Ringkasan khotbah Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Sydney, Australia
tanggal 28 Desember 2008
Memperkokoh Kehidupan Pernikahan Kristen-9 Hidup dengan Pasangan yang
Tidak Seiman oleh: Pdt. Effendi Susanto, S.Th.
Nats: 2 Korintus 6:14; 1 Petrus 3:1-7; Lukas 14:15, 20
Mungkinkah kita bisa memperkuat kehidupan keluarga kita jikalau salah satu
dari anggota keluarga itu bukan merupakan pasangan seiman? Di dalam pembahasan
kita, saya mengatakan pernikahan itu merupakan tanggung jawab kita
masing-masing, suami istri harus menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka.
Tuhan memberikan role dan peran baik kepada istri maupun kepada suami. Istri
tidak boleh menuntut bagaimana suami harus berprilaku kepada dia melainkan
bagaimana Tuhan menuntut suami berprilaku dan Tuhan menuntut bagaimana istri
berprilaku dalam hidup keluarga. Barulah kita memiliki satu hubungan suami
istri yang makin hari makin berkenan kepada Tuhan.
Tetapi muncul pertanyaan: “Bagaimana dengan kehidupan keluarga saya? Suami
saya memang Kristen tetapi saya tidak menemukan bagaimana prinsip Kekristenan
itu berada di dalam kehidupannya. Malah boleh saya katakan, suami menjadi
penghalang hidup spiritual di tengah-tengah keluarga kami.” Ada yang
mengatakan, “Ini menjadi realita kehidupan yang akhirnya saya sesalkan sebab
saya tidak taat kepada Tuhan dan saya menikah dengan orang yang tidak seiman.
Mungkinkah saya bisa memperkuat hidup pernikahan kami kalau hanya saya sendiri
yang mendayungnya?” Firman Tuhan yang kita baca hari ini memperlihatkan fakta
ada orang percaya yang hidup di dalam pernikahan dengan pasangan yang tidak
percaya. Firman Tuhan tidak masuk kepada wilayah menuntut pasangan yang tidak
percaya itu berprilaku, tetapi firman Tuhan berkata kepada istri yang menjadi
anak Tuhan, bagaimana akhirnya prinsip hidup kita sebagai anak Tuhan bisa
memenangkan suami-suami yang tidak percaya Tuhan.
Saudara yang belum menikah mungkin merasa khotbah seperti ini tidak relevan,
tetapi beberapa tahun ke depan saudara tentu akan memasuki pernikahan dan saya
harap khotbah ini menjadi fondasi yang penting di dalam saudara mempersiapkan
hidup pernikahanmu. Boleh jujur kita katakan, tenggang waktu yang saudara
jalani sebagai seorang single lebih sedikit dibandingkan waktu yang saudara
jalani di dalam pernikahan dan keluarga. Banyak orang kadang-kadang mengabaikan
dan kurang memegang prinsip yang penting di dalam mempersiapkan fakta ini
sehingga akhirnya yang terjadi adalah tidak habis-habisnya kita hidup di dalam
kekecewaan, kefrustrasian, kemarahan, kesedihan dan luka oleh sebab pernikahan
itu adalah satu pernikahan yang tidak seimbang dimana pasangan yang tidak
percaya hidup dengan pasangan yang percaya Tuhan.
Di dalam surat Korintus, prinsip firman Tuhan yang mengatakan jangan menikah
dengan orang yang tidak seiman denganmu tetapi ada di antara mereka yang tidak
taat, atau mungkin ada di antara mereka yang menikah mungkin mengira suaminya
Kristen, setelah menikah baru tahu hatinya belum percaya. Kita menghadapi
realita itu. Sekarang bagaimana kita belajar menjadikan hidup pernikahan itu
lebih indah, lebih baik dan lebih mencintai Tuhan meskipun salah satu dari
pasanganmu tidak seimbang. Bagi saudara yang belum menikah, saya sangat
mengharapkan dan menganjurkan kepada saudara untuk betul-betul kembali taat
kepada prinsip firman Tuhan. Karena kalau saudara melihat bagaimana 60% jenjang
hidupmu dijalani menikah dengan orang yang tidak percaya, saudara akan
menemukan kesulitan seperti itu.
