatan tak baik. Ia kelihatan miskin dan kelaparan. Sang pria dapat melihat bahwa wanita itu ketakutan, sementara berdiri di sana kedinginan. Ia mengetahui bagaimana perasaan wanita itu. Ketakutan itu membuat sang nyonya tambah kedinginan. Kata pria itu, "Saya di sini untuk menolong anda, Nyonya. Masuk ke dalam mobil saja supaya anda merasa hangat! Ngomong-ngomong, nama saya Bryan Anderson." Wah, sebenarnya ia hanya mengalami ban kempes, namun bagi wanita lanjut seperti dia, kejadian itu cukup buruk. Bryan merangkak ke bawah bagian sedan, mencari tempat untuk memasang dongkrak. Selama mendongkrak itu beberapa kali jari-jarinya membentur tanah. Segera ia dapat mengganti ban itu. Namun akibatnya ia jadi kotor dan tangannya terluka. (Kisah yang menyentuh hati ini dapat dilihat kelanjutannya di http://pentas-kesaksian.blogspot.com) ================================================ From: "Hadi Kristadi" <[email protected]> An Amazing Story: Farther than the Eyes Can See <http://2.bp.blogspot.com/_VgocG5b1C-Y/SVl9P9bDO6I/AAAAAAAAAFc/mvEM5wbUgHM/s1600-h/Erik.jpg> *LEBIH JAUH DARI MATA YANG MELIHAT* Meskipun orang-orang mengatakan bahwa ia tidak akan pernah mampu melakukan hal-hal seperti yang dilakukan oleh orang-orang lain, Erik Weihenmayer tidak memercayai vonis itu dan menolak hidup dengan keterbatasan-keterbatasan. Setelah bertarung dengan kebutaannya selama bertahun-tahun, Erik belajar untuk menerima hal itu dan membuatnya sebagai bagian dari kehidupannya. Ia berjuang untuk mengubah masalah menjadi berkat. Pertama-tama ia bergabung dengan regu gulat di SMU, pernah menjadi kapten dan juara gulat kedua di negara bagiannya. Berikutnya Weihenmayer mengambil tantangan mendaki gunung, sebuah hobi yang cukup sulit bagi orang-orang yang penglihatannya sempurna. Pada tanggal 25 Mei 2001, Erik Weihenmayer menjadi satu-satunya orang tunanetra dalam sejarah yang dapat mencapai puncak gunung tertinggi di dunia – Puncak Everest. Pada tanggal 20 Agustus 2008, ketika ia berdiri di puncak gunung Carstenz Pyramid di Papua, puncak gunung tertinggi di belahan Austral-Asia, Weihenmayer menyelesaikan perjuangannya mendaki tujuh puncak gunung tertinggi di tujuh benua. Erik hanya diikuti oleh kurang dari 100 orang pendaki yang berhasil mencapai prestasi hebat ini. Tambahan pula, ia telah mendaki El Capitan, gunung batu monolit granit yang curam setinggi 3300 kaki di Yosemite, dan juga Lhosar, tebing air terjun dengan bekuan es setinggi 3000 kaki di daerah Himalaya, dan tebing batu curam yang paling sulit dan jarang didaki setinggi 17.000 kaki di Kenya. Dalam bulan September 2003, Erik bergabung dengan 320 bintang atlit dari 17 negara untuk berlomba di *Primal Quest*, petualangan dalam berbagai jenis olahraga yang paling keras: 457 mil melalui Sierra Nevada, sembilan hari, 60.000 kaki di antaranya melewati daerah pegunungan, dan tidak ada waktu jeda. Dengan tidur hanya rata-rata dua jam perhari, Erik dan timnya menerobos masuk garis finis di Danau Tahoe, yang menjadi salah satu dari 42 tim yang mencapai garis finish dari 80 tim yang mengikuti start. Setelah mencapai puncak Everest, sekolah *"Braille Without Borders"* bagi para tunanetra di Tibet mengundangnya untuk mengajar para murid untuk mendaki gunung dan tebing. Pengalamannya dalam banyak pendakian mendorong semangat para murid tunanetra itu untuk mencapai keunggulan di bidang yang jarang dimanfaatkan oleh para tunanetra. Erik dan enam orang anggota tim Everest-nya pergi ke