From: "e-JEMMi" <[email protected]> 

e-JEMMi - Edisi 13-31#2010 -- Dasar Alkitabiah Pelayanan Lintas Budaya 

EDITORIAL

Shalom,
"Dasar Alkitabiah Pelayanan Lintas Budaya" adalah judul artikel karangan 
Budiman yang kami sajikan pada Kolom Artikel Misi minggu ini, Melalui tulisan 
beliau ini kami berharap pembaca dapat belajar pentingnya pelaksanaan 
kontekstualisasi (baca: penyampaian Injil secara kontekstual), khususnya dengan 
melihat pemikiran kristologi Perjanjian Baru. Tersirat dalam tulisan itu 
tentang perlunya kebebasan setiap suku untuk mengungkapkan Injil dengan sarana 
kebudayaan mereka. Tujuannya cukup jelas yaitu memunculkan jemaat baru, yang 
"berakar di dalam Kristus dan erat berhubungan dengan kebudayaannya". Selamat 
menikmati sajian edisi kali ini. Tuhan memberkati.

Redaksi tamu e-JEMMi,
Wilfrid Johansen
http://misi.sabda.org
http://fb.sabda.org/misi
_____________________________________________________________
ARTIKEL MISI

DASAR ALKITABIAH PELAYANAN LINTAS BUDAYA

Penjelmaan Yesus Kristus dan Kontekstualisasi
Penjelmaan atau inkarnasi Yesus Kristus merupakan puncak penyataan
Elohim kepada manusia. Dalam Perjanjian Lama "Elohim berulang kali dan
dalam pelbagai cara berbicara kepada ... kita dengan perantaraan nabi-nabi"
 (Ibrani 1:1). Zaman dahulu Elohim bersabda kepada umat-Nya melalui 
nabi-nabi-Nya. Namun, "... pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita 
dengan perantaraan Anak-Nya, ...." (Ibrani 1:2). Yesus Kristus, Anak Elohim dan 
Firman yang kekal itu "... telah menjadi manusia dan diam di antara kita...." 
(Yohanes 1:14)

Dalam inkarnasi Yesus, Elohim melintasi jurang pemisah antara surga
dan dunia ini. Ia menjembatani kesenjangan antara alam gaib dan alam
semesta ini. Ia melakukan semua ini untuk menyatakan diri-Nya kepada
kita. Seperti tertulis dalam Yohanes 1:18 "Tidak seorangpun yang pernah melihat 
Elohim; tetapi Anak Tunggal Elohim, ... Dialah yang menyatakan-Nya." Kata 
"menyatakan-Nya" secara harfiah berarti "menafsirkan" atau "meriwayatkan". 
Yesus Kristus adalah penafsir Elohim yang sempurna.

Di sini kita melihat cara Elohim sendiri untuk mengontekstualisasikan 
firman-Nya. Yang Mahamulia, yang Mahaagung, dan yang Mahasuci menjadi sama 
dengan kita. Pribadi kedua dari Tritunggal mengambil rupa manusia bagi diri-Nya 
sendiri, mengambil segala sesuatu berhubungan dengan kemanusiaan yang sempurna, 
sehakikat dengan kita sebagai manusia (Ibrani 2:14). Ia menyesuaikan diri 
dengan kita supaya kita dapat memahami siapa Elohim itu sebenarnya. Elohim kita 
adalah Elohim yang rindu menampakkan diri-Nya kepada kita dengan cara yang 
relevan.

Meskipun demikian, sebagai manusia Ia hidup tanpa dosa. "Ia telah dicobai, 
hanya tidak berbuat dosa" (Ibrani 4:15b), sebab "di dalam Dia tidak ada dosa" 
(1 Yohanes 3:5). Oleh karena itu, kita melihat bahwa penyataan Elohim dalam 
inkarnasi itu relevan dan tetap murni.
Puncak kerinduan Elohim untuk berkomunikasi dengan manusia diwujudkan
dalam kehadiran-Nya sendiri di antara manusia. Ia yang Mahasuci bersedia 
memasukkan diri-Nya ke dalam kebudayaan manusia. Ia bahkan menjadi manusia 
sejati yang berkomunikasi dengan masyarakat lindungan-Nya sesuai dengan bahasa 
dan kebudayaan mereka.

