DARI MELIHAT MENJADI MENYENTUH
 
oleh: Pdt. Joshua Lie, M.Phil., Ph.D. (Cand.)
 
 
 
 
Kisah Para Rasul 2:42
“Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan.. Dan 
mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa”
 
 
 
Pernahkah Anda merindukan suasana ketika berada di dalam gedung gereja? Saya 
ingat ketika masih berumur 12 tahun, gedung gereja merupakan tempat terbaik 
untuk berdoa. Ruangan yang tenang, atap yang menjulang, dan di hadapan kita ada 
kayu salib yang besar. Ibu saya beberapa kali mengajak saya masuk ke dalam 
gedung gereja ketika sepi karena bukan hari minggu, lalu berlutut bersama. 
Itulah kesan saya tentang gereja. Suasana gedung gereja memberikan “sentuhan” 
yang tak terlupakan. Demikian pula suasana bersama teman-teman gereja berbeda 
dengan suasana teman-teman di sekitar rumah atau di sekolah. Apa yang berbeda?
 
Kisah Para Rasul mengungkapkan “suasana” jemaat mula-mula sebagai jemaat “yang 
bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan … selalu berkumpul 
untuk memecahkan roti dan berdoa.” Mereka bertekun. Bertekun (prokarterountes) 
dalam arti harfiahnya “being strong toward.” “Suasana” gereja mula-mula muncul 
dari jemaat itu sendiri, yaitu jemaat yang bertekun. Mereka bertekun dalam 
pengajaran rasul-rasul, bertekun dalam persekutuan, bertekun dalam memecahkan 
roti dan bertekun berdoa. Bayangkan ketekunan mereka menghasilkan “suasana” 
gereja yang sejati. Menariknya, dikatakan mereka bertekun dalam persekutuan. 
Bukankah dengan mereka berkumpul, mereka sudah bersekutu? Mengapa perlu 
bertekun? Inilah keunikan gereja, mereka bertekun dalam koinonia (persekutuan).
 
Bagi orang Gerika, koinonia adalah suatu perkumpulan atau suatu masyarakat. 
Ketika sejumlah orang berkumpul dan saling berbagi, atau ketika sejumlah orang 
mengadakan kesepakatan bekerja bersama, atau ketika seorang laki-laki dan 
seorang perempuan menikah, disanalah koinonia berlangsung. Selanjutnya bagi 
orang Gerika, koinonia adalah lawan kata dari pleonexia, yaitu sikap mau menang 
sendiri, atau mau mengambil segala sesuatu bagi dirinya sendiri. Adanya 
pleonexia meniadakan koinonia, Ketika sejumlah orang berbisnis namun hanya 
sebagian kecil yang mengambil keuntungannya, kumpulan itu bukanlah koinonia. 
Ketika seorang laki-laki dan seorang perempuan menikah namun salah satu saja 
yang memetik keuntungannya, maka pernikahan itu bukanlah koinonia.
 
Bagaimana dengan gereja sebagai koinonia? Apa yang membedakannya dengan 
koinonia orang Gerika? Apa bedanya gereja dengan perseroan, atau dengan 
perkumpulan arisan, atau dengan perkumpulan-perkumpulan lainnya? Ada cuplikan 
video yang pernah saya lihat. Sejumlah orang sedang berbaring, bercanda-ria, 
ada pula yang duduk-duduk menghirup udara segar di padang rumput yang hijau 
dengan latar belakang gunung yang indah. Tiba-tiba seorang pemuda berdiri lalu 
mulai bergoyang, dan terus bergoyang, tampaklah ia menari dengan wajah yang 
tersenyum. Orang-orang mulai memperhatikannya. Mulailah satu persatu orang 
berdiri dan mulai bergoyang. Satu persatu mulai menari! Inilah model koinonia 
Gerika. Mereka berkumpul, lalu semua menikmati tanpa ada yang memonopoli. 
Inilah gambaran koinonia Gerika.
 
Koinonia Gerika berasal dari kata koine, yaitu suatu yang sama dan menyatukan, 
common. Sejumlah orang berkumpul untuk mendapatkan manfaat bersama disatukan 
oleh suatu kepentingan bersama. Apa yang menyatukan mereka? Apa yang menjadi 
“common” yang menyatukan? Koinonia Gerika ditandai dengan kesenangan mereka 
berkumpul di teater. Teater bagi mereka sekaligus merupakan lukisan kehidupan 
mereka. Bahkan kata “teori” berasal dari kata “teater” dalam bahasa mereka. 
Mereka menemukan “common” (kesamaan) yang membentuk koinonia melalui teater. 
Teater menyatukan orang berkumpul sebagai penonton, penyaksi, orang yang 
melihat. Mereka disatukan dalam penglihatan. Mereka berkumpul, duduk, lalu 
dengan mata yang melihat, mereka menemukan kepentingan yang sama di dalam 
teater, dan menikmatinya bersama. Itulah koinonia Gerika.
 
