From: hesti biaktika 

SUKACITA DALAM PENDERITAAN
 
Banyak orang takut dengan penderitaan, bukan ? Mengapa ? Karena banyak orang 
berpikir, yang namanya penderitaan itu pasti gloomy, sedih, tertekan, murung, 
bertopang dagu, meratapi nasib dan berkata “Oh, malangnya nasibku…….” atau 
bernyanyi : “Aku tak mau menderita begini, mudah-mudahan ini hanya mimpi, hanya 
mimpi…….” (tanpa mengurangi rasa hormat kepada Koes Plus dengan lagunya ‘Kisah 
Sedih di Hari Minggu). Atau berkata begini : “ini gara-gara si anu sih, aku 
jadi begini……”
 
Dulu, saya suka lagu ini :
…..and you build that wall….and you build that wall….and you make it stronger…..
You have no right to ask me how I feel
You have no right to speak to me that kind….
Ini adalah petikan syair ‘Separate Lives’ oleh Phil Collins.
Dikemudian hari saya tahu, ini bukan lagu Prajurit Tuhan, ini lagu self pity 
dan kekalahan, karena prajurit Tuhan itu kalau menghadapi tembok, ya harus 
dipanjat!
 
Dulu, saya juga manusia normal, yang suka lagu popular yang lagi ‘ngetrend’, 
menghayatinya, tanpa mengerti bahayanya. Lho, ada bahayanya menghayati lagu 
popular ? Ya, karena Tuhan berkata ‘Jadilah seperti imanmu !’ Saya tidak 
berkata bahwa orang Kristen tidak boleh mendengarkan lagu-lagu dunia, tetapi 
saya berharap anda dapat memilah-milah sendiri lagu apa yang anda mau 
dengarkan, dan lagu mana yang tidak. Mari kita bicara lagu dunia !
 
Jika anda sedang sedih, lalu anda menyanyikan lagu ‘Kisah Sedih di Hari Minggu’ 
itu, anda seperti sedang meneteskan cuka ke luka anda sendiri! Akibatnya anda 
akan semakin perih, tenggelam dalam kesedihan dan mengasihani diri sendiri. 
Lalu anda berteriak-teriak : “Periiih……sakiiiit…….”. Tentu saja anda akan terus 
merasa perih dan sakit, karena anda terus menetesi luka anda dengan cuka. Kapan 
sembuhnya ? Kalau anda luka, tetesi dengan ‘betadine’, perih sekali, tapi 
sebentar saja, sesudah itu kering ! 
 
Bandingkan dengan lagu-lagu ini :
 
There’s an angel standing in the sun
And he shouts with a loud voice :
This is the supper from The Mighty One
King of kings, Lord of lords
Has return to lead His children home
To lead them to the New Jerusalem……
(Ini adalah ujungnya syair lagu ‘Supper’s Ready’. Syair lagu ini ditulis oleh 
Peter Gabriel dari Genesis, terilhami dari Kitab Revelation/Wahyu) 
 
Me and Sarah Jane in silence walk along the shore
Tears of joy, and mocking laughter, words lost in the wind
The tide was rising, but there we stay,
We had no fear of dying, we weren’t afraid…..
(Ini adalah ujung syair lagu ‘Me And Sarah Jane’, dari Genesis)
 
Tentu ini bukan tulisan untuk mempromosikan Genesis, banyak juga lagu Genesis 
yang tidak baik, tetapi maksud saya adalah, lebih baik kita memilih lagu dunia 
mana yang ingin kita dengarkan dan mana yang tidak. 
 
Dan saya sangat senang untuk membahas ujung syair lagu Me And Sarah Jane dari 
Genesis ini. Nah, inilah lagu dari seorang prajurit Tuhan. Jadi, ‘Separate 
Live’ saya ganti dengan ‘Me And Sarah Jane’. Pertanyaannya adalah, bagaimana 
bisa ada ‘air mata sukacita’ (tears of joy) dan ‘tawa bercanda’ (mocking 
laughter) di tengah badai yang sedang mengamuk ? (the tide was rising)
 
“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan : 
Bersukacitalah!” Filipi 4;4
 
Menurut Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan terbitan Gandum Mas, surat Paulus 
kepada jemaat di Filipi ini ditulis oleh Paulus dari dalam penjara !
 
Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu 
ada dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih 
karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku di penjarakan, maupun pada 
waktu aku membela dan meneguhkan Berita injil. (Fil 1;7)
 
Aku menghendaki saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi 
atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil. Sehingga telah jelas bagi 
seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus. Dan 
kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku 
untuk bertambah berani berkata-kata tentang Firman Elohim dengan tidak takut 
(Fil 1; 12-14)
 
Lalu bagaimana di penjara bisa ada sukacita ? Dipenjara itu tidak enak bukan ? 
Kebebasan dirampas, hak dirampas, mau begini susah, mau begitu susah. Bagaimana 
Paulus bisa bersukacita di dalam penjara ? Memang tidak dituliskan di Surat 
Filipi, tetapi kita dapat membaca satu contoh di Kitab Kisah Para Rasul 27;14-26
 
Dikisahkan bahwa kapal yang ditumpangi Paulus harus menghadapi badai, tetapi 
suatu malam Paulus mendapat penglihatan :
 
Karena tadi malam seorang malaikat dari Elohim, yaitu dari Elohim yang aku 
sembah sebagai milikNya, berdiri di sisiku, dan ia berkata : “Jangan takut, 
Paulus ! Engkau harus mengahdap Kaisar, dan sesungguhnya oleh karunia Elohim, 
maka semua orang yang ada bersama-sama dengan engkau di kapal ini akan selamat 
karena engkau.” Kis. 27;23-24
 
Jadi sukacita Paulus bersumber dari pernyataan-pernyataan Elohim, demikian juga 
sukacita anak-anak Tuhan di masa kini, walaupun di tengah-tengah badai dan 
penderitaan.
 
Jika dalam penderitaan anda tetap membaca alkitab, tetap menyanyi memuji Tuhan, 
maka anda akan mendapatkan banyak pernyataan Elohim yang akan membuat anda 
bersukacita. Nah, itulah sungguh-sungguh sukacita sejati, yang sungguh-sungguh 
berasal dari Elohim, bukan dari situasi-kondisi anda.
 
Demikian juga dengan sukacita di dalam jemaat di gereja kami. Sekalipun mereka 
ada di dalam penderitaan, mereka bersukacita dalam memuji Tuhan, mereka menari 
dengan selendang dan panji-panji. Mengapa begitu ? Sukacita mereka berasal dari 
Hadirat Tuhan dan pernyataan-pernyataan Elohim di gereja kami, bukan dari 
situasi kondisi mereka yang tengah ada dalam penderitaan. 
 
Jadi, kalau dalam penderitaan anda tidak membaca Alkitab, tidak memuji Tuhan, 
tentu penderitaan akan membuat anda sedih, murung, dan sebagainya.
 
Jadi, berani menyanyikan lagu ini ? (Tentunya syairnya saya ganti dengan 
‘present tense’)
 
Me and Sarah Jane, in silence walk along the shore
Tears of joy and mocking laughter, words lost in the wind
The tide is rising, but there we stay
We have no fear of dying, we are not afraid……
 
……dan Paulus berkata : “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal 
saja aku dapat mencapai garis akhir……………Kis 20;24
 
Hesti, 22 Jan 09 
===================================================
From: hesti biaktika 

Keputusan Sang Ayah

Coba anda tanyakan pada Tuhan : “Tuhan, istri simpananku sekarang ada di mana, 
sorga atau neraka ?”…..Setelah anda mendapat jawabannya, saya percaya anda akan 
berhenti dengan ‘kejawen’, ‘kebatinan’, ‘meraga sukma’, ‘manusia manunggal 
kawula gusti’, ‘manusia maha tahu’, dukun-dukun, peramal-peramal, 
paranormal-paranormal dan lain lain….dan anda hanya mau belajar Alkitab saja ! 
 
Keputusan sang ayah 
 
Setelah beberapa lagu pujian seperti biasanya pada hari minggu, pembicara 
gereja bangkit berdiri dan perlahan-lahan berjalan menuju mimbar untuk 
berkhotbah.

"Seorang ayah dan anaknya serta teman anaknya pergi berlayar ke samudra 
Pasifik", dia memulai, "ketika dengan cepat badai mendekat dan menghalangi 
jalan untuk kembali ke darat.. Ombak sangat tinggi, sehingga meskipun sang ayah 
seorang pelaut berpengalaman, ia tidak dapat lagi mengendalikan perahu sehingga 
mereka bertiga terlempar ke lautan."

Pengkotbah berhenti sejenak, dan memandang mata dua orang remaja yang 
mendengarkan cerita tersebut dengan penuh perhatian. Dia melanjutkan, "Dengan 
menggenggam tali penyelamat, sang ayah harus membuat keputusan yang sangat 
sulit dalam hidupnya....kepada anak yang mana akan dilemparkannya tali 
penyelamat itu. Dia hanya punya beberapa detik untuk membuat keputusan.

Sang ayah tahu bahwa anaknya adalah seorang pengikut Kristus, dan dia juga tahu 
bahwa teman anaknya bukan. Pergumulan yang menyertai proses pengambilan 
keputusan ini tidaklah dapat dibandingkan dengan gelombang ombak yang ganas. 
Ketika sang ayah berteriak, "Aku mengasihi engkau, anakku!" dia melemparkan 
tali itu kepada teman anaknya. Pada waktu dia menarik teman anaknya itu ke sisi 
perahu, anaknya telah menghilang hanyut ditelan gelombang dalam kegelapan 
malam. Tubuhnya tidak pernah ditemukan lagi."

Ketika itu, dua orang remaja yang duduk di depan, menantikan kata-kata berikut 
yang keluar dari mulut sang pembicara. "Sang ayah," si pembicara melanjutkan 
,"tahu bahwa anaknya akan masuk dalam kekekalan dan diselamatkan oleh Yesus, 
dan dia tidak sanggup membayangkan jika teman anaknya melangkah dalam kekekalan 
tanpa Yesus. Karena itu dia mengorbankan anaknya sendiri. Betapa besar kasih 
Elohim, sehingga Ia melakukan hal yang sama kepada kita." Sang pembicara 
kembali ke tempat duduknya sementara keheningan memenuhi ruangan.

Beberapa saat kemudian, dua orang remaja duduk di sisi pembicara. "Cerita yang 
menarik," seorang remaja memulai pembicaraan dengan sopan, "tapi saya pikir 
tidaklah realistis bagi sang ayah untuk mengorbankan hidup anaknya hanya dengan 
berharap bahwa teman anaknya akan menjadi seorang pengikut Kristus."

"Benar, engkau benar sekali," jawab pembicara. Sebuah senyum lebar menghiasi 
wajahnya dan kemudian di memandang kedua remaja tersebut dan berkata, "Tentu 
saja itu tidak realistis bukan ? Tapi saya ada di sini untuk memberitahu kalian 
bahwa cerita itu membuka mataku tentang apa yang sesungguhnya terjadi ketika 
Tuhan memberikan AnakNya untuk saya."Engkau tahu ... sayalah teman sang anak 
itu".
Karena begitu besar kasih Elohim akan dunia ini, sehingga Ia telah 
mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya 
kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. ~Yohanes 3:16

Author : Unknown
Sumber : Gen-x Forum
=======================================================
From: hesti biaktika 

MENGGALI PANGGILAN TUHAN
 
Ada teman berkata kepada saya : “Kenapa sih kamu tidak jadi arsitek saja ? Yang 
focus begitu lho dengan pekerjaanmu. Tidak usah menginjil, tidak usah menulis, 
itu buang-buang waktu.”
 
Memang tidak ada salahnya bukan untuk hanya menjadi arsitek saja ?
 
Mungkin, dulu teman-teman Paulus juga berkata-kata seperti itu pada Paulus :
“Paulus, Paulus, please deh! Jadi Kristen ya jadi Kristen, tapi tidak usah 
terlalu ekstrimlah. Capek-capek keliling kota, menginjil di sinagoge-sinagoge. 
Sudahlah, kamu menetap saja di Korintus, buat perusahaan tenda, kongsian saja 
dengan Akwila dan Priskilla. Kamu focus saja dengan perusahaanmu, nanti kan 
perusahaanmu jadi besar, lalu kamu bisa memberkati karyawanmu dengan berkat 
materi, membiayai pelayanan, sama juga to ? Itu kan menyenangkan Tuhan juga to 
?”
 
Saya harus memulai dengan sebuah ilustrasi. Katakanlah anda adalah seorang 
pengusaha kaya raya, tetapi murah hati dan penuh belas kasihan. Oleh karena 
pelayanan anda, anda banyak bergaul dengan pemulung-pemulung. Lalu sedang anda 
berkumpul dengan para pemulung itu, anda menemukan seorang pemulung yang 
menurut anda punya potensi untuk direkrut di perusahaan anda, untuk membesarkan 
perusahaan anda. Tetapi walaupun punya potensi, pemulung ini pendidikannya 
tidak memadai, mungkin hanya lulusan SMP saja.
 
Jadi anda menyekolahkannya ke SMA, sambil anda memberinya kursus bahasa 
Inggris, supaya lulus test toefl. Lalu setelah lulus SMA, anda kirim pemulung 
ini ke Amerika, untuk kuliah jurusan Entrepreneurship. Semua biaya hidup sampai 
biaya sekolah, andalah yang menanggungnya. 
 
Lalu setelah lulus Sekolah Entrepreneurship di Amerika itu, pemulung ini datang 
kepada anda dan berkata : “Pak, terima kasih ya. Bapak sudah baik hati, 
menyekolahkan saya tinggi-tinggi, saya sudah mendapatkan banyak pendidikan dan 
pelatihan tentang Entrepreneurship. Tetapi pak, sekarang saya tidak mau bekerja 
untuk perusahaan Bapak, saya memilih untuk tetap menjadi pemulung saja…….!”
 
Dapatkah anda bayangkan perasaan anda ? Mungkin anda marah, geram, sedih, 
kecewa, campur aduk rasanya. Anda akan berkata : “Aku telah memilihmu dari 
sekian banyak pemulung, karena melihat potensi di dalam dirimu. Aku memberimu 
pendidikan dan pelatihan di sekolah yang mahal. Aku berharap setelah engkau 
pulang engkau dapat membangun suatu bisnis denganku, yang akan menguntungkanku 
dan dirimu sendiri. Aku berharap engkau dapat merubah sampah menjadi bisnis 
yang besar. Bagaimana engkau sekarang dapat kembali dan berkata : ‘Pak, aku mau 
jadi pemulung saja’.”
 
Sayalah pemulung itu, kalau saya berkata pada Tuhan : “Tuhan, aku hanya mau 
menjadi arsitek saja.” 
 
Setiap pengalaman hidup, adalah ‘sekolah Tuhan’ yang harganya mahal. Tuhan 
tidak pernah iseng, Tuhan memberi kita pengalaman hidup supaya kita belajar 
KebenaranNya, dari apapun yang terjadi dalam kehidupan kita. Peristiwa yang 
terjadi dalam kehidupan kita sehari hari adalah pendidikan dan latihan dari 
Tuhan, atau Sekolah Tuhan. Apa gunanya semua itu ? Supaya anda dan saya bekerja 
bagi KerajaanNya.
 
Dulu, saya juga tidak mengerti ini. Dulu, saya juga manusia normal, yang punya 
cita-cita sendiri. Dan cita-cita saya sederhana saja, yaitu menjadi arsitek 
free lance untuk rumah tinggal dan interior saja. Tidak ada yang salah bukan 
dengan cita-cita ini ? Tetapi itu terlalu sederhana dan terlalu kecil di mata 
Tuhan Yang Besar. Tuhan punya cita-cita yang lebih besar dan lebih berguna bagi 
Kerajaan Elohim, daripada cita-cita saya sendiri.
 
Seandainya anda punya anak, tentu anda punya cita-cita yang besar untuk anak 
anda.bukan ? Dan anda pasti mau menyekolahkan anak anda di sekolah termahal 
sekalipun, asalkan cita-cita anda untuk anak anda itu tercapai. Kadang-kadang 
kita itu seperti anak kecil yang asyik main game, pada jam seharusnya kita 
sekolah. Jika anda mendapatkan anak anda main game, pada saat seharusnya anak 
anda berangkat sekolah, apa yang anda lakukan ? Anda mula-mula hanya menegurnya 
saja : “Nak, kamu harus sekolah. Karena nanti, kalau sudah besar, kamu akan 
mewarisi perusahaan papa, dan kamu harus mengelolanya. Jadi, untuk itu, kamu 
harus sekolah dulu.”
 
Anak anda berkata : “Papa reseh amat sih ? Ini gamenya lagi seru nih. Jangan 
ganggu kesenanganku papa !” Apa yang anda akan lakukan ? Mungkin anda putuskan 
saja arus listrik di rumah anda, computer anak anda mati, dan anak anda 
terpaksa berangkat ke sekolah !
 
Kadang-kadang kita tidak mengerti mengapa Tuhan harus tarik kita keluar dari 
kenyamanan dan kesenangan kita. Tahun 1998 itu saya sedang enak-enaknya 
bekerja. Di kantor saya harus menyelesaikan 44 proyek interior seluruh 
Indonesia dan diluar kantor saya punya proyek pribadi, yaitu mendesign dan 
membangun rumah tinggal. Tiba-tiba anda menjatuhkan saya bukan ? Waktu itu saya 
tidak mengerti. Saya harus menganggur 6 tahun dalam keadaan tidak mengerti 
duduk perkaranya. Setiap hari saya harus menghadapi perkataan aneh-aneh, dari 
teman telepon atau datang tanpa mengetahui duduk perkaranya. Saya butuh waktu 
10 tahun untuk mengerti bukan ? Tetapi dalam waktu 10 tahun juga Tuhan 
mengajarkan saya banyak hal, pendidikan, pengajaran, pelatihan, yang saya sebut 
‘Sekolah Tuhan’. 6 tahun menganggur, saya pakai untuk baca Alkitab bolak balik, 
termasuk Bible NIV. 
 
Apa yang Tuhan mau sebenarnya ? Di mata Tuhan, arsitektur saya hanyalah sebuah 
game saja. Tuhan mau saya sekolah, karena Tuhan punya cita-cita buat saya. 
Sehingga Tuhan harus menarik saya keluar dari kesenangan saya itu, untuk masuk 
Sekolah Tuhan, dan setelah lulus saya harus bekerja bagi KerajaanNya.
 
Mengapa saya harus menghadapi percobaan pembunuhan di tahun 1998 ? Tuhan 
memberi pengalaman itu pasti untuk suatu maksud, yang tidak dapat saya tuliskan 
di sini. Mengapa saya harus menghadapi fitnah ? Mengapa saya harus menghadapi 
ilmu hitam, kejawen, ‘manusia maha tahu’, ‘manusia manunggal kawula gusti’ ? 
Tuhan punya maksud dengan itu. Setiap pengalaman adalah pembelajaran dari 
Tuhan. Itu adalah semacam ‘penggemblengan mental’, seperti yang harus dialami 
oleh ‘prajurit alam materi’.
 
Saya berharap, setiap pengalaman hidup tidak anda lewatkan tanpa belajar 
apa-apa. Kalau anda perginya ke dukun, paranormal dll, tentunya anda tidak 
mendapatkan pengajaran apa-apa. Anda harus datang kepada Tuhan, dan bertanya : 
“Tuhan, apa yang harus aku pelajari dari hal ini ?” Karena Tuhan memberi kita 
masing-masing pengalaman yang berbeda, supaya kita dapat belajar. Dan semua 
pengalaman hidup, pasti berkenaan dengan panggilan kita masing-masing.
 
Saya tidak dapat menulis banyak, karena saya tidak dapat membuka apa panggilan 
saya. Tetapi saya berharap, anda tidak terus menerus hidup bagi diri anda 
sendiri, tetapi mulailah hidup bagi Tuhan. 
 
Jadi dapatkah anda mengerti mengapa pada tahun 2009 ini Tuhan berpesan : 
“berhenti melihat dirimu sebagaimana manusia melihat dirimu, tetapi lihatlah 
dirimu sebagaimana Aku melihat dirimu.” Kita harus melihat diri kita sendiri 
sebagaimana Tuhan melihat kita, supaya kita dapat masuk dalam panggilanNya 
dalam hidup kita.

Kirim email ke