SOLA
SCRIPTURA

 

oleh: Pdt.
Eddy Fances, D.Min.

 

 

 

 

Saya pernah mendengar seseorang yang bersaksi
demikian: “Ketika bekerja di daerah pedalaman, saya sulit tidur di malam hari.
Seperti ada roh jahat yang mau mengganggu. Lalu saya mengambil Alkitab,
membukanya dan menaruh di bagian atas bantal saya.” 

 

“Lho, mengapa demikian?” tanyaku ingin tahu
alasannya berbuat hal yang aneh itu. 

 

“Ya, supaya kalau roh jahat itu datang, dia
melihat tulisan Alkitab itu, dia takut dan lari. Bukankah Alkitab adalah pedang
Roh?” jawabnya sedikit tersipu. 

 

Memang dalam surat Efesus 6:17 dikatakan: “Dan
terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu Firman Allah.” Namun ayat
di atas janganlah disalah-tafsirkan. Istilah “pedang roh” bukan berarti Alkitab
sama dengan “jimat” atau “benda magis” yang dijadikan sebagai alat untuk
menakut-nakuti si Iblis atau untuk melindungi Anda dari mara bahaya, kecelakaan,
atau bencana lainnya. Mungkin orang tersebut di atas telah dipengaruhi oleh
beberapa film horor dengan latar belakang kepercayaan Mistis dan Sinkretis yang
memperalat Alkitab atau tanda salib sebagai “jimat” atau “alat al-wasiat” untuk
melawan dan mengusir roh-roh jahat. 

 

Ketika Tuhan Yesus inkarnasi ke dunia ini,
dengan tujuan untuk menggenapkan keselamatan bagi manusia berdosa, Iblis
berusaha menggagalkan rencana itu dengan mencobaiNya. Ada tiga tawaran yang
diberikan oleh iblis dalam pencobaan di padang gurun setelah Yesus berpuasa 40
hari lamanya (lih. Mat. 4:1-11). Yakni yang berhubungan dengan aspek phisikal,
mental, dan spiritual. Menarik sekali untuk kita teladani bahwa Tuhan Yesus
mematahkan semua tawaran Iblis dan mengalahkannya hanya dengan kuasa Firman
Tuhan. Dari ketiga jawaban Yesus, Dia selalu memakai Firman Tuhan dengan
berkata: “Ada tertulis …, ada tertulis …, ada tertulis ….” Inilah sesungguhnya
rahasia untuk melawan Iblis dengan segala kelicikannya. Firman Tuhan yang
‘mendarah daging dalam kehidupan’, adalah senjata yang ampuh untuk menangkal
segala pencobaan yang ditawarkan Iblis.

 

Jelaslah, “pedang Roh” yang dimaksudkan rasul
Paulus adalah Alkitab (Perjanjian Lama & Perjanjian Baru, tanpa tambahan),
yang adalah Firman Allah yang menjadi standar (tolak ukur) dalam iman, moral,
dan kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang diperjuangkan oleh bapak Reformator:
Dr. Martin Luther pada tahun 1517, ketika dia memakukan 95 thesis di pintu
gereja Wittenberg, memprotes ajaran dan praktik kuasa kepausan yang sudah
menyimpang dari Kebenaran Alkitab. Dia mengajak semua orang percaya untuk
kembali kepada Kebenaran Alkitab seperti gereja para rasul di abad pertama,
dengan satu motto, yaitu: “Sola Scriptura”,
yang berarti: “Hanya Alkitab”. Hanya Alkitablah, satu-satunya tolak ukur dari
iman, doktrin, moral/etika, dan semua praktik hidup dari orang percaya. Bukan
ajaran buatan manusia, karena manusia itu tidak sempurna dan bisa bersalah,
termasuk paus sekalipun, bisa blunder.
(www.iclnet.org/pub/resources/text/wittenberg/luther/web/ninetyfive.html).

 

Isi Alkitab bisa disalah-tafsirkan dan
diselewengkan untuk maksud-maksud tertentu. Berhati-hatilah! Tafsiran Alkitab
yang benar harus dapat dipertanggung jawabkan secara akademis dan historis,
dimengerti dari konteksnya, sejarahnya, tata bahasanya, arti katanya, sehingga
maksudnya sungguh-sungguh “digali keluar” (“exegesis”)
sesuai dengan yang dikehendaki Allah. Bukan “memasukkan data-data subjektif” 
(“eisegesis”) untuk kepentingan pribadi,
golongan tertentu, atau untuk mendukung ‘ajaran tertentu yang menyimpang’ demi
suatu agenda yang tersembunyi. Akibatnya, akan menimbulkan berbagai penyesatan,
misalnya: adanya pencampuran kepercayaan (Sinkretisme), ide tahayul
(Mistisisme), pengkultusan manusia, dan/atau materi, dan/atau malaikat
(Idolatriisme), penyembahan roh-roh jahat (Okultisme), theologi yang subjektif
(mis: theologi Kemakmuran, theologi Liberal, theologi Pluralisme, theologi
Post-Modernisme, theologi Marginal, dls), atau ajaran-ajaran bidat yang sengaja
melawan kebenaran Firman Tuhan.