Kehidupan modern meneruskan dan tentunya mengembangkan koinonia Gerika. Mata 
berperanan penting untuk menemukan yang menyatukan (common). Di gedung bioskop, 
puluhan, ratusan bahkan ribuan mata disatukan dalam pertunjukan. Beribu bahkan 
berjuta mata terpaku pada surat kabar dan televisi, lalu menemukan “common” 
dalam kehidupan moderen. Dan kini kita sedang disatukan dalam piala dunia di 
Afrika Selatan. Semua mata dari berbagai penjuru dunia dipadukan menjadi 
koinonia di stadium bola!

Bagaimana dengan koinonia gereja?
 
Hari Minggu pagi. Satu persatu jemaat berangkat dari rumah mereka menuju 
gereja. Mereka seperti biasanya tiba, bersalaman, dan mencari tempat duduk 
dalam gedung gereja. Kebanyakan jemaat duduk di tempat yang sama. Kemudian 
mereka disatukan dengan pandangan menuju ke panggung dan mimbar. Setelah 
menyanyikan doksologi dan menerima berkat, pergilah jemaat meninggalkan gedung 
gereja. Apa yang membedakan koinonia gereja dengan koinonia Gerika dan dunia 
moderen?
 
Koinonia gereja mula-mula bukan sekadar kumpulan orang-orang yang mempunyai 
kepentingan yang sama. Mereka bertekun di dalamnya. Koinonia dinyatakan dengan 
berbagi harta kepunyaan bahkan berbagi hidup. Itulah kehidupan gereja mula-mula 
di Yerusalem. Koinonia gereja adalah koinonia yang dibangun atas “kamu yang  
dahulu ‘jauh,’ sudah menjadi ‘dekat’ oleh darah Kristus” (Ef. 2:13). Koinonia 
yang “mendekatkan” satu dengan yang lain dengan “merubuhkan tembok pemisah, 
yaitu perseteruan” (Ef. 2:14).
 
Untuk memahami lebih lanjut koinonia gereja, mari kita sejenak memperhatikan 
Kitab Yosua.
 
Yosua 2:1a
“Yosua bin Nun dengan diam-diam melepas dari Sitim dua orang pengintai, 
katanya: “Pergilah, amat-amatilah negeri itu dan kota Yerikho.”
 
Yosua adalah seorang yang dipanggil TUHAN untuk memimpin umat Israel memasuki 
tanah Kanaan. Setelah menerima janji dan perintah TUHAN (Yos. 1), kini saatnya 
ia menerapkan janji dan perintah TUHAN itu dalam kepemimpinannya untuk merebut 
kota Yerikho.
 
Langkah awal adalah mengirim dua pengintai dengan perintah “pergi dan lihat.” 
Yosua mengulangi strategi Musa ketika ia bersama 11 pengintai lainnya diutus 
untuk mengamat-amati keadaan negeri yang akan mereka masuki (Bilangan 13).
 
“Pergi dan lihat” merupakan strategi yang ampuh sebagai persiapan memasuki 
tanah yang asing. Melihat adalah sikap menjaga jarak. Ada jarak antara yang 
melihat dan yang dilihat. Jarak itulah yang dapat menyatukan sejumlah orang 
ketika melihat suatu obyek dari lokasi yang sama. Namun ada persoalan dalam 
penglihatan, yaitu menilai. Maka koinonia Gerika dan koinonia moderen yang 
berdasar “penglihatan” memberikan pijakan yang sama dalam penilaian agar 
terjadi kesepakatan.
 
Namun soal iman bukanlah sekadar soal penilaian. Sepuluh pengintai melihat 
kenikmatan tanah Kanaan namun mereka juga “melihat” bangsa yang diam di tanah 
itu adalah bangsa yang kuat dan berkubu. Ini bukan sekadar soal penilaian 
tetapi soal iman, yaitu soal kesetiaan memegang janji TUHAN sebagai umat-Nya. 
Di sanalah, Yosua bin Nun dan Kaleb “melihat” bukan dengan mata saja tetapi 
juga dengan iman (Bil. 14:7-9).
 
