WHAT’S WRONG IN THE GARDEN OF EDEN?-5:
Eden dan Dosa-4: Berfokus Pada Fenomena
 
oleh: Denny Teguh Sutandio
 
 
 
Nats: Kejadian 3:6a
 
 
 
 
Setelah melihat inkonsitensi pada diri Hawa, maka di bagian ini, kita akan 
melihat dosa kedua yang Hawa lakukan dari Kejadian 3:6a. Mari kita sekali lagi 
menyimak ayat 6, “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk 
dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi 
pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga 
kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.” 
Setelah iblis mencobai Hawa untuk menjadi seperti Allah yang mengetahui yang 
baik dan jahat, maka Hawa pun tergoda dan Alkitab mencatat bahwa Hawa melihat 
bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya. Dengan kata 
lain, buah ini bagi Hawa bukan hanya baik untuk dimakan, namun juga sedap. 
English Standard Version (ESV) menerjemahkannya, “So when the woman saw that 
the tree was good for food, and that it was a delight to the eyes, and that the 
tree was to be desired to make one
 wise” Kata good di dalam ayat ini dalam bahasa Ibraninya adalah †ôb  yang 
artinya baik. Kata sedap di dalam ayat ini dalam bahasa Ibraninya ta|´áwâ 
berarti (membangkitkan) keinginan/desire, kemudian disusul dengan kata Ibrani 
lä`ênaºyim yang berarti bagi mata (lä = kata depan). Selain itu, Alkitab 
mencatat bahwa buah ini juga diinginkan untuk membuat seseorang bijaksana 
(wise). Kata “pengertian” dalam terjemahan Indonesia berasal dari bahasa Ibrani 
śâkal yang berarti intelligent. Di dalam mayoritas Alkitab terjemahan Inggris 
kata ini diterjemahkan wise (=bijaksana). New International Version (NIV) 
menerjemahkannya wisdom (=kebijaksanaan). Dari sini, menurut Hawa, ada tiga 
ciri dari buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat: baik, membangkitkan 
selera/sedap, dan memberi pengertian/kebijaksanaan. Dan uniknya, tiga ciri 
fenomenal ini didapatkan oleh Hawa SETELAH iblis meracuni pikirannya, padahal 
Allah tidak memberikan deskripsi apa
 pun tentang buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat (kecuali hanya larangan 
untuk memakannya). Di sini, kita mendapatkan pengertian bahwa iblis selalu 
mengakibatkan kita terus memperhatikan hal-hal fenomenal.
 
 
Dosa mengakibatkan manusia terus memusatkan perhatiannya pada hal-hal 
fenomenal. Mengapa? Karena:
Pertama, hal-hal fenomenal lebih jelas dilihat dengan mata. Iblis meracuni Hawa 
untuk melihat hal-hal fenomenal dari buah pohon tersebut dengan tujuan agar 
Hawa lebih bisa melihat dengan jelas deskripsi buah pohon tersebut dan tidak 
lagi memusingkan apa yang Allah firmankan. Iblis mulai meracuni Hawa untuk 
membuang perspektif Allah dalam menyoroti segala sesuatu dan menggantinya 
dengan perspektif Hawa sendiri untuk melihat fenomena di depan mata. Dan 
ternyata Hawa ternyata menyetujui konsep iblis bahwa buah pohon tersebut memang 
baik, sedap dipandang, dan memberi pengertian. Dari mana Hawa mengetahui bahwa 
buah pohon tersebut kelihatan baik, sedap, dan memberi pengertian? Apakah dia 
sudah memverifikasikannya secara ilmiah? TIDAK. Ia tahu dari iblis. Di sini, 
kita belajar bahwa dosa dimulai tatkala manusia lebih memercayai perkataan 
iblis yang mengatakan “kebenaran” ketimbang Allah. Yang aneh adalah konsep ini 
terus ditiru oleh manusia sepanjang abad.
 Makin meniru “pengetahuan/kebenaran” dari iblis, manusia makin kelihatan 
bodohnya. Mari kita buktikan. Orang atheis selalu gembar-gembor mengatakan 
bahwa Allah itu sudah mati dan menantang orang Kristen untuk membuktikan 
keberadaan Allah. Mereka berpikir bahwa Allah itu tidak nampak, oleh karena itu 
Allah tidak ada. Mereka terlalu berfokus pada hal-hal fenomenal yang kelihatan 
lebih jelas dipandang mata, namun mereka tidak menyadari bahwa suatu eksistensi 
(keberadaan) TIDAK harus identik dengan sesuatu yang bisa dilihat mata dengan 
jelas. Sebuah cerita humor yang menarik yang diceritakan oleh Prof. Gary T. 
Meadors, Th.D. di dalam bukunya Decision Making God’s Way: Mengambil Keputusan 
Tepat Sesuai Kehendak Allah (2009): ada seorang ibu Kristen jemaat Quaker yang 
menitikberatkan pada pentingnya pengalaman pribadi untuk mengenal Allah 
ditantang oleh seorang atheis untuk membuktikan keberadaan Allah. Si atheis 
terus bertanya kepada si ibu apakah si
 ibu itu sudah melihat dan menjamah Allah. Si ibu berkata tidak pernah. Lalu, 
si atheis dengan bangga menyimpulkan bahwa Allah itu tidak ada. Kemudian si ibu 
balik bertanya kepada si atheis, apakah si atheis ini melihat otak? Si atheis 
menjawab bahwa dia melihat hasil otak dalam pemikiran. Kemudian si ibu bertanya 
lagi, apakah si atheis dapat menyentuh otaknya? Si atheis bingung menjawab, 
lalu si ibu menyimpulkan bahwa karena si atheis belum (tidak) pernah menyentuh 
otaknya sendiri, maka si atheis tidak memiliki otak!
 
