From: e-JEMMi [ [email protected] ] [e-JEMMi] Edisi 16/April/2011 -- Di China Berani Bicara ... Berani Mati Vol.14, April 2011
Shalom, Pepatah mengatakan "Mulutmu harimaumu", artinya kita harus mempertanggungjawabkan setiap perkataan yang keluar dari mulut kita. Tokoh dalam kesaksian misi kita kali ini sungguh luar biasa. Di tengah sistem pemerintahan yang membatasi penyampaian aspirasi rakyatnya, dia berani bicara. Bukan hanya sembarang bicara, dia bicara tentang imannya kepada Kristus, sekalipun untuk itu dia harus mempertaruhkan nyawanya. Silakan membaca kesaksian lengkapnya. Jangan lupa untuk menengok kegiatan Damou Christian Mission (DCM) dalam kolom sumber misi kali ini. Tuhan memberkati. Redaksi Tamu e-JEMMi, Mahardhika Dicky Kurniawan < http://misi.sabda.org/ > KESAKSIAN MISI: DI CHINA BERANI BICARA ... BERANI MATI JZ (34 tahun) tertangkap membagikan Alkitab dan traktat di sebuah pasar. Pada 17 Juni 2004, JZ dan ibu mertuanya, TD, diborgol bersama dan dibawa menuju kantor polisi dan diinterogasi sampai larut malam. Keesokan paginya, mereka dijatuhi hukuman 15 hari kurungan oleh PSB (Biro Keamanan Umum) dengan alasan "dicurigai menyebarkan rumor dan mengganggu ketertiban sosial". Di dokumen penahanan, mereka dianggap telah melakukan "gangguan ketertiban sosial serius dengan membagikan buku cerita anak-anak (edisi Indonesia: Ia Hidup di Antara Kita) kepada massa di pasar tersebut". JZ dan ibu mertuanya tahu risiko menyebarkan literatur Kristen di masyarakat komunis China. Mereka berdua aktif melayani di gereja selama lebih dari 10 tahun dan berani menginjili. Bahkan ketika mereka ditahan, diinterogasi, dan dijatuhi hukuman kurungan selama 15 hari, mereka rela menerima segala akibat dari apa yang mereka lakukan . Tetapi hukuman tersebut tidak cukup bagi PSB untuk menahan dan memukuli kedua wanita Kristen ini, hanya karena kejahatan membagikan literatur Kristen. Pada tanggal 18 Juni 2004, JZ diumumkan meninggal oleh kantor PSB Kabupaten Tongzi. Mereka menyatakan JZ mati karena "sebab alami". Baru-baru ini sebuah yayasan Kristen mewawancarai keluarga yang berani ini. Mereka memohon agar suara mereka didengar. Permohonan ini dapat menyebabkan mereka lebih bermasalah, tetapi mereka tidak akan berhenti sampai suara mereka didengar. Kami bertemu di suatu ruangan, dengan lima anggota keluarga JZ -- suaminya dengan anak laki-laki mereka yang berumur 4 tahun yang duduk di atas pangkuannya; ibu mertua JZ yang ditahan bersamanya, ayah mertua JZ, dan adik iparnya. Di bawah ini adalah kesaksian keluarga ini. Ibu mertua: "Kami pergi ke pasar di Puodu dan di sana kami ditangkap. Tangan saya diborgol bergandengan dengan menantu perempuan saya, JZ dan kami dibawa ke kantor polisi di kabupaten Tongzi. Saya ditendang berkali-kali selama interogasi. Saya mengetahui JZ diperlakukan lebih buruk daripada yang saya alami. Mereka melepas sepatu JZ dan memukulinya. Mereka berkata kepada saya, mereka akan memukuli saya lagi jika saya tidak patuh." Ayah mertua: "Pada pagi hari tanggal 17 Juni 2004, saya masih berbicara dengan istri saya dan JZ. Lalu 18 Juni 2004, pukul 14.00, menantu perempuan yang saya cintai telah tiada. Istri saya memohon kepada kepolisian untuk melihat mayatnya tetapi tidak diizinkan. Dia melihat kaki JZ dengan tubuh yang terbaring di atas meja. Istri saya sadar ada yang tidak beres." Ibu mertua: Tanggal 18 Juni 2004, kami dibawa menuju pusat penahanan. Saat itu hari masih subuh. Mereka mengambil cap jari kami lalu membawa kami menuju sel. Saya protes, tuduhan ini tidak benar, tetapi tidak ditanggapi. Beberapa hari yang lalu, saya melihat kaki seorang yang terbaring di atas