Koinonia “melihat” dapat terbentuk dengan adanya obyek yang mampu menyatukan, 
entah itu suatu yang enak ditonton, figur yang dikagumi, atau kisah yang 
menawan. Koinonia gereja tidak seharusnya dipadukan di atas panggung, melainkan 
pada “mata” iman setiap orang yang berkumpul. Sebagaimana Yosua dan Kaleb 
berpadu bukan pada apa yang mereka lihat di tanah Kanaan, tetapi pada janji 
Allah bagi mereka untuk mendiami tanah itu.
 
Yosua 2:1b
“Maka pergilah mereka dan sampailah mereka ke rumah seorang perempuan sundal, 
yang bernama Rahab, lalu tidur di situ.”
 
Perintah Yosua mirip dengan perintah Musa kepada keduabelas pengintai, namun 
kisah selanjutnya berbeda. Keduabelas pengintai pergi dan melihat, namun 
sekembalinya mereka menghadap Musa dan segenap umat Israel, tampaklah perbedaan 
di antara mereka. Laporan kesepuluh pengintai membuat umat ketakutan.
 
Kini dua pengintai mendapat perintah Yosua untuk pergi dan melihat, namun 
ternyata mereka pergi ke rumah Rahab dan tidur di situ. Kedua pengintai bukan 
sekadar pergi dan melihat (ada jarak) tetapi kini mereka masuk bahkan bermalam 
di rumah Rahab, perempuan Kanaan. Di antara pengintai dan yang diintai 
seolah-olah tidak lagi berjarak. Keduanya “bersentuhan.” Maka selanjutnya 
terjadilah percakapan antara kedua pengintai itu dengan Rahab.
 
Peristiwa pertemuan kedua pengintai dan Rahab menggambarkan koinonia yang tidak 
hanya “melihat” (seeing) tetapi “bersentuhan” (touching). Inilah koinonia 
gereja. Gereja bukan sekadar koinonia yang dibangun atas dasar “mata” iman 
tetapi koinonia yang dibangun atas dasar kehadiran, kedekatan bahkan dikatakan 
rasul Paulus, keutuhan tubuh, yaitu tubuh Kristus. Itulah “suasana” gereja 
mula-mula. Mereka berkumpul, memecahkan roti untuk dibagikan satu kepada yang 
lain. Mereka bersekutu untuk berbagian dalam cawan dan roti yang melambangkan 
darah dan tubuh Yesus Kristus.
 
Dua pengintai yang diutus Yosua tidak lagi sekadar melihat. Mereka perlu masuk 
dan tinggal. “Kedekatan” ini berhasil oleh karena kasih karunia TUHAN 
dinyatakan melalui Rahab. Bagi Rahab, karya TUHAN begitu “dekat” dengannya 
(Yos. 2:9-13). Rahab seorang yang “mendengar” dan “gemetar” atas pekerjaan 
TUHAN, menyatakan komitmennya melalui perjanjian yang dibuatnya dengan dua 
orang pengintai. Ini kunci yang penting. Rahab membangun “koinonia” dengan dua 
orang pengintai dengan perjanjian!
 
Koinonia gereja bukan hanya dipadukan dalam “mata” iman tetapi dalam kedekatan 
satu dengan lainnya. Maka koinonia itu hanya dapat dibangun dalam salib Kristus 
dan Roh Kudus (2Kor. 13:13). Inilah dasar yang kokoh bagi koinonia kita sebagai 
gereja.
 
Mendekatkan diri berarti meniadakan jarak. Jarak yang memisahkan. Namun 
ketiadaan jarak tidak dapat dibangun tanpa perjanjian anugerah TUHAN. Gereja 
perlu terus menerus memelihara dan mengembangkan koinonia ini.
 
 
 
 
Sumber:
http://www.wkristenonline.org/index.php?option=com_content&view=article&id=36:dari-melihat-menjadi-menyentuh&catid=28:koinonia&Itemid=42
 
 
 
 
Profil Pdt. Joshua Lie:
Pdt. Joshua Lie, S.Th., M.Phil., Ph.D. (Cand.) adalah Pendiri Reformational 
Worldview Foundation (RWF) dan dosen di Sekolah Tinggi Theologi Amanat Agung 
(STTAA) Jakarta. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di 
Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang; Master of Philosophy (M.Phil.) di 
Institute for Christian Studies (ICS), Toronto, Canada; dan sedang studi Doctor 
of Philosophy (Ph.D.) di ICS.
 
 
 
Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio


“Mengenal kehendak Allah bukanlah proses menerima informasi langsung dari Allah 
tentang persoalan hidup, tetapi proses mengenali persoalan hidup berdasarkan 
wahyu yang telah diberikan Allah kepada kita.”
(Rev. Prof. Gary T. Meadors, Th.D., Decision Making God’s Way, hlm. 185) 

Kirim email ke