From: "e-JEMMi" <[email protected]> 

e-JEMMi - Edisi 13-34#2010 -- Budaya dalam Kerangka Pikir Misiologi 

THE SAME CHRIST WHO TELLS OF HEAVEN WITH ALL ITS GLORIES TELLS OF HELL WITH ALL 
ITS HORRORS
______________________________________________________________________
EDITORIAL

Shalom,
Sangat penting memahami budaya orang lain sebelum kita memberitakan Kabar Baik 
kepadanya. Dengan mengetahui budayanya, kita bisa mencari "celah" untuk 
membagikan kebenaran tanpa melukai perasaan orang tersebut. Akan tetapi, hal 
ini terkadang diabaikan oleh kebanyakan orang percaya, sehingga bukan saja 
tidak berhasil memenangkan jiwa orang tersebut, bahkan membuat mereka terluka 
dan antipati terhadap kekristenan. Melalui artikel yang kami persiapkan ini, 
kita akan belajar bagaimana memberitakan Injil Yesus Kristus kepada mereka yang 
memiliki budaya yang berbeda dengan kita.

Pimpinan Redaksi e-JEMMi,
Novita Yuniarti
< novita(at)in-christ.net >
http://misi.sabda.org
http://fb.sabda.org/misi
________________________________________________________
ARTIKEL MISI

BUDAYA DALAM KERANGKA PIKIR MISIOLOGI

MEMAHAMI BUDAYA
Setiap orang memiliki budaya dan tidak seorang pun dapat dipisahkan dari 
budayanya sendiri. Tantangan berat bagi para misionaris (baik dalam maupun luar 
negeri) adalah mengidentifikasi diri dengan orang-orang yang dilayani. Untuk 
itu, mereka dituntut memahami budaya kelompok masyarakat yang dituju.

Langkah pertama untuk belajar budaya-budaya lain adalah menguasai budaya 
sendiri. Apakah arti budaya itu? 
Budaya menurut para sarjana Antropologi adalah hal-hal yang bersangkutan dengan 
akal (Kuncaraningrat). 
Budaya adalah sejumlah kebiasaan yang saling berkaitan (Antropolog AS Boas 
Kroeber, Clinton, dll.). 
Budaya adalah organisasi sosial yang direfleksikan oleh keseluruhan nya 
(Antropolog Inggris Malinowski, Raeliffie Brown). 
Lloyd E. Kwast menjelaskan: "Budaya memiliki empat lapisan yang terdiri dari 
tingkah laku, nilai-nilai, kepercayaan-kepercayaan, dan cara pandang dunia."

1. Tingkah laku: "Apa yang Dibuat atau Dikerjakan"
Lapisan yang paling luar adalah "tingkah laku", yang dapat diamati dengan 
mudah. Hal-hal yang dapat diamati adalah: kebiasaan-kebiasaan serta 
bahasa-bahasa dalam berbagai bentukdan arti. Rangkaian antara bentuk dan arti 
menghasilkan suatu simbol: "Apa yang dikerjakan?" 
Pertanyaan tersebut melahirkan pertanyaan: "Apa artinya?"

Contoh: Acungan jempol, berjabat tangan, orang Barat berpelukan sambil mencium 
pipi, dan lain-lain.

2. Nilai-Nilai: "Apa yang Baik atau yang Terbaik?"
Tingkah laku kebanyakan bersumber dari suatu sistem nilai-nilai standar tingkah 
laku dan pertimbangan yang memberikan tuntutan ke dalam hal apa yang baik dan 
indah atau terbaik dan terindah. Sistem nilai biasanya tumpang tindih dengan 
budaya. 
Pertanyaan "Apa yang baik atau yang terbaik?" 
mencetuskan pertanyaan lain: "Apa yang dibutuhkan?"

Contoh:
Di Irlandia jumlah penduduk lebih besar daripada persediaan makanan. 
Penduduknya sering mengalami kekurangan makanan yang amat dahsyat, dan itu 
sudah biasa bagi mereka. Oleh karena itu, ada kebutuhan yang nampak dan 
mendesak yaitu mengurangi jumlah penduduknya. Tetapi karena jumlah mayoritas 
penduduk adalah pemeluk agama Kristen yang menolak KB, maka jalan keluarnya 
adalah menyusun dan mengembangkan kebudayaan dengan suatu anjuran yang 
menyerupai keharusan. Setiap penduduknya diminta untuk tidak menikah sebelum 
berusia 30 tahun. Akhirnya, laju pertambahan penduduk bisa dikurangi karena 
adanya penundaan pernikahan.