Sebenarnya tujuan kontekstualisasi sama dengan tujuan inkarnasi Yesus. Sama 
seperti Elohim menyatakan diri-Nya kepada manusia melalui kebudayaan Yahudi, 
demikian juga kita ingin menyatakan Elohim kepada suku-suku yang belum mengenal 
Yesus melalui kebudayaan mereka. Oleh karena itu, kontekstualisasi merupakan 
suatu prinsip ilahi yang diwujudkan dalam penjelmaan Yesus. Inkarnasi Yesus 
tidak hanya memberi teladan kepada kita, tetapi juga memerintahkan kita untuk 
mengikuti teladan-Nya: "Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian Aku mengutus 
kamu!" (Yohanes 20:21)

Sidang di Yerusalem dan Kontekstualisasi

Persoalan yang terjadi pada sidang jemaat di Yerusalem dalam Kisah
Para Rasul 15 mengungkapkan persoalan-persoalan yang biasanya muncul
dalam pelayanan lintas budaya: hubungan antara kebudayaan dan Injil.
Dan keputusan yang diambil oleh jemaat yang mula-mula merupakan
suatu dasar yang kokoh untuk pelaksanaan kontekstualisasi.

Hal yang dibahas dalam sidang di Yerusalem merupakan arti Injil yang 
sebenarnya. Mereka menggumuli syarat-syarat untuk keselamatan:
"Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada 
saudara-saudara di situ, 'Jikalau kamu tidak disunat menurut adat-istiadat yang 
diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.'... 'Orang-orang yang 
bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa'" (Kisah 
Para Rasul 15:1,5).
Oleh karena itu, menurut golongan orang-orang Yahudi: Injil + Sunat = 
Keselamatan.

Mereka merasa bahwa tidaklah cukup kalau orang Yunani hanya percaya
kepada Yesus saja; mereka juga harus mengikuti adat-istiadat orang Yahudi. 
Namun Paulus dan Barnabas tidak setuju dengan rumusan ini: "Tetapi Paulus dan 
Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu." (Kisah Para 
Rasul 15:2a) Menurut golongan Paulus: Injil + 0 = Keselamatan

Kenyataan yang sebenarnya ialah bahwa kita diselamatkan oleh iman karena kasih 
karunia Elohim (Kisah Para Rasul 15:7,9,11,14). Sidang di Yerusalem meneguhkan 
pendapat Paulus dan Barnabas bahwa kita diselamatkan oleh Injil dan hanya Injil 
saja. Orang Yunani tidak harus menjadi seperti orang Yahudi atau mengikuti 
adat-istiadat Yahudi untuk memperoleh keselamatan. Persoalan yang dibahas pada 
sidang di Yerusalem dapat digambarkan sebagai berikut. Golongan orang Yahudi 
percaya bahwa orang Yunani harus menjadi seperti orang Yahudi untuk memperoleh 
keselamatan.

Golongan Paulus percaya bahwa baik orang Yahudi maupun orang Yunani
diselamatkan hanya oleh iman. Mereka tidak usah meninggalkan kebudayaan atau 
adat-istiadat mereka untuk diselamatkan, asalkan mereka mau bertobat dan 
percaya kepada Yesus. Tersirat dalam keputusan ini ialah suatu kebebasan yang 
diberikan kepada setiap suku untuk mengungkapkan Injil itu dalam sarana 
kebudayaannya sendiri. Kita tidak hanya diselamatkan tanpa mengikuti 
adat-istiadat asing, tetapi juga boleh beribadah tanpa mengikuti adat-istiadat 
asing.

Jadi, bagaimana orang dari latar belakang Kristen diselamatkan? Apa yang harus 
dilakukannya kalau ia ingin diselamatkan? Ia harus bertobat dan percaya kepada 
Yesus. Bagaimana dengan orang dari latar belakang bukan Kristen? Apakah orang 
dari agama lain harus mengikuti adat kekristenan tradisional untuk 
diselamatkan? Tidak. Semua orang diselamatkan hanya oleh iman. Renungkan 
implikasinya. Apakah orang Sunda harus mengikuti adat dan tradisi Batak kalau 
ia ingin diselamatkan? Tidak! Apakah orang Jawa harus mengikuti adat dan 
tradisi Tionghoa kalau ia ingin diselamatkan? Tidak! Namun, tanpa disadari 
justru itulah yang terjadi, dan setiap gereja di Indonesia dipengaruhi oleh 
adat Barat (karena kekristenan dibawa ke Indonesia oleh penginjil yang 
memasukkan adat mereka sendiri), selain oleh adat suku mayoritas anggota.

