BERBAKTI
DEMI ROTI

 

oleh: Pdt.
Bigman Sirait

 

 

 

PERCAYA atau tidak, sejak zaman
Yesus melayani, bahkan di era Perjanjian Lama (PL), perilaku berbakti demi roti
ternyata telah lama bersemi. Pelayanan Yesus selalu ramai dengan orang-orang
dari berbagai kelas, juga berbagai motivasi. Dengan mudah kita menemukan Yesus
yang melayani kelas bawah, namun DIA tak kagok di lingkungan elit. Melayani
tanpa pernah terjebak motivasi yang salah, membedakan pelayanan berdasarkan
kelas tertentu. Yesus yang melayani dalam kebenaran yang utuh, tak pernah
sungkan menghardik, bahkan mencela siapa saja yang berlaku salah. Bahkan ahli 
Taurat
disebutnya si pemimpin buta, yang penuh dengan perilaku tercela. Orang kaya
disindirnya sebagai manusia yang terikat dengan harta, juga susah masuk surga.

 

Tapi, tunggu dulu, tak sedikit
orang miskin juga dicela karena memiliki motivasi yang salah. Hal itu tampak
nyata ketika kebanyakan dari mereka datang beribadah ternyata untuk mencari
roti. Dalam Yohanes 6:1-15 dikisahkan, ketika Yesus melakukan mukjizat dalam
pelayanan di tepi Danau Tiberias. Ada banyak orang yang datang karena melihat
mukjizat-mukjizat penyembuhan yang telah dilakukan Yesus. Menarik, catatan
Yohanes, orang banyak rela berdesak karena mukjizat, bukan karena haus akan
kebenaran berita Injil. Jadi, tidaklah mengherankan ketika mereka dikritik oleh
Yesus Kristus sebagai pencinta roti belaka, bukan pencinta kebenaran (Yoh. 
6:26).
Mereka tak melihat mukjizat sebagai tanda kehadiran dan penyertaan Allah,
melainkan sebagai pemuas diri semata. Kesembuhan dilihat sebagai “saya telah
sembuh”, bukan “Yesus hadir di hidup saya”.

 

Kalimat-kalimat yang terucap
“terima kasih Yesus, Allah Mahakuasa”, tak lebih karena mengalami mukjizat,
namun tak kuat ketika badai kehidupan bertiup. Semua orang getol untuk melihat
mukjizat dalam sebuah kebaktian, namun tak tampak dalam mencari kebenaran.
Semua berdiskusi tentang cara, penampakan, dan model mukjizat, namun tak pernah
mendalami apa yang menjadi kehendak Allah yang sesungguhnya. Orang banyak
datang ke kebaktian kebangunan rohani (KKR), bagai hendak menonton konser
mukjizat. Semua seperti tertipu dengan fakta, betapa gembala tak seperti
gembala, tapi lebih pas bagai selebritis kelas atas. Buah hidup, sebagaimana
yang digugat Yesus sebagai bukti pengenalan akan pohon, diabaikan. Kekristenan
bagai arena demonstrasi “adu hebat mukjizat”, layaknya dunia perdukunan di
dunia kebatinan. Dan, gong bersambut karena ternyata orang banyak memang mau
itu. Orang banyak yang mengikut Yesus karena telah makan roti, tentu saja
berharap akan makan roti, dan, makan roti lagi. Banyak yang datang bukan karena
kebenaran tapi karena mukjizat roti. Dan, ikut Yesus disamakan dengan dapat
roti.

 

Tragis. Tapi itulah
kenyataannya. Yesus sendiri telah menelanjanginya. Namun yang lebih ironis,
ternyata umat tak pernah belajar. Tua, muda, pria, wanita, kaya, miskin, semua
tampak sama, terjebak lagi dalam konstelasi berbakti demi roti. Banyak orang
datang berbakti ke tempat yang ada roti, tapi tak rela pergi ke ibadah yang
menggugah, yang menggali kebenaran secara utuh. Yang menyediakan roti dengan
alasan belas kasihan dan kepedulian pelayanan, sementara yang datang dengan
motivasi demi perut agar terisi. Ada roti, kebaktian penuh. Tak ada roti,
segera sepi. Mereka berpindah bagaikan hunter tulen, berburu roti dari satu
persekutuan ke persekutuan lainnya. Maksud baik menolong, dengan menyediakan
roti, malah menjadi ajang pengguguran kesejatian iman.

 

Hmm, betapa pentingnya sikap
kritis, dan perhitungan melakukan aksi kasih, agar tak salah arah, atau, malah
mencipta yang salah. Maksud baik saja tak cukup. Lihatlah Yesus Kristus, Tuhan
sumber baik, yang mahabaik itu, DIA tetap mengkritisi sikap iman tiap orang,
tak peduli apa atau bagaimana posisi strata ekonominya. Yesus kritis, itu
adalah kesejatian iman yang teruji. Yesus tegas, itu adalah keunggulan iman
yang tangguh. Tak ada motivasi yang tersembunyi, dan memang tak boleh ada. Roti
memang perlu, namun bukan yang utama. Di sisi lain, tak kurang penggemar
“mukjizat” lainnya. Mereka selalu riuh rendah dan rela merogoh kocek dan
berdesakan untuk menghadari kebaktian demonstrasi mukjizat. Tak jelas, apakah
mereka membaca Kitab Suci, membaca kritik Yesus sendiri. Mobilisasi ratusan,
bahkan ribuan orang, yang menghabiskan dana yang tak kecil sering terjadi,
hanya untuk sebuah kebaktian yang mendemonstrasikan mukjizat. Sungguh berbeda
dengan sikap Yesus yang mengkritik mereka yang datang berbondong-bondong untuk
mukjizat, maka ini, alih-alih mengkritik, para pengkhotbah malah senang. Alasan
mereka toleransi, atas nama iman yang masih bayi, sekalipun yang datang orang
Kristen yang sudah tahunan. Dan, sesudah itu juga tak ada follow up, alias
pemuridan, kecuali follow me, alias pengikut.

 

Yah, semangat murni, dari
berita Injil yang murni, seperti yang Yesus ajarkan, memang semakin langka.
Berbakti demi roti, tetap saja mendapat posisi. Banyak penggemar, bahkan rela
mengantri. Ibadah masa kini selalu diukur dari kuantitas, perasaan puas.
Kualitas diabaikan, pengujian tak dipedulikan, bahkan, semakin hari ajaran inti
dari Injil semakin dimanipulasi dengan angka-angka kuantitas. Emosi massa
menjadi sasaran empuk. Apalagi Injil semakin dipermudah, hanya sekadar ibadah
dan mukjizat yang banyak, spektakuler. Kebenaran, buah Roh (Gal. 5:22-23), 
sebagai
wujud nyata keimanan disembunyikan. Kasih yang seharusnya tampak jelas, bagai
kota di atas gunung, ternyata seperti pelita di bawah gantang, tersembunyi,
karena memang tak dimiliki. Disembunyikan, untuk menimbulkan kesan seakan ada,
padahal, tiada.

 

Tak ada yang suka kebenaran
sejati, buah yang tampak. Yang ada, barisan panjang penggemar sensasi, pecinta
roti, dan selalu sukses memberi embel-embel kehendak Ilahi. Bukankah hari sudah
semakin malam, siang akan lewat, dan awas pencuri sewaktu-waktu bisa datang.
Berjagalah supaya tak terlewatkan, Yesus datang menemui kita tak sedang
mengumpulkan roti, melainkan kebenaran yang sejati. Ingat roti bukan tak
penting, mukjizat bukan salah, tapi mana yang terutama, utamakanlah. Apakah
kita telah lupa pada kalimat manis-NYA: Manusia hidup bukan dari roti saja,
tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Mat. 4:4). Tetapi
carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-NYA, maka semuanya itu akan akan
ditambahkan kepadamu (Mat. 6:33).

 

Semoga tak lagi terjebak,
berbakti demi roti. Selamat berbakti dalam hakekat ibadah sejati.

 

 

 

 

Sumber:

http://www.reformata.com/index.php?m=news&a=view&id=2691

 

 

 

Profil
Pdt. Bigman Sirait:

Pdt.
Bigman Sirait
adalah Ketua Sinode dan gembala sidang Gereja Reformasi Indonesia (GRI)
Antiokhia, Jakarta (www.gri.or.id) sekaligus sebagai Pemimpin Umum Tabloid 
Reformata.
Beliau mendirikan Yayasan MIKA yang bergerak dalam dunia pendidikan dengan
Sekolah Kristen Makedonia, di Kalimantan Barat. Beliau saat ini sedang
mengambil studi Master of Divinity (M.Div.)
di Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) Jakarta.



“The evil in our desires often lies not in what we want, but in the fact that 
we want it too much.”
(Dr. John Calvin; paraphrased by Dr. David Powlison; as quoted in Rev. C. J. 
Mahaney, Worldliness: Resisting the Seduction of a Fallen World, ed. C. J. 
Mahaney, p. 20)




Kirim email ke