Tibet di bulan Mei 2004 untuk melatih para murid di sekolah itu, kemudian di bulan Oktober di tahun yang sama mengajak dan memimpin mereka untuk mendaki Rombuk Glacier di bagian utara Puncak Everest. Meskipun mereka tadinya termasuk orang Paria, para remaja tunanetra itu akhirnya berdiri bersama di ketinggian 21.500 kaki, lebih tinggi dari tim tunanetra manapun dalam sejarah. Steven Haft, produser film Dead Poet's Society dan film berkelas lainnya, mengabadikan pendakian para tunanetra itu dalam film dokumenter dan mengundang tepuk tangan kehormatan (standing ovation) dalam berbagai festival film di Toronto, LA dan London. Film itu telah diputar di bioskop pada tahun 2007 yang lalu. Sebagai mantan guru SMU dan pelatih gulat, Erik merupakan salah satu atlet paling menakjubkan dan terkenal di dunia. Meskipun ia kehilangan penglihatannya di usia 13, Erik telah menjadi pendaki gunung, pemain paraglider, dan pemain ski, yang tidak pernah membiarkan kebutaannya menghalangi semangatnya untuk mencapai kehidupan yang luar biasa dan memuaskan. Prestasi pendakian gunung Erik telah menganugerahinya dengan penghargaan ESPY, penghargaan dari Majalah Time bagi seorang atlit terbaik di tahun 2001. Selain itu ia mendapatkan kehormatan ketika namanya diabadikan di *"National Wrestling Hall of Fame"*, dan mendapatkan penghargaan ARETE untuk prestasi atlit luar biasa di tahun itu, juga meraih penghargaan *"Helen Keller Lifetime Achievement", *dan penghargaan Casey Martin dari Nike, dan penghargaan *"Freedom Foundation's Free Spirit"*. Ia juga diberi kehormatan untuk membawa obor Olimpiade musim panas dan musim dingin. Selain menjadi atlit kelas dunia, Erik juga menjadi penulis buku "Touch the Top of the World", yang diedarkan di sepuluh negara dalam enam bahasa. Menurut Publisher's Weekly, buku kenangan Erik itu sangat menyentuh hati dan penuh petualangan yang luar biasa dan Erik mengisahkan kisah luar biasa itu dengan penuh humor, kejujuran dan rincian yang hidup, sehingga buku itu sangat memberi inspirasi dan dorongan semangat dan kekuatan. Buku itu difilmkan dan ditayangkan di bulan Juni 2006. Buku Erik yang kedua, *"The Adversity Advantage: Turning Everyday Struggles Into Everyday Greatness"* yang ditulis bersama penulis laris dan guru di bidang bisnis, Dr. Paul Stoltz, telah diedarkan di bulan Januari 2007 dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Gramedia. Melalui keahlian Paul di bidang ilmu Pengetahuan dan pengalaman Erik, buku itu membagikan tujuh "puncak" bagi peningkatan daya tahan menghadapi kesulitan dan membalikkan kesulitan menjadi bahan bakar yang tak pernah habis untuk bertumbuh dan mencapai inovasi. Steven Covey, penulis buku terkenal, menulis kata pendahuluan di buku tersebut. Kisah Erik juga ditulis dalam majalah *Time, Forbes, dan Reader's Digest. * Film Erik yang mendapatkan penghargaan, *"Farther Than the Eyes Can See", *diberi peringkat "Duapuluh Paling Top"/Top Twenty dalam jajaran film petualangan sepanjang masa oleh Men's Journal. Dengan meraih hadiah pertama di antara 19 film dan dinominasikan untuk mendapatkan penghargaan Emmy, film itu dengan indah menangkap perasaan, humor, dan drama dalam kisah pendakian Erik yang bersejarah, selain meraih tiga gelar serba pertama oleh timnya: tim pertama yang terdiri dari ayah anak yang sampai di puncak tertinggi, orang paling tua pertama yang sampai di puncak tertinggi, dan tim pertama dengan anggota paling banyak yang sampai di puncak