From: "Kisah" <[email protected]>
Edisi 103 -- "The Last Waltz"
PENGANTAR
Tentu Anda sudah tidak asing lagi dengan perumpamaan "Anak yang
Hilang" yang pernah dituturkan oleh Yesus semasa pelayanan-Nya.
Perumpamaan itu berkisah tentang si bungsu yang pergi ke kota dan
berfoya-foya dengan uang ayahnya. Ketika uang itu habis, dia takut
kembali lagi ke rumah. Terbayang di benaknya bagaimana nanti ayahnya
akan memarahi dan bahkan menghukumnya akibat kelakuannya tersebut.
Tapi ternyata apa yang ditakutkannya selama ini tidak terjadi. Ketika dia
menginjakkan
kakinya kembali di rumah, ayahnya merangkul dan menciumnya, bahkan
mengadakan
sebuah pesta penyambutan yang besar atas kepulangannya.
Terkadang dalam hidup, kita melakukan dosa dan kita terlalu takut
untuk kembali kepada Bapa. Kita terkadang lupa bahwa ketika kita
berbuat dosa, Bapa sedang menangis dan menanti kepulangan kita
kembali pada-Nya. Semoga pada hari Natal ini kita kembali diingatkan akan
kasih Bapa
dan pengorbanan-Nya yang sungguh besar terhadap umat manusia.
Redaksi Tamu KISAH,
Yohanna Prita Amelia
______________________________________________________________________
KESAKSIAN
"THE LAST WALTZ"
Namaku Lily, kami tinggal di sebuah kota kecil di Manado. Sejak
muda, ibuku senang sekali menari. Untuk itu, saat pernikahannya,
Ayah meminta agar tarian terakhir ibu dipersembahkan untuknya. Maka
dari itu, lagu pertama pada saat ibu menari adalah "The Last Waltz"
dari Engelbert Humperdinck. Dan rupanya ini benar-benar menjadi kenyataan,
karena
beberapa bulan kemudian pada saat melahirkan aku, ibu meninggal dunia.
Daddy -- begitulah aku memanggil Ayah, karena kasihnya kepada ibu,
Daddy tidak pernah mau menikah lagi. Aku dibesarkan oleh Daddy dan
Nenek, dan setiap malam Natal, sudah merupakan tradisi bagi Daddy
untuk selalu mengalunkan lagu kesayangannya, "The Last Waltz",
sambil mengingat ibu. Ketika aku berusia 5 tahun, Daddy mengajari aku menari
waltz.
Sejak saat itu, setiap malam Natal, kami menari waltz berdua. Pada
hari ulang tahunku yang kedua belas, bertepatan dengan malam tahun
baru, Daddy memberikan hadiah kepadaku berupa "long dress" berwarna
merah, dan kami berdua menari waltz.
Pada saat itu, aku benar-benar merasa seperti sang putri dalam kisah
Cinderella yang sedang menari dengan sang pangeran. Daddy sangat
mengasihiku sehingga hampir semua permohonanku selalu dikabulkan
olehnya, ia benar-benar mengabdikan hidupnya hanya untukku.
Namun, setiap hari Daddy harus bekerja seharian di kantor dan ia
sangat sibuk, sehingga satu-satunya yang membimbing aku di rumah
adalah Nenek. Kurangnya perhatian Daddy membuat aku terjerumus dalam
pergaulan bebas, dan akhirnya mulai menggunakan dan kecanduan
narkoba. Hampir setiap hari aku pulang malam.
Walaupun demikian, Daddy selalu menunggu kepulanganku dengan sabar.
Ia baru bisa tidur setelah aku pulang. Pada malam Natal, aku lebih
senang merayakannya di diskotek bersama anak-anak muda lainnya
daripada bersama Daddy. Karena itulah Daddy merasa sedih, bahkan
untuk pertama kalinya aku melihat Daddy mengeluarkan air mata.
Karena kebutuhanku akan narkoba semakin meningkat, akhirnya aku
mencuri uang tabungan Daddy yang seharusnya digunakan untuk masa
tuanya, dan melarikan diri ke Jakarta dengan harapan aku bisa
mendapatkan pekerjaan dan bisa hidup mandiri di sana.