Kalau demikian halnya bagaimana caranya supaya orang dari latar belakang bukan 
Kristen dengan adat/tradisinya dapat percaya tanpa mengikuti adat atau tradisi 
suku lain? Kita harus mendirikan jemaat-jemaat baru. Kita harus membentuk dan 
mengembangkan adat dan tradisi yang alkitabiah, tetapi sesuai dengan adat serta 
tradisi petobat baru. Sesuai dengan keputusan sidang di Yerusalem dan agar kita 
dapat menjangkau sebanyak mungkin orang di Indonesia, kita harus berusaha 
mendirikan jemaat-jemaat baru, jemaat-jemaat yang "berakar di dalam Kristus dan 
erat berhubungan dengan kebudayaannya."

Paulus di Athena: Penyampaian Injil yang Kontekstual

Dalam Kisah Para Rasul 17:22-34 ada suatu pemaparan yang menerangkan
penyampaian Injil yang kontekstual. Pada waktu itu Rasul Paulus menginjili 
orang-orang terpelajar di kota Athena. Pada waktu itu, kota Athena merupakan 
pusat para sarjana, cendekiawan, ilmuwan, dan filsuf, sehingga kota ini 
terkenal sebagai kota untuk orang berpendidikan tinggi dan pola berpikir maju. 
Rasul Paulus mulai menginjili orang Athena di rumah ibadat Yahudi serta di 
pasar dengan cara bertukar pikiran dan bersoal jawab dengan siapa saja yang 
bersikap terbuka. Akhirnya Paulus diundang ke Areopagus, badan cendekiawan yang 
berfungsi seperti Majelis Ulama Indonesia (Kisah Para Rasul 17:16-21).

Paulus mulai memberitakan Injil dengan cara memuji mereka atas kesungguhan 
mereka dalam beribadah: "Hai orang-orang Athena, aku lihat, bahwa dalam segala 
hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa." (ayat 22b) Ia mulai mendekati 
mereka dengan cara yang sepositif mungkin dan berusaha menghindari konfrontasi. 
Setelah memuji mereka, ia menemukan suatu jembatan supaya pesan yang 
disampaikan dapat mencapai sasaran dan sekaligus relevan bagi para 
pendengarnya: "Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat 
barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada 
Elohim yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang 
kuberitakan kepada kamu." (ayat 23)

Perhatikan bahwa Paulus menjadikan sebuah mezbah -- bukan sebuah patung berhala 
-- sebagai titik tolak. Rupanya, Elohim yang berdaulat sudah mempersiapkan 
orang Athena untuk menerima Injil melalui mezbah ini. Paulus kemudian 
menyatakan bahwa tugas dan tujuannya ialah  memperkenalkan Elohim yang tidak 
dikenal oleh mereka. Setelah itu, Paulus menerangkan tentang Elohim sebagai 
Pencipta dan Pemelihara manusia (ayat 24-27). Kemudian dalam ayat 28 ia memakai 
jembatan lain. Ia mengutip syair mereka: "Sebab di dalam Dia kita hidup, kita 
bergerak, kita ada seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: 
Sebab kita ini dari keturunan Elohim juga."

Kelihatannya Paulus percaya bahwa setiap kebudayaan atau agama memunyai 
unsur-unsur kebenaran sehingga ia berani mengutip puisi orang-orang Yunani yang 
disejajarkan dengan firman Elohim. Ia mengutip supaya berita yang disampaikan 
itu dapat diterima dan dipahami sehingga Injil yang disampaikan menjadi 
relevan. Namun pendekatan kontekstual ini bukan saja dimaksudkan untuk 
menyesuaikan diri saja, melainkan juga untuk hidup di bawah hukum Kristus, 
yaitu menantang hal-hal yang tidak sesuai dengan firman Elohim supaya Injil 
tetap murni. Akhirnya Paulus mengakhiri penyampaian ini dengan tantangan 
tentang pertobatan, penghakiman yang akan datang, dan kebangkitan Yesus (ayat 
30-31). Respons terhadap pemberitaan Paulus ini bermacam-macam. Ada yang 
mengejeknya, ada yang ingin mendengar lagi, serta ada beberapa yang percaya 
(ayat 32-34).

