KEKRISTENAN DAN OTORITAS ALKITAB-3:
Sola Scriptura atau Alkitab + Tradisi Rasuli?
 
oleh: Denny Teguh Sutandio
 
 
 
“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”
(Mzm. 119:105)
 
 
 





P
ada bagian kedua, kita telah membahas mengenai perbedaan Sola Scriptura dengan 
Solo Scriptura. Pertanyaan selanjutnya adalah sejauh mana otoritas Alkitab yang 
kita pegang berkenaan dengan tradisi gereja? Apakah tradisi gereja setara 
dengan Alkitab ataukah tradisi gereja di bawah Alkitab ataukah tradisi gereja 
di atas Alkitab? Pada bagian ini, kita akan melihat kontras antara Protestan 
dan Katolik Roma.
 
Kristen Katolik Roma adalah sebuah agama Kristen yang mengakui Paus Benediktus 
XVI yang berpusat di Vatikan, Roma sebagai kepala gereja Katolik Roma. Katolik 
Roma seperti ajaran Protestan juga mengakui banyak doktrin/ajaran utama, 
seperti: Allah menciptakan dunia dan manusia, manusia telah berdosa, dua natur 
Kristus, penebusan Kristus bagi manusia yang berdosa, kedatangan Kristus kedua 
kalinya, dan percaya akan Allah Tritunggal. Namun perbedaannya ada pada 
pengakuan akan otoritas Alkitab. Katolik Roma tetap mengakui bahwa Alkitab itu 
berotoritas. Bahkan pengakuannya akan finalitas Alkitab dipaparkan dengan jelas 
oleh Pastor Dr. H. Pidyarto, O.Carm. berikut ini, “Gereja Katolik mengajarkan 
bahwa wahyu Allah itu selesai dan lengkap dengan wafatnya rasul yang terakhir. 
Gereja sesudah zaman para rasul tidak menerima tambahan wahyu Allah.” 
(Kewibawaan Alkitab dari Sudut Pandang Seorang Katolik;
 
http://www.alkitab.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=155&Itemid=131)
 Namun finalitas Alkitab sebagai wahyu Allah ini menurut Katolik Roma harus 
dibarengi dengan otoritas Tradisi rasuli (atau disebut juga Tradisi suci) yang 
pertama-tama secara lisan sebagai otoritas yang menafsirkan Alkitab. Pastor Dr. 
H. Pidyarto, O.Carm. membedakan dua macam tradisi: Tradisi rasuli (“T” ditulis 
dengan huruf besar) dan tradisi gerejawi (“t” ditulis dengan huruf kecil). 
Tradisi rasuli yang dimaksud di sini berkenaan dengan teladan, ibadat, dan 
ajaran pada zaman rasuli, sedangkan tradisi gerejawi adalah penerusan dari 
Tradisi rasuli. Oleh karena itu, menurut paham Katolik Roma, Alkitab itu wahyu 
Allah yang dipelihara dan diteruskan oleh Tradisi rasuli kepada orang-orang 
percaya, sehingga menurut Konsili Vatikan II, Alkitab dan Tradisi rasuli “harus 
diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama.” 
 
Berbeda dengan Katolik Roma, Dr. Martin Luther meneriakkan slogan Sola 
Scriptura yang berarti kembali kepada Alkitab. Melalui semboyan ini, Kristen 
Protestan sering kali dituduh oleh beberapa pihak Katolik Roma bahwa Protestan 
itu anti tradisi gereja. Bagi saya, ini adalah sebuah tuduhan yang kurang bisa 
dipertanggungjawabkan. Mengapa ada tuduhan semacam ini? Karena di dalam kubu 
Protestantisme muncul golongan yang benar-benar ekstrem, dimulai dari gerakan 
Reformasi Radikal, kemudian disusul dengan gerakan Anabaptis, lalu 
Fundamentalisme, dan terakhir, Pentakosta/Karismatik yang meskipun 
gerakan-gerakan tersebut ada perbedaannya, namun intinya tetap satu: 
seolah-olah anti tradisi gereja. Benarkah Protestan sejati anti tradisi gereja? 
TIDAK! Kalau kita memperhatikan sosok dan konteks perjuangan Dr. Martin Luther, 
khususnya melalui buku Dr. John Calvin yang terkenal, Institutes of the 
Christian Religion, kita memperhatikan bahwa kedua tokoh ini bukan anti
 tradisi gereja, tetapi yang hendak ditekankannya adalah otoritas Alkitab 
jangan digeser oleh tradisi gereja. Dr. Calvin sendiri di dalam bukunya yang 
terkenal tersebut mengutip perkataan bapa gereja Augustinus dan lainnya. Hal 
ini membuktikan bahwa Protestan mula-mula TIDAK anti terhadap (ajaran) dari 
tradisi gerejawi dari para bapa gereja. Bagaimana dengan Tradisi rasuli? 
Protestan jelas menerima Tradisi rasuli. Hal ini dibuktikan dengan tetap 
dilangsungkannya Perjamuan Kudus seperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dan 
diteruskan oleh para rasul (bdk. 1Kor. 11:23-32). Secara pengakuan iman, 
Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nicea Konstantinopel, Pengakuan Iman 
Chalcedon diakui oleh Protestan.
 