Pada hari-hari pertamaku di Jakarta, aku menumpang di rumah Om.
Ternyata, mencari pekerjaan di Jakarta tidak semudah yang aku
bayangkan, sehingga akhirnya aku terpaksa melamar bekerja di klub
malam "Blue Ocean" sebagai pramuria. Kalau dulu aku menari dengan
Daddy, di sana aku terpaksa menari dengan pria yang sebaya dengan
Daddy, bahkan tak jarang, aku bersedia menemani mereka tidur di hotel.
Setelah sebulan aku berada di Jakarta, aku menerima surat dari Daddy
yang dialamatkan ke kosku, rupanya Daddy mengetahui alamat kosku
dari Om. Dalam seminggu, aku menerima tiga surat dari Daddy, bahkan
terkadang lebih. Tetapi, tak satu pun suratnya kubalas. Jangankan
kubalas, kubuka pun tidak. Aku merasa malu dan tidak berani membaca
surat dari Daddy. Aku merasa berdosa terhadap Daddy, bahkan aku
merasa jijik terhadap diriku sendiri.
Sudah lebih dari 1 tahun aku di Jakarta. Surat-surat yang
kukumpulkan ada dalam beberapa dus. Semuanya kusimpan dengan rapi,
hanya sayangnya surat-surat itu sekadar menjadi pajangan bagiku,
karena aku tidak berani dan tidak mau membukanya. Aku tidak ingin
Daddy mengetahui bahwa gadis kesayangannya, gadis yang demikian
dibanggakannya, telah menjadi seorang pramuria, bahkan telah menjadi
pecandu berat narkoba.
Beberapa hari sebelum Natal, aku menerima surat lagi, ditulis dengan
tulisan tangan yang sama, dan bentuk sampul yang sama. Namun, kali
ini tidak dikirim melalui pos maupun ke alamat kosku, tetapi dikirim
dan dititipkan langsung ke klub malam tempat aku bekerja. Dan,
ketika aku menanyakan siapa yang menitipkan surat tersebut, ternyata
dari gambaran yang diberikan, orang yang menitipkan surat itu adalah
Daddy. Daddy datang sendiri ke Jakarta hanya untuk mengantarkan surat
untukku.
Kali ini, aku tidak tahan ingin membukanya. Dengan air mata yang
berlinang, aku membaca surat itu, isinya demikian: "Lily, my dearest
beloved princess, Daddy sejak lama tahu di mana kamu bekerja, Daddy meminta
satu
hal: 'Maukah kamu pulang kembali ke rumah untuk menari bersama Daddy?'"
Setelah membaca surat tersebut, aku langsung pulang ke kos untuk
membaca ratusan surat lainnya yang belum kubuka, ternyata semua
surat Daddy isinya sama. Ia menanyakan hal yang sama: "Maukah Lily
menari lagi bersama dengan Daddy?"
Hari itu juga aku langsung mengambil keputusan untuk pulang. Karena
menjelang Natal, hampir semua pesawat "fully book", terpaksa aku
membeli tiket dengan harga yang jauh lebih mahal, dengan harapan
bahwa aku bisa sampai di rumah sebelum malam Natal.
Setibanya di rumah, Daddy langsung memelukku erat, air matanya
berlinang deras membasahi kepalaku. Dengan terisak-isak, Daddy
bertanya sekali lagi, "Maukah Lily menari lagi bersama Daddy?" Aku
mengangguk sambil menjawab, "Ya, tetapi apakah Daddy tahu, bahwa
sekarang ini Lily bukanlah princess Daddy yang dulu? Aku adalah
seorang pramuria yang kotor, bahkan telah mengidap penyakit AIDS, apakah
Daddy
tidak malu menerimaku kembali, apakah Daddy tidak takut ketularan
penyakitku?"
Daddy tidak berkata sepatah kata pun, ia bergerak, memutar lagu
kesayangannya, "The Last Waltz". Kemudian ia memelukku dengan penuh
kasih untuk mengajak aku menari seperti hari-hari Natal sebelumnya,
kali ini tidak hanya diiringi irama lagu, tetapi juga oleh tetesan air mata
yang berderai.