Saya menemukan paling tidak ada 8 buku khusus bicara dari sisi pengalaman
dari orang-orang yang akhirnya menikah dengan pasangan yang tidak percaya,
mereka hidup penuh dengan kesulitan, dengan air mata yang tidak ada
habis-habisnya. Ini realita yang tidak mudah. Banyak di antara mereka
mengatakan kadang-kadang begitu sulit menghadapi konsep yang berbeda, cara
penanganan masalah dengan etika moral yang berbeda, ketidak-sukaan kepada
hal-hal yang bersifat rohani, bagaimana management di dalam keuangan, anger
yang meledak dan tidak dipimpin oleh ketaatan kepada firman Tuhan, baru mereka
sadar bahwa hati yang takut kepada Tuhan itu merupakan prinsip prioritas yang
paling penting di dalam memilih pasangan.
Saudara yang belum menikah, pegang prinsip ini baik-baik. Taruh urusan
kegantengan dan kecantikan di urutan belakang karena kebahagiaan tidak
ditentukan oleh hal itu. Yang pertama adalah hati dia cinta Tuhan atau tidak.
Pada waktu melihat istri yang baik, yang tenang, yang sabar, yang penuh dengan
tanggung jawab, itu merupakan kecantikan yang jauh lebih indah daripada istri
yang terus ingin mempertahankan kecantikan akhirnya berjam-jam waktu habis
untuk berdandan. Maka bagi saudara yang belum menikah, saya hanya mengharapkan
dan menganjurkan pada waktu saudara pilih baik-baik, saudara harus taruh
prioritas ini: Apakah dia cinta Tuhan atau tidak, apakah dia menyelesaikan
masalah dengan bertanggung jawab atau tidak, ada ciri-ciri karakter dia orang
yang mau bekerja keras, bertanggung jawab dan jujur di dalam kehidupannya.
Walaupun tidak terlalu kaya, tidak apa-apa. Rajin, bertanggung jawab,
sunguh-sungguh bekerja, orang yang stabil emosinya, yang cinta Tuhan, yang
menyelesaikan masalah dengan lebih mengutamakan Tuhan terlebih dahulu, itu
merupakan keindahan.
Ada satu buku yang ditulis oleh Lee Strobel, penulis dan hamba Tuhan yang
terkenal. Dia dulunya adalah seorang editor the Chicago Tribune yang adalah
seorang ateis. Istrinya yang juga tidak percaya Tuhan, Leslie, akhirnya
kemudian terlebih dahulu menjadi orang Kristen. Belakangan Lee Strobel akhirnya
bertobat dan menjadi seorang hamba Tuhan dan mereka berdua menulis satu buku
yang sangat baik sekali, judulnya “Surviving a Spiritual Mismatch in Marriage”
bagaimana kita bisa survive dan keluar dari kesulitan ketidakseimbangan rohani
di dalam pernikahan. Saya akan mengutip sebagian dari isi buku itu, berdasarkan
pengalaman mereka bagaimana kesulitan dan juga terang firman Tuhan kepada
setiap kita boleh memberi berkat. Leslie mengatakan, hari demi hari saya
menjalani hidup di dalam keadaan yang frustrasi oleh sebab ada banyak hal baik
besar maupun hal-hal kecil tidak habis-habisnya saya ribut dengan suami, bahkan
kadang-kadang kami saling melukai satu sama lain. Saya
mengalami loneliness sebagai seorang istri Kristen, waktu pergi ke gereja
harus pergi sendiri. Waktu ada masalah dengan anak, saya ingin berdiskusi
dengan suami, tetapi kami memiliki pola dan cara berpikir yang tidak sama.
Bukan itu saja, di satu pihak sering kali saya berdoa supaya suami saya bisa
percaya Tuhan, tetapi di satu pihak saya akhirnya frustrasi kepada Tuhan kenapa
sudah belasan tahun suami masih belum percaya Tuhan. Saya frustrasi bukan
kepada diri, bukan kepada suami, tetapi kadang-kadang frustrasi kepada Tuhan.
Dan terlebih lagi ada rasa guilty karena begitu ingin suami bisa percaya Tuhan
tetapi tidak kelihatan suatu perubahan. Dengan singkat dia ingin mengatakan
pernikahan seperti ini adalah pernikahan yang kalau tidak ditolong dengan hati
yang benar dan takut kepada Tuhan, dia lama-lama bisa drifted away. Ini bukan
pengalaman dia saja, beberapa konseling yang saya lakukan kepada beberapa orang
yang mengalami situasi seperti ini kadang-kadang ada tercetus
rasa frustrasi dan give up. Mungkin saudara tidak give up kepada pernikahan
itu tetapi mungkin saudara sudah give up untuk berusaha menjadikan hidup
keluarga saudara sebagai hidup yang mengasihi Tuhan. Apakah pernikahan saudara
masih bisa ditolong? Saya percaya walaupun di dalam kondisi yang tidak baik
seperti itu tetap ada pengharapan untuk bisa memiliki hidup pernikahan keluarga
yang bahagia di hadapan Tuhan.