Ada satu hal lain yang menonjol dan harus ditekankan di sini.
Penyampaian kontekstual ini berpusatkan kepada Elohim dan bukan kepada Anak 
Elohim. Paulus tidak keberatan kalau langkah awal dari pendekatannya berpusat 
kepada Elohim. Ia merasa tidak perlu langsung menyinggung soal Yesus atau Anak 
Elohim. Ia ingin memaparkan Injil langkah demi langkah dan penekanannya selalu 
sesuai dengan konteksnya. Misalnya, di Indonesia adalah lebih tepat kalau kita 
lebih berpusat kepada Elohim dalam pemberitaan Injil kita. Walaupun pada 
akhirnya kita harus berani menantang semua orang supaya bertobat dan percaya 
kepada Yesus, namun adalah lebih bijaksana dan alkitabiah kalau penginjilan 
kita berpusat kepada Elohim.

Ada ayat-ayat lain yang menunjang pendekatan yang berpusat kepada Elohim. 
Kadang-kadang Injil disebut sebagai Injil Elohim (2 Korintus 11:7, 1 Tesalonika 
2:2,8,9), jemaat disebutkan sebagai jemaat Elohim (1 Tesalonika 2:14, Kisah 
Para Rasul 20:28), dan Elohim disebutkan sebagai Juru Selamat kita (1 Timotius 
1:1, Titus 1:3; 2:10; 3:4).
Marilah kita mulai lebih bersikap kontekstual dalam pemberitaan kita. Marilah 
kita berusaha meniru teladan Rasul Paulus yang rajin mencari dan menemukan 
jembatan-jembatan baru untuk penginjilan. 
Marilah kita dengan penuh semangat menyampaikan Injil yang relevan dan tetap 
murni.

Kristologi dan Kontekstualisasi

Persoalan yang paling penting dalam teologi, pelayanan, dan penginjilan ialah 
jawaban terhadap pertanyaan ini: "Siapakah sebenarnya Yesus Kristus itu?" Cara 
yang paling tepat untuk menjawabnya ialah dengan mengerti dan merenungkan 
nama-nama sebutan Yesus. Yesus digelari macam-macam sebutan, misalnya Nabi, 
Mesias (Almasih), Firman, Imam, Guru, Juru Selamat dan lain-lain. Mengapa 
demikian? Ada dua alasan.

Pertama, alasan teologis, yaitu pengertian tentang Yesus begitu kaya dan 
mendalam sehingga satu atau dua sebutan saja tidak cukup. Yesus ialah satu 
oknum atau pribadi yang luar biasa, yang tidak dapat dipahami dari satu segi. 
Sebagai Nabi, Ia bersabda kepada kita; sebagai Gembala, Ia membimbing kita; 
sebagai Juru Selamat, Ia menyelamatkan kita; dan sebagai Raja, Ia memerintah 
dalam kehidupan kita. Paulus menggarisbawahi alasan teologis dengan melukiskan 
Injil yang disampaikannya sebagai "kekayaan Kristus yang tidak terduga" (Efesus 
3:8).

Kedua, alasan misiologis, yaitu para rasul dan penginjil yang mula-mula memakai 
banyak nama sebutan supaya berita yang disampaikan relevan dan dapat dipahami. 
Misalnya, sebutan "Imam Besar" hanya dipergunakan dalam kitab Ibrani saja untuk 
melukiskan Yesus sebab kitab Ibrani dikarang khusus bagi orang Yahudi. Dan 
menurut pola berpikir orang Yahudi konsep "Imam" begitu bermakna sehingga 
sebutan "Imam Besar" benar-benar membantu orang-orang Yahudi mengerti siapakah 
Yesus sebenarnya.

Pengakuan pertama dalam Injil juga menggambarkan alasan misiologis ini. 
Pengakuan dan pemberitaan bahwa "Yesus adalah Mesias" (atau Kristus; Markus 
8:29; Lukas 9:20; Kisah Para Rasul 5:42; 9:22; 17:2-3; 18:5, 28; 1 Yohanes 
2:22) muncul dalam konteks Yahudi karena mereka memiliki harapan agugn dalam 
Mesias. Selama berabad-abad orang-orang Yahudi telah menantikan dan merindukan 
Mesias yang akan datang sehingga penyampaian Yesus sebagai Mesias begitu 
relevan dan menyentuh hati orang Yahudi.

