From: "Kisah" <[email protected]> 

Edisi 204 -- Natal -- Waktu Untuk Beribadah 

PENGANTAR

Shalom,
Ada hikmah menarik yang bisa kita dapatkan seusai membaca tuntas artikel yang 
berjudul "Natal -- Waktu Untuk Beribadah" pada Kolom Kesaksian edisi kali ini. 
Artikel ini mengingatkan kita bahwa kalaupun ada "noda kecil" pada momen Natal 
kita kali ini, janganlah kiranya hal itu sampai merusakkan sukacita Natal kita 
seutuhnya. 

"Noda kecil" tersebut bisa berwujud macam-macam, misalnya berkurangnya 
kemampuan finansial pribadi atau keluarga dalam menyambut Natal tahun ini, atau 
Anda harus melewatkan Natal tahun
ini sendirian tanpa kebersamaan orang-orang yang Anda cintai. Apa pun "noda 
kecil" itu, yang jauh lebih penting ialah biarkan momen kelahiran sang Anak itu 
sendiri yang menjadi sumber utama sukacita kita, bukan unsur eksternal sekunder 
lainnya.

Selamat menikmati sajian edisi kali ini. Tuhan memberkati.

Redaksi tamu KISAH,
Wilfrid Johansen
http://kekal.sabda.org
http://fb.sabda.org/kisah
______________________________________________________________________
KESAKSIAN

NATAL -- WAKTU UNTUK BERIBADAH
Setiap tahun menjelang liburan Natal, pelukis-pelukis di kota kami membuat 
gambar suasana Natal pada jendela-jendela toko. Saya dan suami saya baru saja 
mengamat-amati dari dalam toko kami sewaktu seorang wanita muda mulai melukis 
jendela toko kami.

Mula-mula, di satu sudut jendela, ia melukis sebuah bintang. Lalu di sudut yang 
lain ia menggambar seekor domba putih, dan sedikit demi sedikit dengan rasa 
ingin tahu yang semakin besar, kami mulai melihat sketsa seorang manusia. 
Akhirnya pelukis itu mengajak kami pergi ke luar melihat lukisan yang sudah 
selesai: Hari Natal pertama. Ia menggambar Maria, dan bayi Yesus tidur di 
pangkuannya. Lukisan itu memang bukan karya seni yang besar, tetapi lukisan itu 
menggambarkan kasih yang begitu tulus yang menyentuh hati saya.

Kami bertiga menyeberangi jalan supaya dapat melihatnya dari jarak jauh. Dan 
pada waktu yang bersamaan, sebuah mobil berhenti tidak jauh dari tempat kami 
berada. Seorang ibu dan keempat anaknya berlari berhamburan ke luar dari mobil 
dan dengan gembira mereka menuruni jalan sambil menunjuk bermacam-macam lukisan 
bersalju dan sinterklas dengan rasa kagum. Akan tetapi, waktu mereka mendatangi 
toko kami, yang paling kecil di antara anak-anak itu, seorang anak laki-laki, 
tertinggal dari yang lainnya.

Ia berdiri tidak bergerak, seakan-akan tertegun menatap bayi Kristus. Lalu ia 
menjinjitkan kakinya, dan tangannya bergerak berusaha menjangkau dan menyentuh 
jemari mungil sang bayi.

"Jangan!" seru pelukis itu. "Lukisan itu masih basah." Setelah kami 
menyeberangi jalan, tampak jelas ada noda kecil pada permukaan lukisan. Pelukis 
itu mengeluarkan kuasnya untuk memperbaikinya, tetapi suami saya mencegahnya.

"Biarkan saja," kata suami saya. Saya tahu maksudnya. Sepanjang masa Natal, 
noda kecil itu mengingatkan kami bahwa Natal adalah waktu untuk mengasihi dan 
menyembah Juru Selamat kami tanpa rasa malu.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: Kisah Nyata Seputar Natal
Judul buku asli: The New Guideposts Christmas Treasury
Penulis artikel: Ruth Ikerman
Penerjemah: Christine Sujana
Penerbit: Yayasan Kalam Hidup, Bandung 1998
Halaman: 24 -- 25
______________________________________________________________________

Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: "Ada suara 
orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, 
luruskanlah jalan bagi-Nya." (Matius 3:3) < 
http://alkitab.sabda.org/?Matius+3:3>
--------------------------------------------------------------------
KS-ILT
Mat 3:3 Karena dialah yang dibicarakan oleh Nabi Yesaya ketika berkata, "Suatu 
suara yang berseru di padang gurun: Persiapkanlah jalan bagi YAHWEH, buatlah 
lurus alur-alur-Nya!"

