Ringkasan khotbah Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Sydney, Australia 
tanggal 14 Desember 2008
     Memperkokoh Kehidupan Pernikahan Kristen-7  Miscommunication and 
Misunderstanding about Intimacy     oleh: Pdt. Effendi Susanto, S.Th.
   
   
   
   
  Nats: Amsal 12:4; 1 Petrus 3:1-7; Kidung Agung 7:6-13, 8:7
   
   
   
   
  “Istri yang cakap adalah mahkota suaminya. Tetapi yang membuat malu adalah 
seperti penyakit yang membusukkan tulang suaminya” (Ams. 12:4)
   
  Dua minggu terakhir ini saya bicara mengenai aspek kesulitan di dalam relasi 
antara suami istri muncul disebabkan karena ketidakmampuan mereka berkomunikasi 
dengan bahasa yang saling dimengerti satu sama lain. Maka miscommunication dan 
misunderstanding merupakan faktor yang sangat penting sekali untuk dimengerti 
di dalam keharmonisan suami dan istri. Persoalannya sederhana saja, tinggal 
bagaimana kita lebih memahami pasangan kita membutuhkan tehnik, kemampuan dan 
edukasi. Itu sebab mari kita belajar sama-sama dari kebenaran firman Tuhan dan 
dari pengalaman begitu banyak orang boleh menjadi berkat bagaimana saudara dan 
saya bertumbuh di dalam relasi sebagai suami dan istri yang dikehendaki oleh 
Tuhan.
   
  Saya mengingatkan para suami bagaimanapun sesudah menikah, saudara tidak 
boleh “close the chapter” dan menganggap proses perjalanan cinta itu sudah 
selesai. Istri itu ingin terus menerus diyakinkan oleh suaminya bahwa engkau 
begitu mencintai dia setiap saat dan itu dibuktikan dengan sikap dan tindakan 
yang konkrit darimu. Ini adalah kebutuhan setiap istri karena umumnya wanita 
memiliki insecurity ketika dia merasa tidak ada lagi cinta di tengah-tengah 
hubungan kalian. Tetapi berbeda dengan para pria. Sebelum menikah, laki-laki 
rela mengejar wanita dengan luar biasa. Namun setelah wanita bertekuk lutut dan 
menyatakan cintanya, maka pria menganggap misinya sudah selesai dan komplit. 
Inilah yang sering menjadi penyebab timbulnya pertengkaran dan percekcokan di 
antara suami istri. Yang kedua, bagaimana kita memahami hubungan suami istri 
lebih indah yaitu dalam hal lebih mengerti bahasa cinta yang berbeda di antara 
mereka. Gary Chapman menulis buku “Five Love
 Languages” bicara mengenai lima bahasa cinta yang mungkin berbeda antara suami 
dan istri. Persoalan bisa muncul bukan karena sudah tidak lagi saling 
mencintai, tetapi karena masing-masing berbicara dengan bahasa yang berbeda 
sehingga menimbulkan kesalah-pahaman di dalam komunikasi. Gary Chapman 
mengatakan paling tidak ada lima bahasa cinta, yaitu:
  1.      Word of Affirmation, yaitu seseorang merasa dia dicintai kalau 
pasangannya mengeluarkan kata-kata yang bersifat affirmation, admiration, dan 
encouragement kepada dia. Suami yang mempunyai bahasa cinta ini ingin mendengar 
istrinya say “I love you,” menyatakan caring dengan kata-kata yang mesra, dsb.
  2.      Acts of Service, yaitu seseorang menyatakan cinta dengan melakukan 
pelayanan yang kelihatan. Mungkin istri saudara tidak bisa mengatakan “I love 
you,” tetapi saudara tidak pernah kekurangan makan setiap hari. Dengan 
menyediakan makanan yang enak dan lezat untuk dia itu adalah bukti cintanya 
kepadamu. Kalau itu yang menjadi bahasa cinta istrimu, maka diapun ingin 
saudara menyatakan cinta dengan cara dan sikap yang sama. Buat dia, dia tidak 
perlu kata-kata yang mesra, tetapi inisiatif saudara mengerjakan tugas-tugas di 
rumah tanpa diminta adalah tanda cinta saudara yang konkrit untuknya. Jika act 
of service yang dia lakukan untukmu mendapat respons penolakan, maka itu akan 
menjadi suatu kesedihan yang dalam baginya.
  3.      Gifts, yaitu ada orang menyatakan cintanya dengan memberi 
hadiah-hadiah yang berkesan. Itu yang menjadi bahasa cinta dia dan dia juga 
ingin pernyataan saudara diberikan dengan hadiah-hadiah yang berkesan. Maka 
saudara mungkin perlu belajar bagaimana memberi sesuatu kepadanya.
  4.      Quality Time, cinta dinyatakan dengan kehadiranmu di sisinya, 
mendampinginya, berada di sekitarnya, bercakap-cakap dengannya, dsb.
  5.      Physical Touch, orang yang memiliki bahasa cinta ini akan merasa 
dicintai kalau dia mendapatkan sentuhan dan belaian. 
   