Saya harap saudara yang mungkin memiliki suami yang bukan orang percaya
ataupun suami yang tidak seimbang secara rohani dan mendatangkan frustrasi,
saudara juga coba belajar melihan bagaimana perasaan mereka memiliki istri yang
Kristen. Di dalam buku itu Lee Strobel mengungkapkan dengan jujur perasaan dia
sebagai suami ateis yang menikah dengan istri Kristen. Dia bilang,
kadang-kadang dia tidak mau berkomunikasi dan marah kepada istri. Kenapa?
Sangat unik sekali, ternyata dia merasa benci kepada Yesus karena Dia
seolah-olah menjadi “suami rival.” Saya minta waktu sama istri, istri bilang
dia mau ke gereja. Kayaknya istri saya pacaran sama Yesus lebih hot daripada
sama saya. Coba dengarkan kalimat yang diungkapkan dari hatinya ini. Akhirnya
dia menyatakan sikap yang marah dan menyakitkan dan mencetuskan
ketidak-sukaannya kepada Kekristenan dan kepada Tuhan Yesus. Melihat Yesus
seolah-olah merebut cinta istri. Ada rasa iri dan rasa terluka. Perasaan
seperti itu
menyebabkan dia coba ingin mem-”punish” istrinya dengan cara makin menghina
Kekristenan. Saya rasa pengakuan seperti ini merupakan hal yang sangat menarik
sekali. Itu sebab sebelum kita masuk kepada bagaimana kita hidup sebagai
seorang istri dan suami Kristen di tengah-tengah kehidupan keluarga, ada
pertanyaan yang harus kita jawab dengan sejujurnya. Kalau saudara ambil
pelayanan di gereja, datang kebaktian, ikut koor, mengajar sekolah minggu, dsb,
betulkah itu didorong memang dari hati dan sikap saya mengutamakan Tuhan dalam
hidupku, ataukah saya sudah give up tidak mau berusaha memperbaiki kehidupan
rumah tanggaku dan saya jadikan hidup rohani menjadi suatu pelarian? Banyak
keluarga Kristen yang tidak seimbang, semakin istri aktif melayani di gereja,
semakin bikin suaminya benci sama Tuhan. Itu sebab pertanyaan ini mesti kita
jawab dengan jujur. Kita betul-betul cinta Tuhan, ataukah kita melayani dan
hadir lebih banyak di gereja sebenarnya merupakan satu pelarian
karena kita tidak bersedia untuk memperbaiki hidup pernikahan kita? Kalau itu
yang terjadi, maka saya mengajak saudara mari melihat kebenaran firman Tuhan.
Maafkan, Alkitab memberi nasehat yang mungkin sangat “tidak rohani” dibanding
nasehat para pendeta masa kini di dalam bagaimana memenangkan suami-suami yang
tidak percaya Tuhan. Petrus memberikan nasehat seperti ini: “Hai istri-istri,
respeklah kepada suamimu yang tidak taat kepada firman, melalui prilaku dan
tingkah laku tanpa perlu berkata-kata. Pakailah perhiasan yang terselubung di
dalam kelembutan dan di dalam ketentraman.” Nasehat Petrus mungkin sangat
berbeda dengan nasehat para pendeta bagaimana memenangkan suami yang belum
percaya, terus Injili, bawa terus ke gereja, doakan terus siang malam. Bukan
semua itu tidak penting, tetapi Petrus mengatakan saudara bisa memenangkan dia
tanpa perlu ngomong tetapi jadilah sebagai seorang istri yang Tuhan mau, bukan
jadi misionari tetapi lupa tugas istri. Dengan ketabahan dan kelembutan,
saudara menjadi istri yang baik sesuai dengan panggilan Tuhan.
Melihat pengalaman keluarga seperti ini, mungkinkah sekalipun hidup
pernikahanku memiliki suami atau istri yang tidak seimbang secara rohani, tidak
match secara spiritual, ada air mata dan kesulitan, bisakah pernikahan itu
menjadi pernikahan yang bahagia dan menjadi berkat bagi orang lain? Bisa. Saya
harap beberapa prinsip dari firman Tuhan dan pengalaman dari anak-anak Tuhan
yang melewati situasi seperti ini bisa menjadi berkat bagi setiap kita.