Tanpa kuketahui, sejak aku meninggalkan Daddy, ia sering bergadang
menunggu dan mengharapkan kedatanganku kembali. Selain itu, karena
duka yang mendalam, Daddy mengidap kanker. Sekitar 2 minggu setelah
Natal, Daddy mengembuskan napas untuk terakhir kalinya.
Rupanya, ia merasakan bahwa kematian telah dekat. Karena itulah,
dalam keadaan sakit, ia memaksakan diri pergi ke Jakarta untuk
mengantarkan surat kepadaku, hanya untuk mewujudkan keinginannya
yang terakhir, agar ia bisa mendapatkan kesempatan sekali lagi
menari dengan putri kesayangannya. Masih terngiang-ngiang
di telingaku lirik lagu kesayangannya, "The Last Waltz A little girl
alone and so shy/I had the last waltz with you/Two lonely people
together/I fell in love with you/The last waltz should last
forever/But the love we had was goin' strong."
Menjelang Natal ini, banyak orang tua mengharapkan dan menunggu
kedatangan anak-anaknya. Bagaimana pun keadaan dan situasi kita saat
ini, orang tua kita menerima kita apa adanya, dengan segala
kelemahan dan kelebihan kita. Terlebih lagi, mereka tidak mau
mengingat kesalahan-kesalahan kita di masa lalu. Hanya satu yang
mereka inginkan, yaitu berkumpul bersama putra-putrinya di hari
Natal, melihat dan memeluk mereka. Berapa lama lagi kita akan
menyuruh mereka menunggu? Datang dan kembalilah sebelum terlambat!
Kalau keadaan tidak memungkinkan, teleponlah mereka sambil
mengatakan, "Aku mencintaimu, Ayah dan lbu. Selamat Natal."
Renungkanlah: Apabila kita manusia yang penuh dosa bisa mengasihi
sedemikian rupa, betapa lebih besarnya kasih Elohim, Sang Bapa, yang
tanpa dosa dan yang tak pernah memikirkan diri sendiri, kepada kita (Matius
7:11).
Ya, Bayi Suci di Betlehem,
belailah kami dengan tangan-Mu yang mungil,
peluklah kami dengan lengan-Mu yang kecil,
tembuslah hati kami dengan tangis-Mu yang lembut dan manis.
Datanglah kepada kami, tinggElohim bersama kami, Ya, Tuhan, Imanuel. Amin.
-MANG UCUP
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: My Favourite Christmas
Penulis: Mang Ucup
Penerbit: Gloria Cyber Ministries, Yogyakarta 2006
Halaman: 18 -- 25
______________________________________________________________________
Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku,
dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan
bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali,
ia telah hilang dan didapat kembali." (Lukas 15:31-32)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=Lukas+15:31-32 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA
1. Doakan mereka yang pada hari Natal ini tidak bisa berkumpul
dengan keluarganya. Kiranya kasih Tuhan senantiasa menyelimuti
hati mereka dan menghangatkan hati yang sedang kesepian.
2. Doakan setiap hati yang masih terhilang dan merindukan sebuah
kedamaian dalam hati mereka. Kiranya Tuhan boleh menjamah mereka,
sehingga mereka menemukan kedamaian di dalam Kristus.
3. Doakan supaya hari Natal kembali mengingatkan setiap individu
akan arti Natal yang sebenarnya, di mana seorang Juru Selamat
boleh lahir dan setiap manusia yang percaya padanya beroleh
keselamatan dan hidup yang kekal
===================================================
From: "Kisah" <[email protected]>
Edisi 104 -- Penyertaan Tuhan Yesus Kristus bagi yang Masih Bimbang
PENGANTAR
Sua lagi di tahun yang baru, tahun 2009!
Segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini tidak terlepas dari
rencana Tuhan. Terkadang, kita merasa Tuhan tidak mengasihi kita
karena sudah memberikan cobaan yang begitu berat. Atau mungkin kita
berpikir bahwa Tuhan tidak pernah menjawab doa-doa kita. Sebagai
orang yang telah ditebus-Nya, jangan sekali-kali kita meragukan
penyertaan Tuhan atas hidup ini. Tuhan tahu yang terbaik bagi kita.