  Namun Gregory Popcack mengingatkan orang yang mahir menyatakan satu bahasa 
cinta cenderung menggunakannya terus sehingga tidak berusaha belajar 
menggunakan bahasa yang lain. Berbicara dengan bahasa cinta yang berbeda sering 
kali menjadi faktor penyebab miscommunication yang terjadi. Akhirnya pasangan 
yang tidak mendapatkan pemenuhan di dalam bahasa cintanya, mungkin setelah 
belasan tahun menikah, mengeluh bahwa dia tidak lagi dicintai oleh pasangannya. 
Kalimat seperti ini saya rasa tidaklah terlalu benar, sebab bisa jadi bukan 
cintanya sudah tidak ada tetapi ada dua aspek penting mungkin confused di situ. 
Satu, yaitu waktu membahasakan cintanya berbeda sehingga pasangan merasa tidak 
dicintai. Kedua, cinta tetap ada tetapi bentuk dari cinta itu mengalami 
perubahan. Kalau seseorang mengatakan dia merasa pasangannya tidak mencintai 
dia lagi, mungkin asumsi di baliknya adalah dia ingin cinta pasangannya terus 
menerus bersifat romantis. Saudara yang sudah lama menikah akan
 mengalami perubahan. Awalnya romantis, tetapi mungkin setelah lima sepuluh 
tahun cintanya akan mengalami perubahan. Ini yang disebutkan oleh Dr. Les 
Parrott waktu membahas mengenai 5 stages of love yaitu:
  1.      Romance: ini adalah tahap di awal relationship. Saudara duduk 
bersama, ngobrol, itu merupakan keindahan yang tidak habis-habisnya.
  2.      Power Struggle: ini mungkin terjadi setelah pernikahan berusia 3-5 
tahun di mana pasangan menghadapi banyak pertengkaran dan keributan. 
Masing-masing pihak ingin mengambil kontrol atas keluarga. Mungkin keributan 
karena anak, karena pekerjaan, karena karier, dsb. Dalam fase ini pasangan 
belajar bagaimana mengatasi power struggle ini.
  3.      Cooperation: dalam fase ini pasangan mulai saling bekerja sama, 
saling mengasihi dan saling membantu. Masing-masing berpikir pasangannya bisa 
mengambil keputusan yang lebih baik dan mempercayakan hal-hal tertentu diatur 
olehnya.
  4.      Mutuality: di situ bukan lagi cinta romantik tetapi lebih merasa 
pasangannya sebagai “soul mate” di mana masing-masing saling membutuhkan, 
menjadi pendamping. Itu akan terjadi pada waktu pernikahan mungkin sudah 
berjalan 25-50 tahun. Di situ intimacy terpenuhi waktu duduk sama-sama, jalan 
sama-sama, dsb.
  5.      Co-Creativity: ini fase yang matang di dalam perjalanan cinta 
seseorang sehingga pada waktu kita menjadi lebih tua, kita menemukan cinta itu 
menyebabkan mereka tidak lagi melihat mereka berdua tercipta untuk eksklusif 
satu sama lain, tetapi cinta mereka bisa mengalir bagi orang-orang di sekitar 
mereka dan mendatangkan kontribusi yang indah di dalam komunitas mereka.
   
  Hari ini saya secara khusus akan bicara mengenai hal yang konkrit yaitu 
bagaimana ekspresi cinta itu dinyatakan di dalam hubungan suami istri yaitu 
hubungan seksual mereka. Kalau ditanyakan secara jujur kepada pria, umumnya 
buat mereka cinta itu diekspresikan di dalam hubungan seksual. Maka suami 
merasa tidak ada lagi cinta di antara dia dengan istrinya, ujung-ujungnya akan 
berkaitan dengan hubungan seksual yang tidak harmonis di antara mereka. Dia 
mungkin tidak lagi merasakan kehangatan cinta dari istrinya. Setiap kali suami 
menginginkan hubungan seksual itu, istri mengeluh cape, atau mau menidurkan 
anak dan akhirnya dia sendiri yang ketiduran. Akhirnya suami kecewa dengan 
sikap istrinya dan merasa tidak dicintai lagi.
   
