APOLOGETIKA: APA DAN BAGAIMANA?
  Pendalaman Alkitab GKRI Exodus, 13 Juni 2006
   
  oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.
   
   
   
   
  Pengantar: Terminologi dan Sejarah Singkat
  Istilah “apologetika” berasal dari bahasa Yunani apologia, yang berarti 
“pembelaan”. Salah satu contoh paling terkenal dari penggunaan kata ini dalam 
literatur Yunani adalah pembelaan (apologia) Socrates di depan pengadilan 
Athena. Kata apologia juga dipakai dalam Alkitab sebanyak 8 kali (Kis. 22:1; 
25:16; 1Kor. 9:3; 2Kor. 7:11; Flp. 1:7, 16; 2Tim. 4:16; 1Ptr. 3:15), sedangkan 
kata kerja apologeomai (“membela”) muncul sebanyak 10 kali (Luk. 12:11; 21:14; 
Kis. 19:33; 24:10; 25:8; 26:1, 2, 24; Rm. 2:15; 2Kor. 12:19).  
   
  Dari pemakaian di atas terlihat bahwa kata apologia atau apologeomai bisa 
berhubungan dengan pembelaan secara hukum, pribadi maupun doktrinal. Dalam 
penggunaan selanjutnya istilah apologia dipakai sebagai istilah teknis untuk 
aktivitas membela iman Kristen. Orang Kristen berusaha memberikan penjelasan 
maupun jawaban terhadap kritik dan kesalahpahaman pihak luar. Aktivitas yang 
sudah dimulai oleh para rasul ini diteruskan di sepanjang sejarah gereja. 
Sebagian bapa gereja berusaha memberikan pembelaan terhadap para pengajar sesat 
maupun pemerintah Romawi yang menganiaya orang Kristen. Mereka dikenal dengan 
sebutan “kaum apologetis”, misalnya Justin Martyr, Clement dan Agustinus. 
Secara umum dapat dikatakan bahwa apologet pada zaman ini lebih berhubungan 
dengan isu keagamaan dan politik. 
   
  Upaya ini juga masih diteruskan pada zaman skolastisisme. Seiring dengan 
berkembangnya filosofi dan perubahan paradigma filosofi ke arah 
Aristotelianisme, para pemikir Kristen mulai menghadapi situasi yang baru ini 
dengan cara yang berbeda. Theologi dan filosofi mulai berebut tempat sebagai 
ilmu utama. Di sinilah benih dualisme antara iman dan rasio mulai bertumbuh. 
Zaman skolastik berhasil melahirkan sejumlah pembela iman yang terkenal, 
misalnya Thomas Aquinas, Anselmus, Dons Scotus,  dan William Ocham. Pembelaan 
iman dalam periode ini lebih bersifat filosofis dan berhubungan dengan banyak 
isu yang cenderung spekulatif (Alkitab tidak memberikan penjelasan yang 
eksplisit tentang isu-isu tersebut). 
   
  Pada zaman reformasi para reformator juga melakukan pembelaan iman. Martin 
Luther menempelkan 95 dalil di pintu gerbang gereja Wittenberg dan mengundang 
siapa saja untuk berdebat dengan dia, baik secara lisan maupun tulisan. Dalam 
konteks ini, Luther membela ajaran Alkitab terhadap ajaran Katolik yang 
dianggap menyimpang. John Calvin juga membuat buku Institutio edisi pertama 
untuk membela orang Kristen (Protestan) yang dianiaya oleh pemerintah Prancis.  
   
  Dalam periode selanjutnya, usaha apologetik semakin diperlukan, karena 
semangat zaman yang rasional (antisupernatural) dan sekularisasi terus-menerus 
menjadi ancaman bagi Kekristenan. Berbagai isu baru mulai menjamur, misalnya 
ateisme (tidak ada Allah), deisme (Allah tidak mengontrol ciptaan-Nya), 
rasionalisme (hanya yang bisa dipahami oleh akal yang benar), empirisisme 
(kebenaran harus bisa diulang-ulang). Akibat paling buruk dari beragam filosofi 
antisupranaturalis tersebut adalah sikap yang salah terhadap Alkitab. Alkitab 
hanya dilihat sebagai tulisan kuno karya manusia saja yang kredibilitasnya 
harus diragukan. Isu kontemporer terbaru yang dihadapi orang Kristen sekarang 
adalah filosofi relativisme yang menolak kebenaran mutlak. Dari pola pikir 
relativis inilah muncul berbagai ancaman terhadap iman Kristen, misalnya 
pluralisme dan moralitas baru. Semua situasi di atas mendorong munculnya 
sejumlah apologet Kristen ternama, baik yang berfokus di bidang
 filosofis-teologis, moral-kultural maupun biblikal, misalnya Cornelius Van 
Til, C. S. Lewis, Francis Schaeffer, Norman Geisler, Josh McDowell, William 
Lane Craig, Gleason L. Archer, Oswald T. Allis, Paul Feinberg, John Frame, R. 
C. Sproul.
   