Meskipun demikian, pemberitaan Yesus sebagai Mesias tidak begitu berarti bagi 
orang Yunani. Sebaliknya, pengakuan kristologis, "Yesus adalah Tuhan" (Kisah 
Para Rasul 10:36; 11:20; Roma 10:9; Filipi 2:11; 2 Korintus 12:3; 2 Korintus 
4:5) begitu relevan dan bermakna bagi orang Yunani sehingga lebih sering 
dipakai dalam konteks Yunani. Pengakuan ini "menjadi jembatan bagi kekristenan 
untuk
memasuki dunia yang berbahasa Yunani, memasuki dunia orang kafir, dan memasuki 
dunia proselit (orang-orang bukan Yahudi penganut agama Yahudi).

Dr. V.H. Neufeld menyimpulkan penelitiannya tentang pengakuan-pengakuan orang 
Kristen yang mula-mula sebagai berikut:
"'Kristus-homologia' [pengakuan bahwa Yesus adalah Kristus] lebih relevan bagi 
orang Yahudi ... Kyrios-homologia (pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan) lebih 
berarti terutama bagi orang Yunani."
Ada lebih banyak bukti lagi tentang kristologi dan kontekstualisasi.
Misalnya, Injil Yohanes pasal satu sangat kaya kristologinya. Dalam pasal ini 
Yesus sedikitnya dilukiskan dalam 13 nama sebutan: Firman, Elohim (ayat 1); 
Terang (ayat 4); Manusia, Anak Tunggal Bapa (ayat 14); Yesus Kristus (ayat 17); 
Anak Domba Elohim (ayat 29); Anak Elohim (ayat 34); Rabi/Guru (ayat 38); 
Mesias/Kristus (ayat 41); Anak Yusuf (ayat 45); Raja Orang Israel (ayat 49); 
Anak Manusia (ayat 51)

Mengapa demikian? Nama-nama sebutan ini menyampaikan "kekayaan Kristus yang 
tidak terduga". Perhatikan bahwa Yohanes tidak terpaku kepada satu nama sebutan 
saja ketika menceritakan tentang Yesus.
Demikian juga dalam pemberitaan Petrus. Waktu Petrus menginjili orang Yahudi ia 
memakai nama-nama sebutan yang paling relevan, yang tidak bertentangan dengan 
pola berpikir orang Yahudi. Dalam Kisah Para Rasul 3:11-20 Ia melukiskan Yesus 
sebagai: Hamba (ayat 13), Yesus (ayat 13), Yang Kudus dan Benar (ayat 14), 
Pemimpin kepada hidup (ayat 15), Mesias (ayat 18).

Kita dapat mengambil hikmat juga dari percakapan Yesus dengan perempuan 
Samaria. Walaupun percakapan ini dilakukan dalam waktu yang singkat, hal itu 
masih merupakan satu ilustrasi yang praktis tentang penginjilan dan proses 
pengertian si penerima. Pada mulanya perempuan ini mengakui bahwa Yesus adalah 
"nabi" (Yohanes 4:19).
Lalu, setelah mendengarkan Yesus lebih lama ia sadar bahwa Yesus adalah 
"Mesias" (Yohanes 4:25-26, 29). Kemudian, sesudah Yesus mengajar selama dua 
hari di situ, orang-orang Samaria mengakui bahwa Yesus adalah "Juru Selamat 
Dunia" (Yohanes 4:39-42).

Jelas dalam cerita ini pengertian perempuan Samaria tentang Yesus makin lama 
makin jelas. Gelar "Mesias" lebih kaya dan berarti daripada gelar "nabi", 
sedangkan gelar "Juru Selamat Dunia" lebih luas dan mendalam lagi. Demikianlah 
proses kontekstualisasi itu!
Begitu banyak nama sebutan Yesus dipakai dalam Perjanjian Baru.
Mengapa gereja-gereja kita cenderung memakai hanya beberapa nama sebutan saja? 
Nama-nama sebutan Yesus Kristus, Tuhan Yesus, dan Anak Elohim ialah sebutan 
yang paling disenangi umat Kristen di Indonesia. Padahal, justru gelar-gelar 
tersebut bertentangan dengan ajaran agama orang bukan Kristen yang ada di 
sekitarnya.