Setiap hal yang Ia izinkan terjadi atas hidup ini adalah untuk
menunjukkan kasih-Nya kepada kita, dan untuk menunjukkan kuasanya
yang ajaib bagi setiap orang yang berharap pada-Nya. Mungkin juga
ini merupakan cara yang Tuhan pakai untuk membawa kita agar kembali
dan lebih dekat lagi pada-Nya. Ya, jalan Tuhan memang sulit untuk
kita selami, namun Ia tidak pernah merancangkan yang buruk atas
anak-anak-Nya. Jadi, jika saat ini pergumulan kita belum Ia jawab,
jangan pernah berhenti untuk berharap. Ia tahu kapan waktu yang
terbaik untuk menjawab setiap pergumulan kita. Tuhan Yesus memberkati.
Selamat memasuki tahun yang baru ini dengan yakin teguh akan
penyertaan dan kasih-Nya. Ia sudah memberikan nyawa-Nya, apa lagi
yang lebih besar dari itu?
Pimpinan Redaksi KISAH,
Novita Yuniarti
______________________________________________________________________
KESAKSIAN
PENYERTAAN TUHAN YESUS KRISTUS BAGI YANG MASIH BIMBANG
Tanggal 10 November 2007 kira-kira pukul 16.00 WIB, saya memerbaiki
genteng rumah yang bocor. Tapi karena saya kurang hati-hati, saya
terpeleset dan meluncur ke bawah dengan posisi duduk mundur, terus
ke kanopi, dan jatuh ke jalan (paving block) dengan posisi terduduk
dan kemudian terhempas ke belakang (punggung menghempas ke jalan).
Setelah itu saya tidak bisa bangun -- duduk, apalagi berdiri.
Saya berteriak, kemudian ditolong oleh anak saya, Kevin, dan
keponakan saya, Indra -- yang pagi harinya baru saja tiba dari
Malang. Saya menelepon istri dan membawa saya ke rumah sakit tulang.
Di sana, saya dirontgen dan dirujuk MRI di RSSI. Hasil rontgen
menunjukkan ada tiga bagian tulang saya yang terganggu: tulang
punggung T12 retak (kompresi), tulang ekor terdorong ke depan, dan
tulang duduk kanan retak. Saya diberi obat tulang, antiradang, dan
pengurang rasa sakit. Kemudian deskripsi diagnosis dokter RSSI atas
hasil MRI mengatakan bahwa pada tulang punggung saya, T11 dan T12,
telah terjadi radang (sponsdilitis).
Selanjutnya, dokter tulang mencari jenis radang tersebut dan
akhirnya berkeyakinan bahwa itu adalah radang TBC tulang, walaupun
dokter saraf meragukannya. Mulai tanggal 18 November 2007, saya
diberi pengobatan anti-TBC. Setelah 2 minggu, dokter tulang
merencanakan operasi tulang punggung untuk membersihkan radang dan
akan memasang pen pada dua ruas di atas T12 dan dua ruas di
bawahnya. Ini akan menyebabkan saya cacat tulang punggung (kaku,
tidak fleksibel, tidak bisa membungkuk lagi seumur hidup). Di
samping itu, obat anti-TBC yang saya konsumsi memunyai efek samping
-- terganggunya fungsi hati dan rasa mual yang amat sangat.
Tanggal 18 November 2007, saya mulai dirawat dengan obat anti-TBC.
Sejak itu, penderitaan dimulai. Saya merasa mual yang amat sangat
dari pagi hingga malam, rasa nyeri/sakit pada tulang yang retak,
sakit dari otot, dan daging yang memar akibat jatuh. Saya merasa
jenuh dan hampir putus asa. Saya coba untuk menaikkan pujian
"Mujizat itu Nyata", tapi lama-lama saya merasa bosan dan berhenti.
Saya berdoa agar Tuhan memberi kelegaan, pertolongan, dan
menyembuhkan saya. Tapi karena tidak ada perubahan apa-apa, maka doa
saya pun menjadi pendek: "Tuhan Yesus, tolong saya. Tuhan Yesus,
tolong saya." Itu pun lama-lama menjadi lebih pendek lagi: "Tuhan
Yesus, Tuhan Yesus ...." Dan akhirnya berhenti sama sekali. Saya
sadar dan merasakan bahwa saya ini tidak ada artinya di hadapan
Tuhan. Jika saja Tuhan Yesus menolak saya dengan mengatakan: "Hai,
siapakah kamu? Aku tidak mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku!",
maka pastilah saya sudah tamat! Tetapi Tuhan itu sangat baik.