Dari cerita lucu di atas, kita mendapat kesimpulan bahwa semakin seseorang 
menekankan hal-hal fenomenal, ia bukan makin mengerti tuntas fenomena, namun 
justru ditipu oleh fenomena, karena cara pikirnya selalu bersifat materi/fisik.
 
Kedua, hal-hal fenomenal bersifat menyenangkan. Selain bisa dilihat oleh mata 
dengan jelas, maka hal-hal fenomenal juga bersifat menyenangkan. Ada unsur 
hiburan di dalam hal-hal fenomenal. Perhatikanlah pengaruh racun iblis terhadap 
penilaian Hawa terhadap buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Bukankah 
penilaian tersebut adalah penilaian terhadap fenomena yang kelihatan 
menyenangkan? Hal serupa yang dipakai iblis untuk menipu dunia kita hari-hari 
ini. Iblis menipu kita melalui konsep takhayul yang dipercaya oleh banyak 
masyarakat, agar kedok iblis tidak dikenal dengan jelas. Orang dunia melalui 
media film maupun lainnya selalu memiliki konsep bahwa iblis itu nampak dalam 
rupa makhluk yang menyeramkan, seperti genderuwo, pocong, kuntilanak, vampire, 
dll. Tidak heran, banyak orang pun juga mengadopsi pikiran serupa, lalu 
ketakutan sendiri ketika berada di rumah sendirian atau pergi ke tempat yang 
gelap. Akibatnya, iblis makin berulah yang lebih
 dahsyat lagi untuk menakuti manusia. Benarkah iblis selalu muncul dalam bentuk 
yang menyeramkan? Mungkin sekali, namun itu TIDAK selalu, bahkan kebanyakan 
iblis BUKAN muncul dalam bentuk yang menyeramkan, melainkan dalam bentuk yang 
luar biasa baik. Ketika iblis mencobai Hawa, apakah iblis datang dalam bentuk 
yang menyeramkan? TIDAK! Iblis datang dalam bentuk ular, seekor hewan. Terus 
terang saya mengatakan bahwa jika iblis selalu datang dalam bentuk makhluk yang 
menyeramkan, itu iblis kelas kampungan, karena kedoknya sudah diketahui 
terlebih dahulu. Karena iblis itu bapa pendusta, maka ia datang mencobai 
manusia BUKAN dalam bentuk makhluk yang menyeramkan, namun melalui sesuatu yang 
kelihatan baik, indah, dan menyenangkan. Perhatikan sekali tawaran iblis kepada 
Hawa (ay. 4-5), adakah sesuatu yang buruk di dalamnya? TIDAK, semua baik, 
bahkan seolah-olah membukakan realitas “asli” kepada Hawa, namun ia tidak 
membukakan kebenaran sejati kepada Hawa
 secara tuntas. Itulah cara kerja iblis dari dahulu sampai sekarang. Di zaman 
sekarang, iblis datang melalui “ular-ular” yang begitu bagus, menarik, indah, 
menyenangkan, dll, namun berdampak akhir yang fatal: kematian. Iblis tidak lagi 
suka indekos di dalam klub-klub malam dan tempat pelacuran, ia sekarang gemar 
indekos di dalam orang Kristen, pemimpin gereja, dll yang seolah-olah rohani. 
Mengapa ia memakai orang-orang “rohani” ini? Karena iblis mau menghancurkan 
Kekristenan pelan-pelan. Bagaimana caranya iblis mulai indekos di dalam 
pribadi-pribadi yang seolah-olah rohani ini? Iblis mulai memakai orang-orang 
ini untuk mengajarkan dan melakukan apa yang tidak diperintahkan Alkitab, 
misalnya: percaya Yesus pasti kaya, sukses, tidak pernah sakit, bahkan tidak 
pernah digigit nyamuk. Ada lagi yang mengajarkan bahwa Yesus itu hanya manusia 
biasa, bukan Allah yang patut disembah. Ada lagi yang mengajarkan bahwa ada 