ranjang di seberang sel saya. Para petugas masuk ke dalam sel tersebut untuk memotret tubuh yang terbaring itu. Saat itu saya tidak tahu apa yang terjadi. Saya tanya kepada seorang petugas apa yang terjadi, tetapi dia berkata itu bukan urusan saya. Setelah itu saya memohon untuk bertemu menantu perempuan saya, tetapi mereka berkata dia sedang beristirahat. Ketika saya menanyakannya lagi, mereka berkata dia sedang sakit keras. Saya terus memohon untuk bertemu dengannya, tetapi malahan mereka memaki saya. Tidak lama kemudian, mereka melepaskan saya, memaksa saya naik kereta kembali ke desa ini. Saya baru tahu kematian JZ setelah saya tiba di rumah. Sekarang saya baru sadar apa yang mereka foto, dan kenapa mereka ingin saya meninggalkan penjara tersebut sebelum masa 15 hari penahanan saya berakhir". Adik ipar: "Kami menerima laporan autopsi pada tanggal 29 Juni 2004. Di laporan tersebut hanya dituliskan bahwa JZ meninggal akibat sebab alami -- gagal jantung. Tidak disebutkan adanya luka-luka akibat pemukulan. Kami minta agar mayat JZ diautopsi ulang, tetapi ditolak. Kami pergi ke pengadilan desa kami, tetapi mereka menolak untuk mengangkat kasus kami. Sekarang PSB sedang menekan kami agar kami mengkremasi mayat JZ." Ayah menantu: "Saya berbicara dengan polisi yang menahan JZ dan istri saya, dan mengatakan kepada mereka bahwa jika yang mereka tangkap adalah seorang pembunuh, pembunuh tersebut diberikan kesempatan untuk dibela. Tetapi kenapa mereka membunuh menantu saya sehari setelah penahanannya." Adik ipar: "Kami hanyalah orang-orang Kristen sederhana. Semua keluarga kami tidak berpendidikan. Kami hanya ingin keadilan ditegakkan. Mereka membunuh saudari saya hanya karena dia tertangkap basah menyuarakan imannya. Kenapa dia harus mati? Bagaimana dengan anaknya yang berumur 4 tahun yang harus tumbuh tanpa seorang ibu? Saya meminta izin agar diberikan foto-foto mayat JZ, tetapi mereka menolak. Jadi saya pergi untuk meminjam kamera dan menyelinap masuk ke ruang autopsi untuk memotret mayat JZ. Foto-foto tersebut saya jepret sendiri. Sangat jelas melihat luka-lukanya akibat dari pemukulan. Salah seorang anggota PSB bahkan memberitahukan kepada saya secara rahasia, bahwa mayat JZ tidak perlu diautopsi lebih lanjut, sudah jelas bahwa dia dipukuli hingga mati." Suami: "Saya memegang foto istri saya. Ini sangat menyakitkan bagi saya. Anda bisa lihat luka goresan di lehernya. Anda bisa melihatnya dengan jelas bahwa dia benar-benar dipukul hingga mati." Anak: "Mama ... mana mamaku?" Pada tanggal 4 Juli 2004, berita yang terpampang di surat kabar China -- Legal Daily, yang diedit oleh Departemen Kehakiman China, melaporkan kisah ini secara lengkap. Surat kabar ini mempertanyakan aparat PSB kabupaten Tongzi atas klaim mereka bahwa JZ meninggal secara alami. Legal Daily menunjukkan kutipan pernyataan TD, bahwa pada pagi 18 Juni 2004, ketika dia bertemu dengan JZ selama waktu istirahat interogasi di pusat penahanan, JZ mengatakan kepadanya bahwa dia "ditendangi berkali-kali, sepatunya dirobek, dan rambutnya dijambak hingga lepas". Surat kabar ini juga melaporkan bahwa sanak saudara JZ dimintai uang untuk membayar 100 RMB ($13) per hari, untuk biaya perawatan mayatnya di rumah persemayaman milik pemerintah kabupaten. Saat naskah ini ditulis, PSB terus menekan keluarga JZ untuk mengkremasi mayat JZ yang masih disimpan, karena petisi dari pihak keluarga untuk dilakukan autopsi kedua, yang akan menunjukkan kebenaran penyebab kematian JZ. Pihak yang berwenang jelas sekali ingin menghancurkan "bukti" apa pun dari kesalahan prosedur ini. Keluarga ini menyadari, bahwa apa pun yang mereka lakukan tidak akan menghidupkan kembali JZ, tetapi mereka hanya ingin keadilan atas tindakan biadab PSB -- tindakan kejam yang terus disangkal. Keluarga ini juga ingin dunia tahu seperti apa sebenarnya keadaan orang-orang Kristen hari-hari ini di negara komunis China. Pokok doa: 1. Doakan untuk orang Kristen di China, agar tetap setia kepada iman mereka kepada Kristus, dan tetap berani membagikan Kristus kepada saudara-saudara mereka yang belum percaya. 