Tiba-tiba, saya mendapatkan pengertian dan saya percaya bahwa ini
adalah karya Roh Kudus.
a. Saya mendapat rhema dari firman Tuhan yang intinya mengatakan
bahwa apabila kita bertobat dan menerima Tuhan Yesus Kristus
sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi kita, maka kita
diselamatkan oleh-Nya dan dijadikan anak-Nya. (Yohanes 1:12)
b. Saya diingatkan status saya sebagai seorang anak. Apa pun yang
saya butuhkan, saya bisa memintanya dari orang tua saya. Bahkan
jika saya lapar, maka saya bisa langsung mengambil tindakan:
pergi ke dapur, mengambil piring dan sendok, membuka lemari,
mengambil makanan, dan menikmati makanan itu sampai kenyang.
Dengan demikian, saya bisa menolong diri saya sendiri dengan
menggunakan fasilitas orang tua saya. Seharusnya demikian pula
dengan fasilitas yang telah diberikan bagi saya dari Bapa Surgawi.
c. Pujian yang dinaikkan oleh KW pada saat membesuk saya,
kata-katanya menguatkan sekali: "Ku tak akan menyerah pada apa
pun juga, sebelum kucoba semua yang kubisa ...!
Ketiga hal tersebut mendorong saya untuk melakukannya saat itu juga.
Lalu saya berdoa dan menggunakan "fasilitas surgawi", yaitu kuasa
kasih Tuhan Yesus Kristus yang memulihkan dan memberi kelegaan.
Lalu, saya mengucapkan kata-kata berikut: "Kuasa kasih Tuhan Yesus
Kristus, turunlah dari surga melingkupi saya. Merekatkan
tulang-tulang saya yang patah dan retak, menguatkannya, menyembuhkan
luka-luka saya, dan mengangkat kuman-kuman penyakit yang ada di
tubuh saya." Saya mengulangi kata-kata tersebut sambil mengangkat tangan.
Tiba-tiba, saya merasakan sesuatu terjadi. Dimulai dari sekitar
tulang ekor saya -- kulit bagian luar merinding disertai rasa panas.
Terus melebar sampai ke dada dan paha. Ini berlangsung sekitar 10 --
15 detik, sampai-sampai suatu saat saya merasa seperti terangkat
dari tempat tidur! Saya tidak merasakan sentuhan punggung saya
dengan alas tidur saya. Rasanya panas seperti berendam di "whirpool"
air panas! Semua rasa sakit pada tulang, otot, dan daging yang memar
hilang! Rasa jenuh, bosan, dan putus asa, hilang! Yang ada gembira,
sukacita, dan penuh semangat!
Baru saya sadari bahwa itulah penyertaan Tuhan untuk saya. Sambil
menangis, saya mengucap syukur kepada Tuhan karena tidak
meninggalkan saya. Dia mengasihi saya. Itulah mukjizat yang pertama,
dan malam itu pun saya bisa tidur nyenyak. Keesokan harinya,
pagi-pagi saya sudah bangun dan setelah diseka (pengganti mandi),
saya merasa lapar. Telur rebus yang biasanya selalu saya tolak, pagi
itu saya lahap habis. Sarapan biasanya hanya dua sendok, pagi itu
habis setengah porsi. Begitu juga makan siang dan makan malam, saya
bisa makan lebih banyak, termasuk buah-buahan. Hal ini merupakan hal
yang aneh, karena sebelumnya saya selalu merasa mual.
Tanggal 5 Desember 2007, saya diperiksa di SGH dan ditangani Prof.