Yang pertama dan terutama mata kita harus fokus dan tertuju kepada Tuhan dan
bukan struggle kepada persoalan yang ditimbulkan oleh ketidak-seimbangan itu.
Bebe Nicholson mengatakan kalimat yang sama dan matanya terbuka melihat
dimana hampir semua orang-orang itu menemukan sepanjang hidup mereka menikah
dengan orang yang tidak percaya, makin lama makin frustrasi melihat pasangan
makin tidak mau percaya Tuhan akhirnya makin menimbulkan keinginan untuk terus
mengajak dia percaya Tuhan tetapi makin dia lari. Akhirnya mereka jatuh kepada
perasaan gloomy dan menjalani hidup pernikahan yang tidak bahagia. Mereka
akhirnya berpikir, ”...kalau seandainya suamiku Kristen, maka persoalan
keluargaku menjadi beres.” Kita tidak melihat bahwa persoalan yang timbul di
dalam pernikahan itu bukan karena pasangan kita belum menjadi Kristen tetapi
sering kali orang Kristen itu kemudian meng-kambinghitamkan suami yang tidak
Kristen menjadi penyebab hubungan menjadi tidak harmonis, tidak indah dan
banyak timbul keributan dan pertengkaran dan tidak ada kata-kata yang indah.
Asumsi itu yang menjadi racun. Kita sering berpikir, tunggu suami
menjadi Kristen baru pernikahan menjadi bahagia. Akhirnya setelah
bertahun-tahun suami tetap tidak Kristen, kita menjadi tidak bahagia. Bisakah
asumsi itu kita balik: saya bisa membahagiakan keluargaku tanpa menunggu suami
menjadi Kristen atau tidak. Maka fokus kepada Tuhan, bukan kepada bagaimana
saudara fixed struggle dan persoalan itu terlebih dahulu. Sebab semakin saudara
rasa tidak bisa fixed semakin saudara merasa tidak ada kemungkinan kebahagiaan
bisa terjadi. Sekali lagi prinsip theologis ini harus kita pegang benar-benar:
saya hanya bertugas dan berkewajiban bagaimana share the Gospel, baik dengan
perkataan maupun dengan kelakuan. Selebihnya orang itu berubah menjadi percaya
kepada Kristus, menjadi anak Tuhan, itu di luar kemampuan saya. Ada hal-hal
yang menjadi tanggung jawab kita, kita kerjakan sebaik-baiknya. Tetapi ada
hal-hal yang di luar tanggung jawab kita, itu tidak perlu kita ambil menjadi
beban dan kekuatiran kita karena kita juga tidak bisa berbuat
apa-apa di situ. Itu masuk kepada wilayah Tuhan yang menjaga dan memelihara
kita. Yang saya bisa lakukan saya kerja baik-baik, saya lakukan tugas dan
tanggung jawab saya. Menjadikan suami Kristen, itu bukan kekuatiran dan
tanggung jawab saya. Tetapi menjadikan keluargaku bahagia, itu menjadi
kewajiban dan tanggung jawab saya. Itu dua hal yang tidak boleh kita
campur-baurkan. Kenapa kita harus fokus kepada Tuhan lebih dulu? Sebab pada
waktu saudara dan saya mungkin dikecewakan oleh pasangan kita yang tidak
seiman, kita terluka dan hurt. Tidak ada jawaban dan tempat yang terbaik
saudara bisa mendapatkan pemulihan sebelum saudara kembali kepada Tuhan yang
memberikan kekuatan kepadamu.
Kepada suami istri yang Kristen, saya harus mengakui tetap ada yang tidak
memiliki rohani yang seimbang. Mungkin suami lebih rohani, tetapi istrinya
tidak. Mungkin istri lebih rohani dan suaminya tidak. Itu bisa terjadi.
Sehingga akhirnya terkadang kita tidak melihat hubungan kita dengan Tuhan
menjadi yang lebih utama. Maka hari ini saya dengan sangat rindu dan
mengharapkan kalau ada mismatch di dalam hubungan suami istri khususnya dalam
hal rohani, saudara dan saya harus sama-sama berjuang dan berpikir bagaimana
berbakti bersama di hadapan Tuhan, menjadikan hal itu sebagai hari dimana
saudara betul-betul memakainya untuk mengasihi dan melayani Tuhan. Jangan
pernah berpikir menjadikan hari Minggu sebagai hari rival. Senin sampai Jumat
sudah kerja, maka Sabtu dan Minggu buat keluarga.