  Ketika istri mengatakan suaminya sudah tidak lagi mencintai dia, yang 
dikeluhkan umumnya suami tidak lagi romantis dan yang ada di pikirannya hanya 
seks semata-mata. Dulu mungkin dia pulang membawa surprise hadiah untuk 
istrinya, mengajak dinner berdua, baru diakhiri dengan hubungan di kamar tidur 
yang berkesan. Kata istri, “Sekarang boro-boro. Yang ada sekarang dia bersikap 
kasar dan setelah hubungan berakhir dia tidur ngorok menghadap dinding.”
   
  Itu sebab saya ingin bicara mengenai hal yang begitu konkrit menjadi struggle 
di dalam relasi suami istri yaitu di dalam memahami konsep mengenai cinta di 
dalam hubungan seks mereka. Pria dan wanita memang berbeda di dalam beberapa 
hal. Para suami perlu mengerti bahwa berhubungan seks dengan suami adalah 
daftar paling akhir dari “list to do” mereka karena yang ada di pikiran istri 
dipenuhi dengan kegiatan rutin mulai dari mengurus anak sampai mengurus rumah 
tangga yang tidak habis-habisnya. Bangun pagi yang langsung terpikir adalah 
mengurus anak, masak, mencuci pakaian, menyeterika, membersihkan kamar mandi, 
buang sampah, memotong rumput, dst. Tetapi sebaliknya bagi suami hubungan seks 
ada di prioritas nomor satu. Maka tidak ketemu, bukan? Maka kita perlu mengerti 
akan beberapa hal Pertama, kita harus terima bahwa secara naturnya istri 
memiliki sexual drive yang lebih rendah daripada suaminya. Itu berkaitan dengan 
aspek hormonal, itu juga berkaitan dengan periode
 siklusnya. Sexual drive pria itu “eveready” sedangkan wanita tidak seperti 
itu. Maka dari hal itu saja kita sudah bisa menemukan bahwa sexual drive pria 
dan wanita berbeda luar biasa.
   
  Kedua, sexual drive pria itu bermesin jet sedangkan sexual drive wanita 
bermesin diesel. Artinya, di dalam intimacy pria tidak membutuhkan waktu yang 
panjang sedangkan sexual drive wanita dimulai dari pagi hari dan berakhir di 
malam hari. Itu sebab Dr. Kevin Leman menulis buku “Sex begins in the Kitchen” 
untuk mengajarkan kepada suami, kalau mulai dari pagi hari istri sudah stress 
menghadapi persoalan di dapur maka jangan harap persoalan di kamar tidur nanti 
malam menjadi indah. Malam akan diisi dengan persoalan dapur, persoalan kamar 
mandi yang bocor, persoalan sekolah anak, dll. Pria tidak seperti itu. Penulis 
“Men are like waffles and Women are like Spaghetti mengatakan otak pria lebih 
berbentuk seperti wafel yang punya kompartemen yang terpisah-pisah sedangkan 
pikiran wanita saling melibat satu sama lain. Maka bicara mengenai intimasi 
seksual akan berkaitan dengan dapur, akan berkaitan dengan vacuum cleaner, akan 
berkaitan dengan kamar mandi, dsb. Pria punya
 kompartemen seperti wafel, urusan kamar mandi sendiri, dapur sendiri. Tidak 
seperti wanita, bagi pria, bau tulang ikan di dapur tidak akan mengganggu kamar 
tidur bahkan di otaknya dia bisa ubah itu menjadi bau mawar. Maka untuk istri 
mengerti otak suami itu simple sekali, otaknya berkotak-kotak, kadang-kadang 
tidak ada isi di dalamnya. Otak pria mudah memilah persoalan. Wanita tidak 
seperti itu. Itu sebab menyadari bahwa wanita itu bermesin diesel maka 
bagaimana sebagai pria perlu belajar teknik ini. Dengan mengerti hal ini, pria 
yang mau menjalani hubungan yang indah di malam hari harus rela berbagian sejak 
pagi hari, dengan inisiatif membantu di dapur dan di sekitar rumah, sehingga 
istri melihat suami yang penuh perhatian akan menjadi lebih rileks dan bahagia.
   