2. Berdoa juga agar Tuhan melindungi, memberi kekuatan, dan hikmat kepada orang-orang percaya di China, ketika mereka berhadapan dengan pemerintah China. 3. Berdoa juga untuk gereja-gereja rumah di China, agar Tuhan melindungi. Doakan untuk para pemimpin gereja rumah, agar Tuhan memberi kekuatan dalam melayani jemaat yang sudah Tuhan percayakan kepada mereka. Diambil dari: Nama buletin: Kasih Dalam Perbuatan, Edisi Maret - April 2005 Penulis: Tidak dicantumkan Penerbit: Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya Halaman: 3 -- 4 REFERENSI MISI: SEPUTAR KESAKSIAN DI CHINA 1. Estafet dari Balik Penjara < http://misi.sabda.org/estafet-dari-balik-penjara > 2. Cina: Pendeta Li Dexian < http://misi.sabda.org/cina_pendeta_li_dexian > 3. Cina: Me Ling < http://misi.sabda.org/cina_me_ling > 4. Cina: Saudari Wong < http://misi.sabda.org/cina_saudari_wong > 5. Chang Shen (Dikenal Juga Sebagai Si Buta Chang) < http://misi.sabda.org/chang_shen > 6. Tombol Merah Dan 3000 Jiwa Pun Selamat < ttp://misi.sabda.org/tombol_merah_dan_3000_jiwa_pun_selamat > 7. Kesaksian Seputar Pelayanan Misi di Cina < http://misi.sabda.org/kesaksian_seputar_pelayanan_misi_di_cina > 8. Natal Di China -- Sebuah Kisah Nyata < http://misi.sabda.org/natal-di-china-sebuah-kisah-nyata> 9. Gereja Imigran China Berdiri Di Rusia < http://misi.sabda.org/gereja_imigran_china_berdiri_di_rusia> 10. Penginjil Muda Memenangkan China < http://misi.sabda.org/penginjil_muda_memenangkan_china > SUMBER MISI: DAMOU CHRISTIAN MISSION (DCM) Damou Christian Mission (DMC) < www.damou.org > merupakan organisasi misi Kristen, didirikan oleh Tina Isenhower dan berlokasi di Cyvadier, Jacmel, Haiti. Fokus pelayanan mereka yaitu pada orang-orang Jacmel. Misi Damou Christian Mission yaitu "Menjangkau Haiti melalui Pendidikan -- Mendidik Haiti dalam Firman Elohim". Saat ini DCM telah mendirikan sekolah bagi 650 anak, mulai dari tingkat prasekolah hingga sekolah menengah atas. Pelajaran yang diajarkan di sekolah ialah pelajaran umum, selain itu juga pelajaran tentang Kristus dan iman Kristen. Murid-murid pun dibekali dengan keahlian lain seperti memasak dan menjahit. Di samping pendidikan, DCM juga membangun gereja, rumah bagi tunawisma, dan menampung anak-anak yatim piatu korban bencana alam. (DIY) STOP PRESS: PEMBUKAAN KELAS DASAR-DASAR IMAN KRISTEN (DIK) JUNI/JULI 2011 Yayasan Lembaga SABDA melalui Pendidikan Elektronik Studi Teologi Awam < http://www.pesta.org > kembali membuka kelas Dasar-Dasar Iman Kristen (DIK) untuk periode Juni/Juli 2011. Bagi Anda yang ingin mempelajari pokok-pokok penting dasar iman Kristen, seperti Penciptaan, Manusia, Dosa, Keselamatan, dan Hidup Baru dalam Kristus, segeralah bergabung dalam kelas DIK ini. Cara mendaftarkan diri sangat mudah. Kirimkan permohonan mengikuti kelas DIK Juni/Juli 2011 ke Admin PESTA di < kusuma(at)in-christ.net >. Untuk mendapatkan Modul DIK, silakan akses bahannya di: ==> http://pesta.sabda.org/dik_sil > "HE WHO WALKS WITH GOD WILL BE OUT OF STEP WITH THE WORLD" ============================================= From: [email protected] [e-JEMMi] Edisi 17/April/2011 -- Badui, Indonesia Shalom, Apakah Anda sering merasa bingung memahami pikiran