Di India terjadi sebaliknya, pernah juga terjadi kelaparan yang sangat hebat 
sehingga rata-rata orang di sana hanya berusia 28 tahun. Hampir setengah dari 
anak-anak meninggal sebelum berusia 5 tahun, sehingga terjadilah kekurangan 
penduduk. Dengan demikian nampaklah suatu kebutuhan dan budaya yang harus 
dikembangkan sebagai jalan keluar dari masalah tersebut. Wanita-wanita di India 
diwajibkan untuk menikah pada usia 12 atau 13 tahun. Akhirnya terjadilah 
ledakan jumlah
penduduk yang luar biasa sampai sekarang.

3. Kepercayaan-Kepercayaan: "Apa yang Benar?"
Nilai-nilai merupakan refleksi dari kepercayaan-kepercayaan.
Sering kali, kepercayaan-kepercayaan dipertahankan secara teoretis tetapi tidak 
memengaruhi nilai-nilai atau tingkah laku.
Sistem kepercayaan-kepercayaan berperan untuk memberikan tuntutan kepada 
masyarakat setempat dalam mengambil keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan.

Contoh:
Perang antara suku Madura dengan suku Dayak di Kalimantan Barat.
Suku Dayak identik dengan kekristenan yang percaya bahwa tidak diperbolehkan 
membunuh manusia. Tetapi kebutuhan akan kelangsungan hidup dan kejayaan suku 
tersebut membuat mereka memilih membunuh daripada tetap mengikuti 
kepercayaannya.

4. Cara Pandang Dunia: "Apa yang Terjadi?"
Cara pandang dunia adalah keyakinan dasar seseorang yang berfungsi sebagai 
lensa tafsir terhadap kenyataan dan penuntun menuju suatu keputusan.

Contoh:
Orang dari suku Jawa percaya ada hari-hari tertentu yang baik yang bisa 
mendatangkan kebaikan dan ada hari-hari tertentu yang tidak baik yang 
mendatangkan sial. Jika ada rumah tangga yang berhasil atau gagal sering 
ditafsirkan karena pengaruh hari perkawinannya.

Sifat Umum dari Budaya

1. Elohim menciptakan budaya.
Para misiolog, khususnya yang berpaham injili, rata-rata percaya bahwa budaya 
adalah ciptaan Elohim yang baik pada mulanya dan rusak bersama dengan jatuhnya 
manusia dalam dosa.

2. Elohim menciptakan manusia sebagai makhluk berbudaya.
Ini adalah satu hal yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lain yaitu 
manusia sebagai makhluk yang berbudi dan berbudaya.

3. Budaya telah rusak bersama dengan rusaknya gambar dan rupa 
Elohim dalam diri manusia.
Karena manusia tidak bisa dipisahkan dengan budayanya, maka penebusan sudah 
barang tentu meliputi budaya. Oleh karena itu, para misiolog perlu mengamati 
dan menghargai budaya-budaya lain, mengantisipasi karya Elohim di dalam dan 
melalui budaya-budaya tersebut.

INJIL DAN BUDAYA

Injil di Balik Budaya
Dalam gerakan pemberitaan Injil yang dilakukan oleh para misionaris, pernah 
terjadi perbedaan yang tidak jelas antara Injil dan kebudayaan. Walaupun tidak 
mudah, perbedaan Injil dan budaya harus dibuat dengan jelas. 
Jika perbedaan antara kedua unsur tersebut kurang jelas, akan ada bahaya bagi 
pembawa Injil untuk membiarkan budayanya sendiri menjadi pesan Injil. 
Ada beberapa contoh "bagasi budaya" yang dijadikan bagian dari pesan Injil, 
seperti demokrasi, kapitalisme, bangku dan mimbar gereja, sistem organisasi, 
peraturan, pakaian resmi pada hari Minggu, dll.. 
Akhirnya, sering kali terjadi permasalahan terhadap budaya asing yang 
ditambahkan atau dilampirkan pada pesan Injil mengakibatkan penolakan terhadap 
kekristenan.

Injil vs Budaya
Ketika berhadapan dengan budaya, Injil sering menghadapi dua kemungkinan, yaitu 
Injil menelan budaya atau budaya menelan Injil. 
Kedua-duanya sama-sama mendatangkan kerugian. Jalan keluarnya adalah 
kontekstualisasi.

