IMAN KRISTEN DAN
INTEGRASI ANTARA HATI DAN PIKIRAN oleh: Denny Teguh Sutandio “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” (Mat. 22:37) Dari sejarah sejak zaman dahulu sampai sekarang, kita mengamati ada pergeseran dan perubahan semangat zaman. Jika di zaman modern, rasio diutamakan bahkan sisi ekstremnya diberhalakan, maka ketika masuk zaman postmodern, rasio dianaktirikan dan perasaan yang diberhalakan, sehingga kebenaran subyektiflah yang saat ini kian menguasai zaman kita (apalagi orang non-Kristen khususnya yang dipengaruhi oleh kebudayaan/agama Timur). Jika Kekristenan di zaman modern yang dipengaruhi oleh Skolastisisme dan Renaissance masih menggunakan rasio mereka untuk mengerti iman Kristen, maka di zaman postmodern, kita mendapati bahwa banyak orang Kristen mulai mengabaikan rasio dan memutlakan pentingnya pengalaman pribadi. Untuk mencegah hal ini, beberapa arus Kristen yang mulai sadar akan bahaya ini kemudian bangkit mendidik Kekristenan dengan pengertian doktrin yang sehat sesuai dengan Alkitab. Tentu hal ini bagus, namun secara tidak sadar ada problem lain muncul, yaitu makin belajar doktrin Alkitab, otak mereka makin besar, tetapi hati mereka makin kecil. Tidak heran, makin belajar theologi, hati mereka makin kering, kurang mengalami Tuhan secara nyata, dan gaya hidup mereka kaku (bahkan hampir tidak pernah tersenyum). Hal-hal tersebut bisa terjadi karena banyak orang Kristen secara timpang menekankan satu hal dan mengabaikan hal lain. Ketimpangan tersebut adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan Alkitab dan juga berbahaya. Lalu, bagaimana kita dapat menjadi saksi Kristus di zaman postmodern ini? Di dalam Matius 22:37, Tuhan Yesus berfirman bahwa kita harus mengasihi Tuhan Allah kita dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi. Ada 3 hal yang Ia singgung di ayat ini berkenaan dengan mengasihi Allah, namun saya akan memfokuskan dua hal, yaitu pertama dan terakhir. Pertama, mengasihi Allah dengan hati. Baik di Ulangan 6:5 maupun di Matius 22:37, firman Tuhan sama-sama menempatkan HATI sebagai hal pertama dalam diri manusia yang harus dipakai untuk mengasihi Allah. Mengapa? Karena HATI adalah inti kehidupan manusia (bdk. Mat. 15:18-19). Karena merupakan inti kehidupan manusia, maka TIDAK ada orang/pribadi yang dapat mengetahui relung hati kita yang terdalam kecuali Allah (1Sam. 16:7b). Kita dapat mengasihi Allah dengan hati kita dengan mengatakan seperti yang diucapkan oleh Dr. John Calvin, “Cur meum tibi offero Domine prompte et sincere (I offer my heart to You, Lord, promptly and sincerely)” (=Aku mempersembahkan hatiku kepada-Mu, Tuhan, dengan tepat dan tulus) Mempersembahkan hati kepada Tuhan dengan tulus dilakukan dengan menyerahkan hati kita untuk dikuasai oleh-Nya dan firman-Nya secara menyeluruh (bdk. Mzm. 139:23-24). Dengan kata lain, TAAT kepada firman Tuhan itulah kunci dasar dan utama sebuah hati yang mengasihi Allah. Cukupkah kita mengasihi Allah dengan hati? TIDAK. Kristus mengajar kita untuk: kedua, mengasihi Allah dengan akal budi kita. Jika kita membandingkan Matius 22:37 dengan Ulangan 6:5, maka kata “kekuatanmu” di Ulangan 6:5 diganti oleh Tuhan Yesus dengan kata “akal budimu”. Mengapa? Karena pada waktu itu, Ia menjawab pertanyaan seorang ahli Taurat (Mat. 22:35) yang terkenal pandai dalam mengerti Taurat, namun menyesatkan. Ahli Taurat adalah seorang yang sangat menguasai firman Tuhan (Perjanjian Lama) secara pengertian, namun hatinya tidak murni di hadapan Tuhan (bdk. Yes. 29:13). Jika ahli Taurat secara pengertian sangat mendalami firman-Nya namun hatinya menjauh daripada-Nya, maka Kristus mengajar kita untuk mengasihi Allah pertama-tama dengan hati, kemudian terakhir dengan akal budi kita. Seorang yang mengasihi Allah dengan