BERPIKIR KERAS,
TETAP RENDAH HATI

 

oleh: Rev. Francis Chan,
M.Div.

 

 

 

Nats: 1 Korintus 8:1-3

 

 

 

Ayat bacaan ini membuat saya merasa
tertuduh tentang betapa sering saya akan berbicara tanpa mengasihi orang yang
tepat berada di depan saya. Saya sudah berdoa agar Allah menolong saya untuk
melihat mata seseorang ketika saya berbicara kepadanya dan benar-benar
perhatian. Saya punya tujuh pertanyaan yang saya tanyakan kepada diri saya
sendiri sebelum saya berbicara karena demikian mudah pikira saya teralih dan
gugup dalam berbicara. Salah satu pertanyaan itu adalah,”Apakah saya khawatir
tentang apa yang akan dipikirkan orang mengenai pesan saya, atau apa yang
dipikirkan Allah?” Satu pertanyaan lainnya adalah,”Apakah saya mengasihi 
orang-orang
ini dengan tulus?” 

 

Ayat bacaan ini ditujukan kepada
orang-orang yang secara teknis memiliki teologi yang benar namun masih salah di
hadapan Allah karena kurangnya kasih mereka. Paulus berbicara tentang makanan
yang dipersembahkan kepada berhala. Banyak orang-orang Korintus yang berasal
dari latar belakang orang yang tidak mengenal Allah di mana mereka menyembah
berhala. Dan sebagian dari orang-orang Kristen yang lebih dewasa memahami bahwa
berhala bukanlah apa-apa dan bahwa tidak apa-apa memakan daging yang telah
dikorbankan kepada berhala. Namun demikian, sebagian orang-orang Kristen yang
lemah bermasalah dengan ini. 

 

Orang-orang Kristen yang dewasa itu menekan
orang-orang Kristen yang lebih lemah untuk makan daging itu, dan Paulus
menanggapi orang-orang Kristen dewasa itu dengan mengatakan, “Kamu tidak
memikirkan tentang saudaramu. Hati nuraninya merasa tidak benar memakan daging
itu, namum kamu memaksanya untuk makan.” Paulus bertanya, “Mengapa kamu
melakukan itu? Jika saya tahu saya dapat menyakiti saudara saya dengan memakan
daging, saya tidak akan pernah makan daging lagi.”

 

Saya sangat mengagumi bagaimana perasaan
Paulus terhadap orang-oraang. Dalam Roma 9:3 ia menulis, “Bahkan, aku mau
terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku
secara jasmani.” Apakah Anda merasakan demikian terhadap orang-orang dalam
hidup Anda? Kehidupan Paulus menunjukkan bahwa ia bersungguh-sungguh dengan apa
yang ia ucapkan. 

 

Beberapa dari Anda di ruangan ini
memikirkan Alkitab dengan sangat keras . Tantangan saya kepada Anda adalah,
seberapa keras Anda memikirkan orang-orang? Kapan terakhir kali Anda menangis
untuk yang terhilang? 

 

Sangat mudah untuk mengasingkan diri kita
dari dunia orang yang terhilang. Kita melangkah keluar dari dunia itu periode
waktu untuk berpikir keras tentang Alkitab dan tetap sekolah untuk belajar
lebih banyak lagi, dan pada akhirnya kita tiba pada satu titik di mana kita
menyadari bahwa kita tidak mengasihi yang terhilang sebagaimana seharusnya.
Intinya bukanlah kita tidak boleh mengejar pembelajaran, tetapi kita harus
dapar melakukan keduanya, mengasihi orang dan mengenal Alkitab dengan lebih
baik. 

 

Bertahun-tahun lalu John MacArthur menulis,
“Pengetahuan itu penting, tetapi tidak cukup.” Paulus menulis dalam 1 Korintus
13:2, “Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui
segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki
iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai
kasih, aku sama sekali tidak berguna.” 