banyak jalan menuju ke “sorga”.
 Semua ajaran ini jelas bertentangan dengan apa yang Tuhan Yesus ajarkan di 
Alkitab sendiri. Namun, meskipun bertentangan dengan Alkitab, bukankah 
ajaran-ajaran tersebut seolah-olah menyenangkan telinga pendengar? Bukankah 
ajaran yang menyatakan bahwa keselamatan juga ada di luar Tuhan Yesus itu lebih 
terkesan menghargai agama lain dan “damai” (istilah kerennya: tidak dogmatis) 
ketimbang memberitakan bahwa Tuhan Yesus itu satu-satunya Juruselamat dunia? 
Bukankah ajaran yang menyatakan bahwa percaya Yesus itu pasti sukses, kaya, 
sehat, makmur, dll lebih menyenangkan ketimbang memberitakan bahwa percaya 
Yesus harus menyangkal diri dan memikul salib (Mat.. 10:38; 16:24)? Melalui 
indoktrinasi ajaran-ajaran yang tidak bertanggungjawab ini, Kekristenan makin 
lama makin dijauhkan dari kebenaran Alkitab dan mulai menganut nilai-nilai 
duniawi, meskipun berKTP Kristen. Tidak heran, di zaman ini, kita makin lama 
makin menjumpai banyak orang Kristen bukan makin
 taat kepada Tuhan, tetapi makin atheis (entah itu atheis secara teori maupun 
praktis).
 
 
Lalu, jika terlalu menekankan hal-hal fenomenal termasuk akibat dosa, bagaimana 
respons orang Kristen terhadap hal-hal fenomenal? Karena tidak mau ditipu oleh 
hal-hal fenomenal, ada sekelompok orang Kristen yang akhirnya menjadi ekstrem 
kanan, yaitu anti terhadap hal-hal fenomenal, lalu HANYA mementingkan hal-hal 
esensial saja. Hal-hal esensial ini menyangkut konsep: iman, nilai (aksiologi), 
keindahan (estetika), dll. Orang Kristen yang terlalu berlebihan menekankan 
hal-hal esensial biasanya dapat saya kategorikan sebagai orang antik. Misalnya, 
kalau mau membeli makanan tertentu (misalnya lemper), orang yang terlalu 
mementingkan hal-hal esensial selalu mementingkan aspek nilai/mutu dari 
makanan, jadi ia akan pergi ke tempat yang jauh hanya untuk membeli lemper yang 
paling enak. Ada orang Kristen yang terlalu mementingkan hal-hal esensial, lalu 
menjadi orang Kristen jadul, khususnya anak muda. Ciri orang/anak muda Kristen 
jadul yang terlalu mementingkan
 hal-hal esensial ini ditandai dengan kegemaran mereka membaca buku 
(rohani/theologi), namun kurang bersosialisasi. Apa alasan mereka? Mereka 
menjawab bahwa bersosialisasi itu hal-hal fenomenal yang membuang-buang waktu. 
Hang out di mall atau menonton film di bioskop dianggap sesuatu yang fenomenal 
dan membuang-buang waktu. Jangan tanyakan kepada orang jadul ini, apakah 
memiliki Facebook (FB), kebanyakan mereka menjawab, “TIDAK!” Memiliki akun dan 
“berselancar” di dalam dunia FB pun dianggap sesuatu yang fenomenal dan 
membuang-buang waktu. Di dalam iman, orang yang hanya menekankan aspek-aspek 
esensial selalu kurang menekankan aspek fenomenal, akibatnya ia kering 
pengalaman rohani bersama Tuhan. Bagi orang ini, yang terpenting adalah ia 
sudah melahap habis buku-buku theologi dan filsafat, sudah menghafal theologi, 
atau mungkin sudah menggali Alkitab sampai ke bahasa aslinya. Ia tidak akan 
peduli jika kerohaniannya benar-benar miskin, pertimbangan
 dalam mengambil keputusan yang dibuatnya benar-benar melawan kehendak Allah, 
dll.
 