Tan Seang Beng, Direktur Departemen Bedah Orthopedi SGH. Di sana,
gambar hasil MRI saya dinilai jelek mutunya sehingga beliau tidak
dapat mengambil kesimpulan dan saya harus dirontgen ulang, dan
apabila hasil rontgen ulang masih meragukan, maka saya harus
mengulang MRI di SGH. Dari hasil rontgen ulang dan pemeriksaan
fisik, dokter Tan menyatakan bahwa yang saya alami adalah fraktur
tulang biasa dan itu pun hanya terjadi pada T12, sementara ruas
lainnya normal. Beliau mengatakan dengan tingkat keyakinan 95 persen
bahwa dalam waktu 3 bulan, tulang saya bisa pulih kembali dan
setelah 3 bulan, saya harus diperiksa ulang. Mengenai radang tulang,
beliau menyatakan tidak melihat hal tersebut, hasil rontgen saya
bersih. Lalu saya dirujuk ke dokter ahli penyakit infeksi.
Tanggal 7 Desember 2007, saya diperiksa dokter ahli penyakit infeksi
(Dr. Asok Kurup). Semua hasil MRI dan rontgen diperiksa ulang.
Lagi-lagi beliau menyatakan tidak melihat adanya radang tulang apa
pun dan beliau menyatakan agar obat anti-TBC yang saya konsumsi
dihentikan. Saya masih penasaran dan menanyakan apakah masih ada
cara lain yang lebih meyakinkan? Beliau menyebutkan: periksa darah
lengkap termasuk TB Serology Quantiferon dan pemeriksaan cairan
tulang belakang. Pemeriksaan cairan tulang belakang tidak disarankan
karena beliau sudah yakin dari gambar rontgen. Karena ingin lebih
yakin, maka saya menjalani tes darah lengkap. Lima hari kemudian,
Dr. Asok Kurup mengirim email dan menyatakan bahwa tes TB Serology
Quantiferon atas darah saya hasilnya ... negatif! Dari batas > 0,35
IU/ml, darah saya hanya 0,12 IU/ml. Artinya, saya tidak menderita
TBC tulang! Tuhan telah mengangkat apa yang dikatakan oleh dokter
tulang sebagai radang TBC tulang. Dengan demikian, saya bisa
menghentikan pengobatan anti-TBC dan tidak perlu operasi tulang belakang.
Keraguan atas penyertaan dan pertolongan Tuhan merupakan tanda bahwa
kita kurang memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan. Ini harus
diperbaiki. Ingatlah akan Imanuel, sungguh benar bahwa Tuhan kita
tidak pernah meninggalkan kita, ini sesuai dengan janji-Nya: "Aku
akan menyertai kamu sampai kepada akhir zaman." Mukjizat Tuhan itu
nyata. Pertolongan Tuhan bagi anak-anak-Nya adalah pasti. Yang perlu kita
lakukan
hanyalah percaya dan tetap berserah kepadanya. Elohim memiliki waktunya
sendiri.
Kiriman dari: Frigard Harjono <frigard(at)>
______________________________________________________________________
"Tetapi semua orang yang menerima-Nya, diberi-Nya kuasa supaya
menjadi anak-anak Elohim, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya."
(Yohanes 1:12)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=Yohanes+1:12 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA
1. Doakan Frigard Harjono beserta keluarga, agar Tuhan senantiasa
memberikan kemampuan dan hikmat untuk mengenal Kristus lebih lagi.
2. Berdoa juga untuk setiap orang percaya yang saat ini sedang
bimbang dan meragukan pertolongan Tuhan, agar Tuhan menjamah
hidup mereka sehingga mereka memiliki kekuatan dan tetap
berpengharapan di dalam Tuhan.
3. Mengucap syukur atas setiap penyertaan dan pemeliharaan Tuhan
atas hidup setiap orang percaya, meskipun sedang dalam masa-masa
sulit. Mengucap syukur karena kita memiliki Elohim yang baik,
Elohim yang tidak pernah meninggalkan kita, dan Elohim yang selalu
peduli terhadap kehidupan anak-anak-Nya.
______________________________________________________________________
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) 2009 YLSA
YLSA -- http://www.ylsa.org/
http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
Pimpinan Redaksi: Novita Yuniarti
Kontak: < kisah(at)sabda.org >
Berlangganan: < subscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org >
Berhenti: < unsubscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org >
Arsip KISAH: http://www.sabda.org/publikasi/Kisah/
Situs KEKAL: http://kekal.sabda.org/