Beberapa contoh:
a. Orang-orang Kristen di Jawa tidak lagi mengurusi kuburan leluhurnya dan 
memanjatkan doa di sana sehingga kuburan-kuburan orang Kristen Jawa menjadi 
rusak, kotor, dan tidak terawat. Akibatnya orang-orang Jawa yang belum Kristen 
takut masuk Kristen karena takut kuburannya tidak terawat dan tidak dikirimi 
doa oleh kerabatnya.

b. Orang-orang Kristen di Afrika tidak lagi membersihkan sampah dan 
kotoran-kotoran yang menurut keyakinan sebelumnya dipakai sebagai tempat 
persembunyian roh-roh jahat; mereka tidak lagi takut dengan roh-roh tersebut. 
Akibatnya, sampah dan kotoran-kotoran tersebut menjadi sarang penyakit dan 
banyak mendatangkan kematian. Hal tersebut menghalangi orang lain untuk menjadi 
Kristen.

Orang-orang Kristen Indonesia yang beribadah di sebuah gereja dengan mimbar dan 
bangku, pakaian bagus, tata ibadah, paduan suara, seperangkat alat musik dan 
lain-lain lebih mencirikan budaya Barat daripada Injil, sehingga bagi 
orang-orang yang tidak bisa menerima budaya Barat dengan sendirinya menolak 
Injil.

ANALISA BUDAYA
Agar tidak terjadi kekeliruan, para utusan Injil harus menganalisa budaya 
sesuai dengan tahapan-tahapannya, sehingga ada peluang untuk membuka pintu 
masuk bagi Injil.

Tahap Fenomenologis
Tahapan ini hanya melihat fenomena dari permukaan saja. Dalam ilmu alami kita 
menyelidiki fenomena dari pengalaman panca indra. Para ilmuwan sosial (anthro, 
sosio, psiko) memandang dari "pendekatan orang dalam" ("pendekatan emic") 
terhadap realita. Kita menyelidiki bagaimana orang dalam memandang sesuatu, 
sebab ini merupakan kerangka untuk kita mengerti kepercayaan dan tingkah 
lakunya.

"Pendekatan orang dalam" ini menolong kita mengerti orang dari kebudayaan lain 
dari sudut pandang mereka. Tetapi pendekatan ini tidak disertai dengan 
pemikiran kritis. Penjelasan tentang suatu fenomena diterima sebagai suatu 
kebenaran. Jadi, kalau mereka berkata bahwa penyakit cacar disebabkan oleh 
suatu roh atau karena kutukan nenek moyang, maka jawaban itu akan diterima 
sebagaimana adanya. 
"Pendekatan emic" akhirnya hanya akan menghasilkan pikiran naif dan relativisme 
kebudayaan. Tidak ada yang mutlak atau benar secara universal.

Tahap Ontologis
Pada tahap ini kita berusaha menggali fenomena lebih dalam lagi untuk 
mengetahui "realita yang sebenarnya". 
Pada tahap ini kita mengevaluasi berbagai teori; kita menerima teori yang lebih 
dapat menjelaskan realita dan menolak yang lain. Pada tahap ontologis kita 
menegaskan bahwa ada suatu realita yang benar yang didukung oleh teori-teori, 
dan bahwa ada "penyebab" absolut atas segala sesuatu.

Dalam ilmu antropologi pendekatan ontologis disebut sebagai "pendekatan etic". 
"Pendekatan etic" berarti kita mengembangkan suatu sistem untuk membandingkan 
dan mengevaluasi berbagai kultur untuk mencapai suatu teori universal. 
Misalnya, kita mengambil konklusi bahwa malaria di seluruh dunia disebabkan 
oleh nyamuk. Atau, gerhana matahari disebabkan oleh bulan melintas di bawah 
matahari.

Tahap Misiologis
Dalam pelayanan lintas budaya kita harus menghadapi perbedaan antara pendekatan 
emic dan etic. Misalnya ada kultur yang membenarkan pembunuhan anak, tetapi 
berdasarkan Alkitab kita menegaskan perbuatan itu sebagai dosa. Hitler 
membenarkan pembunuhan orang Yahudi, sebagai orang Kristen kita kutuk perbuatan 
itu sebagai dosa.

Dalam hubungan kita dengan masyarakat non-Kristen kita perlu memulai dengan 
kepercayaan dan praktik mereka. 
Misalnya, kepada orang yang beragama lain yang menolak pembunuhan segala 
sesuatu, kita jelaskan obat luka sebagai "obat membersihkan luka", bukan "obat 
pembunuh kuman'". Atau, di masyarakat yang masih percaya kepada dukun kita 
mungkin bisa menawarkan alternatif baru daripada menantang jawaban yang lama, 
seperti obat sebagai ganti dukun.