 

Waspadalah! Orang percaya bisa terjebak dalam
tipuan Iblis. Di satu pihak, dia mengaku beriman kepada Yesus Kristus sebagai
Juruselamat, Penebus, atau Pengantaranya kepada Allah Bapa; tetapi di pihak
lain, dia juga ikut dalam praktik penyembahan orang tua atau nenek moyang, atau
percaya kepada barang-barang jimat/mistis, getol mengunjungi tempat-tempat yang
dianggap keramat, berdoa kepada orang kudus dan malaikat, mendoakan orang mati,
termakan ide tahayul buatan manusia, atau mengikuti ajaran/ theologi yang tidak
sesuai dengan Kebenaran Firman Tuhan. Rasul Yohanes menuliskan, “Anak-anakku,
waspadalah terhadap segala berhala.” (1Yoh. 5:21). Ayat ini sangat jelas. Tidak
perlu dipelintir, atau ditafsirkan dengan alasan subjektif apa pun, atau
kekecualian apa pun. “Segala berhala” di sini termasuk materi/benda, malaikat,
orang-orang kudus, manusia, ideologi/theologi atau apa saja, selain Allah
TriTunggal, yang telah dijadikan sebagai pusat penyembahan, pusat hidup,
falsafah hidup, motif, dan tujuan dari hidup ini.

 

Allah yang benar menuntut kesetiaan dari
umatNya. Ibarat seorang suami yang menuntut istrinya setia hanya kepadanya.
Tidak ada kecuali, tidak perlu ada tambahan, entah dia itu saudara kandung,
ayah, ibu, paman, teman baik, bahkan malaikat; tidak boleh menggantikan posisi
suaminya. Lebih dari satu, sama dengan perjinahan, ketidak-setiaan, dan
penyimpangan. Itulah yang dialami oleh Dr. Martin Luther, yang akhirnya
membuatnya sadar, lalu bertobat dan kembali kepada Kebenaran Alkitab. Kemudian
memicu dia mencetuskan Reformasi, yaitu panggilan kepada orang percaya agar
kembali kepada Kebenaran Alkitab. Ya, hanya Alkitab! Sola Scriptura! Biarkan 
Allah menjadi Allah; dan manusia menjadi
manusia. “Let God be God! And let man be
man!” 

 

Sebab itu, sebagai orang percaya, sudah
seharusnya kita belajar dari sejarah, agar tidak mengulangi kesalahan yang
sama. Bangkitlah dari kenaifan, kemalasan, ketidak-pedulian, dan kecerobohan.
Sudah saatnya kita membaca Alkitab lebih disiplin, dan lebih bertanggung jawab.
Jangan asal percaya apa yang diajarkan oleh para rohaniwan—entahkah itu
pendeta, guru Injil, romo, imam, uskup, kardinal, atau paus sekali pun.
Beranilah bertanya bila Anda tidak mengerti, ragu-ragu, atau bingung. Meragukan
dan bertanya untuk menemukan kebenaran sejati sama sekali tidak berdosa! Justru
sikap naif, cuek, asal percaya, ikut-ikutan, ketidaksetiaan, dan sembarangan
adalah sikap yang tidak bertanggung jawab, dan dapat menyesatkan bukan saja
diri Anda sendiri, tetapi juga menyesatkan orang lain. Bandingkan: 1 Timotius
4:16.

 

Jadi, Alkitab hendaklah jangan diperalat
sebagai sebagai “jimat khusus” tetapi hendaknya dibaca, dihayati, dan
diterapkan ‘mendarah-daging’ dalam segala aspek hidup secara nyata. Dengan
demikian kita dapat membangun hubungan yang erat dengan Tuhan melalui Roh-Nya
yang diam di dalam kita. Roh Kuduslah yang akan menolong dan mengingatkan kita
terhadap kebenaran Firman Tuhan yang kita pelajari, untuk melawan dan
mengalahkan tipu muslihat dari si Jahat. Lihat: Yohanes 14:26; 16:12-15.

 

 

 

Sumber: http://ignc-usa.org/sermon

 

 

 

Profil
Pdt. Dr. Eddy Fances:

Pdt. Eddy Fances, D.Min. adalah gembala
sidang Indonesian Good News Church of Los Angeles, U.S.A. Beliau adalah alumni
Institut Alkitab Tiranus (IAT) Bandung dan menyelesaikan studi Doctor of 
Ministry (D.Min.) di Reformed
Theological Seminary, Jackson, Mississippi, U.S.A.

“The evil in our desires often lies not in what we want, but in the fact that 
we want it too much.”
(Dr. John Calvin; paraphrased by Dr. David Powlison; as quoted in Rev. C. J. 
Mahaney, Worldliness: Resisting the Seduction of a Fallen World, ed. C. J. 
Mahaney, p. 20)




Kirim email ke