KJV
Mat 3:3 For this is he that was spoken of by the prophet Esaias, saying, The 
voice of one crying in the wilderness, Prepare ye the way of the Lord, make his 
paths straight. 

______________________________________________________________________
POKOK DOA

1. Berdoa untuk umat Kristiani agar semakin menyadari makna Natal dalam hidup 
mereka dan semakin mengasihi Tuhan Yesus sebagai sang Juru selamat.

2. Berdoa untuk anak-anak kecil yang seringkali justru dipakai Tuhan untuk 
mengingatkan kita 
akan cinta kasih Tuhan Yesus yang sungguh besar dalam hidup kita.

3. Natal merupakan kabar baik bagi umat Kristiani dan membawa sukacita. Doakan 
agar umat 
Kristiani dapat menjadi berkat untuk orang-orang di sekitar kita. 
========================================= 
From: "Kisah" <[email protected]> 

Edisi 205 -- Apa yang Didapat di Hari Natal? 

PENGANTAR

Shalom,
Natal adalah tentang Kristus. Semangat Natal yang adalah Kristus inilah yang 
mendasari artikel Kolom Kesaksian edisi kali ini yang berjudul "Apa yang 
Didapat di Hari Natal?". Momen Natal adalah momen ketika kita sedang diingatkan 
kembali bahwa sebenarnya kita telah menerima kado terbesar dari Elohim yaitu 
Bayi Kristus, sang Putra yang lahir ke dunia fana.

Selamat menikmati sajian Publikasi Kisah edisi kali ini. Tuhan memberkati.

Redaksi tamu KISAH,
Wilfrid Johansen
http://kekal.sabda.org
http://fb.sabda.org/kisah
______________________________________________________________________
KESAKSIAN

APA YANG DIDAPAT DI HARI NATAL?
Beberapa saat sebelum membuat tulisan ini aku mengirimkan SMS ke abangku yang 
tinggal di tanah kelahiranku. Aku bertanya padanya, apakah tradisi khusus 
perayaan Natal di kota pesisir itu masih ada?
Lalu ia menjawab, "Tradisi perayaan Natal seperti itu sudah tidak ada lagi. 
Kami pergi ke gereja pukul 17.00 WIB, dan pulang larut malam, pada saat itu, 
kota telah sepi." 
Wah ... aku kaget mendengar jawaban itu! Jauh dalam lubuk hatiku muncul rasa 
kehilangan sesuatu. Apa yang terjadi dengan kota kelahiranku? Apakah di kota 
itu, Natal tidak lagi menjadi momen penting yang harus diperingati?

Aku lahir di ibu kota kabupaten Tapanuli Tengah. Posisi kota ini sebagian 
dilingkupi Bukit Barisan, dan sebagian lain menghadap ke lautan lepas Samudra 
Indonesia (Hindia). Jadi, dapat dibayangkan betapa indah kota pesisir itu. 
Kalau kita naik mobil dari Medan, maka menjelang tiba ke kota itu -- khususnya 
pada malam hari -- kita akan melihat pemandangan nyala lampu rumah-rumah di 
kota itu dan juga nyala lampu bagan-bagan nelayan yang tengah menangkap ikan di 
laut! Indah sekali! Aku masih ingat kota tersebut dijuluki "Hong Kong"-nya 
Indonesia! 
Nah, karena kondisi geografis seperti itu, maka tidak heran jika rumah-rumah 
penduduk ada yang dibangun di dataran rendah/pesisir dan ada yang dibangun di 
atas bukit. Rumah keluargaku berada di dalam kota, di dataran rendah. Adapun 
beberapa temanku tinggal di atas bukit. 
Sangat menyenangkan ketika menjemput teman-teman yang tinggal di atas bukit itu 
untuk pergi bersama-sama jalan kaki ke sekolah di tengah kota.

Di belakang rumahku terdapat sebuah pelabuhan. Di sana kerap terlihat 
orang-orang duduk menikmati matahari terbenam dengan deburan ombak yang besar. 
Acap kali aku datang ke tempat itu bersama Abang ataupun sendirian menikmati 
panorama tersebut sembari menikmati kacang bakar yang dijual di situ.

Dalam situasi seperti itulah aku menikmati malam Natal. Walaupun di kota dan 
bukit sudah terdapat aliran listrik, tetapi suasana tetap saja agak gelap 
karena penerangan jalan dan rumah-rumah belum maksimal. Suasana itu ternyata 
sangat mendukung kebiasaan masyarakat pada waktu itu, yakni menyalakan dan 
menempelkan lilin-lilin di sekeliling rumah! Ada yang di pagar, di tanah, di 
ranting pohon, mereka menyalakan puluhan lilin mengelilingi rumah itu! Wow... 
indah sekali pemandangan malam itu! Kelap-kelip nyala lilin sungguh 
mendatangkan suasana tersendiri, apalagi jika mata kita memandang ke atas bukit 
... wahhh ... lebih indah dan syahdu. Di antara pepohonan di atas bukit itu, 
nyala lilin berkelap-kelip dari sekeliling rumah.
Rasanya betah berjam-jam menikmati suasana itu, terlebih ditambah sesekali 
terdengar bunyi dentuman meriam bambu! Seolah-olah memberi tanda dan 
penghormatan pada hari Natal yang penuh makna bagi umat manusia atas kelahiran 
sang Juru Selamat!

Tetapi kini, setelah sekian tahun aku meninggalkan kota itu, kemajuan zaman 
telah menggerus tradisi masyarakat yang penuh makna tersebut.

Apa yang didapat di hari Natal? 
Dengan jujur kukatakan bahwa Natal adalah suasana penuh makna yang menggiring 
hati dan ingatanku pada di malam penuh bintang gemerlap dan terdapat satu 
bintang berukuran besar. Di sebuah kandang dua ribu tahun silam, bayi Yesus 
dilahirkan. Bukankah sampai saat ini, kita masih mencari dan menciptakan 
suasana khusus dalam ibadah dan perayaan Natal di gereja? Mengapa nyala lampu 
listrik harus dipadamkan saat memasuki acara penyalaan lilin yang diiringi 
pujian Malam Kudus? 
Saya pikir hal itu memerlukan suasana khusus. Tidak sedikit di antara kita yang 
bergetar hatinya saat menikmati suasana saat semua jemaat menyanyikan Malam 
Kudus dan lilin-lilin menyala di tengah kegelapan.

Luar biasa, bukan? 
Persoalannya sekarang, suasana khusus yang menggetarkan hati itu apakah juga 
turut menggetarkan kasih kita kepada sesama manusia di hari Natal tersebut 
maupun di hari-hari yang kita lalui? Tindakan kasih memang bukan hal yang 
mudah. Masih lebih mudah mengucapkan kasih!

Rasanya tidak adil jika saya tidak menyinggung tentang kado Natal.
Yang saya alami saat masih kecil adalah saya sangat senang ketika mendapat kado 
yang dibungkus dengan kertas kado Natal. Apalagi jika disusul dengan sejumlah 
uang, senang sekali rasanya. Saat itu, aku tidak terpikir untuk memberi kado 
kembali kepada si pemberi. Yang kutahu dan kunikmati hanya menerima kado. 
Setelah beranjak dewasa -- dan setelah memiliki teman wanita -- mau tidak mau 
aku harus "berjuang" mengumpulkan uang untuk membeli kado untuknya! Maklum, 
waktu itu aku masih jadi mahasiswa dengan suplai dana yang pas-pasan dari orang 
tua. Dan, baru setelah mulai bekerja dan memiliki penghasilan yang relatif 
cukup, kualitas dan harga kado untuk orang-orang khusus -- bukan hanya pacar, 
melainkan juga untuk keluarga dan teman-teman -- meningkat.

Bagaimana dengan Anda? Kado Natal telah mewarnai hidup kita saat-saat menjelang 
Natal. Bagaimana sebenarnya isi hati kita ketika memberikan kado dan ucapan 
selamat Natal pada seseorang?
Bagaimana pula sebenarnya isi hati orang-orang yang memberikan ucapan selamat 
maupun kado Natal kepada kita? Ah, seandainya kita saling mengetahui isi hati, 
dan ternyata yang terlihat adalah sebuah hati yang tulus, putih bersih, oh, 
alangkah bersukacitanya kita; alangkah damai sejahteranya hati kita! Dan betapa 
mungkin, Tuhan juga tersenyum melihat ketulusan hati tersebut.

Aku mengenal dua wanita yang telah bersahabat sejak SMA dengan baik yang 
memiliki kebiasaan baik. Kini mereka telah berusia hampir 40 tahun. Yang satu 
sudah memiliki dua orang anak yang beranjak remaja, yang satu lagi belum 
menikah dan sedang menempuh studi di luar negeri. Tentu saja setiap Natal 
mereka saling bertukar kado dan ucapan selamat Natal. Tetapi, ternyata tidak 
hanya sampai di situ. 

Belum lengkap dan belum sempurna rasanya merayakan dan memaknai Natal setiap 
tahun jika mereka belum saling mendoakan. Maka, sekalipun jarak keberadaan 
mereka melintasi benua, itu tidak menjadi penghalang. Melalui telepon, mereka 
bergantian mendoakan. Jenis permintaan mereka bermacam-macam. Mereka mendoakan 
permohonan yang spesifik kepada Tuhan untuk satu tahun ke depan. Ya! Mereka 
saling mendukung dalam doa, dan saling berbagi kasih di dalam Tuhan. Mereka 
mendapatkan sesuatu yang luar biasa di hari Natal, yaitu kekuatan doa!

Lalu, bagaimana fenomena pergaulan sosial kita saat ini? Suasananya sangat 
berbeda jika dibanding dua puluh tahun silam. Bukan rahasia lagi jika 
teman-teman nonkristiani kita enggan secara langsung mengucapkan selamat Natal 
sembari menyalami kita di hari Natal dan sesudahnya. Tentu kita tidak bisa 
memaksanya. Namun, hal ini tidak terlalu saya ambil pusing. Dua tahun terakhir 
ini, sebagian kecil teman-temanku SMA yang berbeda iman toh tetap saja 
mengucapkan selamat Natal padaku di milis alumni. Aku sangat menghargai 
keberanian dan ketulusan mereka!

Bagiku, makna Natal sesungguhnya adalah bukan menanti orang-orang mendatangi 
kita untuk memberi ucapan selamat Natal maupun kado Natal. Terlalu sempit jika 
makna Natal dipagari dengan hal macam itu. Natal adalah proaktif dalam bentuk 
memberi, mendatangi, memancarkan, menolong, menjadi saluran berkat dan kasih 
pada sesama manusia di mana pun, kapan pun, dalam aktivitas kita sehari-hari 
yang dimulai pada hari Natal dan yang tidak berakhir.

Bukankah Elohim sangat proaktif memberikan kasih-Nya kepada umat manusia? Dia 
telah mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan kita dari dosa kekal 
sehingga kita memperoleh keselamatan dan hidup yang kekal. Inilah kado Natal 
yang sesungguhnya kita dapatkan! Karena Dia telah menyelamatkan kita, berarti 
Dia selalu beserta kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Diambil dan disunting dari:
Judul buku: My Favourite Christmas
Penulis: Tema Adiputra
Penerbit: Gloria Cyber Ministries Yogyakarta, 2006
Halaman: 27 -- 34
______________________________________________________________________

Alat penampi sudah di tangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya 
dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan 
dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan." (Matius 3:12) < 
http://alkitab.sabda.org/?Matius+3:12 >
------------------------------------------------
KS-ILT
Mat 3:12 Alat pengirik-Nya ada di tangan-Nya, dan Dia akan membersihkan lantai 
pengirikan-Nya, dan akan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung. Namun, Dia 
akan membakar jerami itu dengan api yang tak terpadamkan."

KJV
Mat 3:12 Whose fan is in his hand, and he will throughly purge his floor, and 
gather his wheat into the garner; but he will burn up the chaff with 
unquenchable fire. 
______________________________________________________________________
POKOK DOA

1. Bersyukur atas lahirnya sang Juru Selamat Yesus Kristus yang membawa kabar 
sukacita bagi umat Kristiani. Berdoa untuk setiap kita agar mengerti makna 
Natal dalam hidup kita.

2. Berdoa untuk orang-orang yang merayakan Natal dalam keadaan yang 
memprihatinkan. Kiranya damai Tuhan Yesus yang akan memberikan sukacita dalam 
hati mereka.

3. Berdoa untuk orang-orang yang belum percaya Yesus agar mereka menjadi 
percaya dan mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat manusia.
______________________________________________________________________
Pimpinan redaksi: Novita Yuniarti
Redaksi tamu: Wilfrid Johansen
Kontak: < kisah(at)sabda.org >
Berlangganan via email: < subscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org >
Berhenti berlangganan: < unsubscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org >
Pertanyaan/saran/bahan: < owner-i-kan-kisah(at)hub.xc.org >
Arsip KISAH: http://www.sabda.org/publikasi/kisah
Situs KEKAL: http://kekal.sabda.org
Facebook KISAH: http://fb.sabda.org/kisah
Twitter KISAH: http://twitter.com/sabdakisah
Kunjungi Blog SABDA di http://blog.sabda.org
Anda terdaftar dengan alamat email: [email protected]
______________________________________________________________________
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright (c) 2010 Kisah / YLSA -- http://www.ylsa.org
Katalog SABDA: http://katalog.sabda.org
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati

Kirim email ke