From: "Kisah" <[email protected]>

Edisi 103 -- "The Last Waltz"

PENGANTAR

   Tentu Anda sudah tidak asing lagi dengan perumpamaan "Anak yang
   Hilang" yang pernah dituturkan oleh Yesus semasa pelayanan-Nya.
   Perumpamaan itu berkisah tentang si bungsu yang pergi ke kota dan
   berfoya-foya dengan uang ayahnya. Ketika uang itu habis, dia takut
   kembali lagi ke rumah. Terbayang di benaknya bagaimana nanti ayahnya
   akan memarahi dan bahkan menghukumnya akibat kelakuannya tersebut.
   Tapi ternyata apa yang ditakutkannya selama ini tidak terjadi. Ketika dia 
menginjakkan 
   kakinya kembali di rumah, ayahnya merangkul dan menciumnya, bahkan 
mengadakan 
   sebuah pesta penyambutan yang besar atas kepulangannya.

   Terkadang dalam hidup, kita melakukan dosa dan kita terlalu takut
   untuk kembali kepada Bapa. Kita terkadang lupa bahwa ketika kita
   berbuat dosa, Bapa sedang menangis dan menanti kepulangan kita
   kembali pada-Nya. Semoga pada hari Natal ini kita kembali diingatkan akan 
kasih Bapa 
   dan pengorbanan-Nya yang sungguh besar terhadap umat manusia.

   Redaksi Tamu KISAH,
   Yohanna Prita Amelia
______________________________________________________________________
KESAKSIAN

                          "THE LAST WALTZ"
   Namaku Lily, kami tinggal di sebuah kota kecil di Manado. Sejak
   muda, ibuku senang sekali menari. Untuk itu, saat pernikahannya,
   Ayah meminta agar tarian terakhir ibu dipersembahkan untuknya. Maka
   dari itu, lagu pertama pada saat ibu menari adalah "The Last Waltz"
   dari Engelbert Humperdinck. Dan rupanya ini benar-benar menjadi kenyataan, 
karena 
   beberapa bulan kemudian pada saat melahirkan aku, ibu meninggal dunia.

   Daddy -- begitulah aku memanggil Ayah, karena kasihnya kepada ibu,
   Daddy tidak pernah mau menikah lagi. Aku dibesarkan oleh Daddy dan
   Nenek, dan setiap malam Natal, sudah merupakan tradisi bagi Daddy
   untuk selalu mengalunkan lagu kesayangannya, "The Last Waltz",
   sambil mengingat ibu. Ketika aku berusia 5 tahun, Daddy mengajari aku menari 
waltz.

   Sejak saat itu, setiap malam Natal, kami menari waltz berdua. Pada
   hari ulang tahunku yang kedua belas, bertepatan dengan malam tahun
   baru, Daddy memberikan hadiah kepadaku berupa "long dress" berwarna
   merah, dan kami berdua menari waltz.

   Pada saat itu, aku benar-benar merasa seperti sang putri dalam kisah
   Cinderella yang sedang menari dengan sang pangeran. Daddy sangat
   mengasihiku sehingga hampir semua permohonanku selalu dikabulkan
   olehnya, ia benar-benar mengabdikan hidupnya hanya untukku.

   Namun, setiap hari Daddy harus bekerja seharian di kantor dan ia
   sangat sibuk, sehingga satu-satunya yang membimbing aku di rumah
   adalah Nenek. Kurangnya perhatian Daddy membuat aku terjerumus dalam
   pergaulan bebas, dan akhirnya mulai menggunakan dan kecanduan
   narkoba. Hampir setiap hari aku pulang malam.

   Walaupun demikian, Daddy selalu menunggu kepulanganku dengan sabar.
   Ia baru bisa tidur setelah aku pulang. Pada malam Natal, aku lebih
   senang merayakannya di diskotek bersama anak-anak muda lainnya
   daripada bersama Daddy. Karena itulah Daddy merasa sedih, bahkan
   untuk pertama kalinya aku melihat Daddy mengeluarkan air mata.

   Karena kebutuhanku akan narkoba semakin meningkat, akhirnya aku
   mencuri uang tabungan Daddy yang seharusnya digunakan untuk masa
   tuanya, dan melarikan diri ke Jakarta dengan harapan aku bisa
   mendapatkan pekerjaan dan bisa hidup mandiri di sana.

   Pada hari-hari pertamaku di Jakarta, aku menumpang di rumah Om.
   Ternyata, mencari pekerjaan di Jakarta tidak semudah yang aku
   bayangkan, sehingga akhirnya aku terpaksa melamar bekerja di klub
   malam "Blue Ocean" sebagai pramuria. Kalau dulu aku menari dengan
   Daddy, di sana aku terpaksa menari dengan pria yang sebaya dengan
   Daddy, bahkan tak jarang, aku bersedia menemani mereka tidur di hotel.

   Setelah sebulan aku berada di Jakarta, aku menerima surat dari Daddy
   yang dialamatkan ke kosku, rupanya Daddy mengetahui alamat kosku
   dari Om. Dalam seminggu, aku menerima tiga surat dari Daddy, bahkan
   terkadang lebih. Tetapi, tak satu pun suratnya kubalas. Jangankan
   kubalas, kubuka pun tidak. Aku merasa malu dan tidak berani membaca
   surat dari Daddy. Aku merasa berdosa terhadap Daddy, bahkan aku
   merasa jijik terhadap diriku sendiri.

   Sudah lebih dari 1 tahun aku di Jakarta. Surat-surat yang
   kukumpulkan ada dalam beberapa dus. Semuanya kusimpan dengan rapi,
   hanya sayangnya surat-surat itu sekadar menjadi pajangan bagiku,
   karena aku tidak berani dan tidak mau membukanya. Aku tidak ingin
   Daddy mengetahui bahwa gadis kesayangannya, gadis yang demikian
   dibanggakannya, telah menjadi seorang pramuria, bahkan telah menjadi
   pecandu berat narkoba.

   Beberapa hari sebelum Natal, aku menerima surat lagi, ditulis dengan
   tulisan tangan yang sama, dan bentuk sampul yang sama. Namun, kali
   ini tidak dikirim melalui pos maupun ke alamat kosku, tetapi dikirim
   dan dititipkan langsung ke klub malam tempat aku bekerja. Dan,
   ketika aku menanyakan siapa yang menitipkan surat tersebut, ternyata
   dari gambaran yang diberikan, orang yang menitipkan surat itu adalah
   Daddy. Daddy datang sendiri ke Jakarta hanya untuk mengantarkan surat 
untukku.

   Kali ini, aku tidak tahan ingin membukanya. Dengan air mata yang
   berlinang, aku membaca surat itu, isinya demikian: "Lily, my dearest
   beloved princess, Daddy sejak lama tahu di mana kamu bekerja, Daddy meminta 
satu 
   hal: 'Maukah kamu pulang kembali ke rumah untuk menari bersama Daddy?'"

   Setelah membaca surat tersebut, aku langsung pulang ke kos untuk
   membaca ratusan surat lainnya yang belum kubuka, ternyata semua
   surat Daddy isinya sama. Ia menanyakan hal yang sama: "Maukah Lily
   menari lagi bersama dengan Daddy?"

   Hari itu juga aku langsung mengambil keputusan untuk pulang. Karena
   menjelang Natal, hampir semua pesawat "fully book", terpaksa aku
   membeli tiket dengan harga yang jauh lebih mahal, dengan harapan
   bahwa aku bisa sampai di rumah sebelum malam Natal.

   Setibanya di rumah, Daddy langsung memelukku erat, air matanya
   berlinang deras membasahi kepalaku. Dengan terisak-isak, Daddy
   bertanya sekali lagi, "Maukah Lily menari lagi bersama Daddy?" Aku
   mengangguk sambil menjawab, "Ya, tetapi apakah Daddy tahu, bahwa
   sekarang ini Lily bukanlah princess Daddy yang dulu? Aku adalah
   seorang pramuria yang kotor, bahkan telah mengidap penyakit AIDS, apakah 
Daddy 
   tidak malu menerimaku kembali, apakah Daddy tidak takut ketularan 
penyakitku?"

   Daddy tidak berkata sepatah kata pun, ia bergerak, memutar lagu
   kesayangannya, "The Last Waltz". Kemudian ia memelukku dengan penuh
   kasih untuk mengajak aku menari seperti hari-hari Natal sebelumnya,
   kali ini tidak hanya diiringi irama lagu, tetapi juga oleh tetesan air mata 
yang berderai.

   Tanpa kuketahui, sejak aku meninggalkan Daddy, ia sering bergadang
   menunggu dan mengharapkan kedatanganku kembali. Selain itu, karena
   duka yang mendalam, Daddy mengidap kanker. Sekitar 2 minggu setelah
   Natal, Daddy mengembuskan napas untuk terakhir kalinya.

   Rupanya, ia merasakan bahwa kematian telah dekat. Karena itulah,
   dalam keadaan sakit, ia memaksakan diri pergi ke Jakarta untuk
   mengantarkan surat kepadaku, hanya untuk mewujudkan keinginannya
   yang terakhir, agar ia bisa mendapatkan kesempatan sekali lagi
   menari dengan putri kesayangannya. Masih terngiang-ngiang
   di telingaku lirik lagu kesayangannya, "The Last Waltz A little girl
   alone and so shy/I had the last waltz with you/Two lonely people
   together/I fell in love with you/The last waltz should last
   forever/But the love we had was goin' strong."

   Menjelang Natal ini, banyak orang tua mengharapkan dan menunggu
   kedatangan anak-anaknya. Bagaimana pun keadaan dan situasi kita saat
   ini, orang tua kita menerima kita apa adanya, dengan segala
   kelemahan dan kelebihan kita. Terlebih lagi, mereka tidak mau
   mengingat kesalahan-kesalahan kita di masa lalu. Hanya satu yang
   mereka inginkan, yaitu berkumpul bersama putra-putrinya di hari
   Natal, melihat dan memeluk mereka. Berapa lama lagi kita akan
   menyuruh mereka menunggu? Datang dan kembalilah sebelum terlambat!
   Kalau keadaan tidak memungkinkan, teleponlah mereka sambil
   mengatakan, "Aku mencintaimu, Ayah dan lbu. Selamat Natal."

   Renungkanlah: Apabila kita manusia yang penuh dosa bisa mengasihi
   sedemikian rupa, betapa lebih besarnya kasih Elohim, Sang Bapa, yang
   tanpa dosa dan yang tak pernah memikirkan diri sendiri, kepada kita (Matius 
7:11).

   Ya, Bayi Suci di Betlehem,
   belailah kami dengan tangan-Mu yang mungil,
   peluklah kami dengan lengan-Mu yang kecil,
   tembuslah hati kami dengan tangis-Mu yang lembut dan manis.
   Datanglah kepada kami, tinggElohim bersama kami, Ya, Tuhan, Imanuel.  Amin.

   -MANG UCUP

   Diambil dan disunting seperlunya dari:
   Judul buku: My Favourite Christmas
   Penulis: Mang Ucup
   Penerbit: Gloria Cyber Ministries, Yogyakarta 2006
   Halaman: 18 -- 25
______________________________________________________________________
Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku,
dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan
bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali,
ia telah hilang dan didapat kembali." (Lukas 15:31-32)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=Lukas+15:31-32 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA

   1. Doakan mereka yang pada hari Natal ini tidak bisa berkumpul
      dengan keluarganya. Kiranya kasih Tuhan senantiasa menyelimuti
      hati mereka dan menghangatkan hati yang sedang kesepian.

   2. Doakan setiap hati yang masih terhilang dan merindukan sebuah
      kedamaian dalam hati mereka. Kiranya Tuhan boleh menjamah mereka,
      sehingga mereka menemukan kedamaian di dalam Kristus.

   3. Doakan supaya hari Natal kembali mengingatkan setiap individu
      akan arti Natal yang sebenarnya, di mana seorang Juru Selamat
      boleh lahir dan setiap manusia yang percaya padanya beroleh
      keselamatan dan hidup yang kekal

===================================================
From: "Kisah" <[email protected]>

Edisi 104 -- Penyertaan Tuhan Yesus Kristus bagi yang Masih Bimbang

 
PENGANTAR

   Sua lagi di tahun yang baru, tahun 2009!

   Segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini tidak terlepas dari
   rencana Tuhan. Terkadang, kita merasa Tuhan tidak mengasihi kita
   karena sudah memberikan cobaan yang begitu berat. Atau mungkin kita
   berpikir bahwa Tuhan tidak pernah menjawab doa-doa kita. Sebagai
   orang yang telah ditebus-Nya, jangan sekali-kali kita meragukan
   penyertaan Tuhan atas hidup ini. Tuhan tahu yang terbaik bagi kita.
   Setiap hal yang Ia izinkan terjadi atas hidup ini adalah untuk
   menunjukkan kasih-Nya kepada kita, dan untuk menunjukkan kuasanya
   yang ajaib bagi setiap orang yang berharap pada-Nya. Mungkin juga
   ini merupakan cara yang Tuhan pakai untuk membawa kita agar kembali
   dan lebih dekat lagi pada-Nya. Ya, jalan Tuhan memang sulit untuk
   kita selami, namun Ia tidak pernah merancangkan yang buruk atas
   anak-anak-Nya. Jadi, jika saat ini pergumulan kita belum Ia jawab,
   jangan pernah berhenti untuk berharap. Ia tahu kapan waktu yang
   terbaik untuk menjawab setiap pergumulan kita. Tuhan Yesus  memberkati.

   Selamat memasuki tahun yang baru ini dengan yakin teguh akan
   penyertaan dan kasih-Nya. Ia sudah memberikan nyawa-Nya, apa lagi
   yang lebih besar dari itu?

   Pimpinan Redaksi KISAH,
   Novita Yuniarti
______________________________________________________________________
KESAKSIAN

        PENYERTAAN TUHAN YESUS KRISTUS BAGI YANG MASIH BIMBANG
   Tanggal 10 November 2007 kira-kira pukul 16.00 WIB, saya memerbaiki
   genteng rumah yang bocor. Tapi karena saya kurang hati-hati, saya
   terpeleset dan meluncur ke bawah dengan posisi duduk mundur, terus
   ke kanopi, dan jatuh ke jalan (paving block) dengan posisi terduduk
   dan kemudian terhempas ke belakang (punggung menghempas ke jalan).
   Setelah itu saya tidak bisa bangun -- duduk, apalagi berdiri.

   Saya berteriak, kemudian ditolong oleh anak saya, Kevin, dan
   keponakan saya, Indra -- yang pagi harinya baru saja tiba dari
   Malang. Saya menelepon istri dan membawa saya ke rumah sakit tulang.
   Di sana, saya dirontgen dan dirujuk MRI di RSSI. Hasil rontgen
   menunjukkan ada tiga bagian tulang saya yang terganggu: tulang
   punggung T12 retak (kompresi), tulang ekor terdorong ke depan, dan
   tulang duduk kanan retak. Saya diberi obat tulang, antiradang, dan
   pengurang rasa sakit. Kemudian deskripsi diagnosis dokter RSSI atas
   hasil MRI mengatakan bahwa pada tulang punggung saya, T11 dan T12,
   telah terjadi radang (sponsdilitis).

   Selanjutnya, dokter tulang mencari jenis radang tersebut dan
   akhirnya berkeyakinan bahwa itu adalah radang TBC tulang, walaupun
   dokter saraf meragukannya. Mulai tanggal 18 November 2007, saya
   diberi pengobatan anti-TBC. Setelah 2 minggu, dokter tulang
   merencanakan operasi tulang punggung untuk membersihkan radang dan
   akan memasang pen pada dua ruas di atas T12 dan dua ruas di
   bawahnya. Ini akan menyebabkan saya cacat tulang punggung (kaku,
   tidak fleksibel, tidak bisa membungkuk lagi seumur hidup). Di
   samping itu, obat anti-TBC yang saya konsumsi memunyai efek samping
   -- terganggunya fungsi hati dan rasa mual yang amat sangat.

   Tanggal 18 November 2007, saya mulai dirawat dengan obat anti-TBC.
   Sejak itu, penderitaan dimulai. Saya merasa mual yang amat sangat
   dari pagi hingga malam, rasa nyeri/sakit pada tulang yang retak,
   sakit dari otot, dan daging yang memar akibat jatuh. Saya merasa
   jenuh dan hampir putus asa. Saya coba untuk menaikkan pujian
   "Mujizat itu Nyata", tapi lama-lama saya merasa bosan dan berhenti.
   Saya berdoa agar Tuhan memberi kelegaan, pertolongan, dan
   menyembuhkan saya. Tapi karena tidak ada perubahan apa-apa, maka doa
   saya pun menjadi pendek: "Tuhan Yesus, tolong saya. Tuhan Yesus,
   tolong saya." Itu pun lama-lama menjadi lebih pendek lagi: "Tuhan
   Yesus, Tuhan Yesus ...." Dan akhirnya berhenti sama sekali. Saya
   sadar dan merasakan bahwa saya ini tidak ada artinya di hadapan
   Tuhan. Jika saja Tuhan Yesus menolak saya dengan mengatakan: "Hai,
   siapakah kamu? Aku tidak mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku!",
   maka pastilah saya sudah tamat! Tetapi Tuhan itu sangat baik.
   Tiba-tiba, saya mendapatkan pengertian dan saya percaya bahwa ini
   adalah karya Roh Kudus.

   a. Saya mendapat rhema dari firman Tuhan yang intinya mengatakan
      bahwa apabila kita bertobat dan menerima Tuhan Yesus Kristus
      sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi kita, maka kita
      diselamatkan oleh-Nya dan dijadikan anak-Nya. (Yohanes 1:12)
   b. Saya diingatkan status saya sebagai seorang anak. Apa pun yang
      saya butuhkan, saya bisa memintanya dari orang tua saya. Bahkan
      jika saya lapar, maka saya bisa langsung mengambil tindakan:
      pergi ke dapur, mengambil piring dan sendok, membuka lemari,
      mengambil makanan, dan menikmati makanan itu sampai kenyang.
      Dengan demikian, saya bisa menolong diri saya sendiri dengan
      menggunakan fasilitas orang tua saya. Seharusnya demikian pula
      dengan fasilitas yang telah diberikan bagi saya dari Bapa Surgawi.
   c. Pujian yang dinaikkan oleh KW pada saat membesuk saya,
      kata-katanya menguatkan sekali: "Ku tak akan menyerah pada apa
      pun juga, sebelum kucoba semua yang kubisa ...!

   Ketiga hal tersebut mendorong saya untuk melakukannya saat itu juga.
   Lalu saya berdoa dan menggunakan "fasilitas surgawi", yaitu kuasa
   kasih Tuhan Yesus Kristus yang memulihkan dan memberi kelegaan.
   Lalu, saya mengucapkan kata-kata berikut: "Kuasa kasih Tuhan Yesus
   Kristus, turunlah dari surga melingkupi saya. Merekatkan
   tulang-tulang saya yang patah dan retak, menguatkannya, menyembuhkan
   luka-luka saya, dan mengangkat kuman-kuman penyakit yang ada di
   tubuh saya." Saya mengulangi kata-kata tersebut sambil mengangkat tangan.

   Tiba-tiba, saya merasakan sesuatu terjadi. Dimulai dari sekitar
   tulang ekor saya -- kulit bagian luar merinding disertai rasa panas.
   Terus melebar sampai ke dada dan paha. Ini berlangsung sekitar 10 --
   15 detik, sampai-sampai suatu saat saya merasa seperti terangkat
   dari tempat tidur! Saya tidak merasakan sentuhan punggung saya
   dengan alas tidur saya. Rasanya panas seperti berendam di "whirpool"
   air panas! Semua rasa sakit pada tulang, otot, dan daging yang memar
   hilang! Rasa jenuh, bosan, dan putus asa, hilang! Yang ada gembira,
   sukacita, dan penuh semangat!

   Baru saya sadari bahwa itulah penyertaan Tuhan untuk saya. Sambil
   menangis, saya mengucap syukur kepada Tuhan karena tidak
   meninggalkan saya. Dia mengasihi saya. Itulah mukjizat yang pertama,
   dan malam itu pun saya bisa tidur nyenyak. Keesokan harinya,
   pagi-pagi saya sudah bangun dan setelah diseka (pengganti mandi),
   saya merasa lapar. Telur rebus yang biasanya selalu saya tolak, pagi
   itu saya lahap habis. Sarapan biasanya hanya dua sendok, pagi itu
   habis setengah porsi. Begitu juga makan siang dan makan malam, saya
   bisa makan lebih banyak, termasuk buah-buahan. Hal ini merupakan hal
   yang aneh, karena sebelumnya saya selalu merasa mual.

