BISAKAH ORANG
KRISTEN KEHILANGAN KESELAMATAN?:

Sebuah Tinjauan
Kritis Alkitab tentang Kepastian Keselamatan di dalam Kristus

 

oleh:
Denny Teguh Sutandio

 

 

 

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah
mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya
kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3:16)

 

 

 

Setiap orang yang termasuk
anak-anak Tuhan sejati pasti sudah diselamatkan di dalam karya kematian dan
kebangkitan Kristus. Pertanyaan selanjutnya yang sering dilontarkan oleh banyak
orang Kristen dewasa ini, apakah kita yang sudah diselamatkan bisa kehilangan
keselamatannya? Ada orang Kristen yang beriman bahwa kita bisa murtad alias
keselamatan kita bisa hilang, karena kita tidak menjaga keselamatan itu. Mereka
mengajar ini dengan mengutip Ibrani 6:4-8. Paham ini bermula dari Arminianisme
yang dicetuskan oleh Jacobus Arminius dari Belanda yang nantinya mengakibatkan 
gerakan
Remonstrant yang menolak lima pokok ajaran Calvinisme dari John Calvin. 
Sedangkan
ada orang Kristen yang beriman bahwa keselamatan di dalam Kristus TIDAK mungkin
bisa hilang. Paham ini disebut Calvinisme yang dicetuskan oleh Dr. John Calvin,
salah satu reformator gereja. Manakah yang benar sesuai dengan Alkitab? 

 

Sebelumnya, mari kita
mendefinisikan kembali apa arti Kristen. Istilah Kristen berarti pengikut
Kristus yang tentu saja berarti orang-orang yang mengikut Kristus dan
menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat. Orang Kristen SEJATI tentu adalah
anak-anak Allah yang sejati yang telah dipilih dan ditentukan-Nya dari semula
untuk menjadi serupa dengan Kristus (Rm. 8:29). Sedangkan orang Kristen yang 
hanya
mengaku diri “Kristen” bukanlah orang Kristen SEJATI dan BUKAN anak-anak Tuhan
sejati. Bagaimana membedakannya? Dari iman dan buahnya. Jika ia tidak
menempatkan Kristus sebagai Tuhan dalam hidupnya, maka tentu saja, ia termasuk
orang Kristen palsu yang hanya beragama Kristen, tetapi tidak beriman Kristen.
Beragama Kristen hanya sebuah aksesoris dari seseorang, namun beriman Kristen
adalah sebuah inti kehidupan seseorang. Keduanya memang hampir mirip dan susah
dibedakan, namun hanya Allah saja yang mengetahui isi hati mereka.

 

Karena orang Kristen SEJATI
adalah mereka yang telah dipilih dan ditentukan-Nya, maka tentu saja kita 
percaya
bahwa Allah yang telah memilih dan menentukan orang Kristen SEJATI adalah Allah
yang kekal dan tidak berubah. Kita beriman seperti Ayub, “Aku tahu,
bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang
gagal.”
(Ayb. 42:2) Dari sini, kita belajar bahwa kekekalan Allah mengakibatkan Ia bisa
dipercaya dan tentu saja tidak ada rencana-Nya yang gagal sedikitpun. Tidak ada
rencana-Nya yang gagal berarti TIDAK ada satu inci perubahan dalam rencana-Nya.
Karena ketika Dia mengubah rencana-Nya, itu membuktikan Dia tidak kekal. Kalau
Dia tidak kekal, untuk apa kita yang tidak kekal ini mempercayai pribadi yang
tidak kekal juga? Bagi saya, ini sebuah kelucuan. Namun bukankah Alkitab
mengatakan bahwa Allah menyesal (Kej. 6:6)? Apakah ini berarti Dia menyesali
rencana-Nya dalam menciptakan manusia? Tentu kata “menyesallah TUHAN” dalam
ayat ini harus dimengerti dalam konteks relasi dengan manusia, di mana Allah
ingin menunjukkan kepada manusia bahwa Dia juga seorang Pribadi memiliki
perasaan.

 

Karena
Allah itu kekal dan tidak mungkin ada perubahan dalam rencana-Nya, berarti Dia
yang telah memilih dan menentukan sebagian orang untuk menjadi anak-anak
adopsi-Nya juga adalah Dia yang memelihara dan menjamin keselamatan mereka,
sehingga tidak ada satu pun dari mereka yang akan terhilang. Setelah dipilih
dan ditentukan-Nya dari semula (Rm. 8:29), Allah melalui Paulus mengajar kita
di ayat selanjutnya, ayat 30, “Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula,
mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga
dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.”
Berarti ada suatu kelanjutan rencana Allah di dalam keselamatan umat-Nya: dari
pemilihan, penentuan, pemanggilan, pembenaran, dan terakhir pemuliaan. Ini
semua mata rantai yang tak terpisahkan. Ternyata bukan hanya Rasul Paulus yang
mengajar hal ini, Tuhan Yesus pun dengan tegas dan jelas mengajar hal ini.
Perhatikan jawaban Tuhan Yesus ketika berdiskusi dengan orang Yahudi di Yohanes
6:44, “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak
ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir 
zaman.” Di
Yohanes 10:27-29, Tuhan Yesus bersabda, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku 
dan Aku
mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal
kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan
seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan
mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak
dapat merebut mereka dari tangan Bapa.” Kepastian jaminan keselamatan
di dalam Kristus didapat karena Bapa yang memberikan umat-Nya kepada Kristus
lebih besar dari siapa pun. Mungkin saja, seorang Kristen SEJATI
murtad/tersesat, namun Allah yang telah memilih dan menentukan mereka pasti
akan mengangkat mereka kembali dan membawa mereka kepada Kristus, sehingga
mereka tidak akan terhilang untuk selama-lamanya, karena Allah yang memulai
karya keselamatan juga Allah yang PASTI menyelesaikannya sampai tuntas
(perhatikan mata rantai keselamatan yang jelas di Roma 8:29-30).