Bahaya memakai pendekatan emic ialah kita menguatkan kepercayaan mereka. Ada 
bagian-bagian dalam setiap kebudayaan yang tidak dapat diterima oleh Injil, dan 
bagian ini perlu ditantang. Ketika Injil tidak menantang kultur, melainkan 
mendukungnya, maka akan timbul suatu aliran kepercayaan.

Supaya kita menghasilkan orang Kristen dewasa, maka kita harus menantang 
kepercayaan palsu dan memperkenalkan kebenaran alkitabiah.
Artinya, kita harus memperkenalkan standar dan kepercayaan eksternal. Oleh 
karena itu pendekatan misiologi yang baik adalah yang menggabungkan pandangan 
emic dan etic, dan rela bekerja dalam ketegangan yang akan timbul di antaranya.

Diambil dan disunting dari:
Judul diktat: Perubahan Budaya dan Kontektualisasi
Penyusun: Imanuel Sukardi
Penerbit: Tidak dicantumkan
Halaman: 9 -- 15
________________________________________________________
SUMBER MISI

COMPASS DIRECT NEWS ==> http://www.compassdirect.org
Compass Direct News adalah situs layanan berita berbahasa Inggris yang 
didedikasikan untuk menyediakan berita eksklusif, laporan, wawancara, dan 
analisa mendalam mengenai situasi dan peristiwa yang dihadapi orang Kristen 
yang mengalami tantangan dalam mengikuti Kristus. Berita-berita yang disajikan 
dalam situs ini adalah berita dari berbagai belahan dunia dan kebenarannya 
dapat dipertanggungjawabkan. Kategori berita dalam situs ini dibagi berdasarkan 
negara, seperti Bangladesh, Indonesia, Laos, Uganda, dan sebagainya. 
Melalui situs ini, Anda juga bisa berpartisipasi, baik dalam doa maupun dana 
untuk menopang saudara-saudara seiman kita yang sedang mengalami tekanan dan 
aniaya di berbagai belahan dunia. (NY)
______________________________________________________________________
DOA BAGI MISI DUNIA

D A G E S T A N
Berbagai sumber dari North Caucasus Network (NCN) mengonfirmasi bahwa seorang 
pendeta senior dari sebuah gereja di Dagestan Tengah, Rusia, diserang dan 
ditembak oleh beberapa penembak jitu misterius ketika ia sedang meninggalkan 
rumah doa gereja sekitar pukul 17.30 waktu lokal. Pendeta senior tersebut 
meninggal di rumah sakit sejam kemudian.

NCN mengajak gereja global untuk berdoa bagi rekan-rekan di Dagestan. Gereja 
telah menjadi target taktik intimidasi dari orang-orang Dagestan yang menyimpan 
ketakutan yang tidak masuk akal terhadap pelayanan Kristen di wilayah ini. 
Anggota-anggota gereja dan kepemimpinan gereja sering kali menghadapi 
taktik-taktik intimidasi dari bermacam-macam kelompok.

Sebanyak 98% orang Dagestan memeluk agama sepupu. Dagestan merupakan salah satu 
republik Rusia yang termiskin. Mereka juga memunyai kekayaan sejarah dan etnis 
dari 32 kelompok etnis. Dagestan terus menderita di bawah persaingan 
fraksi-fraksi dari gerakan jihad global yang kompleks. (t/Uly)

Sumber: Mission News, Juli 2010
[Selengkapnya: http://www.mnnonline.org/article/14484]

Pokok Doa:
* Doakan agar Tuhan melindungi dan menjaga hati umat percaya dan gereja-gereja 
di Dagestan dari intimidasi pihak-pihak tertentu yang ingin menghancurkan iman 
percaya mereka.
* Doakan agar Tuhan memulihkan dan melawat Dagestan sehingga masyarakat di sana 
dapat terbuka menerima kasih Kristus dan dapat hidup dengan damai yang dari 
Tuhan.

T I M U R T E N G A H
SAT-7, sebuah satelit televisi Kristen yang melayani di Timur Tengah dan Afrika 
Utara, baru saja meluncurkan program barunya yang bernama "Pelayanan Safari". 
Melalui program ini, masyarakat Timur Tengah dapat bertemu langsung dengan para 
pengikut Kristus yang melayani melalui SAT-7 (seperti musisi, penyanyi, 
penginjil-penginjil Arab) karena mereka berkunjung dari desa ke desa serta 
singgah di berbagai rumah sakit, panti asuhan, dan rumah. Orang-orang Timur 
Tengah terkejut sekaligus senang dengan kunjungan-kunjungan ini. Puji Tuhan, 
mereka menyambut tamu-tamu tersebut dengan hangat.

Penonton melihat bahwa SAT-7 peduli. Kunjungan pribadi mengubah cara pandang 
mereka tentang orang-orang Kristen. Doakan pelayanan ini karena SAT-7 
memengaruhi dan menjangkau beribu-ribu jiwa dengan kasih Kristus dan 
firman-Nya. (t/Uly)

Sumber: Mission News, Juli 2010
[Selengkapnya: http://www.mnnonline.org/article/14450]

Pokok doa:
* Mengucap syukur untuk pelayanan SAT-7 yang telah memberkati dan menguatkan 
umat percaya di Timur Tengah. Doakan agar Tuhan memberikan kreativitas kepada 
tim SAT-7 untuk memperluas pelayanan mereka.
* Mengucap syukur untuk setiap dukungan keuangan yang diberikan kepada SAT-7. 
Doakan agar mereka yang dipercaya untuk mengelola berkat ini, dapat 
menggunakannya dengan bijaksana.
_____________________________________________________________________
DOA BAGI INDONESIA

IBADAH DI PINGGIR JALAN
Sejak 11 April 2010, warga jemaat sebuah gereja di Jawa Barat harus 
melaksanakan ibadah hari Minggu di pinggir jalan. Alasannya, karena gedung 
gereja yang biasa mereka gunakan untuk beribadah telah disegel oleh pihak 
tertentu. Meski gereja tersebut sebenarnya telah memiliki izin resmi dan 
lengkap, ada sekelompok orang yang keberatan dengan kehadiran gereja tersebut. 
Mari berdoa agar jemaat ini dapat segera beribadah di tempat yang memadai.

Sumber: http://www.compassdirect.org/english/country/indonesia/22451/

POKOK DOA:
1. Doakan jemaat ini agar diberikan kesabaran dan kekuatan dari Tuhan. Biarlah 
Tuhan yang menjaga hati mereka untuk tetap mengasihi orang-orang yang memusuhi 
mereka.

2. Doakan agar upaya yang telah dan sedang dilakukan oleh pihak gereja dan 
pemerintah setempat dapat menghasilkan solusi yang terbaik.

3. Berdoa bagi masyarakat Indonesia, terkhusus umat percaya, agar tidak mudah 
terpengaruh dengan berita-berita dan aksi-aksi yang dilakukan oleh pihak 
tertentu. Biarlah kita bisa menyikapinya dengan bijaksana

4. Doakan agar pemerintah Indonesia dapat lebih memerhatikan dan bersikap 
bijaksana, terhadap masalah penutupan dan perizinan pendirian gereja di 
Indonesia.

5. Doakan agar Tuhan menolong jemaat gereja di Jawa Barat ini untuk menemukan 
tempat ibadah sementara yang memadai. Biarlah mereka juga tidak mudah 
terprovokasi oleh pihak-pihak yang inginmemperkeruh masalah yang ada.

6. Berdoa agar damai Kristus yang memerintah semua pihak yang terlibat dalam 
masalah ini.
______________________________________________________________________
Anda diizinkan menyalin/memperbanyak semua/sebagian bahan dari e-JEMMi
(untuk warta gereja/bahan pelayanan lain) dengan syarat: tidak
untuk tujuan komersial dan harus mencantumkan SUMBER ASLI bahan
yang diambil dan nama e-JEMMi sebagai penerbit elektroniknya.
______________________________________________________________________
Staf Redaksi: Novita Yuniarti dan Yulia Oeniyati
Kontak Redaksi: < jemmi(at)sabda.org >
Untuk berlangganan: < subscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Untuk berhenti: < unsubscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Untuk pertanyaan/saran/bahan: < owner-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
______________________________________________________________________
Situs e-MISI dan e-JEMMi: http://misi.sabda.org
Arsip e-JEMMi: http://www.sabda.org/publikasi/misi
Facebook MISI: http://fb.sabda.org/misi
______________________________________________________________________
Bahan-bahan dalam e-JEMMi disadur dengan izin dari berbagai pihak.
Copyright(c) e-JEMMi/e-MISI 2010 / YLSA -- http://www.ylsa.org
SABDA Katalog: http://katalog.sabda.org
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati

Kirim email ke