   
   
  Tujuan
  Terlepas dari perdebatan yang ada di kalangan tokoh apologetika, secara umum 
tujuan apologetika ada dua. Pertama, negative atau defensive apologetics. 
Apologetika dipahami hanya sebagai pembelaan iman saja. Tugas orang Kristen 
adalah memberikan penjelasan atau bantahan terhadap kesalahpahaman maupun 
kritikan yang ditujukan secara langsung kepada orang Kristen. Isu yang biasanya 
dijadikan target oleh orang non-Kristen adalah doktrin Tritunggal dan dwi-natur 
Kristus.  
   
  Kedua, positive atau offensive apologetics. Apologetika juga berusaha 
memberikan argumen positif untuk membuktikan kebenaran iman Kristen. Para 
apologet berusaha memberikan bukti-bukti rasional untuk membuktikan eksistensi 
Allah, ke-Allahan Yesus maupun kebangkitan-Nya. Dalam hal ini, apologetika 
menyentuh isu misi (penginjilan).
   
   
   
  Metodologi 
  Salah satu inti perdebatan apologetika terletak pada metodologi. Para ahli 
berbeda pendapat tentang jenis argumen yang dapat digunakan maupun cara 
menanggapi orang-orang yang non-Kristen. Dengan kata lain, isu ini terkait 
dengan epistemologi, yaitu cara mencapai sebuah kebenaran. Ada banyak 
metodologi dalam apologetik, namun hanya beberapa di antaranya yang akan 
dibahas dalam makalah ini. 
   
  Pertama, classical method. Metode ini memulai pendekatan dengan theologi 
natural untuk membuktikan theisme sebagai cara pandang (world-view) yang benar. 
Setelah menunjukkan kebenaran theisme, penganut metode ini selanjutnya 
memaparkan bukti-bukti historis tentang kebenaran Alkitab, keilahian dan 
kebangkitan Kristus untuk membuktikan bahwa Kekristenan adalah theisme yang 
paling tepat. Tokoh apologetik yang menganut pandangan ini antara lain R. C. 
Sproul, Norman Geisler, William Lane Craig, dan Stephen T. Davis. 
   
  Kedua, the evidential method. Metode ini memiliki banyak kesamaan dengan 
classical method. Perbedaan antara keduanya terletak pada nilai mujizat sebagai 
bukti. Bagi penganut metode ini, mujizat tidak mengasumsikan adanya Allah, 
tetapi hanya sebagai salah satu bukti saja. Mereka lebih terfokus pada isu 
legitimasi dari akumulasi berbagai argumen historis dan induktif. Dalam diskusi 
tentang eksistensi Allah, penganut evidential method berusaha membuktikan 
theisme dan theisme Kristen secara simultan. Mereka mungkin akan memulai dengan 
faktualitas kebangkitan Yesus. Dari sini mereka selanjutnya membuktikan bahwa 
hal yang tidak biasa itu bisa terjadi hanya jika Allah seperti di Alkitab ada. 
Setelah itu, mereka memberikan bukti kesamaan antara Allah dan Yesus untuk 
menunjukkan keilahian Yesus. Metode ini dianut oleh John W. Montgomery, Clark 
Pinnock, Wolfhart Pannenberg, dan Gary Habermas. 
   
  Ketiga, the cumulative case method. Menurut penganut metode ini, apologetika 
Kristen tidak selalu bersifat formal (mengikuti pola deduktif-induktif yang 
umum). Mereka lebih menekankan cara melihat seluruh data yang ada melalui 
hipotesa/teori tertentu yang dianggap lebih konsisten dan komprehensif dalam 
menafsirkan seluruh data tersebut. Bagi mereka, penjelasan Kristiani (Alkitab) 
lebih masuk akal dalam menjelaskan berbagai data yang ada, misalnya keteraturan 
alam, realitas keagamaan yang universal, objektivitas moral, dan berbagai data 
historis lainnya (misalnya daya historis tentang kebangkitan Yesus). Penganut 
metode ini antara lain Paul Feinberg, C. S. Lewis, C. Stephen Evans. 
   
  Keempat, the presuppositional method. Penganut metode ini menganggap tidak 
ada dasat pijakan (common ground) yang cukup bagi orang Kristen dan 
non-Kristen, karena efek dosa atas pikiran manusia. Mereka hanya mengasumsikan 
kebenaran Kristiani sebagai titik awal dalam apologetika. Allah dalam Alkitab 
bukan hanya dianggap sebagai konklusi, tetapi juga awal dan kerangka berpikir. 
Berdasarkan hal ini, mereka berusaha membuktikan bahwa cara pandang non-Kristen 
adalah salah (dalam arti tidak mampu menjelaskan pengalaman keagamaan mereka di 
dunia. Metode ini dipegang oleh John Frame, Cornelius Van Til, Gordon Clark. 
   
  Terakhir, the reformed epistemology method. Penganut metode ini beranggapan 
bahwa suatu kebenaran tidak selalu perlu dibuktikan. Percaya tanpa bukti 
merupakan sesuatu yang secara rasional bisa diterima. Sebagai contoh, mereka 
tidak setuju bahwa eksistensi Allah perlu dibuktikan. Bukankah sensus divinitas 
(rasa keilahian) dalam diri setiap manusia cukup membawa orang percaya kepada 
Allah tanpa bantuan bukti tertentu? Jadi, penganut metode ini lebih bersifat 
defensif. Tokoh terkenal yang memegang metode ini adalah Alvin Plantinga dan 
Kelly J. Clark. 
   
  Solusi bagi perdebatan di atas bisa sangat panjang dan rumit. Yang perlu 
diingat adalah cara orang non-Kristen berepistemologi juga berbeda. Allah bisa 
membuat orang  percaya melalui beragam cara. Ia bahkan bisa membuat orang 
percaya tanpa orang tersebut menuntut bukti rasional.
   
   
   
  Sikap Dalam Berapologetika 
  Alkitab memberikan pedoman yang sangat eksplisit di 1 Petrus 3:15-16. 
Walaupun apologetika berhubungan dengan masalah aspek kognitif (intelektual), 
namun bukan berarti bisa dipisahkan dari kesalehan hidup orang Kristen. 
Perintah untuk memberikan apologia dimulai dengan pengudusan Kristus dalam 
hati. Ungkapan ini berhubungan dengan totalitas hidup orang Kristen secara 
umum. Ketika memberikan apologetika pun orang Kristen harus melakukannya dengan 
cara Kristiani, yaitu lemah-lembut, hormat, dan tulus.
   
   
   
  Pedoman Praktis 
  Berikut ini adalah beberapa pedoman praktis dalam berapologetika.
  1.       Temukan presuposisi seseorang. Presuposisi inilah yang mendasari 
argumen, cara menafsirkan data dan pernyataan seseorang. Kita perlu berlatih 
untuk menganalisa tingkatan logika yang dipakai: pernyataan à argumen à 
data/bukti à silogisme à presuposisi.
  2.       Analisa validitas presuposisi tersebut. Analisa ini menyangkut 
pemakaian common ground dan pendekatan yang tepat.
  3.       Paparkan bukti-bukti positif.
  4.       Lakukan semua langkah di atas dengan lemah-lembut, sopan, dan hati 
yang tulus untuk membawa orang tersebut pada kebenaran.
  5.       Berdoalah kepada Tuhan, karena Tuhanlah yang menjadi penentu apakah 
seseorang akan menerima kebenaran atau menolaknya.
   
   
   
   
  Sumber:
  http://www.gkri-exodus.org/page.php?APO-Apologetika
   
   
   
   
  Profil Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.:
  Ev. Yakub Tri Handoko, M.A., Th.M., yang lahir di Semarang, 23 November 1974, 
adalah gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus, Surabaya 
(www.gkri-exodus.org) dan dosen di  Institut Theologi Abdiel Indonesia 
(ITHASIA) Pacet serta dosen tetap di Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR) dari 
GKRI Exodus, Surabaya. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di 
Sekolah Tinggi Alkitab Surabaya (STAS); Master of Arts (M.A.) in Theological 
Studies di International Center for Theological Studies (ICTS), Pacet, 
Mojokerto; dan Master of Theology (Th.M.) di International Theological 
Seminary, U.S.A. Mulai tahun 2007, beliau sedang mengambil program gelar Doctor 
of Philosophy (Ph.D.) part time di Evangelische Theologische Faculteit (ETF), 
Leuven–Belgia.
   
   
   
   
  Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.


""Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di 
depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." 
(1Sam. 16:7b)

       
---------------------------------
  Dapatkan alamat Email baru Anda!  
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!

Kirim email ke