Tuhan yang sama sekali berbeda dengan pikiran kita? Nah, oleh sebab itu kami undang Anda untuk menyimak renungan dalam edisi ini. Kami juga menyajikan seputar suku Badui dalam profil bangsa. Dengan mengetahui lebih dalam tentang mereka, harapan kami Anda terpanggil untuk memberikan kontribusi untuk mengenalkan Injil bagi saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air. Selamat menyimak, Tuhan Yesus memberkati. Redaksi Tamu e-JEMMi, Mahardhika Dicky Kurniawan < http://misi.sabda.org/ > RENUNGAN: PIKIRAN MANUSIA VS TUHAN Pikiran manusia Petrus tidak menginginkan pemimpin-Nya menderita, diperlakukan tidak adil, dinista, atau dihina; demikian juga kita. Bukankah Yesus berkuasa melakukan banyak mukjizat? Ia berjalan di atas air, mengubah air menjadi anggur, membangkitkan orang mati, dan banyak lainnya. Yesus sanggup membela dan melepaskan diri-Nya dari paku-paku yang menancapkan-Nya ke kayu salib. Tetapi Yesus yang Mahakuasa tidak melakukan hal itu, Ia memilih menderita dan mati di atas kayu salib demi karya penebusan kita dari dosa-dosa. Bukankah kita sering punya pikiran yang sama, kita lebih senang hidup ini dipenuhi oleh kejutan-kejutan dan mukjizat daripada harus menjalani proses penderitaan. Kita ingin keluarga dan pekerjaan dalam keadaan selalu baik, pelayanan berjalan sempurna, dan semuanya berjalan mulus tanpa rintangan. Mukjizat dan kebaikan sering kali kita jadikan indikator sebuah keberhasilan. Keberhasilan terbesar Yesus bukanlah pada saat Ia mengubah air menjadi anggur dan bukan pula saat Ia membangkitkan orang mati, tetapi keberhasilan terbesar-Nya adalah pada saat Ia menangguhkan kuasa-Nya untuk menjadi taat dan setia pada kehendak Bapa di bawah penderitaan salib. Ketika tiba-tiba sebuah goncangan terjadi dan kita mulai tersingkir dari zona nyaman, apa respons kita? Kita sering alergi mendengar kata-kata penderitaan atau pikul salib. Siapa yang merencanakan kematian Yesus? Bapa tidak pernah merencanakan kejahatan untuk menggenapi rencana keselamatan. Tapi Iblislah yang memakai orang-orang jahat yang dipenuhi kebencian untuk hal itu. Jangan pernah putus asa menghadapi kenyataan hidup yang pahit, agar Iblis tidak memakai Saudara sebagai alatnya. Ada kisah tentang sebuah keluarga yang dibantai di dalam sebuah gereja di Poso pada Paskah baru-baru ini. Kami bertanya apakah mereka marah? Mereka menjawab, "Kepada siapa kami harus marah? Kami tidak tahu siapa pelakunya. Justru kami mengasihani mereka." Benar, mereka tidak boleh marah kepada manusianya karena mereka hanyalah alat yang dipakai oleh Iblis. Apakah mereka sakit hati, benci, atau sedih karena dianiaya? Tidak. Mereka justru melihat bahwa keselamatan di dalam Yesus lebih berharga daripada penderitaan yang mereka alami. Mereka benci kepada Iblis dan sedih karena orang-orang yang menganiaya mereka diperalat Iblis untuk meluapkan ketidakpuasan mereka. Jika kita diperhadapkan pada persoalan yang mengarah kepada kemarahan, kebencian, atau kepahitan; ingatlah bahwa Iblis akan memakai kita sebagai alatnya. Bersyukurlah karena Alkitab menulis bahwa penderitaan yang kita alami tidak akan melebihi kekuatan kita, dan Yesus telah bangkit dan memberikan kuasa kepada kita untuk mengatasinya. Terima kasih atas segala dukungan materi dan doa, untuk mereka yang tetap setia meski teraniaya. Biarlah jejak yang mereka tinggalkan, menuntun kita pada ketaatan. Tuhan memberkati. Diambil dari: Nama buletin: Kasih Dalam Perbuatan, Edisi Mei -- Juni 2004 Penulis: Tim Kasih Dalam Perbuatan Penerbit: Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya Halaman: 1 PROFIL BANGSA: BADUI, INDONESIA Pendahuluan/ Sejarah Daerah perbukitan