 

Beberapa dari Anda bisa jadi brillian dan
tidak berguna. Anda bisa jadi seperti seorang pemain basket hebat yang tidak
pernah meleset melempar bola namun selalu melempar bola ke keranjang tim lain.
Ia adalah pelempar yang hebat, tapi ia membunuh tim. 

 

Mengapa Allah memberi Anda karunia? Itu
bukan untuk kita, bukan untuk Anda. Kita harus selalu berpikir, Bagaimana saya
bisa membangun orang lain? 

 

Paulus menulis dalam 1 Korintus 8:2, “Jika
ada seorang menyangka, bahwa ia mempunyai sesuatu “pengetahuan”, maka ia belum
juga mencapai pengetahuan, sebagaimana yang harus dicapainya. Jika Anda
benar-benar tahu, Anda akan tahu lebih baik dan Anda akan menggunakan
pengetahuan Anda untuk mengasihi. Ada bahaya menyombongkan diri Anda dan
membayangkan diri Anda sebagai orang yang brilian. 

 

Paulus kemudian berkata, “Tetapi orang yang
mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah” (1Kor. 8:3). Ini tidak hanya tentang
informmasi. Jika Anda mengasihi Allah, Anda tidak hanya tahu banyak fakta
tentang Dia. Anda mengasihinya. Ada sebuah hubungan dan Ia mengenal Anda. 

 

Salah satu ayat favorit saya adalah Galatia
4:9, “Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah
kamu dikenal Allah..” Mengherankan saya paulus mengubah ekspresinya seperti
itu. Sang pencipta alam semesta mengenal saya! Saya benar-benar berbicara
kepada Allah dan Ia menjawab saya. 

 

Apakah Anda ingin membual tentang sesuatu?
Membuallah tentang fakta bahwa Allah mengenal Anda. Jangan membual tentang
berapa banyak yang Anda tahu. Membuallah tentang fakta bahwa Allah semesta alam
memanggil namamu. 

 

Beberapa dari Anda sudah mempelajari
tentang Kristus selama bertahun-tahun. Tapi apakah hidup Anda tampak seperti
hidup-Nya? Bisakah Anda berkata seperti Paulus, “Jadilah pengikutku, sama
seperti aku juga menjadi pengikut Kristus ?” Apakah Anda tampak seperti
Yesus? Apakah Anda mengasihi seperti Yesus? 

 

 

 

Penerjemah: Verawaty Pakpahan

 

 

 

 

 

Sumber:

http://id.gospeltranslations.org/wiki/Berpikir_Keras%2C_Tetap_Rendah_Hati%3A_Kehidupan_Pikiran_dan_Bahaya_Keangkuhan

 

 

 

Profil Rev. Francis Chan:

Rev. Francis
Chan, B.A., M.Div. adalah mantan teaching pastor di Cornerstone
Community Church, Simi Valley, CA, sebuah gereja Kristen yang beliau
dan istri dirikan pada tahun 1994. Beliau juga adalah Pendiri dan Chancellor di 
Eternity Bible College. Beliau menyelesaikan
studi Bachelor
of Arts (B.A.) dari Master’s
College dan Master of Divinity (M.Div.) dari Master’s Seminary. Beliau menulis 
beberapa buku,
di antaranya: Crazy Love: Overwhelmed by a Relentless God; Forgotten God: 
Reversing Our Tragic Neglect of the
Holy Spirit; dll.

 

 

 

Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio



“Ketika saya menganggap Allah sebagai seorang tiran, saya melihat dosa saya 
sebagai hal yang sepele, tetapi ketika saya mengenal Dia sebagai Bapa saya, 
maka saya meratapi bagaimana saya pernah melawan-Nya.”
(Rev. Charles H. Spurgeon, seperti dikutip dalam Prof. Edward T. Welch, Ph.D., 
Depresi, hlm. 115)



Kirim email ke