hatinya tentu juga mengasihi Allah dengan akal budi (dan tentunya dengan seluruh kehidupannya: perkataan dan perbuatan). Ia akan rindu terus-menerus mendalami Alkitab secara teliti bukan hanya untuk memuaskan rasionya saja, tetapi untuk makin mengerti kehendak, perintah, dan rencana-Nya. Dengan kata lain, makin belajar Alkitab dan theologi Kristen, ia makin rindu mengerti kehendak-Nya dan di sisi lain sambil mengintrospeksi dirinya apakah ia sudah taat kepada-Nya atau belum. Jika dengan bantuan Roh Kudus, ia mendapati dirinya masih belum menaati firman-Nya, maka dengan rendah hati atas bantuan-Nya, ia berkomitmen untuk taat dan setia kepada-Nya. Dari Matius 22:37, kita belajar bahwa selain jiwa, maka hati dan pikiran juga penting dalam posisi iman Kristen, sehingga sudah seharusnya seorang Kristen adalah orang yang mengintegrasikan fungsi hati dan rasio seefektif mungkin. Bagaimana caranya? Pertama, memurnikan hati di hadapan-Nya. Iman Kristen bukan sekumpulan doktrin yang mati, namun sebuah iman yang hidup. Mengutip Pdt. Yohan Candawasa, S.Th., iman ini bukan seperti iman pada agama-agama lain yang memperhatikan performa/tampilan luar (apa yang boleh dan tidak boleh/dilarang), tetapi memperhatikan hati. Oleh karena itu, sudah seharusnya orang Kristen harus memurnikan hatinya dengan firman-Nya. Kedua, hati menuntun rasio. Hati yang telah dipersembahkan dan dimurnikan oleh Tuhan melalui firman-Nya harus menuntun rasio, sehingga rasio tidak salah arah. Jika filsafat Yunani menempatkan rasio sebagai satu-satunya hal tertinggi dalam diri manusia (di bawahnya: emosi dan kehendak), maka iman Kristen menempatkan hati yang dimurnikan oleh Allah sebagai satu-satunya hal tertinggi dalam diri manusia. Hati yang menuntun rasio adalah hati yang rindu mengerti kebenaran firman-Nya secara mendalam dengan tujuan: belajar firman (untuk mengerti finalitas Kekristenan—theologi dan apologetika) dan mengintrospeksi diri (mencari kehendak Allah dan menjalankannya). Hal inilah yang akan membedakan seorang Kristen yang mempelajari firman Tuhan dengan mendalam dengan hati yang murni vs orang Kristen yang mempelajari firman Tuhan demi mengisi pengetahuannya semata. Ketiga, hati menuntun rasio untuk memurnikan hati. Setelah menuntun rasio, maka hati juga berkewajiban menuntun rasio untuk kembali memurnikan hati. Artinya, rasio yang telah dimurnikan melalui hati tersebut harus dituntun kembali oleh hati untuk kembali memurnikan hati. Logika ini sama seperti perkataan dari seorang bapa gereja: Faith seeks understanding (iman mencari pengetahuan/pengertian). Makin hati menuntun rasio, rasio tersebut makin memurnikan hati. Bagaimana caranya hati menuntun rasio untuk memurnikan hati? Itulah rendah hati. Kerendahan hati didapat melalui hati yang menuntun rasio untuk kemudian memurnikan hati. Dengan kata lain, melalui rasio, kita tidak merasa paling pandai dan bijak sendiri, namun dengan rendah hati, kita belajar kehendak Allah dari orang lain (saudara seiman), sehingga melalui pembelajaran ini, kita makin memurnikan hati kita, lalu menjalankan kehendak-Nya di dalam perkataan dan perbuatan kita. Bagaimana dengan kita? Apakah kita terlalu rasional dalam beriman Kristen? Ataukah kita terlalu ekstrem emosional? Rasio dan emosi harus ditundukkan di bawah hati yang telah dipersembahkan kepada Allah dengan tulus. Maukah Anda berkomitmen menyerahkan hati dan pikiran (dan tentunya seluruh aspek hidup) kita kepada-Nya? Amin. Soli Deo Gloria. “Ketika saya menganggap Allah sebagai seorang tiran, saya melihat dosa saya sebagai hal yang sepele, tetapi ketika saya mengenal Dia sebagai Bapa saya, maka saya meratapi bagaimana saya pernah melawan-Nya.” (Rev. Charles H. Spurgeon, seperti dikutip dalam Prof. Edward T. Welch, Ph.D., Depresi, hlm. 115)