Jawa Barat sebagian besar dihuni oleh kaum Muslim suku Sunda, namun daerah yang terletak di sektor barat dihuni oleh suku Badui -- suatu komunitas Sunda purba yang masih tersisa, yang menggunakan dialek Sunda kuno. Suku Badui sengaja mengisolasi diri mereka di daerah pegunungan, ketika mayoritas penduduk pulau Jawa menjadi pemeluk agama Islam. Mereka telah mempertahankan kasta sebagai sistem stratifikasi sosial yang kental. Keturunannya ditandai melalui kedua orang tua mereka, namun keluarga asalnya tidak sekuat seperti pada kalangan etnis utama suku Jawa. Bentuk atau corak desa terdiri dari lebih kurang 35 kelompok kecil, yang terdiri dari rumah-rumah penduduk yang tersebar di sekitar lahan padi gagarancah, yang digarap secara musiman dan berpindah-pindah. Terdapat tiga desa yang tetap terisolasi sama sekali dari kontak-kontak dengan suku non-Badui. Orang Badui yang mengenakan busana hitam, berbicara dengan pihak luar; namun mereka yang mengenakan sarung putih, harus tetap mempertahankan isolasi secara ketat. Pemerintah telah berupaya untuk mendidik mereka dan telah membawa suatu perubahan gaya hidup bagi mereka. Namun, sebagian besar di antara mereka menolak bantuan ini, dan sebagai akibatnya mereka tetap buta aksara dan primitif. Suku Badui memiliki reputasi sebagai orang-orang yang gemar menggunakan ilmu hitam. Banyak orang yang takut karena kemampuan mereka untuk meramalkan masa depan dan menjampi musuh-musuh mereka. Karena keterbelakangan mereka, mereka telah menolak untuk mendidik anak-cucu mereka pada sekolah-sekolah umum. Pemerintah juga tidak menyelenggarakan pendidikan, akibatnya mereka tetap buta huruf dan primitif. Menurut berita, para pria Badui diizinkan untuk menumpang kereta api secara gratis. Pria-pria mengenakan kemeja biru tua atau hitam dan sarung, serta melilitkan rambut mereka yang panjangnya sepinggang dengan kain hitam pada kepala mereka. Memotret mereka adalah suatu tindakan yang tabu. Suatu kesulitan utama adalah akses ke wilayah Badui. Mungkin langkah pertama adalah menetapkan suatu titik pertemuan di perbatasan dan berteman dengan beberapa orang Badui. Pertemuan yang alamiah lebih baik dilakukan oleh orang Sunda sendiri, daripada oleh orang luar. Para pelayan harus diperlengkapi dengan alat-alat peraga visual yang baik untuk penginjilan, dan yang berorientasi pada budaya karena orang-orang Badui tidak bisa membaca. Setiap pelayan juga harus dipersiapkan untuk menghadapi kuasa ilmu hitam dan penyembahan berhala orang-orang Badui. Pelayanan penyembuhan dan pelepasan, akan sangat tepat menyertai pemberitaan Injil. Seorang ahli bahasa-penerjemah Kristen asing bisa ditempatkan di daerah itu, yang akan memfasilitasi dengan menggunakan kata-kata kunci Injil sehari-hari sebagai langkah awal. Perlu dicari cara-cara untuk menjangkau orang Badui luar yang memiliki relasi dengan orang Badui dalam. Selanjutnya, orang-orang Kristen etnis lainnya dapat diperkenalkan. Sebagian kecil orang Badui yang berhubungan dengan para pengusaha adalah contoh Badui yang berhubungan dengan pihak luar. Suatu risiko yang mungkin terjadi adalah pengucilan para penghubung itu. Kaum muda bisa menjadi sasaran yang mau menerima. Mereka yang telah bepergian keluar dan menyaksikan kehidupan orang-orang non-Badui adalah calon orang-orang yang dapat diubahkan. Namun demikian, budaya dapat dengan mudah menghadapi ketidakseimbangan bilamana orang-orang yang lanjut usia diabaikan. Para pelayan harus berteman dengan mereka, dan mengetahui kebutuhan yang dirasakan unik bagi mereka yang gaya hidupnya terasing. Selanjutnya, dibutuhkan strategi yang lebih lengkap yang disusun untuk menjangkau