Meskipun akhirnya kita harus memberitakan "seluruh maksud Elohim"
(Kisah Para Rasul 20:27), namun adalah lebih bijaksana, lebih
berhasil, dan lebih alkitabiah kalau kita memulai penyampaian Injil
kita dengan mengetengahkan nama-nama sebutan yang paling relevan dan
mudah dipahami. Misalnya, gelar "Nabi" dan "Mesias" merupakan dua
gelar yang dapat berfungsi sebagai jembatan untuk menjangkau orang
luar. Agama mayoritas di Indonesia mengakui bahwa Yesus (dalam
bahasa Arab, Isa) adalah nabi. Juga dalam Kitab Suci mereka, Isa
digelari "Almasih", (Mesias dalam bahasa Arab). Kebanyakan pemeluk
agama mayoritas di Indonesia belum mengerti apa artinya sebenarnya
dari "Almasih". Walaupun demikian, karena nama sebutan ini terdapat
dalam Kitab Suci mereka, maka lebih baik kalau kita memulai dengan
nama sebutan yang ada dan menjelaskan artinya kepada mereka. Inilah
cara yang dipakai dalam Perjanjian Baru.

Sebagai kesimpulan, dapat dikatakan bahwa kristologi dalam
Perjanjian Baru begitu meneguhkan pentingnya pelaksanaan kontekstualisasi.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: Pelayanan Lintas Budaya dan Kontekstualisasi
Penulis: Budiman R.L.
Penerbit: Tidak dicantumkan
Halaman: 14 -- 29
________________________________________________________
SUMBER MISI

THE 30-DAYS PRAYER NETWORK ==> http://www.30-days.net

The 30-Days Prayer Network merupakan situs doa internasional. Situs ini berisi 
panduan doa, sekaligus ajakan bagi umat Kristiani untuk mendoakan semua orang 
di seluruh dunia yang menjalankan ibadah puasa (30 hari sebelum Hari Lebaran). 
Jaringan doa internasional ini dimulai dari sekelompok pemimpin Kristen yang 
berdoa dalam pertemuan di Timur Tengah pada April 1992. Tuhan menaruh kerinduan 
di hati setiap orang berdoa bagi sebanyak mungkin kaum sepupu untuk 
diselamatkan dan mendapatkan panggilan mengikuti Yesus. Komunitas ini 
memutuskan untuk berpartisipasi secara aktif memberikan penegasan tentang 
kebenaran dan kasih karunia: Kristus menuju hubungan dengan kaum sepupu. Anda 
dapat berlangganan buklet yang sudah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa, 
(termasuk bahasa Indonesia) atau mengunduh langsung buklet PDF gratis. Selain 
itu, Anda juga dapat memberikan dukungan baik berupa doa, daya, dan dana. 
Selamat berkunjung. (DW)
______________________________________________________________________
DOA BAGI MISI DUNIA

I N D I A
Sebelumnya, kami telah memberitakan kisah mengenai delapan pekerja misi yang 
ditangkap ketika menghadiri pelatihan untuk Year-Long Children's Bible Clubs. 
Akan tetapi, penangkapan dan perpanjangan persidangan seperti ini tidak menjadi 
hambatan untuk melatih pemimpin yang lebih banyak lagi.

DS dari Mission India yang berbasis di Grand Rapids, Michigan mengatakan bahwa 
klub-klub Alkitab tersebut telah menyebar ke seluruh India dan membuat 
kebangunan rohani: "Staf-staf kami di India melatih orang-orang di setiap 
wilayah India -- baik utara maupun selatan. Ada gerakan besar kepada Tuhan di 
sini dan tampaknya terjadi di mana-mana secara bersamaan."

Anak-anak bisa mendengar tentang Kristus di klub yang berlangsung
setelah sekolah ini. Banyak yang menyerahkan hidup mereka kepada-Nya
dan menuntun keluarga mereka kepada Kristus: "Kami tidak menolong
pemimpin-pemimpin India masa depan: kami menolong pemimpin-pemimpin
India saat ini. Pemimpin adalah orang yang memunyai pengaruh. Nah,
anak-anak memunyai pengaruh dalam keluarga mereka." DS mengatakan
keluarga-keluarga ini mengubah seluruh komunitasnya: "Ratusan kuil
ditutup, dan ratusan gereja dibangun." (t/Uly)

Sumber: Mission News, Juni 2010
[Selengkapnya: http://www.mnnonline.org/article/14421]

Pokok doa:
* Mengucap syukur untuk pelatihan Children's Bible Clubs yang telah
membawa banyak anak untuk mengenal Kristus. Doakan agar pelatihan
serupa juga bisa dilaksanakan di negara-negara lainnya.
* Berdoa bagi anak-anak yang telah mengikuti pelatihan Children's Bible Clubs, 
agar bisa menjadi berkat bagi orang-orang yang ada di rumah mereka.