 
Kekristenan yang SEHAT tidak beralih dari ekstrem kiri maupun ekstrem kanan, 
namun harus seimbang! Memang, Alkitab mengajarkan bahwa hal-hal esensial itu 
paling penting, namun hal itu TIDAK berarti kita membuang semua hal-hal 
fenomenal. Di dalam Kekristenan, ajaran/doktrin/theologi itu penting, karena 
itu mengarahkan kita untuk mengetahui dan mengenal Allah. Tanpa doktrin yang 
benar, Kekristenan bisa hancur diracuni oleh zaman yang berdosa. Namun doktrin 
yang benar TIDAK berarti doktrin itu segala-galanya, lalu membuang pengalaman 
bersama Allah (unsur fenomenal). Makin seseorang belajar prinsip theologi 
tentang kedaulatan dan pemeliharaan Allah, ia makin menyadari bahwa secara 
terus-menerus, ia hidup di dalam suatu waktu yang dipelihara oleh-Nya sesuai 
kehendak-Nya, sehingga di dalam kehidupannya, ia mengaitkan segala aspek 
hidupnya dengan Allah sebagai Raja dan Tuhan yang memerintah. Terus terang, 
saya pribadi sulit menjalankan konsep ini, karena
 menjalankan firman Tuhan dan doktrin yang telah kita pelajari bukanlah seperti 
membalik telapak tangan, namun membutuhkan sebuah proses panjang. Ambil contoh, 
kita percaya bahwa Allah itu berdaulat atas segala sesuatu bahkan di dalam 
kehidupan manusia, khususnya di dalam masalah pasangan hidup. Kita percaya 
bahwa Allah yang menciptakan kita adalah Allah yang mengetahui apa yang terbaik 
bagi kita di dalam mencari pasangan hidup yang tepat bagi kita. Konsep ini 
sering kali hanya ada di dalam benak pikiran kita, tanpa kita sungguh-sungguh 
aplikasikan, sehingga ketika kita gagal terus dalam menjalin hubungan dengan 
lawan jenis, kita langsung marah dan mengomel kepada Tuhan. Dahulu saya seperti 
itu, namun lama-kelamaan Tuhan terus memproses saya khususnya melalui khotbah 
mimbar dan buku-buku rohani yang khusus membahas mengenai hubungan lawan jenis 
(saya merekomendasikan buku-buku yang ditulis oleh Rev. Joshua E. Harris) untuk 
mengajar saya pentingnya
 berserah total kepada kedaulatan-Nya yang akan memberikan pasangan hidup yang 
tepat. Sambil berserah total, saya juga tetap bertanggungjawab mencarinya 
sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab. Dan uniknya, makin saya mengalami Allah 
di dalam mencari pasangan hidup tersebut, makin saya melihat campur tangan 
Allah yang luar biasa. Meskipun Ia tidak mengizinkan saya menjalin hubungan 
dengan lawan jenis A, saya terlalu percaya bahwa di dalam kedaulatan-Nya, Ia 
pasti menyediakan yang terbaik yang cocok bagi saya yang belum saya ketahui 
pada saat ini. Di sini, saya mengaitkan pentingnya kedaulatan Allah dan iman 
yang progresif (atau: knowing God and experiencing Him atau menggunakan bahasa 
versi Katekismus Singkat Westminster: glorifying God and enjoying Him forever).
 