seluruh suku bangsa. Telah diberitakan bahwa beberapa pejabat pemerintah di republik ini telah meminta orang Badui untuk memberi nasihat pada urusan kenegaraan, karena mereka percaya bahwa orang-orang Badui memiliki kekuatan khusus untuk meramal masa depan dan menjampi musuh-musuh mereka. Namun, orang-orang Badui lebih suka membiarkan diri mereka sebagai orang-orang buta huruf, daripada mendidik anak-anak mereka di sekolah-sekolah umum milik pemerintah. Ketika Injil telah masuk ke pulau Jawa, mereka juga bersikukuh menentangnya. Pada suatu ketika, seorang Indonesia yang telah menjadi orang Kristen berbicara dengan beberapa orang Badui tentang Yesus Kristus, namun usaha-usahanya ditentang keras oleh para pemimpin Badui. Meskipun tidak ada data untuk membuktikannya, tampaknya menjangkau kaum bangsawan Badui merupakan kunci untuk menjangkau semua lapisan orang Badui. Mereka menutup diri terhadap setiap kesaksian orang-orang Kristen. Meskipun demikian, beberapa orang Kristen suku Jawa telah mempertaruhkan nyawa untuk mencoba membawa Injil kepada orang-orang yang membutuhkan ini. Apakah Kepercayaan Mereka? Agama rakyat (tradisional) adalah kekuatan spiritual yang dominan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Gambaran Kekristenan sedikit sekali masuk ke dalam kehidupan Badui, karena daerah ini sangat terisolasi. Selama tahun 1970-an, seorang Kristen suku Sunda yang memiliki semangat pelayanan melakukan beberapa perjalanan ke Badui, diberitakan bahwa banyak orang bertobat. Kehidupannya dalam bahaya selama beberapa waktu dan ia harus melarikan diri dari daerah itu. Kontak itu tidak berlangsung lama dan tak ada lagi saksi-saksi Kristen di sana. Bahkan ketika kontak Injil berlangsung, orang-orang Badui sangat menentang. Satu-satunya penghubung dari luar dengan orang-orang ini sekarang adalah, para pengusaha terdekat yang mempekerjakan orang-orang Badui untuk menampilkan kerajinan tangan dan kebiasaan mereka. (t/Samuel) Pokok Doa: 1. Doakan agar Tuhan menaruh visi-Nya kepada orang-orang percaya untuk memahami bahasa suku Badui, supaya mereka memunyai kerinduan untuk belajar bahasa yang dipahami orang Badui dan kebiasaan-kebiasaan hidup yang mereka jalani. 2. Doakan agar lebih banyak anak-anak Tuhan memunyai kerinduan hati untuk berdoa agar kasih Tuhan diberitakan kepada suku Badui. 3. Doakan orang-orang Badui agar Tuhan persiapkan hati mereka untuk dilembutkan sehingga dapat menyambut pemberitaan Injil dan merespons tawaran Elohim akan anugerah keselamatan bagi mereka. 4. Doakan agar Tuhan membuka jalan agar orang-orang Badui yang sudah mengalami kasih Tuhan dapat menjangkau saudara-saudara mereka bagi Kristus. 5. Doakan supaya gereja-gereja mau mengutus dan mendukung para penginjil untuk membawa terang Kristus kepada orang-orang Badui. 6. Doakan para pengusaha Kristen agar memiliki keberanian untuk memberitakan Injil Yesus Kristus kepada relasi mereka yang berasal dari suku Badui. Diterjemahkan dari: Nama situs: Joshua Project Alamat URL: http://joshuaproject.net/people-profile.php?peo3=10985&rog3=ID Judul asli artikel: Badui of Indonesia Penulis: Tidak dicantumkan Tanggal akses: 24 Januari 2011 "PAIN MAKES US THINK, THINKING MAKES US WISE, WISDOM MAKES LIFE PROFITABLE" Kontak: < jemmi(at)sabda.org > Redaksi: Novita Yuniarti, Yulia Oeniyati (c) 2011 -- Yayasan Lembaga SABDA < http://www.ylsa.org > Rekening: BCA Pasar Legi Solo; No. 0790266579 a.n. Yulia Oeniyati < http://blog.sabda.org/ > < http://fb.sabda.org/misi > Berlangganan: < subscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org > Berhenti: < unsubscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >

