BEBAN

 

oleh: G.
I. Jeffrey Siauw, S.T., M.Div.

 

 

Istilah “beban” secara harfiah berarti
sesuatu yang kita bawa atau kita pikul. Tapi di antara orang Kristen, istilah
ini punya arti yang sangat unik yaitu suatu kerinduan atau bahkan suatu desakan
dalam hati untuk mengerjakan sesuatu sebagai pelayanan kepada Tuhan. Maka kita
sering mendengar orang berkata: “Beban saya adalah...” atau “Saya terbeban
untuk...” atau “Saya tidak punya beban untuk...” 

 

Seorang teman memberikan definisi yang
unik. Dia mengatakan bahwa “beban” harus berkaitan dengan orang dan bukan
dengan kegiatan. Maksudnya, tidak tepat kalau kita mengatakan “saya terbeban
mengajar” karena itu berkaitan dengan aktivitas. Seharusnya kita berkata “saya
terbeban mengajar anak-anak kecil itu”. Beban kita atau kerinduan atau desakan
dalam hati kita adalah untuk anak-anak kecil itu DAN kegiatan yang ingin kita
lakukan adalah mengajar.

 

Saya setuju dengan definisi dia. Dan saya
mulai memperhatikan bagaimana orang-orang menggunakan istilah “beban” untuk
pelayanannya. Ternyata banyak yang berkaitan dengan aktivitas: “Beban saya
adalah pembinaan” (kata banyak mahasiswa theologi yang baru lulus), “Beban saya
adalah musik” (kata orang-orang yang punya talenta di bidang musik), “Beban
saya adalah mengajar” (kata mereka yang ingin mengajar di sekolah theologi), 
“Beban
saya adalah penggembalaan” (kata hamba Tuhan yang sudah lebih senior), “Beban
saya adalah menulis” (kata mereka yang suka menulis), “Beban saya adalah
sekolah minggu (kata mereka yang suka anak-anak), “Beban saya adalah sound 
system” (kata mereka yang punya
keahlian di situ), “Beban saya adalah paduan suara” (kata yang suka menyanyi),
dst.

 

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa semua
itu salah. Tapi mungkinkah yang kita sebut beban sebetulnya hanyalah “kesukaan”
atau “hobi” kita? 

 

Tidak salah juga! Karena Tuhan bisa pakai
kesukaan dan hobi kita untuk melayani. Tapi alangkah bedanya kalau kita kaitkan
beban itu dengan orang dan bukan kegiatan: “Kepada siapa kita
terbeban? Apakah kita mengasihi mereka?” Pikirkan orangnya!

 

Saya tambahkan 1 lagi, alangkah lebih
bedanya kalau beban itu kita kaitkan juga dengan tujuan: “Untuk
apa kita lakukan itu? Apa yang kita bayangkan atau harapkan atau rindukan akan
terjadi dengan apa yang kita lakukan itu?” Pikirkan tujuannya!

 

Maka kalau kita katakan “beban” kita adalah
pembinaan, kita harus bertanya dua pertanyaan lanjutan: “Membina siapa?” dan 
“Akan
membina mereka untuk menjadi seperti apa?” 

 

Kalau kita katakan “beban” kita adalah
penggembalaan, kita harus bertanya “Menggembalakan siapa” dan “Ingin
menggembalakan mereka menjadi seperti apa?” 

 

Kalau kita berkata “beban” kita adalah
sekolah minggu, kita harus bertanya “Apakah kita mengasihi mereka?” dan “Apa
yang ingin kita ajarkan kepada mereka? Apa doa kita, kerinduan kita untuk
anak-anak itu?” 

 

Kalau kita berkata “beban” kita adalah
paduan suara, kita harus bertanya “Apakah saya mengasihi jemaat yang saya
layani?” dan “Apa yang saya inginkan terjadi melalui pelayanan di paduan suara
ini?”

dan seterusnya, dan seterusnya...

 

Selalu dua hal yang dipikirkan: orang
yang dilayani dan tujuan melayani. Saya yakin kalau
setiap orang Kristen memikirkan “beban” nya dengan cara demikian, pasti kita
akan mengerjakan pelayanan dengan sangat berbeda.

 

Maka kalau sekarang kita ditanya “Apa
bebanmu?” Walaupun jawaban mungkin tidak berubah (kalau tidak nanti jawabnya
akan kepanjangan): “sekolah minggu”, “sound
system”, “mengajar”, dan sebagainya, alangkah bedanya kalau kita mengambil
waktu untuk memperjelas dan mempertajam beban itu dengan berdoa dan memikirkan
lebih jauh orang yang kita layani dan dengan tujuan
apa. Tidak selalu kita bisa sangat jelas dan tajam mendefinisikan
beban itu, tapi paling tidak kita tahu bahwa beban tidak seharusnya berhenti
hanya di kegiatan tok.

 

Sekarang permisi tanya: Apa bebanmu?

 

 

 

Sumber:

http://jeffreysiauw.blogspot.com/2011/04/beban.html

 

 

Profil G. I. Jeffrey
Siauw:

G. I. (Guru Injil) Jeffrey Siauw, S.T., M.Div. adalah gembala sidang
Gereja Kristus Yesus (GKY) Singapore. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Teknik 
(S.T.) jurusan Teknik
Industri di Universitas Trisakti, Jakarta dan Master of Divinity (M.Div.) di 
Institut Reformed, Jakarta. Saat ini
beliau sedang menyelesaikan studi Master
of Theology (M.Th.) bidang Perjanjian Baru di Trinity Theological College,
Singapore. Beliau menikah dengan Yudith.

 

 

 

Editor dan Pengoreksi:
Denny Teguh Sutandio



“Tuhan sering kali menggunakan dosa-dosa orang lain untuk menyingkapkan 
kelemahan kita sendiri.”
(Rev. Bob Kauflin, Worship Matters, hlm. 382)

Kirim email ke