 
Orang Kristen yang mementingkan hal-hal esensial juga tetap memperhatikan 
hal-hal fenomenal lainnya. Mengapa? Karena kita harus mengakui bahwa selain 
sebagai warga negara Kerajaan Sorga, kita juga masih hidup sebagai warga negara 
dunia, sehingga mau tidak mau, hal-hal fenomenal tetap kita perlukan. Di dalam 
Matius 4:4, Tuhan Yesus berfirman, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti 
saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Kata “saja” atau 
dalam bahasa Inggris: alone menandakan bahwa selain mementingkan firman Tuhan, 
manusia hidup juga memerlukan roti untuk dimakan. Jangan sampai kita yang 
mengaku rohani, lalu tidak mau lagi minum es jeruk atau makan nasi goreng, 
dengan alasan itu hal-hal fenomenal. Hal-hal fenomenal lain juga bisa berupa 
kesenangan (pleasure), seperti hang out di mall, menonton bioskop, dll. Orang 
Kristen yang beres tentu TIDAK dilarang untuk menikmati kesenangan, karena 
menurut Dr. John Calvin sendiri,
 kesenangan dunia inipun diberikan oleh Tuhan kepada manusia untuk dinikmati. 
Namun yang menjadi batasannya adalah kita TIDAK boleh bertindak semaunya 
sendiri! Meskipun kita boleh menikmati kesenangan tersebut, namun jangan sampai 
kesenangan tersebut menjadi berhala dalam hidup kita, sehingga kita menjadi 
lupa untuk berdoa, membaca Alkitab, bersekutu dengan saudara seiman lain, dll. 
 
 
Dengan kata lain, bagaimana cara orang Kristen menyeimbangkan hal-hal esensial 
dan fenomenal demi kemuliaan Allah? Mengutip perkataan Pdt. Ivan Kristiono, 
M.Div. yang mengutip perkataan Bapa Gereja Augustinus, “Cintailah Tuhan dan 
lakukanlah segala sesuatu.” Berarti, di titik pertama, kita harus menempatkan 
Tuhan sebagai Tuhan dalam hidup kita yang memerintah seluruh aspek kehidupan 
kita. Hal ini dimulai dari kerelaan kita menyerahkan hati kita kepada-Nya untuk 
dikuasai dan dipimpin-Nya setiap hari. Hati yang telah dikuasai dan 
dipimpin-Nya, melalui anugerah dan pemeliharaan-Nya, pasti menginginkan sesuatu 
yang memuliakan nama-Nya, oleh karena itu, di dalam melakukan segala sesuatu, 
ia menginginkan apa yang dilakukannya selalu memuliakan nama-Nya. Ketika ia 
bekerja, ia bekerja seperti untuk Tuhan. Ketika orang tersebut bermain, ia 
bermain seperti untuk Tuhan. Ketika orang itu sedang berekreasi atau hang out 
di mal, ia melakukannya seperti untuk
 Tuhan, sehingga tidak ada satu inci pun dalam kehidupannya yang dapat melukai 
hati Tuhan.
 
 
Bagaimana dengan kita? Apakah kita masih tergila-gila dengan hal-hal fenomenal? 
Ataukah kita beralih ke ekstrem kanan, yaitu terlalu mementingkan hal-hal 
esensial dan anti fenomenal? Biarlah Tuhan memimpin hidup kita untuk makin 
seimbang dalam menjalani hidup yang memuliakan nama-Nya. Amin. Soli Deo Gloria.
 


“The evil in our desires often lies not in what we want, but in the fact that 
we want it too much.”
(Dr. John Calvin; paraphrased by Dr. David Powlison; as quoted in Rev. C. J.. 
Mahaney, Worldliness: Resisting the Seduction of a Fallen World, ed. C. J.. 
Mahaney, p. 20)




Kirim email ke