I N T E R N A S I O N A L
Southerm Babtist Convention (SBC) mulai menerapkan sistem yang menolong para 
pendeta mengadopsi anak. Bethany Christian Services (BCS) juga turut terlibat 
dengan menawarkan bantuan yang diperlukan.
Anak-anak yatim piatu membutuhkan orang tua asuh untuk membimbing mereka. Oleh 
karena itu, orang percaya dapat ambil bagian untuk menolong dengan cara 
mengadopsi mereka. Inisiatif dari SBC maupun BCS ini diharapkan dapat mendorong 
dan melunakkan hati jemaat untuk mengadopsi anak yatim piatu. (t/Uly)

Sumber: Mission News, Juni 2010
[Selengkapnya: http://www.mnnonline.org/article/14399]

Pokok doa:
* Doakan agar Tuhan menggerakkan lebih banyak orang percaya untuk
bersedia mengadopsi dan membimbing anak-anak yatim piatu.
* Doakan juga agar anak-anak yang diadopsi bisa mendapatkan orang
tua angkat yang mengasihi Tuhan.
______________________________________________________________________
DOA BAGI INDONESIA

GAGAL BERDISKUSI, LAGI-LAGI GEREJA DITUTUP

Setelah perundingan antara pemerintah Indonesia dan perwakilan
sebuah gereja di daerah Bekasi gagal, pemerintah resmi menutup rumah
yang berfungsi sebagai tempat jemaat bersekutu tersebut.

Pada tanggal 20 Juni, pemerintah Bekasi menyegel tempat itu. Seorang
pejabat pemerintahan kota mengakui bahwa tindakan tersebut diambil
karena tekanan dari organisasi-organisasi tertentu yang marah atas
meluasnya pengaruh Kristen. Pemerintah menutupnya dengan meletakkan
tanda di depan bangunan yang menyatakan bahwa daerah tersebut melanggar 
ketetapan daerah, izin, serta peraturan-peraturan konstruksi bangunan.

[Selengkapnya: http://www.compassdirect.org/english/country/indonesia/22451]
POKOK DOA:

1. Doakan agar pemerintah daerah dan pusat, segera mengambil tindakan yang 
bijaksana untuk menyelesaikan kasus penutupan gereja di kota Bekasi ini.

2. Doakan agar Tuhan menjaga hati jemaat setempat agar tidak mudah
terpancing emosi, karena gereja mereka yang ditutup.

3. Doakan agar Tuhan menjamah hati aparat pemerintah yang bertugas
dalam perizinan pembangunan tempat ibadah, supaya mereka lebih
teliti dan tegas sehingga tidak lagi terjadi kasus yang serupa.

4. Berdoa agar kasus penutupan gereja tidak menjadi isu yang merebak
dan menggelisahkan masyarakat beragama minoritas.

5. Berdoa agar Tuhan memberi hikmat kepada masyarakat Indonesia agar
tidak mudah diprovokasi oleh pihak-pihak tertentu yang ingin
mengambil keuntungan pribadi/kelompok.
______________________________________________________________________
Anda diizinkan menyalin/memperbanyak semua/sebagian bahan dari e-JEMMi
(untuk warta gereja/bahan pelayanan lain) dengan syarat: tidak
untuk tujuan komersial dan harus mencantumkan SUMBER ASLI bahan
yang diambil dan nama e-JEMMi sebagai penerbit elektroniknya.
______________________________________________________________________
Staf Redaksi: Novita Yuniarti dan Yulia Oeniyati
Kontak Redaksi: < jemmi(at)sabda.org >
Kontributor: Wilfrid Johansen dan Dewi
Untuk berlangganan: < subscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Untuk berhenti: < unsubscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Untuk pertanyaan/saran/bahan: < owner-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
______________________________________________________________________
Situs e-MISI dan e-JEMMi: http://misi.sabda.org
Arsip e-JEMMi: http://www.sabda.org/publikasi/misi
Facebook MISI: http://fb.sabda.org/misi
______________________________________________________________________
Bahan-bahan dalam e-JEMMi disadur dengan izin dari berbagai pihak.
Copyright(c) e-JEMMi/e-MISI 2010 / YLSA -- http://www.ylsa.org
SABDA Katalog: http://katalog.sabda.org
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati

Kirim email ke