  Ketiga, sexual drive istri itu tidak ada kaitannya dengan tubuh suaminya. 
Wanita tidak merasa terganggu dengan penampilan suami, apakah dia bertubuh 
atletis atau tidak. Sehingga suami perlu mengerti dan tidak usah kuatir begitu 
istri tidak bergairah menyambut suami, itu tidak ada hubungannya dengan 
penampilan fisik saudara. Tetapi dalam hal ini istri perlu mengerti bahwa 
demikianlah yang ada di dalam pikiran suamimu. Jadi sexual drive istri bukan 
berkaitan dengan penampilan tubuh suami tetapi berkaitan dengan hatinya, 
berkaitan dengan emosionalnya, berkaitan dengan perasaannya. Sehingga kalau 
hari ini dia penuh dengan sukacita, segala sesuatu bisa berjalan dengan beres, 
maka sexual drive istri akan berkembang dengan baik. Sehingga sebagai seorang 
suami, saudara belajar memperhatikan hal-hal yang kecil dan membantu 
membereskan segala sesuatu supaya kita bisa menyenangkan istri kita.
   
  Tetapi berbeda dengan suami, maka wanita harus menyadari aspek ini, beberapa 
hal berkaitan dengan sexual drive pria. Banyak istri salah mengerti bicara 
mengenai seks dan love. Banyak istri berpikir suaminya hanya mau seks saja. Ini 
adalah konsep yang keliru. Saudara perhatikan kenapa Alkitab menyebut salah 
satu kebutuhan yang paling penting dari pria adalah soal respek. Baik Petrus, 
baik Paulus, baik penulis kitab Amsal, semua berkaitan dengan respek. Istri 
yang cakap, artinya istri yang memiliki attitude yang appropriate sewaktu deal 
dengan suaminya adalah mahkota bagi suaminya. Tetapi istri yang disgraceful, 
yang melakukan hal-hal yang memberi hormat kepada suaminya, Amsal mengatakan 
itu seperti penyakit bagi tulang suaminya. Petrus mengatakan, hai istri, 
tunduklah kepada suamimu. Dengan cara seperti itu, suamimu yang tidak percaya 
Tuhan, yang mungkin menghina dan kasar kepadamu, tetapi dengan sikapmu yang 
calm, gentle spirit, itu bisa mengalahkan kekerasan hati
 suamimu. Bukan soal berdandan yang membuat suamimu tertarik tetapi bagaimana 
engkau respek dan hormat kepada dia, itu yang penting. Jujur kalau ditanya 
kepada suami, sebenarnya bukan seks itu sendiri yang menjadi penting tetapi 
bagi suami sebenarnya yang penting adalah sexual fulfillment. Maksudnya adalah 
seks bagi suami itu bukan hanya berkaitan dengan sexual drive tetapi berkaitan 
dengan dua kebutuhan yang lain yaitu kebutuhan direspek dan kebutuhan 
dibutuhkan. Sehingga pada waktu seorang istri mengatakan “tidak” kepada 
suaminya sering kali menjadi miscommunication di dalam intimasi seksual di mana 
suami merasa dia tidak lagi direspek dan tidak lagi dibutuhkan oleh istri. 
Padahal itu sama sekali tidak ada di pikiran istri. Tetapi buat kebanyakan 
suami ketika penolakan terjadi, dia merasa istrinya tidak membutuhkan dia lagi. 
Rejection dan penolakan sering kali dikaitkan suami seperti itu. Kalau begitu, 
bagaimana menyelesaikannya? Maka kita perlu mengkomunikasikannya
 dengan benar bagaimana di dalam relasi intimasi itu kita jadikan sebagai 
sesuatu yang indah dan yang Tuhan berkati.
   