 

Jika
demikian, bagaimana dengan realitas banyak orang Kristen yang murtad? Kembali
ke definisi awal tentang apa arti orang Kristen: orang beragama Kristen atau
beriman Kristen? Jika orang Kristen dalam pengertian HANYA sekadar beragama
Kristen (tanpa beriman Kristen), maka pasti dia akan murtad/tersesat. Mereka
mungkin saja memiliki karunia rohani dan mendengarkan khotbah yang baik dan
bermutu, namun mereka yang hanya mengaku beragama Kristen di suatu saat
tertentu akan tersesat dan murtad karena dipengaruhi oleh agama lain yang lebih
“menyenangkan”, kondisi lingkungan, sahabat, pasangan hidup, bahkan orangtua.
Hal ini mirip seperti yang diumpamakan dan diajarkan Tuhan Yesus di Matius
13:20-21, “Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu
ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira.
Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau
penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad.”

 

Lalu,
bagaimana menafsirkan Ibrani 6:4-8? Kitab Ibrani ditulis untuk menguatkan
orang-orang Israel yang mengalami penganiayaan karena percaya kepada Kristus. 
Oleh
karena itu, si penulis Ibrani menguatkan iman mereka dengan membawa mereka
untuk lebih mengenal Pribadi Kristus. Mulai pasal 5 ayat 11 sampai 6 ayat 8,
penulis Ibrani mengajar orang-orang Israel agar mereka menjadi dewasa di dalam
iman dan tidak lagi kembali kepada iman Yudaisme yang lama. Untuk itulah, ia
memperingatkan bahaya pemurtadan bagi orang-orang Israel di pasal 6 ayat 4-8. 
Dengan
kata lain, Ibrani 6:4-8 BUKANlah ayat yang mengajarkan bahwa orang Kristen
SEJATI bisa kehilangan keselamatan. 

 

Sebagai
penganut theologi Reformed/Calvinisme, saya tetap menganggap mereka yang
bertheologi Arminian (pengikut Arminianisme) sebagai saudara saya di dalam
Kristus, namun sayangnya mereka kurang memahami firman Tuhan dengan menyeluruh.
Kesalahan fatal seorang Arminian adalah terlalu menekankan kehendak bebas
manusia dan menghilangkan kedaulatan Allah. Arminian percaya bahwa Allah
memilih manusia, namun itu didasarkan pada iman manusia yang dipilih-Nya
tersebut, sehingga keselamatan bukan murni 100% anugerah Allah, namun ada unsur
jasa manusia, yaitu iman. Tidak heran, dari pemikiran ini, maka mereka percaya
bahwa keselamatan dalam Kristus bisa hilang, karena keselamatan bagi mereka
mengandung jasa manusia. Selain pandangan ini tidak Alkitabiah, pandangan ini
juga tidak sesuai dengan logika Kristen yang sehat. Mari kita bayangkan dan
pikirkan. Allah memilih manusia sebelum dunia dijadikan yang merencanakan karya
keselamatan bagi manusia dengan mengutus Kristus untuk menebus dosa-dosa
mereka, lalu manusia ini percaya dan menerima Kristus, namun di tengah
perjalanan imannya, ia jatuh ke dalam dosa (entah itu murtad, dll), maka
menurut pengakuan iman Arminian, Allah pada waktu itu mungkin saja terkejut dan
tidak bisa berbuat apa-apa karena manusia yang akhirnya menolak Kristus. Dengan
kata lain, menurut iman Arminian, siapakah yang lebih berkuasa: Allah atau
manusia? Di sinilah kegagalan Arminian di dalam ajaran keselamatan.

 

Bagaimana
dengan kita? Allah yang telah menjamin kita yang termasuk orang Kristen SEJATI
bahwa kita tidak akan mungkin murtad atau kehilangan keselamatan adalah Allah
yang pasti layak dipercaya. Masihkah kita ragu akan janji pemeliharaan-Nya?
Biarlah ini menguatkan iman kita tatkala kita menghadapi jatuh bangunnya iman
kita dalam kehidupan sehari-hari. Amin. Soli DEO Gloria.



“Ketika saya menganggap Allah sebagai seorang tiran, saya melihat dosa saya 
sebagai hal yang sepele, tetapi ketika saya mengenal Dia sebagai Bapa saya, 
maka saya meratapi bagaimana saya pernah melawan-Nya.”
(Rev. Charles H. Spurgeon, seperti dikutip dalam Prof. Edward T. Welch, Ph.D., 
Depresi, hlm. 115)



Kirim email ke