tertinggi. Melalui film ini telah terkumpul dan dibagikan dana sebanyak $ 600.000,- bagi organisasi-organisasi sosial. Prestasi Erik yang sangat luar biasa telah membuatnya diundang dalam acara-acara TV NBC *Today's Show dan Nightly News, Oprah, Good Morning America, Nightline*, dan *Tonight Show*, untuk menyebutkan beberapa di antaranya. Wajahnya juga telah menghiasi halaman sampul depan di majalah *Time, Outside, dan Climbing Magazine. * Pada tahun 1999 Erik bergabung dengan Mark Wellman – orang lumpuh pertama yang mendaki gunung El Capitan setinggi 3000 kaki, dan bersama Hugh Herr, seorang cacat yang kedua kakinya diamputasi dan merupakan seorang ilmuwan di *Harvard Prosthetics Laboratory,* mendaki tebing setinggi 800 kaki di Moab, Utah. Sebagai akibat keberhasilan mereka bersama, ketiganya membentuk organisasi nirlaba "No Barrier"yang bertujuan mempromosikan gagasan-gagasan dan pendekatan inovatif, serta teknologi yang membantu orang-orang cacat untuk mencapai kehidupan yang luar biasa dengan menyingkirkan segala penghalang dan batas dari kehidupan mereka. Erik juga melayani di *National Braille Literacy Champion *atas nama *American Foundation for the Blind*. Karier Erik sebagai pembicara motivasi telah membawanya keliling dunia, mulai dari Hongkong ke Swiss, dari Thailand sampai pertemuan puncak APEC di Chille, selain di seluruh Amerika Serikat. Ia berbicara kepada banyak orang tentang bagaimana meningkatkan daya juang melawan kesulitan (Adversity Quotient), pentingnya tim yang saling terjalin erat, dan bagaimana menghadapi kesulitan sehari-hari untuk mengejar impian anda. Semua pencapaian dan prestasi Erik membuktikan kepada kita semua bahwa orang tidak perlu punya penglihatan yang sempurna untuk mendapatkan visi yang luar biasa. "Kebutaan tidak akan mencegah saya untuk bersenang-senang," kata Erik penuh keyakinan. Ia menghadapi "kemalangannya", yakni kebutaannya, dan mengubahnya untuk menjadi kekuatan dengan memanfaatkan panca indera yang lain untuk menjadi lebih peka. Ia telah berhasil mengatasi kesulitan-kesulitan dan tantangan-tantangan yang hanya bisa dilakukan oleh sedikit orang saja. (Sumber: Website Erik Weihenmayer dan Tabloid Keluarga edisi 40/Desember 2008, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon keterangan ini jangan dihilangkan ketika anda memforward/memposting di website/blog anda - terima kasih banyak) ==================================================== Selalu ada Inspirational Stories di http://pentas-kesaksian.blogspot.com =================================================== From: Romo maryo “Waktu ini adalah waktu yang terakhir” (1Yoh 2:18-21; Yoh 1:1-18) “Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir. Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita. Tetapi kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus, dan dengan demikian kamu semua mengetahuinya. Aku menulis kepadamu, bukan karena kamu tidak mengetahui kebenaran, tetapi justru karena kamu mengetahuinya dan karena kamu juga mengetahui, bahwa tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran” (1Yoh 2:18-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.. Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Hari ini adalah hari terakhir tahun 2008 dan kita akan segera memasuki tahun baru 2009. Pada umumnya pada hari terakhir atau akhir aneka kegiatan, usaha atau pekerjaan dan tugas, orang menngadakan evaluasi diri atau mawas diri, maka marilah kita mawas diri perihal kepribadian dan keimanan kita masing-masing. “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yoh 1:9-11) . Kutipan dari Injil Yohanes ini kiranya dapat menjadi inspirasi untuk mawas diri: apakah kita semakin menerima atau menolak “Terang”, Penyelamat Dunia, yang telah lahir dan hadir di tengah-tengah kita. Jika kita telah semakin menerima ‘Terang” berarti kita semakin baik, semakin suci, semakin banyak sahabat atau semakin dikasihi baik oleh Tuhan maupun sesama manusia. Tambah usia dan pengalaman berarti tambah sahabat dan teman. Sebaliknya jika kita menolak atau tidak sepenuhnya menerima “Terang” berarti kita semakin bertambah dosanya, tambah kenalan bukan tambah sahabat tetapi musuh alias semakin dibenci banyak orang. Rasanya jika kita cermat dan jujur mawas diri dalam diri kita masing-masng pasti lebih banyak tambah keutamaan dan kebaikan daripada kejahatan atau dosa, maka baiklah mengakhiri tahun 2008 ini kita bersyukur kepada Tuhan, karena keutamaan dan kebaikan yang ada pada kita atau kita miliki tidak lain adalah anugerah Tuhan yang kita terima melalui saudara-saudari atau sesama kita. Marilah kita saling bersyukur dan berterima kasih, agar dalam memasuki tahun baru 2009 kita juga berjiwa baru, hidup dengan penuh syukur dan terima kasih. Kita juga bersyukur dan berterima kasih karena “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran “(Yoh1:14) · “Kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus, dan dengan demikian kamu semua mengetahuinya” (!Yoh 2:20) Kita telah menerima anugerah Roh Kudus, yang memampukan atau memberdayakan kita semua untuk melihat segala sesuatu dengan terang atau jelas: siapa Tuhan, siapa sesama manusia, apa itu harta benda. Tuhan adalah yang menciptakan dan menghidupi kita, sehingga sampai kini kita dalam keadaan sehat dan segar bugar; Dia harus kita layani, hormati dan puji baik dalam doa-doa maupun secara konkret melalui sesama dan saudara-saudari kita, karena kita sama-sama manusia ciptaan Tuhan, yang paling luhur dan mulia di dunia ini. Maka siapa itu manusia tidak lain adalah ciptaan terluhur dan termulia di dunia ini, dan dengan demikian selayaknya kita saling melayani, menghormati dan memuji, sehingga tejadilah pesaudaraan atau persahabatan sejati dalam kebersamaan hidup kita dimanapun dan kapanpun. Harta benda atau uang adalah sarana atau alat bagi kita untuk dapat semakin saling melayani, menghomati dan memuji; dengan kata lain siapapun yang semakin kaya akan harta benda atau uang hendaknya juga semakin dihormati, dilayani dan dipuji, bukan karena ia kaya melainkan karena ia juga semakin dapat melayani, menghomati dan memuji banyak orang dengan harta benda atau uangnya. “Elohim menghendaki, supaya bumi beserta segala isinya digunakan oleh semua orang dan sekalian bangsa, sehingga harta benda yang tercipta dengan cara yang wajar harus mencapai semua orang, berpedoman pada keadilan, diiringi dengan cintakasih. Bagaimana pun bentuk-bentuk pemilikan, sesuai dengan ketetapan-ketetapan hukum bangsa-bangsa, pun menurut situasi yang serba berbeda dan berubah-ubah, selalu harus diindahkan bahwa harta benda bumi diperuntukkan bagi semua orang” (Konsili Vatikan II: GS no 69) “Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, biarlah gemuruh laut serta isinya, biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya, maka segala pohon di hutan bersorak-sorai di hadapan TUHAN, sebab Ia datang, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya “ (Mzm 96:11-13)