Pada waktu Yesus memberi perumpamaan mengenai kerajaan Allah, betapa
berbahagia orang yang bisa masuk ke dalamnya, Yesus menyebutkan fakta banyak
orang akhirnya menolak panggilan itu dengan berbagai alasan. Bagi saya
ironisnya penolakan mereka justru setelah mereka mendapat berkat Tuhan. Ada
yang menolak karena dia baru membeli ladang, ada yang baru saja membeli lembu,
dan ada yang baru saja menikah sehingga mereka menolak undangan itu. Bisa
membeli ladang, membeli lembu, mendapat istri, semua itu adalah berkat Tuhan.
Yang kedua, jangan jadikan itu semua sebagai rival di dalam hubungan kita
dengan Tuhan. Sebagai suami dan istri Kristen, saudara dan saya juga harus
menjadi pasangan yang tidak bersikap egois hanya untuk diri sendiri. Kita harus
mengambil komitmen menjadi keluarga Kristen, dimana ada waktu kita mau pakai
sebagai keluarga sama-sama berkorban mengasihi dan melayani Tuhan.
Yang kedua, menjadikan suami atau istri kita sebagai manusia yang paling
utama dibandingkan manusia yang lain. Itu yang dikatakan di dalam 1 Petrus 3,
hai istri, hormat dan respek kepada suamimu dengan segala kelembutan akhirnya
bisa memenangkan suami tanpa perlu perkataan. Bebe Nicholson mengatakan
suaminya yang ateis akhirnya menjadi Kristen mengatakan dulu dia melihat
istrinya “waste” time, orang yang ridiculous menerima pengajaran mitos dan dia
kadang-kadang menertawakan istrinya. Tetapi akhirnya dia menemukan istrinya
yang mencintai Tuhan seumur hidup respek dan tidak pernah mengeluarkan
kata-kata yang menghina suaminya sekalipun dia ateis. Selama ini suaminya terus
menghina dia, tetapi istrinya tidak menghina dia. Itu menyebabkan dia menjadi
guilty, kenapa terus jahat kepada istrinya, terus mengejek dia. Di situ
akhirnya membuat dia melihat iman Kristen memiliki suatu nilai yang indah.
Yang ketiga, semampu kita, kalau itu berada di dalam kekuatan kita,
jadikanlah pernikahan saudara sebagai pernikahan Kristen, dengan menjalankan
prinsip-prinsip firman Tuhan di dalamnya. Kalau suami tidak objection, kita
menerapkan prinsip firman Tuhan, berdoa bersama anak-anak, menciptakan sukacita
dan kebahagiaan rohani di dalam rumah tangga.
Yang keempat, hidup dengan sukacita. Itu yang menyebabkan hidup keluarga
saudara akan lebih bahagia. Joy itu tidak bergantung bagaimana situasi dan
kondisi kehidupan kita. Mengapa saya baru menjadi istri yang bahagia dan
mendapat rumah tangga yang baik kalau suamiku menjadi Kristen? Paulus bisa
meminta kita rejoice meskipun dia sendiri berada di dalam penjara. Mengapa saya
tidak bisa memiliki hidup yang penuh dengan sukacita dan kebahagiaan sekalipun
mungkin hidup di tengah-tengah suami yang tidak percaya? Hanya dengan
kelembutan dan sukacita, kita bisa memenangkan suami kita dan membahagiakan
kehidupan rumah tangga kita. Saya harap panggilan firman Tuhan ini menjadi
prinsip yang benar di dalam hidup saudara. Saya tutup seri khotbah ini dengan
doa saya, biar Tuhan mempertumbuhkan dan memperkokoh hidup rumah tangga
saudara. Belum ada kata terlambat dan tidak sanggup melakukannya. Tetap
pelihara pengharapan dan keinginan mau menjadikan keluarga kita bahagia.
Amin.(kz)
Sumber:
http://www.griisydney.org/ringkasan-khotbah/2008/2008/12/28/hidup-dengan-pasangan-yang-tidak-seiman/
Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio
""Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di
depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."
(1Sam. 16:7b)
---------------------------------
Sikap Peduli Lingkungan?
Temukan jawabannya di Yahoo! Answers!