  Sekali lagi kita mengerti apa itu “rohani” bukan dalam pengertian tidak 
berhubungan seksual. Itulah yang ditegur oleh Paulus kepada ajaran guru-guru 
palsu yang muncul di gereja Korintus dan di gereja di mana Timotius melayani. 1 
Korintus 7:1-5 memperlihatkan Paulus menjawab pertanyaan dari jemaat bahwa ada 
ajaran di gereja Korintus bahwa lebih baik bagi pria untuk tidak kawin. Buat 
Paulus mengingat bahaya bisa terjadi hubungan seksual yang tidak benar, dia 
menganjurkan pria untuk menikah. Dan selanjutnya dia mengingatkan bahwa di 
dalam pernikahan suami tidak boleh egois dan hanya memikirkan diri sendiri, 
tetapi mengutamakan istrinya, dan demikian juga sebaliknya istri berkewajiban 
memenuhi kebutuhan suaminya. Sebab inilah prinsipnya: ketika kita menikah kita 
sudah memberi hidup kita kepada pasangan kita, maka masing-masing tidak lagi 
berkuasa atas dirinya sendiri tetapi tubuhmu menjadi milik pasanganmu. Namun 
ada masanya mungkin tidak ada hubungan seksual untuk
 sementara waktu dan atas persetujuan dua belah pihak demi untuk fungsi 
spiritualnya yaitu mungkin untuk berdoa khusus, dsb tetapi tidak boleh 
lama-lama karena itu berbahaya. Paulus tidak mau jemaat jatuh ke dalam hubungan 
seksual yang tidak benar. Maka pernikahan bukan saja keinginan Tuhan yang 
dirancang-Nya sejak penciptaan, tetapi pernikahan itu juga merupakan salah satu 
institusi yang Tuhan berikan dengan tujuan untuk mencegah tidak terjadi bahaya 
percabulan dan hubungan seksual yang tidak benar.
   
  Di dalam surat kepada Timotius 1 Timotius 4:3 ada ajaran yang beredar bahwa 
orang Kristen tidak boleh berhubungan seksual karena itu adalah hal yang tidak 
rohani, hubungan seksual dianggap dosa. Ini sekarang bukan hanya menjadi 
pendapat orang tetapi menjadi larangan. Ada orang yang melarang orang untuk 
menikah, ada orang melarang makan itu dan ini, maka Paulus bilang itu adalah 
ajaran sesat. Kenapa? Muncul prinsip teologisnya: karena semua yang Tuhan cipta 
itu baik dan berkat dari Tuhan yang harus kita terima dengan ucapan syukur 
kepada Tuhan. Jadi seks tidak ada kaitannya dengan soal rohani atau tidak 
rohani. Hubungan intimasi seksual merupakan anugerah Tuhan bagi manusia yang 
hidup di atas muka bumi ini. This is part of His good creation. Tuhan beri 
kemampuan berhubungan seksual sebagai bagian yang Tuhan cipta di dalam diri 
saudara yang diekspresikan di dalam kehangatan intimasi menjadi suatu ucapan 
syukur dan menjadi sesuatu yang indah bagi kekuatan hubungan antara
 suami dan istri.
   
  Terakhir, ada 5 hal yang ingin suami katakan kepada istrinya tetapi dia tidak 
sanggup dan tidak tahu bagaimana menyatakannya:
  1.      Bahwa dia sangat mengasihi istrinya, tetapi kata-kata itu mungkin 
sulit keluar dari mulutnya.
  2.      Bahwa dia ingin istrinya lebih memperhatikan penampilan dirinya. 
Betapa mereka ingin melihat istrinya charming dan put effort di dalam 
penampilan.
  3.      Bahwa dia butuh dihormati baik de depan umum maupun di dalam rumah.
  4.      Bahwa dia butuh lebih sering dalam hal seksual intimasi tetapi dia 
tidak berani mengatakan hal itu kepada istrinya.
  5.      Bahwa dia ingin istrinya mengerti ada begitu banyak beban berat di 
dalam pikirannya bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga dan ingin berusaha 
mati-matian bekerja bagi kesejahteraan keluarga. Inilah lima hal yang suami 
ingin nyatakan kepada istrinya cuma tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata 
dari mulutnya tetapi itu memenuhi pikirannya.
   
  Kiranya semua ini menjadi satu pengertian yang membuka hati dan pikiran kita 
supaya kita bisa memiliki komunikasi yang lebih dalam di dalam hubungan suami 
dan istri.  (kz)
   
   
   
   
  Sumber:
  
http://www.griisydney.org/ringkasan-khotbah/2008/2008/12/14/miscommunication-and-misunderstanding-about-intimacy/
   
   
  Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio
   


""Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di 
depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." 
(1Sam. 16:7b)

       
---------------------------------
  Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik. 
 Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang!

Kirim email ke