Seolah-olah dari penjelasan sekilas di atas, Katolik dan Protestan tidak ada 
bedanya, karena mereka sama-sama menghargai otoritas Alkitab dan juga Tradisi 
rasuli. Lalu, apa bedanya? Bagi Katolik, Tradisi rasuli selain Alkitab “harus 
diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama.”, 
sehingga Tradisi rasuli dalam hal ini bersifat mengikat (mutlak), sedangkan 
bagi Protestan, meskipun tetap menjalankan Tradisi rasuli, tetapi Tradisi 
rasuli TIDAK bersifat mutlak dan mengikat. Mengapa bagi Protestan, Tradisi 
rasuli TIDAK bersifat mutlak dan mengikat? Karena Tradisi rasuli adalah Tradisi 
yang berlaku pada zaman para rasul yang TIDAK selalu harus diikuti oleh gereja 
sepanjang zaman. Mengapa TIDAK selalu harus diikuti? Karena para rasul Kristus 
sendiripun TIDAK pernah memerintahkan orang Kristen waktu itu dan kita di zaman 
sekarang untuk secara kaku meneruskan Tradisi rasuli. Tradisi rasuli yang mana 
yang TIDAK selalu harus diikuti?
 Jika kita menyimak perkataan Dr. Pidyarto di atas tentang definisi Tradisi 
rasuli, yaitu, “teladan, ibadat, dan ajaran pada zaman rasuli”, maka kita dapat 
menyimpulkan bahwa Tradisi rasuli yang berkenaan dengan ajaran harus kita 
terima dengan mutlak (karena itu berkaitan langsung dengan Tuhan Yesus dan 
ajaran-ajaran-Nya), namun berkenaan dengan ibadat, kita tidak perlu 
memutlakkannya. Bagaimana dengan teladan? Teladan hidup para rasul pun TIDAK 
perlu kita mutlakkan, karena para rasul pun juga tetap manusia yang kadang bisa 
berdosa. Contoh, Petrus pun sempat berlaku munafik, sehingga ditegur oleh 
Paulus (Gal. 2:11-14). Bahkan rasul top sekelas Paulus (yang dikenal sebagai 
seorang yang: keras, kuat, dan tegas) sempat berselisih tajam dengan Barnabas 
(Kis. 15:36-39). Mengapa berkenaan dengan ibadat dalam Tradisi rasuli, kita 
tidak perlu memutlakkannya? Karena ibadat pada zaman rasuli adalah ibadat yang 
unik yang hanya terjadi pada zaman rasuli yang
 tentunya berbeda bahkan SANGAT berbeda dengan zaman kita. Apakah gereja 
Katolik Roma yang mengklaim menghormati Tradisi rasuli juga adalah gereja yang 
menjalankan setiap teladan, ibadat, dan ajaran dari Tradisi rasuli tersebut? 
 
Pertama, di Roma 16:16, Paulus menasihati antar jemaat Roma untuk 
bersalam-salaman dengan cium kudus (cium persaudaraan). Pertanyaan saya, apakah 
bentuk ibadat seperti ini harus kita aplikasikan di zaman sekarang? Kedua, 
apakah gereja Katolik Roma yang mengakui Tradisi rasuli memiliki kehormatan 
yang sama dengan Alkitab juga menjalankan cium kudus pada saat atau sebelum 
atau sesudah misa? Secara fakta, saya tidak pernah menjumpai cium kudus 
dijalankan di dalam gereja Katolik Roma. 
 
Kedua, jika gereja Katolik Roma mempertahankan penghormatan juga terhadap 
Tradisi rasuli, maka tolong tanya, apakah di zaman rasuli, ada penghormatan 
terhadap patung Maria seperti yang dilakukan di dalam gereja Katolik sekarang? 
Saya mengerti bahwa orang Katolik TIDAK menyembah patung Maria, namun 
penghormatan berlebihan terhadap patung Maria sendiri TIDAK sesuai dengan 
Tradisi rasuli.
 
Ketiga, bagaimana juga dengan pengakuan dosa kepada pastor/uskup? Apakah 
Tradisi rasuli mengajarkan hal ini? Alkitab dan tentunya Tradisi rasuli 
mengajarkan bahwa Kristus adalah pengantara antara Allah yang Mahakudus dengan 
manusia berdosa, sehingga hanya kepada Kristus saja, kita dapat mengaku dosa 
dan meminta pengampunan-Nya. Meskipun orang Katolik mengakui bahwa Pastor tidak 
memiliki kuasa untuk mengampuni dosa, namun pertanyaan saya, mengapa di gereja 
Katolik Roma terdapat liturgi mengaku dosa kepada pastor/uskup?
 
Keempat, Paus sebagai penerus Rasul Petrus. Orang Katolik Roma mempercayai 
bahwa Paus adalah penerus Rasul Petrus. Sebagai gereja yang juga menghormati 
Tradisi rasuli, mengapa Petrus yang diberitakan di Alkitab adalah seorang yang 
menikah (buktinya: Tuhan Yesus menyembuhkan ibu mertua Petrus—Mat. 8:14-17), 
sedangkan Paus ditetapkan tidak boleh menikah? Jadi, ini yang salah yang mana: 
Alkitab, Tradisi rasuli, atau yang mengaku meneruskan Tradisi rasuli?
 
Kelima, jika gereja Katolik Roma mengajarkan bahwa Tradisi rasuli memiliki 
kehormatan yang sama dengan Alkitab, maka saya menyodorkan fakta bahwa banyak 
gereja Katolik Roma pada waktu hari raya agama mayoritas di Indonesia selalu 
memasang spanduk yang bertuliskan selamat menunaikan ibadah hari raya agama 
mayoritas tersebut, namun anehnya di saat Waisak atau Galungan/Kuningan, tidak 
ada spanduk serupa. Tolong tanya, apakah pada zaman rasuli, misalnya pada zaman 
Paulus, apakah Paulus memerintahkan jemaat Roma atau Galatia atau yang lainnya 
untuk mengucapkan selamat hari raya kepada orang-orang sekitarnya yang 
non-Kristen? Tidak ada catatan sejarah mengenai hal ini. Lalu, dapat ide dari 
mana banyak gereja Katolik Roma memasang spanduk demikian? Ada jemaat gereja 
Katolik Roma yang mengatakan bahwa itu adalah bentuk solidaritas atau 
menghormati. Saya bertanya kembali, kalau tujuannya adalah untuk menghormati 
atau solidaritas, mengapa hanya pada saat hari raya
 agama mayoritas di Indonesia dan BUKAN pada setiap hari raya agama-agama di 
Indonesia, seperti: Waisak, Galungan/Kuningan, dll dan bahkan juga BUKAN pada 
saat orang Protestan memperingati hari Reformasi Gereja tanggal 31 Oktober? Ini 
membuktikan ketidakkonsistenan mereka sendiri.
 
Akhir kata, dengan penyajian singkat ini, saya tidak hendak memusuhi saudara 
seiman saya, kaum Kristen Katolik, namun saya hendak menyadarkan fakta bahwa 
Alkitab adalah satu-satunya otoritas tertinggi dalam iman dan praktik hidup 
Kristen. Tradisi rasuli meskipun tetap harus dihormati karena begitu 
signifikan, namun itu TIDAK bersifat mengikat. Sebuah kutipan ayat terakhir 
akan menyadarkan kita pentingnya Alkitab sebagai satu-satunya otoritas dalam 
iman dan praktik hidup Kristen, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang 
bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki 
kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2Tim. 3:16; kata “tulisan” 
dalam teks Yunaninya: graphē yang menekankan superioritas Alkitab sebagai 
tulisan yang dihembuskan oleh Allah dalam iman dan kehidupan Kristen) Amin. 
Soli Deo Gloria.
 


“Mengenal kehendak Allah bukanlah proses menerima informasi langsung dari Allah 
tentang persoalan hidup, tetapi proses mengenali persoalan hidup berdasarkan 
wahyu yang telah diberikan Allah kepada kita.”
(Rev. Prof. Gary T. Meadors, Th.D., Decision Making God’s Way, hlm. 185) 

Kirim email ke