KESIA-SIAAN DI TENGAH KESENANGAN HIDUP
oleh: Ev. Bedjo Lie, S.E., M.Div. “Saya yakin secara mutlakbahwa kesia-siaan tidak datang dari kelelahan akibat penderitaan; kesia-siaan datang dari kelelahan akibat kesenangan” Ravi Zacharias Hidupku terasa hampa! Itulah jeritan hati dari banyak orang dan mungkin diri kita sendiri. Di tengah kesibukan, tidak jarang kita merasakan kekosongan hidup. Di dalam kekosongan hidup kita mencari kepuasan. Kita menonton televisi sampai larut malam; main game yang sama berulang-ulang; mulai mencoba pornografi; pergi ke plaza sesering mungkin; mencari tempat makan baru, dan apa pun yang bisa memuaskan batin kita. Setelah itu semua...kita masih merasakan kehampaan. Terkadang kita melakukan banyak hal, sibuk dan berusaha tampak sibuk, tanpa tahu apa yang menggerakkan kita. Tetapi, ketika kejujuran bertahta, kita mulai sadar masalah sesungguhnya. Kita merasakan hidup tanpa makna. Kita mencari makna hidup dalam aktivitas (doing) bukan dalam keberadaan kita (being) di hadapan Tuhan Sang “Ultimate Being”. Sering kali berbagai aktivitas kita adalah upaya mencari makna hidup atau menutupi ketiadaan makna dalam hidup kita. Pergumulan batin semacam ini sering kali kita abaikan begitu saja. Dalam komunitas Kristen, mengakui bahwa kita sedang mencari dan menggali makna hidup rasanya hanya pantas diucapkan oleh kanak-kanak rohani. Tetapi kebenarannya adalah sebaliknya. Pergumulan menyangkut makna hidup justru merupakan pergumulan orang dewasa. Kanak-kanak hanya mengerti tentang “cita-cita” tanpa mengetahui bahwa jika mereka mencapainya, mereka masih mungkin mengalami kekosongan jiwa. Tetapi, jika kita mau kembali kepada sebuah buku kuno bernama Alkitab, ada sebuah kitab yangsecara blak-blakan berbicara tentang pergumulan mencari makna hidup. Kitab initidak lain adalah Pengkhotbah. Pengkhotbah memulai kitabnya dengan pernyataan, “Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia. Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari” (1:2-3). Kita bisa mengungkapkannya dalam bahasa sehari-hari demikian: “apakah gunanya mahasiswa belajar setengah mati?”, “Apakah gunanya karyawan atau pebisnis bekerja sampai larut malam?” Sejujurnya, pertanyaan seperti ini jarang kita pikirkan karena kita menganggap bahwa kita sudah mengetahui jawabannya. Kita sedang berjuang untuk hidup, bertahan hidup dan mencapai kebahagiaan hidup. Bukankah itu jawaban yang lazim? Namun, Pengkhotbah dengan tegas berkata bahwa semua itu sia-sia. Mengapa? Apa alasan di balik pandangan yang nampaknya pesimis ini? Pertama, jika kita membaca Pengkhotbah, kita akan menemukan bahwa Pengkhotbah berbicara tentang realitas sehari-hari yang kita alami. Rutinitas kehidupan. Ya, hidup ini penuh dengan rutinitas belaka. Pengkhotbah berkata: “Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali. Angin bertiup ke selatan, lalu berputar ke utara, terus-menerusia berputar, dan dalam putarannya angin itu kembali. Semua sungai mengalir kelaut, tetapi laut tidak juga menjadi penuh; ke mana sungai mengalir, ke situ sungai mengalir selalu.” (1:5-7). Inilah realitas kita setiap hari. Bangun pagi, sekolah/bekerja, pulang danberaktifitas sebentar, tidur dalam kelelahan, dan bangun pagi lagi. Repetisi tidak hanya terjadi dalam alam (sungai, angin, matahari) tetapi juga dalam hidup kita. Betapa sia-sianya, demikianlah pengamatan Pengkhotbah. Selanjutnya, Pengkhotbah mengajak kita mengakui bahwa kehidupan ini tidak menawarkan sesuatu yang memuaskan jiwa kita. Pengkhotbah berkata: “Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar”. Kalimat di atas kedengarannya memang ekstrem. Tetapi itulah faktanya, Pengkhotbah sudah puas dengan seks, kekayaan, hikmat, dan prestasi, tetapi ia menemukan bahwasemua itu tidak memuaskan, bahkan menjemukan. Jika kita tidak setuju perkataan Pengkhotbah ini, mungkin kita baru mencicipi sedikit atau malah tidak pernahmerasakan kenikmatan dunia sebagaimana dirasakan Pengkhotbah. Mereka yang pernah bergelimangan dalam pornografi tahu bahwa hal itu tidak pernah memuaskan jiwa mereka; mereka yang pernah terjun dalam perjudian menyadari bahwa tidak ada rasa puas setelah kemenangan seberapapun besarnya. Bahkan dalam contoh-contoh yang lebih umum, mereka yang terobesesi dengan jalan-jalan dan shopping ke plaza tahu bahwa suatu kali mereka ingin muntah ketika mendengar kata “plaza”. Kedua hal di atas ditambah lagi dengan fakta kematian yang akan dialami oleh semua orang, kaya atau miskin, berhikmat maupun tidakmenambahkan lagi satu faktor bagi kesia-sian hidup. Pengkhotbah mengatakannyademikian: “Mata orang berhikmat ada dikepalanya, sedangkan orang yang bodoh berjalan dalam kegelapan, tetapi aku tahu juga bahwa nasib yang sama menimpa mereka semua.” Kematian membuat perbedaan kaya miskin, pandai bodoh menjadi tidak relevan pada akhirnya, demikianlah pengamatan Pengkhotbah dalam perspektif “di bawah matahari”. Dalam kehidupan yang tampaknya sia-sia seperti di atas, tidaklah heran jika filsuf Albert Camus berkata bahwa satu-satunya masalah serius dalam filsafat adalah bunuh diri. Dalam hidup yang sia-sia ini, mengapa kita tidak bunuh diri saja? Nah, sampai di sini semua nampak makin suram dan pesimis, tetapi tentu saja kitab ini tidak berakhir demikian. Silahkan membaca Kitab Pengkhotbah sampai akhir dengan teliti maka Anda pasti menemukan harapan dan makna di tengah kesia-siaan hidup “di bawah matahari”. Selamat merenung. Sumber: http://www.facebook.com/note.php?created&¬e_id=430035527942#!/note.php?note_id=141852182518360 Profil Penulis: Ev. Bedjo Lie, S.E., M.Div. adalah Kepala Pusat Kerohanian (Pusroh) dan dosen Filsafat Agama dan Christian Worldview di Universitas Kristen Petra, Surabaya. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Ekonomi (S.E.) di UK Petra, Surabaya dan Master of Divinity (M.Div.) di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang. Beliau mendapat sertifikat dari Ravi Zacharias International Ministry, Academy of Apologetics, India. Saat ini beliau sedang menempuh studi gelar Master of Theology (M.Th.) bidang Theologi Sistematika di Talbot School of Theology, Biola University, U.S.A. Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio “Ketika saya menganggap Allah sebagai seorang tiran, saya melihat dosa saya sebagai hal yang sepele, tetapi ketika saya mengenal Dia sebagai Bapa saya, maka saya meratapi bagaimana saya pernah melawan-Nya.” (Rev. Charles H. Spurgeon, seperti dikutip dalam Prof. Edward T. Welch, Ph.D., Depresi, hlm. 115)