   Tanggal 5 Desember 2007, saya diperiksa di SGH dan ditangani Prof.
   Tan Seang Beng, Direktur Departemen Bedah Orthopedi SGH. Di sana,
   gambar hasil MRI saya dinilai jelek mutunya sehingga beliau tidak
   dapat mengambil kesimpulan dan saya harus dirontgen ulang, dan
   apabila hasil rontgen ulang masih meragukan, maka saya harus
   mengulang MRI di SGH. Dari hasil rontgen ulang dan pemeriksaan
   fisik, dokter Tan menyatakan bahwa yang saya alami adalah fraktur
   tulang biasa dan itu pun hanya terjadi pada T12, sementara ruas
   lainnya normal. Beliau mengatakan dengan tingkat keyakinan 95 persen
   bahwa dalam waktu 3 bulan, tulang saya bisa pulih kembali dan
   setelah 3 bulan, saya harus diperiksa ulang. Mengenai radang tulang,
   beliau menyatakan tidak melihat hal tersebut, hasil rontgen saya
   bersih. Lalu saya dirujuk ke dokter ahli penyakit infeksi.

   Tanggal 7 Desember 2007, saya diperiksa dokter ahli penyakit infeksi
   (Dr. Asok Kurup). Semua hasil MRI dan rontgen diperiksa ulang.
   Lagi-lagi beliau menyatakan tidak melihat adanya radang tulang apa
   pun dan beliau menyatakan agar obat anti-TBC yang saya konsumsi
   dihentikan. Saya masih penasaran dan menanyakan apakah masih ada
   cara lain yang lebih meyakinkan? Beliau menyebutkan: periksa darah
   lengkap termasuk TB Serology Quantiferon dan pemeriksaan cairan
   tulang belakang. Pemeriksaan cairan tulang belakang tidak disarankan
   karena beliau sudah yakin dari gambar rontgen. Karena ingin lebih
   yakin, maka saya menjalani tes darah lengkap. Lima hari kemudian,
   Dr. Asok Kurup mengirim email dan menyatakan bahwa tes TB Serology
   Quantiferon atas darah saya hasilnya ... negatif! Dari batas > 0,35
   IU/ml, darah saya hanya 0,12 IU/ml. Artinya, saya tidak menderita
   TBC tulang! Tuhan telah mengangkat apa yang dikatakan oleh dokter
   tulang sebagai radang TBC tulang. Dengan demikian, saya bisa
   menghentikan pengobatan anti-TBC dan tidak perlu operasi tulang belakang.

   Keraguan atas penyertaan dan pertolongan Tuhan merupakan tanda bahwa
   kita kurang memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan. Ini harus
   diperbaiki. Ingatlah akan Imanuel, sungguh benar bahwa Tuhan kita
   tidak pernah meninggalkan kita, ini sesuai dengan janji-Nya: "Aku
   akan menyertai kamu sampai kepada akhir zaman." Mukjizat Tuhan itu
   nyata. Pertolongan Tuhan bagi anak-anak-Nya adalah pasti. Yang perlu kita 
lakukan 
   hanyalah percaya dan tetap berserah kepadanya. Elohim memiliki waktunya 
sendiri.

   Kiriman dari: Frigard Harjono <frigard(at)>
______________________________________________________________________

   "Tetapi semua orang yang menerima-Nya, diberi-Nya kuasa supaya
   menjadi anak-anak Elohim, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya." 
(Yohanes 1:12)
   < http://sabdaweb.sabda.org/?p=Yohanes+1:12 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA

   1. Doakan Frigard Harjono beserta keluarga, agar Tuhan senantiasa
      memberikan kemampuan dan hikmat untuk mengenal Kristus lebih lagi.

   2. Berdoa juga untuk setiap orang percaya yang saat ini sedang
      bimbang dan meragukan pertolongan Tuhan, agar Tuhan menjamah
      hidup mereka sehingga mereka memiliki kekuatan dan tetap
      berpengharapan di dalam Tuhan.

   3. Mengucap syukur atas setiap penyertaan dan pemeliharaan Tuhan
      atas hidup setiap orang percaya, meskipun sedang dalam masa-masa
      sulit. Mengucap syukur karena kita memiliki Elohim yang baik,
      Elohim yang tidak pernah meninggalkan kita, dan Elohim yang selalu
      peduli terhadap kehidupan anak-anak-Nya.
______________________________________________________________________

Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) 2009 YLSA
YLSA -- http://www.ylsa.org/
http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________

Pimpinan Redaksi: Novita Yuniarti
Kontak: < kisah(at)sabda.org >
Berlangganan: < subscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org >
Berhenti: < unsubscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org >
Arsip KISAH: http://www.sabda.org/publikasi/Kisah/
Situs KEKAL: http://kekal.sabda.org/

Kirim email ke